Sebenarnya Keisha malas ke perpustakaan. Apalagi
mengingat cowok itu akan ada di sana juga. Mungkin tidur di tempat favoritnya.
Akan tetapi Keisha tak mau dianggap pengecut! Dia yakin bisa menghadapi cowok
itu kali ini. Dia tidak akan lengah seperti sebelumnya.
Kejadian
itu membuatnya selalu terbangun di tengah malam dengan perasaan tak menentu.
Dan membuatnya mulai terjangkit insomnia, yang akhirnya berimbas pada banyak
hal. Salah satunya adalah ia jadi gampang marah, padahal dia selalu bisa
mengendalikan diri dan menyembunyikan emosinya dengan baik. Tapi satu hal
seperti ‘itu’ ternyata mampu mengguncang batas pertahanannya. Itu membuat
Keisha sadar betapa lemah kendali dirinya. Imbas lainnya adalah nilai
pelajarannya yang sedikit merosot. Dan itu sangat mengganggu Keisha. Ia tidak
suka mendapatkan nilai kurang dari 98. Dan ia bertekad akan menebus
keteledorannya itu dengan lebih baik.
Keisha
masuk ke perpustakaan dan menyapa sekilas Bu Yovi yang menjaga perpustakaan
sebelum menuju rak buku Sains, meraih satu buku yang menarik minatnya dan
mengambil tempat duduk. Ia mulai membuka buku itu dan membaca, membuat
catatan-catatan kecil di kepalanya. Sesekali bergumam pelan untuk menghapal,
kemudian bersandar di kursi.
“Gue
pikir lo bakal belajar untuk santai,” sebuah komentar membuyarkan pikiran
Keisha.
Seketika
Keisha menegang. Ini dia si brengsek datang. Yakin dengan ekspresinya yang
sudah terkendali, Keisha mendongak menatap Jeremy.
“Gue
bisa melakukan apa yang gue mau, lo nggak usah repot-repot memperingatkan gue,”
sahutnya dingin.
Jeremy
bersandar di meja dengan tangan kiri di dalam saku dan menatap buku-buku yang
terhampar di atas meja. Suaranya rendah ketika berbicara. “Lo nggak akan jadi
jenius kalau menjejalkan semua ini ke otak lo,” komentarnya. “Semua ada
tahapnya, Kei.”
Keisha
melengos dan tidak membalas kata-kata Jeremy. Sebaliknya, ia mengambil bukunya
dan mulai membaca lagi. Namun Jeremy merebut buku itu dan mengangkatnya hingga
ia bisa membaca judulnya. Keisha berusaha menahan kekesalannya. Jeremy
menggeleng dan berdecak. Kemudian diletakkannya buku itu dan ditatapnya Keisha.
Ia merendahkan wajahnya hingga sejajar dengan Keisha.
Keisha
membalas tatapan itu dengan tenang di luar, tapi marah di dalam. Ia benci cowok
ini. Tak diragukan lagi.
“Mau
gue ajari hal yang lebih menarik? Setelah itu lo boleh tanya apapun yang nggak
lo mengerti di buku itu,” Jeremy menggedikkan dagu ke arah buku sains yang terbuka
di atas meja itu. “Gue udah hapal semua isinya.”
Keisha
mengertakan gigi, menahan agar dirinya tidak kelepasan memaki Jeremy. Sudah
cukup cowok itu mempermainkan emosinya. Dengan tenang Keisha bangkit dari
kursinya dan membereskan buku-bukunya. Kemudian ia berlalu meninggalkan Jeremy.
“Lo
mau kabur?” kata-kata Jeremy menghentikan langkah Keisha. “Apa lo takut
ketenangan lo goyah kalau di dekat gue?” kata Jeremy.
Keisha
perlahan berbalik, hanya agar bisa menatap Jeremy. “Gue nggak pernah takut sama
elo,” desisnya. Kemudian tanpa menunggu lagi, Keisha langsung berderap pergi.
Tak
sekalipun Keisha memelankan langkahnya. Ia ingin menjauhi Jeremy. Cowok itu
berbahaya buatnya. Keisha tidak perlu lagi masalah dalam hidupnya. Saking
terburu-burunya, Keisha tak sempat mengerem langkah ketika seorang cowok muncul
dari tikungan koridor. Keisha memekik kecil karena kaget. Buku-bukunya
berjatuhan.
“Eh,
lo nggak apa-apa?” tanya cowok itu.
Keisha
menggeleng pelan, kemudian menjauhkan dirinya agar bisa melihat siapa yang
ditabraknya.
“Sorry,
gue nggak sengaja,” kata Keisha.
“Lo
buru-buru mau ke mana, Kei?” tanya cowok itu, yang tampaknya mengenal Keisha.
Keisha
cuma membalas dengan senyuman. “Gue harus ke ruang guru,” Keisha beralasan.
Memang
Keisha mengenal cowok itu. Mereka sering bertemu dalam rapat OSIS karena
sama-sama pengurus. Nama cowok itu Renaldi.
“Oh
iya, nanti sepulang sekolah kita ada rapat buat penggalangan dana untuk anak
yatim,” kata Renaldi.
Keisha
mengangguk. Kemudian setelah berbasa-basi sebentar, Keisha pun berpisah dengan
Renaldi.
Di
kejauhan, Jeremy memperhatikan hal itu sambil bersandar di dinding. Ekspresinya
datar. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Bisa dibilang itu wajah tanpa
ekspresi Jeremy yang mampu mengusir para cewek-cewek yang mulai
menjengkelkannya. Yang biasanya selalu sukses membuat mereka terbirit-birit ketakutan.
Kemudian tatapannya beralih kepada Renaldi yang berjalan melewatinya tanpa
menyadari apa-apa sama sekali.
Setelah
itu, Jeremy mulai melangkah ke arah yang berlawanan dengan Renaldi. Ke arah
yang tadi di ambil Keisha. Langkahnya tenang dengan kedua tangan di dalam saku
celana. Tapi tak satupun cewek-cewek yang berani menyapanya, mereka hanya
memandanginya. Mungkin, karena saat itu khususnya, mereka melihat ekspresi
paling dingin di wajah pujaan hati mereka.
***
Sebuah
langkah besar sebenarnya jika sampai ia benar-benar melaksanakan rencananya.
Jeremy masih menimbang-nimbang apakah bijak jika ia sampai sejauh itu hanya
demi rasa penasarannya. Ia memutar-mutar ponsel di tangannya sembari berpikir.
Ia penasaran, benar. Ingin menggali reaksi Keisha lebih jauh, juga benar. Tapi
apa relevan dengan apa yang akan dia lakukan?
Pada
akhirnya Jeremy menempelkan ponselnya ke telinganya setelah menekan sederetan
nomor.
Begitu
telepon tersambung, Jeremy langsung to the point. “Gue butuh bantuan lo, Tan,” kata
Jeremy kepada salah satu teman lamanya, Tristan.
“Apa
tuh? Tumben lo butuh bantuan gue, Jer?” sahut Tristan ingin tau.
“Bisa
nggak lo atur...” Jeremy lalu menjelaskan niatnya secara singkat pada Tristan.
Tristan dengan senang hati menyambut usulan Jeremy. Baginya itu merupakan
sebuah pencerahan di dalam kegelapan.
“Gue
heran, kenapa coba lo dulu nolak jadi Ketua OSIS? Padahal gue yakin lo bakal
jadi pemimpin yang baik,” kata Tristan heran.
Memang
benar, dulu mereka sama-sama dicalonkan sebagai calon. Tristan karena memang
berniat, sementara Jeremy setengah iseng setengah dicalonkan oleh fans-fansnya.
Namun ketika pemilihan, Jeremy dengan sengaja memperlihatkan kalau ia sama
sekali tidak berniat. Alhasil Tristan menang. Sejak itulah mereka jadi berteman.
“Lo
tau gue nggak terlalu suka bersosialisasi kan?” sahut Jeremy enteng. “Yah, lo
atur aja sesuai instruksi gue tadi, ok? Bisa kan lo? Masa sih seorang Ketua
OSIS nggak bisa bikin keputusan kayak gitu,” kata Jeremy meremehkan.
Tristan
terbahak. “Sialan lo! Oke, gue bantu lo! Asal lo benar-benar ikutan jadi
sponsornya,” kata Tristan.
“Lo
bisa percaya sama gue,” sahut Jeremy.
“Hah,
terakhir lo bilang begitu yang ada malah petaka tau!” sungut Tristan.
Kini
giliran Jeremy yang tertawa. Setelah itu hubungan telepon pun terputus. Jeremy
menimbang-nimbang sesaat sebelum menghubungi Samuel dan Rafhael. Ia berniat
melibatkan kedua orang itu. Tentunya tanpa mereka ketahui bahwa mereka sedang
terlibat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar