Begitu tiba di sekolah, yang sebenarnya mepet-mepet
bel, Chika langsung disambut oleh Inka. Chika dipeluk, diajak berputar-putar,
bahkan dicium kedua pipinya. Meskipun bingung, Chika pasrah saja dan ikut
berjingkrakan ria bersama Inka. Setelah euforianya reda, Inka pun menjelaskan.
“Ya
ampun, Chi! Gue bahagia banget!” seru Inka.
“Memangnya
ada apa?” tanya Chika penasaran.
“Gue
ditembak Arya!” bisik Inka.
Chika
memekik gembira dan kembali melompat-lompat bersama Inka. Mereka udah kayak
orang yang baru lulus-lulusan aja, tak peduli orang-orang menatap aneh ke arah
mereka. Mereka tampak larut dalam euforia sendiri. Setelah tenang, mereka
berjalan sambil bergandengan tangan. Inka menceritakan bagaimana kejadiannya,
dan mereka berteriak-teriak kecil sepanjang jalan ke kelas.
Euforia
itu belum berakhir sampai situ. Chika juga menceritakan kesuksesannya sebagai
mak comblang pada Linzie dan Keisha dengan bersemangat. Mengabaikan kedua pacar
sahabatnya yang menatap tertarik sekaligus tak mengerti dengan cerita yang
mengalir dengan cepat layaknya laju kereta api dari Chika. Chika tampak girang
bukan main. Tak ada apapun yang bisa membuatnya berhenti tersenyum, ia yakin
itu. Bahkan gempa bumi juga nggak akan bisa memengaruhi kebahagiaannya untuk
Inka.
“Ternyata
Chika berbakat ya! Gue awalnya juga nggak yakin, tapi ternyata gue bisa kan?!” kata
Chika riang. “Bahkan tanpa bantuan!” tambahnya dengan sedikit jengkel sambil
mengerling ke arah Jeremy dan Samuel yang cuma menyeringai.
“Lalu
sekarang Inka gimana?” tanya Keisha.
“Yaa...
nempel sama Arya. Bukannya orang yang baru jadian pasti gitu?” kata Chika. Meskipun
tidak sadar dan tidak bermaksud menyindir, tapi kentara sekali teman-temannya
merasa tersindir. Samuel langsung tersedak, dan Jeremy dengan senang hati
menepuk (atau menabok?) punggungnya dengan semangat. Sementara Linzie merona
dan Keisha mengernyitkan alisnya.
“Heh,
gue bisa mati tau!” protes Samuel.
Chika
tertawa-tawa melihatnya. Padahal yang membuat Samuel tersedak kan dia. Lalu
seolah belum menyadarinya, Chika melemparkan bom terakhirnya.
“Oh
ya, kayaknya Chika memang lagi jatuh cinta deh!” kata Chika riang.
Kali
ini bukan hanya Samuel yang tersedak, tapi Linzie dan Keisha juga melakukan hal
yang sama. Mereka langsung menatap Chika dengan tatapan tak percaya,
seolah-olah Chika sedang mengumumkan kalau ia baru saja mengalahkan peringkat
akademis Jeremy.
“Setelah
Chika pikir baik-baik, mungkin Chika memang lagi jatuh cinta. Lagian setiap
sama-sama, Chika selalu merasa gemes tiap lihat dia. Uhh, pingin meluk terus
deh,” celotehnya lagi.
“Sama
siapa, Chi?” tanya Jeremy.
“Uhmm...
Bilang nggak ya... Tapi nanti malah diketawain...” kata Chika mikir-mikir.
“Bilang
aja, kita nggak bakal ketawa kok,” bujuk Samuel.
“Nggak
ah! Kalian pasti ketawa!” sahut Chika keras kepala. Kemudian Chika bangkit dari
duduknya dan membawa sebungkus roti. “Udah ya, Chika mau ketemu dia dulu,” kata
Chika dan melangkah pergi.
Keempat
orang yang masih tersisa saling pandang penuh arti. Mereka dapat menduga Chika
akan ketemu siapa, jadi mereka tidak bertanya-tanya dan melanjutkan obrolan
mereka. Sebagian membicarakan mengenai pengumuman yang Chika katakana tadi. Tak
sampai lima menit kemudian, Rafhael bergabung dengan mereka.
“Lho,
kok lo di sini? Chika mana?” celetuk Samuel.
Rafhael
mengernyit. “Kenapa gue harus sama dia?” tanya Rafhael balik.
Sekarang
giliran Samuel yang mengernyit. “Tadi dia bilang mau ketemu elo,” kata Samuel
bingung. Ia memandang teman-temannya, meminta bantuan.
“Nggak,
gue nggak ada ketemu Chika. Memang dia ke mana?” tanya Rafhael. Ia membuka
sekaleng pepsi dan mulai meneguknya.
“Dia
bilang mau ketemu ‘seseorang yang dia
suka, yang selalu ingin dia peluk-peluk’,” kata Jeremy.
Rafhael
langsung menyemburkan pepsinya. Membuat Samuel langsung menghindar dan menubruk
Linzie hingga keduanya jatuh terduduk ke lantai tapi tetap terkena muncratan
pepsi Rafhael. Keisha yang duduk di dekat Samuel juga ikut terkena cipratan di
lengan bajunya. Hanya Jeremy yang aman karena dia jauh dari area semburan
Rafhael.
“Duh,
lo apa-apaaan sih?!” omel Keisha.
“Sialan
lo! Lo kira-kira donk!” protes Samuel.
“Rafhael,
lo gila ya?! Nggak usah segitunya kali!” ini datang dari Linzie yang ditubruk
Samuel.
“Lo
barusan bilang apa?” tanya Rafhael,
mengelap bibir dengan punggung tangannya. Tak memedulikan gerutuan
teman-temannya yang mulai membersihkan cipratan-cipratan yang mengenai mereka.
Jeremy
mengulangi apa yang dikatakannya dengan tenang. karena dialah satu-satunya
korban selamat dari insiden itu.
Rafhael
terperangah. Chika? Chika yang lemot dan cerewet itu? Impossible! Rafhael tidak percaya. Mana mungkin cewek itu bisa
memikirkan hal-hal yang dikatakan Jeremy tadi? Lagipula, terlalu banyak
cowok-cowok yang bergaul dengan Chika, dan dari yang Rafhael dengar, tak ada
satupun yang mendekati Chika dalam rangka PDKT. Jadi mustahil kan kalau Chika
sudah begitu dekat dengan siapaun itu? Memikirkannya membuat Rafhael tidak
tenang dan bergidik. Dia malah jadi khawatir kalau cewek itu akan terlibat
masalah lagi.
“Ahh,
lengket gue!” omelan Keisha membuat Rafhael tersadar dari lamunannya.
“Eh,
sorry, Kei,” katanya menyesal.
“Gue
mau cuci tangan dulu!” kata Keisha dan berjalan ke wastafel
“Gue
juga deh,” kata Samuel, yang paling sial karena kena semburan paling banyak.
Rafhael menyeringai. Kemudian ia menangkap tatapan dari Jeremy.
Jeremy
menaikkan alis kirinya, yang selalu membuat Rafhael jengkel. Rafhael selalu
merasa ditantang oleh Jeremy agar mau berkomentar. Tapi Rafhael tak mengatakan
apapun. Ia tak mau Jeremy merasa menang karena berhasil menggodanya.
“Oke,
gue pikir lo nggak bakal berkomentar,” kata Jeremy.
“Memangnya
gue harus berkomentar soal apa?” tanya Rafhael .
Jeremy
angkat bahu. “Gue kira lo akan merasa penasaran dengan siapa Chika ketemu. Kita
semua aja penasaran,” kata Jeremy.
“Kenapa
gue harus penasaran?” sahut Rafhael, jelas-jelas tidak mau mengaku kalau ia pun
merasa penasaran sama besarnya seperti teman-temannya.
“Karena
kita pikir Chika mungkin jatuh cinta sama elo,” sahut Linzie jengkel. “Tapi
berhubung lo di sini, sepertinya gue salah menduga,” katanya lagi.
“Hah?
Dia jatuh cinta sama gue? Ngaco lo! Cewek lemot gitu mana ngerti soal cinta
coba!” sahut Rafhael mendengus.
Linzie
menatap tajam ke arah Rafhael. “Heh, gue peringatkan elo ya, kalau sampai lo
bikin teman gue sedih...” ancam Linzie.
“Gue
nggak mungkin mendekati dia. Sesuka-sukanya gue jalan sama cewek, dia nggak
termasuk tipe gue! Mendekati aja nggak, gimana gue bisa mempermainkan dia?” potong
Rafhael.
“Jaga
omongan lo,” kata Keisha yang sudah kembali sambil mengeringkan tangannya
dengan tissue. “Lo mungkin nggak mau mendekati Chika, tapi lo nggak tau gimana
dengan Chika. Meski dia lemot dan sering telmi, dia juga punya perasaan tau,” kata
Keisha.
“Hey,
kok kesannya kalian pada nyalahin gue sih? Dari kemarin-kemarin kalian terus
menatap gue seolah-olah gue ini salah. Gue kan nggak mendekati Chika!” protes
Rafhael. “Gue bahkan nggak pernah mikir ke arah situ! Dan nggak akan pernah!”
Rafhael
mengatakannya dengan emosi. Kalau dipojokkan begitu dia malah jadi makin emosi
dan langsung defensif. Ditambah lagi alasan teman-temannya itu sangat tidak
relevan! Kenapa coba mereka berpikir bahwa Chika menyukainya? Dia saja tak
pernah memandang Chika seperti itu. Dalam mimpi pun tidak pernah!
“Lo
memang nggak ngerti perasaan cewek!” ketus Linzie. Dia bangkit dan mengajak
Keisha pergi. Kedua cewek itu menghadiahkan tatapan muak ke arah Rafhael
sebelum pergi.
“Hei,
gue nggak salah!!” seru Rafhael. Kemudian kepada teman-temannya dia berkata.
“Cewek-cewek itu kenapa sih? Apa salah gue coba?” kata Rafhael tak habis pikir.
“Lo
tuh ya… Gue heran, kenapa selama ini banyak cewek yang dekat dengan lo tapi
nggak satupun yang elo pacari,” kata Samuel .
“Apa
hubungannya? Toh, gue nggak pernah jalan sama mereka lebih dari sekali,” sahut
Rafhael tak mengerti.
“Itulah
kelemahan lo! Lo melihat mereka nggak lebih sebagai teman buat mengisi waktu.
Lo nggak pernah berpikir gimana perasaan mereka,” kata Jeremy.
“Lalu?”
tanya Rafhael kembali defensif.
Jeremy
mendesah. Samuel langsung menyambar. “Lo mungkin nggak sadar, tapi sikap lo
yang nggak bisa ditebak itu yang bikin cewek-cewek berlomba-lomba mendekati lo!
Ditambah lagi temperamen lo itu, mereka jadi berpikir ‘mungkin nggak ya gue bisa merubah sikapnya’, yang malah
menyesatkan mereka! Persis seperti dongeng Beauty and The Beast! Jadi lo nggak
sepenuhnya nggak salah!”
Sebelum
Rafhael sempat menyahut, Jeremy langsung menambahkan. “Dan Chika juga bukan
pengecualian. Dia mungkin nggak sadar atau dia memang nggak terkena pengaruh
lo, tapi kemungkinan selalu ada. Lo dan dia cukup dekat kan? Meski kebanyakan
dalam situasi yang nggak menyenangkan,” kata Jeremy.
Rafhael
mendesah. “Kalian udah kenal gue berapa lama sih? Kalian tau gue nggak pernah
jalan sama cewek yang polos. Dan jelas-jelas gue menghindari mereka. Gue nggak
mungkinlah berubah sekarang,” kata Rafhael.
Jeremy
dan Samuel tak merespon, hanya menatap Rafhael dengan sangsi. Rafhael kembali
mendesah. Ia sudah bersumpah takkan pernah jatuh cinta. Terutama dengan cewek
seperti Chika. Rafhael tak bisa dan takkan pernah bisa. Ia takkan mau
mengulanginya lagi. Dan ia akan pastikan Chika mengerti. Itupun kalau anggapan
teman-temannya, yang menduga Chika jatuh cinta padanya itu, benar adanya. Kalau
tidak, maka ia hanya tinggal menjaga jarak saja. Menjauh bahkan lebih baik.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar