Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #9


Keisha baru saja keluar dari perpustakaan ketika seorang cewek yang tak dikenalnya datang menghampirinya dan tanpa tedeng aling-aling langsung menamparnya. Keisha begitu terperangah sehingga tidak tau harus bereaksi bagaimana. Hanya saja rasa perih di pipinya yang menyadarkannya. Ia menatap cewek di hadapannya dengan tatapan tajam. Namun belum sempat ia buka mulut, cewek itu sudah membentaknya lebih dulu.
            “Heh! Kalau lo masih punya harga diri sebagai cewek, jauhin cowok gue!!”
            Keisha sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan cewek itu. Memang apa yang Keisha telah lakukan?
            “Siapa?” hanya itu yang mampu Keisha tanyakan.
            “Siapa lagi?! Jeremy!! Lo nggak usah besar kepala ya, karena dia selalu ngedeketin elo!! Dia tuh memang begitu kalau ada yang bikin dia penasaran!!” hardik cewek tanpa nama itu. “Tapi asal lo tau, ya! Pada akhirnya dia tetap balik ke gue!! Meski dia nggak mempublikasikan hubungan kami, tapi jelas dia cowok gue!! Ngerti lo?!” desis cewek itu. Kemudian berbalik dengan angkuh dan meninggalkan Keisha terpaku sendirian.
            Jeremy? Punya cewek? Mana Keisha tau! Cowok itu tak pernah mengatakannya atau menunjukkannya! Dan sekarang tiba-tiba ‘cewek’nya muncul dan menamparnya? Keisha tak percaya. Tapi kenapa rasanya begitu sakit? Oh, bukan tamparannya. Keisha bisa menahan itu. Tapi sakitnya ada di dadanya. Rasanya sangat sakit sampai ia sulit bernapas.
            Apakah karena selama ini Jeremy menyembunyikan statusnya? Tapi Keisha bukan siapa-siapa cowok itu, meski dalam beberapa kesempatan Jeremy selalu bersikap seolah Keisha adalah miliknya. Tapi tetap saja, Keisha tak merasa berhak untuk tau kehidupan pribadinya. Keisha hanya sakit hati. Ia merasa dibohongi! Apakah ucapan Jeremy soal tak pernah bohong itu kebohongan semata? Saat ini Keisha tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bohong.
            “Kei,” panggilan itu membuat Keisha seolah disiram air es. Ia menoleh perlahan dan melihat Jeremy menghampirinya. Keisha tak tau harus bersikap bagaimana dengan Jeremy. Marah? Berteriak? Tapi apa haknya? Sebagai gantinya, Keisha melangkah pergi tanpa sekalipun menatap Jeremy. Bahkan tak mengacuhkan panggilan kebingungan cowok itu.
***
            Renaldi duduk di salah satu bangku beton yang ada di taman belakang sekolah. Seorang cewek berdiri di hadapannya sambil sesekali mengibaskan rambutnya ke belakang bahunya.
            “Bagaimana?” tanya Renaldi.
            Cewek itu memandangi jari-jarinya ketika menjawab. “Beres. Bahkan gue berhasil bikin cewek itu nggak bisa berkata-kata. Mungkin saat ini dia dan cowoknya lagi ribut,” sahut cewek itu.
            “Jeremy bukan cowoknya!” geram Renaldi.
            Si Cewek angkat bahu tak peduli. “Whateverlah. Yang penting tugas gue udah kelar kan? Mana bayaran gue? Gue mesti balik ke sekolah gue nih!” kata cewek itu.
            Renaldi mengeluarkan sebuah amplop dan melemparkannya pada Cewek itu. Setelah itu cewek itu berlalu.
            “Nah, sekarang kita lihat sejauh mana lo bakal bertahan,” kata Renaldi dengan senyum licik di wajahnya. Wajah ramah bak malaikatnya sudah lenyap sejak ia melihat Jeremy mendekati Keisha. Dan kini tekadnya hanya merebut Keisha dan menyingkirkan Jeremy jauh-jauh!
***
            Sekarang kenapa lagi? Jeremy tak henti-hentinya bertanya sejak pertemuan terakhirnya dengan Keisha di depan perpustakaan dua hari lalu. Karena ia menganggap Keisha sedang marah akan sesuatu yang tidak ia tau, makanya Jeremy menjaga jarak dari Keisha. Tapi dua hari sudah lebih dari cukup untuknya bersabar! Ia tak tau apa yang salah, tapi ia merasa perlu untuk menuntut jawaban dari Keisha.
            Cewek itu tidak bisa bersikap sesukanya. Sekejap damai, sekejap memusuhinya. Jeremy sudah bosan dengan tema itu dan jelas-jelas mereka sudah mengakhiri masa-masa peperangan itu. Keisha sudah tau tujuan awalnya dan bagaimana tujuan itu berubah seiring berjalannya waktu. Dan Jeremy bisa pastikan kalau Keisha bahkan mungkin tertarik juga padanya! Pasti ada sesuatu yang terjadi. Sementara Rafhael dan Samuel memata-matai Renaldi, maka ia harus meluruskan apapun masalahnya dengan Keisha.
            Akan tetapi, Keisha menolak bertemu berdua dengannya. Cewek itu terus menyibukkan dirinya dalam lingkaran teman-temannya yang bahkan bukan Linzie dan Chika! Itu sudah cukup mengaktifkan alarm bahaya di kepala Jeremy bahwa memang ada yang tidak beres. Ketika akhirnya berhasil mendapatkan waktu berdua saja dengan Keisha, Jeremy malah mendapati bahwa cewek itu telah kembali ke cangkang kepura-puraannya. Keisha memang bicara, bahkan melemparkan senyum padanya, namun di matanya tak tampak emosi apapun.
            Hal itu cukup membuat emosi yang selama ini Jeremy kendalikan baik-baik meledak! Jeremy harus menahan keinginan untuk mengguncang-guncangkan cewek itu agar mengatakan apa yang terjadi sehingga ia berubah lagi. Namun ia tak bisa, tidak tanpa menyakiti Keisha. Emosi-emosi asing yang melandanya ini masih baru baginya dan cukup membuatnya kewalahan. Jadi ia tidak yakin tidak akan melukai Keisha jika ia menyentuhnya. Sebagai gantinya, ia menggemeretakkan gigi dan mencengkeram tepian rak buku di perpustakaan dan mengurung Keisha dalam rentangan tangannya.
            “Katakan apa yang bikin lo balik lagi ke sikap munafik lo ini?” kata Jeremy setenang mungkin.
            “Ini sifat asli gue. Dan tolong hilangkan prasangka lo tentang gue,” sahut Keisha sama tenangnya.
            “Sialan, Keisha, gue punya batas kesabaran gue sendiri! Dan gue nggak bisa jamin gue bisa bersikap baik terus-terusan,” desis Jeremy. Ia tak peduli jika emosinya terbaca jelas dari suaranya. Ia tak peduli pada image yang orang pikir tentangnya. Ia hanya ingin jawaban. “Apa ini ada hubungannya dengan Renaldi? Cowok itu ngomong sesuatu sama elo?”
            “Kenapa lo bawa-bawa nama dia? Dia sama sekali nggak ada hubungannya dengan semua ini!” tegas Keisha.
            “Oh, jadi sekarang lo belain dia?” kata Jeremy. “Lo mau tau kebusukan apa yang dia simpan di balik tampang polosnya itu? Dialah yang ngirim preman buat ngehajar gue. Dia juga ngirim surat ancaman sama gue! Itu cowok yang lo bela!” kata Jeremy tajam.
            “Lo bisa berhenti menyalahkan orang lain! Renaldi bukan cowok seperti yang lo kira! Gue udah lama kenal dia dan dia nggak pernah berpura-pura atau bahkan bohong sama gue tentang statusnya!!” sentak Keisha sengit. Anehnya, mereka berdua tetap menjaga suara mereka sepelan mungkin agar tidak menarik perhatian di dalam perpustakaan itu.
            Kemudian tanpa membiarkan Jeremy menyelanya, Keisha melanjutkan. “Setidaknya dia nggak bohong sama gue saat menunjukkan ketertarikan dia sama gue. Dia membuktikan bahwa dia single! Bukan single yang menyembunyikan status doublenya!”
            “Apa maksud lo gue yang bohong tentang status gue? Dari mana lo tau gue bohong atau nggak? Sementara di awal gue udah bilang gue nggak pernah bohong!!” suara Jeremy naik satu oktaf karena marah.
            “Gue tau dari sumber yang bisa gue percaya! Dan jangan menaikkan suara saat bicara sama gue! Gue muak lo permainin! Gue muak dengan sikap lo yang bikin hidup gue jungkir balik! Gue muak karena lo bikin gue menyadari apa yang nggak mau gue sadari!!” teriak Keisha. “Lo bisa berhenti bohong sama gue! Silahkan lo kembali ke pelukan cewek lo dan berhenti ikutin gue!! Lo menang!! Gue kalah!!”
            Keisha pun mendorong Jeremy lalu berlari keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Jeremy.
            “Keisha!! Kembali ke sini sekarang!!” teriak Jeremy meski tau takkan digubris oleh Keisha. Malah yang ada sekarang beberapa pasang mata mengintip ingin tau dari balik rak-rak buku.
            Jeremy mengumpat dan meninggalkan perpustakaan. Mengabaikan teguran yang disampaikan penjaga perpustakaan lewat pelototan matanya, dan terus berjalan keluar.
            Amarah Jeremy pasti sangat terasa karena setiap orang langsung menyingkir ketika dia lewat. Bahkan melirik pun tak berani. Saat ini Jeremy jelas dalam kondisi tak mau diganggu. Ketika ia sampai di kelasnya, suasana kelas langsung hening. Ketegangan seketika memenuhi udara, bahkan ada beberapa orang yang ngacir keluar kelas karena tidak tahan dengan kuatnya tekanan yang ada.
            Samuel dan Rafhael yang sedang berdiskusi tentang cara-cara yang akan mereka lakukan untuk menjebak Renaldi pun seketika terdiam ketika menyadari kedatangan Jeremy. Sebelum ada yang membuka mulut, Jeremy sudah lebih dulu berkata.
            “Gue bakal bikin perhitungan sama tuh bajingan,” katanya dengan nada suara paling dingin dan tatapan penuh nafsu membunuh.
            “Apa yang terjadi?” tanya Rafhael hati-hati, setelah sebelumnya saling melempar lirikan penuh arti dengan Samuel. Memutuskan siapa yang cukup berani untuk bertanya. Dan tampaknya Samuel sadar ia terlalu beresiko jika bicara. Maka posisi agung itu jatuh ke tangan Rafhael.
            “Gue juga akan mencari tau begitu manusia tengik itu ada di tangan gue,” sahut Jeremy.
            “Jer, gue pikir kita jangan melenceng dari rencana awal. Bukannya lo nggak mau Keisha salah paham karena bedebah itu memutar balikkan faktanya?” kata Samuel pelan, ia mengamati reaksi Jeremy, tapi topeng sedingin es tetap membeku di wajahnya.
            “Keisha udah terperangkap,” sahut Jeremy tanpa emosi. “Entah apa yang terjadi, tapi cewek itu sekarang menjauhi gue!”
            Samuel dan Rafhael saling lirik kemudian Rafhael bicara dengan hati-hati lagi. “Gue janji bakal cari tau tentang itu. Tapi gue mohon sama elo, tolong jangan gegabah. Lo nggak pernah nunjukin emosi lo sejak lo bebas dari kungkungan bokap nyokap lo, ingat? Jadi jangan merusak semua usaha keras lo hanya karena bedebah kecil ini,” saran Rafhael.
            Jeremy menarik napas dalam beberapa kali untuk menekan gejolak yang mulai ia rasakan. Setelah beberapa saat akhirnya ia jauh lebih tenang. Dan tidak tampak ingin membunuh lagi. Namun dari sikap tubuhnya, jelas terlihat bahwa ia masih sangat emosi.
            “Sampai saat ini gue dan Sam belum mendapat hal yang berarti. Tapi dari mata-mata gue, gue mendapat info kalau Renaldi sempat ketemu dengan seorang cewek diam-diam beberap hari lalu. Informan gue kurang tau apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas dia ngelihat Renaldi nyerahin amplop ke cewek itu,” kata Rafhael. “Menurut lo gimana?”
            Jeremy terdiam dan mencerna informasi itu. Kemudian entah bagaimana kata-kata Keisha berkelebatan di kepalanya seperti lampu neon yang menyala terang. Jeremy ingat Keisha mengatakan tentang sesuatu mengenai status single atau doublenya. Mengatakan ia mendapatkan dari sumber yang terpercaya. Pasti ada hubungannya dengan pertemuan rahasia Renaldi.
            Pemikiran bahwa Renaldi membayar seseorang untuk melakukan sesuatu pada Keisha muncul di benak Jeremy. Kalau ia bisa membayar preman-preman untuk menyerangnya, kenapa ia tak bisa membayar seorang cewek untuk menyakiti Keisha? Jeremy tak khawatir Keisha disakiti secara fisik, namun kata-kata kerap kali menjadi senjata yang mematikan jika memang perlu. Dan mungkin saja Keisha mendengar sesuatu yang membuatnya berubah sikap seperti sekarang ini.
            “Gue mau lo menemukan cewek itu. Ajak informan lo kalau perlu buat mencari keberadaan tuh cewek!” sahut Jeremy kemudian.
            Rafhael mengangguk dan mulai menjalankan tugasnya. Tinggalah Samuel.
            “Lo mau gue ngelakuin sesuatu?” tanya Samuel.
            Jeremy baru saja hendak mengatakan tidak ketika ia secara sadar langsung berubah pikiran. “Lo bisa memancing-mancing Linzie buat mencari tau keadaan Keisha. Gue harus tau apa yang menyebabkan dia begitu marah sama gue. Dan kedua sahabatnya bisa jadi tempat paling tepat untuk bertanya. Gue rasa lo tau caranya tanpa membuat mereka curiga?” kata Jeremy.
            Samuel menyeringai. “Serahin ke gue!” sahutnya.
            Jeremy menghela napas. “Thanks.”
            “You’re wellcome. Lo juga bantu-bantu gue waktu gue nyaris kehilangan Linzie,” kata Samuel. Kemudian menyeringai. “Mungkin ini karma buat lo karena meledek gue waktu itu?”
            Jeremy mendengus geli. “Gue harap bukan. Tapi silahkan lo bersenang-senang atas pikiran itu,” sahutnya.
            Samuel terkekeh dan mulai beranjak pergi. Ketika Jeremy tinggal sendirian, kepalanya mulai penuh dengan spekulasi apa yang mungkin terjadi. Otaknya mencoba mengingat semua detail ucapan Keisha dan mendapatkan satu atau dua petunjuk yang mengarah pada cewek misterius yang ditemui Renaldi.
            Mungkin sudah waktunya untuk menggunakan daya pikatnya untuk mencari tau dari semua kenalan ceweknya di sekolah mengenai apa yang mungkin terjadi beberapa hari yang lalu yang luput dari perhatiannya. Jeremy menghela napas berat. Tampaknya ini akan jadi pekerjaan yang berat.
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar