Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #5


Begitu tiba di sekolah, yang sebenarnya mepet-mepet bel, Chika langsung disambut oleh Inka. Chika dipeluk, diajak berputar-putar, bahkan dicium kedua pipinya. Meskipun bingung, Chika pasrah saja dan ikut berjingkrakan ria bersama Inka. Setelah euforianya reda, Inka pun menjelaskan.
            “Ya ampun, Chi! Gue bahagia banget!” seru Inka.
            “Memangnya ada apa?” tanya Chika penasaran.
            “Gue ditembak Arya!” bisik Inka.
            Chika memekik gembira dan kembali melompat-lompat bersama Inka. Mereka udah kayak orang yang baru lulus-lulusan aja, tak peduli orang-orang menatap aneh ke arah mereka. Mereka tampak larut dalam euforia sendiri. Setelah tenang, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Inka menceritakan bagaimana kejadiannya, dan mereka berteriak-teriak kecil sepanjang jalan ke kelas.
            Euforia itu belum berakhir sampai situ. Chika juga menceritakan kesuksesannya sebagai mak comblang pada Linzie dan Keisha dengan bersemangat. Mengabaikan kedua pacar sahabatnya yang menatap tertarik sekaligus tak mengerti dengan cerita yang mengalir dengan cepat layaknya laju kereta api dari Chika. Chika tampak girang bukan main. Tak ada apapun yang bisa membuatnya berhenti tersenyum, ia yakin itu. Bahkan gempa bumi juga nggak akan bisa memengaruhi kebahagiaannya untuk Inka.
            “Ternyata Chika berbakat ya! Gue awalnya juga nggak yakin, tapi ternyata gue bisa kan?!” kata Chika riang. “Bahkan tanpa bantuan!” tambahnya dengan sedikit jengkel sambil mengerling ke arah Jeremy dan Samuel yang cuma menyeringai.
            “Lalu sekarang Inka gimana?” tanya Keisha.
            “Yaa... nempel sama Arya. Bukannya orang yang baru jadian pasti gitu?” kata Chika. Meskipun tidak sadar dan tidak bermaksud menyindir, tapi kentara sekali teman-temannya merasa tersindir. Samuel langsung tersedak, dan Jeremy dengan senang hati menepuk (atau menabok?) punggungnya dengan semangat. Sementara Linzie merona dan Keisha mengernyitkan alisnya.
            “Heh, gue bisa mati tau!” protes Samuel.
            Chika tertawa-tawa melihatnya. Padahal yang membuat Samuel tersedak kan dia. Lalu seolah belum menyadarinya, Chika melemparkan bom terakhirnya.
            “Oh ya, kayaknya Chika memang lagi jatuh cinta deh!” kata Chika riang.
            Kali ini bukan hanya Samuel yang tersedak, tapi Linzie dan Keisha juga melakukan hal yang sama. Mereka langsung menatap Chika dengan tatapan tak percaya, seolah-olah Chika sedang mengumumkan kalau ia baru saja mengalahkan peringkat akademis Jeremy.
            “Setelah Chika pikir baik-baik, mungkin Chika memang lagi jatuh cinta. Lagian setiap sama-sama, Chika selalu merasa gemes tiap lihat dia. Uhh, pingin meluk terus deh,” celotehnya lagi.
            “Sama siapa, Chi?” tanya Jeremy.
            “Uhmm... Bilang nggak ya... Tapi nanti malah diketawain...” kata Chika mikir-mikir.
            “Bilang aja, kita nggak bakal ketawa kok,” bujuk Samuel.
            “Nggak ah! Kalian pasti ketawa!” sahut Chika keras kepala. Kemudian Chika bangkit dari duduknya dan membawa sebungkus roti. “Udah ya, Chika mau ketemu dia dulu,” kata Chika dan melangkah pergi.
            Keempat orang yang masih tersisa saling pandang penuh arti. Mereka dapat menduga Chika akan ketemu siapa, jadi mereka tidak bertanya-tanya dan melanjutkan obrolan mereka. Sebagian membicarakan mengenai pengumuman yang Chika katakana tadi. Tak sampai lima menit kemudian, Rafhael bergabung dengan mereka.
            “Lho, kok lo di sini? Chika mana?” celetuk Samuel.
            Rafhael mengernyit. “Kenapa gue harus sama dia?” tanya Rafhael balik.
            Sekarang giliran Samuel yang mengernyit. “Tadi dia bilang mau ketemu elo,” kata Samuel bingung. Ia memandang teman-temannya, meminta bantuan.
            “Nggak, gue nggak ada ketemu Chika. Memang dia ke mana?” tanya Rafhael. Ia membuka sekaleng pepsi dan mulai meneguknya.
            “Dia bilang mau ketemu ‘seseorang yang dia suka, yang selalu ingin dia peluk-peluk’,” kata Jeremy.
            Rafhael langsung menyemburkan pepsinya. Membuat Samuel langsung menghindar dan menubruk Linzie hingga keduanya jatuh terduduk ke lantai tapi tetap terkena muncratan pepsi Rafhael. Keisha yang duduk di dekat Samuel juga ikut terkena cipratan di lengan bajunya. Hanya Jeremy yang aman karena dia jauh dari area semburan Rafhael.
            “Duh, lo apa-apaaan sih?!” omel Keisha.
            “Sialan lo! Lo kira-kira donk!” protes Samuel.
            “Rafhael, lo gila ya?! Nggak usah segitunya kali!” ini datang dari Linzie yang ditubruk Samuel.
            “Lo barusan bilang apa?” tanya Rafhael, mengelap bibir dengan punggung tangannya. Tak memedulikan gerutuan teman-temannya yang mulai membersihkan cipratan-cipratan yang mengenai mereka.
            Jeremy mengulangi apa yang dikatakannya dengan tenang. karena dialah satu-satunya korban selamat dari insiden itu.
            Rafhael terperangah. Chika? Chika yang lemot dan cerewet itu? Impossible! Rafhael tidak percaya. Mana mungkin cewek itu bisa memikirkan hal-hal yang dikatakan Jeremy tadi? Lagipula, terlalu banyak cowok-cowok yang bergaul dengan Chika, dan dari yang Rafhael dengar, tak ada satupun yang mendekati Chika dalam rangka PDKT. Jadi mustahil kan kalau Chika sudah begitu dekat dengan siapaun itu? Memikirkannya membuat Rafhael tidak tenang dan bergidik. Dia malah jadi khawatir kalau cewek itu akan terlibat masalah lagi.
            “Ahh, lengket gue!” omelan Keisha membuat Rafhael tersadar dari lamunannya.
            “Eh, sorry, Kei,” katanya menyesal.
            “Gue mau cuci tangan dulu!” kata Keisha dan berjalan ke wastafel
            “Gue juga deh,” kata Samuel, yang paling sial karena kena semburan paling banyak. Rafhael menyeringai. Kemudian ia menangkap tatapan dari Jeremy.
            Jeremy menaikkan alis kirinya, yang selalu membuat Rafhael jengkel. Rafhael selalu merasa ditantang oleh Jeremy agar mau berkomentar. Tapi Rafhael tak mengatakan apapun. Ia tak mau Jeremy merasa menang karena berhasil menggodanya.
            “Oke, gue pikir lo nggak bakal berkomentar,” kata Jeremy.
            “Memangnya gue harus berkomentar soal apa?” tanya Rafhael .
            Jeremy angkat bahu. “Gue kira lo akan merasa penasaran dengan siapa Chika ketemu. Kita semua aja penasaran,” kata Jeremy.
            “Kenapa gue harus penasaran?” sahut Rafhael, jelas-jelas tidak mau mengaku kalau ia pun merasa penasaran sama besarnya seperti teman-temannya.
            “Karena kita pikir Chika mungkin jatuh cinta sama elo,” sahut Linzie jengkel. “Tapi berhubung lo di sini, sepertinya gue salah menduga,” katanya lagi.
            “Hah? Dia jatuh cinta sama gue? Ngaco lo! Cewek lemot gitu mana ngerti soal cinta coba!” sahut Rafhael mendengus.
          Linzie menatap tajam ke arah Rafhael. “Heh, gue peringatkan elo ya, kalau sampai lo bikin teman gue sedih...” ancam Linzie.
            “Gue nggak mungkin mendekati dia. Sesuka-sukanya gue jalan sama cewek, dia nggak termasuk tipe gue! Mendekati aja nggak, gimana gue bisa mempermainkan dia?” potong Rafhael.
            “Jaga omongan lo,” kata Keisha yang sudah kembali sambil mengeringkan tangannya dengan tissue. “Lo mungkin nggak mau mendekati Chika, tapi lo nggak tau gimana dengan Chika. Meski dia lemot dan sering telmi, dia juga punya perasaan tau,” kata Keisha.
            “Hey, kok kesannya kalian pada nyalahin gue sih? Dari kemarin-kemarin kalian terus menatap gue seolah-olah gue ini salah. Gue kan nggak mendekati Chika!” protes Rafhael. “Gue bahkan nggak pernah mikir ke arah situ! Dan nggak akan pernah!”
            Rafhael mengatakannya dengan emosi. Kalau dipojokkan begitu dia malah jadi makin emosi dan langsung defensif. Ditambah lagi alasan teman-temannya itu sangat tidak relevan! Kenapa coba mereka berpikir bahwa Chika menyukainya? Dia saja tak pernah memandang Chika seperti itu. Dalam mimpi pun tidak pernah!
            “Lo memang nggak ngerti perasaan cewek!” ketus Linzie. Dia bangkit dan mengajak Keisha pergi. Kedua cewek itu menghadiahkan tatapan muak ke arah Rafhael sebelum pergi.
            “Hei, gue nggak salah!!” seru Rafhael. Kemudian kepada teman-temannya dia berkata. “Cewek-cewek itu kenapa sih? Apa salah gue coba?” kata Rafhael tak habis pikir.
            “Lo tuh ya… Gue heran, kenapa selama ini banyak cewek yang dekat dengan lo tapi nggak satupun yang elo pacari,” kata Samuel .
            “Apa hubungannya? Toh, gue nggak pernah jalan sama mereka lebih dari sekali,” sahut Rafhael tak mengerti.
            “Itulah kelemahan lo! Lo melihat mereka nggak lebih sebagai teman buat mengisi waktu. Lo nggak pernah berpikir gimana perasaan mereka,” kata Jeremy.
            “Lalu?” tanya Rafhael kembali defensif.
            Jeremy mendesah. Samuel langsung menyambar. “Lo mungkin nggak sadar, tapi sikap lo yang nggak bisa ditebak itu yang bikin cewek-cewek berlomba-lomba mendekati lo! Ditambah lagi temperamen lo itu, mereka jadi berpikir ‘mungkin nggak ya gue bisa merubah sikapnya’, yang malah menyesatkan mereka! Persis seperti dongeng Beauty and The Beast! Jadi lo nggak sepenuhnya nggak salah!”
            Sebelum Rafhael sempat menyahut, Jeremy langsung menambahkan. “Dan Chika juga bukan pengecualian. Dia mungkin nggak sadar atau dia memang nggak terkena pengaruh lo, tapi kemungkinan selalu ada. Lo dan dia cukup dekat kan? Meski kebanyakan dalam situasi yang nggak menyenangkan,” kata Jeremy.
            Rafhael mendesah. “Kalian udah kenal gue berapa lama sih? Kalian tau gue nggak pernah jalan sama cewek yang polos. Dan jelas-jelas gue menghindari mereka. Gue nggak mungkinlah berubah sekarang,” kata Rafhael.
            Jeremy dan Samuel tak merespon, hanya menatap Rafhael dengan sangsi. Rafhael kembali mendesah. Ia sudah bersumpah takkan pernah jatuh cinta. Terutama dengan cewek seperti Chika. Rafhael tak bisa dan takkan pernah bisa. Ia takkan mau mengulanginya lagi. Dan ia akan pastikan Chika mengerti. Itupun kalau anggapan teman-temannya, yang menduga Chika jatuh cinta padanya itu, benar adanya. Kalau tidak, maka ia hanya tinggal menjaga jarak saja. Menjauh bahkan lebih baik.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar