Samuel dan Linzie sama-sama diliputi kebingungan.
Mereka tidak mengerti apa arti reaksi-reaksi yang timbul di antara mereka.
Sementara Linzie meyakini kalau dia terkena penyakit aneh, Samuel sebaliknya
justru terus meyakinkan kalau semua itu efek karena dia ingin menaklukkan
Linzie yang terang-terangan menolaknya sejak awal. Keduanya sibuk berdebat
dengan si hati kecil dan akhirnya menyerah untuk mendapat jawaban yang pasti.
Linzie
memutuskan bicara dengan sahabat-sahabatnya mungkin bisa membantu, namun
sebaliknya, mereka justru mengatakan hal tidak masuk akal seperti kemungkinan
Linzie mulai naksir pada Samuel, yang langsung ditertawakan oleh Linzie. Karena
ia yakin ia benci sepenuhnya pada cowok itu. Jadi nggak mungkin kalau sekarang
ia jadi naksir.
“Ingat,
gue benci sama playboy!” kata Linzie
saat itu.
Sementara
itu, Samuel justru tidak mengatakan apa-apa pada kedua sahabatnya sampai mereka
yang bertanya langsung. Karena sudah berminggu-minggu berlalu tapi Samuel belum
ada kemajuan pesat. Itu sudah melewati waktu tenggat yang biasa Samuel
terapkan. Dan kedua temannya jelas penasaran.
“Gue
masih dalam proses kemenangan! Lo berdua jangan cerewet dulu deh! Tuh cewek
hatinya kayak es tau! Pakai rayuan nggak pernah mempan!” kata Samuel jengkel.
“Atau
rayuan lo yang udah hilang kasiatnya??” kata Rafhael memanasi.
“Maksud
lo gue udah nggak mampu gitu?” Samuel tersinggung.
“Yaa,
siapa yang tau kan? Coba kalau gue yang bertindak, pasti deh sekarang tuh cewek
udah bertekuk lutut sama gue,” kata Rafhael.
Membayangkan
Rafhael mendekati Linzie membuat Samuel jadi geram. Ia menatap Rafhael dengan
tatapan bengis yang mengisyaratkan jangan rebut target gue, yang membuat
Rafhael menaikkan alisnya menantang.
“Cukup,
cukup, gue nggak mau rumah gue jadi tempat baku hantam lo berdua,” sela Jeremy.
“Rafh, lo cari mangsa lain deh! Biar yang ini Samuel yang tuntasin. Lagian
mungkin aja kita bakal lihat hal yang seru kan? Jarang-jarang ini Samuel serius
PDKT sama cewek,” kata Jeremy menengahi.
“Kata
siapa gue serius?! Dia nggak ada bedanya sama taklukkan-taklukan gue yang
lain!” sahut Samuel panas.
Alis
kiri Jeremy melengkung ke atas, gerakan yang biasa dilakukan cowok itu jika
merasa heran. Samuel langsung buang muka ke arah lain. Membuat Jeremy menahan
senyum. Ia mengerling ke arah Rafhael yang juga ternyata tengah menyeringai
lebar. Mereka berdua tau kalau semakin lama perburuan Samuel makin menarik.
Karena sepertinya si pemburu sama sekali tidak sadar sudah melibatkan
perasaannya terlalu banyak.
Beberapa
hari kemudian, Samuel sudah ada di depan rumah Linzie. Setelah merayu-rayu
selama hampir dua hari, akhirnya Samuel berhasil mengajak Linzie jalan. Malam
itu dia berencana mengajak Linzie nonton di bioskop, lalu stelahnya makan di restorantt
langganannya. Menurut Samuel, Linzie tampil cantik malam itu. Dibalut pakaian
rumahan yang tak berlebihan dan kelihatan nyaman, Linzie duduk di kursi di
sebelahnya. Samuel mencuri-curi pandang ke arah cewek itu yang sejak tadi cuma
melihat keluar jendela. Bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan cewek itu.
Sesuai
rencana, mereka nonton dan makan di restorantt. Namun Linzie sempat menolak
dibayari makan oleh Samuel. Dia bersikeras membayar makanannya sendiri. Samuel
pun tak memaksa lebih jauh dan membiarkan Linzie berlaku sesukanya. Usai makan,
mereka nongkrong di mall.
Samuel
mengobrol ringan dengan Linzie. Di luar dugaan, ia menikmati date mereka malam
itu. Linzie termasuk cewek yang suka mengobrol, di samping sifat juteknya yang
selalu membaur dalam setiap kata-katanya. Namun jika cewek itu tertawa, maka
kesan juteknya langsung lenyap seketika. Samuel, tanpa direncanakan, merasa
terpesona akan pribadi Linzie yang itu. Perlahan-lahan Samuel merupakan
rencananya malam itu. Niat untuk membuat Linzie terpikat dengan semua kata dan
sikapnya tiba-tiba lenyap ketika Samuel terseret dalam setiap ekspresi Linzie.
Linzie memang malaikat. Senyumnya manis dan memabukkan. Sayang senyum itu harus
sering disembunyikan oleh sikap sinisnya. Samuel bertanya-tanya apa yang membuat
Linzie membentengi dirinya—hatinya—dari orang lain terutama yang bertitel
cowok.
“Pulang
yuk. Gue nggak biasa pulang malam-malam,” kata Linzie.
“Hah?
Ini kan baru jam...” Samuel melirik jam tangannya, “…jam 9 malam,” kata Samuel.
“Mau
gimana lagi? Lagian kita udah nonton dan makan seperti yang lo mau kan?” kata
Linzie. Dia memperhatikan sekeliling yang ramai dengan pasangan-pasangan yang
lagi jalan-jalan atau keluarga-keluarga yang lagi refreshing.
“Yah…”
Samuel tidak tau harus bicara apa.
“Lagian
gue kan udah bersedia jalan sama elo. Memang lo mau apa lagi?” kata Linzie
heran. Dia sudah bela-belain nggak ke cafe Daniel, keluar dengan Samuel serta
mengambil resiko ‘penyakit aneh’nya akan kambuh jika terlalu lama dekat Samuel.
Ditambah lagi kata-kata Keisha yang mengtakan Linzie mungkin naksir Samuel
sangat mengganggunya. Mana bisa Linzie terus-terusan bersikap tenang sementara
perutnya bergolak tidak karuan? Bisa-bisa dia malah pingsan!
Lalu,
yang tidak bisa Linzie percayai, orang yang sangat tak ingin Linzie lihat lagi,
berada tak jauh di depannya. Seketika ekspresi Linzie menegang dan tubuhnya
berubah kaku.
“Biasanya
lo ke mana aja kalau malam minggu?” tanya Samuel. Ketika tak ada respon, Samuel
mengambil resiko dengan melirik Linzie. Barulah ia menyadari ketegangan di
wajah Linzie yang sebelumnya tidak ada.
“Kenap…”
pertanyaan Samuel terpotong ketika sebuah seruan mengalihkan perhatiannya.
Samuel memperhatikan seorang cowok yang kini mendekatinya. Ia mulai mengenali
cowok itu sebagai mantan kakak kelasnya sekaligus seniornya di klub basket.
Kalau tak salah namanya Edwin.
“Woi,
apa kabar lo? Nggak nyangka ketemu di sini ya,” kata Edwin bersemangat.
“Yah,
gue baik,” sahut Samuel sambil melirik Linzie yang sejak tadi menatap ke arah
lain.
Edwin
akhirnya mengalihkan perhatiannya dan menyadari kalau Samuel tidak sendirian. “Wah,
cewek baru? Kali ini lo serius nggak?” kata Edwin, kemudian tertawa. Samuel
menatap tajam sementara Linzie bergeming. Cuma bahunya yang semakin menegang.
Samuel mengernyit ketika melihat reaksi Linzie.
“Linzie?”
panggil Samuel ragu.
“Linzie??”
Edwin membeo. Ia maju selangkah di depan Linzie dan menunduk. Dan mendapati
tatapan dingin dari Linzie. Edwin langsung menegakkan badannya.
“Linzie?
Linzie! Ya ampun, lo Linzie?? Lo jadian sama Samuel?!” seru Edwin tak prcaya.
Kernyitan
Samuel makin dalam. Linzie dan Edwin saling kenal?
“Ya
ampun! Gue nggak nyangka lo sepolos itu! Rupanya lo emang nggak bisa lepas dari
yang namanya playboy ya,” kata Edwin sambil menggeleng tak percaya.
Linzie
menatap Edwin penuh kebencian. “Gue nggak jadian sama Samuel,”desis Linzie.
“Hmm...
Yah, bukan urusan gue sih! Gue kaget aja, gimanapun lo kan pernah…” kata-kata
Edwin langsung dipotong oleh Linzie.
“Itu
udah lewat dan nggak perlu lo ungkit! Gue belajar banyak hal dari kejadian itu,
kalau lo mau tau. Dan lo nggak usah khawatir, gue nggak akan ngulangin hal yang
sama lagi!” tegas Linzie. Ia merapikan roknya dan melangkah pergi.
Samuel
terlalu terkesima untuk segera menghentikan Linzie. Dia menatap Edwin penuh
tanya.
“Hebat
lo, Sam! Gue nggak nyangka tuh cewek jatuh ke pelukan lo. Tapi mengingat sifat
lo, gue yakin lo bakal bosen sama dia. Dia sama sekali nggak bisa diajak
senang-senang,” kata Edwin.
“Lo
kenal Linzie?” tanya Samuel tajam.
Edwin
angkat bahu. “Dia pernah jadi pacar gue,” kata Edwin enteng. “Oke, gue duluan
ya! Gue mau ketemu gebetan gue. Lo tenang aja, gue nggak niat sama dia kok!
Bye,” kata Edwin dan melangkah pergi.
Samuel
mengumpat. Bingung antara menuntut penjelasan dari Edwin atau mengejar Linzie.
Akhirnya ia lebih mementingkan Linzie. Ia berhasil menyusul Linzie di parkiran.
Samuel menarik tangan Linzie dan menghentikan langkah gadis itu. Terkejut
ketika mendapati air mata mengalir di pipi Linzie. Linzie langsung mengalihkan
pandangannya.
“Zi,
lo baik-baik aja? Kenapa lo nangis?” tanya Samuel.
“Gue
nggak nangis!” tukas Linzie.
Samuel
menyentuh dagu Linzie dan mengarahkan wajah Linzie ke arahnya. Kemudian dengan
ujung ibu jarinya ia menghapus air mata dari pipi Linzie.
“Ya,
lo nggak nangis,” kata Samuel menyetujui. Hanya agar Linzie tidak menangis
lagi. Tapi siapa sangka air mata Linzie malah makin deras dan cewek itu
mati-matian menghapusnya. Kemudian seolah tidak sanggup lagi, Samuel meraih
Linzie ke dalam pelukannya. Ajaibnya, Linzie tidak menolak atau berontak.
Samuel memeluk Linzie makin erat. Bertanya-tanya apakah tangis Linzie ada
hubungannya dengan kemunculan Edwin. Tapi Samuel tak bisa bertanya lebih jauh
lagi dan malah akan terkesan memaksa Linzie.
“Kalau
lo udah selesai nangis,” kata Samuel, namun ketika Linzie mendongak dan
menatapnya kesal, Samuel sadar salah bicara. Kemudian ia langsung meralatnya.
“Kalau lo udah tenang, gimana kalau gue antar lo pulang?” kata Samuel. Barulah
tatapan Linzie berubah normal dan dia mengangguk.
Diperjalanan
pulang, Linzie mengungkapkan kebenciannya terhadap Edwin. Ketika Samuel
bertanya lebih lanjut, Linzie tak mau menjelaskannya dan bungkam.
Samuel
pulang dengan kepala penuh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Linzie dan
penyebabnya menangis. Ia pikir hal mengganggu itu akan hilang keesokan harinya,
namun malah makin mengganggu hingga Samuel jadi uring-uringan.
Dan
ketika ia sedang mengasingkan diri di perpustakaan, ia justru bertemu dengan
teman-teman Linzie. Keisha dan Chika. Samuel langsung merutuk pelan.
“Ah,
Sammy!! Kok lo di sini? Nggak nguntit Zizi lagi??” tanya Chika ceria. Samuel
langsung memiliki hasrat untuk mencekik leher cewek itu.
Kemudian
ia membalas tatapan Keisha yang setenang air itu. Mengeluh dalam hati kenapa
malah diganggu dua makhluk itu. Namun sebuah pencerahan tiba-tiba
menghampirinya. Kenapa tak bertanya pada kedua teman Linzie ini??
“Lo
berdua tau soal Edwin?” tanya Samuel. “Mantan pacar Linzie,” tambah Samuel
ketika melihat sebelah alis Keisha terangkat. Membuat Samuel teringat kebiasaan
menyebalkan salah satu temannya.
“Ah!!”
seru Chika, membuat Samuel terlonjak. Cowok cute itu nyaris betul-betul tergoda
untuk mencekik Chika. Namun bertahan hanya dengan mendelik saja. Untung
perpustakaan lagi sepi dan guru penjaganya lagi keluar, kalau tidak pasti
mereka sudah diusir keluar.
“Chika
ingat! Edwin itu cowok brengsek! Padahal Zizi setia sama dia dan percaya
sepenuhnya sama kata-katanya, tapi Zizi malah diselingkuhin! Bukan cuma sama
satu cewek, tapi tiga!!”kata Chika emosi. Namun sifat kekanakannya membuat tuh
cewek lebih mirip bocah yang mencoba marah-marah. Tapi bukan itu yang membuat
Samuel memusatkan perhatiannya.
“Apa
lo bilang tadi?” tanya Samuel.
Keisha
yang menjawab dengan tenang. “Seperti yang lo dengar tadi. Edwin nyakitin
Linzie sampai-sampai Linzie menutup hati dari cowok lain dan bersikap sinis
sama cowok manapun. Gara-gara cowok itu, Linzie nggak bisa percaya sama
kata-kata cowok lagi.”
Samuel
mencerna semua hal itu dalam diam. Bahkan setelah Keisha dan Chika pergi.
“Sialan!
Gue jadi menyesal nggak menghajar Edwin semalam!” geram Samuel. Terkejut dengan
emosi yang tiba-tiba melandanya setelah mengetahui alasan dibalik sikap dingin
Linzie. Tapi keterkejutan itu harus menunggu untuk ditelaah lebih lanjut,
karena saat itu yang ingin Samuel lakukan adalah mencari pelampiasan emosinya.
***
Linzie
terus-terusan mengutuki kebodohannya kemarin malam. Tidak seharusnya dia lepas
kendali dan menangis di dada Samuel. Sungguh, itu hal yang paling tidak ingin
Linzie lakukan! Ia sudah tidak pernah menagis lagi sejak bersumpah akan
mengenyahkan Edwin dari hidupnya. Namun semalam, ketika mendengar kata-kata
Edwin, entah bagaimana pertahanan yang selama ini ia susun rapat-rapat,
tiba-tiba pecah berkeping-keping. Rasa benci dan jijiknya pada tingkah Edwin
sudah membuatnya berlaku ceroboh dan menunjukkan kelemahannya di depan Samuel.
Cowok yang ia pikir ‘satu spesies’ dengan Edwin.
Sekarang Linzie tidak tau harus
bersikap bagaimana jika bertemu dengan Samuel. Linzie bahkan tidak berani
membayangkan bagaimana reaksi Samuel. Linzie menghela napas depresi. Mau tak
mau ia harus mengakui kalau Samuel tidaklah sejahat Edwin. Samuel jelas berbeda
dengan Edwin. Dan Linzie tau itu. Tapi ia tetap tidak bisa menghilangkan
ketakutannya akan mengulangi hal yang sama. Linzie masih tidak bisa—takut—untuk
mempercayai lagi. Ia tidak berani memberikan kepercayaanya jika akhirnya akan
dihancurkan lagi. Linzie tak bisa—dan belum bisa—belum mau percaya sepenuhnya
pada Samuel. Namun Linzie sudah mencoba dan akan terus mencoba. Berharap Samuel
tidak akan melakukan hal yang sama seperti Edwin. Berharap Samuel tidak seperti
yang Linzie pikir selama ini...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar