Belakangan, hubungan Samuel dan Linzie makin dekat.
Linzie sendiri kaget karena Samuel tidak pernah mengungkit-ungkit kejadian
ketika ia menangis di depan cowok itu. Justru sikap Samuel semakin sopan. Dia
tak lagi bersikap genit, hanya sesekali melempar kata-kata menggoda dan
menghibur, yang sering kali membuat Linzie tersenyum atau bahkan tertawa.
Linzie terkejut karena dirinya bisa tertawa bahkan bersikap santai didekat
Samuel. Padahal Linzie tau kalau Samuel itu playboy,
hanya saja, Linzie tak pernah lagi melihat cowok itu bergenit-genit ria dengan
cewek-cewek yang mendekatinya.
Samuel
memang tetap ramah, tapi hanya sebatas itu. Tak ada lgi kata-kata manis merayu
yang terlontar dari mulut cowok itu. Linzie pernah mengira kalau Samuel sakit,
dan ketika ia mengutarakan hal itu, ia malah ditertawakan oleh Samuel.
“Gue
nggak sakit. Tapi gue cuma bakal ngerayu elo. Supaya elo cepat-cepat ngasih gue
lampu hijau, nggak mentok di lampu kuning aja,” kata Samuel ketika itu. Sukses
membuat pipi Linzie terbakar.
Kali
lainnya, Samuel dengan manisnya memberikan sekotak cokelat pada Linzie. Lalu
pernah juga menawarkan diri untuk membantu di cafe Daniel. Linzie sempat
membayangkan Samuel jadi waitress atau bartender di cafe kakaknya, pasti akan
terjadi huru-hara deh. Jadi cepat-cepat ia menolak. Bukannya marah, Samuel
hanya mengangkat bahu.
Siang
itu, Linzie, Keisha dan Chika sedang belajar di cafe Daniel. Di tempat
langganan mereka, sofa pojokan.
“Jadi
sekarang lo malah jadi dekat sama Sam?” kata Keisha, dengan mata masih tertuju
pada buku paketnya.
Linzie
mengernyit, tapi tetap mengangguk. “Ya, gue rasa begitu. Dia kelihatan tulus
mau berteman sama gue,” kata Linzie
“Bukannya
dia niatnya ngejadiin lo ceweknya? Udah berubah pikiran?” tanya Keisha lagi.
“Nggak
juga sih. Dia masih sering membahas hal itu,” kata Linzie, kemudian menghela
napas. “Tapi gue nggak mau. Gue belum siap untuk percaya sama cwok sampai
sebesar itu. Gue cuma bisa menawarkan pertemanan.”
“Tapi?
Perasaan lo ke dia gimana?” tanya Keisha lagi, kali ini matanya menatap Linzie.
“Perasaan
gue? Kenapa lo pingin tau perasaan gue?” Linzie terdiam sejenak kemudian
mengalihkan pandangannya. “Gue jelas nggak punya perasaan apa-apa sama dia,” sahutnya
pelan.
Keisha
menatap Linzie sejenak, kemudian beralih kembali pada buku. Namun jelas-jelas
ia tak percaya pada kata-kata Linzie.
Kemudian
Linzie mengalihkan tatapannya pada Chika yang sedang memesan minuman di bar
pada Indra. Ia tampak sedang mengobrol seru. Lalu pintu cafe terbuka dan Samuel
serta Rafhael muncul. Saraf Linzie langsung kaku. Ia seketika menunduk dan
menyibukkan diri dengan bukunya. Astaga, ngapain coba tuh cowok ke sini? Dan
astaga kuadrat, kenapa Linzie malah pingin ngumpet?
Chika
masih asik ngbrol dengan Indra sehingga tidak menyadari kehadiran dua cowok
keren itu.
“Chi,
Linzie mana?” pertanyaan Samuel itu membuat Chika melonjak kaget.
“Astaga,
Sammy!! Lo bisa kok nggak ngagetin Chika! Jantung Chika mau loncat tau!!” omel
Chika.
Samuel
meringis mendengar suara nyaring Chika. Ia mengerling peda Rafhael yang
menaikkan alis terkejut. Samuel menyeringai, tampaknya ada orang lain yang juga
merasa jengkel dengan teman Linzie yang satu ini.
“Sorry,
Linzie mana? Kebetulan gue lewat nih,” kata Samuel.
“Zizi?
Tuh di belakang sama Kei. Lagi belajar. Ini Chika lagi ambil minum,” kata Chika
santai. Kemudian dia menatap Rafhael. Dan Samuel lalu mengenalkan mereka.
“Ohh,
lo punya teman yang cakep-cakep ya! Gue taunya cuma dari gosip atau cerita Zizi
sih. Tapi ternyata memang beneran,” kata Chika riang sambil melempar senyum ke
arah Rafhael. “Oh iya, Zizi!” kata Chika teringat. Kemudian ia menoleh ke arah
bilik di pojokan.
Samuel
langsung mengerling Rafhael dan menyuruh cowok itu tutup kuping.
“Kenap…?”
belum selesai pertanyaan Rafhael, seruan Chika sudah terdengar. Membuat
telinganya berdenging. Untung café cukup sepi.
“Ziziiiiii!!
Ada Sammy niiih!!” seru Chika.
Samuel
menyeringai melihat Rafhael mengerjap-ngerjapkan mata, kelihatan sedang
mengumpulkan nyawanya yang terbang entah ke mana. Kemudian mendengar cowok itu
menggerutu agar memperingatkannya lebih awal.
Linzie
yang dengan enggan pun menemui Samuel. Ia setengah cemberut. “Chi... lo kalau
mau bikin semua orang di sini budek, mending pulang aja deh!” sungut Linzie.
“Ups…
maaf... Gue lupa, hehe,” kata Chika cengengesan.
Kemudian
Chika meninggalkan Linzie dengan santainya. Menghampiri Keisha yang menatap
penuh arti ke arah Linzie.
Setelahnya,
Linzie terpaksa mengobrol bersama Samuel. Memaksa Keisha dan Chika bergabung
bersama mereka. Tapi tak berapa lama, Keisha mengundurkan diri. Kemudian Chika
juga ikut-ikutan. Tapi Linzie menahan agar Chika pulang dengannya. Atau nebeng
sama Indra. Chika sih oke-oke aja, jadi dia tak sadar telah menjadi pengganggu PDKT
Samuel.
“Gue
kira udah lebih lancar,” komentar Rafhael. Yang mendapat hadiah lirikan ganas
dari Samuel.
“Apanya
yang lancar?” tanya Chika.
“Bukan
apa-apa,”sahut Samuel sambil menatap penuh arti pada Rafhael.
“Oke,
gue pulang deh! Kayaknya gue mengganggu,” kata Rafhael.
Chika
menatap bergantian ke arah Rafhael yang sudah bangkit dan tatapan Samuel yang
penuh arti. Butuh waktu lama bagi Chika untuk mengerti isyarat Samuel. Kemudian
dia juga pamit pulang. Tak mengindahkan kata-kata Linzie dan bilang akan
menyetop taksi untuk pulang. Kemudian dengan berisiknya dia kabur. Linzie
mengutuk dalam hati. Berjanji akan membuat perhitungan nanti.
***
Chika
yang sebenarnya tidak mengerti-mengerti banget dengan situasi tadi, berdiri di
pinggir jalan menunggu taksi lewat. Ia mengayunkan kaki kanannya maju mundur
untuk menghabiskan waktu. Ah, coba tadi pulang bareng Keisha. Chika jadi
menyesal.
Kemudian
sebuah motor berhenti di depan Chika. Begitu si pengendara motor membuka kaca
helmnya, baru Chika mengenali itu Rafhael.
“Wah,
Rafha! Lo naik motor ya?” kata Chika. Ia memperhatikan motor Rafhael dengan
penuh minat. Ia belum pernah naik motor sih.
“Lo
ngapain di sini?” tanya Rafhael, padahal jawabannya sudah jelas.
“Nunggu
taksi,” sahut Chika polos. Sebagai bukti, dia langsung nengok kanan-kiri. “Abis
tadi gue lihat kayaknya Sammy pingin ngomong berdua sama Zizi. Jadi gue ikut
undur diri deh!” kata Chika. Lalu ia bertanya pada Rafhael mengenai arti
isyarat Samuel tadi.
“Gue
pikir dia mau ngomong hal yang pribadi,” sahut Rafhael.
Mata
Chika membulat. “Oh ya?? Wah... waahhh...” Chika tampak berbinar-binar. “Untung
deh gue pulang!” kata Chika. Kemudian ia mengerutkan kening dan menatap
Rafhael. “Lo kok masih di sini?” tanyanya bingung.
Buseet
dah! Nih cewek kayak bunglon aja. Cepat banget ganti ekspresinya, batin
Rafhael.
“Gue tadi udah mau pulang, terus gue lihat lo lagi
berdiri di sini. Gue pikir lo mau gue anterin pulang?” kata Rafhael.
“Nganterin
Chika??” tanya Chika. “Tapi ngerepotin donk? Rumah Chika nggak dekat lho,” kata
Chika.
Rafhael
menanyakan alamat rumah Chika, kemudian Chika menyebutkan alamatnya.
“Gue
searah sama elo. Rumah gue daerah situ juga,” kata Rafhael. “Ayo naik! Sekalian
gue anterin deh!”
“Gue
belum pernah naik motor,” kata Chika.
“Nggak
ada aturan khusus!” kata Rafhael, kemudian dia terpaksa menjelaskan secara
singkat pada Chika agar cewek itu tidak banyak tanya. Tapi belakangan Rafhael
mulai menyesal menawarkaan diri karena ternyata Chika sangat bawel!! Dia
terpaksa menahan gondok ketika Chika tak henti-hentinya bertanya-tanya padanya.
Sumpah, Samuel hutang budi padanya karena telah membantu menyingkirkan makhluk
ini di saat-saat kritis tadi.
Sementara
itu di dalam cafe, keheningan merebak ketika Chika dan Rafhael pergi. Linzie
berusaha terlihat santai dengan memain-mainkan sedotannya dan mengalihkan
perhatiannya ke arah bar. Tempat Indra sedang mengelap gelas. Linzie jadi
tergoda untuk membantunya, asal bisa lepas dari keharusan berduaan dengan
Samuel.
“Zi,”
panggilan Samuel membuat Linzie keluar dari pikirannya.
“Ya?”
sahut Linzie.
“Boleh
gue to the point?” tanya Samuel.
“To
the point soal apa?” kening Linzie berkerut. Ditatapnya Samuel dengan tatapan
waswas. Membalas tatapan serius Samuel.
“Gue
mau tau gimana perasaan lo ke gue,” kata Samuel. “Sejak awal gue kan udah
menunjukkan maksud gue sama elo. Sekarang gue ingin kepastian dari lo,” kata
Samuel, sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Linzie.
Ia
sudah mempertaruhkan semua kartunya di sini. Ia takkan mau gagal hanya karena
Linzie tidak yakin padanya. Ia sudah menghabiskan waktu sebulan untuk mendekati
Linzie, dan ia mulai tak sabar. Ia tak suka ketika teman-temannya terus
mendesaknya bertindak. Lagipula Linzie jauh lebih baik dari yang Samuel
harapkan. Tak apa jika memang ia harus nembak cewek itu. Toh, selalu ada yang
pertama dalam setiap hal. Dan untuk pertama kalinya seorang Samuel nembak cewek
dengan serius begini.
“Kepastian
apa maksud lo?” tanya Linzie hati-hati.
“Gue
mau lo jadi cewek gue, Zi. Gue nggak bisa kalau cuma sekadar teman sama lo,” kata
Samuel lugas.
Mata
Linzie membulat maksimal. Apa? Samuel barusan nembak dia? Beneran nembak??
Seorang Samuel?? Linzie sama sekali tak percaya dengan apa yg baru saja
didengarnya. Tidak mungkin Samuel serius padanya. Linzie yakin cowok itu cuma
main-main selama ini. Tapi ketika Linzie tak menemukan secercah pun keraguan di
mata Samuel, kepanikan langsung melandanya. Ia menggeleng.
“Gue
yakin lo nggak serius… Lo nggak mungkin serius sama gue, Sam,” kata Linzie
pelan.
“Kenapa
nggak mungkin?” tanya Samuel, sedikit tersinggung.
“Karena
ini elo! Elo nggak pernah serius sama cewek! Elo... selalu menganggap mereka
selingan…” Linzie menggeleng-geleng. “Lo nggak mungkin serius... Nggak sama
gue…” kata Linzie lemah. Terlalu shock untuk mengatakan hal lainnya yang lebih
masuk akal.
“Kenapa?!
Selalu ada yang pertama kali dalam segala hal kan? Dan gue nggak main-main sama
elo! Lo bisa lihat usaha gue sebulan ini kan? Lo pikir gue begitu kurang
kerjaan sehingga gue mau nguntit elo ke mana-mana??” sahut Samuel tak habis
pikir.
“Tapi
lo nggak mungkin serius!!” Linzie bersikeras. “Lo ingat? Lo awalnya menganggap
gue ini tantangan!! Lo pasti jadiin gue bahan taruhan kan sama teman-teman lo?!
Gue nggak semenyedihkan itu, Sam!!” kata Linzie keras, nyaris mendekati
histeris. Ia tak bisa menerima kenyataan kalau Samuel memang serius. Ia tak
percaya pada cowok itu.
Samuel
sedikit kaget ketika Linzie nyaris menebak dengan tepat apa rencana awalnya.
Sehingga pembenaran itu sempat terlihat di matanya. Samuel menyadari
kecerobohannya ketika melihat ekspresi terluka di mata Linzie. Gadis itu
bangkit dengan kasar dari kursinya.
“Gue
butuh waktu sendirian. Tolong jangan temui gue sementara ini, Sam... Gue…” Linzie
tak menyelesaikan kata-katanya dan langsung pergi ke belakang. Samuel bangkit
dan mengejarnya namun Indra menghadangnya.
“Minggir,
gue perlu ngomong sama Linzie,” kata Samuel tajam.
Indra
menggeleng. “Orang luar dilarang masuk. Dan gue lihat Linzie lagi nggak mau
diganggu. Jadi sebaiknya lo hormati permintaan dia dan pergi,” kata Indra
tegas.
Rahang
Samuel mengencang. Butuh pengendalian diri tinggi untuk tidak menyingkirkan
Indra dan membuat kerusuhan di cafe itu. Dengan gigi terkatup rapat ia berbalik
dan keluar. Sesampainya di luar, Samuel berteriak frustasi. Ia masuk ke
mobilnya dan membanting pintu mobil keras-keras. Ia menggebrak setir mobilnya,
emosi.
“SIALAAAN!!!”
teriaknya kesal. Ia cuma ingin membuat Linzie takluk padanya. Itu kan
rencananya sejak awal? Tapi kenapa ia merasa marah ketika tau Linzie tak bisa
mempercayainya?? Bukankah taruhan itu tak melibatkan kepercayaan??! Lalu kenapa
ia harus marah? Kenapa dadanya bergemuruh ketika melihat kepedihan di mata
Linzie?
“Sialll....”
kata Samuel lemah. Ia meletakkan kepalanya di atas setir mobil. Merasakan
keputusasaan. Apakah yang ia lakukan ini salah? Apa sebenarnya niatnya ketika
menyatakan hal itu pada Linzie???
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar