Begitu bel berbunyi siang itu, semua pintu kelas
menjeblak terbuka. Rombongan anak-anak yang begitu riuh membicarakan apa yang
akan mereka lakukan begitu pulang sekolah segera memenuhi koridor. Lautan
murid-murid yang sudah tidak sabar ingin pulang ke pelukan guling tercinta,
merayap di koridor dan menyebar ke segala penjuru sambil berceloteh ria.
Begitu
juga dengan Chika. Ia ingin cepat-cepat pulang supaya bisa istirahat. Ia merasa
kurang enak badan, ditambah bersin-bersin setiap beberapa menit sekali,
membuatnya tidak nyaman. Ia menyalahkan dirinya karena bisa-bisanya ketiduran
di balkon kamarnya tadi malam. Kalau tidak dibangunkan Mama, mungkin bisa
sampai pagi dia tidur di sana. Dan bukannya sekolah, malah terbaring di tempat
tidur karena masuk angin!
Karena
itulah dia bergegas. Ia nggak mau ada yang menghalangi jalannya untuk pulang
dan tidur! Karena sudah kebiasaan Chika jika kena flu, mulutnya bakal meracau
nggak jelas. Alias lebih bawel dari biasanya!
Chika
baru saja menuju halte di dekat sekolahnya ketika sebuah mobil Jazz berhenti di
sampingnya. Chika pun seketika berhenti ketika mendengar namanya dipanggil.
“Elo
Chika ya??” tanya seorang cewek cantik dari dalam mobil.
Chika
harus menunduk agar bisa melihat siapa yang bicara dengannya. “I... iya
sih,”kata Chika. “Ada perlu apa ya sama gue?” tanya Chika.
Cewek
itu tersenyum. “Gue mau bicara sama lo. Jalan sama gue yuk! Ehh, gue bukan
orang jahat!” kata Cewek itu cepat-cepat ketika Chika bergerak mundur. Cewek
itu keluar dari mobilnya dan memutari kap depan mobil untuk sampai di samping
Chika. “Gue orang baik-baik kok. Lo bisa percaya sama gue. Gue nih temannya
Jeremy. Makanya lo ikut gue yuk!” kata cewek itu.
“Eng…
tapi gue harus pulang. Gue lagi nggak enak badan,” kata Chika.
“Duh,
dia nongol,” gerutu cewek itu tanpa memperhatikan penolakan Chika dan langsung
menarik tangan Chika. Ia membuka pintu dan mendorong Chika masuk. “Sorry ya,
harus kayak penculikan gini!!” kata cewek itu dan berlari ke sisi pengemudi
ketika melihat Rafhael muncul dari gerbang. Cowok itu pasti mengenali mobilnya.
Jadi ia segera masuk ke mobil dan tancap gas!
Kepada
Chika yang tampak kaget, ia meringis seraya minta maaf. “Sorry, lo pasti kaget
ya? Gue terpaksa, kalau nggak gini, tuh anak nggak bakal nyadar,” kata Cewek
itu.
“Siapa
yang lo bicarain?” tanya Chika. “Dan... lo ini siapa?” tanyanya lagi.
Cewek
itu tersenyum sambil melepas kacamata hitamnya. Sembari menyetir, ia
mengulurkan tangan kanannya. Sesekali melihat ke jalan. “Gue Karen,” katanya.
Dan
Chika cuma bisa ternganga.
***
Rafhael
baru saja menuju parkiran dengan kepala berdenyut sakit. Ia tengah berpikir
ketika Samuel menghampirinya dan menepuk bahunya. Rafhael cuma melirik sekilas
dan kembali melanjutkan perjalanannya.
“Lo
baik-baik aja? Karen apa kabar?” tanya Samuel.
“Baik,”
sahut Rafhael singkat.
“Gue
mau sedikit ikut campur, boleh nggak?” tanya Samuel. Ketika Rafhael meliriknya
dengan jengkel, ia angkat bahu dan menambahkan. “Mending gue bilang dari awal
kan?”
“Terserah
lo deh!” sahut Rafahel sambil mendesah frustasi. Tadi jam istirahat, saat ia
sedang menikmati kesendiriannya di kelas, ia dihampiri dua orang malaikat maut.
Yang langsung menodongnya dengan berbagai tuduhan dan menyalahkannya atas semua
hal yang bisa mereka timpakan padanya. Rafhael sendiri bertanya-tanya kapan
giliran Samuel. Ternyata jawabannya sudah di depan mata.
“Lo
sama Chika sebenarnya gimana sih? Gue lihat lo suka marah-marah sama dia, terus
tiba-tiba dekat, terus dalam sekejap menjauh lagi. Mau lo apa sih?” tanya
Samuel terdengar benar-benar bingung. Ia tidak menyalahkan Rafhael, tapi ia
benar-benar penasaran.
“Harusnya
kalian nanya tuh jangan sendiri-sendiri. Kumpul dulu baru temui gue,” gerutu
Rafhael. Tidak Jeremy, Karen, Linzie, bahkan Keisha, sekarang Samuel, semua
memiliki inti pertanyaan yang sama.
“Maksud
lo? Udah ada yang nanya hal itu?” tanya Samuel.
Rafhael
mendengus. “Kalian semua nanya hal yang sama,” gerutunya. “Kenapa sih kalian
nggak ngebiarin gue sendirian biar gue bisa berpikir jernih barang sedetik dua
detik?”
Samuel
menyeringai. “Itu karena kita semua peduli sama lo, Man,” kata Samuel sambil menepuk-nepuk bahu Rafhael.
“Peduli
sama gue atau peduli sama pemikiran pacar kalian?” tanyanya sinis.
“Hey,
jangan sangkut pautin Zizi gue donk,” protes Samuel. “Dia tuh peduli sama
Chika! Sama kayak gue yang peduli sama elo!”
Rafhael
tak menyahut, ia cuma mencibirkan bibirnya. Samuel kembali bertanya bagaimana
perasaan Rafhael pada Chika. Apakah Rafhael cuma mempermainkan Chika? Atau
sebenarnya menyayangi Chika tapi tidak mau mengakuinya?
Rafhael
bahkan tak memerhatikan kata-kata Samuel. Ia punya hal lain yang harus dia
pikirkan selain ceramah ‘niat baik’ teman-temannya.
“Ehh,
yang berdiri di pinggir jalan itu Chika bukan?” kata Samuel tiba-tiba.
Rafhael
langsung melihat ke arah yang ditunjuk Samuel. Ia memicingkan matanya. Kenapa
orang yang berbicara dengan Chika terasa begitu familier ya?
“Ehh,
dia sama siapa tuh? Eh, eh, dipaksa masuk mobil!!” seru Samuel lagi.
Rafhael
langsung mengalihkan tatapannya kepada mobil yang disebutkan Samuel. Jazz hitam
yang tidak asing di matanya.
“Sialan!”
umpat Rafhael dan langsung berlari ke tempat mobil itu terparkir.
Samuel
menyusul sambil bertanya ada apa, tapi Rafhael mengabaikannya.Tepat ketika
Rafhael berpikir bisa mencapai mobil itu, mobil jazz itu langsung melaju pergi.
Rafhael berhenti dan membanting tasnya dengan kesal. Mau apa cewek itu membawa
Chika? Sial, harusnya ia bisa menebak apa yang ada dipikiran Karen saat mereka
bicara tempo hari.
“Siapa
yang ngebawa Chika??” tanya Samuel ngos-ngosan. Ia membungkuk sembari memegangi
perutnya.
“Cewek
tengik!” sahut Rafhael dan langsung bergegas menuju lapangan parkir.
Samuel
yang masih membungkuk, menyeringai. Sayangnya Rafhael terlalu terfokus pada ‘penculikan’
Chika sehingga tidak menyadari seringaian penuh konspirasi dari Samuel.
Sementara
itu di tempat lain, Chika duduk tegang di sebelah Karen. Kedua tangannya di
atas pangkuannya dan ia terus-terusan meremas tangannya karena gelisah. Sejak
berkenalan dengan Karen tadi, Chika terus-terusan merasa tidak nyaman. Ia tidak
tau kenapa Karen mau bicara dengannya? Apakah berhubungan dengan Rafhael?
Apakah Karen tidak suka jika Chika berdekatan dengan Rafhael?
Akan
tetapi, dilihat dari gelagatnya, Karen tidak tampak marah atau menunjukkan aura
permusuhan. Dia malah berusaha agar Chika merasa rileks setelah aksi ‘penculikannya’
tadi.
Ditambah
lagi Karen tampaknya menikmati aksinya. Dia bahkan bernyanyi-nyanyi kecil. Tapi
itu semua tidak bisa mengurangi kegugupan Chika. Dan ia juga mulai
bersin-bersin lagi.
“Gue
nggak menyangka Rafhael bisa dekat sama cewek semanis elo,” kata Karen sambil
tersenyum manis.
Sayangnya
pujian itu sama sekali tidak membuat kegelisahan Chika berkurang. Malah
membuatnya semakin bingung. “Kita mau ke mana?”tanya Chika.
“Oh,
tenang aja. Kita akan jalan-jalan ke tempat yang nggak mungkin dipikirkan
Rafhael,” kata Karen.
“Ke
tempat yang... Kenapa? Lo menghindari Rafha?” tanya Chika bingung.
Karen
tertawa. “Oh, bukan, bukan, gue nggak menghindari dia. Tapi gue mau bikin anak
itu menyadari kebodohannya. Anak itu sekali-sekali perlu dipukul biar dia sadar
apa yang udah dia lewatkan,”kata Karen.
“Sorry,
tapi... gue masih nggak ngerti… Apa hubungannya sama gue?” tanya Chika.
“Tentu
aja ada hubungannya sama elo! Biar dia ngerasa panik sendiri karena nggak bisa
menemukan elo!” kata Karen dan terkekeh geli.
“Tapi...”
Chika menunduk. “gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dia... udah bilang
kalau dia nggak mau dekat sama gue lagi. Gue nggak boleh peduli sama dia lagi…”
“Astaga,
anak itu bilang begitu sama elo??? Kelewatan!! Gue pikir dia udah bisa lebih
baik dari itu!!” seru Karen.
“Lo
salah paham sama gue... Gue sama sekali nggak ada hubungan apapun dengan Rafha.
Dia udah menegaskan hal itu,” kata Chika lemah.
Karen
menggeleng-geleng. Tampak sama sekali tidak setuju dengan hal itu. “Lo yang
salah paham! Gue yakin Rafhael nggak serius dengan ucapannya. Dia cuma lagi
bingung karena kehadiran gue. Dia menganggap dirinya dulu jatuh cinta sama gue.
Tapi dia salah, dan dia tau itu. Makanya dia jadi nggak bisa berpikir jernih
dan malah ngucapin hal-hal yang menyakitkan,” kata Karen yakin. “Gue harap lo
nggak benci sama dia. Gue serius, gue mendukung elo. Rafhael butuh orang
seperti elo untuk mengguncangkan kehidupannya dia yang arogan itu!”
“Tapi
dia suka sama elo...”
“Nggak!
Gue udah bicara sama dia dan kami udah meluruskan hubungan kami. Gue memang
sayang sama dia, tapi cuma sebagai adik, nggak lebih! Yang dia butuhkan adalah
orang yang tulus sayang dan menerima dia apa adanya. Dan orang itu adalah elo!
Percaya sama gue, Chika. Gue tau sifat Rafhael. Dia sebenarnya juga sayang sama
elo, tapi dia mencoba menyangkalnya aja!” kata Karen berapi-api. Tidak heran
jika mobil terasa pengap, tapi alih-alih Chika malah menghembuskan napasnya.
“Gue
nggak tau harus gimana... Dia nggak mau ketemu gue lagi...”
Karen
tersenyum lebar. “Makanya gue nyulik elo kan? Kita buat dia kelimpungan nyari
elo dan sadar betapa besar kesalahan yang dia buat!” kata Karen. “Tapi lo harus
kerja sama dengan gue ya?” tambah Karen sambil mengedipkan sebelah mata. “Kita
buat dia sadar!”
Untuk
pertama kalinya Chika bisa tersenyum hari itu. Dengan malu-malu ia mengangguk
setuju. Kemudian bersin. Karen tertawa dan menyodorkan kotak tissue. Chika
menerimanya dengan wajah memerah tersipu.
Maka
sepanjang hari itu dihabiskan kedua cewek itu dengan jalan-jalan di Mall, makan
siang, kemudian Karen mengajak Chika ke tempat-tempat yang dulu pernah
didatanginya bersama Rafhael. Karen juga menunjukkan sebuah rumah pohon yang
tampak tak layak lagi yang ada di dekat SDnya yang sering dijadikan markas
olehnya. Mereka menghabiskan waktu beberapa saat di sana. Karen mengenang
saat-saat itu sebagai kenangan masa kecil yang manis dan bagaimana pendiamnya
Rafhael waktu itu. Membuat Chika tidak percaya. Karena apa yang diceritakan
Karen sama sekali tidak sesuai dengan Rafhael yang sekarang.
“Makanya
gue bilang dia banyak berubah kan?” kata Karen.
“Tapi
dia tetap Rafha,” Chika menimpali. Yang dibalas dengan senyum lebar oleh Karen.
Karena
Karen sudah menceritakan begitu banyak hal tentang Rafhael, Chika juga ingin
memberikan balasan sebagai kenang-kenangan. Ia memperlihatkan foto yang diam-diam
diambilnya saat ia memergoki Rafhael tertidur di bawah pohon.
Karen
memekik. “Ya ampuuuunnn...!! Lihat betapa imutnya dia!! Siapapun nggak akan
percaya betapa pedas kata-kata yang bisa dikeluarkan anak itu!!”
Chika
tertawa melihat reaksi Karen. Diapun dulu tak kuasa menahan tawa saat mengambil
foto itu.
“Ini
wajib dipublikasikan!!” kata Karen bersemangat.
“Jangaaan!!!”
seru Chika panik. “Dia nggak tau kalau gue punya foto ini!! Bisa-bisa gue
dimakan sama dia kalau sampai foto ini tersebar… Apalagi kalau sampai Sammy
atau Jemy, atau Linzie tau! Gue nggak bisa membayangkan gimana dia bakal jadi
bulan-bulanan mereka!” kata Chika panik
Karen
tersenyum jahil. “Tapi lo tetap nyimpen foto ini meskipun resikonya begitu??” godanya.
Chika
langsung salah tingkah. “Ya... yah... gue pikir kalau cuma gue yang tau sih
nggak apa-apa…” kilahnya.
Karen
cekikikan. “Lo memang manis ya? Rugi besar Rafhael sempat menolak elo,” kata
Karen.
“Karen,” tegur Chika malu.
Karen
tertawa. “Ehh, pulang yuk! Udah sore nih,” kata Karen. Chika mengangguk dan
mereka pun pulang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar