Di luar dugaan, segalanya berjalan lancar. Inka
mulai PDKT dengan Arya, bahkan mereka sudah tukaran nomor ponsel. Chika merasa
bangga bukan main. Ternyata jadi mak comblang itu nggak terlalu susah ya.
Apalagi kalau kliennya juga punya semangat juang yang tinggi. Chika merasa
telah menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Mungkin satu atau dua
penyelidikan lagi tidak akan masalah. Penting baginya untuk tau apakah Arya
memang cowok baik-baik. Chika kan tidak mau Inka di kemplang dengan pedang
kendo atau apa jika temannya itu berbuat salah. Tapi ngomong-ngomong soal
masalah, Chika cukup berhasil menghindarinya seperti saran Rafhael. Wah, suatu
kemajuan!
Atas
permintaan Inka yang ingin mengajaknya saat nonton latihan Arya di gedung serba
guna, Chika terpaksa pulang lebih lambat ketimbang Linzie dan Keisha. Lagipula
mereka pulang dengan pacar mereka masing-masing. Jadi tidak masalah jika Chika
pulang belakangan. Toh, sekolah masih ramai dengan adanya ekskul.
Chika
duduk sambil bertopang dagu, menunggu di kursi penonton saat Inka menghampiri
Arya. Mereka tampak akrab, Chika melambai ketika Arya tersenyum ke arahnya.
Hebat, belum ada dua minggu tapi perkembangan hubungan mereka sudah maju pesat.
Apa Chika juga bisa seperti itu ya?
Gimana rasanya pacaran? Chika sama
sekali tidak tau karena dia tidak pernah pacaran. Ia membuka sebungkus lolipop
dan mulai mengulumnya, sementara pikirannya bergerilya ke mana-mana. Merasa
bosan, Chika pun memutuskan turun dan melihat-lihat. Tapi ia juga dengan cepat
merasa bosan.
Kemudian ia minta undur diri sama
Inka, ia mungkin bisa menengok kucing yang dulu ia selamatkan. Iya, Chika
jarang menengoknya. Heran juga kucing itu masih di sana. Mungkin karena dia
tidak punya tempat tujuan. Tapi Chika penasaran dari mana kucing itu
mendapatkan makanan. Soalnya Chika pernah beberapa kali menemukan sisa-sisa
remah roti di dekat kardus.
Chika sampai di taman belakang dan
ternganga menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Ia
mengucek-ngucek matanya, namun saat dibuka kembali, pemandangannya masih sama.
Hehe, Chika mulai cengengesan dan mengendap-endap mendekati pohon yang
memberikan pemandangan lucu itu. Oh, bukan pohonnya tentu saja. Melainkan siapa
yang bersandar di pohon itu dengan mata tertutup. Dengan anak kucing yang
tertidur melingkar di pangkuan.
Chika
menutup mulutnya, takut cekikikannya membangunkan Rafhael. Si anak kucing
menggelihat kemudian menguap. Chika juga jadi ingin memeluknya. Anak kucingnya
ya, bukan Rafhaelnya. Chika langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya. Mengatur sudut
yang tepat dan mengabadikan moment manis itu. Chika tersenyum-senyum sendiri.
Rafhael terlihat lucu kalau tidur. Tidak ada kerutan di antara alis, tidak ada
bibir yang cemberut, dan tidak ada kata-kata pedas yang terlontar.
Chika
memasukkan kembali ponselnya dan berjongkok setengah meter di depan Rafhael..
Dia memperhatikan Rafhael dengan seksama. Rafhael memang cakep abis. Chika
nggak heran kalau penggemarnya banyak. Tapi kok sampai saat ini Rafhael belum
punya pacar ya? Dari cerita Samuel dan Jeremy, Rafhael itu tidak bisa berada
dalam ikatan permanen lebih dari seminggu. Sehingga Rafhael lebih memilih jalan
dengan cewek-cewek yang tidak menuntut komitmen. Chika menebak-nebak,
mungkinkah Rafhael pernah disakiti?
Rafhael
merasa gelisah dalam tidurnya. Ia merasa seolah-olah sedang diperhatikan.
Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan Rafhael seketika berteriak kaget lalu
terjungkal ke samping ketika melihat Chika berjongkok tak jauh di depannya.
“Lo
nggak apa-apa??” tanya Chika.
Rafhael
masih menyumpah-nyumpah. Siapa sangka dia akan melihat Chika ketika terbangun
dari tidurnya? Mana jaraknya nggak sampai setengah meter jauhnya lagi!
“Lo
tuh suka lihat gue jantungan ya?!” ketus Rafhael. “Ngapain sih lo di sini?
Bukannya pulang,” sungutnya lagi.
Chika
memungut si anak kucing dan menyentuhkannya ke pipi. Dia bahkan tidak
mendengarkan pertanyaan Rafhael. Ia sudah terlalu asik dengan binatang kecil
nan imut itu. Rafhael pun menyerah dan kembali melanjutkan menggerutu sambil
memperhatikan Chika yang mulai bermain-main dengan si anak kucing. Rafhael
menghela napas. Sepertinya percuma bicara. Kata-katanya takkan didengar.
Melihat betapa senangnya Chika bermain dengan si kucing kecil, dipastikan biar
pun Rafhael ngoceh sampai jontor juga nggak akan digubris oleh Chika.
“Chika
nggak tau kalau lo suka ke sini nengok Kitty,” kata Chika tiba-tiba
“Hah?”
tanya Rafhael.
“Lo
kan yang ngasih makan Kitty? Setiap gue datang ke sini, si Kitty pasti udah
makan,” kata Chika sambil menggaruk telinga si kucing.
“Siapa
bilang?! Gue baru ke sini. Gue cuma cari tempat tenang!” tukas Rafhael, tapi
tak urung pipinya memerah.
Chika
mengangkat tatapannya sedikit dan tersenyum menanggapinya. Ia kembali
bermain-main dengan kucingnya. Kemudian setelah beberapa lama, ia mengembalikan
kucing itu ke dalam kardus.
“Bubbye,
kucing manis. Besok kita ketemu lagi ya,” kata Chika. Kemudian dia berbalik ke
arah Rafhael. “Gue duluan ya. Gue udah kelamaan di sekolah,” kata Chika sembari
melambai.
Rafhael
bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk debu dari celananya. “Pulang sama siapa
lo?” tanyanya sambil lalu ketika mengambil tasnya.
“Nggak
tau. Mungkin naik bis?” kata Chika sambil angkat bahu kemudian mulai berjalan
pergi.
Rafhael
menghela napas. Kenapa dia nggak bisa membiarkan saja cewek itu ya? Tapi
pikiran tentang kemungkinan Chika terlibat dalam masalah malah membuatnya makin
tidak tenang. Pada akhirnya ia kembali menghela napas dan menerima nasib
sialnya.
“Gue
antar lo pulang deh,” katanya.
Chika
berbinar-binar. “Serius?? Naik motor lagi?” tanyanya senang.
“Ya,
serius,” sahut Rafhael setengah hati.
“Makasih!”
kata Chika sambil menggandeng lengan Rafhael. “Gue memang belum kepikiran mau
pulang naik apa. Harusnya gue udah pulang dari tadi, tapi karena harus nemenin
Inka PDKT ke Arya, gue terpaksa pulang telat. Padahal gue biasanya bareng Kei
atau Zizi. Jujur gue agak takut pulang sendirian. Lo ingat kan kejadian Jemy
diserang preman? Hiiey… tiap ingat itu, gue jadi nggak berani nunggu di halte
sendirian! Ditambah lagi kan tingkat kejahatan lagi tinggi-tingginya. Belum
lagi...” Chika terus mengoceh hingga mereka sampai di parkiran dan Rafhael
terpaksa membuatnya diam dengan meletakkan jarinya di bibir Chika.
“Kalau
lo mau diam barang 30 menit aja, gue akan mengantar lo pulang dengan selamat,” kata
Rafhael dengan kesabaran 0,01%.
Chika
melirik jari Rafhael yang ada di bibirnya. Ia mengedip-ngedip. Chika nggak tau
harus menjawab apa. Kenapa otaknya tiba-tiba tumpul ya? Ia coba memikirkan
sesuatu untuk diucapkan. Tapi apa pertanyaan Rafhael tadi? ia sama sekali nggak
bisa mengingatnya. Jadi pada akhirnya ia cuma mengangguk.
“Bagus,”
sahut Rafhael dan menarik tangannya.
Chika
menunduk, entah kenapa kok tiba-tiba merasa malu. Ia menyentuh kedua pipinya
yang terasa panas. Tanda-tanda sakit kali ya? pikirnya bingung. Ia memang
gampang sakit sih, apa lagi belakangan ini kan cuacanya memang agak nggak
menentu. Pasti Chika mau flu deh. Cika pun merapatkan jaketnya.
Kemudian
Rafhael membantunya naik ke motornya. Chika ragu-ragu sebelum melingkarkan
tangannya di pinggang Rafhael. Ketika motor melaju, ia masih ragu-ragu.
Sebelumnya ia sudah pernah dibonceng oleh Rafhael, tapi ia tak merasa segugup
ini. Chika mengatur pernapasannya supaya ia lebih tenang. Kemudian, ia
mencoba-coba bersandar di punggung Rafhael yang lebar. Hmm, nyaman sekali.
Chika tersenyum-senyum sendiri.
“Jangan
tidur!” terdengar perintah Rafhael dibalik deru motor. Chika mengeratkan
pelukannya sebagai jawaban dan kembali bersandar dengan nyaman. Senyum
tersungging di bibirnya, entah kenapa ia merasa senang…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar