Lagi-lagi
orang itu di sini. Di tempat yang sama, sebuah meja di pojok perpustakaan yang
tersembunyi karena tertutupi rak buku. Menelungkup di atas kedua tangannya
dengan rambut yang terjatuh hingga menutupi sebagian wajahnya.
Keisha
tak sengaja “menemukan” cowok itu di tempat itu seminggu yang lalu, ketika
sedang mencari buku. Sejak itu, cowok itu terus menempati meja yang sama. Yah,
Keisha tak tau pasti sih, karena tidak setiap hari dia ke perpustakaan. Keisha
tak pernah membangunkan cowok itu Karena tanpa dibangunkan pun cowok itu akan
bangun sendiri kan? Keisha berjalan tanpa mengeluarkan banyak suara dan menuju
rak di belakang cowok itu. Kemudian mengembalikan buku yang ia pinjam ke
tempatnya semula. Keisha sedang membaca beberapa sinopsis novel yang ia temukan
di rak sebelahnya ketika mendengar suara kursi berderit. Spontan, Keisha
mengangkat wajahnya dan mendapati sepasang mata sekelam malam tengah
memandanginya.
Bukannya kabur atau gemetar seperti
yang mungkin dilakukan cewek-cewek lain, Keisha membalas sejenak tatapan Jeremy
lalu kembali pada apa yang sedang ia lakukan sebelumnya. Keisha meletakkan
novel yang ada di tangannya dan mulai menelusuri buku-buku yang lain,
seolah-olah tak ada hal yang terjadi. Dia nggak salah kan? Lagipula
perpustakaan itu tempat umum. Maka ia cuek saja.
Jeremy
tidak sepenuhnya tidur ketika mendengar suara ketukan pelan sepatu pada lantai.
Ia sudah cukup mengenal ketukan ringan dan berirama itu. Ia membiarkan dirinya
tetap dalam posisi setengah menelungkup. Kemudian membuka matanya perlahan. Dia
ada di sana. Membelakanginya dan sedang meletakkan buku pada rak buku. Kemudian
jari-jari lentik itu mulai menelusuri sampul-sampul buku dan mulai memindai,
seperti yang selalu dilakukan cewek itu setiap datang ke perpustakaan. Jeremy
tau pasti karena sudah beberapa kali ia melihat cewek itu, meski belum pernah
terang-terangan membuka mata. Namun kali ini ia ingin melihat lebih jelas cewek
itu.
Tampaknya
cewek itu merasakan tatapannya dan ia mendongak. Sepasang mata indah tengah
menatap balik padanya. Jeremy tak sekalipun mengalihkan tatapannya. Cewek itu
tidak tampak kaget sedikit pun, justru kembali melanjutkan rutinitasnya.
Kemudian, tanpa menoleh ke arahnya, cewek itu pergi.
Jeremy
meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku, kemudian bangkit dari duduknya. Ia
sengaja berlama-lama sejenak, setelah itu barulah ia meninggalkan perpustakaan.
Cewek itu sudah pergi.
Jeremy
melangkah santai menuju kelasnya. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia
membalas beberapa sapaan dengan senyum separuhnya yang menawan. Ketika sampai
di kelas, ia langsung disambut oleh cengiran lebar Samuel, cowok itu tak pernah
bisa berhenti menyeringai seperti orang bodoh sejak jadian dengan Linzie.
Kemudian tatapan Jeremy beralih pada Rafhael yang tampak bete, berlawanan
dengan Samuel yang berkerlip-kelip penuh cinta.
“Dari
mana sih lo?” todong Rafhael bahkan sebelum Jeremy sempat duduk.
“Tidur
siang,” sahut Jeremy acuh.
“Lagi?”
tanya Rafhael heran. “Sekarang di mana pangkalan tidur lo? Setelah lo diusir
sama guru UKS,” tanya Rafhael.
Jeremy
terkekeh pelan, teringat ketika Bu Lena mengusirnya dari UKS karena terlalu
sering tidur siang di sana. Tapi ia tidak menjawab pertanyaan Rafhael. Justru
ia balik bertanya.
“Kenapa
tampang lo kusut amat?” tanyanya.
“Lo
nanya kenapa?? Seandainya lo jadi gue, terus berada dalam radius 5 meter dari
nih bocah, lo bakal ngerti perasaan gue!” sinis Rafhael.
Jeremy
menaikkan sebelah alis kirinya, lebih karena kebiasaan, tapi kebiasaan itu
tampaknya sering menimbulkan kebencian pada teman-temannya.
Tiba-tiba
Samuel berdiri, wajahnya lebih berbinar dan senyumnya makin lebar ketika ia
bergegas keluar kelas. Ketika Jeremy mengikuti dengan matanya, rupanya Linzie
baru saja lewat. Dan seperti seekor anak anjing, Samuel langsung mengekor.
“Gue
pikir nggak separah itu,” kata Jeremy.
“Nggak
parah??? Lo bilang tingkah orang kasmarannya itu nggak parah?? Berarti lo lebih
sarap dari yang gue kira!” Rafhael lantas mendengus.
“Bilang
aja lo iri,” kata Jeremy santai.
“Heh,
gue iri?? Sorry ya, gue nggak minat sama sekali!” ketus Rafhael.
Jeremy
angkat bahu cuek. Ia tak mau berdebat dengan Rafhael yang sedang sensi-sensinya
belakangan ini. Entah apa yang membuat cowok itu sensi, selain tingkah Samuel
pastinya. Sementara Rafhael masih bersungut-sungut mengenai kewarasannya yang
bentar lagi bakal ikut terancam, Jeremy kembali memflashback pertemuannya tadi
di perpustakaan. Hmm...
***
“Dari
perpustakaan lagi ya, Kei??” tanya Chika begitu Keisha bergabung dengannya di
kantin.
“Iya,
gue minjam buku baru lagi,” kata Keisha.
“Uhm,
enak ya jadi elo... Udah cantik, dewasa, pintar lagi! Chika jadi iri deh.
Ditambah lagi, sekarang Zizi di monopoli sama Sammy terus,” Chika cemberut.
“Kenapa
memang dengan mereka? Baru jadian kan?” kata Keisha
“Chika
merasa kesepian aja... Abis sekarang Zizi udah punya pacar, sementara Chika
belum punya!”
“Chi,
gue kan juga nggak punya pacar,” kata Keisha tenang.
“Tapi
pasti lo gampang deh dapat pacar! Lo tinggal tunjuk aja, banyak kan yang
mengejar-ngejar elo,” kata Chika.
Keisha
menggeleng-geleng heran. Chika belum tau saja, ia takkan asal main tunjuk. Jika
memang sudah saatnya nanti, Keisha yakin ia akan tau. Tapi sekarang Keisha
belum memikirkan hal itu. Ia tidak mau ketenangannya dirusak cuma karena
masalah pacar. Tak punya pun tak masalah, pikirnya cuek. Ia tidak tertarik pada
siapapun. Bahkan dengan cowok bermata sekelam malam itu. Tidak, terutama dengan
cowok itu.
Keisha
sudah memutuskan sejak pertama kali melihat cowok itu, bahwa ia takkan terlibat
urusan apapun dengan cowok itu. Cowok itu berbahaya. Pembawaannya sudah
menunjukkan kalau cowok itu bisa sangat mengintimidasi. Untung Keisha memiliki
tinggi di atas rata-rata, dengan tinggi 170cm, Keisha mungkin hanya mencapai
sebatas hidung cowok itu, sehingga ia tak pernah merasa terintimidasi. Tinggi
mereka nyaris setara.
Keisha
mengalihkan perhatiannya dari ingatan akan mata yang memandangnya tadi itu. Ia
mengingatkan dirinya bahwa ia pergi ke sekolah bukan untuk hal-hal seperti itu.
Itu masih bisa menunggu setelah ia menjadi sukses. Akan tetapi, bayangan mata
itu memandangnya membuatnya bergidik.
“Kenapa,
Kei?” tanya Chika.
Keisha
tersenyum seraya menggeleng. Cukup, Keisha! Buang pikiran nggak logis itu
jauh-jauh! Ia memarahi dirinya sendiri.
“Kalau
udah selesai makan, ke kelas yuk!” ajak Keisha.
“Ehh,
iya, iya! Ayo,” sahut Chika sambil menghabiskan minumannya.
Kemudian
mereka sudah berjalan bersisian menuju kelas mereka. Keisha berjalan ringan
sembari mendengarkan cerita Chika mengenai pengalamannya main basket, yang
diajari oleh Rafhael. Chika meringis ketika menceritakan alasan Rafhael mau
mengajarinya. Katanya permainan basket Chika sangat payah! Lebih payah dari
anak umur lima tahun! Kemudian ceritanya beralih lagi ke cerita mengenai
bagaimana ia berhasil membuat kepala Rafhael benjol karena terkena bola. Meski
sedikit heran karena topik yang Chika bahas kebanyakan berhubungan dengan
Rafhael, Keisha tetap mendengarkan denagn tenang. Sesekali mengangguk dan
menanggapinya.
Ketika
mereka hampir mencapai tangga, mereka berpapasan dengan Jeremy yang hendak
turun. Mereka sama-sama berhenti di dekat anak tangga paling bawah, karena
Jeremy jelas tidak bisa langsung lewat begitu saja sementara jalannya tertutupi
oleh Keisha dan Chika. Keisha secara otomatis mundur dan bergeser sehingga ada
ruang kosong yang bisa Jeremy lewati. Tatapan mereka terkunci satu sama lain.
Jeremy
dengan langkah pelannya mulai melewati Keisha. Keisha pun tetap tenang. Tak ada
yang perlu ditakuti mengenai Jeremy, selain matanya yang penuh teka-teki.
Kemudian Jeremy melewatinya dan kontak mata mereka berakhir. Keisha bahkan
belum melangkah ketika ia merasakan sebuah sapuan lembut di ujung rambutnya.
Tak ada angin. Keisha pun setengah berbalik untuk melihat apa yang mungkin
menyentuh rambutnya, hanya untuk mendapati senyum misterius dari Jeremy sebelum
cowok itu menghilang di balik tikungan. Lagi-lagi Keisha bergidik. Ia merasa
tergelitik oleh sesuatu yang tak ia mengerti. Tanpa sadar ia menyentuh
rambutnya.
“Kei,
ayo! Kok bengong sih!” panggil Chika dari anak tangga teratas.
“Nggak
apa-apa,” sahut Keisha. Menatap tempat menghilangnya Jeremy untuk terakhir
kalinya sebelum menyusul Chika.
Langkah
kaki itu makin lama makin samar dan akhirnya menghilang. Jeremy masih bersandar
santai di dinding ketika itu. Ia mengangkat tangannya dan senyum tipis bermain-main
di sudut bibirnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar