Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #10


Begitu bel berbunyi siang itu, semua pintu kelas menjeblak terbuka. Rombongan anak-anak yang begitu riuh membicarakan apa yang akan mereka lakukan begitu pulang sekolah segera memenuhi koridor. Lautan murid-murid yang sudah tidak sabar ingin pulang ke pelukan guling tercinta, merayap di koridor dan menyebar ke segala penjuru sambil berceloteh ria.
            Begitu juga dengan Chika. Ia ingin cepat-cepat pulang supaya bisa istirahat. Ia merasa kurang enak badan, ditambah bersin-bersin setiap beberapa menit sekali, membuatnya tidak nyaman. Ia menyalahkan dirinya karena bisa-bisanya ketiduran di balkon kamarnya tadi malam. Kalau tidak dibangunkan Mama, mungkin bisa sampai pagi dia tidur di sana. Dan bukannya sekolah, malah terbaring di tempat tidur karena masuk angin!
            Karena itulah dia bergegas. Ia nggak mau ada yang menghalangi jalannya untuk pulang dan tidur! Karena sudah kebiasaan Chika jika kena flu, mulutnya bakal meracau nggak jelas. Alias lebih bawel dari biasanya!
            Chika baru saja menuju halte di dekat sekolahnya ketika sebuah mobil Jazz berhenti di sampingnya. Chika pun seketika berhenti ketika mendengar namanya dipanggil.
            “Elo Chika ya??” tanya seorang cewek cantik dari dalam mobil.
            Chika harus menunduk agar bisa melihat siapa yang bicara dengannya. “I... iya sih,”kata Chika. “Ada perlu apa ya sama gue?” tanya Chika.
            Cewek itu tersenyum. “Gue mau bicara sama lo. Jalan sama gue yuk! Ehh, gue bukan orang jahat!” kata Cewek itu cepat-cepat ketika Chika bergerak mundur. Cewek itu keluar dari mobilnya dan memutari kap depan mobil untuk sampai di samping Chika. “Gue orang baik-baik kok. Lo bisa percaya sama gue. Gue nih temannya Jeremy. Makanya lo ikut gue yuk!” kata cewek itu.
            “Eng… tapi gue harus pulang. Gue lagi nggak enak badan,” kata Chika.
            “Duh, dia nongol,” gerutu cewek itu tanpa memperhatikan penolakan Chika dan langsung menarik tangan Chika. Ia membuka pintu dan mendorong Chika masuk. “Sorry ya, harus kayak penculikan gini!!” kata cewek itu dan berlari ke sisi pengemudi ketika melihat Rafhael muncul dari gerbang. Cowok itu pasti mengenali mobilnya. Jadi ia segera masuk ke mobil dan tancap gas!
            Kepada Chika yang tampak kaget, ia meringis seraya minta maaf. “Sorry, lo pasti kaget ya? Gue terpaksa, kalau nggak gini, tuh anak nggak bakal nyadar,” kata Cewek itu.
            “Siapa yang lo bicarain?” tanya Chika. “Dan... lo ini siapa?” tanyanya lagi.
            Cewek itu tersenyum sambil melepas kacamata hitamnya. Sembari menyetir, ia mengulurkan tangan kanannya. Sesekali melihat ke jalan. “Gue Karen,” katanya.
            Dan Chika cuma bisa ternganga.
                                                                        ***
            Rafhael baru saja menuju parkiran dengan kepala berdenyut sakit. Ia tengah berpikir ketika Samuel menghampirinya dan menepuk bahunya. Rafhael cuma melirik sekilas dan kembali melanjutkan perjalanannya.
            “Lo baik-baik aja? Karen apa kabar?” tanya Samuel.
            “Baik,” sahut Rafhael singkat.
            “Gue mau sedikit ikut campur, boleh nggak?” tanya Samuel. Ketika Rafhael meliriknya dengan jengkel, ia angkat bahu dan menambahkan. “Mending gue bilang dari awal kan?”
            “Terserah lo deh!” sahut Rafahel sambil mendesah frustasi. Tadi jam istirahat, saat ia sedang menikmati kesendiriannya di kelas, ia dihampiri dua orang malaikat maut. Yang langsung menodongnya dengan berbagai tuduhan dan menyalahkannya atas semua hal yang bisa mereka timpakan padanya. Rafhael sendiri bertanya-tanya kapan giliran Samuel. Ternyata jawabannya sudah di depan mata.
            “Lo sama Chika sebenarnya gimana sih? Gue lihat lo suka marah-marah sama dia, terus tiba-tiba dekat, terus dalam sekejap menjauh lagi. Mau lo apa sih?” tanya Samuel terdengar benar-benar bingung. Ia tidak menyalahkan Rafhael, tapi ia benar-benar penasaran.
            “Harusnya kalian nanya tuh jangan sendiri-sendiri. Kumpul dulu baru temui gue,” gerutu Rafhael. Tidak Jeremy, Karen, Linzie, bahkan Keisha, sekarang Samuel, semua memiliki inti pertanyaan yang sama.
            “Maksud lo? Udah ada yang nanya hal itu?” tanya Samuel.
            Rafhael mendengus. “Kalian semua nanya hal yang sama,” gerutunya. “Kenapa sih kalian nggak ngebiarin gue sendirian biar gue bisa berpikir jernih barang sedetik dua detik?”
            Samuel menyeringai. “Itu karena kita semua peduli sama lo, Man,” kata Samuel sambil menepuk-nepuk bahu Rafhael.
            “Peduli sama gue atau peduli sama pemikiran pacar kalian?” tanyanya sinis.
            “Hey, jangan sangkut pautin Zizi gue donk,” protes Samuel. “Dia tuh peduli sama Chika! Sama kayak gue yang peduli sama elo!”
            Rafhael tak menyahut, ia cuma mencibirkan bibirnya. Samuel kembali bertanya bagaimana perasaan Rafhael pada Chika. Apakah Rafhael cuma mempermainkan Chika? Atau sebenarnya menyayangi Chika tapi tidak mau mengakuinya?
            Rafhael bahkan tak memerhatikan kata-kata Samuel. Ia punya hal lain yang harus dia pikirkan selain ceramah ‘niat baik’ teman-temannya.
            “Ehh, yang berdiri di pinggir jalan itu Chika bukan?” kata Samuel tiba-tiba.
            Rafhael langsung melihat ke arah yang ditunjuk Samuel. Ia memicingkan matanya. Kenapa orang yang berbicara dengan Chika terasa begitu familier ya?
            “Ehh, dia sama siapa tuh? Eh, eh, dipaksa masuk mobil!!” seru Samuel lagi.
            Rafhael langsung mengalihkan tatapannya kepada mobil yang disebutkan Samuel. Jazz hitam yang tidak asing di matanya.
            “Sialan!” umpat Rafhael dan langsung berlari ke tempat mobil itu terparkir.
            Samuel menyusul sambil bertanya ada apa, tapi Rafhael mengabaikannya.Tepat ketika Rafhael berpikir bisa mencapai mobil itu, mobil jazz itu langsung melaju pergi. Rafhael berhenti dan membanting tasnya dengan kesal. Mau apa cewek itu membawa Chika? Sial, harusnya ia bisa menebak apa yang ada dipikiran Karen saat mereka bicara tempo hari.
            “Siapa yang ngebawa Chika??” tanya Samuel ngos-ngosan. Ia membungkuk sembari memegangi perutnya.
            “Cewek tengik!” sahut Rafhael dan langsung bergegas menuju lapangan parkir.
            Samuel yang masih membungkuk, menyeringai. Sayangnya Rafhael terlalu terfokus pada ‘penculikan’ Chika sehingga tidak menyadari seringaian penuh konspirasi dari Samuel.
            Sementara itu di tempat lain, Chika duduk tegang di sebelah Karen. Kedua tangannya di atas pangkuannya dan ia terus-terusan meremas tangannya karena gelisah. Sejak berkenalan dengan Karen tadi, Chika terus-terusan merasa tidak nyaman. Ia tidak tau kenapa Karen mau bicara dengannya? Apakah berhubungan dengan Rafhael? Apakah Karen tidak suka jika Chika berdekatan dengan Rafhael?
            Akan tetapi, dilihat dari gelagatnya, Karen tidak tampak marah atau menunjukkan aura permusuhan. Dia malah berusaha agar Chika merasa rileks setelah aksi ‘penculikannya’ tadi.
            Ditambah lagi Karen tampaknya menikmati aksinya. Dia bahkan bernyanyi-nyanyi kecil. Tapi itu semua tidak bisa mengurangi kegugupan Chika. Dan ia juga mulai bersin-bersin lagi.
            “Gue nggak menyangka Rafhael bisa dekat sama cewek semanis elo,” kata Karen sambil tersenyum manis.
            Sayangnya pujian itu sama sekali tidak membuat kegelisahan Chika berkurang. Malah membuatnya semakin bingung. “Kita mau ke mana?”tanya Chika.
            “Oh, tenang aja. Kita akan jalan-jalan ke tempat yang nggak mungkin dipikirkan Rafhael,” kata Karen.
            “Ke tempat yang... Kenapa? Lo menghindari Rafha?” tanya Chika bingung.
            Karen tertawa. “Oh, bukan, bukan, gue nggak menghindari dia. Tapi gue mau bikin anak itu menyadari kebodohannya. Anak itu sekali-sekali perlu dipukul biar dia sadar apa yang udah dia lewatkan,”kata Karen.
            “Sorry, tapi... gue masih nggak ngerti… Apa hubungannya sama gue?” tanya Chika.
            “Tentu aja ada hubungannya sama elo! Biar dia ngerasa panik sendiri karena nggak bisa menemukan elo!” kata Karen dan terkekeh geli.
            “Tapi...” Chika menunduk. “gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dia... udah bilang kalau dia nggak mau dekat sama gue lagi. Gue nggak boleh peduli sama dia lagi…”
            “Astaga, anak itu bilang begitu sama elo??? Kelewatan!! Gue pikir dia udah bisa lebih baik dari itu!!” seru Karen.
            “Lo salah paham sama gue... Gue sama sekali nggak ada hubungan apapun dengan Rafha. Dia udah menegaskan hal itu,” kata Chika lemah.
            Karen menggeleng-geleng. Tampak sama sekali tidak setuju dengan hal itu. “Lo yang salah paham! Gue yakin Rafhael nggak serius dengan ucapannya. Dia cuma lagi bingung karena kehadiran gue. Dia menganggap dirinya dulu jatuh cinta sama gue. Tapi dia salah, dan dia tau itu. Makanya dia jadi nggak bisa berpikir jernih dan malah ngucapin hal-hal yang menyakitkan,” kata Karen yakin. “Gue harap lo nggak benci sama dia. Gue serius, gue mendukung elo. Rafhael butuh orang seperti elo untuk mengguncangkan kehidupannya dia yang arogan itu!”
            “Tapi dia suka sama elo...”
            “Nggak! Gue udah bicara sama dia dan kami udah meluruskan hubungan kami. Gue memang sayang sama dia, tapi cuma sebagai adik, nggak lebih! Yang dia butuhkan adalah orang yang tulus sayang dan menerima dia apa adanya. Dan orang itu adalah elo! Percaya sama gue, Chika. Gue tau sifat Rafhael. Dia sebenarnya juga sayang sama elo, tapi dia mencoba menyangkalnya aja!” kata Karen berapi-api. Tidak heran jika mobil terasa pengap, tapi alih-alih Chika malah menghembuskan napasnya.
            “Gue nggak tau harus gimana... Dia nggak mau ketemu gue lagi...”
            Karen tersenyum lebar. “Makanya gue nyulik elo kan? Kita buat dia kelimpungan nyari elo dan sadar betapa besar kesalahan yang dia buat!” kata Karen. “Tapi lo harus kerja sama dengan gue ya?” tambah Karen sambil mengedipkan sebelah mata. “Kita buat dia sadar!”
            Untuk pertama kalinya Chika bisa tersenyum hari itu. Dengan malu-malu ia mengangguk setuju. Kemudian bersin. Karen tertawa dan menyodorkan kotak tissue. Chika menerimanya dengan wajah memerah tersipu.
            Maka sepanjang hari itu dihabiskan kedua cewek itu dengan jalan-jalan di Mall, makan siang, kemudian Karen mengajak Chika ke tempat-tempat yang dulu pernah didatanginya bersama Rafhael. Karen juga menunjukkan sebuah rumah pohon yang tampak tak layak lagi yang ada di dekat SDnya yang sering dijadikan markas olehnya. Mereka menghabiskan waktu beberapa saat di sana. Karen mengenang saat-saat itu sebagai kenangan masa kecil yang manis dan bagaimana pendiamnya Rafhael waktu itu. Membuat Chika tidak percaya. Karena apa yang diceritakan Karen sama sekali tidak sesuai dengan Rafhael yang sekarang.
            “Makanya gue bilang dia banyak berubah kan?” kata Karen.
            “Tapi dia tetap Rafha,” Chika menimpali. Yang dibalas dengan senyum lebar oleh Karen.
            Karena Karen sudah menceritakan begitu banyak hal tentang Rafhael, Chika juga ingin memberikan balasan sebagai kenang-kenangan. Ia memperlihatkan foto yang diam-diam diambilnya saat ia memergoki Rafhael tertidur di bawah pohon.
            Karen memekik. “Ya ampuuuunnn...!! Lihat betapa imutnya dia!! Siapapun nggak akan percaya betapa pedas kata-kata yang bisa dikeluarkan anak itu!!”
            Chika tertawa melihat reaksi Karen. Diapun dulu tak kuasa menahan tawa saat mengambil foto itu.
            “Ini wajib dipublikasikan!!” kata Karen bersemangat.
            “Jangaaan!!!” seru Chika panik. “Dia nggak tau kalau gue punya foto ini!! Bisa-bisa gue dimakan sama dia kalau sampai foto ini tersebar… Apalagi kalau sampai Sammy atau Jemy, atau Linzie tau! Gue nggak bisa membayangkan gimana dia bakal jadi bulan-bulanan mereka!” kata Chika panik
            Karen tersenyum jahil. “Tapi lo tetap nyimpen foto ini meskipun resikonya begitu??” godanya.
            Chika langsung salah tingkah. “Ya... yah... gue pikir kalau cuma gue yang tau sih nggak apa-apa…” kilahnya.
            Karen cekikikan. “Lo memang manis ya? Rugi besar Rafhael sempat menolak elo,” kata Karen.
            “Karen,”  tegur Chika malu.
            Karen tertawa. “Ehh, pulang yuk! Udah sore nih,” kata Karen. Chika mengangguk dan mereka pun pulang.
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar