Selasa, 02 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #2


Linzie memandang kedua sahabatnya, menunggu komentar atas apa yang baru saja ia ceritakan. Linzie sudah menceritakan pertemuannya yang kedua beberapa hari lalu dengan Samuel pada kedua sahabatnya. Kini mereka bertiga sedang duduk di salah satu sofa di pojokan cafe Daniel. Tempat yang sudah biasa mereka pakai kalau sedang ngumpul-ngumpul.
            “Lo yakin dia nyaris menjadikan lo target rayuan terbarunya?” tanya Keisha, cewek yang pembawaannya tenang dan lebih dewasa ketimbang Linzie atau Chika. Di antara mereka, Keisha selalu bisa menjadi penengah dan pikirannya paling jernih. Jarang marah dan sangat pengertian.
            “Yakin banget!” Linzie mengangguk. “Lo tau kan reputasi yang disandang sama Bule oriental itu? Salah satu dari beberapa playboy tengik yang merajalela di Plaga ini! Sekali lihat aja gue tau dia niat buat ngejadiin gue bahan taruhan!”
            “Tapi Zizi, mungkin nggak kalau dia memang tertarik sama elo?” tanya Chika dengan gaya polosnya yang biasa. Chika, kebalikan dari Keisha yang dewasa, merupakan cewek yang manja dan cengeng! Paling polos dan gampang dikerjai, makanya Linzie selalu merasa perlu menjaga temannya itu.
            “Chika, sekali playboy tetap playboy! Nggak mungkin bakal berubah! Gue udah belajar dari pengalaman untuk nggak gampang percaya sama omongan cowok! Mereka itu buaya!” kata Linzie berapi-api.
            “Lalu,” Keisha menyela dengan tenang, “apa ada tanda-tanda dia masih mengincar elo?” tanyanya.
            “Gue sih nggak yakin dia masih penasaran sama gue atau nggak, tapi gue tetap harus waspada kan?” kata Linzie.
            “Mungkin ada baiknya lo nggak ambil pusing. Mungkin dia udah pindah target,” kata Keisha.
            Chika tiba-tiba menarik perhatian kedua temannya dengan seruan tertahannya. Lalu menunjuk-nunjuk ke pintu masuk. Linzie dan Keisha ikut melihat apa yang dilihat Chika. Dan mata kedua cewek itu melotot maksimal. Linzie yang sadar paling pertama, langsung menarik kedua temannya agar merunduk. Kemudian mengintip dari sela-sela tanaman hias yang berjejer di sekeliling kaca luar yang menyembunyikan ruangan yang mereka pakai.
            “Oh My God, kenapa dia balik lagi sih!?” gerutu Linzie, sambil memperhatikan Samuel yang langsung mengambil tempat duduk di kursi meja bar. Tampak cowok itu sedang bercakap-cakap dengan Indra. Indra, entah kenapa melirik ke arah ruangan yang Linzie tempati.             Untungnya Linzie berpikir cepat. Ia melotot dan menggeleng keras agar Indra tidak menatap mereka. Kemudian Indra kembali mengalihkan tatapannya pada Samuel dan angkat bahu. Sial, Linzie penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Lagian ngapain juga sih cowok itu ke sini lagi? Kalau tidak ingat bahwa cowok itu adalah pengunjung cafenya Daniel, Linzie pasti sudah mengusirnya. Sungguh, ide itu tampak sangat menggoda bagi Linzie saat ini. Tapi berhubung cowok itu adalah pelanggan, Linzie tak bisa semena-mena. Atau Daniel bisa merebusnya hidup-hidup karena bersikap kurang ajar pada tamu.
            “Kira-kira mereka ngomongin apa yah?” kata Chika penasaran.
            “Mana gue tau! Lagian tuh cowok ngapain ke sini lagi sih?! Kayak nggak ada cafe lain aja!” sahut Linzie sewot.
            “Mungkin karena dia memang suka dengan suasana di sini,” kata Keisha, sama sekali tidak membantu. Linzie cuma bisa menahan diri agar tidak memutar bola mata. Ketenangan Keisha kadang membikin jengkel.
            Butuh waktu 15 menit sampai Samuel angkat kaki dari ruangan itu dan Linzie bisa bernapas lega. Ia langsung melesat ke meja bar.
            “Kok Zizi semangat banget ya? Kei, menurut lo apa mungkin Zizi bakal kalah sama pesona Sammy?? Dia cakep banget lho,” kata Chika mengomentari tingkah Linzie yang nggak seperti biasanya.
            Keisha tersenyum dan angkat bahu. “Kita nggak bakal tau gimana endingnya kalau semua baru dimulai kan?”
            Chika tampak berseri-seri. “Maksud lo, ada kemungkinan mereka bakal dekat?? Tapi kan Sammy playboy. Gimana kalau dia cuma sekadar iseng seperti kata Zizi?” kata Chika khawatir.
            “Berarti itu saat di mana kita yang harus turun tangan buat membalas Samuel,” kata Keisha manis. Chika cuma nyengir. Dibalik sikap tenang Keisha rupanya tersimpan sifat sesadis iblis. Dan Chika tau betul sifat itu akan bangkit jika salah satu dari dirinya atau Linzie disakiti oleh orang lain.
            “Uhh…Chika sayang Kei,” kata Chika sambil memeluk Keisha. Keisha cuma menepuk-nepuk pelan kepala Chika dan melirik ke arah bar. Tempat Linzie yang sedang terlibat pembicaraan dengan Indra.
            Sementara itu, Linzie sedang mengintrogasi Indra.“Dia ngomong apa aja sama Kak Indra?” tanya Linzie.
            “Dia cuma ngajak ngobrol biasa aja,” kata Indra, heran.
            “Yakin? Dia nggak nanya-nanya hal yang aneh-aneh kan?”
            “Nggak sih. Yah, dia ada nanya-nanya soal lo sedikit,” kata Indra.
            Linzie langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. “Oh ya?!” sahutnya.
            Indra mengangguk, meski heran dengan tingkah Linzie. “Dia cuma nanya lo datang ke sini tiap hari apa aja, terus bisa nggak dia kapan-kapan ngobrol lagi sama elo. Katanya kalian satu sekolah,” kata Indra.
            Linzie langsung mencibir. “Nah, apa kata gue! Tuh playboy nggak bakal nyerah kan! Dia pasti merasa egonya terkoyak abis gara-gara gue nolak pendekatannya! Biar tau rasa!!”
            “Memang ada apaan sih antara kalian?” tanya Indra.
            “Nggak ada apa-apa! Dan nggak bakal ada apa-apa! Nggak sudi gue dekat sama playboy macam itu!” ketus Linzie. Kemudian menambahkan. “Ya udah, Kak Indra kerja lagi deh! Gue mau siap-siap pulang,” kata Linzie lalu ngeloyor pergi.
            Keisha dan Chika pamit pulang duluan sementara Linzie masih harus menyelesaikan beberapa hal tentang keuangan di kasir. Setelah itu, Linzie memakai jaket dan menyelempangkan tasnya, kemudian keluar lewat pintu samping. Linzie segera menaiki sepedanya dan mulai mengayuh santai di sepanjang pinggiran jalan. Dia sama sekali tidak sadar dengan mobil Jaguar hitam yang mengikuti di belakangnya.
            Kemudian mobil itu menjajari Linzie. Linzie nyaris berhenti ketika menyadari ada mobil mewah menepi di sampingnya. Kemudian kaca mobil itu diturunkan dan menampakkan wajah yang paling tidak ingin dilihat Linzie.
            Cowok itu tersenyum manis pada Linzie, dan Linzie kontan merinding.
            “Hai, gue pikir gue nggak bisa ketemu lo,” kata Samuel manis. Yang langsung membuat Linzie ingin berada di tempat lain, di mana pun selain di dekat cowok itu. Anehnya, senyum cowok itu yang tampak tulus dan tidak dibuat-buat kok bikin perut Linzie serasa di jungkir balik ya? Linzie yakin kebenciannya pasti sudah mencapai tingkat abnormal karena reaksinya sudah berlebihan begitu.
            Di samping itu, Linzie sudah terjebak. Ia tidak bisa kabur dan pura-pura tidak melihat cowok itu. Bagaimanapun Linzie naik sepeda sedangkan cowok itu naik mobil! Sungguh nggak adil!
            Samuel tersenyum, dalam hati menghitung bahwa ia memenangkan ronde itu. Kini tinggal langkah selanjutnya. Ia yakin kali ini nggak akan gagal seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Samuel yakin Dewi Fortuna ada di pihaknya kali ini. I’ll get you, batin Samuel penuh kemenangan.
            Samuel menatap Linzie, masih memamerkan senyum manisnya. Meskipun dalam hati tak kunjung ia tertawa penuh kemenangan. Apalagi ketika melihat tampang terpojok Linzie, sungguh tiada tandingannya! Samuel merasa di atas angin melihat keputusasaan membayang di mata Linzie.
            “Gimana kalau kita ngobrol di taman depan sana?” tanya Samuel.
            Linzie memutar otak untuk menolak alasan itu. Dia nggak mau dekat-dekat apalagi ngobrol sama cowok di depannya itu! Linzie jengkel banget melihat kilat kemenangan di mata Samuel. Dan godaan untuk menghapuskan senyum angkuh di wajah cowok itu!
            “Sorry, tapi gue harus buru-buru pulang! Gue masih ada janji sama nyokap gue,” kata Linzie beralasan.
            “Kalau gitu bareng gue aja,” tawaran Samuel membuat Linzie memutar otak. Ah, sepedanya.
            Dengan senyum yang tak kalah manisnya Linzie pun menolak. “Gue kan bawa sepeda. Lagian, gue nggak lihat tempat buat menaruh sepeda gue di mobil lo,” kata Linzie.
            Samuel tak kehilangan akal. Dia mengusulkan agar mereka balik ke cafe dan menitipkan sepeda Linzie di sana. Linzie langsung menolak, beralasan kalau sepeda itu terlalu penting buatnya untuk ditinggal-tinggal sembarangan. Alhasil perdebatan itu terus memanas dan keduanya sama-sama tak mau mengalah. Mata mereka terkunci dalam sihir yang membuat keduanya tidak mau berpaling. Salah satu tak mau kalah dari yang lainnya. Akhirnya, sebagai seorang cowok sejati, Samuel mengalah. Membuat Linzie memekik girang dalam hati.
            “Ok, anggap kali ini gue kurang beruntung. Gue harap besok kita bisa ngobrol di sekolah,” kata Samuel.
            “Ya… semoga aja,” kata Linzie sambil lalu. “Oke, cukup ngobrolnya, gue duluan! Bubbye!” kata Linzie dan melambai, kemudian mulai mengayuh sepedanya dengan santai.
            Samuel menatap kepergian Linzie dengan penuh rasa ingin tau. Samuel yakin Linzie cuma beralasan, tapi entah kenapa Samuel justru membiarkan Linzie merasa menang. Masih banyak waktu untuk mencari tau. Samuel akan pastikan cewek itu menyadari pesonanya. Dan jika saat itu tiba, cewek itu akan memohon agar Samuel memberinya perhatian. Hmm, Samuel tak sabar melancarkan serangan berikutnya.
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar