Sejak itu, Linzie selalu direcoki oleh Samuel.
Secara kebetulan, cowok itu akan selalu bertemu dengan Linzie. Entah di kantin
atau di manapun di lingkungan sekolah. Selain itu, seolah belum cukup, Samuel
juga sering datang ke cafe Daniel. Membuat Linzie malas membantu di cafe Daniel
untuk pertama kalinya. Linzie merasa tidak punya tempat untuk menghindari
Samuel. Seolah cowok itu ada dmana-mana. Bahkan Linzie mulai percaya dengan
reputasi cowok itu. Dia adalah seekor serigala yang jika sudah menancapkan
taring pada mangsanya maka si mangsa takkan lepas begitu saja. Dan sekarang
Linzie merasa sebagai mangsa yang tak berdaya. Linzie cuma bisa berpegang teguh
pada asumsinya bahwa Samuel itu sama dengan cowok-cowok playboy lainnya. Yang
merasa kalau cewek itu adalah objek taklukan. Yang begitu sudah didapatkan,
bisa ditinggalkan setelah bosan. Linzie nggak mau lagi mengalami hal itu. Dia
bukan lagi Linzie yang lugu dan polos yang mudah percaya kata-kata cinta dari
mulut lelaki.
Pengalaman
mengajarkannya untuk selalu waspada. Cowok itu akan bermulut manis jika sudah ada
maunya. Dan Linzie yakin Samuel juga punya tujuan tertentu saat mendekatinya.
Linzie tau dirinya tidak sedewasa Keisha atau semanis Chika, tapi bukan berarti
cowok itu bisa mempermainkannya seenaknya. Linzie bertekad tidak akan luluh
oleh bujuk rayu Samuel.
Samuel,
di lain pihak, mulai menikmati perburuannya. Ia membuat pertemuannya dengan
Linzie seolah kebetulan semata. Ia juga selalu bersikap manis dan sopan pada
cewek itu. Hanya terkadang sedikit menggodanya dengan kata-kata pujian, sekadar
untuk melihat reaksi Linzie. Ajaibnya, Samuel sama sekali tidak menduga kalau
ternyata Linzie itu gadis yang menarik, berhati keras dan penuh dengan
pikiran-pikiran aneh. Terutama tentang cowok buaya darat. Samuel sangat yakin
dirinya masuk daftar blacklist cewek itu, bahkan mungkin ia menempati posisi
teratas, tapi ia justru nggak keberatan. Justru itu membuat pendekatannya
menjadi lebih menarik.
Semakin
mengenal Linzie, Samuel jadi tau kalau Linzie itu cewek yang aktif. Dia ikut
banyak ekskul selain ekskul olahraga, dari situ Samuel menduga kalau Linzie
benci olahraga. Tapi satu pengecualian, Linzie suka bersepeda. Ke mana-mana
cewek itu lebih memilih naik sepeda, padahal menurut info yang Samuel dapatkan,
cewek itu hidup serba berkecukupan.
Perlahan-lahan,
hal-hal kecil yang terjadi dalam kebersamaan yang separuh disengaja itu
mengirimkan sengatan-sengatan aneh dalam diri mereka. Samuel, yang awalnya
ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa ia bisa menaklukkan Linzie dengan
mudah, kini justru menikmati kesempatan-kesempatan yang ia dapat untuk bisa
mengenal Linzie lebih dekat.
Sementara
waktu terus berlalu Linzie merasa tekadnya mulai goyah. Kecurigaan yang ia
pegang teguh selama ini rasanya mulai terkikis ketika Samuel menunjukkan sikap
tulus ingin mengenalnya. Semakin Linzie coba menepiskan pikiran asing itu,
semakin susah bagi Linzie untuk melihat Samuel dari sudut pandangnya yang lama.
Cowok itu bukan hanya sekedar pandai bicara, tapi juga memang memiliki pesona
yang membuat siapa saja merasa nyaman bersamanya.
Ya
Tuhan! Linzie mulai takut. Ia takut jika seandainya apa yang ia pikir selama
ini benar ternyata salah! Jangan-jangan rumor yang beredar itu terlalu
dilebih-lebihkan? Mungkinkah Samuel itu sebenarnya tak seburuk rumor yang
beredar? Aarrgghhh... Linzie bingung! Harusnya dia menjauhi cowok itu! Cowok
itu terlalu berbahaya jika terlalu lama di dekatnya. Benar, Linzie mungkin
harus menjauhi cowok itu agar pikirannya bisa jernih kembali. Samuel sudah
mengkontaminasi pikirannya terlalu banyak. Linzie harus menemukan sudut pandang
baru dalam masalah ini. Untuk sementara, dengan catatan waktu yang belum
dipastikan seberapa lama, Linzie akan menghindari Samuel. Ia sudah tidak mau
meladeni cowok itu. Baik dengan sambil lalu atau penuh perhatian. Ia akan mengenyahkan
cowok itu dari pikirannya. Kemudian baru merunut semuanya dari awal, sehingga
ia bisa menemukan sudut pandang baru dalam menyelesaikan masalahnya. Linzie
yakin itu tindakan terbaik. Yang terbaik dari semua yang bisa ia pikirkan.
Hanya
saja, belakangan Linzie baru menyadari kalau ternyata hal itu tidak semudah itu
untuk dilakukan...
***
Menghindari
Samuel! Tegas Linzie berkali-kali dalam kepalanya. Ia harus menghindari cowok
itu. Rupanya imunitasnya tak bisa bertahan lebih lama lagi jika berada dekat
cowok itu. Linzie baru menyadari kalau senyum 1000watt Samuel bisa begitu
sangat mengerikan kalau terlalu sering dilihat. Buktinya sekarang perut Linzie
sslalu berontak jika Samuel mengeluarkan senyumnya. Sungguh mengerikan…
Makanya
Linzie harus menjauhi cowok itu sebelum terkontaminasi efek buruk apapun yang
mungkin timbul. Bisa aja nanti dia pusing-pusing atau susah bernapas kan? Ngeri
nggak tuh, dihinggapin penyakit kayak gitu cuma gara-gara senyum seorang
playboy. Linzie jelas menganggapnya mengerikan, karena dia jarang sakit, dan
nggak mau memulainya sekarang.
“Linziee!!!”
seruan itu membuyarkan semua rencana Linzie.
Astaga,
masa secepat itu gagal sih?? Linzie langsung mempercepat langkah dan pura-pura
tak mendengar panggilan itu. Bodo amat deh dikira aneh atau apa!
Sementara
itu, Samuel cuma menelengkan kepalanya, dengan satu tangan masih dalam posisi
melambai, sisa senyum manis masih terukir dibibirnya.
Rafhael
tergelak melihat tampang Samuel. Dia langsung menggoda Samuel. “Wah, kenapa tuh?
Dia kabur ya?” sindir Rafhael.
“Nggak
kedengaran kali ya?” kata Samuel.
“Hmm…
Menurut gue sih ya...” omongan Rafhael terpotong oleh pelototan galak dari
Samuel. Rafhael sudah mencoba menahan tawa. Sumpah demi Tuhan dia udah mencoba,
tapi sayang, imannya lebih kecil sehingga tanpa peduli dengan perasaan Samuel,
tawanya pun meledak. Rafhael tertawa bahagia melihat tatapan bengis Samuel.
Rafhael
menepuk pundak Samuel bersimpati. “Sabar, Brother, bukannya lo tuh nggak pernah
gagal?” hibur Rafhael. Tapi perkataannya selanjutnya langsung membumi hanguskan
niat awalnya untuk menghibur. “Yah, meskipun pasti ada juga namanya kegagalan
pertama,” katanya.
“Sialan
lo!” maki Samuel sembil mencoba menggetok kepala Rafhael, namun Rafhael sudah
mengelak dan kembali tertawa bahagia. Bahkan ia sudah menebar senyum ke mana-mana,
ke semua cewek yang menyapanya dengan wajah memuja. Membuat Samuel tambah
dongkol. Akhirnya Samuel cuma bisa misuh-misuh.
***
Linzie
girang bukan main karena dia bisa mengelabui Samuel. Berarti rencananya masih
bisa diterapkan. Langkah Linzie serasa seringan bulu ketika ia menuju ke
kelasnya. Namun siapa sangka dia justru berpapasan dengan orang kedua yang tak
mau ditemuinya. Jeremy. Menjulang tinggi di depannya, dan nyaris menghabiskan
seluruh ruang di tangga itu. Linzie harus meminta cowok itu minggir kalau mau
lewat. Tapi dia malas bicara dengan cowok itu. Sayangnya, Linzie terpaksa
menelan harga diri. Dia kan juga nggak mau kepergok Samuel, itu seandainya
cowok itu menyusulnya. Lagipula kelas cowok itu ada di lantai yang sama
dengannya.
“Minggir
sedikit donk, gue mau lewat nih,” kata Linzie.
“Lewat
aja,” kata Jeremy bergeming.
Linzie
langsung cemberut. Melihat sisa ruang di samping Jeremy, yang nggak ada
setengah meter, itu sih cuma anak tuyul yang bisa lewat!
“Lo
lihat kan jalannya tuh sempit. Kalau lo nggak miring sedikit, gue nggak bisa
lewat!” kata Linzie senewen.
Jeremy
memiringkan badannya sedikit. Benar-benar cuma sedikit! “Segini?” tanyanya
polos. Ada senyum bermain-main di mata cowok itu. Sekarang yang bisa lewat cuma
anak jin. Linzie makin cemberut. Jeremy
kemudian memberikan jalan sesuai kehendak Linzie, sambil tersenyum manis yang
sangat menipu. Linzie langsung melewatinya, tentunya setelah melempar tatapan
awas-nanti-gue-balas-lo yang bikin Jeremy menyeringai.
Tak
lama setelah Linzie menghilang di belokan tangga, Samuel dan Rafhael muncul.
Jeremy masih terlihat girang ketika mereka menghampirinya.
“Kenapa
lo?” tanya Samuel ketus. Wajah cutenya memberengut dan jadi tambah lucu.
“Lo
sendiri kenapa?” tanya Jeremy geli.
Rafhael
langsung menyambar dan menceritakan kejadian di halaman depan sekolah tadi,
lengkap dengan diiringi tawa bahagia sesi keduanya.
Jeremy
mengedikkan kepala ke arah tangga di belakangnya. “Barusan gue ngerjain dia,” kata
Jeremy enteng. Membuat Samuel melotot. Kemudian misuh-misuh lebih keras lagi.
Tanpa
menunggu dua temannya Samuel langsung menaiki tangga dan menuju kelasnya,
urusan dengan Linzie akan dia selesaikan nanti. Sekarang dia harus memikirkan
apa tindakannya yang salah yang membuat rencananya mendekati Linzie jadi
berjalan mundur.
Ternyata
semuanya jadi lebih parah dari yang Samuel kira. Linzie bukan hanya pura-pura
tidak mendengar sapaannya, cewek itu juga mulai menghindar! Setiap Samuel
mendatangi kelasnya, cewek itu selalu tak ada. Setiap berpapasan, cewek itu
selalu bilang ada urusan dan buru-buru angkat kaki. Kemudian setiap Samuel
mengira dia sendirian, maka entah dari mana cewek itu bisa mendapatkan bala
bantuan yang membuat Samuel makin jengkel.
Hingga
akhirnya ia tak bisa menahan kekesalannya lagi dan mengambil langkah sembrono.
Ia memboikot langkah apapun yang disiapkan Linzie untuk menghindar. Ketika
Samuel menemui Linzie di kelasnya, rupanya ketika itu Linzie baru hendak kabur,
tapi Samuel lebih pintar dan telah menunggu di depan kelasnya, Samuel langsung ‘menculik’
Linzie. Diseretnya cewek itu ke kantin bareng.
“Hey!
Apa-apaan nih! Gue mau ke tempat teman-teman gue nih!” protes Linzie di tengah
kepanikannya.
“Lo
bisa cari mereka nanti! Sekarang lo temenin gue makan,” kata Samuel cuek.
“Lo
kan bisa ngajak teman-teman lo! Atau cewek manapun yang selalu membayangi lo!
Gue sibuk tau!” sahut Linzie.
Samuel
berhenti dan menatap Linzie. “Iya, lo sibuk mikirin cara buat menghindari gue!”
setelah berkata itu, Samuel kembali meneruskan langkahnya. Linzie butuh
beberapa waktu untuk membalas ucapan Samuel.
“Gue
nggak menghindari elo! Lagian buat apa coba? Gue tuh memang sibuk tau!”
“Kalau
gitu lo bisa donk, nemenin gue makan?” kata Samuel sambil melemparkan sanyum
mautnya. Nah, perut Linzie langsung berontak. Mati-matian dia mencari alasan
yang bisa membuatnya lepas dari situasi mengerikan ini. Namun mereka keburu
sampai di kantin. Dan parahnya, Samuel mengambil tempat di pojok kantin, di
meja yang mepet tembok! Tanpa Linzie sadari, ia sudah digiring masuk ke dalam
jebakan.
“Lo
duduk di dalam,” kata Samuel.
“Hah?
Nggak mau! Gue di pinggir aja, lagian buat apa gue duduk di dalam, toh kursinya
hadap-hadapan gini,” kata Linzie.
“Makanya
lo masuk dulu, gue nggak mau lo pergi kalau gue biarin lo duduk di luar,” kata
Samuel.
“Maksud
lo? Lo nuduh gue bakal kabur dari lo gitu?!” sahut Linzie emosi.
“Gue
nggak nuduh. Dan kalau emang lo nggak bakal kabur, lo mau donk duduk di dalam,”
kata Samuel.
“Oke!
Dan jangan bilang gue niat kabur! Karena gue nggak pernah kabur dari elo!” ketus
Linzie. Kemudian menambahkan sambil menggerutu. “Lagian elo bukan siapa-siapa
gue, buat apa gue kabur dari elo.”
Samuel
tersenyum dalam hati ketika Linzie sudah duduk manis. Kemudian tanpa rasa
bersalah dia duduk di sebelah cewek itu.
“Kok
lo duduk di sini sih!? Depan masih kosong!” protes Linzie, dalam hati panik
berat ketika menyadari dia tidak punya jalan keluar selain melewati Samuel.
Selain dengan melompati meja kantin tentunya.
“Lo
mau pesan apa? Biar sekalian gue pesanin,” kata Samuel mengacuhkan protes
Linzie.
“Gue
nggak nafsu makan!” ketus Linzie.
“Oh,
ya udah, gue samain aja kalau gitu,” sahut Samuel enteng.
Linzie
mendelik. “Gue bilang gue nggak lapar!” sahutnya kesal.
“Hm-mm,”
sahut Samuel sambil lalu.
Linzie
melipat tangan di depan dada dan duduk bersandar. Ia membuang pandangan dari
Samuel yang duduk di sebelahnya. Mengabaikan lonjakan-lonjakan sinting
diperutnya.
Samuel
menahan senyum kemenangannya ketika melihat Linzie mulai bersikap kooperatif.
Meski jelas cewek itu bakal melesat pergi begitu ada kesempatan.
Makanan
mereka tiba, Samuel memesankan dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk
untuk mereka. Namun Linzie tak mau menyentuh makanannya. Bahkan sekalipun
penghuni perutnya sudah protes minta diisi.
“Gue
tau lo belum makan, nggak usah sebal gitu deh sama gue,” kata Samuel sambil
bersandar miring pada tangan kirinya dan menatap Linzie.
“Jadi
lo nyadar kalau gue sebal sama elo?!” sindir Linzie pedas.
“Tapi
gue kan nggak salah. Gue cuma ngajak lo makan bareng, di kantin pula. Apa yang
salah?” tanya Samuel polos.
“Yang
salah,” kata Linzie sambil duduk tegak menghadap Samuel. “lo nggak nanya gue
mau apa nggak! Lo langsung narik dan ngajak gue ke sini!”
“Nah,
sekarang jelasin sama gue, di mana letak salahnya? Lagian gue nggak merasa ada
yang salah dengan tindakan gue. Gue kan memang lagi PDKT sama lo, wajar donk
gue ngajak makan bareng?”
“PDKT
lo bilang? Sejak kapan??? Gue nggak pernah setuju ya! Dan gue nggak akan pernah
setuju! Gue tau reputasi lo. Lo bisa aja bilang lagi PDKT sama gue, tapi siapa
yang tau di tempat lain lo lagi PDKT sama yang lain?!” kata Linzie meremehkan.
Rahang
Samuel mengencang. “Dengar ya, terserah reputasi gue yang mana yang lo
percayai, tapi gue kasih tau sama lo, kalau gue udah memutuskan buat PDKT sama
elo, maka gue cuma PDKT sama elo!!”
Ketegasan
di wajah dan suara Samuel membuat Linzie terperangah. Belum pernah Linzie
melihat Samuel melepaskan topeng malaikat berwajah manisnya ketika bicara
dengan cewek. Dan jika sampai ekspresinya berubah tajam begini... Linzie
langsung mengenyahkan pikiran gilanya itu. Bukan urusannya Samuel marah atau
tidak. Namun saat bicara, nadanya tak lagi sekasar tadi.
“Kenapa
lo PDKT ke gue? Masih banyak kan cewek yang mengejar-ngejar elo?” tanya Linzie
sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang isinya nyaris cewek
semua dan kini sedang memperhatikan mereka dengan keseriusan tingkat dewa.
“Perlu
gue jelasin alasannya? Lo benar-benar nggak tau?” Samuel balik tanya,
tatapannya masih belum lepas dari mata Linzie. Membuat Linzie nyaris sesak
napas. Linzie kemudian menggeleng lemah.
“Jelas
karena gue merasa tertarik sama elo! Kalau gue nggak merasa tertarik sama elo, buat
apa gue susah payah ngedeketin elo?” sahut Samuel. Kemudian bertanya-tanya
dalam hati dari mana datangnya penjelasan seperti itu. Biasanya Samuel tak
pernah merasa harus memiliki ketertarikan kuat untuk mendekati cewek-cewek,
bahkan sampai menjelaskan alasannya. Karena cewek-cewek itu sendiri yang datang
padanya. Ia tinggal memilih mau jalan dengan yang mana. Tapi dengan Linzie,
Samuel merasa harus memperoleh kepercayaan cewek itu. Gagasan itu membuatnya
sedikit takut. Dia mendekati Linzie karena merasa tertantang untuk
menaklukkannya kan??
Setelah
keluar dari ketidakpercayaannya, Linzie pun berkata. “Kenapa gue?”
“Gue
juga nggak tau. Tau-tau gue pingin aja kenal lo lebih dekat,” kata Samuel. Nah,
dari mana jawaban itu datang? batin Samuel.
Beberapa
saat mereka cuma saling tatap. Kemudian Linzie menghela napas pasrah. “Gue
tetap nggak mengerti apa yang bikin lo tertarik sama gue. Gue selalu
menghindari tipe-tipe cowok kayak lo karena nggak mau mengulang kesalahan yang
sama lagi,” kata Linzie
“Tipe
kayak gue?” tanya Samuel ingin tau.
“Iya,
tipe cowok yang bermulut manis, yang menggunakan pesonanya buat mendapatkan
cewek mana pun yang elo mau. Tipe playboy yang nggak mungkin cukup dengan satu
cewek,” kata Linzie sambil menatap Samuel. “Lo termasuk tipe itu kan? Gue udah
banyak dengar cerita tentang sepak terjang lo,” kemudian Linzie mengalihkan
tatapan kepada es jeruknya. Ia mengaduk-aduknya tanpa berniat meminumnya.
“Gue
nggak tau apa aja yang lo dengar tentang gue,” Samuel angkat bahu. “Tapi gosip selalu
dilebih-lebihkan kan?”
Meskipun
dalam kasus Samuel sepertinya kenyataan dan gosip itu cuma beda tipis. Tapi
Linzie kan tidak tau hal itu. Dia cuma bisa percaya pada apa yang ia dengar
atau percaya pada Samuel. Dan keduanya jelas sama-sama meragukan dan punya
dampak yang sama berbahayanya.
“Memangnya
kesalahan apa yang pernah lo perbuat yang melibatkan tipe cowok kayak gue?” tanya
Samuel. Tiba-tiba merasa ingin tau tentang kehidupan Linzie.
Linzie
meliriknya sekilas. “Lo nggak perlu tau. Lagian nggak ada hubungannya sama
elo,” kata Linzie mengelak. “Kalau lo mau makan, ya udah cepat makan. Gue
temanin. Tapi nggak lebih,” kata Linzie kemudian.
Samuel
memutuskan belum saatnya bertindak lebih jauh, jadi ia tidak mendesak Linzie
lebih jauh. Akhirnya ia pun berkata, “Tapi lo juga makan, aneh donk lo nemenin
gue makan tpi gue cuma makan sendiri?”
Setelah
menimbang-nimbang sesaat, akhirnya Linzie mengambil sendok dan mulai menyuap
sesuap kecil nasi goreng ke mulutnya.
Samuel
tersenyum puas dan melanjutkan makannya. Menyelingi dengan beberapa obrolan
ringan namun sedikit menggoda agar ketegangan yang tadi terasa segera sirna.
Setelah itu, Samuel mengantarkan Linzie kembali ke kelasnya. Sebelum
meninggalkan kelas Linzie, Samuel pun meminta nomor ponsel cewek itu.
“Buat
apa?” tanya Linzie curiga.
“Tentunya
buat melancarkan PDKT gue ke elo kan?” kata Samuel, meskipun dalam hati
bertanya-tanya hal apa yang membuat Linzie harus merasa selalu waspada padanya.
Setelah
memikirkan sesaat, akhirnya Linzie memberikan nomor ponselnya, tapi dengan
sedikit peringatan kalau ia tidak suka diganggu dengan telepon-telepon atau
sms-sms nggak penting tiap harinya.
Samuel
mengangguk-angguk setuju, meski jelas itulah yang akan dia lakukan. Setelah itu
Samuel pergi ke kelasnya.
“Oke,
bye ya!” kata Samuel sambil mengacak-acak pelan rambut Linzie.
“Apa
sih!?” Linzie menepis tangan Samuel, sehingga Samuel tertawa.
Setelah
beberapa langkah, Samuel menoleh ke belakang, ternyata Linzie sudah masuk ke
dalam kelasnya. Samuel kembali melanjutkan langkahnya. Lalu tanpa sadar
dipandanginya tangannya yang tadi menyentuh rambut Linzie. Kenapa rasanya
begitu alami ya? Seolah-olah mereka memang pasangan kekasih. Samuel
menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengenyahkan pikiran itu. Jelas mereka bukan
kekasih.
Ingat,
misinya adalah untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa ia mampu menaklukkan
Linzie. Dan memang itu yang sedang Samuel lakukan. Setidaknya memang itu yang
ia lakukan kan? Samuel bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang perasaan
aneh yang mulai menderanya ketika ada dekat Linzie tadi.
Sungguh, apa yang terjadi pada dirinya...?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar