Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #8


“Lepasin cewek itu!!” bentak Samuel
            Ketika preman-preman itu tak mau melepaskan Linzie, Samuel langsung menerjang maju dan menghantam rahang si preman dengan sebuah pukulan hingga terjengkang.
            “Gue bilang lepasin tangan lo dari cewek gue, brengsek!!!” maki Samuel sambil melayangkan tinjunya ke rusuk si Botak. Kemudian beralih ke si Brewok yang masih memegangi Linzie. Si Brewok langsung melepaskan Linzie dan menyambut serangan Samuel. Samuel berhasil mengelak sebelum menyarangkan pukulan bertubi-tubi di perut si Brewok. Tapi lalu si Brewok berhasil menendang kaki Samuel hingga jatuh. Samuel kehilangan kendali sejenak, tapi berhasil memberi perlawanan yang sepadan.
            Linzie yang sejak tadi terperangah melihat adu jotos di depannya seketika bergerak ketika si Botak mulai bangkit dan hendak menyerang Samuel dari belakang. Linzie meraih tasnya yang jatuh kemudian memukulkannya ke kepala si Botak hingga penjahat itu ambruk.
            “Makan tuh!!” seru Linzie kesal.
            Akhirnya kedua preman itu kabur. Linzie terengah-engah karena perlawannya yang cukup tangguh tadi. Ia nyaris terduduk lemas seketika, sebelum Samuel meraih lengan atasnya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.
            “Apa sih yang ada di pikiran lo?! Lo gila ya, melawan dua preman sendirian?? Kalau mereka macam-macamin lo gimana?!” teriak Samuel.
            Linzie kaget sehingga ia hanya bisa tertegun. Setelah keluar dari kekagetannya, barulah Linzie bereaksi. Ia berusaha melepaskan tangan Samuel, tapi Samuel bergeming. Akhirnya Linzie cuma bisa mendelik ke arah Samuel.
            “Lo pikir gue mau minta tolong ke siapa?!” bentak Linzie. “Memang lo lihat ada orang lain?!”
            Samuel tergeragap. Linzie langsung menyambar kesempatan itu dan menepis tangan Samuel. “Dan lo sendiri kenapa di sini ?? Lo nggak ada urusan di tempat ini kan?”sinis Linzie. “Dan gue bukan cewek lo!!” tegas Linzie. Dia berbalik dan menegakkan sepedanya. Kemudian tanpa menoleh ke belakang, ia meninggalkan Samuel.
            Samuel mengumpat. “Sialan, Zizi berhenti!!”
            “Jangan panggil gue Zizi!!” bentak Linzie dan berbalik seketika. “Lo nggak punya hak manggil nama kecil gue setelah semua yang lo lakukan ke gue!!”
            “Gue ke sini karena gue mau minta maaf!!” teriak Samuel.
            “Oh, jadi lo ngaku kalau lo salah, iya?! Gue nggak butuh maaf lo!!” sinis Linzie.
            “Brengsek, Linzie! Lo tau perlu usaha keras buat gue datang ke sini! Dan gue nggak perlu ditambah dengan melihat lo yang lagi diganggu preman!” bentak Samuel, semua kata-kata manisnya lenyap seketika saat berhadapan dengan Linzie.
            Dia menghampiri Linzie dan berdiri menjulang di depan Linzie.
            “Dengar,” kata Samuel sambil menggertakkan giginya. “Gue nggak pernah menipu lo! Apa yang gue lakuin selama ini bukan tipuan!! Gue mungkin emang penasaran sama lo awalnya...”
            “Iya, lo penasaran sama gue!! Dan lo anggap itu tantangan!!” potong Linzie marah.
            “Itu awalnya, Zi!! Tapi makin lama gue sendiri nggak tau apa yang gue lakuin!! Gue memang peduli sama lo, brengsek!! Berhenti menatap gue seolah gue ini bajingan!!”
            “Lo memang bajingan!!” Linzie berteriak dan memukul dada Samuel keras. “Lo bajingan nggak punya hati yang suka manfaatin cewek!! Lo pantas dapatin ini!!” lagi-lagi Linzie memukul Samuel. Samuel bergeming dan menerima semua teriakan dan pukulan dari Linzie. Hingga cewek itu terengah-engah karena emosinya.
            “Apa sekarang gue boleh ngomong?” tanya Samuel, sudah mampu menenangkan diri.
            “Nggak!!” bentak Linzie.
            “Zi, gue akui gue salah. Tapi gue memang peduli sama elo. Gue nggak pernah berbohong sama elo selain tentang niat awal gue… Tapi seiring waktu, semakin lama gue sama elo, semakin pudar keinginan gue buat mempermainkan elo! Gue senang menghabiskan waktu sama elo dan gue nggak mau semuanya berakhir, Zi.”
            “Gue nggak percaya lagi sama elo,” bisik Linzie. Ia menatap tajam ke arah Samuel. “Nggak sekarang.”
            Samuel menghela napas. “Kasih gue kesempatan, Zi… Gue bakal buktikan kalau gue nggak mainin elo,” kata Samuel.
            Linzie menatap Samuel, berperang dengan keinginannya untuk mempercayai Samuel saat itu juga. Tapi dia menahan perasaan itu, dia tidak mau begitu saja mempercayai Samuel. Cowok itu pernah menipunya, dan tidak ada jaminan kalau dia nggak akan melakukannya lagi. Linzie tidak mau terjebak lagi. Jika pada akhirnya Samuel kembali mempermainkannya, Linzie takkan sanggup menahan kepedihan yang akan ia rasakan.
            “Gue belum bisa percaya lagi sama lo... Gue nggak mau lo permainkan lagi, Sam,” kata Linzie.
            “Gue nggak akan mainin elo! Sumpah! Justru gue yang udah kalah sama elo, Zi…” sahut Samuel.
            Linzie mundur selangkah, menatap Samuel dalam-dalam dan mencari kebohongan di sana, namun tak menemukannya.
            “Gue nggak akan pernah maafin lo kalau lo bohongin gue lagi,” kata Linzie, kemudian meraih sepedanya dan berjalan ke arah cafe.
            Butuh waktu semenit bagi Samuel untuk mengartikan isyarat gencatan senjata dari Linzie. Entah bagaimana, sebagian bebannya seolah terangkat dari pundaknya dan dia ingin sekali memeluk dan mencium Linzie. Tapi jelas itu bukan tindakan yang bisa ia lakukan. Tidak, jika tidak mau digampar oleh Linzie dan kehilangan kesempatannya.
            “Gue janji nggak bakal menyia-nyiakan kesempatan ini!!” seru Samuel riang.
            Linzie harus mati-matian mempertahankan sikap tenangnya, kalau tidak, Samuel akan tau bahwa ia sendiri merasa lega bisa memperbaiki semuanya. Seenggaknya Linzie bisa memberikan kesempatan kedua pada Samuel. Dan jika kesempatan ini pun dikhianati... Linzie tak tau lagi harus bagaimana.
***
            Segalanya seperti kembali ke awal. Samuel memulai semuanya benar-benar dari awal. Menyelipkan semua humor dan godaan-godaan yang mampu ia lakukan yang tidak akan memancing kemarahan Linzie. Bahkan sekali dua kali, sebuah senyum tipis akan lepas dari bibir Linzie. Sungguh Samuel berjuang keras. Ia merindukan kebersamaannya dengan Linzie. Butuh usaha keras untuk menjauhkan sifat genitnya jika didekat Linzie. Samuel selalu ingin menggoda cewek itu, meskipun reputasinya jatuh hingga tak mungkin dinaikkan lagi menjadi gantinya.
            Berlawanan dengan Samuel, Rafhael betul-betul tak setuju dengan apa yang Samuel lakukan. Tapi karena Jeremy no coment, maka Rafhael pun bungkam. Tapi diam-diam dalam hati terus memperingatkan diri agar tidak mengikuti jejak temannya itu. Yang Rafhael kesalkan, Jeremy tampak sedang merencanakan sesuatu tanpa melibatkannya. Hal itu membuat Rafhael tidak punya kerjaan. Sehingga dia jadi sewot sendiri.
            Hari-hari berlalu, perubahan yang terjadi betul-betul sedikit. Samuel nyaris patah semangat. Sungguh ini adalah pengejarannya yang paling panjang. Dan seandainya ada cara lebih cepat yang bisa membuatnya mengetahui perasaan Linzie, Samuel akan dengan senang hati melakukannya.
            Sementara itu Linzie betul-betul kagum dengan kegigihan Samuel. Meski enggan, ia tak bisa mengabaikan keseriusan Samuel. Ia mengakui bahwa mungkin kali ini cowok itu benar-benar serius. Mungkin, kata itu masih belum ia hilangkan. Karena bagaimanapun, semuanya masih bisa berubah di detik-detik terakhir. Tapi sikap manis Samuel membuat pertahanan Linzie runtuh sedikit demi sedikit. Linzie sadar ia terlalu berlebihan, akan tetapi, kebiasaannya untuk curiga pada setiap cowok sulit dihilangkan. Karena itulah dia tak bisa, tak mau, mempercayai Samuel. Betapapun hal itu membuatnya mati perlahan. Hati kecilnya sudah sering sekali berteriak-teriak meminta Linzie untuk memaafkan Samuel dan menerima cowok itu. Suatu keajaiban sampai saat ini Linzie masih waras. Terlebih jika Samuel sedang di dekatnya.
            “Zi, lo lagi baca apaan sih? Daritadi gue dicuekin mulu,” tanya Samuel. Ia menopangkan dagu di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja, menatap Linzie seperti anak anjing yang meminta perhatian.
            “Gue lagi belajar buat ujian jam keempat nanti,” sahut Linzie cuek. Berusaha cuek lebih tepatnya.
            “Hhh...” Samuel mendesah. Dipandanginya Linzie terus menerus hingga konsentrasi Linzie kacau karena mata yang memohon itu. Untung saja sebelum Linzie lepas kendali, beberapa cewek menghampiri meja kantin yang mereka tempati.
            “Sam, ngobrol bareng kita-kita yuk!” salah seorang dari ketiga cewek itu merayu Samuel, sebut aja Cewek 1, dia juga menarik tangan Samuel.
            Samuel tersenyum masam, dasar nasib cowok ganteng (hah?! Nggak salah tuh??), pikirnya. “Sorry, gue lagi sibuk,” sahutnya.
            “Yaahh… kok gitu sih... Sekarang lo gitu deh! Dingin banget!” kata cewek yang kedua, sebut aja Cewek 2.
            “Ayolah, Sam... Lo kan udah sering sama cewek ini,” kata cewek ketiga sambil melirik sinis pada Linzie yang masih menunduk pada bukunya, namun sebenarnya pikirannya sudah terpecah.
            “Sorry ya, gue kan udah bilang gue lagi sama Linzie. Mending lo semua cari Rafha atau Jeremy deh! Mereka nganggur tuh!” kata Samuel berusaha sabar.
            “Yaahh, kita kan maunya sama elo!” sahut si Cewek 1.
            Dan kegiatan bujuk membujuk itu pun semakin memanas. Pada akhirnya, Linzie yang sudah tidak bisa konsentrasi karena keberadaan Samuel, sekarang ditambah lagi dengan suara-suara manja cewek-cewek centil yang merayu, membuat emosi Linzie naik ke ambang batas.          Akhirnya ia menggebrak meja dan berdiri. Menghentikan semua ocehan di depannya dan mengalihkan tatapan Samuel dan ketiga cewek itu padanya. Setelah memasang tampang paling angker, kepada keempat orang di depannya, terutama pada Samuel, Linzie langsung angkat kaki.
            Samuel langsung mengeluh. “Tuh kan! Kalian sih! Udah gue bilang gue lagi sibuk! Arrgghh!” Samuel pun bangkit dan mulai menyusul Linzie.
            Linzie berjalan dengan langkah cepat. Dalam hati tak henti-hentinya mengutuki Samuel. Dasar cowok buaya! Lihat cewek sedikit langsung deh, keluar tanduk! Pakai sok-sok nolak secara halus segala lagi! Kalau cowok normal, nggak genit kayak gitu, nolak ya nolak yang tegas! Jangan lemah gitu! Yang ada kan tuh cewek-cewek makin nempel!! Samuel brengsek! Playboy cap kucing! Awas aja tuh cowok. Bilangnya mau ngulang dari awal, nggak bakal ‘belanja’ ke mana-mana. Belum juga seminggu udah meleng kan tuh mata? Pakai sok-sok kecakepan, dikiranya gue bakal cemburu apa?! batin Linzie keki.
            “Linzie!!” panggil Samuel yang langsung  melesat menghadang langkah Linzie. “Jangan marah, Sweety, please...” pinta Samuel manis.
            “Apa lo sok manis di depan gue?! Sana! Temenin aja fans-fans lo itu!” usir Linzie ketus.
            “Yahh, Zi, lo kan tau yang gue mau tuh elo,” kata Samuel.
            “Gue nggak tau!!” ketus Linzie dan meninggalkan Samuel dengan sangat menyedihkan.
            “Linzie!! Ziiiii!!” panggil Samuel dengan suara keras yang dibuat semenyedihkan mungkin dan terdengar menyesal. Tapi Linzie nggak mau terpengaruh. Dia lagi marah pada Samuel. Biar tuh cowok tau rasa dan belajar kalau Linzie nggak suka diduakan!
            Eh? Diduakan? Barusan Linzie mikir hal itu? Tanpa sadar Linzie tertegun, tapi tetap tak berhenti. Ya Tuhaaaann, apa yang barusan Linzie pikirin??? Sejak kapan dia terbiasa memiliki Samuel buat dirinya sendiri?? Oh, ini mengerikan! Linzie langsung berlari mencari teman-temannya yang entah ada di mana saat ini. Meninggalkan Samuel yang terlongo di belakangnya.
            Untuk menjawab pertanyaan itu, sebenarnya Keisha sedang bersama Jeremy, secara tak sengaja tentunya. Karena siapa sangka Keisha akan menemukan Jeremy tengah ‘tidur siang’ di perpustakaan. Cowok pintar, karena perpustakaan selalu sepi dan dihindari oleh para murid yang otaknya berpentium rendah. Bahkan yang kutu buku sekalipun jarang menghabiskan banyak waktu membaca di perpustakaan. Mereka cuma meminjam setumpuk buku dan membacanya di rumah.
            Dan kalau Chika, cewek itu sedang nongkrong di pinggir lapangan basket dengan beberapa teman cowok dan cewek yang sekelas dengannya. Lagi asik ngomongin tentang beberapa hal yang jadi hot news di sekolah, alias lagi ngerumpi. Cewek itu juga lagi asik ngemut lolipop sambil sesekali menonton anak-anak yang lagi pada main basket, yang di antaranya ada Rafhael juga.
            Jadi sudah jelas Linzie akan sulit menemukan mereka.
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar