Rafhael sudah mendatangi rumah Karen untuk mencari
cewek itu, tapi Karen belum pulang. Dengan kesal ia pergi ke rumah Jeremy. Itu
adalah interaksi pertamanya dengan Jeremy setelah pertengkaran mereka. Rafhael
mengetuk pintu dengan kepalan tangannya. Menunggu dengan tidak sabar. Ia belum
pernah kelimpungan seperti ini. Bahkan ia belum pulang sejak tadi siang!!
Tampilannya pasti sangat kacau karena ketika Jeremy membuka pintu, cowok itu
menatapnya dengan aneh.
“Gue
nggak punya waktu buat kritikan lo,” kata Rafhael cepat. “Gue mau tanya ke mana
Karen pergi bersama Chika,” katanya.
Jeremy
menaikan alisnya. “Gue nggak mengerti yang lo omongin,” kata Jeremy datar.
“Sialan!
Gue tau ini ulah kalian! Apa susahnya lo ngasih tau gue?!” sungut Rafhael.
Jeremy
bersedekap dan bersandar di ambang pintu. “Kalaupun gue tau, buat apa gue
ngasih tau elo? Bukannya lo bilang nggak punya hubungan apa-apa sama Chika?”
Rafhael
menahan keinginannya untuk menghajar Jeremy. Sebagai gantinya dia cuma
mendesis. “Bukan urusan lo! Ini antara gue dan Chika!”
“Hmm,
jadi lo berubah pikiran?” kata Jeremy.
“Brengsek
lo! Kalau lo memang nggak mau kasih tau gue, oke, fine!! Gue pergi cari
sendiri!” bentak Rafhael dan berbalik menuju motornya.
“Mereka
mungkin udah pulang!” teriak Jeremy ketika Rafhael sudah naik ke motornya dan
siap tancap gas pergi. “Lo bisa cari ke rumah Karen.”
Rafhael
bahkan tidak berbalik atau mengucapkan terima kasih. Ia langsung menghidupkan
motornya dan melaju pergi.
Jeremy
geleng-geleng kepala dan menutup pintu.
“Siapa,
Jer?” tanya Mama yang sedang mempersiapkan meja makan
“Rafhael,
Ma,” kata Jeremy.
“Dia
kenapa??” tanya Mama penasaran. Bagaimana pun mama Jeremy sudah menganggap
Rafhael seperti putranya sendiri.
“Masalah
cinta,” sahut Jeremy dan menyeringai.
Mama
berdecak. “Kalian para cowok memang selalu bermasalah sama cinta ya?” komentar
Mama sambil menggeleng-geleng.
Jeremy
tak menyangkalnya. Karena buat apa menyangkal? Toh, ia juga pernah
mengalaminya.
***
“Kok
kita ke rumah lo?” tanya Chika bingung.
“Lo
makan dulu di sini! Nanti gue antar lo pulang. Rumah gue lagi sepi nih, gue
nggak suka makan sendirian,” kata Karen.
Chika
percaya saja sehingga dia mengikuti Karen. Chika baru saja hendak menapakkan
kaki di anak tangga menuju ke teras rumah ketika terdengar suara ban berdecit
di depan rumah. Chika berhenti, tapi Karen terus melanjutkan membuka pintu.
Tidak tampak terpengaruh sama sekali. Seolah-olah sudah menduganya.
Chika
bergantian menatap Karen dan jalanan. Lalu Rafhael muncul dengan penampilan
kusut dan acak-acakan. Chika bahkan sampai menganga saking takjubnya. Terlebih
cowok itu tampak jengkel luar biasa. Lalu Chika ingat untuk bertanya-tanya.
Kenapa Rafhael datang ke sana?
Chika
terus memandang tak percaya ke arah Rafhael. Rafhael tampak kacau, bajunya
kusut masai, rambutnya yang sedikit panjang acak-acakan. Dan jelas cowok itu
belum pulang ke rumah. Tatapannya tampak garang, tapi itu ditujukan kepada
Karen. Dan ketika Rafhael melangkah cepat ke arahnya, Chika langsung beringsut.
Tapi Rafhael melewatinya dan langsung menuju ke arah Karen. Rafhael bahkan tak
melirik ke arahnya sama sekali!
“Lo
tuh mau apa sih?!” bentak Rafhael langsung pada Karen. Tapi Karen tampak tak
terpengaruh. Ia dengan berani membalas tatapan Rafhael.
“Lho,
nggak salah nih, lo nanya kemauan gue?” balas Karen.
“Ren,
lo bisa kena tuntutan penculikan!! Lo ngapain sih pakai acara bawa kabur nih
cewek!!?”
Chika
tersentak pelan dan mundur selangkah. Sementara Karen justru meralat ucapan
Rafhael.
“Namanya
Chika, bukan Nih Cewek!” kata Karen.
Rafhael
mengertakkan giginya. “Gue tau! Tapi bukan itu yang lagi kita bicarain!!” geramnya.
“Ohh,
terus apa? Chika aja nggak keberatan pergi sama gue. Kok malah lo yang sewot?
Apa yang lo takutin?” balas Karen.
Rafhael
memandang tajam pada Karen. Ia muak bicara berputar-putar seperti itu. “Lebih
baik lo kasih gue alasan kenapa lo melakukan hal ini! Gue sama sekali nggak
pingin main-main, Ren!”
Karen
berkacak pinggang. “Gue juga nggak main-main! Lo pikir apa alasan gue buat bawa
Chika kabur?? Gue mau menyadarkan elo kalau elo itu terlalu lambat dalam
bertindak!!” balas Karen sengit. “Dan sekarang apa lo udah sadar?! Apa lo panik
waktu lo nggak tau ke mana Chika gue bawa?!”
Chika
terus-terusan mundur ketika acara saling bentak antara Karen dan Rafhael makin
memanas. Pada akhirnya, ketika sampai di gerbang, Chika langsung berbalik
pergi. Ia tidak mau melihat pertengkaran Karen dan Rafhael yang begitu akrab.
Chika merasa sedih karena Rafhael bahkan tidak meliriknya. Rafhael datang
karena khawatir Karen akan terlibat masalah. Jadi tak ada gunanya ia berada di
sana lebih lama.
Sementara
itu, Rafhael sama sekali tidak sadar bahwa Chika sudah lenyap dan terus saja
menuntut penjelasan pada Karen.
“Ayo
jawab?! Siapa yang lo cariin??” tantang Karen.
“Iya!
Gue nyari Chika!! Gue mau nyelesaiin urusan gue sama dia!! Puas lo?!” seru
Rafhael emosi.
Karen
tersenyum. “Bagus. Kalau lo ngaku dari awal tentang perasaan lo, kan gue jadi
nggak perlu pakai cara ribet begini!” sahutnya. “Tapi ngomong-ngomong, lo
telat,” kata Karen lagi.
“Telat
apaan???” sahut Rafhael nyaris melengking saking jengkelnya.
Karen
menunjuk ke balik bahu Rafhael. “Chika udah pergi,” katanya tanpa rasa
bersalah.
“Hah?!?”
seru Rafhael dan langsung menoleh ke belakang. Ia mengumpat-ngumpat sambil
berlari ke motornya. Ia memakai helmnya. “Ke arah mana?!” teriaknya pada Karen.
“Kanan!”
balas Karen dan tertawa melihat Rafahel kelimpungan season dua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar