Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 8


Esok paginya, Glenn diantar sampai ke depan rumah oleh Mama, Papa, dan Liliane. Semua persiapan sudah selesai dan sekarang Glenn akan pulang. Buddy pun sudah masuk ke dalam kandang kecil yang disediakan Glenn. Ia masih menunggu-nunggu kemunculan Lyla. Ia hendak memberikan sesuatu pada cewek itu saat dia muncul nanti. Akan tetapi meski ditunggu-tunggu, cewek itu tak juga muncul. Glenn pun jadi bertanya-tanya kenapa cewek itu tidak mengantarnya pulang. Padahal jelas-jelas kemarin mereka sudah melakukan gencatan senjata.
            “Lyla mana, Tante?” tanya Glenn.
            “Aduuh, anak itu kalau hari libur susah dibangunkan, Glenn. Tadi saja saat Tante ketuk pintunya, dia nggak menyahut,” kata Mama Lyla.
            “Oh, padahal Glenn mau mengucapkan selamat tinggal,” kata Glenn. Ia mendongak menatap jendela kamar Lyla yang tertutup.
            “Iya, nanti Tante yang sampaikan sama Lyla ya. Tante senang karena kalian akhirnya bisa baikan,” kata Mama Lyla.
            “Glenn, nanti main ke sini lagi ya!” kata Liliane.
            “Tenang aja, Kak, aku akan sering main ke sini nantinya,” kata Glenn.
            “Ayo, nanti jalanan bertambah macet,” kata Papa Lyla.
            “Pa, jalanan kota memang selalu macet!” sahut Mama Lyla.
            Glenn tertawa. “Om, Tante, Kak Lili, aku pamit dulu ya,” kata Glenn seraya naik ke dalam mobilnya.
            “Hati-hati di jalan ya! Jangan mengebut! Sampaikan salam Tante buat Papa dan Mama kamu ya!”
            “Ya, Tante, pasti,” kata Glenn.
            Glenn memundurkan mobilnya, lalu melaju ke jalanan. Ia masih menatap ke arah jendela kamar Lyla yang tertutup. Sekilas ia membayangkan melihat gerakan pada tirai kamar Lyla, akan tetapi ia tidak yakin. Sepertinya masih belum. Lyla masih belum sadar. Terpaksa Glenn mengambil jalan terakhir yang dimilikinya. Diambilnya ponselnya dan ditekannya keypad pada ponselnya. Ia mengirimkan sebuah SMS ke sebuah nomor, dengan harapan akan mendapatkan respon.
            Di dalam kamarnya, Lyla mengintip dari balik tirai kamarnya. Ia merasa sangat kesal karena Glenn bahkan tidak berusaha mencarinya untuk mengucapkan selamat tinggal. Cowok itu benar-benar keterlaluan! Apa begitu cara cowok itu membalasnya? Masuk dengan tiba-tiba ke dalam hidup Lyla, membuat Lyla merasa tidak karuan, dan sekarang pergi tanpa pamit?! Lyla kesal... Sangat kesal. Sampai-sampai air matanya mengalir tanpa sanggup ia cegah.
            “Glenn bodoh... Cowok bodoh...!” isak Lyla.
            Lyla tersentak saat mendengar dering ponselnya. Sejenak hanya ditatapnya ponselnya berkedip-kedip di atas tempat tidur. Entah kenapa jantungnya berdegup cepat mendengar dering ponselnya. Perlahan Lyla meninggalkan jendela, tempatnya sedari tadi mengamati kepergian Glenn. Lalu diambilnya ponsel dan dilihatnya ada satu pesan masuk. Dengan jantung berdebar Lyla membuka fitur pesan di ponselnya. Dan jantungnya mencelos saat membaca nama Glenn tertera di layar ponselnya. Lyla bertanya-tanya kapan cowok itu menyimpan nomor ponselnya di kontak ponselnya. Mungkinkah saat mereka menghabiskan waktu berdua?
            Dengan tangan gemetar Lyla membuka pesan itu dan mulai membaca. Dan seiring tulisan yang dibacanya, semakin berdebar pula jantungnya.

            “Aku coba untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. Semua cara aku pakai agar kamu memaafkan aku. Akan tetapi sepertinya kamu memang nggak bisa maafin aku. Aku tau aku salah. Aku kekanakan, baik dulu maupun sekarang. Akan tetapi semuanya aku lakukan karena aku mau menarik perhatian kamu. Karena aku sayang sama kamu, Lyla. Dulu dan sekarang, rasa sayangku sama kamu nggak berubah, malah semakin bertambah seiring jalannya waktu. Aku sayang kamu, Lyla. Maafin semua kesalahanku”

            Air mata Lyla mengaliri pipinya saat pesan itu habis terbaca. Hatinya dipenuhi berbagai emosi yang tak ia pahami. Ada rasa kaget, tak percaya, sedih, dan juga bingung. Namun, diantara semua rasa itu, hanya satu yang ia pahami. Satu rasa yang coba disangkalnya selama ini karena takut.
            Lyla duduk terisak dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Kenapa Glenn harus mengatakan semuanya dengan cara ini? Kenapa cowok itu tidak mengatakannya sedari awal? Kenapa cowok itu harus membuatnya marah dulu? Semua pertanyaan berseliweran di kepala Lyla saat air mata tak hentinya berderai di pipinya.
            Lyla mengusap air matanya dengan punggung tangan dan berlari keluar kamarnya. Belum, ia masih belum mengatakan perasaannya pada Glenn. Cowok itu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini padanya. Lyla takkan membiarkan cowok itu pergi tanpa tau betapa marahnya Lyla padanya.
            Dan juga betapa sayangnya Lyla padanya...
***

YOUR PRISONER 7


Lyla duduk di ujung selimut yang ditebarkan oleh Glenn. Dia sengaja duduk agak jauh dari Gleen karena ia mempertahankan harga dirinya, tak peduli bahwa ia kelaparan. Diliriknya Glenn diam-diam, dan merengut. Apa sih maksud cowok itu membawanya ke pantai? Lyla bertanya-tanya dalam hati.
            “Kalau ada Buddy, biasanya dia bakal langsung lari ke air,” kata Glenn. “Aku s...ering ngajak dia jalan ke pantai, cuma supaya dia bisa main dengan bebas. Dia paling suka lari-larian,” lanjut Glenn seolah-olah ia tidak memerlukan respon dari Lyla.
            Tapi bukan Lyla namanya kalau dia diam saja. “Aku nggak peduli sama anjing itu,” kata Lyla, tanpa sadar menyebut binatang yang ditakutinya itu.
            Glenn menyunggingkan senyum sekilas, senyum tipis kemenangan. “Oh ya? Dia kan baru beberapa bulan, masih lucu-lucunya,” kata Glenn.
            Lyla bergidik. “Aku nggak peduli. Aku nggak mau mereka ada di dekatku!”
            Glenn berdecak. “Lyla, Lyla, mereka itu nggak sebuas yang kamu pikir. Ada juga jenis anjing yang jinak dan bagus untuk dipelihara. Golden retriver salah satunya. Mereka itu jenis anjing keluarga, jadi nggak akan menggigit majikannya,” kata Glenn.
            Lyla menatap Glenn dengan jengkel. “Bisa nggak sih, kita nggak usah ngomongin soal anjing?! Aku nggak suka sama mereka!”
            “Terus mau ngomongin apa?” tanya Glenn.
          Lyla membuka mulut, tapi nggak satupun balasan yang bisa ia temukan. Mau ngomongin apa dia sama Glenn? Kenapa cowok itu pulang secepat itu? Nggak! Nggak mungkin Lyla menanyakan hal itu. Meski marah dan penasaran, tapi Lyla masih punya harga diri untuk nggak menunjukkannya dengan jelas di hadapan cowok menyebalkan itu. Jadi, dia kembali mengatupkan bibirnya dan menatap ke arah laut dengan wajah merengut.
            “Duduk begini aja nggak ada asiknya,” kata Glenn. Lalu tanpa di duga dia berdiri dan membuka kemejanya.
            Lyla melotot ke arahnya. “Kamu mau ngapain??” serunya shock.
            “Mainlah. Memangnya kalau ke pantai cuma buat duduk-duduk aja?” sahut Glenn enteng.
            “Ta... Tapi... kamu nggak perlu buka baju di depanku gitu donk!!” seru Lyla dengan wajah memerah.
            Glenn hanya mengangkat bahu dan mulai berjalan menuju tepi pantai. Lyla mau tak mau memandangi punggung Glenn dan mengingat postur tegap cowok itu. Dan tadi, Lyla bahkan nyaris ternganga melihat dada bidang Glenn yang cukup proporsional untuk bikin cewek ngiler jika melihatnya. Sekarang Lyla dengan enggan mengakui bahwa bukan hanya tampangnya jadi keren, body cowok itu juga oke. Sementara Glenn berdiri menantang ombak, Lyla diam-diam mengamati cowok itu. Dia bertopang dagu di atas lututnya dan menghela napas.
            Kenapa cowok itu datang ke kehidupannya? Apa tujuannya muncul begitu saja seolah-olah nggak ada jarak bertahun-tahun yang memisahkan mereka? Lyla nggak mengerti sama sekali dengan tujuan cowok itu, tapi keberadaan Glenn betul-betul mengusiknya. Lyla merengek pelan. Kenapa dia merasa begini sih? Itu kan Glenn, cowok yang paling dia benci! Kenapa dia malah selalu berdebar-debar di dekat cowok itu???
            Lyla menggelengkan kepalanya, dan tanpa sengaja melihat Glenn tengah berjalan ke arahnya. Celana cowok itu setengah basah, begitu juga dengan dadanya yang terciprat air, dan sekarang cowok itu menuju ke arahnya dengan seringai mencurigakan di wajahnya. Lyla langsung was-was. Ditatapnya Glenn yang semakin mendekat.
            “Ngapain kamu balik? Katanya mau main air?! Sana gih, main air kayak anak kecil! Nggak usah ke sini segala!” kata Lyla ketus.
            Seringai Glenn semakin lebar dan dia berjalan makin cepat ke arah Lyla.
            Lyla langsung merasakan firasat jelek, khususnya setelah melihat seringai nakal di wajah Glenn. Dengan buru-buru Lyla berdiri, tapi nggak cukup cepat sehingga bisa menghindar saat Glenn meraupnya ke dalam pelukannya, dan berjalan kembali ke arah pantai.
            “Glenn!! Turunin aku!! Kamu apa-apaan sih?!” seru Lyla sambil memberontak.
            “Apa asiknya sih main sendirian? Harus ada temannya donk!” sahut Glenn.
            Lyla membelalak dan meronta makin keras. “Glenn!! Awas kalau kamu berani! Aku nggak akan memaafkan kamu!! Turunin aku!! Gleeeenn!!” teriak Lyla panik.
            Glenn tertawa, ia sudah sampai di air. “Oke, aku turunin sekarang,” kata cowok itu. Lalu tanpa aba-aba dia melepaskan Lyla begitu saja hingga tercebur ke air dengan sebuah pekikan kaget bercampur marah.
            Glenn menyeringai saat Lyla berusaha duduk dan meludahkan air asin dari mulutnya. Cewek itu basah kuyup hingga ujung kepalanya, dan kini tengah mendelik ke arahnya.
            “Kamu yang nantangin ya!” kata Lyla marah. Lalu tanpa sempat memberi Glenn waktu untuk menebak apa yang akan dia lakukan, Lyla menjegal kaki Glenn hingga cowok itu hilang keseimbangan dan ikut tercebur. Kini giliran Lyla yang tertawa.
            Glenn menggoyangkan kepalanya seperti anjing kebasahan dan menatap Lyla dengan kening berkerut. “Oke. Aku terima isyarat perang itu,” kata Glenn, dan langsung meraup air dan menyiramkannya ke arah Lyla.
            Lyla memekik kaget, tapi anehnya ia malah menikmati saat-saat itu.
***
            Malamnya, Lyla berbaring termenungu di tempat tidurnya. Ia mengenang waktu yang seharian ini dihabiskannya bersama Glenn di pantai. Kenapa semakin lama bersama Glenn Lyla malah semakin memikirkan cowok itu? Ke mana rasa benci yang sejak dulu dipupuknya? Kenapa sekarang malah tidak ada sama sekali? Lyla tak mengerti kenapa dia berubah seperti ini. Pikirannya dipenuhi oleh Glenn, dan sekarang ia malah merasa dibohongi oleh Glenn karena cowok itu akan segera pulang tanpa memberitaunya.
            Lyla berbaring menyamping dan memandangi dinding kamarnya. Lyla merasa tidak seperti dirinya sendiri. Belakangan ini ia jadi sering memperhatikan Glenn secara diam-diam, dan akan langsung buang muka kalau Glenn kebetulan memergokinya. Tapi dibalik itu, jantung Lyla selalu berdetak lebih kencang saat bertatapan dengan Glenn.
            Aah, Lyla tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa memiliki perasaan serumit ini pada Glenn??? Kenapa cowok itu tidak menghilang saja dari hidup Lyla dan tidak pernah muncul? Sekarang cowok itu sudah berhasil menyusup masuk ke dalam hidup Lyla dan memporakporandakan hidup Lyla yang tenang. Pasti sekarang Glenn sedang menertawainya. Cowok itu pasti senang karena berhasil mempermainkan Lyla sedemikian rupa. Lyla memjamkan matanya saat air mata mengancam akan turun ke pipinya. Dipeluknya bantalnya dengan erat.
            “Glenn jahat... Cowok jahat!” bisik Lyla.
***

YOUR PRISONER 6


Lyla merasa uring-uringan keesokan harinya. Setiap orang yang mengajaknya bicara, entah itu orangtuanya atau kakaknya, semua terkena imbasnya. Terutama Glenn. Sampai-sampai cowok itu heran sendiri akan perubahan sikap Lyla padanya. Padahal kemarin mereka sudah jauh lebih akur, tapi sekarang sikap Lyla malah kembali ke awal lagi. Saat Glenn bertanya ada apa, Lyla langsung menatapnya dengan tatapan setajam pedang.
            “Kamu nggak usah ngomong sama aku deh!!” kata Lyla. Lalu meninggalkan Glenn dengan angkuh.
            Glenn langsung merasa kesal bukan main. Ia pikir usahanya selama ini sudah membuahkan hasil, tapi ternyata semuanya kembali lagi ke titik nol tanpa ia ketahui sebabnya! Karena alasan itulah ia mengubah rencana awalnya dan terpaksa menjalankan rencana emergencynya. Waktunya tinggal sedikit dan ia sudah bosan dengan tarik ulur yang dilakukan Lyla. Sekarang waktunya bertindak.
            Glenn mengetuk pintu kamar Lyla. Menunggu beberapa detik sebelum mendengar suara Lyla meneriakkan “Siapa???”. Tentu saja Glenn tidak menjawab, melainkan mengetuk pintu itu sekali lagi. Akhirnya setelah penantian yang terasa seabad lamanya, padahal tidak sampai 30 detik, pintu di depan Glenn terbuka dan menampakkan wajah jengkel Lyla.
            “Ngapain...”
            Glenn tidak membiarkan Lyla menyelesaikan kalimatnya, melainkan langsung menarik gadis itu bersamanya. “Kita ke pantai,” hanya itu yang Glenn katakan.
            “Apa?! Nggak mau!! Lepasin aku, Glenn!!” Lyla mulai meronta dan menarik-narik tangannya.
            “Masa kamu takut sih? Yang benar aja, Lyla, cuma ke pantai buat refreshing!” sahut Glenn santai.
            “Aku nggak mau, bukan takut!! Lepas!!” protes Lyla.
            Mereka melewati ruang tamu, di mana Mama Lyla sedang duduk menonton televisi sambil merajut. Lyla langsung melihatnya sebagai kesempatan untuk membebaskan dirinya dari Glenn.
            “Mama!! Glenn maksa Lyla buat ikut sama dia!! Tolongin Lyla, Ma!!” seru Lyla.
            Mama Lyla mendongak dari rajutannya, dan malah melemparkan sebuah senyum ke arah Glenn dan Lyla. “Hati-hati di jalan ya, Glenn. Jangan ngebut-ngebut,” kata Mama, sukses membuat Lyla melongo tak percaya.
            “Siip, Tante!” sahut Glenn tanpa menghentikan langkahnya.
            “Mama!!” jerit Lyla tak percaya. Masa seorang ibu tega sih melihat anak gadisnya diseret pergi?!
            “Jangan merepotkan Glenn, ya! Hati-hati!” balas Mama Lyla.
            Lyla tak sempat membalas karena dia sudah ditarik keluar melewati pintu oleh Glenn. Sekarang cowok itu dengan seenaknya memasukkan Lyla ke dalam mobilnya, mirip penculikan deh, dan langsung mengunci pintu mobilnya begitu dia duduk di belakang kemudi.
            “Glenn!!!” teriak Lyla kesal bukan main. “Harus ya? Main kasar kayak gini?!”
            Glenn menjawab tanpa melihat Lyla, sembari menyalakan mesin mobilnya. “Kalau nggak gini, memangnya kamu mau jalan sama aku?”
            “Nggak akan mau!” sahut Lyla serta merta.
            “Ya udah, jangan protes kalau aku pakai cara begini. Sekarang diam dan nikmati aja perjalanannya,” kata Glenn tandas.
            Lyla bersedekap. “Aku nggak bawa dompet dan ponsel!” ketusnya.
            “Nggak masalah karena kamu nggak akan membutuhkannya,” sahut Glenn.
            Lyla makin kesal. “Aku nggak mau kulitku terbakar matahari!! Kamu nggak lihat pakaianku?!”
            “Di jok belakang udah ada baju ganti yang disiapkan sama Kak Lili,” sahut Glenn. Lalu, seolah tak melihat mulut Lyla menganga tak percaya, ia melanjutkan dengan gaya sama santainya sementara mobilnya memecah lalu lintas pagi itu. “Ada juga sandwich, minuman, dan cemilan lainnya. Ada sandal pantai, topi, jaket, sunblock, kaca mata hitam, hampir semua keperluan orang piknik ke pantai ada di keranjang di belakang,” tambahnya.
            “Ini konspirasi! Iya kan?! Kamu udah merencanakannya kan?!” seru Lyla tak percaya. Ia melempari wajah Glenn dengan boneka anjing kecil yang aja di atas dashboar mobilnya. Dan boneka itu sukses mengenai pelipis kiri Glenn.
            “Hei, kita bisa nabrak nih!” omel Glenn.
            “Bodo! Aku mau pulang! Aku nggak mau jalan sama orang menyebalkan, egois, seenaknya macam kamu!!” sahut Lyla.
            “Udah kejadian tuh,” sahut Glenn menyebalkan.
            Lyla menatap Glenn dengan sebal, dan ia mencari-cari benda lain untuk dilemparkan pada Glenn, sayangnya, hanya boneka anjing tadi saja yang tidak berbahaya. Sekarang Lyla hanya bisa memasang wajah paling cemberut yang ia bisa dan menatap keluar jendela mobil, ke arah lalu lintas yang padat namun normal itu.
            Perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu diselimuti kesunyian. Lyla jelas-jelas diam karena ingin mempertahankan kekesalannya. Sementara Glenn sendiri sibuk dengan pikirannya. Akhirnya mereka sampai di pantai dan Glenn memarkirkan mobilnya di tempat teduh yang bisa ia dapatkan.
            “Ayo, turun,” kata Glenn seraya mematikan mesin mobil.
            “Ogah!” ketus Lyla dan masih duduk bersedekap.
            “Ya udah,” sahut Glenn enteng. Ia keluar dari mobil dan mengeluarkan keranjang dan selimut dari jok belakang mobil. Cowok itu lantas berjalan ke pantai dan meninggalkan Lyla di mobil, ia tak melihat kalau Lyla mendelik ke arahnya.
            Lyla melihat Glenn menggelar selimut di bawah sebuah pohon lalu menyusun keranjang di atasnya. Cowok itu juga mengeluarkan makanan dan minuman yang dibawanya dan menatanya di atas selimut. Suara perutnya yang berbunyi membuat Lyla tersadar kalau ia hanya sarapan roti dan susu tadi pagi. Akan tetapi karena gengsi, Lyla tidak mau menyerah dan tetap bertahan di dalam mobil. Tapi, suhu di dalam mobil mulai bertambah dan Lyla jadi tidak tahan.
            Ia melirik ke jok belakang dan melihat sebuah tas, yang sepertinya berisi keperluan Lyla. Dengan setengah hati Lyla mengambilnya dan memeriksa isinya. Ada sebuah kain pantai, kacamata hitam, dan beberapa benda lainnya. Lyla mendesal kesal. Apa boleh buat, di dalam mobil mulai pengap dan dia juga pegal duduk terus. Dikeluarkannya kain pantai dari dalam tas dan menyampirkannya di bahunya untuk menutupi bahunya yang terbuka. Lalu diraihnya topi jerami dan keluar dari dalam mobil. Lyla terdiam sejenak di luar mobil, lalu mendesah. Perlahan, dengan langkah diseret-seret, Lyla berjalan ke arah Glenn. Wajahnya cemberut. Sesampainya di dekat Glenn, Lyla berhenti. Ditatapnya cowok itu dengan jengkel, tapi Glenn hanya meliriknya sekilas sebelum mengambil sebotol minuman.
            Lyla menahan geramnya. “Sekarang, setelah di sini, apa yang mau kamu lakukan?!” tanya Lyla, menekan kekesalannya.
            Glenn meliriknya. Lyla membalas lirikan itu dengan tatapan jengkel, tapi sadar diri sudah kalah. Sejenak keduanya terlibat dalam adu tatap yang tak berkesudahan. Seolah ada kesepakatan yang dibuat dalam moment bisu tersebut.
***

YOUR PRISONER 5


Perlahan, Lyla mulai bisa menerima keberadaan Glenn. Ke cuali jika cowok itu sedang bersama dengan anjingnya. Di sebagian besar waktunya, Glenn selalu mengajak anak anjingnya. Lyla heran sekaligus kesal melihat betapa lekatnya Glenn dengan anak anjing yang diberi nama Buddy itu. Bagaimana tidak? Ke mana-mana Buddy diajak, dimandikan, diajak joging, bahkan diajak tidur! Lyla sering kali langsung ngacir jauh-jauh kalau Glenn memperlihatkan gelagat akan mendekat bersama Buddy.
            Lyla belum melupakan bagaimana dulu Glenn selalu mengumpankannya pada anjing-anjingnya. Dan Glen akan menolong layaknya pahlawan, tapi semua usaha soknya itu gagal lantaran dia selalu tertawa tiap melihat Lyla mencak-mencak. Lyla sendiri heran, kenapa cowok itu begitu suka mengganggunya? Lyla nggak ingat apakah ia pernah berbuat salah hingga Glenn begitu senang menyiksanya. Dan Lyla juga nggak percaya alasan Glenn dulu saat cowok itu mengatakan bahwa alasannya adalah karena Lyla enak untuk digoda.
            Lyla sedang asik melamun di teras depan rumah petang itu. Ia melamunkan kejadian beberapa hari belakangan ini, semenjak kedatangan Glenn. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir seminggu Glenn tinggal di rumahnya dan dianggap anak sendiri oleh Mama Lyla. Tidak ada yang tampak keberatan dengan keberadaan cowok itu sehingga perlawanan Lyla makin hari makin melemah. Bahkan Liliane pernah mengatakan bahwa ia serasa memiliki adik laki-laki, membuat Lyla terperangah luar biasa. Akhirnya, sadar ia hanya membuang-buang tenaga untuk melancarkan protes, Lyla pun pasrah dan membiarkannya saja.
            Saking asiknya melamun, Lyla tidak sadar kalau Glenn sedang berdiri mengamatinya dari ambang pintu. Cowok itu bersandar miring dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Diamatinya Lyla lekat-lekat. Tampak Lyla menyatukan kedua lutut dan menumpangkan pipi di atas lututnya. Desahan pelannya terdengar samar-samar, dan Glenn bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh cewek itu.
            “Haah,” Lyla mendesah.
            Glenn memutuskan untuk memberitahukan keberadaannya, jadi dia membuat langkah suara berisik. Dan benar saja, Lyla langsung menoleh kaget. Kaning cewek itu berkerut saat menatap Glenn.
            “Sejak kapan kamu di sana?!” tanyanya.
            Glenn berjalan dan duduk di sebelah Lyla. “Baru aja. Lihatin apa sih? Asik bener sampai nggak dengar kedatanganku,” sahut Glenn.
            Lyla tak menjawab, dan malah bergesera agak jauh, menyisakan jarak 30 senti di antara dirinya dan Glenn. Glenn pun menahan senyum geli melihat tingkah Lyla itu. Sebagai gantinya, ia menatap ke langit dan mencoba menghitung bintang yang mulai bermunculan.
            “Kamu liburan sampai kapan sih?” tanya Lyla tiba-tiba.
            “Kenapa? Udah muak melihatku?” tanya Glenn.
            Lyla langsung manyun. “Kalau udah tau nggak usah nanya lagi!”
            Glenn terkekeh. “Kenapa kamu masih benci sama aku?” tanya Glenn.
            “Aku nggak benci sama kamu!” sahut Lyla cepat.
            “Bukannya waktu pertama itu kamu bilang benci dan ngusir aku?”
            Lyla gelagapan. “Eh, yah, waktu itu aku kaget! Makanya aku langsung bilang apa yang ada di pikiranku!”
            “Sekarang aku udah dewasa, La. Aku nggak sama dengan aku waktu kecil,” kata Glenn sambil menghela napas.
            “Aku tau...” gumam Lyla pelan.
            “Terus kenapa kamu menghindari aku?”
            Kening Lyla berkerut. “Aku nggak menghindari kamu. Aku cuma nggak...”
            Tepat sebelum Lyla menyelesaikan kata-katanya, sebuah gonggongan terdengar dari arah dalam rumah. Lyla langsung menoleh ke belakang dan membelalak ngeri ketika melihat Buddy sedang berlari menuruni tangga menuju ke teras. Tanpa sadar akan apa yang ia lakukan, Lyla langsung menjerit dan memeluk Glenn.
            “Usir dia!! Suruh dia jauh-jauh dariku!!” teriak Lyla sambil memeluk leher Glenn erat-erat. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Glenn dan menolak melihat bahkan mengintip sedikit pun. Ia hanya memeluk Glenn dan berteriak-teriak agar Glenn menjauhkan Buddy darinya.
            Terdengar Glenn memberikan perintah agar Buddy kembali ke dalam, tapi Lyla terlalu takut sehingga nggak sadar kalau Buddy sudah masuk ke dalam rumah dengan ekor terselip di antara kakinya. Dengkingannya terdengar memilukan.
            “La, Buddy udah pergi,” kata Glenn sambil menepuk-nepuk punggung Lyla.
            “Beneran?” sahut Lyla nggak percaya.
            “Iya, apa kamu masih dengar suaranya? Buddy itu biar kecil tapi gonggongannya keras lho,” kata Glenn.
            Perlahan, Lyla mengangkat kepalanya dan mengintip ke balik bahu Glenn. Benar, Buddy sudah nggak terlihat di mana pun. Lyla langsung menghembuskan napas lega dan kembali bersandar di bahu Glenn. Ia masih belum sadar kalau dirinya masih memeluk Glenn. Lalu kesadaran itu perlahan merasuki Lyla. Dimulai dari rasa hangat aneh yang menyelubunginya, lalu lengan kuat yang memeluknya, diakhiri oleh hembusan napas hangat di dekat telinganya. Mata Lyla membesar karena terkejut dan dia langsung menarik diri.
            Dan langsung berhadapan dengan mata Glenn yang menatapnya dengan sorot tak terbaca. Keheningan janggal menyelimuti sekeliling Lyla dan Glenn. Menatap mata Glenn yang gelap membuat jantung Lyla berdetak dua kali lebih cepat. Ia sadar betapa dekat dirinya dengan Glenn, tapi dia tak bisa bergerak walau hanya untuk menjauh. Tatapan di mata Glenn membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sedang dipikirkan oleh cowok itu.
            Suara Liliane yang m...emanggil Lyla-lah yang memutus mantra aneh di antara kedua orang itu. Lyla langsung menjauh dan melompat berdiri. Wajahnya memerah dan susah rasanya membalas tatapan Glenn. Untungnya Liliane muncul dan Lyla langsung menyambar kesempatan itu untuk melarikan diri.
            “Kenapa kak?!” tanya Lyla buru-buru.
            “Makan malam udah siap, kalian ayo masuk! Ngapain sih di luar begini? Kan banyak nyamuk,” kata Liliane.
            “Nggak ada nyamuk kok!” kata Lyla.
            Liliane mengamati wajah Lyla dengan seksama sampai Lyla merasa risih dan merasakan rona panas mulai merambati wajahnya. Kalau tidak buru-buru mengalihkan pembicaraan, bisa-bisa Liliane menebak yang tidak-tidak nih.
            “Eh, katanya mau makan malam? Yuk, buruan, Lyla udah lapar nih!” kata Lyla seraya meraih tangan LiLiane dan menyeret kakaknya masuk ke dalam. Lyla tidak berani menoleh ke arah Glenn. Bahkan, tanpa menoleh pun Lyla bisa merasakan tatapan menusuk dari mata Glenn. Tatapan yang membuat Lyla bergidik. Buru-buru Lyla kabur sebelum mempermalukan dirinya lebih banyak. Memeluk Glenn karena takut pada anjing itu satu hal, tapi kalau tidak melepaskannya sampai lama sesudahnya itu berarti bencana!
            Mereka makan malam dalam suasana hangat seperti kemarin-kemarin. Hanya saja Lyla jadi lebih pendiam. Dan dia menolak sama sekali untuk menatap Glenn. Dalam keputusasaannya, dia terus saja membuat Liliane berbicara. Pada akhir makan malam, Lyla berencana langsung kabur ke kamarnya. Akan tetapi rencananya terpaksa gagal lantaran Mamanya mengeluarkan puding pelangi kesukaannya sebagai makanan pencuci mulut. Lyla pun terpaksa duduk lebih lama di meja makan.
            “Glenn, Lusa kamu jadi pulang?” tanya Papa Lyla.
            Lyla langsung mengalihkan perhatiannya dari puding kesukaannya dan menajamkan pendengarannya. Tapi dia tetap menunduk karena tidak mau terlalu kantara kalau dia penasaran. Glenn akan pulang lusa?
            “Iya, Om. Mama udah nelepon minta supaya Glenn cepat pulang. Lagian liburan udah hampir usai,” lanjutnya. Ia melirik Lyla, tapi nampaknya cewek itu asik dengan pudingnya dan tidak memedulikannya sama sekali.
            “Sayang sekali, padahal Om sudah senang karena merasa punya anak lelaki,” desah Papa Lyla.
           Glenn tertawa. “Nanti Glenn main lagi, Om. Atau kalau Om sekeluarga nggak sibuk, main-main aja ke rumah. Papa pasti senang bertemu lawan tanggung dalam permainan caturnya,” kata Glenn.
            “Pasti itu. Om akan cari waktu luang untuk berkunjung ke sana,” kata Papa Lyla.
            Lyla yang mendengar percakapan itu langsung kehilangan nafsu makannya terhadap pudingnya. Makanan manis kesukaannya itu terasa hambar di mulutnya dan meski ia memaksa untuk makan, ia malah membuat dirinya mual. Tampaknya berita kepulangan Glenn membuatnya kaget. Akhirnya, karena takut berbuat bodoh, Lyla pun berdiri dari kursinya.
            “Lyla udah kenyang, ke kamar dulu ya,” kata Lyla dan langsung meninggalkan meja makan.
            Liliane menatap kepergian adiknya dengan heran. “Aneh, padahal dessertnya kan puding kesukaannya,” kata Liliane.
            “Apa dia sakit ya? Belakangan sikapnya memang aneh,” sahut Mama khawatir.
            Glenn hanya mendengarkan, tapi matanya tidak lepas dari sosok Lyla yang menghilang di ujung tangga.
            Sesampainya di kamarnya, Lyla langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Ia berbaring telungkup dengan wajah menghadap ke samping. Glenn akan pulang. Bukannya itu bagus? Berarti makhluk berbulu itu juga akan pergi. Harusnya Lyla senang dan melonjak kegirangan kan? Tapi kenapa yang ada malah perasaan hampa yang aneh? Lyla berguling telentang dan menatap kosong langit-langit kamarnya.
            “Aku kenapa sih...” bisiknya pada kegelapan kamarnya.
***