Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #3


Sebenarnya Keisha malas ke perpustakaan. Apalagi mengingat cowok itu akan ada di sana juga. Mungkin tidur di tempat favoritnya. Akan tetapi Keisha tak mau dianggap pengecut! Dia yakin bisa menghadapi cowok itu kali ini. Dia tidak akan lengah seperti sebelumnya.
            Kejadian itu membuatnya selalu terbangun di tengah malam dengan perasaan tak menentu. Dan membuatnya mulai terjangkit insomnia, yang akhirnya berimbas pada banyak hal. Salah satunya adalah ia jadi gampang marah, padahal dia selalu bisa mengendalikan diri dan menyembunyikan emosinya dengan baik. Tapi satu hal seperti ‘itu’ ternyata mampu mengguncang batas pertahanannya. Itu membuat Keisha sadar betapa lemah kendali dirinya. Imbas lainnya adalah nilai pelajarannya yang sedikit merosot. Dan itu sangat mengganggu Keisha. Ia tidak suka mendapatkan nilai kurang dari 98. Dan ia bertekad akan menebus keteledorannya itu dengan lebih baik.
            Keisha masuk ke perpustakaan dan menyapa sekilas Bu Yovi yang menjaga perpustakaan sebelum menuju rak buku Sains, meraih satu buku yang menarik minatnya dan mengambil tempat duduk. Ia mulai membuka buku itu dan membaca, membuat catatan-catatan kecil di kepalanya. Sesekali bergumam pelan untuk menghapal, kemudian bersandar di kursi.
            “Gue pikir lo bakal belajar untuk santai,” sebuah komentar membuyarkan pikiran Keisha.
            Seketika Keisha menegang. Ini dia si brengsek datang. Yakin dengan ekspresinya yang sudah terkendali, Keisha mendongak menatap Jeremy.
            “Gue bisa melakukan apa yang gue mau, lo nggak usah repot-repot memperingatkan gue,” sahutnya dingin.
            Jeremy bersandar di meja dengan tangan kiri di dalam saku dan menatap buku-buku yang terhampar di atas meja. Suaranya rendah ketika berbicara. “Lo nggak akan jadi jenius kalau menjejalkan semua ini ke otak lo,” komentarnya. “Semua ada tahapnya, Kei.”
            Keisha melengos dan tidak membalas kata-kata Jeremy. Sebaliknya, ia mengambil bukunya dan mulai membaca lagi. Namun Jeremy merebut buku itu dan mengangkatnya hingga ia bisa membaca judulnya. Keisha berusaha menahan kekesalannya. Jeremy menggeleng dan berdecak. Kemudian diletakkannya buku itu dan ditatapnya Keisha. Ia merendahkan wajahnya hingga sejajar dengan Keisha.
            Keisha membalas tatapan itu dengan tenang di luar, tapi marah di dalam. Ia benci cowok ini. Tak diragukan lagi.
          “Mau gue ajari hal yang lebih menarik? Setelah itu lo boleh tanya apapun yang nggak lo mengerti di buku itu,” Jeremy menggedikkan dagu ke arah buku sains yang terbuka di atas meja itu. “Gue udah hapal semua isinya.”
            Keisha mengertakan gigi, menahan agar dirinya tidak kelepasan memaki Jeremy. Sudah cukup cowok itu mempermainkan emosinya. Dengan tenang Keisha bangkit dari kursinya dan membereskan buku-bukunya. Kemudian ia berlalu meninggalkan Jeremy.
            “Lo mau kabur?” kata-kata Jeremy menghentikan langkah Keisha. “Apa lo takut ketenangan lo goyah kalau di dekat gue?” kata Jeremy.
            Keisha perlahan berbalik, hanya agar bisa menatap Jeremy. “Gue nggak pernah takut sama elo,” desisnya. Kemudian tanpa menunggu lagi, Keisha langsung berderap pergi.
            Tak sekalipun Keisha memelankan langkahnya. Ia ingin menjauhi Jeremy. Cowok itu berbahaya buatnya. Keisha tidak perlu lagi masalah dalam hidupnya. Saking terburu-burunya, Keisha tak sempat mengerem langkah ketika seorang cowok muncul dari tikungan koridor. Keisha memekik kecil karena kaget. Buku-bukunya berjatuhan.
            “Eh, lo nggak apa-apa?” tanya cowok itu.
            Keisha menggeleng pelan, kemudian menjauhkan dirinya agar bisa melihat siapa yang ditabraknya.
            “Sorry, gue nggak sengaja,” kata Keisha.
            “Lo buru-buru mau ke mana, Kei?” tanya cowok itu, yang tampaknya mengenal Keisha.
            Keisha cuma membalas dengan senyuman. “Gue harus ke ruang guru,” Keisha beralasan.
            Memang Keisha mengenal cowok itu. Mereka sering bertemu dalam rapat OSIS karena sama-sama pengurus. Nama cowok itu Renaldi.
            “Oh iya, nanti sepulang sekolah kita ada rapat buat penggalangan dana untuk anak yatim,” kata Renaldi.
            Keisha mengangguk. Kemudian setelah berbasa-basi sebentar, Keisha pun berpisah dengan Renaldi.
            Di kejauhan, Jeremy memperhatikan hal itu sambil bersandar di dinding. Ekspresinya datar. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Bisa dibilang itu wajah tanpa ekspresi Jeremy yang mampu mengusir para cewek-cewek yang mulai menjengkelkannya. Yang biasanya selalu sukses membuat mereka terbirit-birit ketakutan. Kemudian tatapannya beralih kepada Renaldi yang berjalan melewatinya tanpa menyadari apa-apa sama sekali.
            Setelah itu, Jeremy mulai melangkah ke arah yang berlawanan dengan Renaldi. Ke arah yang tadi di ambil Keisha. Langkahnya tenang dengan kedua tangan di dalam saku celana. Tapi tak satupun cewek-cewek yang berani menyapanya, mereka hanya memandanginya. Mungkin, karena saat itu khususnya, mereka melihat ekspresi paling dingin di wajah pujaan hati mereka.
***
            Sebuah langkah besar sebenarnya jika sampai ia benar-benar melaksanakan rencananya. Jeremy masih menimbang-nimbang apakah bijak jika ia sampai sejauh itu hanya demi rasa penasarannya. Ia memutar-mutar ponsel di tangannya sembari berpikir. Ia penasaran, benar. Ingin menggali reaksi Keisha lebih jauh, juga benar. Tapi apa relevan dengan apa yang akan dia lakukan?
            Pada akhirnya Jeremy menempelkan ponselnya ke telinganya setelah menekan sederetan nomor.
            Begitu telepon tersambung, Jeremy langsung to the point. “Gue butuh bantuan lo, Tan,” kata Jeremy kepada salah satu teman lamanya, Tristan.
            “Apa tuh? Tumben lo butuh bantuan gue, Jer?” sahut Tristan ingin tau.
            “Bisa nggak lo atur...” Jeremy lalu menjelaskan niatnya secara singkat pada Tristan. Tristan dengan senang hati menyambut usulan Jeremy. Baginya itu merupakan sebuah pencerahan di dalam kegelapan.
            “Gue heran, kenapa coba lo dulu nolak jadi Ketua OSIS? Padahal gue yakin lo bakal jadi pemimpin yang baik,” kata Tristan heran.
            Memang benar, dulu mereka sama-sama dicalonkan sebagai calon. Tristan karena memang berniat, sementara Jeremy setengah iseng setengah dicalonkan oleh fans-fansnya. Namun ketika pemilihan, Jeremy dengan sengaja memperlihatkan kalau ia sama sekali tidak berniat. Alhasil Tristan menang. Sejak itulah mereka jadi berteman.
            “Lo tau gue nggak terlalu suka bersosialisasi kan?” sahut Jeremy enteng. “Yah, lo atur aja sesuai instruksi gue tadi, ok? Bisa kan lo? Masa sih seorang Ketua OSIS nggak bisa bikin keputusan kayak gitu,” kata Jeremy meremehkan.
            Tristan terbahak. “Sialan lo! Oke, gue bantu lo! Asal lo benar-benar ikutan jadi sponsornya,” kata Tristan.
            “Lo bisa percaya sama gue,” sahut Jeremy.
            “Hah, terakhir lo bilang begitu yang ada malah petaka tau!” sungut Tristan.
            Kini giliran Jeremy yang tertawa. Setelah itu hubungan telepon pun terputus. Jeremy menimbang-nimbang sesaat sebelum menghubungi Samuel dan Rafhael. Ia berniat melibatkan kedua orang itu. Tentunya tanpa mereka ketahui bahwa mereka sedang terlibat.
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar