Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #7


Kedekatan itu terjadi begitu saja. Tidak diperkirakan, apalagi diduga. Rafhael sendiri tidak menyangka akhirnya malah merasa sangat nyaman di dekat Chika. Chika periang dan apa adanya. Ia jujur dan selalu mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Meskipun kerap kali harus sering ditolong dari berbagai macam masalah yang dibuatnya, hal itu malah sudah seperti rutinitas bagi Rafhael. Chika sering berusaha membuatnya tertawa. Bahkan dengan jujur berkomentar kalau dirinya jarang tertawa.
            “Rafha jarang senyum apalagi ketawa kalau di dekat gue. Galaaaaak melulu! Sekali-sekali senyum donk!” begitu kata Chika waktu itu. Mau tak mau Rafhael mengakui salahnya yang memang gampang emosi. Siapa juga yang nggak emosi jika terus-terusan dilibatkan dalam masalah-masalah yang tidak punya sangkut paut dengan dirinya?
            Akan tetapi di lain sisi, Rafhael sudah lama tidak merasa senyaman ini. Biasanya cewek-cewek yang mendekatinya akan bersikap sok manis agar bisa menarik perhatiannya. Atau meminta ngedate dengannya sebagai gantinya. Rafhael sampai tidak ingat siapa-apa saja yang sudah ia ajak jalan karena ia cenderung tidak pernah jalan dengan cewek yang sama lebih dari dua kali. Tapi dengan Chika, ia merasa bebas jadi dirinya sendiri. Chika teman yang menyenangkan dan menghibur. Meski suka menuntut dan mengomentari banyak hal tentang perilakunya, tapi sebagian besar semua itu dilakukan karena cewek itu memang memiliki kepedulian yang tinggi pada teman-temannya.
            Chika pernah membuatnya kaget dengan mengajaknya dating. Cewek itu bilang mau nonton sebuah film yang udah lama ingin dia tonton, tapi nggak ada teman yang bisa diajaknya. Ketika Rafhael bertanya kenapa tidak mengajak Keisha atau Linzie, Chika langsung merengut dan menjawab kalau Jeremy dan Samuel mengancam akan menenggelamkannya di laut kalau dia berani menyabotase acara malam minggu mereka. Sebagai gantinya, mereka memberikan dua tiket gratis buat nonton film yang diimpikan Chika keesokan harinya. Katanya itu sebagai kompensasi dan uang tutup mulut agar tidak mengadu pada Keisha dan Linzie.
            Dengan dua tiket gratis di tangan, Chika tidak tau harus mengajak siapa. Jadi ketika tau Rafhael sedang tidak ada rencana, maka dengan spontan dia mengajak cowok itu buat dating.
            “Masa sama cewek lain mau, tapi sama Chika nggak?? Kan kasihan tiketnya jadi sia-sia. Lagian cuma nonton kok. Gue nggak bakal minta lo ngajak gue ke restorant bintang lima, belanja di butik terkenal atau yang lainnya yang bakal bikin dompet lo kosong!” kata Chika sedikit membujuk.
            “Yah, gue bukannya nggak mau sih…” kata Rafhael sambil garuk-garuk kepala.
            “Nah, berarti mau kan? Filmnya asik lho! Dijamin nggak bakal menyesal deh,” kata Chika .
            Rafhael memikirkannya sebentar sebelum akhirnya setuju. Chika bertepuk tangan senang, bahkan nyaris membuat anak kucing yang meringkuk di pangkuannya terguling jatuh. Untung saja Rafhael dengan tangkas langsung menangkap anak kucing itu. Entah bagaimana sekarang menengok si anak kucing jadi rutinitas harian Rafhael, selain karena ia memutuskan bahwa halaman belakang sekolah merupakan tempat yang tenang untuk menyendiri, ia diam-diam sering menantikan celotehan Chika bila kebetulan bertemu dengan cewek itu.
            “Oke deh kalau gitu, sabtu sore jam 5 ya! Kita langsung ketemu di bioskop!” kata Chika.
                                                                        ***
            “Dia bilang jam lima udah di sini, tapi ini udah lewat 10 menit tuh anak belum muncul juga,” gerutu Rafhael pada dirinya sendiri. Film yang akan mereka tonton akan dimulai 20 menit lagi. Tapi Chika belum juga kelihatan batang hidungnya.
            Rafhael memperhatikan poster-poster yang ditempel di dinding bioskop. Ia belum tau film mana yang akan ditonton Chika. Tapi mengingat bagaimana sifat Chika, tampaknya film yang kekanakan akan lebih mungkin deh.
            Lagi asik-asiknya ia melihat-lihat, secara tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang. Rafhael berbalik dan hendak menghardik siapapun yang menabraknya tadi. Tapi alih-alih dia malah tertegun. Cewek yang menabraknya juga tampak sama tertegunnya.
            “Ya ampun, Rafhael??” kata cewek itu dengan nada tak percaya.
            “Karen?” kata Rafhael pelan, ia tak percaya dengan apa yang dia lihat.
            “Ya ampun, beneran elo!! Lo berubah ya?! Sekarang tambah tinggi! Cakep lagi! Apa kabar lo?” tanya Karen gembira.
            “Baik... Lo... kapan balik dari Jepang?” tanya Rafhael, lidahnya terasa kelu, tapi entah bagaimana ia bisa mengeluarkan pertanyaan itu.
            “Gue udah balik dari sebulan lalu. Tapi akhir bulan gue balik lagi ke sana. Papa ada urusan di Indonesia, jadi gue ambil kesempatan ini buat pulang,” jelas Karen.
            Rafhael cuma ber-ohh ria. Ia tampak tak memperhatikan sama sekali. Ia bahkan tidak bisa berpikir. Tak banyak ocehan Karen yang ia dengarkan. Pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Kenapa Karen muncul di hadapannya lagi? Kenapa sekarang?
            “Eh, lo sama siapa? Pasti lagi nunggu pacar ya??” goda Karen. “Kenalin donk,” katanya lagi.
            “Nggak, gue nggak lagi sama siapa-apa. Gue cuma iseng aja. Lo sendiri?” sahut Rafhael. Entah kenapa ia tidak mengatakan soal janjinya dengan Chika.
            “Gue abis nonton sama teman-teman gue. Sekarang mau pulang. Ehh, gimana kalau gue nebeng elo? Boleh ya? Ayolah, masa sama teman masa kecil lo pelit sih?” rayu Karen.
            Rafhael terdiam sejenak, kemudian angkat bahu. Ia sama sekali melupakan soal Chika. Ia terlalu kaget bertemu dengan Karen lagi. ‘Teman masa kecil’nya yang dulu membuatnya berubah dari anak pemurung menjadi seperti sekarang ini. ‘Teman masa kecil’ yang meninggalkannya dengan pergi ke Jepang tanpa bilang apa-apa. ‘Teman masa kecil’ yang pergi ke Jepang tanpa tau bahwa ada seseorang yang sangat menyayanginya, yang merasa sangat kecewa dan patah hati karena ia pergi…
                                                                        ***
            Chika berlari-larian menuju bioskop. Ia sudah terlambat 15 menit. Karena terlalu bingung mau memakai baju apa, ia jadi lupa waktu dan malah membongkar seisi lemarinya untuk mencari pakaian termanis yang akan ia pakai. Sekarang Rafhael pasti sudah menunggunya dengan sejuta omelan karena dia telat. Huaa, Chika nggak mau kena semprot. Jadi dia mempercepat larinya agar bisa cepat sampai di tempat Rafhael. Ini hari yang sudah ia nanti-nantikan. Dating dengan Rafhael.
            Alangkah senangnya hati Chika ketika Rafhael mau diajak ke bioskop bareng. Chika bahkan memakai baju favoritnya untuk datingnya sore itu. Saking semangatnya, Chika tidak sabar lagi ingin segera bertemu Rafhael. Cowok itu pakai baju apa ya? Matching tidak ya dengan baju yang ia pakai? Memikirkannya membuat Chika tersenyum-senyum sendiri.
            Akan tetapi, Chika harus menelan kekecewaan. Rafhael tidak ada. Hmm, mungkin belum datang, pikirnya optimis. Chika pun memutuskan untuk menunggu dan sedikit membenahi penampilannya yang agak acak-acakan karena lari-larian tadi. Ia lalu menunggu dengan sabar.
            Lima belas menit berlalu, Chika mengecek jam tangannya. Sabar, mungkin kena macet, batinnya. Kemudian 30 menit lagi berlalu. Chika mulai khawatir apakah terjadi sesuatu dengan Rafhael. Chika mencoba menghubungi ponselnya tapi terus tersambung masuk ke mailbox. Kemudian jam demi jam berlalu dan Rafhael tidak juga muncul. Chika merasa kecewa karena Rafhael tidak datang. Padahal cowok itu sudah janji. Dia bilang akan datang.
            Dengan penuh rasa kekecewaan Chika meninggalkan bioskop setelah 4 jam menunggu dengan sia-sia. Dengan langkah gontai ia keluar dari gedung bioskop. Hatinya sibuk bertanya-tanya kenapa Rafhael ingkar janji dan tidak mengabarinya. Kemudian hujan turun. Seolah-olah menunjukkan ketidakpeduliannya pada Chika. Chika melindungi diri dengan tangan dan mencoba berlari mencari tempat teduh. Namun ketika hendak menyingkir, seseorang menabraknya hingga jatuh dan hanya berteriak maaf.
            Chika terduduk di trotoar di bawah guyuran hujan. Dengan pakaian yang kotor akibat lumpur dan rasa kecewanya pada Rafhael. Dan samar-samar kakinya kanannya terasa berdenyut sakit. Meski sekuat tenaga berusaha tegar, tapi Chika tidak bisa menahan air matanya. Ia pun menangis.
            “Kenapa lo nggak datang,” isakannya di telan oleh guyuran air hujan yang semakin deras.
            Di lain tempat, Rafhael merasa terombang-ambing antara masa lalu dan masa kini. Sementara Karen bercerita tentang kehidupannya di Jepang tanpa merasa bersalah karena dulu pergi meninggalkan Rafhael tanpa pernah menjawab perasaan cowok itu.
            Dua manusia… Di tempat yang berbeda... Terbelit dalam takdir yang tidak adil...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar