Linzie harus berjuang keras menelan tangisannya. Ia
tak menyangka akan merasa sesakit ini ketika Samuel tidak menyangkal telah
menjadikannya taruhan sejak awal. Ia pikir dirinya tidak menyukai Samuel.
Setidaknya tidak begitu menyukai cowok itu sehingga akan merasa sakit ketika
mendengar, atau lebih tepatnya melihat kebenaran di mata Samuel. Tapi hatinya
begitu sakit. Begitu pedih hingga mengalahkan rasa sakit ketika Edwin
mengkhianatinya.
Linzie
merasa hatinya sakit. Sakit yang takkan pernah sembuh lagi. Linzie menagis
tanpa suara di ruangan Daniel. Setidaknya ia memiliki kesempatan menangisi
kebodohannya karena mempercayai ketulusan Samuel, padahal ia tau orang seperti
apa Samuel itu. Playboy tetaplah playboy. Tak mungkin berubah kan?
***
Tuhan
tau apa saja yang sudah Samuel lakukn selama 18 tahun hidupnya. Ia
menggampangkan cinta. Bersenang-senang dengan cewek-cewek yang mendekatinya,
dan mempermainkan perasaan mereka dengan memberikan harapan-harapan palsu.
Sekarang setelah kegagalan pertamanya, Samuel merenung. Masih bertnya-tanya apa
sebenarnya yang ia inginkan dengan mendekati Linzie. Selain anggapan pertamanya
tentang sosok Linzie yang seperti malaikat. Malaikat pemarah, ralatnya. Namun
cewek itu telah berhasil menyelinap masuk melewati pintu hatinya.
Samuel
mengacak-acak rambutnya dan berteriak frustasi. Berharap tindakannya bisa
memnbantu melepaskan stressnya, ia melompat ke kolam renang dan berharap air
yang dingin bisa mendinginkan emosinya. Akan tetapi, air itu cuma mampu
meredamnya sedikit. Kemudian, seolah belum cukup, Rafhael dan Jeremy muncul.
Samuel mengerang dan mulai berenang bolak-balik berkali-kali.
“Woi,
ngapain sih lo?” panggil Rafhael dari sisi kolam. Cowok itu tengah menikmati
segelas jus jeruk dan duduk santai.
“Ngapain
kalian ke sini? Kalau mau menghina kegagalan gue, mending lo cari waktu lain
deh! Gue lagi nggak mood ketemu kalian!” ketus Samuel.
“Jadi
lo kesal karena gagal naklukin dia? Atau kesal karena justru elo yang terpikat
sama dia?” kata Jeremy.
Samuel
mendelik, tapi tak menemukan balasan yang tepat untuk menyanggah kata Jeremy.
Dia lantas mengumpat-ngumpat kecil, membuat Jeremy menyeringai.
“Jadi
benar lo terpikat sama Linzie? Akhirnya, Samuel Tan, seorang cowok yang selalu
menikmati semua perhatian cewek-cewek, yang nggak pernah nembak dan menebar
harapan di mana-mana, kini malah betul-betul jatuh cinta? Sama cewek yang dia
jadikan target taklukannya??” ujar Jeremy
“Ha!
Gue nggak nyangka tipe lo yang buas begitu,” kata Rafhael menimpali Jeremy. Dia
menoleh pada Jeremy. “Menurut lo sampai kapan dia bakal uring-uringan?” tanya
Rafhael
“Sampai
dia nyadar apa kesalahannya pastinya,” sahut Jeremy sambil menyesap minumannya.
“Hmm,
tapi dengan otaknya yang sekarang, gue pikir hal itu baru terjadi tahun depan,”
cemooh Rafhael.
“Bisa
jadi. Dan ketika saat itu tiba, cewek itu sudah nggak akan mempercayai apapun
yang dia ucapin,” kata Jeremy sambil mengangkat bahu. “Cewek selalu begitu.
Sekali ditipu, mereka bakal merasa paranoid.”
“Hah!
Makanya gue nggak mau terlalu dekat sama mereka, apalagi sampai ngasih harapan.
Bisa gila gue kalau sampai mereka jadi ganas! Mending nikmati apa yang mereka
tawarkan, lalu pergi ketika udah nggak ada yang bisa diambil,” kata Rafhael.
“Brengsek!
Lo berdua ngomong seolah-olah gue nggak di sini aja sih!!” seru Samuel. Ia naik
dan berjalan menghampiri teman-temannya yang sedang duduk santai. Ia tak
menggubris ketika Rafhael memprotes cipratan air dari rambut Samuel. Dia
menghempaskan diri di kursi santai dan meraih minumannya sendiri. Ia
menghabiskannya dalam beberapa tegukan. Kemudian memandang muram kedua
temannya.
“Jadi,
apa mau lo bardua datang ke sini selain menikmati kegagalan gue?” tanya Samuel
jengkel.
“Oh,
lo tau maksud kita ke sini. Kita cuma mau tau seberapa jauh to terjerat sama
yang namanya cinta. Dan gue yakin itu yang menjangkiti lo sekarang,” kata
Jeremy.
Samuel
mendengus. “Cinta? Sejak kapan gue percaya sama yang namanya cinta? Gue sama
kayak lo berdua yang nggak percaya cinta!” tukas Samuel.
“Tapi
nyatanya lo udah jatuh cinta kan sama cewek itu?” kata Rafhael. Kemudian
menambahkan, “Lo bikin gue kalah banyak gara-gara itu.”
“Jadi
lo berdua jadiin gue bahan taruhan juga? Boleh gue tau lo bertaruh buat apa?” sinis
Samuel.
Rafhael
menyeringai. “Gue bertaruh lo bisa naklukin tuh cewek karena gue masih
mengharapkan kemampuan lo, tapi nyatanya nggak,” kata Rafhael. Dia lalu
mengangguk ke arah Jeremy. “Dan Jeremy bertaruh lo gagal dan justru kemakan
sama ulah lo sendiri, jatuh cinta dan ditolak,” kata Rafhael lagi.
Samuel
mendengus. “Bagus, sekarang lo berdua bisa tau siapa yang menang kan? Gue
gagal. Gue kemakan ulah gue sendiri. Dan ya! Gue jatuh cinta sama Linzie,
bahkan sebelum gue memulai perburuan ini!!” tandas Samuel. “Puas lo pada?”
Rafhael
tertawa bahagia. “Gue bersimpati sama lo,” katanya dengan tidak tulus sama
sekali.
“Gue
sumpahin suatu saat lo bakal ngerasain hal yang sama! Jatuh cinta sama cewek
yang bakal bikin lo menderita lahir batin!!”
“Ohh,
tenang aja, Brother, gue udah memutuskan nggak bakal jatuh cinta,” kata Rafhael
yakin.
Samuel
tersenyum sinis. “Gue ragukan hal itu. Mengingat gue juga berpikir begitu pada
awalnya,” kata Samuel, berhasil menghapuskan senyum dari wajah Rafhael dan
menggantinya dengan wajah merengut.
“Jadi
apa tindakan lo selanjutnya?” tanya Jeremy.
“Apa
lagi yang bisa gue lakuin?? Dia sekarang benci sama gue dan nggak bakal mau
percaya sama apa yang gue omongin!” seru Samuel frustasi.
“Jadi
lo mau melepas dia? Yah, gue pikir dia memang nggak pantas diperjuangkan sih.
Lagipula, lo bisa dapat penggantinya dengan cepat kan?” kata Jeremy enteng,
membangkitkan kekesalan Samuel lagi.
Namun Samuel terpaksa menelan
umpatan-umpatan yang sudah naik ke tenggorokannya karena tidak mau
teman-temannya tau bahwa ia masih belum rela menyerah begitu saja. Tapi harga
dirinya sebagai cowok tidak mengijinkannya untuk menunjukkan kelemahannya. Jadi
ia cuma diam.
“Gue
nggak peduli!” ketus Samuel, mengakhiri pembicaraan itu. Dia berbalik dan masuk
ke dalam rumah, tak sempat menangkap senyum tipis bermain-main di bibir Jeremy.
***
Linzie
bagai mayat hidup. Ia banyak melamun. Kadang dia bisa lebih jutek dari
sebelum-sebelumnya. Bahkan sikapnya dengan Daniel juga jadi menjengkelkan.
Tidak heran kalau Daniel mengusirnya dari cafe karena bisa mengganggu penjualannya.
Linzie bersungut-sungut sepanjang jalan pulang. Ia mengayuh sepedanya tanpa
tujuan yang jelas. Ia masih sakit
hati atas perlakuan Samuel padanya. Bagaimana tidak? Cowok itu tak pernah
sekalipun minta maaf padanya setelah itu! Linzie marah bukan main. Cowok itu
pikir dirinya siapa? Seorang Casanova? Penakluk wanita? Cuih! Linzie nggak sudi
mengakui bahwa ia telah tertipu mentah-mentah oleh perhatian manis cowok itu.
Lagi! Seolah ia tidak belajar dari pengalaman.
Linzie
juga marah pada dirinya karena sempat meyakini kalau mungkin Samuel berubah dan
semua sikapnya selama ini tuh tulus. Tapi ternyata yang ia dapatkan hanya
penipuan! Linzie benci dibohongi. Ia tak mau lagi melihat Samuel bahkan hanya
seujung kuku pun. Karena, dalam hatinya yang terdalam, Linzie mungkin akan
memaafkan cowok itu seandainya ia melihat senyum tulus cowok itu ketika minta
maaf. Oh, betapa malangnya ia. Ia dikutuk dengan orang-orang bejat di sekelilingnya!
Linzie
cuma ingin cinta yang tulus. Tidak lebih. Apa permintaannya begitu sulit untuk
dikabulkan sehingga Tuhan terus saja menggiringnya kepada orang-orang seperti
Edwin? Sungguh, seandainya Linzie bisa memilih, mungkin ia akan mengurung diri
di suatu tempat dan tidak keluar-keluar lagi sampai dunia kiamat, atau paling
tidak sampai perutnya kelaparan.
Di
sekolah juga tak jauh berbeda. Ia selalu mendengar gosip tentang Samuel dkk.
Yang membuatnya geram dan ingin mencekik setiap cewek yang membicarakan hal
itu. Tapi ia tak bisa mencekik Chika atau Keisha ketika mereka mengungkit-ngungkit
soal Samuel dan pembalasan yang sedang mereka rancang. Oh, Linzie sudah tak
peduli lagi. Bahkan kalau Keisha bilang akan membuat Samuel ‘sakit’ karena apa
yang akan Keisha lakukan. Linzie tak mau membayangkan apa hukuman yang ada
dipikiran Keisha. Ia terlalu lelah bahkan untuk mengakui bahwa ia masih peduli
pada Samuel meski cowok itu telah mempermainkannya.
“Udahlah.
Gue malas mengungkit hal itu lagi. Gue mau ngelupain dia, Kei,” kata Linzie.
“Oh,
lo bisa kok ngelupain dia. Tenang aja, rencana pembalasan gue nggak melibatkan
elo sama sekali kok,” kata Keisha tenang. Tapi Linzie justru merasa kalau dalam
keadaan tenang, Keisha justru lebih berbahya. Cewek itu bisa sangat menakutkan
jika marah.
“Ini
juga nggak sepenuhnya salah dia. Gue juga salah karena mau-maunya aja percaya
omongan dia. Gue pikir dia nggak sama seperti yang lain, tapi gue sadar gue
salah,” kata Linzie.
“Lo
lagi membela dia?” tanya Keisha tenang, tak ada nada menghakimi dalam suaranya,
tapi Linzie merasa harus membela diri.
“Nggak!
Ngapain gue membela cowok macam dia?! Gue cuma ngomong fakta!” tukas Linzie.
“Zizi,
lo yakin lo nggak jatuh cinta sama dia?” tanya Chika.
“Nggak!!”
sahut Linzie cepat, kemudian sadar betapa tajam nada suaranya. “Nggak, Chi… Gue
nggak jatuh cinta sama dia!” kata Linzie lebih tenang.
Sayang,
tapi Chika merasakan hal yang sebaliknya dan tatapannya menunjukkan kalau ia
tak percaya sama sekali dengan yang diucapkan Linzie.
“Udah!
Pokoknya gue nggak mau kalian menyebut-nyebut nama dia lagi! Dia udah nggak ada
urusan sama gue! Titik!” Linzie mengakiri dengan nada final. Ia betul-betul tak
mau mengingat Samuel lagi. Dan jika ia mau betul-betul melupakan cowok itu,
maka ia harus menghapus semua hal tentang cowok itu! Harus…! Tapi seperti
biasa, sejak kapan Linzie berhasil berlaku benar dan merealisasikan tekadnya?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar