Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #8


Chika berusaha melupakan kejadian sabtu itu dan berusaha tampil ceria seperti biasanya. Bahkan ketika ia bertemu dengan Rafhael. Ketika Rafhael hendak mengatakan sesuatu tentang ketidakhadirannya, Chika langsung mengalihkan topik pembicaraan seolah tak pernah ada yang terjadi. Malahan cewek itu akan berkelit ke tempat lain dengan alasan sedang di tunggu oleh temannya. Dan ia terpaksa berjalan agak terpincang-pincang karena kakinya masih sedikit sakit lantaran terkilir ringan sabtu itu.
            Mungkin tampilan luarnya tampak baik-baik saja, tapi dalam hatinya, Chika amat sangat sedih. Apalagi ketika melihat Rafhael tak berusha menjelaskan alasan ketidakhadirannya dan hanya mengucap satu kata maaf. Chika harus menahan diri agar tidak menangis dan berusaha menganggap hal itu bukan apa-apa. Namun keceriaannya yang terlihat berbeda itu menimbulkan kecurigaan dalam diri teman-teman dekatnya seperti Linzie dan Keisha. Kedua cewek itu sempat bertanya secara pribadi apakah ada sesuatu yang terjadi yang membuatnya bersikap lain dari biasanya. Namun Chika mengelak dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.
            Akan tetapi Linzie dan Keisha tetap khawatir. Kekhawatiran mereka membuat kedua cowok mereka ikut-ikutan khawatir. Samuel dan Jeremy bahkan bertanya-tanya di mana letak keanehan Chika. Di mata mereka, Chika tampak seperti biasanya. Tampak riang dan bersemangat, kecuali jalannya yang agak pincang. Tapi Linzie bersikeras ada yang berbeda, yang didukung dengan sepenuh hati oleh Keisha.
            “Dia kelihatan kayak memaksakan diri buat terlihat ceria,” kata Keisha.
            “Maksain diri gimana?” tanya Jeremy.
            Keisha menarik napas. “Keceriaan yang dia tunjukkan cuma di luarnya aja. Matanya sama sekali nggak bercahaya atau berbinar-binar seperti kalau dia lagi semangat,” katanya.
            Linzie menambahkan. “Dan senyumnya sama sekali nggak lepas. Dia senyum dengan alis yang berkerut terpaksa. Pasti ada yang terjadi sama dia,” kata Linzie sambil berpikir.
            “Terus dia nggak cerita apa-apa sama kalian? Kalian kan sahabatnya?” tanya Samuel.
            Linzie melotot jengkel. “Itu yang bikin kami tambah yakin kalau dia memang kenapa-kenapa!”
            “Chika jarang menyimpan rahasia. Dia biasanya curhat sama kita-kita, tapi kali ini dia menolak cerita,” kata Keisha merenung.
            “Hmm, mungkin bukan hal yang serius,” kata Jeremy.
            “Apa ada hubungannya sama Rafhael?” tanya Linzie. “Akhir-akhir ini mereka jadi lebih dekat kan?”
            Jeremy tampak memikirkan sesuatu. Yang lain tampak tidak memperhatikannya karena sibuk berspekulasi. Namun Jeremy sedang mengingat-ingat sesuatu tentang keadaan Rafhael yang tiba-tiba jadi aneh. Lebih pendiam dari biasanya. Dia bahkan nggak marah ketika Samuel menggodanya kemarin. Apa itu ada hubungannya dengan Chika? Jeremy harus segera mencari tau.
***
            Pulang sekolah, Jeremy sengaja pulang bersama-sama Rafhael dengan alasan ingin meminjam beberapa majalah otomotifnya. Rafhael cuma angkat bahu dan tak menolak. Ketika akhirnya mereka sampai di gerbang dan hendak menuju parkiran, sebuah mobil jazz berhenti di pinggir jalan di dekat mereka. Ketika kaca mobil itu terbuka, tampak Karen yang melambai-lambai dengan semangat. Jeremy mengalihkan tatapannya pada Rafhael. Dalam diam bertanya ‘kapan Karen kembali?’. Rafhael hanya balas menatapnya dan tidak mengatakan apapun. Jeremy kembali memperhatikan Karen yang tengah menghampiri mereka.
            “Hai! Wah, lo Jeremy kan? Apa kabar? Lama nggak ketemu ya?” sapa Karen bersemangat dan langsung mencium kedua pipi Jeremy.
            “Eh, baik. Lo kapan balik?” tanya Jeremy sambil melirik Rafhael.
            Karen sangat bersemangat membahas masa-masa ketika mereka masih sama-sama. Jeremy mendengarkan dengan baik sementara ia tetap berpikir. Inikah alasan Rafhael jadi aneh? Apakah kemunculan Karen penyebabnya? Tapi apa hubungannya dengan Chika? Chika kan tidak mengenal Karen. Mungkinkah mereka udah ketemu saat dating sabtu lalu? Tidak, Chika pasti belum bertemu dengan Karen.
            Lalu seperti semua kepingan di otaknya menyatu, Jeremy menemukan titik terang. Ia memandang Rafhael dengan mata memicing, tapi Rafhael buang muka.
            “Kar, kapan lo ketemu Rafhael?” tanya Jeremy, membuat Rafhael menatapnya tajam.
            “Oh, sabtu lalu! Gue kebetulan abis nonton sama teman-teman gue. Gue nggak sengaja nabrak dia, terus kita ngobrol sebentar. Karena gue nggak ada tebengan, jadi gue nebeng pulang sama dia deh!” jelas Karen.
            Jeremy menatap Rafhael sambil mengerutkan kening. “Sabtu bukannya lo bilang…”
            “Mendingan kita pulang deh! Kalau mau ngobrol, bisa nanti di rumah. Toh, lo ikut ke rumah gue kan, Jer?” potong Rafhael.
            Jeremy makin memicing, namun ia mengangguk. Mereka kemudian berpisah. Karen bilang cuma mampir karena kebetulan lewat, jadi tidak ikut ke rumah Rafhael. Sampai di parkiran, Jeremy menahan langkah Rafhael dengan menarik bahunya.
            “Lo nggak bilang kalau lo ketemu Karen hari sabtu! Apa itu yang bikin sikap lo jadi aneh? Gimana dengan Chika? Apa dia tau?” tuntut Jeremy.
            Rafhael menyentakkan bahunya dan berjalan ke motornya. Jeremy kembali menariknya.
            “Raf! Jawab gue!”
            “Chika nggak tau! Gue nggak sempat ketemu dia karena gue nganterin Karen pulang!” sentak Rafhael.
            “Lo ngebatalin janji lo karena lo ketemu Karen??” tanya Jeremy tak percaya. “Lo tuh idiot atau apa?! Gimana dengan Chika? Dia tau lo sama Karen?”
            Lagi-lagi Rafhael tak menjawab. Ia malah buang muka. Tapi Jeremy mengerti.
            “Brengsek lo!” geramnya. “Lo nggak bilang apa-apa dan biarin dia nungguin elo?? Cowok macam apa sih lo itu?!”
            “Dia nggak mungkin nungguin gue. Malah mungkin dia langsung nonton sendiri dan langsung pulang,” sahut Rafhael enteng.
            Jeremy langsung kehilangan ketenangannya mendengar keacuhan Rafhael dan melayangkan pukulannya. Pukulan itu mengenai rahang Rafhael hingga cowok itu terhuyung-huyung.
            “Lo memang cowok paling brengsek yang gue kenal! Cuma demi cinta semu lo ke Karen yang bahkan udah berakhir 2 tahun yang lalu, lo tega nyakitin cewek sebaik Chika!” desis Jeremy.
            Rafhael mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya yang terluka. Namun ia tak menyahut. Membuat Jeremy makin geram.
            “Suatu saat lo bakal menyesal karena telah menyia-nyiakan orang yang peduli sama elo demi cewek yang bahkan cuma menganggap lo sebagai adiknya!!” kata Jeremy dan langsung menuju motornya. Kemudian ia melaju pergi dengan marah.
            Rafhael membersihkan darah di bibirnya dan menatap ke arah Jeremy menghilang. Mungkin temannya itu benar. Tapi saat ini Rafhael tidak bisa memikirkan semuanya dengan pikiran yang jernih. Ia ingin sendiri. Merenungi apa sebenarnya yang ia inginkan. Walaupun hal itu hanya akan mengembalikan perih yang sudah lama ia kubur jauh-jauh di dasar hatinya.
            Buruknya hubungan Jeremy dan Rafhael langsung terasa. Selama beberapa hari berikutnya kedua orang itu tak saling bertegur sapa, apalagi melihat satu sama lain. Dan melihat lebam di pipi Rafhael, orang-orang jadi berpikir kalau mereka terlibat dalam masalah yang serius sehingga sampai ada baku hantam dan perang dingin itu.
            Jeremy malah lebih bersikap baik pada Chika sehingga membuat bukan hanya Chika, tapi Linzie dan Keisha juga terheran-heran. Samuel yang sudah tau semuanya dari Jeremy, memilih posisi netral. Ia tak mau mendukung atau menjatuhkan siapapun. Jadi ia tetap tutup mulut.
            Akan tetapi, Chika yang sudah jarang mengobrol dengan Rafhael seperti dulu, merasa khawatir dengan kondisi Rafhael. Sehingga suatu siang ia menemui cowok itu di taman belakang sekolah. Seperti biasanya, Chika mendapati Rafhael tengah duduk bersandar di bawah pohon, hanya saja kali ini tanpa kucing di pangkuannya. Chika pun langsung bergegas menghampiri Rafhael dan berjongkok di hadapannya.
            “Pipi lo... nggak apa-apa kan? Sakit nggak?” tanya Chika khawatir.
            “Gue nggak apa-apa,” sahut Rafhael dingin.
            “Ehm... lo yakin? Ng... gue dengar itu... dipukul Jemy ya? Kenapa?” tanya Chika hati-hati.
            “Bukan urusan lo!” ketus Rafhael.
            Chika mengabaikan tusukan menyakitkan di hatinya mendengar suara dingin Rafhael. “Gue cuma khawatir... Kalian kan udah sahabatan lama banget… Jadi... kalau bertengkar kan...” Chika berkata hati-hati. Ia sebenarnya tak mau ikut campur. Tapi ia khawatir dengan Rafhael. Jadi meskipun Rafhael tidak menghargainya, setidaknya Chika ingin mencoba membantu.
            “Gue cuma ngerasa peduli sama lo,” kata Chika lirih.
            Chika terpekik ketika Rafhael mencengkeram bahunya dan mendesaknya ke dinding gudang di sebelah pohon itu. Tatapan mata Rafhael dingin dan membuat Chika merasa ketakutan.
            “Jangan pernah bilang lo peduli sama gue!! Lo nggak tau apa-apa soal gue, jadi jangan bersikap seolah-olah lo mengerti gue!! Gue nggak butuh rasa peduli lo!! Ngerti?!” bentak Rafhael.
            Chika pucat pasi dan gemetaran. Belum pernah ia melihat Rafhael semarah itu. Dan Rafhael belum pernah begitu marahnya sampai membentak bahkan menyakiti Chika.
            “Tapi...” bantah Chika pelan.
            “Nggak ada tapi!! Lo nggak usah ikut campur urusan gue! Gue bukan siapa-apa elo, jadi lo nggak harus peduli sama gue!! Jauhin gue!” bentak Rafhael lagi. Kemudian ia melepaskan Chika dan pergi dengan marah.
            Chika merosot di dinding. Matanya berkaca-kaca dan dalam ketidakpercayaan, ia menangis. Ia tidak tau kenapa hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar kata-kata Rafhael. Apa memang selama ini ia yang salah mengira tentang Rafhael? Bahwa meskipun sedikit, cowok itu mulai peduli padanya? Tapi melihat sikap Rafahel dan kata-kata menyakitkannya tadi, ditambah lagi dengan apa yang sempat ia curi dengar beberapa hari lalu ketika Jeremy bertengkar dengan Rafhael di parkiran, Chika bisa menyimpulkan kalau selama ini cuma ia yang merasa senang dekat dengan Rafhael. Pada kenyataannya, Rafhael tak pernah melihat ke arahnya karena di hati Rafhael sudah ada gadis bernama Karen itu. Yang Chika duga, sangatlah berarti bagi Rafhael sehingga cowok itu mengingkari janjinya.
            Chika sedih, dan juga patah hati... Padahal sebelumnya ia tak yakin bahwa ia jatuh cinta pada Rafhael. Tapi kini ia tau. Ia memang jatuh cinta pada Rafhael. Sekaligus patah hati karena cowok itu menyukai cewek lain... Chika nggak mau jatuh cinta kalau rasanya akan sesakit ini…
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar