“Lepasin cewek itu!!” bentak Samuel
Ketika
preman-preman itu tak mau melepaskan Linzie, Samuel langsung menerjang maju dan
menghantam rahang si preman dengan sebuah pukulan hingga terjengkang.
“Gue
bilang lepasin tangan lo dari cewek gue, brengsek!!!” maki Samuel sambil
melayangkan tinjunya ke rusuk si Botak. Kemudian beralih ke si Brewok yang
masih memegangi Linzie. Si Brewok langsung melepaskan Linzie dan menyambut
serangan Samuel. Samuel berhasil mengelak sebelum menyarangkan pukulan
bertubi-tubi di perut si Brewok. Tapi lalu si Brewok berhasil menendang kaki
Samuel hingga jatuh. Samuel kehilangan kendali sejenak, tapi berhasil memberi
perlawanan yang sepadan.
Linzie
yang sejak tadi terperangah melihat adu jotos di depannya seketika bergerak
ketika si Botak mulai bangkit dan hendak menyerang Samuel dari belakang. Linzie
meraih tasnya yang jatuh kemudian memukulkannya ke kepala si Botak hingga
penjahat itu ambruk.
“Makan
tuh!!” seru Linzie kesal.
Akhirnya
kedua preman itu kabur. Linzie terengah-engah karena perlawannya yang cukup
tangguh tadi. Ia nyaris terduduk lemas seketika, sebelum Samuel meraih lengan
atasnya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.
“Apa
sih yang ada di pikiran lo?! Lo gila ya, melawan dua preman sendirian?? Kalau
mereka macam-macamin lo gimana?!” teriak Samuel.
Linzie
kaget sehingga ia hanya bisa tertegun. Setelah keluar dari kekagetannya,
barulah Linzie bereaksi. Ia berusaha melepaskan tangan Samuel, tapi Samuel
bergeming. Akhirnya Linzie cuma bisa mendelik ke arah Samuel.
“Lo
pikir gue mau minta tolong ke siapa?!” bentak Linzie. “Memang lo lihat ada
orang lain?!”
Samuel
tergeragap. Linzie langsung menyambar kesempatan itu dan menepis tangan Samuel.
“Dan lo sendiri kenapa di sini ?? Lo nggak ada urusan di tempat ini kan?”sinis
Linzie. “Dan gue bukan cewek lo!!” tegas Linzie. Dia berbalik dan menegakkan
sepedanya. Kemudian tanpa menoleh ke belakang, ia meninggalkan Samuel.
Samuel
mengumpat. “Sialan, Zizi berhenti!!”
“Jangan
panggil gue Zizi!!” bentak Linzie dan berbalik seketika. “Lo nggak punya hak
manggil nama kecil gue setelah semua yang lo lakukan ke gue!!”
“Gue
ke sini karena gue mau minta maaf!!” teriak Samuel.
“Oh,
jadi lo ngaku kalau lo salah, iya?! Gue nggak butuh maaf lo!!” sinis Linzie.
“Brengsek,
Linzie! Lo tau perlu usaha keras buat gue datang ke sini! Dan gue nggak perlu
ditambah dengan melihat lo yang lagi diganggu preman!” bentak Samuel, semua
kata-kata manisnya lenyap seketika saat berhadapan dengan Linzie.
Dia
menghampiri Linzie dan berdiri menjulang di depan Linzie.
“Dengar,”
kata Samuel sambil menggertakkan giginya. “Gue nggak pernah menipu lo! Apa yang
gue lakuin selama ini bukan tipuan!! Gue mungkin emang penasaran sama lo
awalnya...”
“Iya,
lo penasaran sama gue!! Dan lo anggap itu tantangan!!” potong Linzie marah.
“Itu
awalnya, Zi!! Tapi makin lama gue sendiri nggak tau apa yang gue lakuin!! Gue
memang peduli sama lo, brengsek!! Berhenti menatap gue seolah gue ini
bajingan!!”
“Lo
memang bajingan!!” Linzie berteriak dan memukul dada Samuel keras. “Lo bajingan
nggak punya hati yang suka manfaatin cewek!! Lo pantas dapatin ini!!” lagi-lagi
Linzie memukul Samuel. Samuel bergeming dan menerima semua teriakan dan pukulan
dari Linzie. Hingga cewek itu terengah-engah karena emosinya.
“Apa
sekarang gue boleh ngomong?” tanya Samuel, sudah mampu menenangkan diri.
“Nggak!!”
bentak Linzie.
“Zi,
gue akui gue salah. Tapi gue memang peduli sama elo. Gue nggak pernah berbohong
sama elo selain tentang niat awal gue… Tapi seiring waktu, semakin lama gue
sama elo, semakin pudar keinginan gue buat mempermainkan elo! Gue senang
menghabiskan waktu sama elo dan gue nggak mau semuanya berakhir, Zi.”
“Gue
nggak percaya lagi sama elo,” bisik Linzie. Ia menatap tajam ke arah Samuel.
“Nggak sekarang.”
Samuel
menghela napas. “Kasih gue kesempatan, Zi… Gue bakal buktikan kalau gue nggak
mainin elo,” kata Samuel.
Linzie
menatap Samuel, berperang dengan keinginannya untuk mempercayai Samuel saat itu
juga. Tapi dia menahan perasaan itu, dia tidak mau begitu saja mempercayai
Samuel. Cowok itu pernah menipunya, dan tidak ada jaminan kalau dia nggak akan
melakukannya lagi. Linzie tidak mau terjebak lagi. Jika pada akhirnya Samuel
kembali mempermainkannya, Linzie takkan sanggup menahan kepedihan yang akan ia
rasakan.
“Gue
belum bisa percaya lagi sama lo... Gue nggak mau lo permainkan lagi, Sam,” kata
Linzie.
“Gue
nggak akan mainin elo! Sumpah! Justru gue yang udah kalah sama elo, Zi…” sahut
Samuel.
Linzie
mundur selangkah, menatap Samuel dalam-dalam dan mencari kebohongan di sana,
namun tak menemukannya.
“Gue
nggak akan pernah maafin lo kalau lo bohongin gue lagi,” kata Linzie, kemudian
meraih sepedanya dan berjalan ke arah cafe.
Butuh
waktu semenit bagi Samuel untuk mengartikan isyarat gencatan senjata dari
Linzie. Entah bagaimana, sebagian bebannya seolah terangkat dari pundaknya dan
dia ingin sekali memeluk dan mencium Linzie. Tapi jelas itu bukan tindakan yang
bisa ia lakukan. Tidak, jika tidak mau digampar oleh Linzie dan kehilangan
kesempatannya.
“Gue
janji nggak bakal menyia-nyiakan kesempatan ini!!” seru Samuel riang.
Linzie
harus mati-matian mempertahankan sikap tenangnya, kalau tidak, Samuel akan tau
bahwa ia sendiri merasa lega bisa memperbaiki semuanya. Seenggaknya Linzie bisa
memberikan kesempatan kedua pada Samuel. Dan jika kesempatan ini pun
dikhianati... Linzie tak tau lagi harus bagaimana.
***
Segalanya
seperti kembali ke awal. Samuel memulai semuanya benar-benar dari awal.
Menyelipkan semua humor dan godaan-godaan yang mampu ia lakukan yang tidak akan
memancing kemarahan Linzie. Bahkan sekali dua kali, sebuah senyum tipis akan
lepas dari bibir Linzie. Sungguh Samuel berjuang keras. Ia merindukan
kebersamaannya dengan Linzie. Butuh usaha keras untuk menjauhkan sifat genitnya
jika didekat Linzie. Samuel selalu ingin menggoda cewek itu, meskipun
reputasinya jatuh hingga tak mungkin dinaikkan lagi menjadi gantinya.
Berlawanan
dengan Samuel, Rafhael betul-betul tak setuju dengan apa yang Samuel lakukan.
Tapi karena Jeremy no coment, maka Rafhael pun bungkam. Tapi diam-diam dalam
hati terus memperingatkan diri agar tidak mengikuti jejak temannya itu. Yang Rafhael
kesalkan, Jeremy tampak sedang merencanakan sesuatu tanpa melibatkannya. Hal
itu membuat Rafhael tidak punya kerjaan. Sehingga dia jadi sewot sendiri.
Hari-hari
berlalu, perubahan yang terjadi betul-betul sedikit. Samuel nyaris patah
semangat. Sungguh ini adalah pengejarannya yang paling panjang. Dan seandainya
ada cara lebih cepat yang bisa membuatnya mengetahui perasaan Linzie, Samuel
akan dengan senang hati melakukannya.
Sementara
itu Linzie betul-betul kagum dengan kegigihan Samuel. Meski enggan, ia tak bisa
mengabaikan keseriusan Samuel. Ia mengakui bahwa mungkin kali ini cowok itu
benar-benar serius. Mungkin, kata itu masih belum ia hilangkan. Karena
bagaimanapun, semuanya masih bisa berubah di detik-detik terakhir. Tapi sikap
manis Samuel membuat pertahanan Linzie runtuh sedikit demi sedikit. Linzie
sadar ia terlalu berlebihan, akan tetapi, kebiasaannya untuk curiga pada setiap
cowok sulit dihilangkan. Karena itulah dia tak bisa, tak mau, mempercayai
Samuel. Betapapun hal itu membuatnya mati perlahan. Hati kecilnya sudah sering
sekali berteriak-teriak meminta Linzie untuk memaafkan Samuel dan menerima
cowok itu. Suatu keajaiban sampai saat ini Linzie masih waras. Terlebih jika
Samuel sedang di dekatnya.
“Zi,
lo lagi baca apaan sih? Daritadi gue dicuekin mulu,” tanya Samuel. Ia
menopangkan dagu di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja, menatap
Linzie seperti anak anjing yang meminta perhatian.
“Gue
lagi belajar buat ujian jam keempat nanti,” sahut Linzie cuek. Berusaha cuek
lebih tepatnya.
“Hhh...”
Samuel mendesah. Dipandanginya Linzie terus menerus hingga konsentrasi Linzie
kacau karena mata yang memohon itu. Untung saja sebelum Linzie lepas kendali,
beberapa cewek menghampiri meja kantin yang mereka tempati.
“Sam,
ngobrol bareng kita-kita yuk!” salah seorang dari ketiga cewek itu merayu
Samuel, sebut aja Cewek 1, dia juga menarik tangan Samuel.
Samuel
tersenyum masam, dasar nasib cowok ganteng (hah?! Nggak salah tuh??), pikirnya.
“Sorry, gue lagi sibuk,” sahutnya.
“Yaahh…
kok gitu sih... Sekarang lo gitu deh! Dingin banget!” kata cewek yang kedua,
sebut aja Cewek 2.
“Ayolah,
Sam... Lo kan udah sering sama cewek ini,” kata cewek ketiga sambil melirik
sinis pada Linzie yang masih menunduk pada bukunya, namun sebenarnya pikirannya
sudah terpecah.
“Sorry
ya, gue kan udah bilang gue lagi sama Linzie. Mending lo semua cari Rafha atau
Jeremy deh! Mereka nganggur tuh!” kata Samuel berusaha sabar.
“Yaahh,
kita kan maunya sama elo!” sahut si Cewek 1.
Dan
kegiatan bujuk membujuk itu pun semakin memanas. Pada akhirnya, Linzie yang
sudah tidak bisa konsentrasi karena keberadaan Samuel, sekarang ditambah lagi
dengan suara-suara manja cewek-cewek centil yang merayu, membuat emosi Linzie
naik ke ambang batas. Akhirnya ia
menggebrak meja dan berdiri. Menghentikan semua ocehan di depannya dan
mengalihkan tatapan Samuel dan ketiga cewek itu padanya. Setelah memasang
tampang paling angker, kepada keempat orang di depannya, terutama pada Samuel,
Linzie langsung angkat kaki.
Samuel
langsung mengeluh. “Tuh kan! Kalian sih! Udah gue bilang gue lagi sibuk! Arrgghh!”
Samuel pun bangkit dan mulai menyusul Linzie.
Linzie
berjalan dengan langkah cepat. Dalam hati tak henti-hentinya mengutuki Samuel.
Dasar cowok buaya! Lihat cewek sedikit langsung deh, keluar tanduk! Pakai
sok-sok nolak secara halus segala lagi! Kalau cowok normal, nggak genit kayak gitu,
nolak ya nolak yang tegas! Jangan lemah gitu! Yang ada kan tuh cewek-cewek
makin nempel!! Samuel brengsek! Playboy cap kucing! Awas aja tuh cowok.
Bilangnya mau ngulang dari awal, nggak bakal ‘belanja’ ke mana-mana. Belum juga
seminggu udah meleng kan tuh mata? Pakai sok-sok kecakepan, dikiranya gue bakal
cemburu apa?! batin Linzie keki.
“Linzie!!”
panggil Samuel yang langsung melesat
menghadang langkah Linzie. “Jangan marah, Sweety, please...” pinta Samuel
manis.
“Apa
lo sok manis di depan gue?! Sana! Temenin aja fans-fans lo itu!” usir Linzie
ketus.
“Yahh,
Zi, lo kan tau yang gue mau tuh elo,” kata Samuel.
“Gue
nggak tau!!” ketus Linzie dan meninggalkan Samuel dengan sangat menyedihkan.
“Linzie!!
Ziiiii!!” panggil Samuel dengan suara keras yang dibuat semenyedihkan mungkin
dan terdengar menyesal. Tapi Linzie nggak mau terpengaruh. Dia lagi marah pada
Samuel. Biar tuh cowok tau rasa dan belajar kalau Linzie nggak suka diduakan!
Eh?
Diduakan? Barusan Linzie mikir hal itu? Tanpa sadar Linzie tertegun, tapi tetap
tak berhenti. Ya Tuhaaaann, apa yang barusan Linzie pikirin??? Sejak kapan dia
terbiasa memiliki Samuel buat dirinya sendiri?? Oh, ini mengerikan! Linzie
langsung berlari mencari teman-temannya yang entah ada di mana saat ini.
Meninggalkan Samuel yang terlongo di belakangnya.
Untuk
menjawab pertanyaan itu, sebenarnya Keisha sedang bersama Jeremy, secara tak
sengaja tentunya. Karena siapa sangka Keisha akan menemukan Jeremy tengah ‘tidur
siang’ di perpustakaan. Cowok pintar, karena perpustakaan selalu sepi dan
dihindari oleh para murid yang otaknya berpentium rendah. Bahkan yang kutu buku
sekalipun jarang menghabiskan banyak waktu membaca di perpustakaan. Mereka cuma
meminjam setumpuk buku dan membacanya di rumah.
Dan
kalau Chika, cewek itu sedang nongkrong di pinggir lapangan basket dengan
beberapa teman cowok dan cewek yang sekelas dengannya. Lagi asik ngomongin
tentang beberapa hal yang jadi hot news di sekolah, alias lagi ngerumpi. Cewek
itu juga lagi asik ngemut lolipop sambil sesekali menonton anak-anak yang lagi
pada main basket, yang di antaranya ada Rafhael juga.
Jadi
sudah jelas Linzie akan sulit menemukan mereka.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar