Selasa, 02 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #3


Sejak itu, Linzie selalu direcoki oleh Samuel. Secara kebetulan, cowok itu akan selalu bertemu dengan Linzie. Entah di kantin atau di manapun di lingkungan sekolah. Selain itu, seolah belum cukup, Samuel juga sering datang ke cafe Daniel. Membuat Linzie malas membantu di cafe Daniel untuk pertama kalinya. Linzie merasa tidak punya tempat untuk menghindari Samuel. Seolah cowok itu ada dmana-mana. Bahkan Linzie mulai percaya dengan reputasi cowok itu. Dia adalah seekor serigala yang jika sudah menancapkan taring pada mangsanya maka si mangsa takkan lepas begitu saja. Dan sekarang Linzie merasa sebagai mangsa yang tak berdaya. Linzie cuma bisa berpegang teguh pada asumsinya bahwa Samuel itu sama dengan cowok-cowok playboy lainnya. Yang merasa kalau cewek itu adalah objek taklukan. Yang begitu sudah didapatkan, bisa ditinggalkan setelah bosan. Linzie nggak mau lagi mengalami hal itu. Dia bukan lagi Linzie yang lugu dan polos yang mudah percaya kata-kata cinta dari mulut lelaki.
            Pengalaman mengajarkannya untuk selalu waspada. Cowok itu akan bermulut manis jika sudah ada maunya. Dan Linzie yakin Samuel juga punya tujuan tertentu saat mendekatinya. Linzie tau dirinya tidak sedewasa Keisha atau semanis Chika, tapi bukan berarti cowok itu bisa mempermainkannya seenaknya. Linzie bertekad tidak akan luluh oleh bujuk rayu Samuel.
            Samuel, di lain pihak, mulai menikmati perburuannya. Ia membuat pertemuannya dengan Linzie seolah kebetulan semata. Ia juga selalu bersikap manis dan sopan pada cewek itu. Hanya terkadang sedikit menggodanya dengan kata-kata pujian, sekadar untuk melihat reaksi Linzie. Ajaibnya, Samuel sama sekali tidak menduga kalau ternyata Linzie itu gadis yang menarik, berhati keras dan penuh dengan pikiran-pikiran aneh. Terutama tentang cowok buaya darat. Samuel sangat yakin dirinya masuk daftar blacklist cewek itu, bahkan mungkin ia menempati posisi teratas, tapi ia justru nggak keberatan. Justru itu membuat pendekatannya menjadi lebih menarik.
            Semakin mengenal Linzie, Samuel jadi tau kalau Linzie itu cewek yang aktif. Dia ikut banyak ekskul selain ekskul olahraga, dari situ Samuel menduga kalau Linzie benci olahraga. Tapi satu pengecualian, Linzie suka bersepeda. Ke mana-mana cewek itu lebih memilih naik sepeda, padahal menurut info yang Samuel dapatkan, cewek itu hidup serba berkecukupan.
            Perlahan-lahan, hal-hal kecil yang terjadi dalam kebersamaan yang separuh disengaja itu mengirimkan sengatan-sengatan aneh dalam diri mereka. Samuel, yang awalnya ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa ia bisa menaklukkan Linzie dengan mudah, kini justru menikmati kesempatan-kesempatan yang ia dapat untuk bisa mengenal Linzie lebih dekat.
            Sementara waktu terus berlalu Linzie merasa tekadnya mulai goyah. Kecurigaan yang ia pegang teguh selama ini rasanya mulai terkikis ketika Samuel menunjukkan sikap tulus ingin mengenalnya. Semakin Linzie coba menepiskan pikiran asing itu, semakin susah bagi Linzie untuk melihat Samuel dari sudut pandangnya yang lama. Cowok itu bukan hanya sekedar pandai bicara, tapi juga memang memiliki pesona yang membuat siapa saja merasa nyaman bersamanya.
            Ya Tuhan! Linzie mulai takut. Ia takut jika seandainya apa yang ia pikir selama ini benar ternyata salah! Jangan-jangan rumor yang beredar itu terlalu dilebih-lebihkan? Mungkinkah Samuel itu sebenarnya tak seburuk rumor yang beredar? Aarrgghhh... Linzie bingung! Harusnya dia menjauhi cowok itu! Cowok itu terlalu berbahaya jika terlalu lama di dekatnya. Benar, Linzie mungkin harus menjauhi cowok itu agar pikirannya bisa jernih kembali. Samuel sudah mengkontaminasi pikirannya terlalu banyak. Linzie harus menemukan sudut pandang baru dalam masalah ini. Untuk sementara, dengan catatan waktu yang belum dipastikan seberapa lama, Linzie akan menghindari Samuel. Ia sudah tidak mau meladeni cowok itu. Baik dengan sambil lalu atau penuh perhatian. Ia akan mengenyahkan cowok itu dari pikirannya. Kemudian baru merunut semuanya dari awal, sehingga ia bisa menemukan sudut pandang baru dalam menyelesaikan masalahnya. Linzie yakin itu tindakan terbaik. Yang terbaik dari semua yang bisa ia pikirkan.
            Hanya saja, belakangan Linzie baru menyadari kalau ternyata hal itu tidak semudah itu untuk dilakukan...
***
            Menghindari Samuel! Tegas Linzie berkali-kali dalam kepalanya. Ia harus menghindari cowok itu. Rupanya imunitasnya tak bisa bertahan lebih lama lagi jika berada dekat cowok itu. Linzie baru menyadari kalau senyum 1000watt Samuel bisa begitu sangat mengerikan kalau terlalu sering dilihat. Buktinya sekarang perut Linzie sslalu berontak jika Samuel mengeluarkan senyumnya. Sungguh mengerikan…
            Makanya Linzie harus menjauhi cowok itu sebelum terkontaminasi efek buruk apapun yang mungkin timbul. Bisa aja nanti dia pusing-pusing atau susah bernapas kan? Ngeri nggak tuh, dihinggapin penyakit kayak gitu cuma gara-gara senyum seorang playboy. Linzie jelas menganggapnya mengerikan, karena dia jarang sakit, dan nggak mau memulainya sekarang.
            “Linziee!!!” seruan itu membuyarkan semua rencana Linzie.
            Astaga, masa secepat itu gagal sih?? Linzie langsung mempercepat langkah dan pura-pura tak mendengar panggilan itu. Bodo amat deh dikira aneh atau apa!
            Sementara itu, Samuel cuma menelengkan kepalanya, dengan satu tangan masih dalam posisi melambai, sisa senyum manis masih terukir dibibirnya.
            Rafhael tergelak melihat tampang Samuel. Dia langsung menggoda Samuel. “Wah, kenapa tuh? Dia kabur ya?” sindir Rafhael.
            “Nggak kedengaran kali ya?” kata Samuel.
            “Hmm… Menurut gue sih ya...” omongan Rafhael terpotong oleh pelototan galak dari Samuel. Rafhael sudah mencoba menahan tawa. Sumpah demi Tuhan dia udah mencoba, tapi sayang, imannya lebih kecil sehingga tanpa peduli dengan perasaan Samuel, tawanya pun meledak. Rafhael tertawa bahagia melihat tatapan bengis Samuel.
            Rafhael menepuk pundak Samuel bersimpati. “Sabar, Brother, bukannya lo tuh nggak pernah gagal?” hibur Rafhael. Tapi perkataannya selanjutnya langsung membumi hanguskan niat awalnya untuk menghibur. “Yah, meskipun pasti ada juga namanya kegagalan pertama,” katanya.
            “Sialan lo!” maki Samuel sembil mencoba menggetok kepala Rafhael, namun Rafhael sudah mengelak dan kembali tertawa bahagia. Bahkan ia sudah menebar senyum ke mana-mana, ke semua cewek yang menyapanya dengan wajah memuja. Membuat Samuel tambah dongkol. Akhirnya Samuel cuma bisa misuh-misuh.
                                                                        ***
            Linzie girang bukan main karena dia bisa mengelabui Samuel. Berarti rencananya masih bisa diterapkan. Langkah Linzie serasa seringan bulu ketika ia menuju ke kelasnya. Namun siapa sangka dia justru berpapasan dengan orang kedua yang tak mau ditemuinya. Jeremy. Menjulang tinggi di depannya, dan nyaris menghabiskan seluruh ruang di tangga itu. Linzie harus meminta cowok itu minggir kalau mau lewat. Tapi dia malas bicara dengan cowok itu. Sayangnya, Linzie terpaksa menelan harga diri. Dia kan juga nggak mau kepergok Samuel, itu seandainya cowok itu menyusulnya. Lagipula kelas cowok itu ada di lantai yang sama dengannya.
            “Minggir sedikit donk, gue mau lewat nih,” kata Linzie.
            “Lewat aja,” kata Jeremy bergeming.
            Linzie langsung cemberut. Melihat sisa ruang di samping Jeremy, yang nggak ada setengah meter, itu sih cuma anak tuyul yang bisa lewat!
           “Lo lihat kan jalannya tuh sempit. Kalau lo nggak miring sedikit, gue nggak bisa lewat!” kata Linzie senewen.
            Jeremy memiringkan badannya sedikit. Benar-benar cuma sedikit! “Segini?” tanyanya polos. Ada senyum bermain-main di mata cowok itu. Sekarang yang bisa lewat cuma anak jin. Linzie makin cemberut. Jeremy kemudian memberikan jalan sesuai kehendak Linzie, sambil tersenyum manis yang sangat menipu. Linzie langsung melewatinya, tentunya setelah melempar tatapan awas-nanti-gue-balas-lo yang bikin Jeremy menyeringai.
            Tak lama setelah Linzie menghilang di belokan tangga, Samuel dan Rafhael muncul. Jeremy masih terlihat girang ketika mereka menghampirinya.
            “Kenapa lo?” tanya Samuel ketus. Wajah cutenya memberengut dan jadi tambah lucu.
            “Lo sendiri kenapa?” tanya Jeremy geli.
            Rafhael langsung menyambar dan menceritakan kejadian di halaman depan sekolah tadi, lengkap dengan diiringi tawa bahagia sesi keduanya.
            Jeremy mengedikkan kepala ke arah tangga di belakangnya. “Barusan gue ngerjain dia,” kata Jeremy enteng. Membuat Samuel melotot. Kemudian misuh-misuh lebih keras lagi.
            Tanpa menunggu dua temannya Samuel langsung menaiki tangga dan menuju kelasnya, urusan dengan Linzie akan dia selesaikan nanti. Sekarang dia harus memikirkan apa tindakannya yang salah yang membuat rencananya mendekati Linzie jadi berjalan mundur.
            Ternyata semuanya jadi lebih parah dari yang Samuel kira. Linzie bukan hanya pura-pura tidak mendengar sapaannya, cewek itu juga mulai menghindar! Setiap Samuel mendatangi kelasnya, cewek itu selalu tak ada. Setiap berpapasan, cewek itu selalu bilang ada urusan dan buru-buru angkat kaki. Kemudian setiap Samuel mengira dia sendirian, maka entah dari mana cewek itu bisa mendapatkan bala bantuan yang membuat Samuel makin jengkel.
            Hingga akhirnya ia tak bisa menahan kekesalannya lagi dan mengambil langkah sembrono. Ia memboikot langkah apapun yang disiapkan Linzie untuk menghindar. Ketika Samuel menemui Linzie di kelasnya, rupanya ketika itu Linzie baru hendak kabur, tapi Samuel lebih pintar dan telah menunggu di depan kelasnya, Samuel langsung ‘menculik’ Linzie. Diseretnya cewek itu ke kantin bareng.
            “Hey! Apa-apaan nih! Gue mau ke tempat teman-teman gue nih!” protes Linzie di tengah kepanikannya.
            “Lo bisa cari mereka nanti! Sekarang lo temenin gue makan,” kata Samuel cuek.
            “Lo kan bisa ngajak teman-teman lo! Atau cewek manapun yang selalu membayangi lo! Gue sibuk tau!” sahut Linzie.
            Samuel berhenti dan menatap Linzie. “Iya, lo sibuk mikirin cara buat menghindari gue!” setelah berkata itu, Samuel kembali meneruskan langkahnya. Linzie butuh beberapa waktu untuk membalas ucapan Samuel.
            “Gue nggak menghindari elo! Lagian buat apa coba? Gue tuh memang sibuk tau!”
            “Kalau gitu lo bisa donk, nemenin gue makan?” kata Samuel sambil melemparkan sanyum mautnya. Nah, perut Linzie langsung berontak. Mati-matian dia mencari alasan yang bisa membuatnya lepas dari situasi mengerikan ini. Namun mereka keburu sampai di kantin. Dan parahnya, Samuel mengambil tempat di pojok kantin, di meja yang mepet tembok! Tanpa Linzie sadari, ia sudah digiring masuk ke dalam jebakan.
            “Lo duduk di dalam,” kata Samuel.
            “Hah? Nggak mau! Gue di pinggir aja, lagian buat apa gue duduk di dalam, toh kursinya hadap-hadapan gini,” kata Linzie.
            “Makanya lo masuk dulu, gue nggak mau lo pergi kalau gue biarin lo duduk di luar,” kata Samuel.
            “Maksud lo? Lo nuduh gue bakal kabur dari lo gitu?!” sahut Linzie emosi.
            “Gue nggak nuduh. Dan kalau emang lo nggak bakal kabur, lo mau donk duduk di dalam,” kata Samuel.
            “Oke! Dan jangan bilang gue niat kabur! Karena gue nggak pernah kabur dari elo!” ketus Linzie. Kemudian menambahkan sambil menggerutu. “Lagian elo bukan siapa-siapa gue, buat apa gue kabur dari elo.”
            Samuel tersenyum dalam hati ketika Linzie sudah duduk manis. Kemudian tanpa rasa bersalah dia duduk di sebelah cewek itu.
            “Kok lo duduk di sini sih!? Depan masih kosong!” protes Linzie, dalam hati panik berat ketika menyadari dia tidak punya jalan keluar selain melewati Samuel. Selain dengan melompati meja kantin tentunya.
            “Lo mau pesan apa? Biar sekalian gue pesanin,” kata Samuel mengacuhkan protes Linzie.
            “Gue nggak nafsu makan!” ketus Linzie.
            “Oh, ya udah, gue samain aja kalau gitu,” sahut Samuel enteng.
            Linzie mendelik. “Gue bilang gue nggak lapar!” sahutnya kesal.
            “Hm-mm,” sahut Samuel sambil lalu.
            Linzie melipat tangan di depan dada dan duduk bersandar. Ia membuang pandangan dari Samuel yang duduk di sebelahnya. Mengabaikan lonjakan-lonjakan sinting diperutnya.
            Samuel menahan senyum kemenangannya ketika melihat Linzie mulai bersikap kooperatif. Meski jelas cewek itu bakal melesat pergi begitu ada kesempatan.
            Makanan mereka tiba, Samuel memesankan dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk untuk mereka. Namun Linzie tak mau menyentuh makanannya. Bahkan sekalipun penghuni perutnya sudah protes minta diisi.
            “Gue tau lo belum makan, nggak usah sebal gitu deh sama gue,” kata Samuel sambil bersandar miring pada tangan kirinya dan menatap Linzie.
            “Jadi lo nyadar kalau gue sebal sama elo?!” sindir Linzie pedas.
            “Tapi gue kan nggak salah. Gue cuma ngajak lo makan bareng, di kantin pula. Apa yang salah?” tanya Samuel polos.
            “Yang salah,” kata Linzie sambil duduk tegak menghadap Samuel. “lo nggak nanya gue mau apa nggak! Lo langsung narik dan ngajak gue ke sini!”
            “Nah, sekarang jelasin sama gue, di mana letak salahnya? Lagian gue nggak merasa ada yang salah dengan tindakan gue. Gue kan memang lagi PDKT sama lo, wajar donk gue ngajak makan bareng?”
            “PDKT lo bilang? Sejak kapan??? Gue nggak pernah setuju ya! Dan gue nggak akan pernah setuju! Gue tau reputasi lo. Lo bisa aja bilang lagi PDKT sama gue, tapi siapa yang tau di tempat lain lo lagi PDKT sama yang lain?!” kata Linzie meremehkan.
            Rahang Samuel mengencang. “Dengar ya, terserah reputasi gue yang mana yang lo percayai, tapi gue kasih tau sama lo, kalau gue udah memutuskan buat PDKT sama elo, maka gue cuma PDKT sama elo!!”
            Ketegasan di wajah dan suara Samuel membuat Linzie terperangah. Belum pernah Linzie melihat Samuel melepaskan topeng malaikat berwajah manisnya ketika bicara dengan cewek. Dan jika sampai ekspresinya berubah tajam begini... Linzie langsung mengenyahkan pikiran gilanya itu. Bukan urusannya Samuel marah atau tidak. Namun saat bicara, nadanya tak lagi sekasar tadi.
            “Kenapa lo PDKT ke gue? Masih banyak kan cewek yang mengejar-ngejar elo?” tanya Linzie sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang isinya nyaris cewek semua dan kini sedang memperhatikan mereka dengan keseriusan tingkat dewa.
            “Perlu gue jelasin alasannya? Lo benar-benar nggak tau?” Samuel balik tanya, tatapannya masih belum lepas dari mata Linzie. Membuat Linzie nyaris sesak napas. Linzie kemudian menggeleng lemah.
            “Jelas karena gue merasa tertarik sama elo! Kalau gue nggak merasa tertarik sama elo, buat apa gue susah payah ngedeketin elo?” sahut Samuel. Kemudian bertanya-tanya dalam hati dari mana datangnya penjelasan seperti itu. Biasanya Samuel tak pernah merasa harus memiliki ketertarikan kuat untuk mendekati cewek-cewek, bahkan sampai menjelaskan alasannya. Karena cewek-cewek itu sendiri yang datang padanya. Ia tinggal memilih mau jalan dengan yang mana. Tapi dengan Linzie, Samuel merasa harus memperoleh kepercayaan cewek itu. Gagasan itu membuatnya sedikit takut. Dia mendekati Linzie karena merasa tertantang untuk menaklukkannya kan??
            Setelah keluar dari ketidakpercayaannya, Linzie pun berkata. “Kenapa gue?”
            “Gue juga nggak tau. Tau-tau gue pingin aja kenal lo lebih dekat,” kata Samuel. Nah, dari mana jawaban itu datang? batin Samuel.
            Beberapa saat mereka cuma saling tatap. Kemudian Linzie menghela napas pasrah. “Gue tetap nggak mengerti apa yang bikin lo tertarik sama gue. Gue selalu menghindari tipe-tipe cowok kayak lo karena nggak mau mengulang kesalahan yang sama lagi,” kata Linzie
            “Tipe kayak gue?” tanya Samuel ingin tau.
            “Iya, tipe cowok yang bermulut manis, yang menggunakan pesonanya buat mendapatkan cewek mana pun yang elo mau. Tipe playboy yang nggak mungkin cukup dengan satu cewek,” kata Linzie sambil menatap Samuel. “Lo termasuk tipe itu kan? Gue udah banyak dengar cerita tentang sepak terjang lo,” kemudian Linzie mengalihkan tatapan kepada es jeruknya. Ia mengaduk-aduknya tanpa berniat meminumnya.
            “Gue nggak tau apa aja yang lo dengar tentang gue,” Samuel angkat bahu. “Tapi gosip selalu dilebih-lebihkan kan?”
            Meskipun dalam kasus Samuel sepertinya kenyataan dan gosip itu cuma beda tipis. Tapi Linzie kan tidak tau hal itu. Dia cuma bisa percaya pada apa yang ia dengar atau percaya pada Samuel. Dan keduanya jelas sama-sama meragukan dan punya dampak yang sama berbahayanya.
            “Memangnya kesalahan apa yang pernah lo perbuat yang melibatkan tipe cowok kayak gue?” tanya Samuel. Tiba-tiba merasa ingin tau tentang kehidupan Linzie.
            Linzie meliriknya sekilas. “Lo nggak perlu tau. Lagian nggak ada hubungannya sama elo,” kata Linzie mengelak. “Kalau lo mau makan, ya udah cepat makan. Gue temanin. Tapi nggak lebih,” kata Linzie kemudian.
            Samuel memutuskan belum saatnya bertindak lebih jauh, jadi ia tidak mendesak Linzie lebih jauh. Akhirnya ia pun berkata, “Tapi lo juga makan, aneh donk lo nemenin gue makan tpi gue cuma makan sendiri?”
            Setelah menimbang-nimbang sesaat, akhirnya Linzie mengambil sendok dan mulai menyuap sesuap kecil nasi goreng ke mulutnya.
            Samuel tersenyum puas dan melanjutkan makannya. Menyelingi dengan beberapa obrolan ringan namun sedikit menggoda agar ketegangan yang tadi terasa segera sirna. Setelah itu, Samuel mengantarkan Linzie kembali ke kelasnya. Sebelum meninggalkan kelas Linzie, Samuel pun meminta nomor ponsel cewek itu.
            “Buat apa?” tanya Linzie curiga.
            “Tentunya buat melancarkan PDKT gue ke elo kan?” kata Samuel, meskipun dalam hati bertanya-tanya hal apa yang membuat Linzie harus merasa selalu waspada padanya.
            Setelah memikirkan sesaat, akhirnya Linzie memberikan nomor ponselnya, tapi dengan sedikit peringatan kalau ia tidak suka diganggu dengan telepon-telepon atau sms-sms nggak penting tiap harinya.
            Samuel mengangguk-angguk setuju, meski jelas itulah yang akan dia lakukan. Setelah itu Samuel pergi ke kelasnya.
            “Oke, bye ya!” kata Samuel sambil mengacak-acak pelan rambut Linzie.
            “Apa sih!?” Linzie menepis tangan Samuel, sehingga Samuel tertawa.
            Setelah beberapa langkah, Samuel menoleh ke belakang, ternyata Linzie sudah masuk ke dalam kelasnya. Samuel kembali melanjutkan langkahnya. Lalu tanpa sadar dipandanginya tangannya yang tadi menyentuh rambut Linzie. Kenapa rasanya begitu alami ya? Seolah-olah mereka memang pasangan kekasih. Samuel menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengenyahkan pikiran itu. Jelas mereka bukan kekasih.
            Ingat, misinya adalah untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa ia mampu menaklukkan Linzie. Dan memang itu yang sedang Samuel lakukan. Setidaknya memang itu yang ia lakukan kan? Samuel bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang perasaan aneh yang mulai menderanya ketika ada dekat Linzie tadi.
Sungguh, apa yang terjadi pada dirinya...?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar