Minggu siang yang agak mendung, Chika jalan-jalan
sendirian di Mall. Linzie lagi sibuk bantu di cafenya Daniel, sementara Keisha
lagi buat kue sama Mamanya di rumah, jadi Chika jalan sendiri deh. Dia sudah
memasuki banyak toko dan membeli beberapa baju dan assesoris lucu. Setelah itu
ia sekedar berputar-putar nggak jelas dan ngemil. Bukan pertama kalinya Chika
jalan sendirian. Sebelum-sebelumnya dia juga biasa jalan sendirian. Kadang dia
akan nongkrong di toko buku selama berjam-jam cuma buat baca gratisan. Atau
nongkrong di toko kaset buat dengar lagu dan ngobrol sama pramuniaganya.
Sekarang dia bosan. Capek juga kan mutar-mutar? Ketika ia sedang duduk meluruskan
kaki, ia bertemu dengan Tristan.
“Haii,
Trist!! Sendirian aja??” sapa Chika.
“Hei!”
sapa Tristan sambil ikut duduk di samping Chika. “Iya, gue lagi nyari kado buat
nyokap gue yang sebentar lagi ultah. Lo sendirian juga?” tanyanya.
“Iya,
yang lain pada sibuk nih! Jadi gue jalan sendirian aja deh. Gue udah
muter-muter Mall dan dapat beberapa barang yang lucu. Sekarang gue bosen nih,” kata
Chika. “Ahh! Gimana kalau Chika bantu lo buat nyari kado?” tawar Chika.
“Boleh.
Ide bagus tuh! Yuk, kalau gitu. Atau lo masih mau istirahat?” kata Tristan
setuju.
“Udah
segar lagi! Yuk, biar bisa pilih-pilih dulu,” kata Chika dan menggandeng tangan
Tristan. Malah dia yang lebih semangat ketimbang Tristan.
Mereka
berdua pun memulai perburuan kado buat Mamanya Tristan. Setelah keluar masuk
puluhan toko, akhirnya dapat juga kado yang cocok. Karena sudah capek plus
lapar juga, Tristan pun berniat mentraktir Chika makan. Yang langsung disambut
antusias oleh Chika. Mereka pun menuju food court terdekat yang ada di lantai
dua Mall itu.
Masih
di mall yang sama, hanya berbeda posisi saja, Rafhael lagi jalan dengan seorang
cewek yang dikenalnya saat ikut ngeband di salah satu cafe temannya. Namanya
Dhea. Mereka berdua sedang melihat-lihat baju ketika seorang cowok menghampiri
mereka dan mengaku-ngaku sebagai cowoknya Dhea. Dhea langsung membantah, karena
mereka sudah putus beberapa hari lalu. Tapi si cowok tidak mau terima. Ia malah
menuduh Rafhael yang menyebabkan Dhea memutuskannya. Rafhael jelas-jelas nggak
terima disalahkan atas apa yang nggak dia perbuat. Dengan marah dia nyaris
menerima tantangan tuh cowok buat duel saat ekor matanya menangkap sekelebat
sosok seseorang yang dia kenal.
Ia
menyipitkan mata, lalu senyum perlahan mengembang di bibirnya. Ah, sungguh
suatu kebetulan yang manis. Ia melihat Chika dan Tristan. Tunggu, sama Tristan?
Ngapain mereka? Tampaknya Chika juga melihatnya, karena cewek itu langsung
menarik-narik tangan Tristan dan menunjuk-nunjuk ke arah Rafhael.
“Nah,
kalian bisa selesaikan urusan kalian berdua. Gue harus pergi,” kata Rafhael.
“Raf,
kok lo gitu sih?!” rengek Dhea.
“Sorry
ya, gue udah ada janji yang lain. Tuh, dating gue yang asli datang,” kata
Rafhael sambil menggedikkan kepala ke arah Chika.
Tanpa
menjelaskan lebih lanjut, Rafhael bergegas berjalan ke arah Chika.
“Hai,
Rafha... aaah,” sapaan Chika menjadi lantang ketika Rafhael menggamit tangannya
dan menariknya pergi. Tanpa menggubris Tristan.
“Rafhael!!”
jerit Dhea.
“Woi,
lo nggak usah kejar dia!” bentak si cowok. “Biar gue bikin bonyok dia,” tuh
cowok mengikuti Rafhael.
Mendengar
keributan itu, Rafhael langsung menggenggam tangan Chika lebih erat. “Sialan!
Chi, lari!!” kata Rafhael dan langsung berlari. “Tan, mending lo juga kabur!!” teriak
Rafhael ke balik punggungnya.
Chika
terpekik dan spontan ikut lari. Si cowok yang marah mengejar, Dhea nggak mau
kalah, jadi dia juga mengejar sembil meneriakkan nama Rafhael. Alhasil mereka
kejar-kejaran di dalam Mall dan menjadi pusat perhatian. Menyelip sana-sini,
dan menerima sumpah serapah di mana-mana. Awalnya Chika nggak mengerti kenapa
Rafhael mengajaknya lari-larian, tapi melihat tangannya digenggam erat oleh
Rafhael, Chika tersenyum senang. Meskipun napasnya ngos-ngosan.
Mereka
keluar dari Mall, sesekali menoleh ke belakang. Dan nyaris tak melihat ada
tongkat pel yang melintang di tengah jalur mereka, Rafhael memberi kode agar
mereka melompat. Chika pun melopat dan kembali berlari. Ia tertawa-tawa. Merasa
lucu dengan situasi mereka. Rafhael menoleh ke belakang lagi, saat tak melihat tanda-tanda
pengejar mereka, kemudian ia pun ikut tertawa.
Dan
Chika langsung terpesona.
Mereka
akhirnya berhenti di dekat mobil Rafhael. Napas mereka tersengal-sengal tapi
jelas mereka tak terlalu memikirkannya.
“Huaah,
belum pernah Chika lari secepat tadi!” seru Chika ngos-ngosan.
“Hah...
hah… Lo kira gue pernah kejar-kejaran kayak tadi?” sahut Rafhael. Ia membungkuk
kehabisan napas.
“Aahhhh!!!”
seru Chika tiba-tiba shingga mengagetkan Rafhael.
“Apaan
sih?!” sahut Rafhael galak.
“Baju-baju
gue dibawa sama Trist!!” sahut Chika, membuat Rafhael ternganga. Dia pikir apa!
Tapi tampaknya Chika tak peduli dengan Rafhael. Dia malah mempermasalahkan
bajunya.
“Aahh…
Chika kan suka baju-baju itu! Baru dibeli juga! Terus ada assesoris yang
lucu-lucu yang baru gue beli! Gimana gue bisa pakai besok kalau semua ada di
Trist??? Mana gue nggak tau nomor ponselnya lagi! Ahh, gimana donk!!” oceh
Chika nggak keruan.
“Oke,
oke!! Gue ngerti!!” potong Rafhael jengkel. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan
menghubungi Tristan.
“Tan,
Rafhael nih! Lo masih di mall kan? Bisa bawain belanjaannya Chika ke parkiran
nggak?? Gue udah di parkiran! Nih cewek ribut minta baju-bajunya kembali!” kata
Rafhael. “Oke, gue tunggu,” kata Rafhael dan memutuskan sambungan telepon. Dia
menatap Chika. “Nah, udah puas lo?!” tanyanya sambil mendelik kesal.
Chika
tersenyum lebar, menampakkan kedua lesung pipitnya yang manis. “Iya! Makasih
ya! Rafha memang baik deh!!” seru Chika dan memeluk Rafhael sambil
loncat-loncat.
“Udah,
udah! Lepasin kenapa!” sentak Rafhael dan melepaskan diri dari Chika. Chika
mundur selangkah dengan kaget. Ia kaget karena Rafhael bersikap kasar lagi.
Chika merasa kecewa, tapi ia segera menghapus kekecewaan dari wajahnya.
“Ck,
tuh orang lama banget sih!” gerutu Rafhael.
Tak
lama kemudian, Tristan muncul. Ia menyerahkan barang-barang belanjaan Chika.
Dan basa-basi sedikit dengan Rafhael. Sepeninggal Tristan, Rafhael menunjuk
belanjaan Chika.
“Ini
semua belanjaan lo??” tanyanya tak percaya. Belanjaannya Chika segunung gitu lho!
“Yap!”
sahut Chika. “Ya udah, Chika mau pulang dulu. Gara-gara Rafha, Chika nggak jadi
ditraktir sama Trist tau,” sahut Chika. “Oke, bubbyeee,” kata Chika dan mulai
melenggang pergi.
“Eh,
woi! Gue anterin! Kan gara-gara gue lo jadi lari-larian,” kata Rafhael.
Chika
langsung balik badan dan nyengir. “Deal!” kata Chika. “Dari tadi kek,” tambahnya.
Rafhael
bengong sesaat, kemudian tertawa. Chika pun tersenyum lebar.
Rafhael
lalu membuka pintu belakang mobilnya dan meletakkan semua belanjaan Chika di sana.
Kemudian membukakan pintu untuk Chika. Chika langsung duduk dengan nyaman dan
tak menunggu waktu lama setelah Rafhael duduk, ia pun bertanya.
“Motor
lo ke mana?” tanya Chika penasaran.
“Gue
taruh di rumah. Cewek tadi nggak mau naik motor,” sahut Rafhael.
“Memangnya
siapa cewek tadi? Kok lo malah dikejar-kejar sama cowok pemarah itu?” tanya
Chika.
“Nggak
pentinglah. Dia cuma salah satu dating gue,” kata Rafhael singkat.
Chika
mengangguk-angguk. Kemudian ia menghabiskan waktunya dengan melihat-lihat isi
mobil Rafhael. Ia sampai tidak sadar kalau mobil itu mulai memasuki sebuah restorant.
Ketika mendongak karena merasakan mobil berhenti, Chika mengernyit.
“Lho,
kita di mana? Bukannya mau pulang?” tanyanya.
“Lo
kan bilang belum makan, jadi gue ajak lo makan dulu baru pulang,” sahut
Rafhael.
“Chika
nggak ada bilang begitu! Gue kan bilangnya nggak jadi ditraktir sama Trist,” tukas
Chika.
“Sama
ajalah, Chi,” kata Rafhael sabar. Ia kemudian turun dan Chika mengikuti.
“Lo
tadi lagi jalan sama Tristan?” tanya Rafhael sambil lalu. Tidak mau
memperlihatkan rasa penasarannya. Malu dong…
“Oh,
nggak! Tadi gue lagi jalan sendiri. Terus ketemu dia yang lagi bingung mau beli
kado apa buat nyokapnya, jadi ya gue bantuin,” jelas Chika.
Rafhael
cuma ber-ohh ria. Ia tak bertanya apa-apa lagi.
Mereka
masuk ke dalam restorant dan memilih meja di pinggiran. Kemudian memesan
makanan dan menunggu. Chika dengan senang hati mendominasi pembicaraan selama
mereka menunguu itu. Ia bercerita tentang banyak hal. Tentang si anak kucing
yang sekarang makin gemuk. Tentang Tristan yang tadi nggak tau mau beli apa,
nggak bisa bedain baby doll sama
daster. Kemudian tentang ulahnya yang minta tambah diskon sama mbak-mbak
penjaga toko baju sampai si mbak-mbak frustasi, dan masih banyak hal lagi yang
bikin Rafhael tersenyum, bahkan tertawa.
Rafhael
sendiri terkejut ia bisa tertawa selepas itu. Chika sangat ekspresif. Ia
bercerita sembari menggambarkan dengan menggerak-gerakkan tangannya yang tak
bisa diam. Persis seperti anak kecil. Rafhael memperhatikan bagaimana Chika
bercerita dengan bersemangat dan berbinar-binar. Rafhael belum pernah melihat
Chika menangis atau bersedih. Seolah-olah ia hanya bisa tersenyum. Chika juga
jarang marah, kecuali ada yang membuatnya sangat kesal. Itupun hanya sekedar
sindiran-sindiran yang dipakainya. Ia jarang membentak dan benar-benar marah.
Mungkin Chika memang sepolos itu. Rafhael mungkin harus menjauhi tipe seperti
Chika yang memiliki hati yang halus. Rafhael yakin suatu saat ia akan membuat
kesalahan dan malah melukai cewek itu. Dan ia pasti akan menyesalinya seumur
hidup. Ia harusnya menjauh dari cewek seperti Chika. Cewek yang sanggup
membuatnya merasa nyaman sehingga melonggarkan pertahanannya.
Tapi
tidak sekarang. Otaknya menolak Karena sekarang Rafhael sedang menikmati
cerita-cerita Chika yang penuh warna. Dan di luar dugaan, ia merasa tak
keberatan bertemu Chika di tempat dan waktu yang salah itu…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar