Keisha baru saja keluar dari perpustakaan ketika
seorang cewek yang tak dikenalnya datang menghampirinya dan tanpa tedeng
aling-aling langsung menamparnya. Keisha begitu terperangah sehingga tidak tau
harus bereaksi bagaimana. Hanya saja rasa perih di pipinya yang menyadarkannya.
Ia menatap cewek di hadapannya dengan tatapan tajam. Namun belum sempat ia buka
mulut, cewek itu sudah membentaknya lebih dulu.
“Heh!
Kalau lo masih punya harga diri sebagai cewek, jauhin cowok gue!!”
Keisha
sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan cewek itu. Memang apa yang Keisha
telah lakukan?
“Siapa?”
hanya itu yang mampu Keisha tanyakan.
“Siapa
lagi?! Jeremy!! Lo nggak usah besar kepala ya, karena dia selalu ngedeketin
elo!! Dia tuh memang begitu kalau ada yang bikin dia penasaran!!” hardik cewek
tanpa nama itu. “Tapi asal lo tau, ya! Pada akhirnya dia tetap balik ke gue!!
Meski dia nggak mempublikasikan hubungan kami, tapi jelas dia cowok gue!!
Ngerti lo?!” desis cewek itu. Kemudian berbalik dengan angkuh dan meninggalkan
Keisha terpaku sendirian.
Jeremy?
Punya cewek? Mana Keisha tau! Cowok itu tak pernah mengatakannya atau menunjukkannya!
Dan sekarang tiba-tiba ‘cewek’nya muncul dan menamparnya? Keisha tak percaya.
Tapi kenapa rasanya begitu sakit? Oh, bukan tamparannya. Keisha bisa menahan
itu. Tapi sakitnya ada di dadanya. Rasanya sangat sakit sampai ia sulit
bernapas.
Apakah
karena selama ini Jeremy menyembunyikan statusnya? Tapi Keisha bukan
siapa-siapa cowok itu, meski dalam beberapa kesempatan Jeremy selalu bersikap
seolah Keisha adalah miliknya. Tapi tetap saja, Keisha tak merasa berhak untuk
tau kehidupan pribadinya. Keisha hanya sakit hati. Ia merasa dibohongi! Apakah
ucapan Jeremy soal tak pernah bohong itu kebohongan semata? Saat ini Keisha tak
bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bohong.
“Kei,”
panggilan itu membuat Keisha seolah disiram air es. Ia menoleh perlahan dan
melihat Jeremy menghampirinya. Keisha tak tau harus bersikap bagaimana dengan
Jeremy. Marah? Berteriak? Tapi apa haknya? Sebagai gantinya, Keisha melangkah
pergi tanpa sekalipun menatap Jeremy. Bahkan tak mengacuhkan panggilan
kebingungan cowok itu.
***
Renaldi
duduk di salah satu bangku beton yang ada di taman belakang sekolah. Seorang
cewek berdiri di hadapannya sambil sesekali mengibaskan rambutnya ke belakang
bahunya.
“Bagaimana?”
tanya Renaldi.
Cewek
itu memandangi jari-jarinya ketika menjawab. “Beres. Bahkan gue berhasil bikin
cewek itu nggak bisa berkata-kata. Mungkin saat ini dia dan cowoknya lagi
ribut,” sahut cewek itu.
“Jeremy
bukan cowoknya!” geram Renaldi.
Si
Cewek angkat bahu tak peduli. “Whateverlah.
Yang penting tugas gue udah kelar kan? Mana bayaran gue? Gue mesti balik ke
sekolah gue nih!” kata cewek itu.
Renaldi
mengeluarkan sebuah amplop dan melemparkannya pada Cewek itu. Setelah itu cewek
itu berlalu.
“Nah,
sekarang kita lihat sejauh mana lo bakal bertahan,” kata Renaldi dengan senyum
licik di wajahnya. Wajah ramah bak malaikatnya sudah lenyap sejak ia melihat
Jeremy mendekati Keisha. Dan kini tekadnya hanya merebut Keisha dan
menyingkirkan Jeremy jauh-jauh!
***
Sekarang
kenapa lagi? Jeremy tak henti-hentinya bertanya sejak pertemuan terakhirnya
dengan Keisha di depan perpustakaan dua hari lalu. Karena ia menganggap Keisha
sedang marah akan sesuatu yang tidak ia tau, makanya Jeremy menjaga jarak dari
Keisha. Tapi dua hari sudah lebih dari cukup untuknya bersabar! Ia tak tau apa
yang salah, tapi ia merasa perlu untuk menuntut jawaban dari Keisha.
Cewek itu tidak bisa bersikap
sesukanya. Sekejap damai, sekejap memusuhinya. Jeremy sudah bosan dengan tema
itu dan jelas-jelas mereka sudah mengakhiri masa-masa peperangan itu. Keisha
sudah tau tujuan awalnya dan bagaimana tujuan itu berubah seiring berjalannya
waktu. Dan Jeremy bisa pastikan kalau Keisha bahkan mungkin tertarik juga
padanya! Pasti ada sesuatu yang terjadi. Sementara Rafhael dan Samuel
memata-matai Renaldi, maka ia harus meluruskan apapun masalahnya dengan Keisha.
Akan
tetapi, Keisha menolak bertemu berdua dengannya. Cewek itu terus menyibukkan
dirinya dalam lingkaran teman-temannya yang bahkan bukan Linzie dan Chika! Itu
sudah cukup mengaktifkan alarm bahaya di kepala Jeremy bahwa memang ada yang
tidak beres. Ketika akhirnya berhasil mendapatkan waktu berdua saja dengan
Keisha, Jeremy malah mendapati bahwa cewek itu telah kembali ke cangkang
kepura-puraannya. Keisha memang bicara, bahkan melemparkan senyum padanya,
namun di matanya tak tampak emosi apapun.
Hal itu cukup membuat emosi yang
selama ini Jeremy kendalikan baik-baik meledak! Jeremy harus menahan keinginan
untuk mengguncang-guncangkan cewek itu agar mengatakan apa yang terjadi
sehingga ia berubah lagi. Namun ia tak bisa, tidak tanpa menyakiti Keisha.
Emosi-emosi asing yang melandanya ini masih baru baginya dan cukup membuatnya
kewalahan. Jadi ia tidak yakin tidak akan melukai Keisha jika ia menyentuhnya.
Sebagai gantinya, ia menggemeretakkan gigi dan mencengkeram tepian rak buku di
perpustakaan dan mengurung Keisha dalam rentangan tangannya.
“Katakan
apa yang bikin lo balik lagi ke sikap munafik lo ini?” kata Jeremy setenang
mungkin.
“Ini
sifat asli gue. Dan tolong hilangkan prasangka lo tentang gue,” sahut Keisha
sama tenangnya.
“Sialan,
Keisha, gue punya batas kesabaran gue sendiri! Dan gue nggak bisa jamin gue
bisa bersikap baik terus-terusan,” desis Jeremy. Ia tak peduli jika emosinya
terbaca jelas dari suaranya. Ia tak peduli pada image yang orang pikir
tentangnya. Ia hanya ingin jawaban. “Apa ini ada hubungannya dengan Renaldi?
Cowok itu ngomong sesuatu sama elo?”
“Kenapa
lo bawa-bawa nama dia? Dia sama sekali nggak ada hubungannya dengan semua ini!”
tegas Keisha.
“Oh,
jadi sekarang lo belain dia?” kata Jeremy. “Lo mau tau kebusukan apa yang dia
simpan di balik tampang polosnya itu? Dialah yang ngirim preman buat ngehajar
gue. Dia juga ngirim surat ancaman sama gue! Itu cowok yang lo bela!” kata
Jeremy tajam.
“Lo
bisa berhenti menyalahkan orang lain! Renaldi bukan cowok seperti yang lo kira!
Gue udah lama kenal dia dan dia nggak pernah berpura-pura atau bahkan bohong
sama gue tentang statusnya!!” sentak Keisha sengit. Anehnya, mereka berdua
tetap menjaga suara mereka sepelan mungkin agar tidak menarik perhatian di
dalam perpustakaan itu.
Kemudian
tanpa membiarkan Jeremy menyelanya, Keisha melanjutkan. “Setidaknya dia nggak
bohong sama gue saat menunjukkan ketertarikan dia sama gue. Dia membuktikan
bahwa dia single! Bukan single yang menyembunyikan status doublenya!”
“Apa
maksud lo gue yang bohong tentang status gue? Dari mana lo tau gue bohong atau
nggak? Sementara di awal gue udah bilang gue nggak pernah bohong!!” suara
Jeremy naik satu oktaf karena marah.
“Gue
tau dari sumber yang bisa gue percaya! Dan jangan menaikkan suara saat bicara
sama gue! Gue muak lo permainin! Gue muak dengan sikap lo yang bikin hidup gue
jungkir balik! Gue muak karena lo bikin gue menyadari apa yang nggak mau gue
sadari!!” teriak Keisha. “Lo bisa berhenti bohong sama gue! Silahkan lo kembali
ke pelukan cewek lo dan berhenti ikutin gue!! Lo menang!! Gue kalah!!”
Keisha
pun mendorong Jeremy lalu berlari keluar dari perpustakaan dan meninggalkan
Jeremy.
“Keisha!!
Kembali ke sini sekarang!!” teriak Jeremy meski tau takkan digubris oleh
Keisha. Malah yang ada sekarang beberapa pasang mata mengintip ingin tau dari
balik rak-rak buku.
Jeremy
mengumpat dan meninggalkan perpustakaan. Mengabaikan teguran yang disampaikan
penjaga perpustakaan lewat pelototan matanya, dan terus berjalan keluar.
Amarah
Jeremy pasti sangat terasa karena setiap orang langsung menyingkir ketika dia
lewat. Bahkan melirik pun tak berani. Saat ini Jeremy jelas dalam kondisi tak
mau diganggu. Ketika ia sampai di kelasnya, suasana kelas langsung hening.
Ketegangan seketika memenuhi udara, bahkan ada beberapa orang yang ngacir
keluar kelas karena tidak tahan dengan kuatnya tekanan yang ada.
Samuel
dan Rafhael yang sedang berdiskusi tentang cara-cara yang akan mereka lakukan
untuk menjebak Renaldi pun seketika terdiam ketika menyadari kedatangan Jeremy.
Sebelum ada yang membuka mulut, Jeremy sudah lebih dulu berkata.
“Gue
bakal bikin perhitungan sama tuh bajingan,” katanya dengan nada suara paling
dingin dan tatapan penuh nafsu membunuh.
“Apa
yang terjadi?” tanya Rafhael hati-hati, setelah sebelumnya saling melempar
lirikan penuh arti dengan Samuel. Memutuskan siapa yang cukup berani untuk
bertanya. Dan tampaknya Samuel sadar ia terlalu beresiko jika bicara. Maka
posisi agung itu jatuh ke tangan Rafhael.
“Gue
juga akan mencari tau begitu manusia tengik itu ada di tangan gue,” sahut
Jeremy.
“Jer,
gue pikir kita jangan melenceng dari rencana awal. Bukannya lo nggak mau Keisha
salah paham karena bedebah itu memutar balikkan faktanya?” kata Samuel pelan,
ia mengamati reaksi Jeremy, tapi topeng sedingin es tetap membeku di wajahnya.
“Keisha
udah terperangkap,” sahut Jeremy tanpa emosi. “Entah apa yang terjadi, tapi
cewek itu sekarang menjauhi gue!”
Samuel
dan Rafhael saling lirik kemudian Rafhael bicara dengan hati-hati lagi. “Gue janji
bakal cari tau tentang itu. Tapi gue mohon sama elo, tolong jangan gegabah. Lo
nggak pernah nunjukin emosi lo sejak lo bebas dari kungkungan bokap nyokap lo,
ingat? Jadi jangan merusak semua usaha keras lo hanya karena bedebah kecil
ini,” saran Rafhael.
Jeremy
menarik napas dalam beberapa kali untuk menekan gejolak yang mulai ia rasakan.
Setelah beberapa saat akhirnya ia jauh lebih tenang. Dan tidak tampak ingin
membunuh lagi. Namun dari sikap tubuhnya, jelas terlihat bahwa ia masih sangat
emosi.
“Sampai
saat ini gue dan Sam belum mendapat hal yang berarti. Tapi dari mata-mata gue,
gue mendapat info kalau Renaldi sempat ketemu dengan seorang cewek diam-diam
beberap hari lalu. Informan gue kurang tau apa yang mereka bicarakan, tapi yang
jelas dia ngelihat Renaldi nyerahin amplop ke cewek itu,” kata Rafhael.
“Menurut lo gimana?”
Jeremy
terdiam dan mencerna informasi itu. Kemudian entah bagaimana kata-kata Keisha
berkelebatan di kepalanya seperti lampu neon yang menyala terang. Jeremy ingat
Keisha mengatakan tentang sesuatu mengenai status single atau doublenya.
Mengatakan ia mendapatkan dari sumber yang terpercaya. Pasti ada hubungannya
dengan pertemuan rahasia Renaldi.
Pemikiran bahwa Renaldi membayar
seseorang untuk melakukan sesuatu pada Keisha muncul di benak Jeremy. Kalau ia
bisa membayar preman-preman untuk menyerangnya, kenapa ia tak bisa membayar
seorang cewek untuk menyakiti Keisha? Jeremy tak khawatir Keisha disakiti
secara fisik, namun kata-kata kerap kali menjadi senjata yang mematikan jika
memang perlu. Dan mungkin saja Keisha mendengar sesuatu yang membuatnya berubah
sikap seperti sekarang ini.
“Gue
mau lo menemukan cewek itu. Ajak informan lo kalau perlu buat mencari
keberadaan tuh cewek!” sahut Jeremy kemudian.
Rafhael
mengangguk dan mulai menjalankan tugasnya. Tinggalah Samuel.
“Lo
mau gue ngelakuin sesuatu?” tanya Samuel.
Jeremy
baru saja hendak mengatakan tidak ketika ia secara sadar langsung berubah
pikiran. “Lo bisa memancing-mancing Linzie buat mencari tau keadaan Keisha. Gue
harus tau apa yang menyebabkan dia begitu marah sama gue. Dan kedua sahabatnya
bisa jadi tempat paling tepat untuk bertanya. Gue rasa lo tau caranya tanpa
membuat mereka curiga?” kata Jeremy.
Samuel
menyeringai. “Serahin ke gue!” sahutnya.
Jeremy
menghela napas. “Thanks.”
“You’re wellcome. Lo juga bantu-bantu gue
waktu gue nyaris kehilangan Linzie,” kata Samuel. Kemudian menyeringai.
“Mungkin ini karma buat lo karena meledek gue waktu itu?”
Jeremy
mendengus geli. “Gue harap bukan. Tapi silahkan lo bersenang-senang atas
pikiran itu,” sahutnya.
Samuel
terkekeh dan mulai beranjak pergi. Ketika Jeremy tinggal sendirian, kepalanya
mulai penuh dengan spekulasi apa yang mungkin terjadi. Otaknya mencoba
mengingat semua detail ucapan Keisha dan mendapatkan satu atau dua petunjuk
yang mengarah pada cewek misterius yang ditemui Renaldi.
Mungkin
sudah waktunya untuk menggunakan daya pikatnya untuk mencari tau dari semua
kenalan ceweknya di sekolah mengenai apa yang mungkin terjadi beberapa hari
yang lalu yang luput dari perhatiannya. Jeremy menghela napas berat. Tampaknya
ini akan jadi pekerjaan yang berat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar