Pulang sekolah, Samuel menunggu Linzie diparkiran.
Berharap bisa membuat cewek itu nggak marah lagi. Tapi ternyata dia lagi sial,
yang dia temukan malah Keisha dan Chika.
“Oh,
Linzie udah pulang kali! Dari 15 menit yang lalu malah, lewat gerbang
belakang,” kata Chika.
Samuel
langsung mengumpat rendah. Rugi deh nungguin sampai jamuran, yang ditunggu
ternyata udah pulang!!
“Ya
udah deh. Thanks aja buat infonya,” kata Samuel dan berjalan ke arah mobilnya.
Dia nggak langsung pulang, melainkan bersandar lemas di samping mobilnya.
Jeremy muncul tak lama kemudian.
“Masih
di sekolah lo?” tanya Jeremy sambil naik ke motornya.
Samuel
mendesah. “Seperti yang lo lihat...” gumamnya.
“Kenapa
lagi lo?” tanya Jeremy sambil menaikkan alisnya. Oh, Samuel benci itu.
“Kayaknya
Linzie marah lagi sama gue,” kata Samuel.
Jeremy
kasihan juga melihat Samuel jadi begitu. Tapi tidak cukup kasihan untuk
membantunya. “Memang ulah apa yang kali ini lo buat?” tanya Jeremy sambil
memakai jaketnya.
Samuel
lantas menceritakan kejadian di kantin itu secara mendetail. Tak sedikitpun hal
yang dia lupakan.
“Gue
nggak tau salah gue apa sampai dia marah lagi...” desah Samuel.
Tanpa
diduga, Jeremy yang sedang memakai sarung tangannya malah tertawa
terbahak-bahak. Astaga, dia nggak tau kalau cinta tuh bisa bikin cowok jadi
bego. Bego akut kalau mau ditambahkan.
“Astaga...
gue nggak nyangka kepintaran lo nggak guna kalau udah menyangkut cewek itu,” kata
Jeremy geli.
“Cewek
itu, cewek itu, namanya Linzie!” koreksi Samuel jengkel.
“Ya,
ya, whateverlah!” Jeremy mengibaskan
tangannya. “Kalau lo pikir baik-baik, tanpa melibatkan emosi lo. Kalau seorang
cewek tiba-tiba marah nggak jelas sama lo ketika lo lagi sama cewek lain di
depan tuh cewek, menurut lo itu cewek kenapa?” tanya Jeremy. Dia menggeleng-geleng
pasrah, kemudian menstarter mesin motornya.
“Gue
duluan! Lo pikir aja sampai jamuran!” kata Jeremy dan melaju pergi.
Samuel
merenungi kata-kata Jeremy cukup lama, kemudian kebenaran pelan-pelan mengendap
di kepalanya. Matanya melebar tak percaya ketika semua potongan-potongan
jawaban mulai tersusun di kepalanya.
“Oh My Goddess...” ujar Samuel tanpa
sadar. Sekarang ia tak bisa menahan cengirannya yang melebar itu. Bahkan ia
ingin tertawa sekarang. Sialan Jeremy. Ngomong berputar-putar, pakai
menyebutnya bego pula. Tapi Samuel akui, tanpa pencerahan dari temannya itu,
mungkin sampai lebaran kingkong dia nggak akan tau apa yang salah. Yah, cinta
memang kadang bikin cowok jadi bego, pikirnya geli.
***
Samuel
tak bisa menghapuskan senyumnya sepanjang pagi keesokan harinya. Astaga,
mengetahui Linzie cemburu pada cewek-cewek lain saja bisa membuatnya segirang
ini! Cemburu! Demi Tuhan, Samuel merasa hatinya melambung begitu tinggi. Andai
saja ia menyadarinya kemarin, mungkin ia dan Linzie... Oh, membayangkannya saja
Samuel tak bisa berhenti tersenyum. Namun senyumannya perlahan sirna saat
melihat pemandangan di depannya.
Linzie
sedang bicara dengan beberapa cowok di depan kelasnya. Cewek itu tampak santai,
bahkan sempat tersnyum tipis sembari mengangguk. Samuel tidak tau apa yang
mereka bicarakan, tapi hal itu mampu menghapus kegembiraannya.
Sekarang
hatinya justru panas melihat Linzie bicara dengan cowok lain. Samuel tidak
rela. Ia sudah mengklaim cewek itu sebagai miliknya, dan ia jelas tidak suka
berbagi. Samuel langsung menghampiri Linzie. Tanpa tedeng aling-aling ia
langsung menarik Linzie pergi. Tak menggubris kekagetan cewek itu yang langsung
diikuti oleh protes kerasnya.
Samuel
terus saja menyeret Linzie bersamanya menuruni tangga. Bahkan tidak menggubris
Rafhael dan Jeremy yang berpapasan dengannya. Samuel membawa Linzie ke belakang
sekolah, satu-satunya area sekolah yang memiliki privasi tanpa takut akan ada
yang melihat mereka.
“Samuel!!”
sentak Linzie, kesal karena ia diseret seperti itu. Linzie memijit tangannya
yang dicengkeram erat oleh Samuel. “Lo kenapa sih!?”hardik Linzie. “Lo gila
ya?!”
“Lo
yang apa-apaan!!” sahut Samuel tajam.
“Gue??
Memang gue kenapa?!” kata Linzie nggak habis pikir. “Elo yang kenapa!! Lo pikir
lo siapa nyeret-nyeret gue kayak tadi?!” hardik Linzie.
“Gue
nggak terima! Lo nggak adil, Zi! Lo bisa ngomong dengan santai sama cowok lain,
tapi sama gue lo acuh melulu!!” protes Samuel, agak mirip anak kecil yang
merajuk sebenarnya, tapi Samuel nggak peduli.
Linzie
ternganga. Sama sekali nggak percaya dengan apa yang Samuel tuduhkan padanya.
“Gue nggak adil?? Di mananya yang gue nggak adil??” balas Linzie. “Lo nggak
berhak marah-marah sama gue! Gue punya hak buat dekat sama siapa pun!!”
“Lo
punya gue!!” tandas Samuel.
“What?!
Gue punya lo? Sejak kapan??” sahut Linzie. “Lo nggak mengijinkan gue dekat sama
cowok lain sementara elo bebas dekat sama cewek lain?? Siapa yang nggak adil,
Sam!!”
Wajah
Linzie memerah karena marah, napasnya pendek-pendek karena berteriak. Seenaknya
aja Samuel melarang-larangnya? Siapa dia sehingga boleh mengatur-ngaturnya?
Linzie benar-benar tak habis pikir.
Linzie
sudah siap berbalik ketika Samuel mencekal tangannya. “Lo nggak akan ke mana-mana
sampai urusan kita selesai,” geram Samuel.
“Kita
nggak punya urusan apapun!! Lo yang punya urusan sama otak lo itu!! Lo pikir
apa yang lo lakuin sekarang?? Oh, gue tau,” kata Linzie emosi. “Lo cemburu
kalau gue-dekat cowok lain??”
“Iya!
Gue cemburu!!” teriak Samuel. “Gue bahkan ingin melempar cowok-cowok itu biar
menjauh dari elo!! Gue tuh cinta sama elo, Zi!!” Samuel mencengkeram lengan
atas Linzie dan mengguncang Linzie pelan.
Linzie
terperangah. Antara ingin balas berteriak atau memastikan pendengarannya.
Samuel mencengkeram lengannya dengan keras. Dan tampak serius di depannya.
Linzie mengerjap-ngerjap, linglung sejenak. Ia menatap tangan Samuel yang ada
di lengannya, kemudian beralih ke wajah Samuel. Ketidakpercayaannya pasti
tampak di wajahnya, karena Samuel mengendurkan cengkeramannya dan ganti
menggenggam tangannya.
“Zi,
gue cinta sama elo! Seumur hidup gue nggak pernah nyatain cinta ke siapapun!
Bahkan biarpun di sekeliling gue penuh cewek! Cuma elo, Zi, satu-satunya cewek
yang bikin gue kehilangan akal sehat gue. Bikin gue merasakan emosi-emosi asing
yang belum pernah gue rasain! Please, percaya sama gue,” kata Samuel.
Linzie
membuka mulutnya hendak bicara, namun kemudian menutupnya dan menggeleng.
“Lo...
cinta sama gue?” tanya Linzie begitu berhasil menemukan suaranya.
“Ya,
gue cinta sama elo. Sejak pertama kali elo jatuh ke pelukan gue,” kata Samuel.
“A…
apa?” sahut Linzie bingung.
“Lo
nggak ingat pertemuan pertama kita? Lo kan jatuh ke pelukan gue,” kata Samuel.
Linzie
terlalu bingung untuk dapat mengingat dengan cepat kali pertama pertemuannya
dengan Samuel. Setelah aksi saling bentak mereka tadi, dan kini berubah jadi
tenang, membuat Linzie kehilangan orientasi pikirannya. Perlu waktu semenit
bagi Linzie untuk mengingat.
“Oh,”
cetus Linzie teringat kejadian itu. Kemudian wajahnya memerah.
“Sejak
saat itu gue nggak bisa menghapus lo dari pikiran gue... Butuh waktu buat gue
menyadari kalau gue udah jatuh cinta sama elo.”
Linzie
mundur selangkah. Ia butuh ruang untuk berpikir. Kaget? Pasti. Tidak percaya?
Sangat. Samuel cinta sama dia? Betul-betul jatuh cinta? Linzie tak bisa percaya.
Tapi meski pikirannya masih tak bisa mempercayainya, kenapa hatinya terasa
hangat? Astaga...
“Zi…
gimana perasaan lo ke gue? Gue tau kemarin lo cemburu kan sama cewek-cewek itu?
Makanya lo marah sama gue… Nggak salah kan kalau gue pikir lo punya rasa juga
sama gue, biarpun cuma sedikit,” kata Samuel.
“Gu...
gue…” Linzie terbata. Astaga, sejak kapan Linzie kehilangan kemampuan
bicaranya? Linzie berdeham. “Gue nggak tau,” katanya jujur.
“Nggak
tau???” ulang Samuel, nyaris melengking saking tidak sabarnya.
“Gue
nggak tau gue juga cinta sama lo atau nggak! Lo nggak perlu teriak kayak gitu
donk,” kata Linzie.
“Gue
nggak teriak,” gumam Samuel. “So, lo... mau nggak jadi cewek gue?” tanya
Samuel.
Linzie
terdiam lama. Membuat Samuel harus berusaha sabar.
“Jadi??”
desak Samuel. “Zi, lo mau kan??” Samuel terus mendesak. Sehingga makin lama
Linzie malah makin tak bisa berpikir. Ia tau dan ia sadar, dalam hatinya yang
terdalam, ia juga punya perasaan pada Samuel. Tapi ketika ia hendak mencari
secercah keyakinan pada dirinya, Samuel malah terus mendesaknya tiada henti.
“Lo
mau jawaban atau nggak sih?!” sahut Linzie kesal.
Samuel
langsung bungkam. Ia tampak malu karena tidak sabaran. Ia pun akhirnya diam,
menunggu. Nyaris berteriak ketika Linzie berbalik membelakanginya, tapi batal
ketika mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Linzie.
“Mungkin...
gue akan mempertimbangkannya. Kasih gue waktu sehari...”
Harapan
langsung merebak di wajah Samuel. Ia tidak bisa menahan teriakan kegembiraannya
dan langsung menghampiri Linzie, membalikkan badannya, kemudian mengangkat
cewek itu dan berputar-putar.
“Gue
janji nggak akan mainin elo!! My love is you, Zizi!!” teriak Samuel girang lalu
tertawa.
Linzie
yang tadinya menjerit kaget, kini ikut tertawa bersama Samuel. Lengannya
melingkari leher Samuel sebagai penyeimbang.
Nampaknya
Samuel dan Linzie berhasil menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Cinta
mengubah pandangan mereka terhadap satu sama lain. Akankah cinta memberikan
keajaibannya pada yang lainnya?? Hmm, tentu. Cinta tak pernah pilih kasih.
Meski penuh kejutan dan tak mudah menemukannya, cinta itu selalu ada di dalam
hati masing-masing orang. Bahkan seorang playboy sekalipun! Mungkin nggak ya, sihir
cinta itu berlanjut... Menuju pada target selanjutnya…
- SELESAI -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar