Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #6


Malam harinya Keisha berbaring di atas tempat tidurnya sambil memutarbalik semua kejadian yang ia alami hari itu. Matanya menatap langit-langit kamarnya namun jelas-jelas kalau pikirannya tidak ada di tempat itu. Ia tampak memikirkan betapa kehidupannya telah saling tumpang tindih sejak pertemuannya dengan Jeremy di perpustakaan.
            Di tempat itu semua bermula. Di tempat itu pula Jeremy menciumnya untuk yang pertama kalinya. Kemudian dengan cerobohnya Keisha membiarkan kejadian yang sama terulang lagi. Padahal bisa saja Keisha berkelit atau melarikan diri. Namun ia malah terpaku di tempatnya. Terperangkap kolam kelam di kedua mata Jeremy sehingga cowok itu menyambar kelemahannya.
            Keisha mendesah dan berguling ke samping. Bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya. Jeremy membuatnya kacau. Bahkan membuatnya memikirkan hal yang selama ini tak pernah dipikirkannya. Cinta. Betapa kata itu tak pernah terbersit di dalam pikiran Keisha. Apa itu cinta? Kenapa harus ada cinta? Keisha tak pernah menemukan jawabannya hingga ia terlelap ke dalam tidurnya malam itu.
***
            Keisha disibukkan oleh kegiatan pengumpulan dana untuk anak yatim piatu. Mendatangi tempat-tempat sponsor dan menyalurkan uang sumbangan itu membuat pikiran Keisha teralih dari Jeremy. Meskipun yang sangat Keisha kesalkan, Jeremy tetap membayanginya. Keisha sudah menyampaikan protes kerasnya pada Tristan atas keputusan sepihaknya. Bisa-bisanya Tristan memasangkan Keisha dengan Jeremy tanpa minta persetujuannya. Padahal Keisha sedang mempertimbangkan akan satu kelompok dengan Renaldi. Tapi semua rencananya buyar ketika mendengar keputusan itu dari Tristan. Tapi hal itu tak berlangsung lama karena Keisha langsung disibukkan oleh tugasnya.
            Di luar dugaan, Jeremy mampu mengumpulkan dana cukup banyak. Kali ini Keisha mengakui ada untungnya Jeremy punya wajah yang tampan sehingga cukup dengan sebuah senyum tanggung saja cewek-cewek sudah berebut ingin menyumbang. Meski Keisha tau niat mereka bukanlah untuk amal melainkan untuk cari muka di hadapan Jeremy. Tapi Keisha tak mau ambil pusing, yang penting mereka mendapat sumbangan.
            Di pengujung hari, Keisha dan Jeremy menghitung uang yang sudah mereka kumpulkan. Senyum Keisha merekah ketika uang yang mereka kumpulkan lumayan banyak. Bahkan Keisha melupakan kekesalannya pada Jeremy ketika cowok itu bertanya berapa jumlah yang sudah mereka kumpulkan.
            “Memuaskan!” sahut Keisha cerah. Ia memasukkan uangnya ke dalam kotak dan meletakkannya di pangkuannya. “Ini lebih dari yang bisa gue harapkan. Yang lain pasti juga dapat sama banyaknya,” kata Keisha.
            “Kapan uang itu akan disumbangkan?” tanya Jeremy, melirik sekilas dan kembali fokus menyetir.
            “Gue nggak tau. Tapi uang ini akan kita gabungkan dengan semua uang yang sudah dikumpulkan oleh teman-teman yang lain, lalu dibagi menjadi beberapa bagian dan disumbangkan ke beberapa panti asuhan yang ada di daftar kita,” jelas Keisha.
            Jeremy sedikit geli mendengar nada berpuas diri dalam suara Keisha. Ia berdeham. “Ide siapa dulu,” kata Jeremy.
            “Tristan,” sahut Keisha cuek. Membuat Jeremy memutar bola mata karena sudah menebak itulah jawabannya. Keisha tertawa, tawa pertamanya untuk Jeremy. “Oke, gue akui, berkat usulan lo,” kata Keisha.
            “Oh, apa neraka udah membeku? Lo muji gue?” goda Jeremy.
            Keisha mencibir. “Kalau nggak mau... ya, udah.”
            Jeremy membawa mobilnya ke sebuah tempat makan. Ketika mobil berhenti, Keisha pun bertanya. “Kita ngapain ke sini?” tanyanya dengan kening berkerut.
            “Kei, lo boleh berpuas diri karena penggalangan dana ini sukses, tapi kalau boleh gue ingatkan, terakhir kali kita makan adalah lima jam yang lalu. Lo nggak lapar?” kata Jeremy.
            “Oh...” komentar Keisha, tampak malu. Ia kemudian menaruh kotak uangnya di kursi belakang dan keluar dari mobil.
            Bersisian, mereka menuju restorant. Keisha bertanya-tanya ketika melihat Jeremy seperti sudah dikenal baik di restorant itu. Bahkan pelayan-pelayannya tampak menghormati Jeremy. Ditambah lagi mereka mendapat tempat duduk VIP. Ketika mereka sudah duduk dan menunggu pesanan datang, Keisha melemparkan pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan.
            “Oh, ini punya gue. Bisnis kecil-kecilan yang dulu dirintis tante gue. Terus gue ikut menjalankannya,” jelas Jeremy.
            Keisha tampak sedikit kagum. Namun gengsi menunjukkannya. Jadi ia cuma mengangguk-angguk saja. Pesanan mereka pun datang dan mereka sibuk dengan santapan masing-masing. Mereka makan dalam suasana hening. Jeremy terang-terangan memperhatikan Keisha. Ketika dia makan dengan sopan, mengernyit ketika melihat sesuatu yang tak bisa dimakannya, dan menyisihkan sebagian besar makanannya.
            “Lo nggak suka lobster?” tanya Jeremy.
          Keisha mendongak dan menatap piring lobsternya yang tak tersentuh. Keisha mengangkat bahu. “Gue alergi,” sahut Keisha singkat.
            “Lo mau dipesanin yang lain?” tawar Jeremy.
            Keisha langsung menggeleng cepat. “Nggak! Gue nggak mau. Ini udah lebih dari cukup,” kata Keisha sambil melirik makanan-makanan yang ada di atas meja.
            Jeremy masih bersikeras menyuruh Keisha memesan makanan lain, karena melihat makanan Keisha yang cuma sedikit.
            “Lo tuh bawel ya?! Gue bilang cukup, ya, cukup! Perut gue tuh nggak sama kayak perut elo!!” hardik Keisha kesal.
            Jeremy bengong sesaat kemudian tertawa, yang membuat Keisha makin keki. Ia meletakkan garpu dan menyilangkan tangan.
            “Sumpah... Gue sering dibilang cakep, cool, cuek, tapi belum pernah ada yang bilang gue bawel,” kata Jeremy geli. “Lo orang pertama yang ngatain gue seperti itu.”
            Keisha mengangkat dagu dengan angkuh. “Bagus, biar lo sedikit sadar diri!” ketus Keisha.
            Jeremy kembali terkekeh. Keisha makin merengut. Dipandanginya Jeremy. Ada yang baru Keisha sadari. Ketika tertawa, Jeremy kerap tak sengaja mengedipkan sebelah matanya, walaupun hanya gerakan samar semata. Tanpa sadar, Keisha memandangi Jeremy terlalu lama. Matanya tetap menatap Jeremy, namun pikirannya berkliaran ke mana-mana.
            Jeremy bukannya tak menyadari hal itu. Makanya dia berani terang-terangan mengerling Keisha. Namun gadis itu tampak larut dalam lamunannya. Karena iseng, Jeremy menjentikkan jari di depan wajah Keisha. Jeremy menahan tawa melihat Keisha tersentak, mengerjap-ngerjap, kemudian rona merah yang cantik mulai merambati pipi Keisha dan gadis itu menunduk, pura-pura sibuk dengan minumannya.
            Setengah jam kemudian mereka sudah kembali ada diperjalanan menuju sekolah. Jam di dashboar mobil sudah menunjukkan pukul enam sore. Sudah waktunya anak-anak OSIS kembali berkumpul di sekolah guna menggabungkan uang sumbangan mereka. Ketika mobil Jeremy memasuki lapangan parkir, Keisha sudah melihat sebagian anggota OSIS sudah berkumpul. Tristan dan Renaldi ada di antaranya.
            Jeremy turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Keisha. Keisha turun sambil mendekap kotak amal di dadanya. Bersama Jeremy, ia menghampiri Tristan. Menyerahkan uang dan memberikan catatan siapa-siapa saja yang bersedia menyumbang. Tristan memuji hasil kerja mereka karena berhasil mengumpulkan banyak sumbangan.
            “Untuk itu, berterima kasihlah sama wajah Mr. Nice Guy ini,” kata Keisha.
            Jeremy menyeringai. Tristan pun tertawa dan geleng-geleng kepala. Meski Renaldi tampak kurang suka melihat hubungan Keisha dan Jeremy menjadi lebih baik.
            Setelah itu mereka bubar. Tristan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kerja sama semua yang terlibat. Setelah itu membubarkan bawahannya.
            Jeremy menawari Keisha tumpangan yang diterima dengan senang hati oleh Keisha. Karena Keisha tak mau mencari tumpangan pulang sore-sore begitu. Ketika Keisha meninggalkan ruang OSIS setelah menyetor uang sumbangan, Renaldi menjajari langkahnya.
            “Pulang sama siapa Kei? Bareng gue yuk!” ajak Renaldi.
            “Sorry, Ren, gue udah bareng Jeremy. Dia lagi nunggu gue di mobil,” kata Keisha sambil lalu.
            “Lo dekat sama dia ya?” tanya Renaldi.
            “Nggak juga sih. Dia itu saingan gue! Memangnya kenapa?” kata Keisha.
            “Nggak kenapa. Gue pikir lo benci sama dia,” kata Renaldi.
            Keisha terdiam sejenak. “Yah, gue pikir-pikir gue nggak sebenci itu sama dia. Gue cuma menganggap dia saingan, nggak lebih,” kata Keisha.
            Renaldi tampak ingin mengatakn sesuatu, namun mereka sudah sampai di parkiran, jadi dia mengurungkan niatnya dan berpisah dengan Keisha. Renaldi dan Jeremy sempat saling melempar tatapan bermusuhan. Kemudian keduanya sama-sama membuang muka. Jeremy lantas membukakan pintu untuk Keisha.
            “Lo nggak usah sok manis,” komentar Keisha atas tingkah laku Jeremy.
            Jeremy membungkuk sedikit. “Jeremy siap melayani anda, Ma’am,” sahutnya.
            Keisha tertawa. “Nggak lucu lo!”
            Jeremy angkat bahu dan langsung masuk ke mobil.
            Dari kejauhan, Renaldi memperhatikan hal itu dengan tangan terkepal kuat-kuat. Ia menatap benci ke arah Jeremy. Gara-gara Jeremy, Keisha mulai berpaling darinya. Renaldi tidak terima. Ia tidak akan tinggal diam begitu saja melihat Keisha jatuh ke tangan Jeremy. Ia masuk ke mobilnya dan membanting pintu mobil keras-keras.
            “Jeremy sialan!” makinya emosi.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar