Selasa, 02 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #4


Samuel dan Linzie sama-sama diliputi kebingungan. Mereka tidak mengerti apa arti reaksi-reaksi yang timbul di antara mereka. Sementara Linzie meyakini kalau dia terkena penyakit aneh, Samuel sebaliknya justru terus meyakinkan kalau semua itu efek karena dia ingin menaklukkan Linzie yang terang-terangan menolaknya sejak awal. Keduanya sibuk berdebat dengan si hati kecil dan akhirnya menyerah untuk mendapat jawaban yang pasti.
            Linzie memutuskan bicara dengan sahabat-sahabatnya mungkin bisa membantu, namun sebaliknya, mereka justru mengatakan hal tidak masuk akal seperti kemungkinan Linzie mulai naksir pada Samuel, yang langsung ditertawakan oleh Linzie. Karena ia yakin ia benci sepenuhnya pada cowok itu. Jadi nggak mungkin kalau sekarang ia jadi naksir.
            “Ingat, gue benci sama playboy!” kata Linzie saat itu.
            Sementara itu, Samuel justru tidak mengatakan apa-apa pada kedua sahabatnya sampai mereka yang bertanya langsung. Karena sudah berminggu-minggu berlalu tapi Samuel belum ada kemajuan pesat. Itu sudah melewati waktu tenggat yang biasa Samuel terapkan. Dan kedua temannya jelas penasaran.
            “Gue masih dalam proses kemenangan! Lo berdua jangan cerewet dulu deh! Tuh cewek hatinya kayak es tau! Pakai rayuan nggak pernah mempan!” kata Samuel jengkel.
            “Atau rayuan lo yang udah hilang kasiatnya??” kata Rafhael memanasi.
            “Maksud lo gue udah nggak mampu gitu?” Samuel tersinggung.
            “Yaa, siapa yang tau kan? Coba kalau gue yang bertindak, pasti deh sekarang tuh cewek udah bertekuk lutut sama gue,” kata Rafhael.
            Membayangkan Rafhael mendekati Linzie membuat Samuel jadi geram. Ia menatap Rafhael dengan tatapan bengis yang mengisyaratkan jangan rebut target gue, yang membuat Rafhael menaikkan alisnya menantang.
            “Cukup, cukup, gue nggak mau rumah gue jadi tempat baku hantam lo berdua,” sela Jeremy. “Rafh, lo cari mangsa lain deh! Biar yang ini Samuel yang tuntasin. Lagian mungkin aja kita bakal lihat hal yang seru kan? Jarang-jarang ini Samuel serius PDKT sama cewek,” kata Jeremy menengahi.
            “Kata siapa gue serius?! Dia nggak ada bedanya sama taklukkan-taklukan gue yang lain!” sahut Samuel panas.
            Alis kiri Jeremy melengkung ke atas, gerakan yang biasa dilakukan cowok itu jika merasa heran. Samuel langsung buang muka ke arah lain. Membuat Jeremy menahan senyum. Ia mengerling ke arah Rafhael yang juga ternyata tengah menyeringai lebar. Mereka berdua tau kalau semakin lama perburuan Samuel makin menarik. Karena sepertinya si pemburu sama sekali tidak sadar sudah melibatkan perasaannya terlalu banyak.
            Beberapa hari kemudian, Samuel sudah ada di depan rumah Linzie. Setelah merayu-rayu selama hampir dua hari, akhirnya Samuel berhasil mengajak Linzie jalan. Malam itu dia berencana mengajak Linzie nonton di bioskop, lalu stelahnya makan di restorantt langganannya. Menurut Samuel, Linzie tampil cantik malam itu. Dibalut pakaian rumahan yang tak berlebihan dan kelihatan nyaman, Linzie duduk di kursi di sebelahnya. Samuel mencuri-curi pandang ke arah cewek itu yang sejak tadi cuma melihat keluar jendela. Bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan cewek itu.
            Sesuai rencana, mereka nonton dan makan di restorantt. Namun Linzie sempat menolak dibayari makan oleh Samuel. Dia bersikeras membayar makanannya sendiri. Samuel pun tak memaksa lebih jauh dan membiarkan Linzie berlaku sesukanya. Usai makan, mereka nongkrong di mall.
            Samuel mengobrol ringan dengan Linzie. Di luar dugaan, ia menikmati date mereka malam itu. Linzie termasuk cewek yang suka mengobrol, di samping sifat juteknya yang selalu membaur dalam setiap kata-katanya. Namun jika cewek itu tertawa, maka kesan juteknya langsung lenyap seketika. Samuel, tanpa direncanakan, merasa terpesona akan pribadi Linzie yang itu. Perlahan-lahan Samuel merupakan rencananya malam itu. Niat untuk membuat Linzie terpikat dengan semua kata dan sikapnya tiba-tiba lenyap ketika Samuel terseret dalam setiap ekspresi Linzie. Linzie memang malaikat. Senyumnya manis dan memabukkan. Sayang senyum itu harus sering disembunyikan oleh sikap sinisnya. Samuel bertanya-tanya apa yang membuat Linzie membentengi dirinya—hatinya—dari orang lain terutama yang bertitel cowok.
            “Pulang yuk. Gue nggak biasa pulang malam-malam,” kata Linzie.
            “Hah? Ini kan baru jam...” Samuel melirik jam tangannya, “…jam 9 malam,” kata Samuel.
            “Mau gimana lagi? Lagian kita udah nonton dan makan seperti yang lo mau kan?” kata Linzie. Dia memperhatikan sekeliling yang ramai dengan pasangan-pasangan yang lagi jalan-jalan atau keluarga-keluarga yang lagi refreshing.
            “Yah…” Samuel tidak tau harus bicara apa.
            “Lagian gue kan udah bersedia jalan sama elo. Memang lo mau apa lagi?” kata Linzie heran. Dia sudah bela-belain nggak ke cafe Daniel, keluar dengan Samuel serta mengambil resiko ‘penyakit aneh’nya akan kambuh jika terlalu lama dekat Samuel. Ditambah lagi kata-kata Keisha yang mengtakan Linzie mungkin naksir Samuel sangat mengganggunya. Mana bisa Linzie terus-terusan bersikap tenang sementara perutnya bergolak tidak karuan? Bisa-bisa dia malah pingsan!
            Lalu, yang tidak bisa Linzie percayai, orang yang sangat tak ingin Linzie lihat lagi, berada tak jauh di depannya. Seketika ekspresi Linzie menegang dan tubuhnya berubah kaku.
            “Biasanya lo ke mana aja kalau malam minggu?” tanya Samuel. Ketika tak ada respon, Samuel mengambil resiko dengan melirik Linzie. Barulah ia menyadari ketegangan di wajah Linzie yang sebelumnya tidak ada.
            “Kenap…” pertanyaan Samuel terpotong ketika sebuah seruan mengalihkan perhatiannya. Samuel memperhatikan seorang cowok yang kini mendekatinya. Ia mulai mengenali cowok itu sebagai mantan kakak kelasnya sekaligus seniornya di klub basket. Kalau tak salah namanya Edwin.
            “Woi, apa kabar lo? Nggak nyangka ketemu di sini ya,” kata Edwin bersemangat.
            “Yah, gue baik,” sahut Samuel sambil melirik Linzie yang sejak tadi menatap ke arah lain.
            Edwin akhirnya mengalihkan perhatiannya dan menyadari kalau Samuel tidak sendirian. “Wah, cewek baru? Kali ini lo serius nggak?” kata Edwin, kemudian tertawa. Samuel menatap tajam sementara Linzie bergeming. Cuma bahunya yang semakin menegang. Samuel mengernyit ketika melihat reaksi Linzie.
            “Linzie?” panggil Samuel ragu.
            “Linzie??” Edwin membeo. Ia maju selangkah di depan Linzie dan menunduk. Dan mendapati tatapan dingin dari Linzie. Edwin langsung menegakkan badannya.
            “Linzie? Linzie! Ya ampun, lo Linzie?? Lo jadian sama Samuel?!” seru Edwin tak prcaya.
            Kernyitan Samuel makin dalam. Linzie dan Edwin saling kenal?
            “Ya ampun! Gue nggak nyangka lo sepolos itu! Rupanya lo emang nggak bisa lepas dari yang namanya playboy ya,” kata Edwin sambil menggeleng tak percaya.
            Linzie menatap Edwin penuh kebencian. “Gue nggak jadian sama Samuel,”desis Linzie.
            “Hmm... Yah, bukan urusan gue sih! Gue kaget aja, gimanapun lo kan pernah…” kata-kata Edwin langsung dipotong oleh Linzie.
            “Itu udah lewat dan nggak perlu lo ungkit! Gue belajar banyak hal dari kejadian itu, kalau lo mau tau. Dan lo nggak usah khawatir, gue nggak akan ngulangin hal yang sama lagi!” tegas Linzie. Ia merapikan roknya dan melangkah pergi.
            Samuel terlalu terkesima untuk segera menghentikan Linzie. Dia menatap Edwin penuh tanya.
            “Hebat lo, Sam! Gue nggak nyangka tuh cewek jatuh ke pelukan lo. Tapi mengingat sifat lo, gue yakin lo bakal bosen sama dia. Dia sama sekali nggak bisa diajak senang-senang,” kata Edwin.
            “Lo kenal Linzie?” tanya Samuel tajam.
            Edwin angkat bahu. “Dia pernah jadi pacar gue,” kata Edwin enteng. “Oke, gue duluan ya! Gue mau ketemu gebetan gue. Lo tenang aja, gue nggak niat sama dia kok! Bye,” kata Edwin dan melangkah pergi.
            Samuel mengumpat. Bingung antara menuntut penjelasan dari Edwin atau mengejar Linzie. Akhirnya ia lebih mementingkan Linzie. Ia berhasil menyusul Linzie di parkiran. Samuel menarik tangan Linzie dan menghentikan langkah gadis itu. Terkejut ketika mendapati air mata mengalir di pipi Linzie. Linzie langsung mengalihkan pandangannya.
            “Zi, lo baik-baik aja? Kenapa lo nangis?” tanya Samuel.
            “Gue nggak nangis!” tukas Linzie.
            Samuel menyentuh dagu Linzie dan mengarahkan wajah Linzie ke arahnya. Kemudian dengan ujung ibu jarinya ia menghapus air mata dari pipi Linzie.
            “Ya, lo nggak nangis,” kata Samuel menyetujui. Hanya agar Linzie tidak menangis lagi. Tapi siapa sangka air mata Linzie malah makin deras dan cewek itu mati-matian menghapusnya. Kemudian seolah tidak sanggup lagi, Samuel meraih Linzie ke dalam pelukannya. Ajaibnya, Linzie tidak menolak atau berontak. Samuel memeluk Linzie makin erat. Bertanya-tanya apakah tangis Linzie ada hubungannya dengan kemunculan Edwin. Tapi Samuel tak bisa bertanya lebih jauh lagi dan malah akan terkesan memaksa Linzie.
            “Kalau lo udah selesai nangis,” kata Samuel, namun ketika Linzie mendongak dan menatapnya kesal, Samuel sadar salah bicara. Kemudian ia langsung meralatnya. “Kalau lo udah tenang, gimana kalau gue antar lo pulang?” kata Samuel. Barulah tatapan Linzie berubah normal dan dia mengangguk.
            Diperjalanan pulang, Linzie mengungkapkan kebenciannya terhadap Edwin. Ketika Samuel bertanya lebih lanjut, Linzie tak mau menjelaskannya dan bungkam.
            Samuel pulang dengan kepala penuh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Linzie dan penyebabnya menangis. Ia pikir hal mengganggu itu akan hilang keesokan harinya, namun malah makin mengganggu hingga Samuel jadi uring-uringan.
            Dan ketika ia sedang mengasingkan diri di perpustakaan, ia justru bertemu dengan teman-teman Linzie. Keisha dan Chika. Samuel langsung merutuk pelan.
            “Ah, Sammy!! Kok lo di sini? Nggak nguntit Zizi lagi??” tanya Chika ceria. Samuel langsung memiliki hasrat untuk mencekik leher cewek itu.
            Kemudian ia membalas tatapan Keisha yang setenang air itu. Mengeluh dalam hati kenapa malah diganggu dua makhluk itu. Namun sebuah pencerahan tiba-tiba menghampirinya. Kenapa tak bertanya pada kedua teman Linzie ini??
            “Lo berdua tau soal Edwin?” tanya Samuel. “Mantan pacar Linzie,” tambah Samuel ketika melihat sebelah alis Keisha terangkat. Membuat Samuel teringat kebiasaan menyebalkan salah satu temannya.
            “Ah!!” seru Chika, membuat Samuel terlonjak. Cowok cute itu nyaris betul-betul tergoda untuk mencekik Chika. Namun bertahan hanya dengan mendelik saja. Untung perpustakaan lagi sepi dan guru penjaganya lagi keluar, kalau tidak pasti mereka sudah diusir keluar.
            “Chika ingat! Edwin itu cowok brengsek! Padahal Zizi setia sama dia dan percaya sepenuhnya sama kata-katanya, tapi Zizi malah diselingkuhin! Bukan cuma sama satu cewek, tapi tiga!!”kata Chika emosi. Namun sifat kekanakannya membuat tuh cewek lebih mirip bocah yang mencoba marah-marah. Tapi bukan itu yang membuat Samuel memusatkan perhatiannya.
            “Apa lo bilang tadi?” tanya Samuel.
            Keisha yang menjawab dengan tenang. “Seperti yang lo dengar tadi. Edwin nyakitin Linzie sampai-sampai Linzie menutup hati dari cowok lain dan bersikap sinis sama cowok manapun. Gara-gara cowok itu, Linzie nggak bisa percaya sama kata-kata cowok lagi.”
            Samuel mencerna semua hal itu dalam diam. Bahkan setelah Keisha dan Chika pergi.
            “Sialan! Gue jadi menyesal nggak menghajar Edwin semalam!” geram Samuel. Terkejut dengan emosi yang tiba-tiba melandanya setelah mengetahui alasan dibalik sikap dingin Linzie. Tapi keterkejutan itu harus menunggu untuk ditelaah lebih lanjut, karena saat itu yang ingin Samuel lakukan adalah mencari pelampiasan emosinya.
***
            Linzie terus-terusan mengutuki kebodohannya kemarin malam. Tidak seharusnya dia lepas kendali dan menangis di dada Samuel. Sungguh, itu hal yang paling tidak ingin Linzie lakukan! Ia sudah tidak pernah menagis lagi sejak bersumpah akan mengenyahkan Edwin dari hidupnya. Namun semalam, ketika mendengar kata-kata Edwin, entah bagaimana pertahanan yang selama ini ia susun rapat-rapat, tiba-tiba pecah berkeping-keping. Rasa benci dan jijiknya pada tingkah Edwin sudah membuatnya berlaku ceroboh dan menunjukkan kelemahannya di depan Samuel. Cowok yang ia pikir ‘satu spesies’ dengan Edwin.
            Sekarang Linzie tidak tau harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Samuel. Linzie bahkan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Samuel. Linzie menghela napas depresi. Mau tak mau ia harus mengakui kalau Samuel tidaklah sejahat Edwin. Samuel jelas berbeda dengan Edwin. Dan Linzie tau itu. Tapi ia tetap tidak bisa menghilangkan ketakutannya akan mengulangi hal yang sama. Linzie masih tidak bisa—takut—untuk mempercayai lagi. Ia tidak berani memberikan kepercayaanya jika akhirnya akan dihancurkan lagi. Linzie tak bisa—dan belum bisa—belum mau percaya sepenuhnya pada Samuel. Namun Linzie sudah mencoba dan akan terus mencoba. Berharap Samuel tidak akan melakukan hal yang sama seperti Edwin. Berharap Samuel tidak seperti yang Linzie pikir selama ini...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar