Keisha tak menyangka akan lepas kendali ketika
berhadapan dengan Jeremy. Namun ia memang telah memendam kemarahan sejak dua
hari yang lalu. Kemarahan yang makin lama makin menggerogoti hatinya ketika ia
berpikir bahwa Jeremy telah membohonginya.
Namun
yang lebih membuatnya marah adalah karena ia telah dengan bodohnya mempercayai
cowok itu, dan dengan mudahnya membuka dirinya terhadap cowok itu. Sekarang ia
tau bahwa semua hanya bohong belaka. Kata-kata Jeremy di awal pertemuan mereka
kembali terngiang di telinga Keisha. Eksperimen? Kelinci percobaan? Bagi Jeremy
ia tak lebih dari sekadar sebuah eksperimen. Cowok itu ingin memenuhi rasa
penasarannya yang ia salah artikan sebagai suatu ketertarikan. Dan Keisha
dengan bodohnya percaya dengan cowok itu?
Keisha
berusaha keras untuk mengumpulkan sisa-sisa pertahanan dirinya yang telah retak
agar bisa menamenginya ketika berhadapan dengan Jeremy lagi. Dan syukurnya ia
masih bisa bertahan. Meski hanya dengan sebuah perisai yang akan langsung
hancur begitu disentuh itu.
Tapi
Jeremy tidak tau. Cowok itu tidak tau betapa rapuhnya Keisha saat ini. Semua
karena cowok itu. Keisha telah menjadi lemah sejak Jeremy menyiratkan bahwa
dirinya bisa bergantung pada cowok itu. Yang sekarang berakhir pahit dan
menyakitkan. Bahkan Keisha pun tak bisa mencegah air mata bergulir di pipinya.
Ia yang tak pernah menangis lagi, kini bahkan tak tau bagaimana menghentikan
air mata yang mengalir di pipinya itu…
***
Beberapa
hari kemudian Jeremy, Samuel, dan Rafhael berkumpul di rumah Jeremy guna rapat
strategi, begitu Samuel menyebutnya. Ketiga cowok itu sudah mengumpulkan
beberapa informasi dan bukti-bukti yang akan menghancurkan Renaldi. Terlebih,
setelah usaha kerasnya selama 48 jam yang tiada henti, dengan koneksi ke
seluruh cewek-cewek yang dikenalnya di beberapa sekolah, Jeremy berhasil
menemukan cewek bayaran Renaldi.
Dan
setelah di konfirmasikan dengan mata-mata Rafhael yang membenarkan kalau itu
memang cewek yang dilihatnya, mereka mulai menyiapkan jebakan. Bahkan cewek itu
tidak menyadari dengan siapa ia berhadapan ketika Jeremy muncul. Malahan cewek
itu berusaha menggoda Jeremy dan tanpa dipancing lebih jauh, cewek itu sendiri
yang datang padanya. Jeremy sudah mengatur date
dengan cewek itu sore ini di sebuah cafe. Dan sekarang mereka sedang
membicarakan apa yang akan mereka lakukan setelah target 1 ada di tangan.
“Mungkin
kita bayar dia buat bicara jujur?” usul Samuel.
Rafhael
mengernyit. “Kalau itu bisa kita lakukan, nggak aneh kalau Renaldi bisa
melakukannya juga. Cukup beresiko,” katanya.
“Atau
kita ancam?” usul Samuel lagi.
“Bego!
Mana dia mau ngaku!” hardik Rafhael.
“Terus
apa?! Lo coment melulu deh! Usul lo mana?!” sahut Samuel jengkel.
Jeremy
langsung menengahi. “Dia biar gue yang urus. Lo berdua lakukan sesuai rencana,
bagaimanapun kita harus bisa memancing Renaldi supaya kelepasan bicara,” kata
Jeremy.
“Kita
bakal bikin dia merasa tersudut, dengan begitu dia pasti akan kelepasan
bicara,” kata Rafhael.
“Gue
juga bisa minta bantuan Linzie dan Chika,” kata Samuel tiba-tiba. Yang langsung
mendapatkan tatapan tajam dari kedua temannya.
Buru-buru
Samuel menjelaskan sebelum Jeremy atau Rafhael melemparkan sesuatu padanya.
“Mereka juga penasaran sama tingkah aneh Keisha! Keduanya nggak tau apa-apa
karena Keisha nggak cerita sama mereka! Dan ketika gue iseng menceritakan
tentang Renaldi, Zizi gue langsung mencak-mencak karena sebenarnya dia juga
nggak suka sama Renaldi sejak awal,” kata Samuel.
“Lo
yakin cewek lo nggak bakal ember ke Keisha?” tanya Jeremy.
“Yakin!
Lo kayak nggak tau Zizi aja deh!” sahut Samuel.
“Terus
yang satu lagi? Lo yakin nggak bakal ember?” kata Rafhael. Jelas merujuk pada
Chika yang terkenal tak bisa diam.
“Eh,
yah, gue rasa sih dia bisa diandalkan,” kata Samuel, tampak tidak yakin. “Yah,
toh, Zizi bisa ngawasin dia kan?” sahut Samuel membela diri.
“Gue
nggak akan mempermasalahkan itu selama Chika nggak buka mulut,” kata Jeremy. Dia
tampak berpikir sejenak. “Mungkin Chika bisa membantu lebih dari yang kita
kira. Dia suka bicara dan gampang akrab dengan orang. Kita bisa minta dia
ngoceh-ngoceh di depan Renaldi tentang semua hal tentang gue dan Keisha, dan
kalau emosi Renaldi terpancing, mungkin kita bakal berhasil,” kata Jeremy.
“Gue
nggak setuju!!” potong Rafhael spontan. Kedua temannya langsung menaikkan alis
padanya. Membuat Rafhael salah tingkah. “Maksud gue, kalau seandainya Chika
malah membocorkan rencana lo secara nggak sengaja gimana? Atau kalau Renaldi
malah marah dan tuh anak diapa-apain gimana?” Rafhael memberi alasan.
“Kalau
gitu lo lindungi dia,” sahut Jeremy sambil menyeringai.
Rafhael
langsung menolak mati-matian. Namun Jeremy menggeleng. Ia tak mau memperpanjang
urusan Chika ini. “Pilihannya lo lindungi dia atau lo diam dan lihat aja,” kata
Jeremy tenang.
Rafhael
menggemeretakkn giginya dan tidak bicara apa-apa lagi. Namun dia memang tak
diberi pilihan.
Setelah
merasa rencana mereka sudah matang, ketiganya berpisah dan Jeremy bersiap-siap
untuk datingnya. Ia harus bisa membuat Lexa, cewek yang diduga bekerja sama
dengan Renaldi itu untuk mau ‘bernyanyi’ tentang Renaldi.
Satu
jam kemudian Jeremy sampai di cafe tempat ia janjian bertemu dengan Lexa, cewek
yang dibayar oleh Renaldi itu. Saat Jeremy sampai di cafe, Lexa sudah
menunggunya. Cewek itu tampil seksi dan menggoda, tapi Jeremy sama sekali tak
tertarik. Kalau bukan karena demi memperbaiki hubungannya dengan Keisha, Jeremy
malas banget berurusan dengan cewek satu ini.
Jeremy
menarik sebuah kursi dan duduk. Melemparkan sebuah senyum yang ia yakin bisa
mengacaukan saraf otak para cewek. Kecuali satu orang…
“Udah
lama?” tanya Jeremy.
“Belum,
baru lima menitan,” sahut Lexa manis. “Gue kira lo nggak bakal datang,” kata
Cewek itu lagi.
Jeremy
hanya tersenyum dan memanggil pelayan. “Lo mau pesan apa?” tanya Jeremy.
“Terserah
lo aja. Gue belum pernah makan di sini,” kata Lexa.
Jeremy
langsung memesankan makanan. Sedikit berbasa-basi ketika menunggu makanan
datang dan lalu menikmati makanan yang tersaji. Jeremy mempelajari Lexa
baik-baik karena itu akan membantunya ketika sudah waktunya untuk membuat cewek
itu buka mulut.
Setengah
jam kemudian, mereka sudah selesai makan dan menikmati desert. Jeremy bersandar
di kursinya dan menatap Lexa hingga cewek itu salah tingkah. Jeremy sudah nggak
mau main-main lebih lama.
“Gue
rasa lo pernah ke sekolah gue,” kata Jeremy,
“Hah?
Memang di mana sekolah lo?” tanya Lexa.
“Plaga,”
kata Jeremy, kemudian menunggu reaksi Lexa. Cewek itu tampak sedikit memucat.
“Hmm,
entahlah, gue nggak ingat. Tapi gue punya beberapa teman di sana,” kata Lexa
gugup.
“Oh
ya? Siapa? Mungkin aja gue kenal kan? Gue cukup banyak bergaul di sana. Yah,
kecuali sama kelompok-kelompok beken macam Jeremy, Samuel, atau Rafhael sih,” kata
Jeremy. Sengaja menggunakan namanya untuk melihat reaksi Lexa. Saat berkenalan
dengan Lexa, ia menggunakan nama Tristan.
“Lo
kenal mereka? Jeremy cs maksud gue,” kata Lexa hati-hati.
Jeremy
menggeleng. “Gue nggak terlalu menyukai mereka. Dari yang gue dengar mereka tuh
suka mempermainkan cewek. Bahkan gosip terakhir yang gue dengar, salah satu
dari mereka lagi ribut sama ceweknya,” sahut Jeremy terlihat bosan.
“Bukan
ceweknya,” gumam Lexa spontan. Karena Renaldi terbiasa membentaknya ketika ia
menyebutkan hal yang sama.
“Hm?”
“Ah,
nggak. Menurut teman gue yang sekolah di sana, cewek itu bukan pacarnya Jeremy.
Lo lagi ngomongin dia kan?” tanya Lexa.
“Oh,
ya, gue emang lagi ngomongin dia,” kata Jeremy sambil tersenyum.
“Yah,
gue sih nggak tau-tau banget tentang mereka. Tapi kelihatannya teman gue benci
banget sama mereka. Gue sendiri heran di mana bagusnya tuh cewek, cantik juga
nggak terlalu,” kata Lexa sebal.
Jeremy
merasa di atas angin. Dia terus-terusan memancing-mancing lexa. Dari mana dia
tau soal itu, siapa temannya, dan Lexa cukup kooperatif, karena dia tampak
tidak terlalu suka dengan perlakuan “teman”nya itu. Dan Lexa pun mulai
bernyayi.
“Gue
ketemulah sama tuh cewek! Siapa gitu namanya gue lupa! Renald nggak bilang
dengan jelas. Yang penting tugas gue terlaksana! Tuh cowok bisanya main
perintah!” sungut Lexa.
“Tugas?”
tanya Jeremy.
“Yah,
gue disuruh nyari tuh cewek dan ngaku-ngaku jadi pacarnya siapa tuh? Oh,
Jeremy! Iya! Terus gue lakuin sesuai perintah Renald, gue dibayar gitu loh,” kata
Lexa blak-blakan. “Jadi gue pikir nggak ada salahnya kalau gue berimprovisasi.
Gue tampar tuh cewek biar lebih meyakinkan. Tapi gue nggak bilang sama Renald,
gue nggak mau bayaran gue dipotong!” sahut Lexa lagi.
“Lo
apa??” suara Jeremy pasti berubah tajam karena Lexa tiba-tiba berhenti mengoceh
dan sadar sudah terlalu banyak bicara. Ia kemudian mengalihkan pmbicaraan ke
hal-hal yang lebih umum. Namun Jeremy menolak di alihkan.
“Lo
bicara dengan sukarela atau gue perlu memaksa?” kata Jeremy dingin.
“Lo
apa? Memaksa? Tunggu, siapa lo?” Lexa mulai curiga.
Jeremy
tersenyum dingin dan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Lo barusan bilang pernah
pura-pura ngaku jadi cewek gue kan?”
Lexa
terkesiap dan langsung melompat berdiri. Namun dua tangan kokoh langsung
membuatnya kembali duduk. Lexa kembali terkesiap dan mendongak, dan mendapati
dua cowok paling ganteng yang pernah dilihatnya tengah memegangi kedua bahunya.
Kemudian Lexa kembali menatap Jeremy.
“Lo
menjebak gue!” tuduhnya.
“Gue
nggak bisa menyebutnya selain dengan nama itu. Tapi gue punya penawaran buat
lo. Lo bakal gue lepasin dan bahkan akan gue bayar dua kali lipat dari bayaran
Renaldi jika lo mau kerja sama dengan gue,” kata Jeremy.
“Kerja
sama apa yang lo mau?” tuntut Lexa waspada.
“Lo
temui Keisha, cewek yang lo tampar
waktu itu dan katakan yang sebenarnya sama dia,” kata Jeremy dengan penuh
penekanan.
“Apa?!
Gue nggak bisa! Jika Renald tau, bisa abis gue!!” seru Lexa.
“Tenang
aja, gue akan pastikan dia nggak bakal tau. Sementara lo bakal tinggal sama
salah satu dari kami,” kata Jeremy.
“Heh!
Gue nggak mau tinggal sama cowok!!” bentak Lexa.
“Lo
bakal tinggal sama cewek gue!!” sela Samuel jengkel.
Lexa
tampak jauh lebih tenang. Dia tampak mempertimbangkan keadaannya. Tampaknya ia
tak bisa kabur ke mana-mana selama dua teman Jeremy masih memeganginya seperti
itu. Yang dapat Lexa lakukan hanya menyerah. Ia pun setuju membantu, asal
Jeremy berjanji menjauhkan Renaldi darinya jika semua sudah berakhir.
Mereka
berempat pun meninggalkan cafe dan menuju ke rumah Linzie. Ketika Linzie
melihat Lexa, dapat dipastikan cewek itu ingin mencakar Lexa jika tidak dicegah
oleh Samuel. Begitu juga dengan peringatan dari Jeremy. Lexa nyaris menolak
tinggal dengan Linzie ketika melihat keganasan cewek itu. Setelah Linzie
berjanji takkan menyakiti Lexa, barulah cewek itu jauh lebih tenang.
“Zi,
gue harap lo jaga sikap lo. Gue masih butuh cewek itu,” kata Jeremy.
“Huh,
gue tau! Lagian si Renaldi kan otaknya?! Gue nggak sabar pingin mencekik tuh
cowok!” geram Linzie.
Kemudian
Jeremy dan kedua temannya pergi dari rumah Linzie. Mereka masih bisa mendengar
suara berdebat antara Linzie dan Lexa. Kebetulan orangtua Linzie sedang pergi
keluar kota, jadi Linzie hanya tinggal berdua dengan kakaknya, Daniel. Jeremy
juga sudah bicara dengan Daniel agar cowok itu tidak kaget nantinya.
“Jadi
sekarang tinggal Renaldi?” kata Rafhael saat mereka sudah di perjalanan pulang.
“Ya.
Saatnya Chika beraksi,” kata Jeremy dan melirik Rafhael yang langsung mengerang.
“Dia dan Keisha harus bertemu dengan Renaldi ketika Chika memancing-mancing
amarah Renaldi.”
“Oke,
gue mengerti. Gue tau tugas gue,” sahut Rafhael setengah hati.
Setelah
itu ketiganya berpisah ketika sudah sampai di rumah Jeremy. Mereka punya tugas
masing-masing dan harus mempersiapkan jebakan itu dengan serapi mungkin.
Jeremy
hanya berharap semua bisa berjalan sesuai rencananya. Dia akan melakukan apapun
asal Keisha percaya padanya. Bahkan jika harus menjadi orang licik sekalipun.
Toh, Keisha sudah menganggapnya sangat buruk, jadi buat apa mengkhawatirkan hal
itu? Akan ada waktu di mana Jeremy akan meluruskan semua salah paham itu.
Sekarang, saatnya untuk fokus pada pangkal masalahnya.
***
WATERFREET CASINO | New World Casino
BalasHapusWATERFREET CASINO is 가입시 꽁 머니 환전 an exciting, 1xbet우회주소 exhilarating, and thrilling casino 바인드토토 resort in 슬롯 게임 the New 메리트 World Casino of West Virginia.