Selasa, 02 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #5


Belakangan, hubungan Samuel dan Linzie makin dekat. Linzie sendiri kaget karena Samuel tidak pernah mengungkit-ungkit kejadian ketika ia menangis di depan cowok itu. Justru sikap Samuel semakin sopan. Dia tak lagi bersikap genit, hanya sesekali melempar kata-kata menggoda dan menghibur, yang sering kali membuat Linzie tersenyum atau bahkan tertawa. Linzie terkejut karena dirinya bisa tertawa bahkan bersikap santai didekat Samuel. Padahal Linzie tau kalau Samuel itu playboy, hanya saja, Linzie tak pernah lagi melihat cowok itu bergenit-genit ria dengan cewek-cewek yang mendekatinya.
            Samuel memang tetap ramah, tapi hanya sebatas itu. Tak ada lgi kata-kata manis merayu yang terlontar dari mulut cowok itu. Linzie pernah mengira kalau Samuel sakit, dan ketika ia mengutarakan hal itu, ia malah ditertawakan oleh Samuel.
            “Gue nggak sakit. Tapi gue cuma bakal ngerayu elo. Supaya elo cepat-cepat ngasih gue lampu hijau, nggak mentok di lampu kuning aja,” kata Samuel ketika itu. Sukses membuat pipi Linzie terbakar.
            Kali lainnya, Samuel dengan manisnya memberikan sekotak cokelat pada Linzie. Lalu pernah juga menawarkan diri untuk membantu di cafe Daniel. Linzie sempat membayangkan Samuel jadi waitress atau bartender di cafe kakaknya, pasti akan terjadi huru-hara deh. Jadi cepat-cepat ia menolak. Bukannya marah, Samuel hanya mengangkat bahu.
           Siang itu, Linzie, Keisha dan Chika sedang belajar di cafe Daniel. Di tempat langganan mereka, sofa pojokan.
            “Jadi sekarang lo malah jadi dekat sama Sam?” kata Keisha, dengan mata masih tertuju pada buku paketnya.
          Linzie mengernyit, tapi tetap mengangguk. “Ya, gue rasa begitu. Dia kelihatan tulus mau berteman sama gue,” kata Linzie
            “Bukannya dia niatnya ngejadiin lo ceweknya? Udah berubah pikiran?” tanya Keisha lagi.
            “Nggak juga sih. Dia masih sering membahas hal itu,” kata Linzie, kemudian menghela napas. “Tapi gue nggak mau. Gue belum siap untuk percaya sama cwok sampai sebesar itu. Gue cuma bisa menawarkan pertemanan.”
            “Tapi? Perasaan lo ke dia gimana?” tanya Keisha lagi, kali ini matanya menatap Linzie.
            “Perasaan gue? Kenapa lo pingin tau perasaan gue?” Linzie terdiam sejenak kemudian mengalihkan pandangannya. “Gue jelas nggak punya perasaan apa-apa sama dia,” sahutnya pelan.
            Keisha menatap Linzie sejenak, kemudian beralih kembali pada buku. Namun jelas-jelas ia tak percaya pada kata-kata Linzie.
            Kemudian Linzie mengalihkan tatapannya pada Chika yang sedang memesan minuman di bar pada Indra. Ia tampak sedang mengobrol seru. Lalu pintu cafe terbuka dan Samuel serta Rafhael muncul. Saraf Linzie langsung kaku. Ia seketika menunduk dan menyibukkan diri dengan bukunya. Astaga, ngapain coba tuh cowok ke sini? Dan astaga kuadrat, kenapa Linzie malah pingin ngumpet?
            Chika masih asik ngbrol dengan Indra sehingga tidak menyadari kehadiran dua cowok keren itu.
            “Chi, Linzie mana?” pertanyaan Samuel itu membuat Chika melonjak kaget.
            “Astaga, Sammy!! Lo bisa kok nggak ngagetin Chika! Jantung Chika mau loncat tau!!” omel Chika.
            Samuel meringis mendengar suara nyaring Chika. Ia mengerling peda Rafhael yang menaikkan alis terkejut. Samuel menyeringai, tampaknya ada orang lain yang juga merasa jengkel dengan teman Linzie yang satu ini.
            “Sorry, Linzie mana? Kebetulan gue lewat nih,” kata Samuel.
            “Zizi? Tuh di belakang sama Kei. Lagi belajar. Ini Chika lagi ambil minum,” kata Chika santai. Kemudian dia menatap Rafhael. Dan Samuel lalu mengenalkan mereka.
            “Ohh, lo punya teman yang cakep-cakep ya! Gue taunya cuma dari gosip atau cerita Zizi sih. Tapi ternyata memang beneran,” kata Chika riang sambil melempar senyum ke arah Rafhael. “Oh iya, Zizi!” kata Chika teringat. Kemudian ia menoleh ke arah bilik di pojokan.
            Samuel langsung mengerling Rafhael dan menyuruh cowok itu tutup kuping.
            “Kenap…?” belum selesai pertanyaan Rafhael, seruan Chika sudah terdengar. Membuat telinganya berdenging. Untung cafĂ© cukup sepi.
            “Ziziiiiii!! Ada Sammy niiih!!” seru Chika.
            Samuel menyeringai melihat Rafhael mengerjap-ngerjapkan mata, kelihatan sedang mengumpulkan nyawanya yang terbang entah ke mana. Kemudian mendengar cowok itu menggerutu agar memperingatkannya lebih awal.
            Linzie yang dengan enggan pun menemui Samuel. Ia setengah cemberut. “Chi... lo kalau mau bikin semua orang di sini budek, mending pulang aja deh!” sungut Linzie.
            “Ups… maaf... Gue lupa, hehe,” kata Chika cengengesan.
            Kemudian Chika meninggalkan Linzie dengan santainya. Menghampiri Keisha yang menatap penuh arti ke arah Linzie.
            Setelahnya, Linzie terpaksa mengobrol bersama Samuel. Memaksa Keisha dan Chika bergabung bersama mereka. Tapi tak berapa lama, Keisha mengundurkan diri. Kemudian Chika juga ikut-ikutan. Tapi Linzie menahan agar Chika pulang dengannya. Atau nebeng sama Indra. Chika sih oke-oke aja, jadi dia tak sadar telah menjadi pengganggu PDKT Samuel.
            “Gue kira udah lebih lancar,” komentar Rafhael. Yang mendapat hadiah lirikan ganas dari Samuel.
            “Apanya yang lancar?” tanya Chika.
            “Bukan apa-apa,”sahut Samuel sambil menatap penuh arti pada Rafhael.
            “Oke, gue pulang deh! Kayaknya gue mengganggu,” kata Rafhael.
            Chika menatap bergantian ke arah Rafhael yang sudah bangkit dan tatapan Samuel yang penuh arti. Butuh waktu lama bagi Chika untuk mengerti isyarat Samuel. Kemudian dia juga pamit pulang. Tak mengindahkan kata-kata Linzie dan bilang akan menyetop taksi untuk pulang. Kemudian dengan berisiknya dia kabur. Linzie mengutuk dalam hati. Berjanji akan membuat perhitungan nanti.
                                                                        ***
            Chika yang sebenarnya tidak mengerti-mengerti banget dengan situasi tadi, berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Ia mengayunkan kaki kanannya maju mundur untuk menghabiskan waktu. Ah, coba tadi pulang bareng Keisha. Chika jadi menyesal.
            Kemudian sebuah motor berhenti di depan Chika. Begitu si pengendara motor membuka kaca helmnya, baru Chika mengenali itu Rafhael.
            “Wah, Rafha! Lo naik motor ya?” kata Chika. Ia memperhatikan motor Rafhael dengan penuh minat. Ia belum pernah naik motor sih.
            “Lo ngapain di sini?” tanya Rafhael, padahal jawabannya sudah jelas.
            “Nunggu taksi,” sahut Chika polos. Sebagai bukti, dia langsung nengok kanan-kiri. “Abis tadi gue lihat kayaknya Sammy pingin ngomong berdua sama Zizi. Jadi gue ikut undur diri deh!” kata Chika. Lalu ia bertanya pada Rafhael mengenai arti isyarat Samuel tadi.
            “Gue pikir dia mau ngomong hal yang pribadi,” sahut Rafhael.
            Mata Chika membulat. “Oh ya?? Wah... waahhh...” Chika tampak berbinar-binar. “Untung deh gue pulang!” kata Chika. Kemudian ia mengerutkan kening dan menatap Rafhael. “Lo kok masih di sini?” tanyanya bingung.
            Buseet dah! Nih cewek kayak bunglon aja. Cepat banget ganti ekspresinya, batin Rafhael.
“Gue tadi udah mau pulang, terus gue lihat lo lagi berdiri di sini. Gue pikir lo mau gue anterin pulang?” kata Rafhael.
            “Nganterin Chika??” tanya Chika. “Tapi ngerepotin donk? Rumah Chika nggak dekat lho,” kata Chika.
            Rafhael menanyakan alamat rumah Chika, kemudian Chika menyebutkan alamatnya.
            “Gue searah sama elo. Rumah gue daerah situ juga,” kata Rafhael. “Ayo naik! Sekalian gue anterin deh!”
            “Gue belum pernah naik motor,” kata Chika.
            “Nggak ada aturan khusus!” kata Rafhael, kemudian dia terpaksa menjelaskan secara singkat pada Chika agar cewek itu tidak banyak tanya. Tapi belakangan Rafhael mulai menyesal menawarkaan diri karena ternyata Chika sangat bawel!! Dia terpaksa menahan gondok ketika Chika tak henti-hentinya bertanya-tanya padanya. Sumpah, Samuel hutang budi padanya karena telah membantu menyingkirkan makhluk ini di saat-saat kritis tadi.
            Sementara itu di dalam cafe, keheningan merebak ketika Chika dan Rafhael pergi. Linzie berusaha terlihat santai dengan memain-mainkan sedotannya dan mengalihkan perhatiannya ke arah bar. Tempat Indra sedang mengelap gelas. Linzie jadi tergoda untuk membantunya, asal bisa lepas dari keharusan berduaan dengan Samuel.
            “Zi,” panggilan Samuel membuat Linzie keluar dari pikirannya.
            “Ya?” sahut Linzie.
            “Boleh gue to the point?” tanya Samuel.
            “To the point soal apa?” kening Linzie berkerut. Ditatapnya Samuel dengan tatapan waswas. Membalas tatapan serius Samuel.
            “Gue mau tau gimana perasaan lo ke gue,” kata Samuel. “Sejak awal gue kan udah menunjukkan maksud gue sama elo. Sekarang gue ingin kepastian dari lo,” kata Samuel, sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Linzie.
            Ia sudah mempertaruhkan semua kartunya di sini. Ia takkan mau gagal hanya karena Linzie tidak yakin padanya. Ia sudah menghabiskan waktu sebulan untuk mendekati Linzie, dan ia mulai tak sabar. Ia tak suka ketika teman-temannya terus mendesaknya bertindak. Lagipula Linzie jauh lebih baik dari yang Samuel harapkan. Tak apa jika memang ia harus nembak cewek itu. Toh, selalu ada yang pertama dalam setiap hal. Dan untuk pertama kalinya seorang Samuel nembak cewek dengan serius begini.
            “Kepastian apa maksud lo?” tanya Linzie hati-hati.
            “Gue mau lo jadi cewek gue, Zi. Gue nggak bisa kalau cuma sekadar teman sama lo,” kata Samuel lugas.
            Mata Linzie membulat maksimal. Apa? Samuel barusan nembak dia? Beneran nembak?? Seorang Samuel?? Linzie sama sekali tak percaya dengan apa yg baru saja didengarnya. Tidak mungkin Samuel serius padanya. Linzie yakin cowok itu cuma main-main selama ini. Tapi ketika Linzie tak menemukan secercah pun keraguan di mata Samuel, kepanikan langsung melandanya. Ia menggeleng.
            “Gue yakin lo nggak serius… Lo nggak mungkin serius sama gue, Sam,” kata Linzie pelan.
            “Kenapa nggak mungkin?” tanya Samuel, sedikit tersinggung.
            “Karena ini elo! Elo nggak pernah serius sama cewek! Elo... selalu menganggap mereka selingan…” Linzie menggeleng-geleng. “Lo nggak mungkin serius... Nggak sama gue…” kata Linzie lemah. Terlalu shock untuk mengatakan hal lainnya yang lebih masuk akal.
            “Kenapa?! Selalu ada yang pertama kali dalam segala hal kan? Dan gue nggak main-main sama elo! Lo bisa lihat usaha gue sebulan ini kan? Lo pikir gue begitu kurang kerjaan sehingga gue mau nguntit elo ke mana-mana??” sahut Samuel tak habis pikir.
            “Tapi lo nggak mungkin serius!!” Linzie bersikeras. “Lo ingat? Lo awalnya menganggap gue ini tantangan!! Lo pasti jadiin gue bahan taruhan kan sama teman-teman lo?! Gue nggak semenyedihkan itu, Sam!!” kata Linzie keras, nyaris mendekati histeris. Ia tak bisa menerima kenyataan kalau Samuel memang serius. Ia tak percaya pada cowok itu.
            Samuel sedikit kaget ketika Linzie nyaris menebak dengan tepat apa rencana awalnya. Sehingga pembenaran itu sempat terlihat di matanya. Samuel menyadari kecerobohannya ketika melihat ekspresi terluka di mata Linzie. Gadis itu bangkit dengan kasar dari kursinya.
            “Gue butuh waktu sendirian. Tolong jangan temui gue sementara ini, Sam... Gue…” Linzie tak menyelesaikan kata-katanya dan langsung pergi ke belakang. Samuel bangkit dan mengejarnya namun Indra menghadangnya.
            “Minggir, gue perlu ngomong sama Linzie,” kata Samuel tajam.
            Indra menggeleng. “Orang luar dilarang masuk. Dan gue lihat Linzie lagi nggak mau diganggu. Jadi sebaiknya lo hormati permintaan dia dan pergi,” kata Indra tegas.
            Rahang Samuel mengencang. Butuh pengendalian diri tinggi untuk tidak menyingkirkan Indra dan membuat kerusuhan di cafe itu. Dengan gigi terkatup rapat ia berbalik dan keluar. Sesampainya di luar, Samuel berteriak frustasi. Ia masuk ke mobilnya dan membanting pintu mobil keras-keras. Ia menggebrak setir mobilnya, emosi.
            “SIALAAAN!!!” teriaknya kesal. Ia cuma ingin membuat Linzie takluk padanya. Itu kan rencananya sejak awal? Tapi kenapa ia merasa marah ketika tau Linzie tak bisa mempercayainya?? Bukankah taruhan itu tak melibatkan kepercayaan??! Lalu kenapa ia harus marah? Kenapa dadanya bergemuruh ketika melihat kepedihan di mata Linzie?
            “Sialll....” kata Samuel lemah. Ia meletakkan kepalanya di atas setir mobil. Merasakan keputusasaan. Apakah yang ia lakukan ini salah? Apa sebenarnya niatnya ketika menyatakan hal itu pada Linzie???
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar