Tanpa diduga-duga, Keisha bisa bersikap lebih baik
pada Jeremy. Meski masih sering kesal dengan omongan Jeremy yang blak-blakan,
tapi Keisha sudah mulai terbiasa. Penggalangan dana itu telah membuat Keisha
dan Jeremy sedikit lebih akrab. Hanya saja, tanpa ada yang menyadarinya, di
pihak lain Renaldi merasa dikalahkan oleh Jeremy. Renaldi merasa dirinya jauh
lebih berhak bersama Keisha ketimbang Jeremy yang baru muncul tak sampai
sebulan lalu itu. Diam-diam Renaldi berusaha membuat hubungan Keisha dan Jeremy
renggang. Renaldi dengan sikap polos dan jujurnya itu bersikap seolah-olah
khawatir pada Keisha karena kedekatannya dengan Jeremy.
“Gue
udah dengar gosip soal dia. Katanya dia suka mainin perasaan cewek ya?” kata
Renaldi suatu siang ketika ia dan Keisha baru saja selesai rapat. Tentunya
setelah beberapa saat berbasa-basi.
“Gue
udah tau hal itu. Malah dia sendiri yang ngaku kalau dia nggak pernah nembak,
cewek-cewek itu yang salah paham,” kata Keisha menanggapi.
“Lo
percaya?” tanya Renaldi tak percaya.
“Yah,
gue percaya nggak percaya sih! Tapi menurut Samuel dan Rafhael, Jeremy memang
begitu orangnya. Udah nggak bisa diperbaiki lagi,” sahut Keisha sambil
geleng-geleng kepala.
Merasa
gagal dengan usaha pendekatannya pada Keisha, Renaldi beralih ke rencana
lainnya. Yaitu mengirim surat kaleng kepada Jeremy. Memang sih terkesan
pengecut dan kuno, tapi Renaldi tak peduli. Ia akan melakukan apapun asal bisa
menjauhkan Jeremy dari Keisha.
Awalnya
Renaldi sempat takut ketahuan, bagaimanapun ia tak mau berhadapan langsung
dengan Jeremy. Ia lebih memilih konfrontasi tak langsung. Setelah surat kedua
dan ketiga, Renaldi mulai berani melanjutkan surat-surat ancamannya. Karena
tampaknya Jeremy tak mencurigainya sama skali. Memang siapa yang akan percaya
Renaldi akan mengirim surat kaleng? Dengan wajah bak malaikat dan sikap sopan,
takkan ada yang percaya ia mampu melakukan perbuatan rendahan seperti itu.
Sebagian orang mungkin akan berpihak padanya.
Tapi sayang, Renaldi terlalu meremehkan Jeremy.
***
Jeremy
memain-mainkan selembar kertas di tangannya. Kertas yang berisi kata-kata
murahan yang mungkin akan berhasil jika dikirimkan pada orang paling pengecut
di dunia, tapi yang jelas bukan Jeremy. Cowok itu malah merasa terhibur
menerima surat-surat kaleng itu tiap hari. Bukannya tak bisa menebak siapa
pelakunya. Ia bahkan tau pasti siapa pelakunya. Karena hanya satu orang yang
memperlihatkan rasa permusuhan yang tak kentara padanya. Namun Jeremy tak punya
bukti. Ia tak mau tuduhannya malah berbalik menyerangnya.
“Lo
pegang apa sih?” tanya Rafhael ingin tau.
Jeremy
mengangsurkan kertas itu pada Rafhael untuk dibaca.
“Anjing!
Pengecut mana yang ngirim surat nggak mutu begini?!” umpat Rafhael begitu
selesai membaca surat yang diangsurkan oleh Jeremy barusan. “Lo kok diam aja
sih?” tuntutnya.
Jeremy
angkat bahu. “Biar aja dia bersenang-senang. Toh, cuma surat kaleng kan?” kata
Jeremy santai.
“Lo
tau siapa bedebah ini?” tanya Rafhael curiga. Kecurigaannya bertambah ketika
melihat senyum tipis Jeremy dan ketika cowok itu menolak menjawab. “Lo mesti
hati-hati, Jer! Ini baru ancaman awalnya. Lo nggak tau apa aja yang bisa
diperbuat orang ini!” kata Rafhael.
“Selain
bersembunyi?”tanya Jeremy, mengundang dengusan dari Rafhael. “Lo tenang deh.
Gue tau apa yang gue lakukan. Dan ini cuma akal-akalan kecil yang diharap bisa
membuat gue mundur,” kata Jeremy.
“Mundur
dari apa?” tanya Rafhael, kembali menekuni tulisan-tulisan yang diambil dari
berbagai majalah dan koran itu.
“Dari
Keisha,” kata Jeremy tenang. Lalu ia menatap Rafhael, menunggu reaksi sahabatnya
itu.
Rafhael
yang awalnya takut salah dengar, mendongak menatap Jeremy. Dari tatapannya ia
seolah bertanya apa Jeremy bisa mengulangi ucapannya, karena sepertinya ia
salah dengar. Namun Jeremy hanya menggeleng dan menyeringai.
Rafhel
langsung bersungut-sungut. “Sialan, gue pikir lo masih waras! Ternyata lo sama
gilanya dengan Sammy!!”
“Ohh,
lebih gila mana? Gue yang suka tantangan atau elo yang ketularan
mengganti-ganti nama panggilan orang?” goda Jeremy. Ia tau dari mana kebiasaan
baru Rafhael itu datang. Dari Si Kecil Lemot yang belakangan suka sekali
mengikuti Rafhael.
Rafhael
langsung menggerutu. Menyebut Jeremy gila atau kurang waras karena bisa-bisanya
tertarik pada nenek sihir macam Keisha. “Lo serius sama tuh cewek? Selama ini
lo nggak pernah serius kan? Atau dia salah satu dari tikus percobaan lo?” tanya
Rafhael.
Jeremy
terdiam sjenak. Kemudian mengakui. “Yah, awalnya gue memang penasaran sama dia.
Dia nganggap gue saingan. Pada sekali waktu dia membenci gue, pada waktu lain
dia no coment sama gue. Entah sejak kapan gue malah selalu bertanya-tanya apa
yang dia pikirkan tentang gue,” kata Jeremy.
“Apa
lo mau bilang kalau lo lagi jatuh cinta?”
Jeremy
menyeringai. “Gue nggak akan menyimpulkan secepat itu. Tapi ya, gue memang
menyukai dia,” katanya.
“God bless me!” erang Rafhael frustasi.
Membuat Jeremy terkekeh.
Di
lain pihak, Keisha tak mengetahui apa yang Renaldi rencanakan. Ia tetap
bersikap baik pada cowok itu, namun tak sekalipun menunjukkan ketertarikan
seperti yang Renaldi tunjukan. Pikiran Keisha telah dipenuhi oleh sepasang mata
hitam kelam yang menyihirnya dengan janji-janji terlarang.
Renaldi
yang mengetahui kalau rencananya pada Jeremy juga gagal, merasa makin geram dan
marah. Hal itu mendorongnya untuk bertindak lebih nekat.
Suatu
siang, sepulang sekolah, Renaldi memperhatikan Jeremy dan kawan-kawannya sedang
menuju parkiran yang ada di samping sekolah. Ia harus menunggu satu jam sampai
cowok itu muncul. Entah apa yang dilakukan cowok itu sehingga ia lama sekali
pulangnya. Begitu melihat Jeremy berpisah dengan kedua temannya dan menuju
motornya, Renaldi bersiap-siap menghubungi orang-orang bayarannya. Sehingga
begitu Jeremy meninggalkan area sekolah, cowok itu langsung di hadang oleh
beberapa preman berbadan besar yang siap menghajarnya.
Renaldi
membuat kejadian itu seperti perampokan. Dari jauh ia memperhatikan ketika
Jeremy dicegat. Kemudian cowok itu turun dengan tenang dari motornya.
Orang-orang bayarannya mulai menyerang Jeremy secara bersamaan. Membuat Renaldi
tersenyum puas. Akan tetapi, senyumannya sirna ketika melihat Jeremy melakukan
tindakan perlawanan. Bahkan sanggup menumbangkan orang-orangnya.
Renaldi
geram bukan main. Jeremy tampak sanggup menghadapi ketiga preman-preman itu.
Bahkan sedikit sekali pukulan yang diterima cowok itu. Kemudian salah satu
orang suruhan Renaldi mulai mengeluarkan pisau dan berhasil melukai tangan
Jeremy. Renaldi tersenyum puas. Meski Jeremy berhasil memukul preman itu dan
menjatuhkan pisaunya.
Kemudian
Keisha muncul dan menjerit. Preman-preman itu pun kabur. Renaldi melihat Keisha
mendekati Jeremy dan memeriksa luka cowok itu.
“Sialan!”
desisnya. Ia terpaksa pergi jika tak mau ketahuan, tapi setidaknya ia berhasil
melukai Jeremy. Sehingga mungkin saja cowok itu akan memikirkan kembali
surat-suratnya dengan lebih serius.
***
Keisha
baru saja hendak menuju halte bus ketika melihat Jeremy diserang oleh tiga
orang preman berbadan besar. Salah satunya berhasil melukai Jeremy. Namun
Jeremy pun berhasil membuat preman-preman itu babak belur dan kabur ketika
Keisha mulai berteriak memanggil nama Jeremy. Keisha langsung berlari
menghampiri cowok itu. Lengannya berdarah. Keisha terkesiap melihat betapa
benyaknya darah yang keluar.
“Astaga,
lo nggak apa kan? Lukanya parah nggak? Lo harus di obatin!” kata Keisha panik.
“Cuma
luka kecil. Nggak kena tempat yang vital kok,” kata Jeremy.
“Pokoknya
lo harus ke dokter! Untuk sementara kita bisa ke UKS sekolah, biar gue bersihin
luka lo, abis itu kita ke rumah sakit!” kata Keisha tegas.
“Ya
ampun, Kei… gue baik-baik aja! Ini cuma luka kecil,” kata Jeremy, namun
membiarkan Keisha menuntunnya kembali ke sekolah.
Sesampainya
di UKS, Keisha langsung melakukan pertolongan pertama. Ia membersihkan luka
Jeremy, memberikan obat, lalu membalutnya dengan perban bersih.
“Sementara
ini cukup, tapi lukanya cukup dalam dan harus dijahit!” kata Keisha. “Gue harap
lo mendengarkan kata-kata gue buat pergi ke dokter, atau perlu gue yang nyeret
elo ke rumah sakit?” kata Keisha lagi.
“Iya,
gue bakal ke dokter. Lagian bokap juga dokter,” gerutu Jeremy.
Keisha
mengernyit. “Apa lukanya sakit banget?” tanya Keisha.
Jeremy
melihat kekhawatiran di mata Keisha. Mau tak mau hatinya terasa sedikit hangat.
Ia pun tersenyum. “Iya, sakit banget. Rasanya kayak mau mati,” kata Jeremy
seraya menunjukkan tatapan menderita.
Keisha
melengos. “Kalau lo udah mulai ngaco, artinya lukanya nggak seberapa.” Kemudian
ia kembali menatap Jeremy. “Tapi siapa orang-orang tadi? Kenapa mereka
menyerang lo?”
Jeremy
tak langsung menjawab pertanyaan itu. Sepertinya ia tau siapa dalang dari
penyerangan itu. Namun Keisha sudah pasti takkan percaya padanya, jadi ia urung
mengatakannya dan hanya angkat bahu.
“Mungkin
ada baiknya dilaporin ke polisi,” gumam Keisha tanpa sadar.
“Lo
khawatir banget sama gue?” tanya Jeremy.
Keisha
menatap mata Jeremy sebelum menjawab. “Sedikit,” katanya.
“Mungkin
gue bakal sembuh kalau lo cium gue,” usul Jeremy yang langsung disambut oleh
jitakan keras dari Keisha. “Aduh, gue nih lagi sakit lho,” kata Jeremy.
“Bodo!
Buruan ke rumah sakit sana! Awas kalau nggak!” ancam Keisha.
“Gue
antar lo pulang dulu,” kata Jeremy tersenyum.
Keisha
menggeleng. “Gue bisa naik taksi. Lo nggak mungkin bisa naik motor dengan
keadaan tangan lo yang seperti itu, apalagi boncengin gue. Mungkin ada baiknya
gue telepon Sam atau Rafhael supaya jemput elo,” kata Keisha sembari mengeluarkan
ponselnya.
Jeremy
langsung merebut ponsel itu dari tangan Keisha. “Gue nggak mau mereka kalap
kalau tau gue diserang. Sekarang kita pulang. Gue bakal nemenin elo sampai
dapat taksi. Setelah itu baru gue pulang,” kata Jeremy sambil menggiring Keisha
keluar dari UKS.
“Lo
harus ke rumah sakit!” tekan Keisha lagi.
“Iya,
itu kali kesekian lo ngomong begitu,” kata Jeremy. Lalu untuk menenangkan
Keisha ia menambahkan. “Gue bakal ke rumah sakit. Janji.” kata Jeremy seraya
menyelipkan ponsel Keisha ke dalam tas cewek itu.
Keisha
menghela napas lega dan membiarkan Jeremy menggiringnya ke jalan hingga
menemukan taksi. Keisha masih sedikit khawatir ketika akan meninggalkan Jeremy.
Jeremy merasa senang dengan perhatian itu. Mungkin Keisha tidak sadar, tapi
gadis itu mulai lebih jujur pada perasaannya sendiri. Itu suatu kemajuan untuk
Jeremy.
Ketika
taksi yang Keisha tumpangi sudah tak tampak lgi, Jeremy berjalan ke tempat
motornya masih terparkir. Ia akan ke rumah sakit, tapi setelah ia menyelesaikan
urusannya dengan seseorang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar