Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #8


Jeremy tengah makan malam bersama kedua orangtuanya malam itu. Meski orangtuanya sibuk, namun prinsip mereka adalah mengutamakan keluarga. Hanya saja yang saat itu dibutuhkan Jeremy adalah sendirian. Ia tak jadi mengkonfrontasi Renaldi secara terbuka, melainkan menunggu saat yang tepat dan mengumpulkan bukti-bukti lebih dulu. Tapi hal itu sedikit membuatnya jengkel. Ia sudah salah karena meremehkan Renaldi hanya karena cowok itu bukan tipe cowok petarung, namun siapa sangka cowok pengecut itu akan mengirimkan preman untuk menyelesaikan urusannya? Jeremy harus mulai memikirkannya lagi. Jangan sampai Keisha terlibat. Hmm, sejak kapan ia memikirkan orang lain?
            “Jer, kamu mau makan atau melamun?” tegur Mamanya. Membuyarkan pikiran Jeremy.
            “Makan kok, Ma,” sahut Jeremy. Ia mulai melanjutkan makannya, berniat berpikir sambil makan. Namun sayang, lagi-lagi lamunannya diinterupsi, kali ini oleh Papanya.
            “Tangan kamu kenapa?” tanya Papa sambil lalu.
            Jeremy melirik perban ditangannya. “Cuma luka kecil. Luka gores kecil,” sahut Jeremy.
            Ya, luka gores kecil yang perlu tiga jahitan. Sialan tuh preman. Namun Jeremy enggan menjelaskan lebih lanjut. Hanya saja Papanya sudah terlalu mengenalnya untuk tau apa yang enggan Jeremy katakan, jadi Jeremy tak bisa menyembunyikan apapun. Cepat atau lambat Papanya pasti akan tau, jadi ia memilih memberitaunya sendiri saja.
            Jeremy angkat bahu. “Sepertinya berhubungan sama kecemburuan,” kata Jeremy.
            “Cemburu? Siapa?” Mama tertarik. Jarang-jarang anaknya membicarakan seorang cewek secara signifikan.
            “Entahlah, Jeremy belum yakin,” sahut Jeremy.
            “Lalu... siapa yang jadi rebutan di sini?” tanya Mama sambil tersenyum, mengerling pada Papa.
            “Cewek,” sahut Jeremy singkat.
            Papanya langsung tertawa, membuat Mama melirik jengkel. Kedua orangtuanya tau tidak akan ada informasi tambahan dari anak mereka yang irit omong itu. Jadi papa menengahi dan mengalihkan ke topik lainnya.
           Namun sebelumnya beliau menambahkan, “Kalau kamu punya pacar tetap, ajak pulang ke rumah sekali-sekali. Kenalkan pada Mama kamu,” kata Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.
            Jeremy menyeringai jahil. Sekarang setelah Jeremy lebih terbuka dalam mengemukakan pendapatnya, Papa dan Mama jadi lebih mudah di ajak bicara.
            Tak ada lagi yang namanya pemaksaan kehendak. Semua sudah jadi masa lalu.
            Keesokan paginya, Jeremy sengaja menunggu Renaldi di gerbang depan sekolah. Mungkin ada baiknya sedikit mengancam supaya cowok itu tak melibatkan Keisha. Tak perlu menunggu terlalu lama, Renaldi pun muncul. Hanya saja cowok itu cukup cerdik karena muncul bertepatan dengan kedatangan Keisha. Sehingga cowok itu menjadikan Keisha sebagai tamengnya. Jeremy nyaris menggeram melihat muslihat itu. Jeremy lantas mengurungkan niatnya sejenak.
            Keisha yang melihat keberadan Jeremy, langsung menghampiri cowok itu. “Tangan lo gimana?” tanya Keisha langsung.
            “Udah lebih baik. Kemarin udah gue bawa ke dokter,”kata Jeremy. “Ini sih cuma luka kecil,” tambah Jeremy sambil menatap Renaldi yang bersikap tak tau apa-apa.
            “Lo kenapa?” tanya Renaldi.
            Jeremy angkat bahu. “Preman,” sahut Jeremy singkat, namun jelas-jelas ia menantang Renaldi. Kemudian ia menahan keinginan untuk mendengus ketika Renaldi menunjukkan sikap bersimpatik. Hah, bajingan cerdik.
            “Ke kelas?” kata Jeremy pada Keisha.
            Keisha mengangguk. Kemudian dengan sengaja Jeremy melingkarkan lengannya di bahu Keisha.
            “Bareng deh,” kata Jeremy, namun tatapannya tetap mengarah pada Renaldi.
            Tampaknya tindakan itu memancing sedikit emosi Renaldi. Rahang cowok itu terkatup rapat ketika menyaksikan Jeremy membawa pergi Keisha. Bahkan pasti butuh usaha keras agar cowok itu bisa tersenyum ketika Keisha pamit padanya.
            Ketika Jeremy sampai di kelasnya, ia langsung disambut oleh pertanyaan Samuel mengenai tangannya. Bahkan sebelum ia sempat meletakkan tasnya, ia sudah ditatap dengan kening berlipat oleh Rafhael. Jeremy harus menahan seringainya dan bersikap sesantai mungkin.
             “Weitss… tangan lo kenapa, Jer??” seru Samuel ketika Jeremy meletakkan tasnya di meja.
            Kening Rafhael berkerut. Menunggu jawaban Jeremy.
            “Gue abis dihajar preman,” sahut Jeremy sambil lalu.
            “APAAA????” seru Rafahel dan Samuel kaget. Kemudian berondongan pertanyaan seperti “kok bisa?”, “kenapa?”, “di mana?”, “lo hajar balik kan?” dan sejenisnya langsung berdatangan dari Samuel dan Rafhael. Pertanyaan-pertanyaan itu saling bertumpukan sehingga Jeremy memutuskan untuk tidak menjawab salah satunya secara detail. Melainkan merangkum semua jawabannya ke dalam satu cerita yang akan memuaskan rasa ingin tau kedua temannya itu.
            Jeremy duduk dan menjalin kesepuluh jarinya ketika menceritakan kejadiannya, lengkap dengan dugaannya mengenai siapa pelakunya. Samuel mendengarkan sambil sesekali menggebrak meja atau mengumpat. Sementara Rafhael juga tak beda jauh, hanya mengumpat-umpat pelan. Setelah Jeremy selesai bercerita, Rafhael langsung menanyakan apa yang akan Jeremy lakukan.
            Jeremy bersandar di kursinya. “Gue belum mau bergerak. Gue mau lihat apa yang akan dia lakukan saat tau gue sama sekali nggak terpancing,” kata cowok itu tenang.
            “Dia berbahaya. Lo lihat dia kan, ngebayar preman buat ngelukain elo!” kata Rafhael tidak setuju. “Mending lo lapor ke polisi atau kita hajar aja tuh orang!”
            “Tanpa bukti nyata? Dia cuma akan berpura-pura ini semua ulah gue. Dan bahkan Keisha pun bakal ketipu sandiwaranya,” kata Jeremy mendengus.
            Kening Rafhael terlipat. “Lo serius sama Keisha? Bukannya lo cuma penasaran?”
            Jeremy angkat bahu. “Gue berubah pikiran,” sahutnya dan tidak mengatakan apa-apa lgi.
            Dia merasa sudah mengatakan yang sejujurnya. Mana dia tau kalau Rafhael tak percaya pada kata-katanya? Yang jelas, yang saat ini sangat ingin dilakukannya adalah menyingkirkan Renaldi. Sehingga begitu Keisha terlepas dari bayang-bayang cowok psyco itu, Jeremy bisa menelaah hubungan di antara mereka lebih jauh lagi.
            Sebagian dirinya yakin bahwa Keisha sudah mengambil alih pikirannya. Bahwa cewek itu tak henti-hentinya membuatnya bertanya-tanya ke mana akhirnya hubungan yang mereka mulai dengan sangat tidak rukun itu. Lagipula tameng Keisha masih tersisa sedikit sehingga cewek itu masih bisa berkelit dari kata hatinya. Itu juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi Jeremy untuk membuktikan bahwa terkadang sesuatu itu dapat dilakukan secara spontan. Berdasarkan suasana hati. Dan ia tau beberapa cara untuk membuktikannya. Tapi pertama-tama, ia harus mengenyahkan pengganggu macam Renaldi terlebih dulu.
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar