Jeremy tengah makan malam bersama kedua orangtuanya
malam itu. Meski orangtuanya sibuk, namun prinsip mereka adalah mengutamakan
keluarga. Hanya saja yang saat itu dibutuhkan Jeremy adalah sendirian. Ia tak
jadi mengkonfrontasi Renaldi secara terbuka, melainkan menunggu saat yang tepat
dan mengumpulkan bukti-bukti lebih dulu. Tapi hal itu sedikit membuatnya
jengkel. Ia sudah salah karena meremehkan Renaldi hanya karena cowok itu bukan
tipe cowok petarung, namun siapa sangka cowok pengecut itu akan mengirimkan
preman untuk menyelesaikan urusannya? Jeremy harus mulai memikirkannya lagi.
Jangan sampai Keisha terlibat. Hmm, sejak kapan ia memikirkan orang lain?
“Jer,
kamu mau makan atau melamun?” tegur Mamanya. Membuyarkan pikiran Jeremy.
“Makan
kok, Ma,” sahut Jeremy. Ia mulai melanjutkan makannya, berniat berpikir sambil
makan. Namun sayang, lagi-lagi lamunannya diinterupsi, kali ini oleh Papanya.
“Tangan
kamu kenapa?” tanya Papa sambil lalu.
Jeremy
melirik perban ditangannya. “Cuma luka kecil. Luka gores kecil,” sahut Jeremy.
Ya,
luka gores kecil yang perlu tiga jahitan. Sialan tuh preman. Namun Jeremy
enggan menjelaskan lebih lanjut. Hanya saja Papanya sudah terlalu mengenalnya
untuk tau apa yang enggan Jeremy katakan, jadi Jeremy tak bisa menyembunyikan
apapun. Cepat atau lambat Papanya pasti akan tau, jadi ia memilih memberitaunya
sendiri saja.
Jeremy
angkat bahu. “Sepertinya berhubungan sama kecemburuan,” kata Jeremy.
“Cemburu?
Siapa?” Mama tertarik. Jarang-jarang anaknya membicarakan seorang cewek secara
signifikan.
“Entahlah,
Jeremy belum yakin,” sahut Jeremy.
“Lalu...
siapa yang jadi rebutan di sini?” tanya Mama sambil tersenyum, mengerling pada
Papa.
“Cewek,”
sahut Jeremy singkat.
Papanya
langsung tertawa, membuat Mama melirik jengkel. Kedua orangtuanya tau tidak
akan ada informasi tambahan dari anak mereka yang irit omong itu. Jadi papa
menengahi dan mengalihkan ke topik lainnya.
Namun
sebelumnya beliau menambahkan, “Kalau kamu punya pacar tetap, ajak pulang ke
rumah sekali-sekali. Kenalkan pada Mama kamu,” kata Papa sambil mengedipkan
sebelah matanya.
Jeremy
menyeringai jahil. Sekarang setelah Jeremy lebih terbuka dalam mengemukakan
pendapatnya, Papa dan Mama jadi lebih mudah di ajak bicara.
Tak
ada lagi yang namanya pemaksaan kehendak. Semua sudah jadi masa lalu.
Keesokan
paginya, Jeremy sengaja menunggu Renaldi di gerbang depan sekolah. Mungkin ada
baiknya sedikit mengancam supaya cowok itu tak melibatkan Keisha. Tak perlu
menunggu terlalu lama, Renaldi pun muncul. Hanya saja cowok itu cukup cerdik karena
muncul bertepatan dengan kedatangan Keisha. Sehingga cowok itu menjadikan
Keisha sebagai tamengnya. Jeremy nyaris menggeram melihat muslihat itu. Jeremy
lantas mengurungkan niatnya sejenak.
Keisha
yang melihat keberadan Jeremy, langsung menghampiri cowok itu. “Tangan lo
gimana?” tanya Keisha langsung.
“Udah
lebih baik. Kemarin udah gue bawa ke dokter,”kata Jeremy. “Ini sih cuma luka
kecil,” tambah Jeremy sambil menatap Renaldi yang bersikap tak tau apa-apa.
“Lo
kenapa?” tanya Renaldi.
Jeremy
angkat bahu. “Preman,” sahut Jeremy singkat, namun jelas-jelas ia menantang
Renaldi. Kemudian ia menahan keinginan untuk mendengus ketika Renaldi
menunjukkan sikap bersimpatik. Hah, bajingan cerdik.
“Ke
kelas?” kata Jeremy pada Keisha.
Keisha
mengangguk. Kemudian dengan sengaja Jeremy melingkarkan lengannya di bahu
Keisha.
“Bareng
deh,” kata Jeremy, namun tatapannya tetap mengarah pada Renaldi.
Tampaknya tindakan itu memancing
sedikit emosi Renaldi. Rahang cowok itu terkatup rapat ketika menyaksikan Jeremy
membawa pergi Keisha. Bahkan pasti butuh usaha keras agar cowok itu bisa tersenyum
ketika Keisha pamit padanya.
Ketika
Jeremy sampai di kelasnya, ia langsung disambut oleh pertanyaan Samuel mengenai
tangannya. Bahkan sebelum ia sempat meletakkan tasnya, ia sudah ditatap dengan
kening berlipat oleh Rafhael. Jeremy harus menahan seringainya dan bersikap
sesantai mungkin.
“Weitss… tangan lo kenapa, Jer??” seru Samuel
ketika Jeremy meletakkan tasnya di meja.
Kening
Rafhael berkerut. Menunggu jawaban Jeremy.
“Gue
abis dihajar preman,” sahut Jeremy sambil lalu.
“APAAA????”
seru Rafahel dan Samuel kaget. Kemudian berondongan pertanyaan seperti “kok
bisa?”, “kenapa?”, “di mana?”, “lo hajar balik kan?” dan sejenisnya langsung
berdatangan dari Samuel dan Rafhael. Pertanyaan-pertanyaan itu saling
bertumpukan sehingga Jeremy memutuskan untuk tidak menjawab salah satunya
secara detail. Melainkan merangkum semua jawabannya ke dalam satu cerita yang
akan memuaskan rasa ingin tau kedua temannya itu.
Jeremy duduk dan menjalin kesepuluh
jarinya ketika menceritakan kejadiannya, lengkap dengan dugaannya mengenai
siapa pelakunya. Samuel mendengarkan sambil sesekali menggebrak meja atau
mengumpat. Sementara Rafhael juga tak beda jauh, hanya mengumpat-umpat pelan. Setelah
Jeremy selesai bercerita, Rafhael langsung menanyakan apa yang akan Jeremy
lakukan.
Jeremy
bersandar di kursinya. “Gue belum mau bergerak. Gue mau lihat apa yang akan dia
lakukan saat tau gue sama sekali nggak terpancing,” kata cowok itu tenang.
“Dia
berbahaya. Lo lihat dia kan, ngebayar preman buat ngelukain elo!” kata Rafhael
tidak setuju. “Mending lo lapor ke polisi atau kita hajar aja tuh orang!”
“Tanpa
bukti nyata? Dia cuma akan berpura-pura ini semua ulah gue. Dan bahkan Keisha
pun bakal ketipu sandiwaranya,” kata Jeremy mendengus.
Kening
Rafhael terlipat. “Lo serius sama Keisha? Bukannya lo cuma penasaran?”
Jeremy
angkat bahu. “Gue berubah pikiran,” sahutnya dan tidak mengatakan apa-apa lgi.
Dia
merasa sudah mengatakan yang sejujurnya. Mana dia tau kalau Rafhael tak percaya
pada kata-katanya? Yang jelas, yang saat ini sangat ingin dilakukannya adalah
menyingkirkan Renaldi. Sehingga begitu Keisha terlepas dari bayang-bayang cowok
psyco itu, Jeremy bisa menelaah
hubungan di antara mereka lebih jauh lagi.
Sebagian
dirinya yakin bahwa Keisha sudah mengambil alih pikirannya. Bahwa cewek itu tak
henti-hentinya membuatnya bertanya-tanya ke mana akhirnya hubungan yang mereka
mulai dengan sangat tidak rukun itu. Lagipula tameng Keisha masih tersisa
sedikit sehingga cewek itu masih bisa berkelit dari kata hatinya. Itu juga akan
menjadi tantangan tersendiri bagi Jeremy untuk membuktikan bahwa terkadang
sesuatu itu dapat dilakukan secara spontan. Berdasarkan suasana hati. Dan ia
tau beberapa cara untuk membuktikannya. Tapi pertama-tama, ia harus
mengenyahkan pengganggu macam Renaldi terlebih dulu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar