Chika berusaha melupakan kejadian sabtu itu dan
berusaha tampil ceria seperti biasanya. Bahkan ketika ia bertemu dengan
Rafhael. Ketika Rafhael hendak mengatakan sesuatu tentang ketidakhadirannya,
Chika langsung mengalihkan topik pembicaraan seolah tak pernah ada yang
terjadi. Malahan cewek itu akan berkelit ke tempat lain dengan alasan sedang di
tunggu oleh temannya. Dan ia terpaksa berjalan agak terpincang-pincang karena
kakinya masih sedikit sakit lantaran terkilir ringan sabtu itu.
Mungkin
tampilan luarnya tampak baik-baik saja, tapi dalam hatinya, Chika amat sangat
sedih. Apalagi ketika melihat Rafhael tak berusha menjelaskan alasan
ketidakhadirannya dan hanya mengucap satu kata maaf. Chika harus menahan diri
agar tidak menangis dan berusaha menganggap hal itu bukan apa-apa. Namun
keceriaannya yang terlihat berbeda itu menimbulkan kecurigaan dalam diri
teman-teman dekatnya seperti Linzie dan Keisha. Kedua cewek itu sempat bertanya
secara pribadi apakah ada sesuatu yang terjadi yang membuatnya bersikap lain
dari biasanya. Namun Chika mengelak dan mengatakan kalau semuanya baik-baik
saja.
Akan
tetapi Linzie dan Keisha tetap khawatir. Kekhawatiran mereka membuat kedua
cowok mereka ikut-ikutan khawatir. Samuel dan Jeremy bahkan bertanya-tanya di
mana letak keanehan Chika. Di mata mereka, Chika tampak seperti biasanya.
Tampak riang dan bersemangat, kecuali jalannya yang agak pincang. Tapi Linzie
bersikeras ada yang berbeda, yang didukung dengan sepenuh hati oleh Keisha.
“Dia
kelihatan kayak memaksakan diri buat terlihat ceria,” kata Keisha.
“Maksain
diri gimana?” tanya Jeremy.
Keisha
menarik napas. “Keceriaan yang dia tunjukkan cuma di luarnya aja. Matanya sama
sekali nggak bercahaya atau berbinar-binar seperti kalau dia lagi semangat,” katanya.
Linzie
menambahkan. “Dan senyumnya sama sekali nggak lepas. Dia senyum dengan alis
yang berkerut terpaksa. Pasti ada yang terjadi sama dia,” kata Linzie sambil
berpikir.
“Terus
dia nggak cerita apa-apa sama kalian? Kalian kan sahabatnya?” tanya Samuel.
Linzie
melotot jengkel. “Itu yang bikin kami tambah yakin kalau dia memang
kenapa-kenapa!”
“Chika
jarang menyimpan rahasia. Dia biasanya curhat sama kita-kita, tapi kali ini dia
menolak cerita,” kata Keisha merenung.
“Hmm,
mungkin bukan hal yang serius,” kata Jeremy.
“Apa
ada hubungannya sama Rafhael?” tanya Linzie. “Akhir-akhir ini mereka jadi lebih
dekat kan?”
Jeremy
tampak memikirkan sesuatu. Yang lain tampak tidak memperhatikannya karena sibuk
berspekulasi. Namun Jeremy sedang mengingat-ingat sesuatu tentang keadaan
Rafhael yang tiba-tiba jadi aneh. Lebih pendiam dari biasanya. Dia bahkan nggak
marah ketika Samuel menggodanya kemarin. Apa itu ada hubungannya dengan Chika?
Jeremy harus segera mencari tau.
***
Pulang
sekolah, Jeremy sengaja pulang bersama-sama Rafhael dengan alasan ingin
meminjam beberapa majalah otomotifnya. Rafhael cuma angkat bahu dan tak
menolak. Ketika akhirnya mereka sampai di gerbang dan hendak menuju parkiran,
sebuah mobil jazz berhenti di pinggir jalan di dekat mereka. Ketika kaca mobil
itu terbuka, tampak Karen yang melambai-lambai dengan semangat. Jeremy
mengalihkan tatapannya pada Rafhael. Dalam diam bertanya ‘kapan Karen kembali?’.
Rafhael hanya balas menatapnya dan tidak mengatakan apapun. Jeremy kembali
memperhatikan Karen yang tengah menghampiri mereka.
“Hai!
Wah, lo Jeremy kan? Apa kabar? Lama nggak ketemu ya?” sapa Karen bersemangat
dan langsung mencium kedua pipi Jeremy.
“Eh,
baik. Lo kapan balik?” tanya Jeremy sambil melirik Rafhael.
Karen
sangat bersemangat membahas masa-masa ketika mereka masih sama-sama. Jeremy
mendengarkan dengan baik sementara ia tetap berpikir. Inikah alasan Rafhael
jadi aneh? Apakah kemunculan Karen penyebabnya? Tapi apa hubungannya dengan
Chika? Chika kan tidak mengenal Karen. Mungkinkah mereka udah ketemu saat
dating sabtu lalu? Tidak, Chika pasti belum bertemu dengan Karen.
Lalu
seperti semua kepingan di otaknya menyatu, Jeremy menemukan titik terang. Ia
memandang Rafhael dengan mata memicing, tapi Rafhael buang muka.
“Kar,
kapan lo ketemu Rafhael?” tanya Jeremy, membuat Rafhael menatapnya tajam.
“Oh,
sabtu lalu! Gue kebetulan abis nonton sama teman-teman gue. Gue nggak sengaja
nabrak dia, terus kita ngobrol sebentar. Karena gue nggak ada tebengan, jadi
gue nebeng pulang sama dia deh!” jelas Karen.
Jeremy
menatap Rafhael sambil mengerutkan kening. “Sabtu bukannya lo bilang…”
“Mendingan
kita pulang deh! Kalau mau ngobrol, bisa nanti di rumah. Toh, lo ikut ke rumah
gue kan, Jer?” potong Rafhael.
Jeremy
makin memicing, namun ia mengangguk. Mereka kemudian berpisah. Karen bilang
cuma mampir karena kebetulan lewat, jadi tidak ikut ke rumah Rafhael. Sampai di
parkiran, Jeremy menahan langkah Rafhael dengan menarik bahunya.
“Lo
nggak bilang kalau lo ketemu Karen hari sabtu! Apa itu yang bikin sikap lo jadi
aneh? Gimana dengan Chika? Apa dia tau?” tuntut Jeremy.
Rafhael
menyentakkan bahunya dan berjalan ke motornya. Jeremy kembali menariknya.
“Raf!
Jawab gue!”
“Chika
nggak tau! Gue nggak sempat ketemu dia karena gue nganterin Karen pulang!” sentak
Rafhael.
“Lo
ngebatalin janji lo karena lo ketemu Karen??” tanya Jeremy tak percaya. “Lo tuh
idiot atau apa?! Gimana dengan Chika? Dia tau lo sama Karen?”
Lagi-lagi
Rafhael tak menjawab. Ia malah buang muka. Tapi Jeremy mengerti.
“Brengsek
lo!” geramnya. “Lo nggak bilang apa-apa dan biarin dia nungguin elo?? Cowok
macam apa sih lo itu?!”
“Dia
nggak mungkin nungguin gue. Malah mungkin dia langsung nonton sendiri dan langsung
pulang,” sahut Rafhael enteng.
Jeremy
langsung kehilangan ketenangannya mendengar keacuhan Rafhael dan melayangkan
pukulannya. Pukulan itu mengenai rahang Rafhael hingga cowok itu
terhuyung-huyung.
“Lo
memang cowok paling brengsek yang gue kenal! Cuma demi cinta semu lo ke Karen
yang bahkan udah berakhir 2 tahun yang lalu, lo tega nyakitin cewek sebaik
Chika!” desis Jeremy.
Rafhael
mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya yang terluka. Namun ia tak
menyahut. Membuat Jeremy makin geram.
“Suatu
saat lo bakal menyesal karena telah menyia-nyiakan orang yang peduli sama elo
demi cewek yang bahkan cuma menganggap lo sebagai adiknya!!” kata Jeremy dan
langsung menuju motornya. Kemudian ia melaju pergi dengan marah.
Rafhael
membersihkan darah di bibirnya dan menatap ke arah Jeremy menghilang. Mungkin
temannya itu benar. Tapi saat ini Rafhael tidak bisa memikirkan semuanya dengan
pikiran yang jernih. Ia ingin sendiri. Merenungi apa sebenarnya yang ia
inginkan. Walaupun hal itu hanya akan mengembalikan perih yang sudah lama ia
kubur jauh-jauh di dasar hatinya.
Buruknya
hubungan Jeremy dan Rafhael langsung terasa. Selama beberapa hari berikutnya
kedua orang itu tak saling bertegur sapa, apalagi melihat satu sama lain. Dan
melihat lebam di pipi Rafhael, orang-orang jadi berpikir kalau mereka terlibat
dalam masalah yang serius sehingga sampai ada baku hantam dan perang dingin
itu.
Jeremy
malah lebih bersikap baik pada Chika sehingga membuat bukan hanya Chika, tapi
Linzie dan Keisha juga terheran-heran. Samuel yang sudah tau semuanya dari
Jeremy, memilih posisi netral. Ia tak mau mendukung atau menjatuhkan siapapun.
Jadi ia tetap tutup mulut.
Akan
tetapi, Chika yang sudah jarang mengobrol dengan Rafhael seperti dulu, merasa
khawatir dengan kondisi Rafhael. Sehingga suatu siang ia menemui cowok itu di
taman belakang sekolah. Seperti biasanya, Chika mendapati Rafhael tengah duduk
bersandar di bawah pohon, hanya saja kali ini tanpa kucing di pangkuannya.
Chika pun langsung bergegas menghampiri Rafhael dan berjongkok di hadapannya.
“Pipi
lo... nggak apa-apa kan? Sakit nggak?” tanya Chika khawatir.
“Gue
nggak apa-apa,” sahut Rafhael dingin.
“Ehm...
lo yakin? Ng... gue dengar itu... dipukul Jemy ya? Kenapa?” tanya Chika
hati-hati.
“Bukan
urusan lo!” ketus Rafhael.
Chika
mengabaikan tusukan menyakitkan di hatinya mendengar suara dingin Rafhael. “Gue
cuma khawatir... Kalian kan udah sahabatan lama banget… Jadi... kalau
bertengkar kan...” Chika berkata hati-hati. Ia sebenarnya tak mau ikut campur.
Tapi ia khawatir dengan Rafhael. Jadi meskipun Rafhael tidak menghargainya,
setidaknya Chika ingin mencoba membantu.
“Gue
cuma ngerasa peduli sama lo,” kata Chika lirih.
Chika
terpekik ketika Rafhael mencengkeram bahunya dan mendesaknya ke dinding gudang
di sebelah pohon itu. Tatapan mata Rafhael dingin dan membuat Chika merasa
ketakutan.
“Jangan
pernah bilang lo peduli sama gue!! Lo nggak tau apa-apa soal gue, jadi jangan
bersikap seolah-olah lo mengerti gue!! Gue nggak butuh rasa peduli lo!!
Ngerti?!” bentak Rafhael.
Chika
pucat pasi dan gemetaran. Belum pernah ia melihat Rafhael semarah itu. Dan
Rafhael belum pernah begitu marahnya sampai membentak bahkan menyakiti Chika.
“Tapi...”
bantah Chika pelan.
“Nggak
ada tapi!! Lo nggak usah ikut campur urusan gue! Gue bukan siapa-apa elo, jadi
lo nggak harus peduli sama gue!! Jauhin gue!” bentak Rafhael lagi. Kemudian ia
melepaskan Chika dan pergi dengan marah.
Chika
merosot di dinding. Matanya berkaca-kaca dan dalam ketidakpercayaan, ia
menangis. Ia tidak tau kenapa hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar kata-kata
Rafhael. Apa memang selama ini ia yang salah mengira tentang Rafhael? Bahwa
meskipun sedikit, cowok itu mulai peduli padanya? Tapi melihat sikap Rafahel
dan kata-kata menyakitkannya tadi, ditambah lagi dengan apa yang sempat ia curi
dengar beberapa hari lalu ketika Jeremy bertengkar dengan Rafhael di parkiran,
Chika bisa menyimpulkan kalau selama ini cuma ia yang merasa senang dekat
dengan Rafhael. Pada kenyataannya, Rafhael tak pernah melihat ke arahnya karena
di hati Rafhael sudah ada gadis bernama Karen itu. Yang Chika duga, sangatlah
berarti bagi Rafhael sehingga cowok itu mengingkari janjinya.
Chika
sedih, dan juga patah hati... Padahal sebelumnya ia tak yakin bahwa ia jatuh
cinta pada Rafhael. Tapi kini ia tau. Ia memang jatuh cinta pada Rafhael.
Sekaligus patah hati karena cowok itu menyukai cewek lain... Chika nggak mau
jatuh cinta kalau rasanya akan sesakit ini…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar