Linzie memandang kedua sahabatnya, menunggu komentar
atas apa yang baru saja ia ceritakan. Linzie sudah menceritakan pertemuannya
yang kedua beberapa hari lalu dengan Samuel pada kedua sahabatnya. Kini mereka
bertiga sedang duduk di salah satu sofa di pojokan cafe Daniel. Tempat yang
sudah biasa mereka pakai kalau sedang ngumpul-ngumpul.
“Lo
yakin dia nyaris menjadikan lo target rayuan terbarunya?” tanya Keisha, cewek
yang pembawaannya tenang dan lebih dewasa ketimbang Linzie atau Chika. Di antara
mereka, Keisha selalu bisa menjadi penengah dan pikirannya paling jernih.
Jarang marah dan sangat pengertian.
“Yakin
banget!” Linzie mengangguk. “Lo tau kan reputasi yang disandang sama Bule
oriental itu? Salah satu dari beberapa playboy tengik yang merajalela di Plaga
ini! Sekali lihat aja gue tau dia niat buat ngejadiin gue bahan taruhan!”
“Tapi
Zizi, mungkin nggak kalau dia memang tertarik sama elo?” tanya Chika dengan
gaya polosnya yang biasa. Chika, kebalikan dari Keisha yang dewasa, merupakan
cewek yang manja dan cengeng! Paling polos dan gampang dikerjai, makanya Linzie
selalu merasa perlu menjaga temannya itu.
“Chika,
sekali playboy tetap playboy! Nggak mungkin bakal berubah! Gue udah belajar
dari pengalaman untuk nggak gampang percaya sama omongan cowok! Mereka itu
buaya!” kata Linzie berapi-api.
“Lalu,”
Keisha menyela dengan tenang, “apa ada tanda-tanda dia masih mengincar elo?” tanyanya.
“Gue
sih nggak yakin dia masih penasaran sama gue atau nggak, tapi gue tetap harus
waspada kan?” kata Linzie.
“Mungkin
ada baiknya lo nggak ambil pusing. Mungkin dia udah pindah target,” kata
Keisha.
Chika
tiba-tiba menarik perhatian kedua temannya dengan seruan tertahannya. Lalu
menunjuk-nunjuk ke pintu masuk. Linzie dan Keisha ikut melihat apa yang dilihat
Chika. Dan mata kedua cewek itu melotot maksimal. Linzie yang sadar paling
pertama, langsung menarik kedua temannya agar merunduk. Kemudian mengintip dari
sela-sela tanaman hias yang berjejer di sekeliling kaca luar yang
menyembunyikan ruangan yang mereka pakai.
“Oh
My God, kenapa dia balik lagi sih!?” gerutu Linzie, sambil memperhatikan Samuel
yang langsung mengambil tempat duduk di kursi meja bar. Tampak cowok itu sedang
bercakap-cakap dengan Indra. Indra, entah kenapa melirik ke arah ruangan yang
Linzie tempati. Untungnya
Linzie berpikir cepat. Ia melotot dan menggeleng keras agar Indra tidak menatap
mereka. Kemudian Indra kembali mengalihkan tatapannya pada Samuel dan angkat
bahu. Sial, Linzie penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Lagian ngapain
juga sih cowok itu ke sini lagi? Kalau tidak ingat bahwa cowok itu adalah
pengunjung cafenya Daniel, Linzie pasti sudah mengusirnya. Sungguh, ide itu
tampak sangat menggoda bagi Linzie saat ini. Tapi berhubung cowok itu adalah
pelanggan, Linzie tak bisa semena-mena. Atau Daniel bisa merebusnya hidup-hidup
karena bersikap kurang ajar pada tamu.
“Kira-kira
mereka ngomongin apa yah?” kata Chika penasaran.
“Mana
gue tau! Lagian tuh cowok ngapain ke sini lagi sih?! Kayak nggak ada cafe lain
aja!” sahut Linzie sewot.
“Mungkin
karena dia memang suka dengan suasana di sini,” kata Keisha, sama sekali tidak
membantu. Linzie cuma bisa menahan diri agar tidak memutar bola mata.
Ketenangan Keisha kadang membikin jengkel.
Butuh
waktu 15 menit sampai Samuel angkat kaki dari ruangan itu dan Linzie bisa
bernapas lega. Ia langsung melesat ke meja bar.
“Kok
Zizi semangat banget ya? Kei, menurut lo apa mungkin Zizi bakal kalah sama
pesona Sammy?? Dia cakep banget lho,” kata Chika mengomentari tingkah Linzie
yang nggak seperti biasanya.
Keisha
tersenyum dan angkat bahu. “Kita nggak bakal tau gimana endingnya kalau semua
baru dimulai kan?”
Chika
tampak berseri-seri. “Maksud lo, ada kemungkinan mereka bakal dekat?? Tapi kan
Sammy playboy. Gimana kalau dia cuma sekadar iseng seperti kata Zizi?” kata
Chika khawatir.
“Berarti
itu saat di mana kita yang harus turun tangan buat membalas Samuel,” kata
Keisha manis. Chika cuma nyengir. Dibalik sikap tenang Keisha rupanya tersimpan
sifat sesadis iblis. Dan Chika tau betul sifat itu akan bangkit jika salah satu
dari dirinya atau Linzie disakiti oleh orang lain.
“Uhh…Chika
sayang Kei,” kata Chika sambil memeluk Keisha. Keisha cuma menepuk-nepuk pelan
kepala Chika dan melirik ke arah bar. Tempat Linzie yang sedang terlibat
pembicaraan dengan Indra.
Sementara
itu, Linzie sedang mengintrogasi Indra.“Dia ngomong apa aja sama Kak Indra?” tanya
Linzie.
“Dia
cuma ngajak ngobrol biasa aja,” kata Indra, heran.
“Yakin?
Dia nggak nanya-nanya hal yang aneh-aneh kan?”
“Nggak
sih. Yah, dia ada nanya-nanya soal lo sedikit,” kata Indra.
Linzie
langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. “Oh ya?!” sahutnya.
Indra
mengangguk, meski heran dengan tingkah Linzie. “Dia cuma nanya lo datang ke
sini tiap hari apa aja, terus bisa nggak dia kapan-kapan ngobrol lagi sama elo.
Katanya kalian satu sekolah,” kata Indra.
Linzie
langsung mencibir. “Nah, apa kata gue! Tuh playboy nggak bakal nyerah kan! Dia
pasti merasa egonya terkoyak abis gara-gara gue nolak pendekatannya! Biar tau
rasa!!”
“Memang
ada apaan sih antara kalian?” tanya Indra.
“Nggak
ada apa-apa! Dan nggak bakal ada apa-apa! Nggak sudi gue dekat sama playboy
macam itu!” ketus Linzie. Kemudian menambahkan. “Ya udah, Kak Indra kerja lagi
deh! Gue mau siap-siap pulang,” kata Linzie lalu ngeloyor pergi.
Keisha
dan Chika pamit pulang duluan sementara Linzie masih harus menyelesaikan
beberapa hal tentang keuangan di kasir. Setelah itu, Linzie memakai jaket dan
menyelempangkan tasnya, kemudian keluar lewat pintu samping. Linzie segera
menaiki sepedanya dan mulai mengayuh santai di sepanjang pinggiran jalan. Dia
sama sekali tidak sadar dengan mobil Jaguar hitam yang mengikuti di
belakangnya.
Kemudian mobil itu menjajari Linzie.
Linzie nyaris berhenti ketika menyadari ada mobil mewah menepi di sampingnya.
Kemudian kaca mobil itu diturunkan dan menampakkan wajah yang paling tidak
ingin dilihat Linzie.
Cowok
itu tersenyum manis pada Linzie, dan Linzie kontan merinding.
“Hai,
gue pikir gue nggak bisa ketemu lo,” kata Samuel manis. Yang langsung membuat
Linzie ingin berada di tempat lain, di mana pun selain di dekat cowok itu.
Anehnya, senyum cowok itu yang tampak tulus dan tidak dibuat-buat kok bikin
perut Linzie serasa di jungkir balik ya? Linzie yakin kebenciannya pasti sudah
mencapai tingkat abnormal karena reaksinya sudah berlebihan begitu.
Di
samping itu, Linzie sudah terjebak. Ia tidak bisa kabur dan pura-pura tidak
melihat cowok itu. Bagaimanapun Linzie naik sepeda sedangkan cowok itu naik
mobil! Sungguh nggak adil!
Samuel
tersenyum, dalam hati menghitung bahwa ia memenangkan ronde itu. Kini tinggal
langkah selanjutnya. Ia yakin kali ini nggak akan gagal seperti kejadian-kejadian
sebelumnya. Samuel yakin Dewi Fortuna ada di pihaknya kali ini. I’ll get you, batin Samuel penuh
kemenangan.
Samuel
menatap Linzie, masih memamerkan senyum manisnya. Meskipun dalam hati tak
kunjung ia tertawa penuh kemenangan. Apalagi ketika melihat tampang terpojok
Linzie, sungguh tiada tandingannya! Samuel merasa di atas angin melihat
keputusasaan membayang di mata Linzie.
“Gimana
kalau kita ngobrol di taman depan sana?” tanya Samuel.
Linzie
memutar otak untuk menolak alasan itu. Dia nggak mau dekat-dekat apalagi
ngobrol sama cowok di depannya itu! Linzie jengkel banget melihat kilat
kemenangan di mata Samuel. Dan godaan untuk menghapuskan senyum angkuh di wajah
cowok itu!
“Sorry,
tapi gue harus buru-buru pulang! Gue masih ada janji sama nyokap gue,” kata
Linzie beralasan.
“Kalau
gitu bareng gue aja,” tawaran Samuel membuat Linzie memutar otak. Ah,
sepedanya.
Dengan
senyum yang tak kalah manisnya Linzie pun menolak. “Gue kan bawa sepeda.
Lagian, gue nggak lihat tempat buat menaruh sepeda gue di mobil lo,” kata
Linzie.
Samuel
tak kehilangan akal. Dia mengusulkan agar mereka balik ke cafe dan menitipkan
sepeda Linzie di sana. Linzie langsung menolak, beralasan kalau sepeda itu
terlalu penting buatnya untuk ditinggal-tinggal sembarangan. Alhasil perdebatan
itu terus memanas dan keduanya sama-sama tak mau mengalah. Mata mereka terkunci
dalam sihir yang membuat keduanya tidak mau berpaling. Salah satu tak mau kalah
dari yang lainnya. Akhirnya, sebagai seorang cowok sejati, Samuel mengalah.
Membuat Linzie memekik girang dalam hati.
“Ok,
anggap kali ini gue kurang beruntung. Gue harap besok kita bisa ngobrol di
sekolah,” kata Samuel.
“Ya…
semoga aja,” kata Linzie sambil lalu. “Oke, cukup ngobrolnya, gue duluan!
Bubbye!” kata Linzie dan melambai, kemudian mulai mengayuh sepedanya dengan
santai.
Samuel
menatap kepergian Linzie dengan penuh rasa ingin tau. Samuel yakin Linzie cuma
beralasan, tapi entah kenapa Samuel justru membiarkan Linzie merasa menang.
Masih banyak waktu untuk mencari tau. Samuel akan pastikan cewek itu menyadari
pesonanya. Dan jika saat itu tiba, cewek itu akan memohon agar Samuel
memberinya perhatian. Hmm, Samuel tak sabar melancarkan serangan berikutnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar