Cinta itu bukanlah kata yang sederhana. Ia penuh
makna dan selalu dikenang sepanjang masa, dalam setiap generasi dan semua
bangsa. Cinta bukanlah hal yang harus dihindari. Meski rasa sakitnya menghujam
di dada. Dan pedihnya tak hilang ditelan masa…
Chika
tau itu semua lebih dari orang lain. Ia tau bahwa rasa sakit di hatinya takkan
sembuh dalam waktu semalam. Rafhael secara tersirat sudah menunjukkan kalau ia
tak punya kesempatan, bahkan sebelum mencoba. Betapa pedihnya hati Chika. Meski
begitu, ia tidak mau bercerita pada teman-temannya. Chika tidak mau Rafhael
disalahkan dan Jeremy mengamuk lagi. Chika tak mau Rafhael disakiti.
Chika tau betapa bodoh dirinya. Masih
saja memikirkan orang yang sudah menyakitinya. Tapi Chika memang belum bisa
melupakan perasaannya pada Rafhael. Bisa melihat dari jauh saja sudah lebih
dari cukup. Ia tidak mau yang lainnya lagi. Bahkan kalaupun tindakannya itu
hanya akan menorehkan lebih banyak tikaman rasa sakit di dadanya.
Teman-temannya
begitu baik dan perhatian. Bahkan Jeremy yang paling cuek sekalipun kini
perhatian padanya. Mereka berusaha membuat pikiran Chika tetap sibuk dengan
mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat. Seperti sekarang ini. Jeremy
mengajak mereka semua piknik ke danau. Chika menyambutnya dengan gembira, meski
ia juga menyadari pandangan khawatir teman-temannya. Tapi Chika sudah bertekad
untuk tidak memperlihatkannya kesedihannya. Ia tidak mau jadi cengeng
terus-terusan. Jadi ia akan bersenang-senang.
Ketika
tiba akhirnya ia meminta jalan-jalan sendirian di pinggir danau, teman-temannya
membiarkannya. Chika berjalan di sekeliling danau. Memperhatikan setiap langkah
kakinya. Kemudian ia meniti dermaga kecil yang ada di dekatnya. Ia duduk di
ujungnya sembari menurunkan kakinya. Dan menatap lurus ke depan, ke kejauhan.
Rambut panjangnya dimainkan angin lembut. Ia memejamkan matanya dan menikmati
ketenangan yang ada. Seandainya ia bisa setenang angin itu. Chika berbaring,
menaungi matanya dengan tangan agar tidak silau. Tiba-tiba saja air matanya
bergulir. Ia memejamkan matanya dan menghela napas sesak.
Dikejauhan,
Linzie, Keisha, Jeremy dan Samuel memperhatikan Chika.
“Yakin
mau ngebiarin dia sendirian?” tanya Samuel, tidak ditujukan pada siapapun
secara khusus.
“Gue
rasa untuk sementara dibiarin aja,” sahut Keisha. “Gue yakin yang dia butuhkan
adalah waktu untuk berpikir.”
“Cowok
brengsek! Apa yang dia lakuin ke Chika sampai Chika kayak gitu?! Harusnya gue
tonjokin tuh orang!” kata Linzie emosi.
“Dia
bakal menyesal,” kata Jeremy dengan suara rendah.
Tidak
ada yang bicara lagi setelah itu. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Keisha diam-diam melirik Jeremy, yakin cowoknya itu mengetahui sesuatu. Bahkan
Keisha curiga kalau Samuel juga tau. Tapi pasti ada alasan kenapa mereka diam.
Dan Rafhael, cowok itu betul-betul pengecut. Keisha tidak ragu akan hal itu.
Keisha kembali mengalihkan pandangan ke arah danau.
***
Rafhael
tengah duduk melamun di teras belakang rumahnya. Ia menatap ikan-ikan yang
berenang hilir mudik di kolam. Sudah satu jam ia duduk di sana tanpa melakukan
apapun. Hanya berpikir. Tanpa tau apa yang sebenarnya ingin ia pikirkan.
Chika.
Rafhael sudah sangat sering menyakiti cewek itu. Entah dengan sikap kasarnya
atau dengan kata-katanya. Namun tatapan Chika saat itu sama sekali tak bisa
Rafhael lupakan. Mata itu tampak terluka dan sakit hati. Rafhael sampai tak
bisa tidur berhari-hari karena merasa gelisah. Bukankah ia sudah memutuskan
tidak akan terlibat dengan cewek itu? Ia sudah berjanji akan menjauhinya kan?
Kemudian
Karen muncul. Rafhael sudah tak pernah mengingatnya lagi sampai hari ia muncul
kembali. Kenapa sekarang dia baru kembali? Di saat dirinya sudah tak
mengingatnya lagi. Sumpah, Rafhael sudah tak pernah memikirkan Karen lagi
sejak... ya, sejak ia bertemu Chika yang selalu membuatnya kehilangan
kesabaran. Sehingga Rafhael tidak punya waktu untuk memikirkan Karen lagi karena
terlalu sibuk menangani ulah Chika.
Sial,
kenapa mereka seolah-olah satu paket? Karen dan Chika. Sama-sama periang, apa
adanya dan sama-sama membuat Rafhael pusing. Karen lebih tua 3 tahun darinya.
Memiliki jiwa sosial yang tinggi dan lebih mementingkan orang lain ketimbang
diri sendiri. Tapi ia tegas dan tak pernah ragu. Ia tegar dan selalu
menyemangati Rafhael. Hingga lama-lama Rafhael jatuh cinta padanya.
Namun ketika Rafhael mengatakan kalau
ia menyayangi Karen lebih dari seorang teman, Karen tampak tidak enak hati. Ia
cuma tersenyum, dan keesokan harinya ia terbang ke Jepang. Rafhael harusnya
membenci Karen karena hal itu. Ia mencoba membenci Karen. Namun tetap saja ia
tak bisa sepenuhnya membenci Karen. Karen terlalu berarti baginya. Berkat cewek
itulah ia bisa berubah.
Rafhael
mendesah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa dia harus meminta jawaban
lagi dari Karen? Tapi perasaannya pada Karen tidaklah sekuat dulu. Waktu dan
sakit hati telah mengikis rasa cintanya sedikit demi sedikit. Sekarang ia tak
merasakan apapun jika Karen menyentuh tangannya atau tersenyum padanya. Malahan
muncul sosok lain yang tak ingin Rafhael ingat. Orang yang memiliki senyum
riang yang sama, keceriaan yang sama, dan juga tulus. Namun orang itu bukan
Karen.
“Raf,
lo ngapain di sini?? Pembantu lo bilang lo lagi bengong di belakang, ehh,
taunya beneran!” suara Karen yang cempreng membangunkan Rafhael dari
lamunannya. “Eh, tadi gue iseng ke rumah Jeremy, tapi kata pembantunya dia lagi
piknik sama pacar dan teman-temannya. Lo kok nggak ikutan? Gue nggak tau dia
udah punya pacar. Jangan-jangan Samuel juga ya?” celoteh Karen sambil
melihat-lihat ikan di kolam yang gede-gede.
“Lo
kenapa kemari?” tanya Rafhael.
“Kan
tadi gue bilang, gue iseng aja mampir. Mumpung gue masih di Indonesia,” kata
Karen.
“Lo...
nggak ada niat tinggal di Indonesia lagi?” tanya Rafhael tanpa sadar. Tapi ia
memang sudah tidak bisa memikirkan pertanyaan lain lagi.
“Sepertinya
nggak. Gue suka tinggal di Jepang. Di sana gue menemukan banyak hal. Gue juga
menemukan cinta gue di sana,” kata Karen.
Meskipun
mendengar Karen menyebutkan kata ‘cinta’, anehnya Rafhael tidak merasakan
apapun. Hanya cubitan kecil di dadanya yang dengan mudah dia abaikan.
“Apa
lo bahagia di sana?” tanya Rafhael. Ia menatap Karen tepat di matanya.
Karen
tersenyum lembut. “Ya, gue bahagia,” katanya.
Rafhael
mengangguk-angguk. Seolah sudah menduga hal itu. Lalu ia kembali memperhatikan
ikan-ikan koi di dalam kolam.
Karen
duduk di sebelah Rafhael. Ia meraih dan menggenggam tangan Rafhael, meremasnya
pelan. “Raf, gue udah lama mau minta maaf sama elo,” kata Karen.
“Minta
maaf buat apa?” tanya Rafhael tanpa menatap Karen.
Karen
menghela napas berat. “Gue minta maaf karena gue pergi begitu aja. Gue menyakiti
elo padahal lo nggak pantas mendapatkannya. Gue sayang sama elo, tapi gue nggak
bisa membalas perasaan lo beberapa tahun yang lalu,” kata Karen. “Gue merasa
bukan gue yang akan membuat lo bahagia. Jadi gue pergi tanpa bilang apa-apa.
Gue berharap lo menemukan orang yang lebih baik dari gue,” lanjut Karen dan
meremas tangan Rafhael, berharap Rafhael dapat mengerti.
Sejenak
Rafhael terdiam. “Gue nggak tau. Cuma satu hal yang bisa gue katakan. Gue nggak
pernah marah sama elo, karena gue udah tau gimana perasaan lo sama gue,” kata
Rafhael.
Karen
tersenyum. “Lo tau, lo berubah. Lo jadi lebih dewasa. Apa lo udah menemukan
orang yang benar-benar lo sayangi?”
Rafhael
tertawa miris. “Gue rasa gue udah menyakiti banyak orang,” kata Rafhael getir.
“Bahkan mungkin tindakan gue udah nggak termaafkan,” tambahnya.
“Memangnya
apa yang lo lakuin?!” tanya Karen tak suka.
Rafhael
tak menjawab, hanya mendengus. Namun Karen memaksa dan mau tak mau Rafhael pun
buka mulut. Sungguh aneh, betapa sulitnya Rafhael menceritakan pertemuan
terakhirnya dengan Chika. Bahkan Rafhael sendiri tidak bisa melupakan kejadian
itu. Ia takkan heran jika Chika sudah membencinya saat ini.
“Yah,
mungkin itu masih bisa diperbaiki,” gumam Karen.
“Hah?”
tanya Rafhael.
Karen
tersenyum. “Bukan apa-apa. Kalau gue boleh tau, Chika itu orangnya seperti apa
sih?”
“Sebagian
besar sifatnya mirip sama lo. Tapi dia itu gampang bikin emosi. Lemot, bloon,
dan nyusahin!” sahut Rafhael tanpa ragu menyebutkan kejelekan-kejelekan Chika.
Karen
meringis. “Itu kan nggak relevan, gue kan nanya cirri-cirinya, Raf,” kata
Karen.
Rafhael
angkat bahu. “Dia unik,” cuma itu yang bisa dikatakannya.
Karen
memutar bola mata. “Sungguh sangat deskriptif,” sindirnya. Kemudian Karen
bangun dari duduknya. “Gue mau pulang dulu. Lo pikirin deh, apa sebenarnya yang
lo inginkan. Gue yakin lo bisa memutuskannya sendiri,” kata Karen dan beranjak
pergi.
Karen
baru hendak membuka pintu penghubung teras dan rumah ketika Rafhael
memanggilnya. Ia menoleh dari balik bahunya. Dilihatnya Rafhael menatapnya
dengan sungguh-sungguh.
“Lo
tau, gue sangat-sangat sayang sama elo. Meski nggak seperti sayang gue yang
dulu,” kata Rafhael.
Karen
tersenyum. “Gue tau. Gue juga sayang sama lo. Sahabat kecil gue tersayang,” kata
Karen dan beranjak pergi.
“Sahabat
kecil ya...” gumam Rafhael sambil bersandar di kursi santainya. Ia menatap
langit yang biru dari celah-celah pepohonan. Ia sama sekali belum tau mau
melakukan apa…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar