Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #3


Di luar dugaan, segalanya berjalan lancar. Inka mulai PDKT dengan Arya, bahkan mereka sudah tukaran nomor ponsel. Chika merasa bangga bukan main. Ternyata jadi mak comblang itu nggak terlalu susah ya. Apalagi kalau kliennya juga punya semangat juang yang tinggi. Chika merasa telah menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Mungkin satu atau dua penyelidikan lagi tidak akan masalah. Penting baginya untuk tau apakah Arya memang cowok baik-baik. Chika kan tidak mau Inka di kemplang dengan pedang kendo atau apa jika temannya itu berbuat salah. Tapi ngomong-ngomong soal masalah, Chika cukup berhasil menghindarinya seperti saran Rafhael. Wah, suatu kemajuan!
            Atas permintaan Inka yang ingin mengajaknya saat nonton latihan Arya di gedung serba guna, Chika terpaksa pulang lebih lambat ketimbang Linzie dan Keisha. Lagipula mereka pulang dengan pacar mereka masing-masing. Jadi tidak masalah jika Chika pulang belakangan. Toh, sekolah masih ramai dengan adanya ekskul.
            Chika duduk sambil bertopang dagu, menunggu di kursi penonton saat Inka menghampiri Arya. Mereka tampak akrab, Chika melambai ketika Arya tersenyum ke arahnya. Hebat, belum ada dua minggu tapi perkembangan hubungan mereka sudah maju pesat. Apa Chika juga bisa seperti itu ya?
            Gimana rasanya pacaran? Chika sama sekali tidak tau karena dia tidak pernah pacaran. Ia membuka sebungkus lolipop dan mulai mengulumnya, sementara pikirannya bergerilya ke mana-mana. Merasa bosan, Chika pun memutuskan turun dan melihat-lihat. Tapi ia juga dengan cepat merasa bosan.
            Kemudian ia minta undur diri sama Inka, ia mungkin bisa menengok kucing yang dulu ia selamatkan. Iya, Chika jarang menengoknya. Heran juga kucing itu masih di sana. Mungkin karena dia tidak punya tempat tujuan. Tapi Chika penasaran dari mana kucing itu mendapatkan makanan. Soalnya Chika pernah beberapa kali menemukan sisa-sisa remah roti di dekat kardus.
            Chika sampai di taman belakang dan ternganga menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Ia mengucek-ngucek matanya, namun saat dibuka kembali, pemandangannya masih sama. Hehe, Chika mulai cengengesan dan mengendap-endap mendekati pohon yang memberikan pemandangan lucu itu. Oh, bukan pohonnya tentu saja. Melainkan siapa yang bersandar di pohon itu dengan mata tertutup. Dengan anak kucing yang tertidur melingkar di pangkuan.
            Chika menutup mulutnya, takut cekikikannya membangunkan Rafhael. Si anak kucing menggelihat kemudian menguap. Chika juga jadi ingin memeluknya. Anak kucingnya ya, bukan Rafhaelnya. Chika langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya. Mengatur sudut yang tepat dan mengabadikan moment manis itu. Chika tersenyum-senyum sendiri. Rafhael terlihat lucu kalau tidur. Tidak ada kerutan di antara alis, tidak ada bibir yang cemberut, dan tidak ada kata-kata pedas yang terlontar.
            Chika memasukkan kembali ponselnya dan berjongkok setengah meter di depan Rafhael.. Dia memperhatikan Rafhael dengan seksama. Rafhael memang cakep abis. Chika nggak heran kalau penggemarnya banyak. Tapi kok sampai saat ini Rafhael belum punya pacar ya? Dari cerita Samuel dan Jeremy, Rafhael itu tidak bisa berada dalam ikatan permanen lebih dari seminggu. Sehingga Rafhael lebih memilih jalan dengan cewek-cewek yang tidak menuntut komitmen. Chika menebak-nebak, mungkinkah Rafhael pernah disakiti?
            Rafhael merasa gelisah dalam tidurnya. Ia merasa seolah-olah sedang diperhatikan. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan Rafhael seketika berteriak kaget lalu terjungkal ke samping ketika melihat Chika berjongkok tak jauh di depannya.
            “Lo nggak apa-apa??” tanya Chika.
            Rafhael masih menyumpah-nyumpah. Siapa sangka dia akan melihat Chika ketika terbangun dari tidurnya? Mana jaraknya nggak sampai setengah meter jauhnya lagi!
            “Lo tuh suka lihat gue jantungan ya?!” ketus Rafhael. “Ngapain sih lo di sini? Bukannya pulang,” sungutnya lagi.
            Chika memungut si anak kucing dan menyentuhkannya ke pipi. Dia bahkan tidak mendengarkan pertanyaan Rafhael. Ia sudah terlalu asik dengan binatang kecil nan imut itu. Rafhael pun menyerah dan kembali melanjutkan menggerutu sambil memperhatikan Chika yang mulai bermain-main dengan si anak kucing. Rafhael menghela napas. Sepertinya percuma bicara. Kata-katanya takkan didengar. Melihat betapa senangnya Chika bermain dengan si kucing kecil, dipastikan biar pun Rafhael ngoceh sampai jontor juga nggak akan digubris oleh Chika.
            “Chika nggak tau kalau lo suka ke sini nengok Kitty,” kata Chika tiba-tiba
            “Hah?” tanya Rafhael.
            “Lo kan yang ngasih makan Kitty? Setiap gue datang ke sini, si Kitty pasti udah makan,” kata Chika sambil menggaruk telinga si kucing.
            “Siapa bilang?! Gue baru ke sini. Gue cuma cari tempat tenang!” tukas Rafhael, tapi tak urung pipinya memerah.
            Chika mengangkat tatapannya sedikit dan tersenyum menanggapinya. Ia kembali bermain-main dengan kucingnya. Kemudian setelah beberapa lama, ia mengembalikan kucing itu ke dalam kardus.
            “Bubbye, kucing manis. Besok kita ketemu lagi ya,” kata Chika. Kemudian dia berbalik ke arah Rafhael. “Gue duluan ya. Gue udah kelamaan di sekolah,” kata Chika sembari melambai.
            Rafhael bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk debu dari celananya. “Pulang sama siapa lo?” tanyanya sambil lalu ketika mengambil tasnya.
            “Nggak tau. Mungkin naik bis?” kata Chika sambil angkat bahu kemudian mulai berjalan pergi.
            Rafhael menghela napas. Kenapa dia nggak bisa membiarkan saja cewek itu ya? Tapi pikiran tentang kemungkinan Chika terlibat dalam masalah malah membuatnya makin tidak tenang. Pada akhirnya ia kembali menghela napas dan menerima nasib sialnya.
            “Gue antar lo pulang deh,” katanya.
            Chika berbinar-binar. “Serius?? Naik motor lagi?” tanyanya senang.
            “Ya, serius,” sahut Rafhael setengah hati.
            “Makasih!” kata Chika sambil menggandeng lengan Rafhael. “Gue memang belum kepikiran mau pulang naik apa. Harusnya gue udah pulang dari tadi, tapi karena harus nemenin Inka PDKT ke Arya, gue terpaksa pulang telat. Padahal gue biasanya bareng Kei atau Zizi. Jujur gue agak takut pulang sendirian. Lo ingat kan kejadian Jemy diserang preman? Hiiey… tiap ingat itu, gue jadi nggak berani nunggu di halte sendirian! Ditambah lagi kan tingkat kejahatan lagi tinggi-tingginya. Belum lagi...” Chika terus mengoceh hingga mereka sampai di parkiran dan Rafhael terpaksa membuatnya diam dengan meletakkan jarinya di bibir Chika.
            “Kalau lo mau diam barang 30 menit aja, gue akan mengantar lo pulang dengan selamat,” kata Rafhael dengan kesabaran 0,01%.
            Chika melirik jari Rafhael yang ada di bibirnya. Ia mengedip-ngedip. Chika nggak tau harus menjawab apa. Kenapa otaknya tiba-tiba tumpul ya? Ia coba memikirkan sesuatu untuk diucapkan. Tapi apa pertanyaan Rafhael tadi? ia sama sekali nggak bisa mengingatnya. Jadi pada akhirnya ia cuma mengangguk.
            “Bagus,” sahut Rafhael dan menarik tangannya.
            Chika menunduk, entah kenapa kok tiba-tiba merasa malu. Ia menyentuh kedua pipinya yang terasa panas. Tanda-tanda sakit kali ya? pikirnya bingung. Ia memang gampang sakit sih, apa lagi belakangan ini kan cuacanya memang agak nggak menentu. Pasti Chika mau flu deh. Cika pun merapatkan jaketnya.
            Kemudian Rafhael membantunya naik ke motornya. Chika ragu-ragu sebelum melingkarkan tangannya di pinggang Rafhael. Ketika motor melaju, ia masih ragu-ragu. Sebelumnya ia sudah pernah dibonceng oleh Rafhael, tapi ia tak merasa segugup ini. Chika mengatur pernapasannya supaya ia lebih tenang. Kemudian, ia mencoba-coba bersandar di punggung Rafhael yang lebar. Hmm, nyaman sekali. Chika tersenyum-senyum sendiri.
            “Jangan tidur!” terdengar perintah Rafhael dibalik deru motor. Chika mengeratkan pelukannya sebagai jawaban dan kembali bersandar dengan nyaman. Senyum tersungging di bibirnya, entah kenapa ia merasa senang…
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar