Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #1


            Lagi-lagi orang itu di sini. Di tempat yang sama, sebuah meja di pojok perpustakaan yang tersembunyi karena tertutupi rak buku. Menelungkup di atas kedua tangannya dengan rambut yang terjatuh hingga menutupi sebagian wajahnya.
            Keisha tak sengaja “menemukan” cowok itu di tempat itu seminggu yang lalu, ketika sedang mencari buku. Sejak itu, cowok itu terus menempati meja yang sama. Yah, Keisha tak tau pasti sih, karena tidak setiap hari dia ke perpustakaan. Keisha tak pernah membangunkan cowok itu Karena tanpa dibangunkan pun cowok itu akan bangun sendiri kan? Keisha berjalan tanpa mengeluarkan banyak suara dan menuju rak di belakang cowok itu. Kemudian mengembalikan buku yang ia pinjam ke tempatnya semula. Keisha sedang membaca beberapa sinopsis novel yang ia temukan di rak sebelahnya ketika mendengar suara kursi berderit. Spontan, Keisha mengangkat wajahnya dan mendapati sepasang mata sekelam malam tengah memandanginya.
            Bukannya kabur atau gemetar seperti yang mungkin dilakukan cewek-cewek lain, Keisha membalas sejenak tatapan Jeremy lalu kembali pada apa yang sedang ia lakukan sebelumnya. Keisha meletakkan novel yang ada di tangannya dan mulai menelusuri buku-buku yang lain, seolah-olah tak ada hal yang terjadi. Dia nggak salah kan? Lagipula perpustakaan itu tempat umum. Maka ia cuek saja.
            Jeremy tidak sepenuhnya tidur ketika mendengar suara ketukan pelan sepatu pada lantai. Ia sudah cukup mengenal ketukan ringan dan berirama itu. Ia membiarkan dirinya tetap dalam posisi setengah menelungkup. Kemudian membuka matanya perlahan. Dia ada di sana. Membelakanginya dan sedang meletakkan buku pada rak buku. Kemudian jari-jari lentik itu mulai menelusuri sampul-sampul buku dan mulai memindai, seperti yang selalu dilakukan cewek itu setiap datang ke perpustakaan. Jeremy tau pasti karena sudah beberapa kali ia melihat cewek itu, meski belum pernah terang-terangan membuka mata. Namun kali ini ia ingin melihat lebih jelas cewek itu.
            Tampaknya cewek itu merasakan tatapannya dan ia mendongak. Sepasang mata indah tengah menatap balik padanya. Jeremy tak sekalipun mengalihkan tatapannya. Cewek itu tidak tampak kaget sedikit pun, justru kembali melanjutkan rutinitasnya. Kemudian, tanpa menoleh ke arahnya, cewek itu pergi.
            Jeremy meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku, kemudian bangkit dari duduknya. Ia sengaja berlama-lama sejenak, setelah itu barulah ia meninggalkan perpustakaan. Cewek itu sudah pergi.
            Jeremy melangkah santai menuju kelasnya. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia membalas beberapa sapaan dengan senyum separuhnya yang menawan. Ketika sampai di kelas, ia langsung disambut oleh cengiran lebar Samuel, cowok itu tak pernah bisa berhenti menyeringai seperti orang bodoh sejak jadian dengan Linzie. Kemudian tatapan Jeremy beralih pada Rafhael yang tampak bete, berlawanan dengan Samuel yang berkerlip-kelip penuh cinta.
            “Dari mana sih lo?” todong Rafhael bahkan sebelum Jeremy sempat duduk.
            “Tidur siang,” sahut Jeremy acuh.
            “Lagi?” tanya Rafhael heran. “Sekarang di mana pangkalan tidur lo? Setelah lo diusir sama guru UKS,” tanya Rafhael.
            Jeremy terkekeh pelan, teringat ketika Bu Lena mengusirnya dari UKS karena terlalu sering tidur siang di sana. Tapi ia tidak menjawab pertanyaan Rafhael. Justru ia balik bertanya.
            “Kenapa tampang lo kusut amat?” tanyanya.
            “Lo nanya kenapa?? Seandainya lo jadi gue, terus berada dalam radius 5 meter dari nih bocah, lo bakal ngerti perasaan gue!” sinis Rafhael.
            Jeremy menaikkan sebelah alis kirinya, lebih karena kebiasaan, tapi kebiasaan itu tampaknya sering menimbulkan kebencian pada teman-temannya.
            Tiba-tiba Samuel berdiri, wajahnya lebih berbinar dan senyumnya makin lebar ketika ia bergegas keluar kelas. Ketika Jeremy mengikuti dengan matanya, rupanya Linzie baru saja lewat. Dan seperti seekor anak anjing, Samuel langsung mengekor.
            “Gue pikir nggak separah itu,” kata Jeremy.
            “Nggak parah??? Lo bilang tingkah orang kasmarannya itu nggak parah?? Berarti lo lebih sarap dari yang gue kira!” Rafhael lantas mendengus.
            “Bilang aja lo iri,” kata Jeremy santai.
            “Heh, gue iri?? Sorry ya, gue nggak minat sama sekali!” ketus Rafhael.
            Jeremy angkat bahu cuek. Ia tak mau berdebat dengan Rafhael yang sedang sensi-sensinya belakangan ini. Entah apa yang membuat cowok itu sensi, selain tingkah Samuel pastinya. Sementara Rafhael masih bersungut-sungut mengenai kewarasannya yang bentar lagi bakal ikut terancam, Jeremy kembali memflashback pertemuannya tadi di perpustakaan. Hmm...
                                                          ***
            “Dari perpustakaan lagi ya, Kei??” tanya Chika begitu Keisha bergabung dengannya di kantin.
            “Iya, gue minjam buku baru lagi,” kata Keisha.
            “Uhm, enak ya jadi elo... Udah cantik, dewasa, pintar lagi! Chika jadi iri deh. Ditambah lagi, sekarang Zizi di monopoli sama Sammy terus,” Chika cemberut.
            “Kenapa memang dengan mereka? Baru jadian kan?” kata Keisha
            “Chika merasa kesepian aja... Abis sekarang Zizi udah punya pacar, sementara Chika belum punya!”
            “Chi, gue kan juga nggak punya pacar,” kata Keisha tenang.
            “Tapi pasti lo gampang deh dapat pacar! Lo tinggal tunjuk aja, banyak kan yang mengejar-ngejar elo,” kata Chika.
            Keisha menggeleng-geleng heran. Chika belum tau saja, ia takkan asal main tunjuk. Jika memang sudah saatnya nanti, Keisha yakin ia akan tau. Tapi sekarang Keisha belum memikirkan hal itu. Ia tidak mau ketenangannya dirusak cuma karena masalah pacar. Tak punya pun tak masalah, pikirnya cuek. Ia tidak tertarik pada siapapun. Bahkan dengan cowok bermata sekelam malam itu. Tidak, terutama dengan cowok itu.
            Keisha sudah memutuskan sejak pertama kali melihat cowok itu, bahwa ia takkan terlibat urusan apapun dengan cowok itu. Cowok itu berbahaya. Pembawaannya sudah menunjukkan kalau cowok itu bisa sangat mengintimidasi. Untung Keisha memiliki tinggi di atas rata-rata, dengan tinggi 170cm, Keisha mungkin hanya mencapai sebatas hidung cowok itu, sehingga ia tak pernah merasa terintimidasi. Tinggi mereka nyaris setara.
            Keisha mengalihkan perhatiannya dari ingatan akan mata yang memandangnya tadi itu. Ia mengingatkan dirinya bahwa ia pergi ke sekolah bukan untuk hal-hal seperti itu. Itu masih bisa menunggu setelah ia menjadi sukses. Akan tetapi, bayangan mata itu memandangnya membuatnya bergidik.
            “Kenapa, Kei?” tanya Chika.
            Keisha tersenyum seraya menggeleng. Cukup, Keisha! Buang pikiran nggak logis itu jauh-jauh! Ia memarahi dirinya sendiri.
            “Kalau udah selesai makan, ke kelas yuk!” ajak Keisha.
            “Ehh, iya, iya! Ayo,” sahut Chika sambil menghabiskan minumannya.
            Kemudian mereka sudah berjalan bersisian menuju kelas mereka. Keisha berjalan ringan sembari mendengarkan cerita Chika mengenai pengalamannya main basket, yang diajari oleh Rafhael. Chika meringis ketika menceritakan alasan Rafhael mau mengajarinya. Katanya permainan basket Chika sangat payah! Lebih payah dari anak umur lima tahun! Kemudian ceritanya beralih lagi ke cerita mengenai bagaimana ia berhasil membuat kepala Rafhael benjol karena terkena bola. Meski sedikit heran karena topik yang Chika bahas kebanyakan berhubungan dengan Rafhael, Keisha tetap mendengarkan denagn tenang. Sesekali mengangguk dan menanggapinya.
            Ketika mereka hampir mencapai tangga, mereka berpapasan dengan Jeremy yang hendak turun. Mereka sama-sama berhenti di dekat anak tangga paling bawah, karena Jeremy jelas tidak bisa langsung lewat begitu saja sementara jalannya tertutupi oleh Keisha dan Chika. Keisha secara otomatis mundur dan bergeser sehingga ada ruang kosong yang bisa Jeremy lewati. Tatapan mereka terkunci satu sama lain.
            Jeremy dengan langkah pelannya mulai melewati Keisha. Keisha pun tetap tenang. Tak ada yang perlu ditakuti mengenai Jeremy, selain matanya yang penuh teka-teki. Kemudian Jeremy melewatinya dan kontak mata mereka berakhir. Keisha bahkan belum melangkah ketika ia merasakan sebuah sapuan lembut di ujung rambutnya. Tak ada angin. Keisha pun setengah berbalik untuk melihat apa yang mungkin menyentuh rambutnya, hanya untuk mendapati senyum misterius dari Jeremy sebelum cowok itu menghilang di balik tikungan. Lagi-lagi Keisha bergidik. Ia merasa tergelitik oleh sesuatu yang tak ia mengerti. Tanpa sadar ia menyentuh rambutnya.
            “Kei, ayo! Kok bengong sih!” panggil Chika dari anak tangga teratas.
            “Nggak apa-apa,” sahut Keisha. Menatap tempat menghilangnya Jeremy untuk terakhir kalinya sebelum menyusul Chika.
            Langkah kaki itu makin lama makin samar dan akhirnya menghilang. Jeremy masih bersandar santai di dinding ketika itu. Ia mengangkat tangannya dan senyum tipis bermain-main di sudut bibirnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar