Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #11


Rafhael sudah mendatangi rumah Karen untuk mencari cewek itu, tapi Karen belum pulang. Dengan kesal ia pergi ke rumah Jeremy. Itu adalah interaksi pertamanya dengan Jeremy setelah pertengkaran mereka. Rafhael mengetuk pintu dengan kepalan tangannya. Menunggu dengan tidak sabar. Ia belum pernah kelimpungan seperti ini. Bahkan ia belum pulang sejak tadi siang!! Tampilannya pasti sangat kacau karena ketika Jeremy membuka pintu, cowok itu menatapnya dengan aneh.
            “Gue nggak punya waktu buat kritikan lo,” kata Rafhael cepat. “Gue mau tanya ke mana Karen pergi bersama Chika,” katanya.
            Jeremy menaikan alisnya. “Gue nggak mengerti yang lo omongin,” kata Jeremy datar.
            “Sialan! Gue tau ini ulah kalian! Apa susahnya lo ngasih tau gue?!” sungut Rafhael.
            Jeremy bersedekap dan bersandar di ambang pintu. “Kalaupun gue tau, buat apa gue ngasih tau elo? Bukannya lo bilang nggak punya hubungan apa-apa sama Chika?”
            Rafhael menahan keinginannya untuk menghajar Jeremy. Sebagai gantinya dia cuma mendesis. “Bukan urusan lo! Ini antara gue dan Chika!”
            “Hmm, jadi lo berubah pikiran?” kata Jeremy.
            “Brengsek lo! Kalau lo memang nggak mau kasih tau gue, oke, fine!! Gue pergi cari sendiri!” bentak Rafhael dan berbalik menuju motornya.
            “Mereka mungkin udah pulang!” teriak Jeremy ketika Rafhael sudah naik ke motornya dan siap tancap gas pergi. “Lo bisa cari ke rumah Karen.”
            Rafhael bahkan tidak berbalik atau mengucapkan terima kasih. Ia langsung menghidupkan motornya dan melaju pergi.
            Jeremy geleng-geleng kepala dan menutup pintu.
            “Siapa, Jer?” tanya Mama yang sedang mempersiapkan meja makan
            “Rafhael, Ma,” kata Jeremy.
            “Dia kenapa??” tanya Mama penasaran. Bagaimana pun mama Jeremy sudah menganggap Rafhael seperti putranya sendiri.
            “Masalah cinta,” sahut Jeremy dan menyeringai.
            Mama berdecak. “Kalian para cowok memang selalu bermasalah sama cinta ya?” komentar Mama sambil menggeleng-geleng.
            Jeremy tak menyangkalnya. Karena buat apa menyangkal? Toh, ia juga pernah mengalaminya.
                                                                        ***
            “Kok kita ke rumah lo?” tanya Chika bingung.
          “Lo makan dulu di sini! Nanti gue antar lo pulang. Rumah gue lagi sepi nih, gue nggak suka makan sendirian,” kata Karen.
            Chika percaya saja sehingga dia mengikuti Karen. Chika baru saja hendak menapakkan kaki di anak tangga menuju ke teras rumah ketika terdengar suara ban berdecit di depan rumah. Chika berhenti, tapi Karen terus melanjutkan membuka pintu. Tidak tampak terpengaruh sama sekali. Seolah-olah sudah menduganya.
            Chika bergantian menatap Karen dan jalanan. Lalu Rafhael muncul dengan penampilan kusut dan acak-acakan. Chika bahkan sampai menganga saking takjubnya. Terlebih cowok itu tampak jengkel luar biasa. Lalu Chika ingat untuk bertanya-tanya. Kenapa Rafhael datang ke sana?
            Chika terus memandang tak percaya ke arah Rafhael. Rafhael tampak kacau, bajunya kusut masai, rambutnya yang sedikit panjang acak-acakan. Dan jelas cowok itu belum pulang ke rumah. Tatapannya tampak garang, tapi itu ditujukan kepada Karen. Dan ketika Rafhael melangkah cepat ke arahnya, Chika langsung beringsut. Tapi Rafhael melewatinya dan langsung menuju ke arah Karen. Rafhael bahkan tak melirik ke arahnya sama sekali!
            “Lo tuh mau apa sih?!” bentak Rafhael langsung pada Karen. Tapi Karen tampak tak terpengaruh. Ia dengan berani membalas tatapan Rafhael.
            “Lho, nggak salah nih, lo nanya kemauan gue?” balas Karen.
            “Ren, lo bisa kena tuntutan penculikan!! Lo ngapain sih pakai acara bawa kabur nih cewek!!?”
            Chika tersentak pelan dan mundur selangkah. Sementara Karen justru meralat ucapan Rafhael.
            “Namanya Chika, bukan Nih Cewek!” kata Karen.
            Rafhael mengertakkan giginya. “Gue tau! Tapi bukan itu yang lagi kita bicarain!!” geramnya.
          “Ohh, terus apa? Chika aja nggak keberatan pergi sama gue. Kok malah lo yang sewot? Apa yang lo takutin?” balas Karen.
            Rafhael memandang tajam pada Karen. Ia muak bicara berputar-putar seperti itu. “Lebih baik lo kasih gue alasan kenapa lo melakukan hal ini! Gue sama sekali nggak pingin main-main, Ren!”
            Karen berkacak pinggang. “Gue juga nggak main-main! Lo pikir apa alasan gue buat bawa Chika kabur?? Gue mau menyadarkan elo kalau elo itu terlalu lambat dalam bertindak!!” balas Karen sengit. “Dan sekarang apa lo udah sadar?! Apa lo panik waktu lo nggak tau ke mana Chika gue bawa?!”
            Chika terus-terusan mundur ketika acara saling bentak antara Karen dan Rafhael makin memanas. Pada akhirnya, ketika sampai di gerbang, Chika langsung berbalik pergi. Ia tidak mau melihat pertengkaran Karen dan Rafhael yang begitu akrab. Chika merasa sedih karena Rafhael bahkan tidak meliriknya. Rafhael datang karena khawatir Karen akan terlibat masalah. Jadi tak ada gunanya ia berada di sana lebih lama.
            Sementara itu, Rafhael sama sekali tidak sadar bahwa Chika sudah lenyap dan terus saja menuntut penjelasan pada Karen.
            “Ayo jawab?! Siapa yang lo cariin??” tantang Karen.
            “Iya! Gue nyari Chika!! Gue mau nyelesaiin urusan gue sama dia!! Puas lo?!” seru Rafhael emosi.
            Karen tersenyum. “Bagus. Kalau lo ngaku dari awal tentang perasaan lo, kan gue jadi nggak perlu pakai cara ribet begini!” sahutnya. “Tapi ngomong-ngomong, lo telat,” kata Karen lagi.
            “Telat apaan???” sahut Rafhael nyaris melengking saking jengkelnya.
            Karen menunjuk ke balik bahu Rafhael. “Chika udah pergi,” katanya tanpa rasa bersalah.
            “Hah?!?” seru Rafhael dan langsung menoleh ke belakang. Ia mengumpat-ngumpat sambil berlari ke motornya. Ia memakai helmnya. “Ke arah mana?!” teriaknya pada Karen.
            “Kanan!” balas Karen dan tertawa melihat Rafahel kelimpungan season dua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar