Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #10


Keisha tak menyangka akan lepas kendali ketika berhadapan dengan Jeremy. Namun ia memang telah memendam kemarahan sejak dua hari yang lalu. Kemarahan yang makin lama makin menggerogoti hatinya ketika ia berpikir bahwa Jeremy telah membohonginya.
            Namun yang lebih membuatnya marah adalah karena ia telah dengan bodohnya mempercayai cowok itu, dan dengan mudahnya membuka dirinya terhadap cowok itu. Sekarang ia tau bahwa semua hanya bohong belaka. Kata-kata Jeremy di awal pertemuan mereka kembali terngiang di telinga Keisha. Eksperimen? Kelinci percobaan? Bagi Jeremy ia tak lebih dari sekadar sebuah eksperimen. Cowok itu ingin memenuhi rasa penasarannya yang ia salah artikan sebagai suatu ketertarikan. Dan Keisha dengan bodohnya percaya dengan cowok itu?
            Keisha berusaha keras untuk mengumpulkan sisa-sisa pertahanan dirinya yang telah retak agar bisa menamenginya ketika berhadapan dengan Jeremy lagi. Dan syukurnya ia masih bisa bertahan. Meski hanya dengan sebuah perisai yang akan langsung hancur begitu disentuh itu.
            Tapi Jeremy tidak tau. Cowok itu tidak tau betapa rapuhnya Keisha saat ini. Semua karena cowok itu. Keisha telah menjadi lemah sejak Jeremy menyiratkan bahwa dirinya bisa bergantung pada cowok itu. Yang sekarang berakhir pahit dan menyakitkan. Bahkan Keisha pun tak bisa mencegah air mata bergulir di pipinya. Ia yang tak pernah menangis lagi, kini bahkan tak tau bagaimana menghentikan air mata yang mengalir di pipinya itu…
***
            Beberapa hari kemudian Jeremy, Samuel, dan Rafhael berkumpul di rumah Jeremy guna rapat strategi, begitu Samuel menyebutnya. Ketiga cowok itu sudah mengumpulkan beberapa informasi dan bukti-bukti yang akan menghancurkan Renaldi. Terlebih, setelah usaha kerasnya selama 48 jam yang tiada henti, dengan koneksi ke seluruh cewek-cewek yang dikenalnya di beberapa sekolah, Jeremy berhasil menemukan cewek bayaran Renaldi.
            Dan setelah di konfirmasikan dengan mata-mata Rafhael yang membenarkan kalau itu memang cewek yang dilihatnya, mereka mulai menyiapkan jebakan. Bahkan cewek itu tidak menyadari dengan siapa ia berhadapan ketika Jeremy muncul. Malahan cewek itu berusaha menggoda Jeremy dan tanpa dipancing lebih jauh, cewek itu sendiri yang datang padanya. Jeremy sudah mengatur date dengan cewek itu sore ini di sebuah cafe. Dan sekarang mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan setelah target 1 ada di tangan.
            “Mungkin kita bayar dia buat bicara jujur?” usul Samuel.
            Rafhael mengernyit. “Kalau itu bisa kita lakukan, nggak aneh kalau Renaldi bisa melakukannya juga. Cukup beresiko,” katanya.
            “Atau kita ancam?” usul Samuel lagi.
            “Bego! Mana dia mau ngaku!” hardik Rafhael.
            “Terus apa?! Lo coment melulu deh! Usul lo mana?!” sahut Samuel jengkel.
            Jeremy langsung menengahi. “Dia biar gue yang urus. Lo berdua lakukan sesuai rencana, bagaimanapun kita harus bisa memancing Renaldi supaya kelepasan bicara,” kata Jeremy.
            “Kita bakal bikin dia merasa tersudut, dengan begitu dia pasti akan kelepasan bicara,” kata Rafhael.
            “Gue juga bisa minta bantuan Linzie dan Chika,” kata Samuel tiba-tiba. Yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari kedua temannya.
            Buru-buru Samuel menjelaskan sebelum Jeremy atau Rafhael melemparkan sesuatu padanya. “Mereka juga penasaran sama tingkah aneh Keisha! Keduanya nggak tau apa-apa karena Keisha nggak cerita sama mereka! Dan ketika gue iseng menceritakan tentang Renaldi, Zizi gue langsung mencak-mencak karena sebenarnya dia juga nggak suka sama Renaldi sejak awal,” kata Samuel.
            “Lo yakin cewek lo nggak bakal ember ke Keisha?” tanya Jeremy.
            “Yakin! Lo kayak nggak tau Zizi aja deh!” sahut Samuel.
            “Terus yang satu lagi? Lo yakin nggak bakal ember?” kata Rafhael. Jelas merujuk pada Chika yang terkenal tak bisa diam.
            “Eh, yah, gue rasa sih dia bisa diandalkan,” kata Samuel, tampak tidak yakin. “Yah, toh, Zizi bisa ngawasin dia kan?” sahut Samuel membela diri.
            “Gue nggak akan mempermasalahkan itu selama Chika nggak buka mulut,” kata Jeremy. Dia tampak berpikir sejenak. “Mungkin Chika bisa membantu lebih dari yang kita kira. Dia suka bicara dan gampang akrab dengan orang. Kita bisa minta dia ngoceh-ngoceh di depan Renaldi tentang semua hal tentang gue dan Keisha, dan kalau emosi Renaldi terpancing, mungkin kita bakal berhasil,” kata Jeremy.
            “Gue nggak setuju!!” potong Rafhael spontan. Kedua temannya langsung menaikkan alis padanya. Membuat Rafhael salah tingkah. “Maksud gue, kalau seandainya Chika malah membocorkan rencana lo secara nggak sengaja gimana? Atau kalau Renaldi malah marah dan tuh anak diapa-apain gimana?” Rafhael memberi alasan.
            “Kalau gitu lo lindungi dia,” sahut Jeremy sambil menyeringai.
            Rafhael langsung menolak mati-matian. Namun Jeremy menggeleng. Ia tak mau memperpanjang urusan Chika ini. “Pilihannya lo lindungi dia atau lo diam dan lihat aja,” kata Jeremy tenang.
            Rafhael menggemeretakkn giginya dan tidak bicara apa-apa lagi. Namun dia memang tak diberi pilihan.
            Setelah merasa rencana mereka sudah matang, ketiganya berpisah dan Jeremy bersiap-siap untuk datingnya. Ia harus bisa membuat Lexa, cewek yang diduga bekerja sama dengan Renaldi itu untuk mau ‘bernyanyi’ tentang Renaldi.
            Satu jam kemudian Jeremy sampai di cafe tempat ia janjian bertemu dengan Lexa, cewek yang dibayar oleh Renaldi itu. Saat Jeremy sampai di cafe, Lexa sudah menunggunya. Cewek itu tampil seksi dan menggoda, tapi Jeremy sama sekali tak tertarik. Kalau bukan karena demi memperbaiki hubungannya dengan Keisha, Jeremy malas banget berurusan dengan cewek satu ini.
            Jeremy menarik sebuah kursi dan duduk. Melemparkan sebuah senyum yang ia yakin bisa mengacaukan saraf otak para cewek. Kecuali satu orang…
            “Udah lama?” tanya Jeremy.
            “Belum, baru lima menitan,” sahut Lexa manis. “Gue kira lo nggak bakal datang,” kata Cewek itu lagi.
            Jeremy hanya tersenyum dan memanggil pelayan. “Lo mau pesan apa?” tanya Jeremy.
            “Terserah lo aja. Gue belum pernah makan di sini,” kata Lexa.
            Jeremy langsung memesankan makanan. Sedikit berbasa-basi ketika menunggu makanan datang dan lalu menikmati makanan yang tersaji. Jeremy mempelajari Lexa baik-baik karena itu akan membantunya ketika sudah waktunya untuk membuat cewek itu buka mulut.
            Setengah jam kemudian, mereka sudah selesai makan dan menikmati desert. Jeremy bersandar di kursinya dan menatap Lexa hingga cewek itu salah tingkah. Jeremy sudah nggak mau main-main lebih lama.
            “Gue rasa lo pernah ke sekolah gue,” kata Jeremy,
            “Hah? Memang di mana sekolah lo?” tanya Lexa.
            “Plaga,” kata Jeremy, kemudian menunggu reaksi Lexa. Cewek itu tampak sedikit memucat.
            “Hmm, entahlah, gue nggak ingat. Tapi gue punya beberapa teman di sana,” kata Lexa gugup.
            “Oh ya? Siapa? Mungkin aja gue kenal kan? Gue cukup banyak bergaul di sana. Yah, kecuali sama kelompok-kelompok beken macam Jeremy, Samuel, atau Rafhael sih,” kata Jeremy. Sengaja menggunakan namanya untuk melihat reaksi Lexa. Saat berkenalan dengan Lexa, ia menggunakan nama Tristan.
            “Lo kenal mereka? Jeremy cs maksud gue,” kata Lexa hati-hati.
            Jeremy menggeleng. “Gue nggak terlalu menyukai mereka. Dari yang gue dengar mereka tuh suka mempermainkan cewek. Bahkan gosip terakhir yang gue dengar, salah satu dari mereka lagi ribut sama ceweknya,” sahut Jeremy terlihat bosan.
            “Bukan ceweknya,” gumam Lexa spontan. Karena Renaldi terbiasa membentaknya ketika ia menyebutkan hal yang sama.
            “Hm?”
            “Ah, nggak. Menurut teman gue yang sekolah di sana, cewek itu bukan pacarnya Jeremy. Lo lagi ngomongin dia kan?” tanya Lexa.
            “Oh, ya, gue emang lagi ngomongin dia,” kata Jeremy sambil tersenyum.
            “Yah, gue sih nggak tau-tau banget tentang mereka. Tapi kelihatannya teman gue benci banget sama mereka. Gue sendiri heran di mana bagusnya tuh cewek, cantik juga nggak terlalu,” kata Lexa sebal.
            Jeremy merasa di atas angin. Dia terus-terusan memancing-mancing lexa. Dari mana dia tau soal itu, siapa temannya, dan Lexa cukup kooperatif, karena dia tampak tidak terlalu suka dengan perlakuan “teman”nya itu. Dan Lexa pun mulai bernyayi.
            “Gue ketemulah sama tuh cewek! Siapa gitu namanya gue lupa! Renald nggak bilang dengan jelas. Yang penting tugas gue terlaksana! Tuh cowok bisanya main perintah!” sungut Lexa.
            “Tugas?” tanya Jeremy.
            “Yah, gue disuruh nyari tuh cewek dan ngaku-ngaku jadi pacarnya siapa tuh? Oh, Jeremy! Iya! Terus gue lakuin sesuai perintah Renald, gue dibayar gitu loh,” kata Lexa blak-blakan. “Jadi gue pikir nggak ada salahnya kalau gue berimprovisasi. Gue tampar tuh cewek biar lebih meyakinkan. Tapi gue nggak bilang sama Renald, gue nggak mau bayaran gue dipotong!” sahut Lexa lagi.
            “Lo apa??” suara Jeremy pasti berubah tajam karena Lexa tiba-tiba berhenti mengoceh dan sadar sudah terlalu banyak bicara. Ia kemudian mengalihkan pmbicaraan ke hal-hal yang lebih umum. Namun Jeremy menolak di alihkan.
            “Lo bicara dengan sukarela atau gue perlu memaksa?” kata Jeremy dingin.
            “Lo apa? Memaksa? Tunggu, siapa lo?” Lexa mulai curiga.
            Jeremy tersenyum dingin dan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Lo barusan bilang pernah pura-pura ngaku jadi cewek gue kan?”
            Lexa terkesiap dan langsung melompat berdiri. Namun dua tangan kokoh langsung membuatnya kembali duduk. Lexa kembali terkesiap dan mendongak, dan mendapati dua cowok paling ganteng yang pernah dilihatnya tengah memegangi kedua bahunya. Kemudian Lexa kembali menatap Jeremy.
            “Lo menjebak gue!” tuduhnya.
            “Gue nggak bisa menyebutnya selain dengan nama itu. Tapi gue punya penawaran buat lo. Lo bakal gue lepasin dan bahkan akan gue bayar dua kali lipat dari bayaran Renaldi jika lo mau kerja sama dengan gue,” kata Jeremy.
            “Kerja sama apa yang lo mau?” tuntut Lexa waspada.
            “Lo temui Keisha, cewek yang lo tampar waktu itu dan katakan yang sebenarnya sama dia,” kata Jeremy dengan penuh penekanan.
            “Apa?! Gue nggak bisa! Jika Renald tau, bisa abis gue!!” seru Lexa.
            “Tenang aja, gue akan pastikan dia nggak bakal tau. Sementara lo bakal tinggal sama salah satu dari kami,” kata Jeremy.
            “Heh! Gue nggak mau tinggal sama cowok!!” bentak Lexa.
            “Lo bakal tinggal sama cewek gue!!” sela Samuel jengkel.
            Lexa tampak jauh lebih tenang. Dia tampak mempertimbangkan keadaannya. Tampaknya ia tak bisa kabur ke mana-mana selama dua teman Jeremy masih memeganginya seperti itu. Yang dapat Lexa lakukan hanya menyerah. Ia pun setuju membantu, asal Jeremy berjanji menjauhkan Renaldi darinya jika semua sudah berakhir.
            Mereka berempat pun meninggalkan cafe dan menuju ke rumah Linzie. Ketika Linzie melihat Lexa, dapat dipastikan cewek itu ingin mencakar Lexa jika tidak dicegah oleh Samuel. Begitu juga dengan peringatan dari Jeremy. Lexa nyaris menolak tinggal dengan Linzie ketika melihat keganasan cewek itu. Setelah Linzie berjanji takkan menyakiti Lexa, barulah cewek itu jauh lebih tenang.
            “Zi, gue harap lo jaga sikap lo. Gue masih butuh cewek itu,” kata Jeremy.
            “Huh, gue tau! Lagian si Renaldi kan otaknya?! Gue nggak sabar pingin mencekik tuh cowok!” geram Linzie.
            Kemudian Jeremy dan kedua temannya pergi dari rumah Linzie. Mereka masih bisa mendengar suara berdebat antara Linzie dan Lexa. Kebetulan orangtua Linzie sedang pergi keluar kota, jadi Linzie hanya tinggal berdua dengan kakaknya, Daniel. Jeremy juga sudah bicara dengan Daniel agar cowok itu tidak kaget nantinya.
            “Jadi sekarang tinggal Renaldi?” kata Rafhael saat mereka sudah di perjalanan pulang.
            “Ya. Saatnya Chika beraksi,” kata Jeremy dan melirik Rafhael yang langsung mengerang. “Dia dan Keisha harus bertemu dengan Renaldi ketika Chika memancing-mancing amarah Renaldi.”
            “Oke, gue mengerti. Gue tau tugas gue,” sahut Rafhael setengah hati.
            Setelah itu ketiganya berpisah ketika sudah sampai di rumah Jeremy. Mereka punya tugas masing-masing dan harus mempersiapkan jebakan itu dengan serapi mungkin.
            Jeremy hanya berharap semua bisa berjalan sesuai rencananya. Dia akan melakukan apapun asal Keisha percaya padanya. Bahkan jika harus menjadi orang licik sekalipun. Toh, Keisha sudah menganggapnya sangat buruk, jadi buat apa mengkhawatirkan hal itu? Akan ada waktu di mana Jeremy akan meluruskan semua salah paham itu. Sekarang, saatnya untuk fokus pada pangkal masalahnya.
***

1 komentar:

  1. WATERFREET CASINO | New World Casino
    WATERFREET CASINO is 가입시 꽁 머니 환전 an exciting, 1xbet우회주소 exhilarating, and thrilling casino 바인드토토 resort in 슬롯 게임 the New 메리트 World Casino of West Virginia.

    BalasHapus