Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #9 END


Pulang sekolah, Samuel menunggu Linzie diparkiran. Berharap bisa membuat cewek itu nggak marah lagi. Tapi ternyata dia lagi sial, yang dia temukan malah Keisha dan Chika.
            “Oh, Linzie udah pulang kali! Dari 15 menit yang lalu malah, lewat gerbang belakang,” kata Chika.
            Samuel langsung mengumpat rendah. Rugi deh nungguin sampai jamuran, yang ditunggu ternyata udah pulang!!
            “Ya udah deh. Thanks aja buat infonya,” kata Samuel dan berjalan ke arah mobilnya. Dia nggak langsung pulang, melainkan bersandar lemas di samping mobilnya. Jeremy muncul tak lama kemudian.
            “Masih di sekolah lo?” tanya Jeremy sambil naik ke motornya.
            Samuel mendesah. “Seperti yang lo lihat...” gumamnya.
            “Kenapa lagi lo?” tanya Jeremy sambil menaikkan alisnya. Oh, Samuel benci itu.
            “Kayaknya Linzie marah lagi sama gue,” kata Samuel.
            Jeremy kasihan juga melihat Samuel jadi begitu. Tapi tidak cukup kasihan untuk membantunya. “Memang ulah apa yang kali ini lo buat?” tanya Jeremy sambil memakai jaketnya.
            Samuel lantas menceritakan kejadian di kantin itu secara mendetail. Tak sedikitpun hal yang dia lupakan.
            “Gue nggak tau salah gue apa sampai dia marah lagi...” desah Samuel.
            Tanpa diduga, Jeremy yang sedang memakai sarung tangannya malah tertawa terbahak-bahak. Astaga, dia nggak tau kalau cinta tuh bisa bikin cowok jadi bego. Bego akut kalau mau ditambahkan.
           “Astaga... gue nggak nyangka kepintaran lo nggak guna kalau udah menyangkut cewek itu,” kata Jeremy geli.
            “Cewek itu, cewek itu, namanya Linzie!” koreksi Samuel jengkel.
            “Ya, ya, whateverlah!” Jeremy mengibaskan tangannya. “Kalau lo pikir baik-baik, tanpa melibatkan emosi lo. Kalau seorang cewek tiba-tiba marah nggak jelas sama lo ketika lo lagi sama cewek lain di depan tuh cewek, menurut lo itu cewek kenapa?” tanya Jeremy. Dia menggeleng-geleng pasrah, kemudian menstarter mesin motornya.
            “Gue duluan! Lo pikir aja sampai jamuran!” kata Jeremy dan melaju pergi.
            Samuel merenungi kata-kata Jeremy cukup lama, kemudian kebenaran pelan-pelan mengendap di kepalanya. Matanya melebar tak percaya ketika semua potongan-potongan jawaban mulai tersusun di kepalanya.
            “Oh My Goddess...” ujar Samuel tanpa sadar. Sekarang ia tak bisa menahan cengirannya yang melebar itu. Bahkan ia ingin tertawa sekarang. Sialan Jeremy. Ngomong berputar-putar, pakai menyebutnya bego pula. Tapi Samuel akui, tanpa pencerahan dari temannya itu, mungkin sampai lebaran kingkong dia nggak akan tau apa yang salah. Yah, cinta memang kadang bikin cowok jadi bego, pikirnya geli.
***
            Samuel tak bisa menghapuskan senyumnya sepanjang pagi keesokan harinya. Astaga, mengetahui Linzie cemburu pada cewek-cewek lain saja bisa membuatnya segirang ini! Cemburu! Demi Tuhan, Samuel merasa hatinya melambung begitu tinggi. Andai saja ia menyadarinya kemarin, mungkin ia dan Linzie... Oh, membayangkannya saja Samuel tak bisa berhenti tersenyum. Namun senyumannya perlahan sirna saat melihat pemandangan di depannya.
            Linzie sedang bicara dengan beberapa cowok di depan kelasnya. Cewek itu tampak santai, bahkan sempat tersnyum tipis sembari mengangguk. Samuel tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi hal itu mampu menghapus kegembiraannya.
            Sekarang hatinya justru panas melihat Linzie bicara dengan cowok lain. Samuel tidak rela. Ia sudah mengklaim cewek itu sebagai miliknya, dan ia jelas tidak suka berbagi. Samuel langsung menghampiri Linzie. Tanpa tedeng aling-aling ia langsung menarik Linzie pergi. Tak menggubris kekagetan cewek itu yang langsung diikuti oleh protes kerasnya.
            Samuel terus saja menyeret Linzie bersamanya menuruni tangga. Bahkan tidak menggubris Rafhael dan Jeremy yang berpapasan dengannya. Samuel membawa Linzie ke belakang sekolah, satu-satunya area sekolah yang memiliki privasi tanpa takut akan ada yang melihat mereka.
            “Samuel!!” sentak Linzie, kesal karena ia diseret seperti itu. Linzie memijit tangannya yang dicengkeram erat oleh Samuel. “Lo kenapa sih!?”hardik Linzie. “Lo gila ya?!”
            “Lo yang apa-apaan!!” sahut Samuel tajam.
            “Gue?? Memang gue kenapa?!” kata Linzie nggak habis pikir. “Elo yang kenapa!! Lo pikir lo siapa nyeret-nyeret gue kayak tadi?!” hardik Linzie.
            “Gue nggak terima! Lo nggak adil, Zi! Lo bisa ngomong dengan santai sama cowok lain, tapi sama gue lo acuh melulu!!” protes Samuel, agak mirip anak kecil yang merajuk sebenarnya, tapi Samuel nggak peduli.
            Linzie ternganga. Sama sekali nggak percaya dengan apa yang Samuel tuduhkan padanya. “Gue nggak adil?? Di mananya yang gue nggak adil??” balas Linzie. “Lo nggak berhak marah-marah sama gue! Gue punya hak buat dekat sama siapa pun!!”
            “Lo punya gue!!” tandas Samuel.
            “What?! Gue punya lo? Sejak kapan??” sahut Linzie. “Lo nggak mengijinkan gue dekat sama cowok lain sementara elo bebas dekat sama cewek lain?? Siapa yang nggak adil, Sam!!”
            Wajah Linzie memerah karena marah, napasnya pendek-pendek karena berteriak. Seenaknya aja Samuel melarang-larangnya? Siapa dia sehingga boleh mengatur-ngaturnya? Linzie benar-benar tak habis pikir.
            Linzie sudah siap berbalik ketika Samuel mencekal tangannya. “Lo nggak akan ke mana-mana sampai urusan kita selesai,” geram Samuel.
            “Kita nggak punya urusan apapun!! Lo yang punya urusan sama otak lo itu!! Lo pikir apa yang lo lakuin sekarang?? Oh, gue tau,” kata Linzie emosi. “Lo cemburu kalau gue-dekat cowok lain??”
            “Iya! Gue cemburu!!” teriak Samuel. “Gue bahkan ingin melempar cowok-cowok itu biar menjauh dari elo!! Gue tuh cinta sama elo, Zi!!” Samuel mencengkeram lengan atas Linzie dan mengguncang Linzie pelan.
            Linzie terperangah. Antara ingin balas berteriak atau memastikan pendengarannya. Samuel mencengkeram lengannya dengan keras. Dan tampak serius di depannya. Linzie mengerjap-ngerjap, linglung sejenak. Ia menatap tangan Samuel yang ada di lengannya, kemudian beralih ke wajah Samuel. Ketidakpercayaannya pasti tampak di wajahnya, karena Samuel mengendurkan cengkeramannya dan ganti menggenggam tangannya.
            “Zi, gue cinta sama elo! Seumur hidup gue nggak pernah nyatain cinta ke siapapun! Bahkan biarpun di sekeliling gue penuh cewek! Cuma elo, Zi, satu-satunya cewek yang bikin gue kehilangan akal sehat gue. Bikin gue merasakan emosi-emosi asing yang belum pernah gue rasain! Please, percaya sama gue,” kata Samuel.
            Linzie membuka mulutnya hendak bicara, namun kemudian menutupnya dan menggeleng.
            “Lo... cinta sama gue?” tanya Linzie begitu berhasil menemukan suaranya.
            “Ya, gue cinta sama elo. Sejak pertama kali elo jatuh ke pelukan gue,” kata Samuel.
            “A… apa?” sahut Linzie bingung.
            “Lo nggak ingat pertemuan pertama kita? Lo kan jatuh ke pelukan gue,” kata Samuel.
            Linzie terlalu bingung untuk dapat mengingat dengan cepat kali pertama pertemuannya dengan Samuel. Setelah aksi saling bentak mereka tadi, dan kini berubah jadi tenang, membuat Linzie kehilangan orientasi pikirannya. Perlu waktu semenit bagi Linzie untuk mengingat.
            “Oh,” cetus Linzie teringat kejadian itu. Kemudian wajahnya memerah.
            “Sejak saat itu gue nggak bisa menghapus lo dari pikiran gue... Butuh waktu buat gue menyadari kalau gue udah jatuh cinta sama elo.”
            Linzie mundur selangkah. Ia butuh ruang untuk berpikir. Kaget? Pasti. Tidak percaya? Sangat. Samuel cinta sama dia? Betul-betul jatuh cinta? Linzie tak bisa percaya. Tapi meski pikirannya masih tak bisa mempercayainya, kenapa hatinya terasa hangat? Astaga...
            “Zi… gimana perasaan lo ke gue? Gue tau kemarin lo cemburu kan sama cewek-cewek itu? Makanya lo marah sama gue… Nggak salah kan kalau gue pikir lo punya rasa juga sama gue, biarpun cuma sedikit,” kata Samuel.
           “Gu... gue…” Linzie terbata. Astaga, sejak kapan Linzie kehilangan kemampuan bicaranya? Linzie berdeham. “Gue nggak tau,” katanya jujur.
            “Nggak tau???” ulang Samuel, nyaris melengking saking tidak sabarnya.
            “Gue nggak tau gue juga cinta sama lo atau nggak! Lo nggak perlu teriak kayak gitu donk,” kata Linzie.
            “Gue nggak teriak,” gumam Samuel. “So, lo... mau nggak jadi cewek gue?” tanya Samuel.
            Linzie terdiam lama. Membuat Samuel harus berusaha sabar.
            “Jadi??” desak Samuel. “Zi, lo mau kan??” Samuel terus mendesak. Sehingga makin lama Linzie malah makin tak bisa berpikir. Ia tau dan ia sadar, dalam hatinya yang terdalam, ia juga punya perasaan pada Samuel. Tapi ketika ia hendak mencari secercah keyakinan pada dirinya, Samuel malah terus mendesaknya tiada henti.
            “Lo mau jawaban atau nggak sih?!” sahut Linzie kesal.
            Samuel langsung bungkam. Ia tampak malu karena tidak sabaran. Ia pun akhirnya diam, menunggu. Nyaris berteriak ketika Linzie berbalik membelakanginya, tapi batal ketika mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Linzie.
            “Mungkin... gue akan mempertimbangkannya. Kasih gue waktu sehari...”
            Harapan langsung merebak di wajah Samuel. Ia tidak bisa menahan teriakan kegembiraannya dan langsung menghampiri Linzie, membalikkan badannya, kemudian mengangkat cewek itu dan berputar-putar.
            “Gue janji nggak akan mainin elo!! My love is you, Zizi!!” teriak Samuel girang lalu tertawa.
            Linzie yang tadinya menjerit kaget, kini ikut tertawa bersama Samuel. Lengannya melingkari leher Samuel sebagai penyeimbang.
            Nampaknya Samuel dan Linzie berhasil menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Cinta mengubah pandangan mereka terhadap satu sama lain. Akankah cinta memberikan keajaibannya pada yang lainnya?? Hmm, tentu. Cinta tak pernah pilih kasih. Meski penuh kejutan dan tak mudah menemukannya, cinta itu selalu ada di dalam hati masing-masing orang. Bahkan seorang playboy sekalipun! Mungkin nggak ya, sihir cinta itu berlanjut... Menuju pada target selanjutnya…

- SELESAI -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar