Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1: LOVE IS YOU #6


Linzie harus berjuang keras menelan tangisannya. Ia tak menyangka akan merasa sesakit ini ketika Samuel tidak menyangkal telah menjadikannya taruhan sejak awal. Ia pikir dirinya tidak menyukai Samuel. Setidaknya tidak begitu menyukai cowok itu sehingga akan merasa sakit ketika mendengar, atau lebih tepatnya melihat kebenaran di mata Samuel. Tapi hatinya begitu sakit. Begitu pedih hingga mengalahkan rasa sakit ketika Edwin mengkhianatinya.
            Linzie merasa hatinya sakit. Sakit yang takkan pernah sembuh lagi. Linzie menagis tanpa suara di ruangan Daniel. Setidaknya ia memiliki kesempatan menangisi kebodohannya karena mempercayai ketulusan Samuel, padahal ia tau orang seperti apa Samuel itu. Playboy tetaplah playboy. Tak mungkin berubah kan?
***
            Tuhan tau apa saja yang sudah Samuel lakukn selama 18 tahun hidupnya. Ia menggampangkan cinta. Bersenang-senang dengan cewek-cewek yang mendekatinya, dan mempermainkan perasaan mereka dengan memberikan harapan-harapan palsu. Sekarang setelah kegagalan pertamanya, Samuel merenung. Masih bertnya-tanya apa sebenarnya yang ia inginkan dengan mendekati Linzie. Selain anggapan pertamanya tentang sosok Linzie yang seperti malaikat. Malaikat pemarah, ralatnya. Namun cewek itu telah berhasil menyelinap masuk melewati pintu hatinya.
            Samuel mengacak-acak rambutnya dan berteriak frustasi. Berharap tindakannya bisa memnbantu melepaskan stressnya, ia melompat ke kolam renang dan berharap air yang dingin bisa mendinginkan emosinya. Akan tetapi, air itu cuma mampu meredamnya sedikit. Kemudian, seolah belum cukup, Rafhael dan Jeremy muncul. Samuel mengerang dan mulai berenang bolak-balik berkali-kali.
            “Woi, ngapain sih lo?” panggil Rafhael dari sisi kolam. Cowok itu tengah menikmati segelas jus jeruk dan duduk santai.
            “Ngapain kalian ke sini? Kalau mau menghina kegagalan gue, mending lo cari waktu lain deh! Gue lagi nggak mood ketemu kalian!” ketus Samuel.
            “Jadi lo kesal karena gagal naklukin dia? Atau kesal karena justru elo yang terpikat sama dia?” kata Jeremy.
            Samuel mendelik, tapi tak menemukan balasan yang tepat untuk menyanggah kata Jeremy. Dia lantas mengumpat-ngumpat kecil, membuat Jeremy menyeringai.
            “Jadi benar lo terpikat sama Linzie? Akhirnya, Samuel Tan, seorang cowok yang selalu menikmati semua perhatian cewek-cewek, yang nggak pernah nembak dan menebar harapan di mana-mana, kini malah betul-betul jatuh cinta? Sama cewek yang dia jadikan target taklukannya??” ujar Jeremy
            “Ha! Gue nggak nyangka tipe lo yang buas begitu,” kata Rafhael menimpali Jeremy. Dia menoleh pada Jeremy. “Menurut lo sampai kapan dia bakal uring-uringan?” tanya Rafhael
            “Sampai dia nyadar apa kesalahannya pastinya,” sahut Jeremy sambil menyesap minumannya.
            “Hmm, tapi dengan otaknya yang sekarang, gue pikir hal itu baru terjadi tahun depan,” cemooh Rafhael.
            “Bisa jadi. Dan ketika saat itu tiba, cewek itu sudah nggak akan mempercayai apapun yang dia ucapin,” kata Jeremy sambil mengangkat bahu. “Cewek selalu begitu. Sekali ditipu, mereka bakal merasa paranoid.”
            “Hah! Makanya gue nggak mau terlalu dekat sama mereka, apalagi sampai ngasih harapan. Bisa gila gue kalau sampai mereka jadi ganas! Mending nikmati apa yang mereka tawarkan, lalu pergi ketika udah nggak ada yang bisa diambil,” kata Rafhael.
            “Brengsek! Lo berdua ngomong seolah-olah gue nggak di sini aja sih!!” seru Samuel. Ia naik dan berjalan menghampiri teman-temannya yang sedang duduk santai. Ia tak menggubris ketika Rafhael memprotes cipratan air dari rambut Samuel. Dia menghempaskan diri di kursi santai dan meraih minumannya sendiri. Ia menghabiskannya dalam beberapa tegukan. Kemudian memandang muram kedua temannya.
            “Jadi, apa mau lo bardua datang ke sini selain menikmati kegagalan gue?” tanya Samuel jengkel.
            “Oh, lo tau maksud kita ke sini. Kita cuma mau tau seberapa jauh to terjerat sama yang namanya cinta. Dan gue yakin itu yang menjangkiti lo sekarang,” kata Jeremy.
            Samuel mendengus. “Cinta? Sejak kapan gue percaya sama yang namanya cinta? Gue sama kayak lo berdua yang nggak percaya cinta!” tukas Samuel.
            “Tapi nyatanya lo udah jatuh cinta kan sama cewek itu?” kata Rafhael. Kemudian menambahkan, “Lo bikin gue kalah banyak gara-gara itu.”
            “Jadi lo berdua jadiin gue bahan taruhan juga? Boleh gue tau lo bertaruh buat apa?” sinis Samuel.
            Rafhael menyeringai. “Gue bertaruh lo bisa naklukin tuh cewek karena gue masih mengharapkan kemampuan lo, tapi nyatanya nggak,” kata Rafhael. Dia lalu mengangguk ke arah Jeremy. “Dan Jeremy bertaruh lo gagal dan justru kemakan sama ulah lo sendiri, jatuh cinta dan ditolak,” kata Rafhael lagi.
            Samuel mendengus. “Bagus, sekarang lo berdua bisa tau siapa yang menang kan? Gue gagal. Gue kemakan ulah gue sendiri. Dan ya! Gue jatuh cinta sama Linzie, bahkan sebelum gue memulai perburuan ini!!” tandas Samuel. “Puas lo pada?”
            Rafhael tertawa bahagia. “Gue bersimpati sama lo,” katanya dengan tidak tulus sama sekali.
            “Gue sumpahin suatu saat lo bakal ngerasain hal yang sama! Jatuh cinta sama cewek yang bakal bikin lo menderita lahir batin!!”
            “Ohh, tenang aja, Brother, gue udah memutuskan nggak bakal jatuh cinta,” kata Rafhael yakin.
            Samuel tersenyum sinis. “Gue ragukan hal itu. Mengingat gue juga berpikir begitu pada awalnya,” kata Samuel, berhasil menghapuskan senyum dari wajah Rafhael dan menggantinya dengan wajah merengut.
            “Jadi apa tindakan lo selanjutnya?” tanya Jeremy.
            “Apa lagi yang bisa gue lakuin?? Dia sekarang benci sama gue dan nggak bakal mau percaya sama apa yang gue omongin!” seru Samuel frustasi.
            “Jadi lo mau melepas dia? Yah, gue pikir dia memang nggak pantas diperjuangkan sih. Lagipula, lo bisa dapat penggantinya dengan cepat kan?” kata Jeremy enteng, membangkitkan kekesalan Samuel lagi.
            Namun Samuel terpaksa menelan umpatan-umpatan yang sudah naik ke tenggorokannya karena tidak mau teman-temannya tau bahwa ia masih belum rela menyerah begitu saja. Tapi harga dirinya sebagai cowok tidak mengijinkannya untuk menunjukkan kelemahannya. Jadi ia cuma diam.
            “Gue nggak peduli!” ketus Samuel, mengakhiri pembicaraan itu. Dia berbalik dan masuk ke dalam rumah, tak sempat menangkap senyum tipis bermain-main di bibir Jeremy.
                                                                        ***
            Linzie bagai mayat hidup. Ia banyak melamun. Kadang dia bisa lebih jutek dari sebelum-sebelumnya. Bahkan sikapnya dengan Daniel juga jadi menjengkelkan. Tidak heran kalau Daniel mengusirnya dari cafe karena bisa mengganggu penjualannya. Linzie bersungut-sungut sepanjang jalan pulang. Ia mengayuh sepedanya tanpa tujuan yang jelas.       Ia masih sakit hati atas perlakuan Samuel padanya. Bagaimana tidak? Cowok itu tak pernah sekalipun minta maaf padanya setelah itu! Linzie marah bukan main. Cowok itu pikir dirinya siapa? Seorang Casanova? Penakluk wanita? Cuih! Linzie nggak sudi mengakui bahwa ia telah tertipu mentah-mentah oleh perhatian manis cowok itu. Lagi! Seolah ia tidak belajar dari pengalaman.
            Linzie juga marah pada dirinya karena sempat meyakini kalau mungkin Samuel berubah dan semua sikapnya selama ini tuh tulus. Tapi ternyata yang ia dapatkan hanya penipuan! Linzie benci dibohongi. Ia tak mau lagi melihat Samuel bahkan hanya seujung kuku pun. Karena, dalam hatinya yang terdalam, Linzie mungkin akan memaafkan cowok itu seandainya ia melihat senyum tulus cowok itu ketika minta maaf. Oh, betapa malangnya ia. Ia dikutuk dengan orang-orang bejat di sekelilingnya!
            Linzie cuma ingin cinta yang tulus. Tidak lebih. Apa permintaannya begitu sulit untuk dikabulkan sehingga Tuhan terus saja menggiringnya kepada orang-orang seperti Edwin? Sungguh, seandainya Linzie bisa memilih, mungkin ia akan mengurung diri di suatu tempat dan tidak keluar-keluar lagi sampai dunia kiamat, atau paling tidak sampai perutnya kelaparan.
            Di sekolah juga tak jauh berbeda. Ia selalu mendengar gosip tentang Samuel dkk. Yang membuatnya geram dan ingin mencekik setiap cewek yang membicarakan hal itu. Tapi ia tak bisa mencekik Chika atau Keisha ketika mereka mengungkit-ngungkit soal Samuel dan pembalasan yang sedang mereka rancang. Oh, Linzie sudah tak peduli lagi. Bahkan kalau Keisha bilang akan membuat Samuel ‘sakit’ karena apa yang akan Keisha lakukan. Linzie tak mau membayangkan apa hukuman yang ada dipikiran Keisha. Ia terlalu lelah bahkan untuk mengakui bahwa ia masih peduli pada Samuel meski cowok itu telah mempermainkannya.
            “Udahlah. Gue malas mengungkit hal itu lagi. Gue mau ngelupain dia, Kei,” kata Linzie.
            “Oh, lo bisa kok ngelupain dia. Tenang aja, rencana pembalasan gue nggak melibatkan elo sama sekali kok,” kata Keisha tenang. Tapi Linzie justru merasa kalau dalam keadaan tenang, Keisha justru lebih berbahya. Cewek itu bisa sangat menakutkan jika marah.
            “Ini juga nggak sepenuhnya salah dia. Gue juga salah karena mau-maunya aja percaya omongan dia. Gue pikir dia nggak sama seperti yang lain, tapi gue sadar gue salah,” kata Linzie.
            “Lo lagi membela dia?” tanya Keisha tenang, tak ada nada menghakimi dalam suaranya, tapi Linzie merasa harus membela diri.
            “Nggak! Ngapain gue membela cowok macam dia?! Gue cuma ngomong fakta!” tukas Linzie.
            “Zizi, lo yakin lo nggak jatuh cinta sama dia?” tanya Chika.
            “Nggak!!” sahut Linzie cepat, kemudian sadar betapa tajam nada suaranya. “Nggak, Chi… Gue nggak jatuh cinta sama dia!” kata Linzie lebih tenang.
            Sayang, tapi Chika merasakan hal yang sebaliknya dan tatapannya menunjukkan kalau ia tak percaya sama sekali dengan yang diucapkan Linzie.
            “Udah! Pokoknya gue nggak mau kalian menyebut-nyebut nama dia lagi! Dia udah nggak ada urusan sama gue! Titik!” Linzie mengakiri dengan nada final. Ia betul-betul tak mau mengingat Samuel lagi. Dan jika ia mau betul-betul melupakan cowok itu, maka ia harus menghapus semua hal tentang cowok itu! Harus…! Tapi seperti biasa, sejak kapan Linzie berhasil berlaku benar dan merealisasikan tekadnya?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar