Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #9


Cinta itu bukanlah kata yang sederhana. Ia penuh makna dan selalu dikenang sepanjang masa, dalam setiap generasi dan semua bangsa. Cinta bukanlah hal yang harus dihindari. Meski rasa sakitnya menghujam di dada. Dan pedihnya tak hilang ditelan masa…
            Chika tau itu semua lebih dari orang lain. Ia tau bahwa rasa sakit di hatinya takkan sembuh dalam waktu semalam. Rafhael secara tersirat sudah menunjukkan kalau ia tak punya kesempatan, bahkan sebelum mencoba. Betapa pedihnya hati Chika. Meski begitu, ia tidak mau bercerita pada teman-temannya. Chika tidak mau Rafhael disalahkan dan Jeremy mengamuk lagi. Chika tak mau Rafhael disakiti.
            Chika tau betapa bodoh dirinya. Masih saja memikirkan orang yang sudah menyakitinya. Tapi Chika memang belum bisa melupakan perasaannya pada Rafhael. Bisa melihat dari jauh saja sudah lebih dari cukup. Ia tidak mau yang lainnya lagi. Bahkan kalaupun tindakannya itu hanya akan menorehkan lebih banyak tikaman rasa sakit di dadanya.
            Teman-temannya begitu baik dan perhatian. Bahkan Jeremy yang paling cuek sekalipun kini perhatian padanya. Mereka berusaha membuat pikiran Chika tetap sibuk dengan mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat. Seperti sekarang ini. Jeremy mengajak mereka semua piknik ke danau. Chika menyambutnya dengan gembira, meski ia juga menyadari pandangan khawatir teman-temannya. Tapi Chika sudah bertekad untuk tidak memperlihatkannya kesedihannya. Ia tidak mau jadi cengeng terus-terusan. Jadi ia akan bersenang-senang.
            Ketika tiba akhirnya ia meminta jalan-jalan sendirian di pinggir danau, teman-temannya membiarkannya. Chika berjalan di sekeliling danau. Memperhatikan setiap langkah kakinya. Kemudian ia meniti dermaga kecil yang ada di dekatnya. Ia duduk di ujungnya sembari menurunkan kakinya. Dan menatap lurus ke depan, ke kejauhan. Rambut panjangnya dimainkan angin lembut. Ia memejamkan matanya dan menikmati ketenangan yang ada. Seandainya ia bisa setenang angin itu. Chika berbaring, menaungi matanya dengan tangan agar tidak silau. Tiba-tiba saja air matanya bergulir. Ia memejamkan matanya dan menghela napas sesak.
            Dikejauhan, Linzie, Keisha, Jeremy dan Samuel memperhatikan Chika.
            “Yakin mau ngebiarin dia sendirian?” tanya Samuel, tidak ditujukan pada siapapun secara khusus.
            “Gue rasa untuk sementara dibiarin aja,” sahut Keisha. “Gue yakin yang dia butuhkan adalah waktu untuk berpikir.”
            “Cowok brengsek! Apa yang dia lakuin ke Chika sampai Chika kayak gitu?! Harusnya gue tonjokin tuh orang!” kata Linzie emosi.
            “Dia bakal menyesal,” kata Jeremy dengan suara rendah.
            Tidak ada yang bicara lagi setelah itu. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keisha diam-diam melirik Jeremy, yakin cowoknya itu mengetahui sesuatu. Bahkan Keisha curiga kalau Samuel juga tau. Tapi pasti ada alasan kenapa mereka diam. Dan Rafhael, cowok itu betul-betul pengecut. Keisha tidak ragu akan hal itu. Keisha kembali mengalihkan pandangan ke arah danau.
                                                                        ***
            Rafhael tengah duduk melamun di teras belakang rumahnya. Ia menatap ikan-ikan yang berenang hilir mudik di kolam. Sudah satu jam ia duduk di sana tanpa melakukan apapun. Hanya berpikir. Tanpa tau apa yang sebenarnya ingin ia pikirkan.
            Chika. Rafhael sudah sangat sering menyakiti cewek itu. Entah dengan sikap kasarnya atau dengan kata-katanya. Namun tatapan Chika saat itu sama sekali tak bisa Rafhael lupakan. Mata itu tampak terluka dan sakit hati. Rafhael sampai tak bisa tidur berhari-hari karena merasa gelisah. Bukankah ia sudah memutuskan tidak akan terlibat dengan cewek itu? Ia sudah berjanji akan menjauhinya kan?
            Kemudian Karen muncul. Rafhael sudah tak pernah mengingatnya lagi sampai hari ia muncul kembali. Kenapa sekarang dia baru kembali? Di saat dirinya sudah tak mengingatnya lagi. Sumpah, Rafhael sudah tak pernah memikirkan Karen lagi sejak... ya, sejak ia bertemu Chika yang selalu membuatnya kehilangan kesabaran. Sehingga Rafhael tidak punya waktu untuk memikirkan Karen lagi karena terlalu sibuk menangani ulah Chika.
            Sial, kenapa mereka seolah-olah satu paket? Karen dan Chika. Sama-sama periang, apa adanya dan sama-sama membuat Rafhael pusing. Karen lebih tua 3 tahun darinya. Memiliki jiwa sosial yang tinggi dan lebih mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri. Tapi ia tegas dan tak pernah ragu. Ia tegar dan selalu menyemangati Rafhael. Hingga lama-lama Rafhael jatuh cinta padanya.
            Namun ketika Rafhael mengatakan kalau ia menyayangi Karen lebih dari seorang teman, Karen tampak tidak enak hati. Ia cuma tersenyum, dan keesokan harinya ia terbang ke Jepang. Rafhael harusnya membenci Karen karena hal itu. Ia mencoba membenci Karen. Namun tetap saja ia tak bisa sepenuhnya membenci Karen. Karen terlalu berarti baginya. Berkat cewek itulah ia bisa berubah.
            Rafhael mendesah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa dia harus meminta jawaban lagi dari Karen? Tapi perasaannya pada Karen tidaklah sekuat dulu. Waktu dan sakit hati telah mengikis rasa cintanya sedikit demi sedikit. Sekarang ia tak merasakan apapun jika Karen menyentuh tangannya atau tersenyum padanya. Malahan muncul sosok lain yang tak ingin Rafhael ingat. Orang yang memiliki senyum riang yang sama, keceriaan yang sama, dan juga tulus. Namun orang itu bukan Karen.
            “Raf, lo ngapain di sini?? Pembantu lo bilang lo lagi bengong di belakang, ehh, taunya beneran!” suara Karen yang cempreng membangunkan Rafhael dari lamunannya. “Eh, tadi gue iseng ke rumah Jeremy, tapi kata pembantunya dia lagi piknik sama pacar dan teman-temannya. Lo kok nggak ikutan? Gue nggak tau dia udah punya pacar. Jangan-jangan Samuel juga ya?” celoteh Karen sambil melihat-lihat ikan di kolam yang gede-gede.
            “Lo kenapa kemari?” tanya Rafhael.
            “Kan tadi gue bilang, gue iseng aja mampir. Mumpung gue masih di Indonesia,” kata Karen.
            “Lo... nggak ada niat tinggal di Indonesia lagi?” tanya Rafhael tanpa sadar. Tapi ia memang sudah tidak bisa memikirkan pertanyaan lain lagi.
            “Sepertinya nggak. Gue suka tinggal di Jepang. Di sana gue menemukan banyak hal. Gue juga menemukan cinta gue di sana,” kata Karen.
            Meskipun mendengar Karen menyebutkan kata ‘cinta’, anehnya Rafhael tidak merasakan apapun. Hanya cubitan kecil di dadanya yang dengan mudah dia abaikan.
            “Apa lo bahagia di sana?” tanya Rafhael. Ia menatap Karen tepat di matanya.
            Karen tersenyum lembut. “Ya, gue bahagia,” katanya.
            Rafhael mengangguk-angguk. Seolah sudah menduga hal itu. Lalu ia kembali memperhatikan ikan-ikan koi di dalam kolam.
            Karen duduk di sebelah Rafhael. Ia meraih dan menggenggam tangan Rafhael, meremasnya pelan. “Raf, gue udah lama mau minta maaf sama elo,” kata Karen.
            “Minta maaf buat apa?” tanya Rafhael tanpa menatap Karen.
            Karen menghela napas berat. “Gue minta maaf karena gue pergi begitu aja. Gue menyakiti elo padahal lo nggak pantas mendapatkannya. Gue sayang sama elo, tapi gue nggak bisa membalas perasaan lo beberapa tahun yang lalu,” kata Karen. “Gue merasa bukan gue yang akan membuat lo bahagia. Jadi gue pergi tanpa bilang apa-apa. Gue berharap lo menemukan orang yang lebih baik dari gue,” lanjut Karen dan meremas tangan Rafhael, berharap Rafhael dapat mengerti.
            Sejenak Rafhael terdiam. “Gue nggak tau. Cuma satu hal yang bisa gue katakan. Gue nggak pernah marah sama elo, karena gue udah tau gimana perasaan lo sama gue,” kata Rafhael.
            Karen tersenyum. “Lo tau, lo berubah. Lo jadi lebih dewasa. Apa lo udah menemukan orang yang benar-benar lo sayangi?”
            Rafhael tertawa miris. “Gue rasa gue udah menyakiti banyak orang,” kata Rafhael getir. “Bahkan mungkin tindakan gue udah nggak termaafkan,” tambahnya.
            “Memangnya apa yang lo lakuin?!” tanya Karen tak suka.
           Rafhael tak menjawab, hanya mendengus. Namun Karen memaksa dan mau tak mau Rafhael pun buka mulut. Sungguh aneh, betapa sulitnya Rafhael menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Chika. Bahkan Rafhael sendiri tidak bisa melupakan kejadian itu. Ia takkan heran jika Chika sudah membencinya saat ini.
            “Yah, mungkin itu masih bisa diperbaiki,” gumam Karen.
            “Hah?” tanya Rafhael.
            Karen tersenyum. “Bukan apa-apa. Kalau gue boleh tau, Chika itu orangnya seperti apa sih?”
            “Sebagian besar sifatnya mirip sama lo. Tapi dia itu gampang bikin emosi. Lemot, bloon, dan nyusahin!” sahut Rafhael tanpa ragu menyebutkan kejelekan-kejelekan Chika.
            Karen meringis. “Itu kan nggak relevan, gue kan nanya cirri-cirinya, Raf,” kata Karen.
            Rafhael angkat bahu. “Dia unik,” cuma itu yang bisa dikatakannya.
            Karen memutar bola mata. “Sungguh sangat deskriptif,” sindirnya. Kemudian Karen bangun dari duduknya. “Gue mau pulang dulu. Lo pikirin deh, apa sebenarnya yang lo inginkan. Gue yakin lo bisa memutuskannya sendiri,” kata Karen dan beranjak pergi.
            Karen baru hendak membuka pintu penghubung teras dan rumah ketika Rafhael memanggilnya. Ia menoleh dari balik bahunya. Dilihatnya Rafhael menatapnya dengan sungguh-sungguh.
            “Lo tau, gue sangat-sangat sayang sama elo. Meski nggak seperti sayang gue yang dulu,” kata Rafhael.
            Karen tersenyum. “Gue tau. Gue juga sayang sama lo. Sahabat kecil gue tersayang,” kata Karen dan beranjak pergi.
            “Sahabat kecil ya...” gumam Rafhael sambil bersandar di kursi santainya. Ia menatap langit yang biru dari celah-celah pepohonan. Ia sama sekali belum tau mau melakukan apa…
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar