Kedekatan itu terjadi begitu saja. Tidak
diperkirakan, apalagi diduga. Rafhael sendiri tidak menyangka akhirnya malah
merasa sangat nyaman di dekat Chika. Chika periang dan apa adanya. Ia jujur dan
selalu mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Meskipun kerap kali harus
sering ditolong dari berbagai macam masalah yang dibuatnya, hal itu malah sudah
seperti rutinitas bagi Rafhael. Chika sering berusaha membuatnya tertawa.
Bahkan dengan jujur berkomentar kalau dirinya jarang tertawa.
“Rafha
jarang senyum apalagi ketawa kalau di dekat gue. Galaaaaak melulu!
Sekali-sekali senyum donk!” begitu kata Chika waktu itu. Mau tak mau Rafhael
mengakui salahnya yang memang gampang emosi. Siapa juga yang nggak emosi jika
terus-terusan dilibatkan dalam masalah-masalah yang tidak punya sangkut paut
dengan dirinya?
Akan
tetapi di lain sisi, Rafhael sudah lama tidak merasa senyaman ini. Biasanya
cewek-cewek yang mendekatinya akan bersikap sok manis agar bisa menarik
perhatiannya. Atau meminta ngedate dengannya sebagai gantinya. Rafhael sampai
tidak ingat siapa-apa saja yang sudah ia ajak jalan karena ia cenderung tidak
pernah jalan dengan cewek yang sama lebih dari dua kali. Tapi dengan Chika, ia
merasa bebas jadi dirinya sendiri. Chika teman yang menyenangkan dan menghibur.
Meski suka menuntut dan mengomentari banyak hal tentang perilakunya, tapi
sebagian besar semua itu dilakukan karena cewek itu memang memiliki kepedulian
yang tinggi pada teman-temannya.
Chika
pernah membuatnya kaget dengan mengajaknya dating. Cewek itu bilang mau nonton
sebuah film yang udah lama ingin dia tonton, tapi nggak ada teman yang bisa diajaknya.
Ketika Rafhael bertanya kenapa tidak mengajak Keisha atau Linzie, Chika
langsung merengut dan menjawab kalau Jeremy dan Samuel mengancam akan
menenggelamkannya di laut kalau dia berani menyabotase acara malam minggu
mereka. Sebagai gantinya, mereka memberikan dua tiket gratis buat nonton film
yang diimpikan Chika keesokan harinya. Katanya itu sebagai kompensasi dan uang
tutup mulut agar tidak mengadu pada Keisha dan Linzie.
Dengan
dua tiket gratis di tangan, Chika tidak tau harus mengajak siapa. Jadi ketika
tau Rafhael sedang tidak ada rencana, maka dengan spontan dia mengajak cowok
itu buat dating.
“Masa
sama cewek lain mau, tapi sama Chika nggak?? Kan kasihan tiketnya jadi sia-sia.
Lagian cuma nonton kok. Gue nggak bakal minta lo ngajak gue ke restorant
bintang lima, belanja di butik terkenal atau yang lainnya yang bakal bikin
dompet lo kosong!” kata Chika sedikit membujuk.
“Yah,
gue bukannya nggak mau sih…” kata Rafhael sambil garuk-garuk kepala.
“Nah,
berarti mau kan? Filmnya asik lho! Dijamin nggak bakal menyesal deh,” kata
Chika .
Rafhael
memikirkannya sebentar sebelum akhirnya setuju. Chika bertepuk tangan senang,
bahkan nyaris membuat anak kucing yang meringkuk di pangkuannya terguling
jatuh. Untung saja Rafhael dengan tangkas langsung menangkap anak kucing itu.
Entah bagaimana sekarang menengok si anak kucing jadi rutinitas harian Rafhael,
selain karena ia memutuskan bahwa halaman belakang sekolah merupakan tempat
yang tenang untuk menyendiri, ia diam-diam sering menantikan celotehan Chika
bila kebetulan bertemu dengan cewek itu.
“Oke
deh kalau gitu, sabtu sore jam 5 ya! Kita langsung ketemu di bioskop!” kata
Chika.
***
“Dia bilang jam lima udah di sini, tapi
ini udah lewat 10 menit tuh anak belum muncul juga,” gerutu Rafhael pada
dirinya sendiri. Film yang akan mereka tonton akan dimulai 20 menit lagi. Tapi
Chika belum juga kelihatan batang hidungnya.
Rafhael
memperhatikan poster-poster yang ditempel di dinding bioskop. Ia belum tau film
mana yang akan ditonton Chika. Tapi mengingat bagaimana sifat Chika, tampaknya
film yang kekanakan akan lebih mungkin deh.
Lagi
asik-asiknya ia melihat-lihat, secara tiba-tiba seseorang menabraknya dari
belakang. Rafhael berbalik dan hendak menghardik siapapun yang menabraknya
tadi. Tapi alih-alih dia malah tertegun. Cewek yang menabraknya juga tampak
sama tertegunnya.
“Ya
ampun, Rafhael??” kata cewek itu dengan nada tak percaya.
“Karen?”
kata Rafhael pelan, ia tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Ya
ampun, beneran elo!! Lo berubah ya?! Sekarang tambah tinggi! Cakep lagi! Apa
kabar lo?” tanya Karen gembira.
“Baik...
Lo... kapan balik dari Jepang?” tanya Rafhael, lidahnya terasa kelu, tapi entah
bagaimana ia bisa mengeluarkan pertanyaan itu.
“Gue
udah balik dari sebulan lalu. Tapi akhir bulan gue balik lagi ke sana. Papa ada
urusan di Indonesia, jadi gue ambil kesempatan ini buat pulang,” jelas Karen.
Rafhael
cuma ber-ohh ria. Ia tampak tak memperhatikan sama sekali. Ia bahkan tidak bisa
berpikir. Tak banyak ocehan Karen yang ia dengarkan. Pikirannya sama sekali
tidak ada di sana. Kenapa Karen muncul di hadapannya lagi? Kenapa sekarang?
“Eh,
lo sama siapa? Pasti lagi nunggu pacar ya??” goda Karen. “Kenalin donk,” katanya
lagi.
“Nggak,
gue nggak lagi sama siapa-apa. Gue cuma iseng aja. Lo sendiri?” sahut Rafhael.
Entah kenapa ia tidak mengatakan soal janjinya dengan Chika.
“Gue
abis nonton sama teman-teman gue. Sekarang mau pulang. Ehh, gimana kalau gue
nebeng elo? Boleh ya? Ayolah, masa sama teman masa kecil lo pelit sih?” rayu
Karen.
Rafhael
terdiam sejenak, kemudian angkat bahu. Ia sama sekali melupakan soal Chika. Ia
terlalu kaget bertemu dengan Karen lagi. ‘Teman masa kecil’nya yang dulu
membuatnya berubah dari anak pemurung menjadi seperti sekarang ini. ‘Teman masa
kecil’ yang meninggalkannya dengan pergi ke Jepang tanpa bilang apa-apa. ‘Teman
masa kecil’ yang pergi ke Jepang tanpa tau bahwa ada seseorang yang sangat
menyayanginya, yang merasa sangat kecewa dan patah hati karena ia pergi…
***
Chika
berlari-larian menuju bioskop. Ia sudah terlambat 15 menit. Karena terlalu
bingung mau memakai baju apa, ia jadi lupa waktu dan malah membongkar seisi
lemarinya untuk mencari pakaian termanis yang akan ia pakai. Sekarang Rafhael
pasti sudah menunggunya dengan sejuta omelan karena dia telat. Huaa, Chika
nggak mau kena semprot. Jadi dia mempercepat larinya agar bisa cepat sampai di
tempat Rafhael. Ini hari yang sudah ia nanti-nantikan. Dating dengan Rafhael.
Alangkah
senangnya hati Chika ketika Rafhael mau diajak ke bioskop bareng. Chika bahkan
memakai baju favoritnya untuk datingnya sore itu. Saking semangatnya, Chika
tidak sabar lagi ingin segera bertemu Rafhael. Cowok itu pakai baju apa ya?
Matching tidak ya dengan baju yang ia pakai? Memikirkannya membuat Chika
tersenyum-senyum sendiri.
Akan
tetapi, Chika harus menelan kekecewaan. Rafhael tidak ada. Hmm, mungkin belum
datang, pikirnya optimis. Chika pun memutuskan untuk menunggu dan sedikit
membenahi penampilannya yang agak acak-acakan karena lari-larian tadi. Ia lalu
menunggu dengan sabar.
Lima
belas menit berlalu, Chika mengecek jam tangannya. Sabar, mungkin kena macet,
batinnya. Kemudian 30 menit lagi berlalu. Chika mulai khawatir apakah terjadi
sesuatu dengan Rafhael. Chika mencoba menghubungi ponselnya tapi terus
tersambung masuk ke mailbox. Kemudian jam demi jam berlalu dan Rafhael tidak
juga muncul. Chika merasa kecewa karena Rafhael tidak datang. Padahal cowok itu
sudah janji. Dia bilang akan datang.
Dengan
penuh rasa kekecewaan Chika meninggalkan bioskop setelah 4 jam menunggu dengan
sia-sia. Dengan langkah gontai ia keluar dari gedung bioskop. Hatinya sibuk
bertanya-tanya kenapa Rafhael ingkar janji dan tidak mengabarinya. Kemudian
hujan turun. Seolah-olah menunjukkan ketidakpeduliannya pada Chika. Chika
melindungi diri dengan tangan dan mencoba berlari mencari tempat teduh. Namun
ketika hendak menyingkir, seseorang menabraknya hingga jatuh dan hanya
berteriak maaf.
Chika
terduduk di trotoar di bawah guyuran hujan. Dengan pakaian yang kotor akibat
lumpur dan rasa kecewanya pada Rafhael. Dan samar-samar kakinya kanannya terasa
berdenyut sakit. Meski sekuat tenaga berusaha tegar, tapi Chika tidak bisa
menahan air matanya. Ia pun menangis.
“Kenapa
lo nggak datang,” isakannya di telan oleh guyuran air hujan yang semakin deras.
Di
lain tempat, Rafhael merasa terombang-ambing antara masa lalu dan masa kini.
Sementara Karen bercerita tentang kehidupannya di Jepang tanpa merasa bersalah
karena dulu pergi meninggalkan Rafhael tanpa pernah menjawab perasaan cowok
itu.
Dua
manusia… Di tempat yang berbeda... Terbelit dalam takdir yang tidak adil...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar