Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #7


Tanpa diduga-duga, Keisha bisa bersikap lebih baik pada Jeremy. Meski masih sering kesal dengan omongan Jeremy yang blak-blakan, tapi Keisha sudah mulai terbiasa. Penggalangan dana itu telah membuat Keisha dan Jeremy sedikit lebih akrab. Hanya saja, tanpa ada yang menyadarinya, di pihak lain Renaldi merasa dikalahkan oleh Jeremy. Renaldi merasa dirinya jauh lebih berhak bersama Keisha ketimbang Jeremy yang baru muncul tak sampai sebulan lalu itu. Diam-diam Renaldi berusaha membuat hubungan Keisha dan Jeremy renggang. Renaldi dengan sikap polos dan jujurnya itu bersikap seolah-olah khawatir pada Keisha karena kedekatannya dengan Jeremy.
            “Gue udah dengar gosip soal dia. Katanya dia suka mainin perasaan cewek ya?” kata Renaldi suatu siang ketika ia dan Keisha baru saja selesai rapat. Tentunya setelah beberapa saat berbasa-basi.
            “Gue udah tau hal itu. Malah dia sendiri yang ngaku kalau dia nggak pernah nembak, cewek-cewek itu yang salah paham,” kata Keisha menanggapi.
            “Lo percaya?” tanya Renaldi tak percaya.
            “Yah, gue percaya nggak percaya sih! Tapi menurut Samuel dan Rafhael, Jeremy memang begitu orangnya. Udah nggak bisa diperbaiki lagi,” sahut Keisha sambil geleng-geleng kepala.
            Merasa gagal dengan usaha pendekatannya pada Keisha, Renaldi beralih ke rencana lainnya. Yaitu mengirim surat kaleng kepada Jeremy. Memang sih terkesan pengecut dan kuno, tapi Renaldi tak peduli. Ia akan melakukan apapun asal bisa menjauhkan Jeremy dari Keisha.
            Awalnya Renaldi sempat takut ketahuan, bagaimanapun ia tak mau berhadapan langsung dengan Jeremy. Ia lebih memilih konfrontasi tak langsung. Setelah surat kedua dan ketiga, Renaldi mulai berani melanjutkan surat-surat ancamannya. Karena tampaknya Jeremy tak mencurigainya sama skali. Memang siapa yang akan percaya Renaldi akan mengirim surat kaleng? Dengan wajah bak malaikat dan sikap sopan, takkan ada yang percaya ia mampu melakukan perbuatan rendahan seperti itu. Sebagian orang mungkin akan berpihak padanya.
Tapi sayang, Renaldi terlalu meremehkan Jeremy.
                                                                        ***
            Jeremy memain-mainkan selembar kertas di tangannya. Kertas yang berisi kata-kata murahan yang mungkin akan berhasil jika dikirimkan pada orang paling pengecut di dunia, tapi yang jelas bukan Jeremy. Cowok itu malah merasa terhibur menerima surat-surat kaleng itu tiap hari. Bukannya tak bisa menebak siapa pelakunya. Ia bahkan tau pasti siapa pelakunya. Karena hanya satu orang yang memperlihatkan rasa permusuhan yang tak kentara padanya. Namun Jeremy tak punya bukti. Ia tak mau tuduhannya malah berbalik menyerangnya.
            “Lo pegang apa sih?” tanya Rafhael ingin tau.
            Jeremy mengangsurkan kertas itu pada Rafhael untuk dibaca.
            “Anjing! Pengecut mana yang ngirim surat nggak mutu begini?!” umpat Rafhael begitu selesai membaca surat yang diangsurkan oleh Jeremy barusan. “Lo kok diam aja sih?” tuntutnya.
            Jeremy angkat bahu. “Biar aja dia bersenang-senang. Toh, cuma surat kaleng kan?” kata Jeremy santai.
            “Lo tau siapa bedebah ini?” tanya Rafhael curiga. Kecurigaannya bertambah ketika melihat senyum tipis Jeremy dan ketika cowok itu menolak menjawab. “Lo mesti hati-hati, Jer! Ini baru ancaman awalnya. Lo nggak tau apa aja yang bisa diperbuat orang ini!” kata Rafhael.
            “Selain bersembunyi?”tanya Jeremy, mengundang dengusan dari Rafhael. “Lo tenang deh. Gue tau apa yang gue lakukan. Dan ini cuma akal-akalan kecil yang diharap bisa membuat gue mundur,” kata Jeremy.
            “Mundur dari apa?” tanya Rafhael, kembali menekuni tulisan-tulisan yang diambil dari berbagai majalah dan koran itu.
            “Dari Keisha,” kata Jeremy tenang. Lalu ia menatap Rafhael, menunggu reaksi sahabatnya itu.
            Rafhael yang awalnya takut salah dengar, mendongak menatap Jeremy. Dari tatapannya ia seolah bertanya apa Jeremy bisa mengulangi ucapannya, karena sepertinya ia salah dengar. Namun Jeremy hanya menggeleng dan menyeringai.
            Rafhel langsung bersungut-sungut. “Sialan, gue pikir lo masih waras! Ternyata lo sama gilanya dengan Sammy!!”
            “Ohh, lebih gila mana? Gue yang suka tantangan atau elo yang ketularan mengganti-ganti nama panggilan orang?” goda Jeremy. Ia tau dari mana kebiasaan baru Rafhael itu datang. Dari Si Kecil Lemot yang belakangan suka sekali mengikuti Rafhael.
            Rafhael langsung menggerutu. Menyebut Jeremy gila atau kurang waras karena bisa-bisanya tertarik pada nenek sihir macam Keisha. “Lo serius sama tuh cewek? Selama ini lo nggak pernah serius kan? Atau dia salah satu dari tikus percobaan lo?” tanya Rafhael.
            Jeremy terdiam sjenak. Kemudian mengakui. “Yah, awalnya gue memang penasaran sama dia. Dia nganggap gue saingan. Pada sekali waktu dia membenci gue, pada waktu lain dia no coment sama gue. Entah sejak kapan gue malah selalu bertanya-tanya apa yang dia pikirkan tentang gue,” kata Jeremy.
            “Apa lo mau bilang kalau lo lagi jatuh cinta?”
            Jeremy menyeringai. “Gue nggak akan menyimpulkan secepat itu. Tapi ya, gue memang menyukai dia,” katanya.
            “God bless me!” erang Rafhael frustasi. Membuat Jeremy terkekeh.
            Di lain pihak, Keisha tak mengetahui apa yang Renaldi rencanakan. Ia tetap bersikap baik pada cowok itu, namun tak sekalipun menunjukkan ketertarikan seperti yang Renaldi tunjukan. Pikiran Keisha telah dipenuhi oleh sepasang mata hitam kelam yang menyihirnya dengan janji-janji terlarang.
            Renaldi yang mengetahui kalau rencananya pada Jeremy juga gagal, merasa makin geram dan marah. Hal itu mendorongnya untuk bertindak lebih nekat.
            Suatu siang, sepulang sekolah, Renaldi memperhatikan Jeremy dan kawan-kawannya sedang menuju parkiran yang ada di samping sekolah. Ia harus menunggu satu jam sampai cowok itu muncul. Entah apa yang dilakukan cowok itu sehingga ia lama sekali pulangnya. Begitu melihat Jeremy berpisah dengan kedua temannya dan menuju motornya, Renaldi bersiap-siap menghubungi orang-orang bayarannya. Sehingga begitu Jeremy meninggalkan area sekolah, cowok itu langsung di hadang oleh beberapa preman berbadan besar yang siap menghajarnya.
            Renaldi membuat kejadian itu seperti perampokan. Dari jauh ia memperhatikan ketika Jeremy dicegat. Kemudian cowok itu turun dengan tenang dari motornya. Orang-orang bayarannya mulai menyerang Jeremy secara bersamaan. Membuat Renaldi tersenyum puas. Akan tetapi, senyumannya sirna ketika melihat Jeremy melakukan tindakan perlawanan. Bahkan sanggup menumbangkan orang-orangnya.
            Renaldi geram bukan main. Jeremy tampak sanggup menghadapi ketiga preman-preman itu. Bahkan sedikit sekali pukulan yang diterima cowok itu. Kemudian salah satu orang suruhan Renaldi mulai mengeluarkan pisau dan berhasil melukai tangan Jeremy. Renaldi tersenyum puas. Meski Jeremy berhasil memukul preman itu dan menjatuhkan pisaunya.
            Kemudian Keisha muncul dan menjerit. Preman-preman itu pun kabur. Renaldi melihat Keisha mendekati Jeremy dan memeriksa luka cowok itu.
            “Sialan!” desisnya. Ia terpaksa pergi jika tak mau ketahuan, tapi setidaknya ia berhasil melukai Jeremy. Sehingga mungkin saja cowok itu akan memikirkan kembali surat-suratnya dengan lebih serius.
                                                                        ***
            Keisha baru saja hendak menuju halte bus ketika melihat Jeremy diserang oleh tiga orang preman berbadan besar. Salah satunya berhasil melukai Jeremy. Namun Jeremy pun berhasil membuat preman-preman itu babak belur dan kabur ketika Keisha mulai berteriak memanggil nama Jeremy. Keisha langsung berlari menghampiri cowok itu. Lengannya berdarah. Keisha terkesiap melihat betapa benyaknya darah yang keluar.
            “Astaga, lo nggak apa kan? Lukanya parah nggak? Lo harus di obatin!” kata Keisha panik.
            “Cuma luka kecil. Nggak kena tempat yang vital kok,” kata Jeremy.
            “Pokoknya lo harus ke dokter! Untuk sementara kita bisa ke UKS sekolah, biar gue bersihin luka lo, abis itu kita ke rumah sakit!” kata Keisha tegas.
            “Ya ampun, Kei… gue baik-baik aja! Ini cuma luka kecil,” kata Jeremy, namun membiarkan Keisha menuntunnya kembali ke sekolah.
            Sesampainya di UKS, Keisha langsung melakukan pertolongan pertama. Ia membersihkan luka Jeremy, memberikan obat, lalu membalutnya dengan perban bersih.
            “Sementara ini cukup, tapi lukanya cukup dalam dan harus dijahit!” kata Keisha. “Gue harap lo mendengarkan kata-kata gue buat pergi ke dokter, atau perlu gue yang nyeret elo ke rumah sakit?” kata Keisha lagi.
            “Iya, gue bakal ke dokter. Lagian bokap juga dokter,” gerutu Jeremy.
            Keisha mengernyit. “Apa lukanya sakit banget?” tanya Keisha.
            Jeremy melihat kekhawatiran di mata Keisha. Mau tak mau hatinya terasa sedikit hangat. Ia pun tersenyum. “Iya, sakit banget. Rasanya kayak mau mati,” kata Jeremy seraya menunjukkan tatapan menderita.
            Keisha melengos. “Kalau lo udah mulai ngaco, artinya lukanya nggak seberapa.” Kemudian ia kembali menatap Jeremy. “Tapi siapa orang-orang tadi? Kenapa mereka menyerang lo?”
            Jeremy tak langsung menjawab pertanyaan itu. Sepertinya ia tau siapa dalang dari penyerangan itu. Namun Keisha sudah pasti takkan percaya padanya, jadi ia urung mengatakannya dan hanya angkat bahu.
            “Mungkin ada baiknya dilaporin ke polisi,” gumam Keisha tanpa sadar.
            “Lo khawatir banget sama gue?” tanya Jeremy.
            Keisha menatap mata Jeremy sebelum menjawab. “Sedikit,” katanya.
            “Mungkin gue bakal sembuh kalau lo cium gue,” usul Jeremy yang langsung disambut oleh jitakan keras dari Keisha. “Aduh, gue nih lagi sakit lho,” kata Jeremy.
            “Bodo! Buruan ke rumah sakit sana! Awas kalau nggak!” ancam Keisha.
            “Gue antar lo pulang dulu,” kata Jeremy tersenyum.
            Keisha menggeleng. “Gue bisa naik taksi. Lo nggak mungkin bisa naik motor dengan keadaan tangan lo yang seperti itu, apalagi boncengin gue. Mungkin ada baiknya gue telepon Sam atau Rafhael supaya jemput elo,” kata Keisha sembari mengeluarkan ponselnya.
            Jeremy langsung merebut ponsel itu dari tangan Keisha. “Gue nggak mau mereka kalap kalau tau gue diserang. Sekarang kita pulang. Gue bakal nemenin elo sampai dapat taksi. Setelah itu baru gue pulang,” kata Jeremy sambil menggiring Keisha keluar dari UKS.
            “Lo harus ke rumah sakit!” tekan Keisha lagi.
            “Iya, itu kali kesekian lo ngomong begitu,” kata Jeremy. Lalu untuk menenangkan Keisha ia menambahkan. “Gue bakal ke rumah sakit. Janji.” kata Jeremy seraya menyelipkan ponsel Keisha ke dalam tas cewek itu.
            Keisha menghela napas lega dan membiarkan Jeremy menggiringnya ke jalan hingga menemukan taksi. Keisha masih sedikit khawatir ketika akan meninggalkan Jeremy. Jeremy merasa senang dengan perhatian itu. Mungkin Keisha tidak sadar, tapi gadis itu mulai lebih jujur pada perasaannya sendiri. Itu suatu kemajuan untuk Jeremy.
           Ketika taksi yang Keisha tumpangi sudah tak tampak lgi, Jeremy berjalan ke tempat motornya masih terparkir. Ia akan ke rumah sakit, tapi setelah ia menyelesaikan urusannya dengan seseorang.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar