Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #6


Minggu siang yang agak mendung, Chika jalan-jalan sendirian di Mall. Linzie lagi sibuk bantu di cafenya Daniel, sementara Keisha lagi buat kue sama Mamanya di rumah, jadi Chika jalan sendiri deh. Dia sudah memasuki banyak toko dan membeli beberapa baju dan assesoris lucu. Setelah itu ia sekedar berputar-putar nggak jelas dan ngemil. Bukan pertama kalinya Chika jalan sendirian. Sebelum-sebelumnya dia juga biasa jalan sendirian. Kadang dia akan nongkrong di toko buku selama berjam-jam cuma buat baca gratisan. Atau nongkrong di toko kaset buat dengar lagu dan ngobrol sama pramuniaganya. Sekarang dia bosan. Capek juga kan mutar-mutar? Ketika ia sedang duduk meluruskan kaki, ia bertemu dengan Tristan.
            “Haii, Trist!! Sendirian aja??” sapa Chika.
            “Hei!” sapa Tristan sambil ikut duduk di samping Chika. “Iya, gue lagi nyari kado buat nyokap gue yang sebentar lagi ultah. Lo sendirian juga?” tanyanya.
            “Iya, yang lain pada sibuk nih! Jadi gue jalan sendirian aja deh. Gue udah muter-muter Mall dan dapat beberapa barang yang lucu. Sekarang gue bosen nih,” kata Chika. “Ahh! Gimana kalau Chika bantu lo buat nyari kado?” tawar Chika.
            “Boleh. Ide bagus tuh! Yuk, kalau gitu. Atau lo masih mau istirahat?” kata Tristan setuju.
            “Udah segar lagi! Yuk, biar bisa pilih-pilih dulu,” kata Chika dan menggandeng tangan Tristan. Malah dia yang lebih semangat ketimbang Tristan.
            Mereka berdua pun memulai perburuan kado buat Mamanya Tristan. Setelah keluar masuk puluhan toko, akhirnya dapat juga kado yang cocok. Karena sudah capek plus lapar juga, Tristan pun berniat mentraktir Chika makan. Yang langsung disambut antusias oleh Chika. Mereka pun menuju food court terdekat yang ada di lantai dua Mall itu.
            Masih di mall yang sama, hanya berbeda posisi saja, Rafhael lagi jalan dengan seorang cewek yang dikenalnya saat ikut ngeband di salah satu cafe temannya. Namanya Dhea. Mereka berdua sedang melihat-lihat baju ketika seorang cowok menghampiri mereka dan mengaku-ngaku sebagai cowoknya Dhea. Dhea langsung membantah, karena mereka sudah putus beberapa hari lalu. Tapi si cowok tidak mau terima. Ia malah menuduh Rafhael yang menyebabkan Dhea memutuskannya. Rafhael jelas-jelas nggak terima disalahkan atas apa yang nggak dia perbuat. Dengan marah dia nyaris menerima tantangan tuh cowok buat duel saat ekor matanya menangkap sekelebat sosok seseorang yang dia kenal.
            Ia menyipitkan mata, lalu senyum perlahan mengembang di bibirnya. Ah, sungguh suatu kebetulan yang manis. Ia melihat Chika dan Tristan. Tunggu, sama Tristan? Ngapain mereka? Tampaknya Chika juga melihatnya, karena cewek itu langsung menarik-narik tangan Tristan dan menunjuk-nunjuk ke arah Rafhael.
            “Nah, kalian bisa selesaikan urusan kalian berdua. Gue harus pergi,” kata Rafhael.
            “Raf, kok lo gitu sih?!” rengek Dhea.
            “Sorry ya, gue udah ada janji yang lain. Tuh, dating gue yang asli datang,” kata Rafhael sambil menggedikkan kepala ke arah Chika.
            Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Rafhael bergegas berjalan ke arah Chika.
            “Hai, Rafha... aaah,” sapaan Chika menjadi lantang ketika Rafhael menggamit tangannya dan menariknya pergi. Tanpa menggubris Tristan.
            “Rafhael!!” jerit Dhea.
            “Woi, lo nggak usah kejar dia!” bentak si cowok. “Biar gue bikin bonyok dia,” tuh cowok mengikuti Rafhael.
            Mendengar keributan itu, Rafhael langsung menggenggam tangan Chika lebih erat. “Sialan! Chi, lari!!” kata Rafhael dan langsung berlari. “Tan, mending lo juga kabur!!” teriak Rafhael ke balik punggungnya.
            Chika terpekik dan spontan ikut lari. Si cowok yang marah mengejar, Dhea nggak mau kalah, jadi dia juga mengejar sembil meneriakkan nama Rafhael. Alhasil mereka kejar-kejaran di dalam Mall dan menjadi pusat perhatian. Menyelip sana-sini, dan menerima sumpah serapah di mana-mana. Awalnya Chika nggak mengerti kenapa Rafhael mengajaknya lari-larian, tapi melihat tangannya digenggam erat oleh Rafhael, Chika tersenyum senang. Meskipun napasnya ngos-ngosan.
            Mereka keluar dari Mall, sesekali menoleh ke belakang. Dan nyaris tak melihat ada tongkat pel yang melintang di tengah jalur mereka, Rafhael memberi kode agar mereka melompat. Chika pun melopat dan kembali berlari. Ia tertawa-tawa. Merasa lucu dengan situasi mereka. Rafhael menoleh ke belakang lagi, saat tak melihat tanda-tanda pengejar mereka, kemudian ia pun ikut tertawa.
            Dan Chika langsung terpesona.
            Mereka akhirnya berhenti di dekat mobil Rafhael. Napas mereka tersengal-sengal tapi jelas mereka tak terlalu memikirkannya.
            “Huaah, belum pernah Chika lari secepat tadi!” seru Chika ngos-ngosan.
            “Hah... hah… Lo kira gue pernah kejar-kejaran kayak tadi?” sahut Rafhael. Ia membungkuk kehabisan napas.
            “Aahhhh!!!” seru Chika tiba-tiba shingga mengagetkan Rafhael.
            “Apaan sih?!” sahut Rafhael galak.
            “Baju-baju gue dibawa sama Trist!!” sahut Chika, membuat Rafhael ternganga. Dia pikir apa! Tapi tampaknya Chika tak peduli dengan Rafhael. Dia malah mempermasalahkan bajunya.
            “Aahh… Chika kan suka baju-baju itu! Baru dibeli juga! Terus ada assesoris yang lucu-lucu yang baru gue beli! Gimana gue bisa pakai besok kalau semua ada di Trist??? Mana gue nggak tau nomor ponselnya lagi! Ahh, gimana donk!!” oceh Chika nggak keruan.
            “Oke, oke!! Gue ngerti!!” potong Rafhael jengkel. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tristan.
            “Tan, Rafhael nih! Lo masih di mall kan? Bisa bawain belanjaannya Chika ke parkiran nggak?? Gue udah di parkiran! Nih cewek ribut minta baju-bajunya kembali!” kata Rafhael. “Oke, gue tunggu,” kata Rafhael dan memutuskan sambungan telepon. Dia menatap Chika. “Nah, udah puas lo?!” tanyanya sambil mendelik kesal.
            Chika tersenyum lebar, menampakkan kedua lesung pipitnya yang manis. “Iya! Makasih ya! Rafha memang baik deh!!” seru Chika dan memeluk Rafhael sambil loncat-loncat.
            “Udah, udah! Lepasin kenapa!” sentak Rafhael dan melepaskan diri dari Chika. Chika mundur selangkah dengan kaget. Ia kaget karena Rafhael bersikap kasar lagi. Chika merasa kecewa, tapi ia segera menghapus kekecewaan dari wajahnya.
            “Ck, tuh orang lama banget sih!” gerutu Rafhael.
            Tak lama kemudian, Tristan muncul. Ia menyerahkan barang-barang belanjaan Chika. Dan basa-basi sedikit dengan Rafhael. Sepeninggal Tristan, Rafhael menunjuk belanjaan Chika.
            “Ini semua belanjaan lo??” tanyanya tak percaya. Belanjaannya Chika segunung gitu lho!
            “Yap!” sahut Chika. “Ya udah, Chika mau pulang dulu. Gara-gara Rafha, Chika nggak jadi ditraktir sama Trist tau,” sahut Chika. “Oke, bubbyeee,” kata Chika dan mulai melenggang pergi.
            “Eh, woi! Gue anterin! Kan gara-gara gue lo jadi lari-larian,” kata Rafhael.
            Chika langsung balik badan dan nyengir. “Deal!” kata Chika. “Dari tadi kek,” tambahnya.
            Rafhael bengong sesaat, kemudian tertawa. Chika pun tersenyum lebar.
            Rafhael lalu membuka pintu belakang mobilnya dan meletakkan semua belanjaan Chika di sana. Kemudian membukakan pintu untuk Chika. Chika langsung duduk dengan nyaman dan tak menunggu waktu lama setelah Rafhael duduk, ia pun bertanya.
            “Motor lo ke mana?” tanya Chika penasaran.
            “Gue taruh di rumah. Cewek tadi nggak mau naik motor,” sahut Rafhael.
            “Memangnya siapa cewek tadi? Kok lo malah dikejar-kejar sama cowok pemarah itu?” tanya Chika.
            “Nggak pentinglah. Dia cuma salah satu dating gue,” kata Rafhael singkat.
            Chika mengangguk-angguk. Kemudian ia menghabiskan waktunya dengan melihat-lihat isi mobil Rafhael. Ia sampai tidak sadar kalau mobil itu mulai memasuki sebuah restorant. Ketika mendongak karena merasakan mobil berhenti, Chika mengernyit.
            “Lho, kita di mana? Bukannya mau pulang?” tanyanya.
            “Lo kan bilang belum makan, jadi gue ajak lo makan dulu baru pulang,” sahut Rafhael.
            “Chika nggak ada bilang begitu! Gue kan bilangnya nggak jadi ditraktir sama Trist,” tukas Chika.
            “Sama ajalah, Chi,” kata Rafhael sabar. Ia kemudian turun dan Chika mengikuti.
            “Lo tadi lagi jalan sama Tristan?” tanya Rafhael sambil lalu. Tidak mau memperlihatkan rasa penasarannya. Malu dong…
            “Oh, nggak! Tadi gue lagi jalan sendiri. Terus ketemu dia yang lagi bingung mau beli kado apa buat nyokapnya, jadi ya gue bantuin,” jelas Chika.
            Rafhael cuma ber-ohh ria. Ia tak bertanya apa-apa lagi.
            Mereka masuk ke dalam restorant dan memilih meja di pinggiran. Kemudian memesan makanan dan menunggu. Chika dengan senang hati mendominasi pembicaraan selama mereka menunguu itu. Ia bercerita tentang banyak hal. Tentang si anak kucing yang sekarang makin gemuk. Tentang Tristan yang tadi nggak tau mau beli apa, nggak bisa bedain baby doll sama daster. Kemudian tentang ulahnya yang minta tambah diskon sama mbak-mbak penjaga toko baju sampai si mbak-mbak frustasi, dan masih banyak hal lagi yang bikin Rafhael tersenyum, bahkan tertawa.
            Rafhael sendiri terkejut ia bisa tertawa selepas itu. Chika sangat ekspresif. Ia bercerita sembari menggambarkan dengan menggerak-gerakkan tangannya yang tak bisa diam. Persis seperti anak kecil. Rafhael memperhatikan bagaimana Chika bercerita dengan bersemangat dan berbinar-binar. Rafhael belum pernah melihat Chika menangis atau bersedih. Seolah-olah ia hanya bisa tersenyum. Chika juga jarang marah, kecuali ada yang membuatnya sangat kesal. Itupun hanya sekedar sindiran-sindiran yang dipakainya. Ia jarang membentak dan benar-benar marah. Mungkin Chika memang sepolos itu. Rafhael mungkin harus menjauhi tipe seperti Chika yang memiliki hati yang halus. Rafhael yakin suatu saat ia akan membuat kesalahan dan malah melukai cewek itu. Dan ia pasti akan menyesalinya seumur hidup. Ia harusnya menjauh dari cewek seperti Chika. Cewek yang sanggup membuatnya merasa nyaman sehingga melonggarkan pertahanannya.
            Tapi tidak sekarang. Otaknya menolak Karena sekarang Rafhael sedang menikmati cerita-cerita Chika yang penuh warna. Dan di luar dugaan, ia merasa tak keberatan bertemu Chika di tempat dan waktu yang salah itu…
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar