Malam harinya Keisha berbaring di atas tempat
tidurnya sambil memutarbalik semua kejadian yang ia alami hari itu. Matanya
menatap langit-langit kamarnya namun jelas-jelas kalau pikirannya tidak ada di
tempat itu. Ia tampak memikirkan betapa kehidupannya telah saling tumpang
tindih sejak pertemuannya dengan Jeremy di perpustakaan.
Di
tempat itu semua bermula. Di tempat itu pula Jeremy menciumnya untuk yang
pertama kalinya. Kemudian dengan cerobohnya Keisha membiarkan kejadian yang
sama terulang lagi. Padahal bisa saja Keisha berkelit atau melarikan diri.
Namun ia malah terpaku di tempatnya. Terperangkap kolam kelam di kedua mata
Jeremy sehingga cowok itu menyambar kelemahannya.
Keisha
mendesah dan berguling ke samping. Bertanya-tanya apa yang terjadi pada
dirinya. Jeremy membuatnya kacau. Bahkan membuatnya memikirkan hal yang selama
ini tak pernah dipikirkannya. Cinta. Betapa kata itu tak pernah terbersit di
dalam pikiran Keisha. Apa itu cinta? Kenapa harus ada cinta? Keisha tak pernah
menemukan jawabannya hingga ia terlelap ke dalam tidurnya malam itu.
***
Keisha
disibukkan oleh kegiatan pengumpulan dana untuk anak yatim piatu. Mendatangi
tempat-tempat sponsor dan menyalurkan uang sumbangan itu membuat pikiran Keisha
teralih dari Jeremy. Meskipun yang sangat Keisha kesalkan, Jeremy tetap
membayanginya. Keisha sudah menyampaikan protes kerasnya pada Tristan atas
keputusan sepihaknya. Bisa-bisanya Tristan memasangkan Keisha dengan Jeremy
tanpa minta persetujuannya. Padahal Keisha sedang mempertimbangkan akan satu
kelompok dengan Renaldi. Tapi semua rencananya buyar ketika mendengar keputusan
itu dari Tristan. Tapi hal itu tak berlangsung lama karena Keisha langsung
disibukkan oleh tugasnya.
Di
luar dugaan, Jeremy mampu mengumpulkan dana cukup banyak. Kali ini Keisha
mengakui ada untungnya Jeremy punya wajah yang tampan sehingga cukup dengan
sebuah senyum tanggung saja cewek-cewek sudah berebut ingin menyumbang. Meski
Keisha tau niat mereka bukanlah untuk amal melainkan untuk cari muka di hadapan
Jeremy. Tapi Keisha tak mau ambil pusing, yang penting mereka mendapat
sumbangan.
Di
pengujung hari, Keisha dan Jeremy menghitung uang yang sudah mereka kumpulkan.
Senyum Keisha merekah ketika uang yang mereka kumpulkan lumayan banyak. Bahkan
Keisha melupakan kekesalannya pada Jeremy ketika cowok itu bertanya berapa jumlah
yang sudah mereka kumpulkan.
“Memuaskan!”
sahut Keisha cerah. Ia memasukkan uangnya ke dalam kotak dan meletakkannya di
pangkuannya. “Ini lebih dari yang bisa gue harapkan. Yang lain pasti juga dapat
sama banyaknya,” kata Keisha.
“Kapan
uang itu akan disumbangkan?” tanya Jeremy, melirik sekilas dan kembali fokus
menyetir.
“Gue
nggak tau. Tapi uang ini akan kita gabungkan dengan semua uang yang sudah
dikumpulkan oleh teman-teman yang lain, lalu dibagi menjadi beberapa bagian dan
disumbangkan ke beberapa panti asuhan yang ada di daftar kita,” jelas Keisha.
Jeremy
sedikit geli mendengar nada berpuas diri dalam suara Keisha. Ia berdeham. “Ide
siapa dulu,” kata Jeremy.
“Tristan,”
sahut Keisha cuek. Membuat Jeremy memutar bola mata karena sudah menebak itulah
jawabannya. Keisha tertawa, tawa pertamanya untuk Jeremy. “Oke, gue akui,
berkat usulan lo,” kata Keisha.
“Oh,
apa neraka udah membeku? Lo muji gue?” goda Jeremy.
Keisha
mencibir. “Kalau nggak mau... ya, udah.”
Jeremy
membawa mobilnya ke sebuah tempat makan. Ketika mobil berhenti, Keisha pun
bertanya. “Kita ngapain ke sini?” tanyanya dengan kening berkerut.
“Kei,
lo boleh berpuas diri karena penggalangan dana ini sukses, tapi kalau boleh gue
ingatkan, terakhir kali kita makan adalah lima jam yang lalu. Lo nggak lapar?” kata
Jeremy.
“Oh...”
komentar Keisha, tampak malu. Ia kemudian menaruh kotak uangnya di kursi
belakang dan keluar dari mobil.
Bersisian,
mereka menuju restorant. Keisha bertanya-tanya ketika melihat Jeremy seperti
sudah dikenal baik di restorant itu. Bahkan pelayan-pelayannya tampak
menghormati Jeremy. Ditambah lagi mereka mendapat tempat duduk VIP. Ketika
mereka sudah duduk dan menunggu pesanan datang, Keisha melemparkan pertanyaan
yang sedari tadi ingin dia tanyakan.
“Oh,
ini punya gue. Bisnis kecil-kecilan yang dulu dirintis tante gue. Terus gue
ikut menjalankannya,” jelas Jeremy.
Keisha
tampak sedikit kagum. Namun gengsi menunjukkannya. Jadi ia cuma mengangguk-angguk
saja. Pesanan mereka pun datang dan mereka sibuk dengan santapan masing-masing.
Mereka makan dalam suasana hening. Jeremy terang-terangan memperhatikan Keisha.
Ketika dia makan dengan sopan, mengernyit ketika melihat sesuatu yang tak bisa
dimakannya, dan menyisihkan sebagian besar makanannya.
“Lo
nggak suka lobster?” tanya Jeremy.
Keisha
mendongak dan menatap piring lobsternya yang tak tersentuh. Keisha mengangkat
bahu. “Gue alergi,” sahut Keisha singkat.
“Lo
mau dipesanin yang lain?” tawar Jeremy.
Keisha
langsung menggeleng cepat. “Nggak! Gue nggak mau. Ini udah lebih dari cukup,” kata
Keisha sambil melirik makanan-makanan yang ada di atas meja.
Jeremy
masih bersikeras menyuruh Keisha memesan makanan lain, karena melihat makanan
Keisha yang cuma sedikit.
“Lo
tuh bawel ya?! Gue bilang cukup, ya, cukup! Perut gue tuh nggak sama kayak
perut elo!!” hardik Keisha kesal.
Jeremy
bengong sesaat kemudian tertawa, yang membuat Keisha makin keki. Ia meletakkan
garpu dan menyilangkan tangan.
“Sumpah...
Gue sering dibilang cakep, cool, cuek, tapi belum pernah ada yang bilang gue
bawel,” kata Jeremy geli. “Lo orang pertama yang ngatain gue seperti itu.”
Keisha
mengangkat dagu dengan angkuh. “Bagus, biar lo sedikit sadar diri!” ketus
Keisha.
Jeremy
kembali terkekeh. Keisha makin merengut. Dipandanginya Jeremy. Ada yang baru
Keisha sadari. Ketika tertawa, Jeremy kerap tak sengaja mengedipkan sebelah
matanya, walaupun hanya gerakan samar semata. Tanpa sadar, Keisha memandangi
Jeremy terlalu lama. Matanya tetap menatap Jeremy, namun pikirannya berkliaran
ke mana-mana.
Jeremy
bukannya tak menyadari hal itu. Makanya dia berani terang-terangan mengerling
Keisha. Namun gadis itu tampak larut dalam lamunannya. Karena iseng, Jeremy
menjentikkan jari di depan wajah Keisha. Jeremy menahan tawa melihat Keisha
tersentak, mengerjap-ngerjap, kemudian rona merah yang cantik mulai merambati
pipi Keisha dan gadis itu menunduk, pura-pura sibuk dengan minumannya.
Setengah
jam kemudian mereka sudah kembali ada diperjalanan menuju sekolah. Jam di
dashboar mobil sudah menunjukkan pukul enam sore. Sudah waktunya anak-anak OSIS
kembali berkumpul di sekolah guna menggabungkan uang sumbangan mereka. Ketika
mobil Jeremy memasuki lapangan parkir, Keisha sudah melihat sebagian anggota
OSIS sudah berkumpul. Tristan dan Renaldi ada di antaranya.
Jeremy
turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Keisha. Keisha turun sambil
mendekap kotak amal di dadanya. Bersama Jeremy, ia menghampiri Tristan.
Menyerahkan uang dan memberikan catatan siapa-siapa saja yang bersedia
menyumbang. Tristan memuji hasil kerja mereka karena berhasil mengumpulkan
banyak sumbangan.
“Untuk
itu, berterima kasihlah sama wajah Mr. Nice Guy ini,” kata Keisha.
Jeremy
menyeringai. Tristan pun tertawa dan geleng-geleng kepala. Meski Renaldi tampak
kurang suka melihat hubungan Keisha dan Jeremy menjadi lebih baik.
Setelah
itu mereka bubar. Tristan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas
kerja sama semua yang terlibat. Setelah itu membubarkan bawahannya.
Jeremy
menawari Keisha tumpangan yang diterima dengan senang hati oleh Keisha. Karena
Keisha tak mau mencari tumpangan pulang sore-sore begitu. Ketika Keisha
meninggalkan ruang OSIS setelah menyetor uang sumbangan, Renaldi menjajari
langkahnya.
“Pulang
sama siapa Kei? Bareng gue yuk!” ajak Renaldi.
“Sorry,
Ren, gue udah bareng Jeremy. Dia lagi nunggu gue di mobil,” kata Keisha sambil
lalu.
“Lo
dekat sama dia ya?” tanya Renaldi.
“Nggak
juga sih. Dia itu saingan gue! Memangnya kenapa?” kata Keisha.
“Nggak
kenapa. Gue pikir lo benci sama dia,” kata Renaldi.
Keisha
terdiam sejenak. “Yah, gue pikir-pikir gue nggak sebenci itu sama dia. Gue cuma
menganggap dia saingan, nggak lebih,” kata Keisha.
Renaldi
tampak ingin mengatakn sesuatu, namun mereka sudah sampai di parkiran, jadi dia
mengurungkan niatnya dan berpisah dengan Keisha. Renaldi dan Jeremy sempat
saling melempar tatapan bermusuhan. Kemudian keduanya sama-sama membuang muka.
Jeremy lantas membukakan pintu untuk Keisha.
“Lo
nggak usah sok manis,” komentar Keisha atas tingkah laku Jeremy.
Jeremy
membungkuk sedikit. “Jeremy siap melayani anda, Ma’am,” sahutnya.
Keisha
tertawa. “Nggak lucu lo!”
Jeremy
angkat bahu dan langsung masuk ke mobil.
Dari
kejauhan, Renaldi memperhatikan hal itu dengan tangan terkepal kuat-kuat. Ia
menatap benci ke arah Jeremy. Gara-gara Jeremy, Keisha mulai berpaling darinya.
Renaldi tidak terima. Ia tidak akan tinggal diam begitu saja melihat Keisha
jatuh ke tangan Jeremy. Ia masuk ke mobilnya dan membanting pintu mobil keras-keras.
“Jeremy
sialan!” makinya emosi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar