Keisha sedang membaca di kelasnya ketika Chika
menyerbu masuk dan mengagetkannya. Seperti biasa, Chika tampak bersinar-sinar
dengan keriangannya. Andai ia juga bisa seperti itu. Beberapa hari ini ia
bahkan tidak tau apa saja yang sudah ia lakukan untuk menyingkirkan Jeremy dari
kepalanya. Namun sama seperti usaha-usahanya yang lain, usahanya yang terakhir pun
berbuah kegagalan. Ia justru tidak bisa melupakan Jeremy.
“Kenapa,
Chi?” tanya Keisha.
“Kantin
yuk! Zizi sama Sammy terus, nggak bisa dipisahin!!” kata Chika.
“Ya
udah, ayo,” kata Keisha.
Keduanya
pun berjalan beriringan ke kantin. Selama perjalanan singkat itu, Chika tak
henti-hentinya mengoceh. Ia melompat dari satu topik ke topik yang lain.
Pokoknya ada saja topik yang ia bicarakan. Mulai dari salah satu temannya yang
nabrak tembok saat naik skateboard, sampai soal kucing liar yang ia pelihara
diam-diam di rumahnya.
“Ngomong-ngomong,
Chika kok nggak pernah lihat Jemy ya?? Kei nggak pernah sama-sama dia lagi?” tanya
Chika.
“Jemy…?
Oh… Nggak. Gue nggak sama-sama dia,” sahut Keisha tenang.
“Kok
nggak? Jemy sayang banget sama Kei, lho,” kata Chika. “Oh iya, Chika juga
dengar soal penyerangan Jemy! Huh, pengecut banget deh orang yang ngirim preman
kayak gitu! Kalau ketemu ya, bakal Chika tamparin!” oceh Chika. “Menurut lo itu
disengaja juga kan?” tanyanya.
“Gue
nggak tau, Chi! Jangan ngomongin soal dia deh!” ketus Keisha.
“Yah,
Chika kan cuma mau menghibur… Abis lo tuh belakangan jadi tambah pendiam tau!
Gue nggak suka lihatnya!” kata Chika.
Keisha
menghela napas dan tersenyum. “Gue cuma lagi banyak pikiran, Chi. Gue harus
meningkatkan nilai-nilai gue lagi,” kata Keisha.
“Bukan
karena kepikiran Jemy?”
Keisha
terdiam sesaat. “Bukan,” sahutnya.
Keisha
pikir Chika sudah puas dengan semua pertanyaannya, tapi siapa sangka ternyata
perhatian cewek itu sudah teralihkan ke tempat lain?
“Kei,
Itu Renaldi kan ya? Teman lo di OSIS itu loh! Iya kan?” kata Chika sambil
menunjuk-nunjuk ke arah Renaldi. Dan sebelum Keisha bisa menebak apa yang akan
Chika lakukan, Chika sudah berteriak heboh memanggil Renaldi. Ditambah dengan
lambaian penuh semangat. Chika langsung menarik Keisha ke tempat Renaldi.
“Chi,
katanya mau ke kantin?” kata Keisha bingung.
“Nanti
aja!” kata Chika enteng. “Hai!!” kata Chika pada Renaldi.
“Hai,
Chika kan?” sahut Renaldi ramah.
Chika
mengangguk-angguk bersemangat. Sementara Keisha memilih duduk di bawah pohon
yang rindang. Saat itu mereka lagi ada di halaman sekolah. Keisha memperhatikan
saja Chika bicara dengan Renaldi. Pikirannya sudah terbang entah ke mana dan
kalau Renaldi tak memanggilnya, mungkin Keisha masih akan terus melamun. Keisha
ikut bergabung dalam obrolan mereka. Namun tak terlalu memperhatikan sampai
ketika Chika mengatakan sesuatu yang menarik.
“Oh
iya, lo nggak bareng sama cewek lo?” tanya Chika.
“Hah?
Lo ngomong apa sih? Gue nggak punya cewek lagi!” kata Renaldi sambil tertawa.
Chika
mengerutkan kening. “Masa? Jadi yang tempo hari bukan cewek elo ya? Yang sama
lo di taman belakang! Gue kira cewek lo,” kata Chika polos.
Renaldi
seketika menegang, namun dapat menyembunyikan ketegangannya dengan baik saat
mengelak dan mengatakan Chika mungkin salah lihat. Tapi Chika berkeras kalau
itu memang Renaldi. Bahkan ia menjelaskan dengan detail tentang cewek yang
bersama Renaldi.
“Tuggu,
kok kayak gue pernah ketemu ya,” kata Keisha.
“Ah,
nggak mungkin. Gue aja nggak tau siapa yang Chika bicarain,” kata Renaldi.
Kemudian beralih pada Chika. “Lo salah lihat, Chi. Gue nggak mungkinlah ketemu
diam-diam sama cewek, di taman belakang pula. Lo pasti salah ngira orang,” kata
Renaldi.
Chika
menggeleng tegas. “Gue yakin itu elo! Gue nggak bisa semudah itu melupakan
orang! Lagian kan gue sempat papasan sama cewek itu,” kata Chika tegas. “Malah
tadi gue juga lihat dia kok!”
“Nggak
mungkin dia di sini!” tukas Renaldi jengkel. Kemudian sadar kalau dia salah
bicara. “Eh, maksud gue...” dia gelagapan.
“Ada
apa sih? Lo memang kenal cewek itu? Kalaupun iya, elo nggak usah malu lagi,” kata
Keisha. “Lagian gue juga belum elo kenalin kan sama cewek lo?” kata Keisha
lagi. Tanpa sadar sudah ikut memojokkan Renaldi.
Keadaan
makin rusuh saat Rafhael muncul bersama Lexa. Mata Keisha membulat ketika
mengenali cewek itu. Sementara Renaldi pucat dan ternganga.
“Woi,
lo dicariin nih!” kata Rafhael santai. “Gue ketemu nih cewek di depan sekolah,
katanya dia nyari elo,” kata Rafhael tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Gue
nggak kenal sama cewek itu,” kata Renaldi kaku.
“Oh,
sekarang lo pura-pura nggak kenal sama gue?!” sahut Lexa. “Tega lo ya?!”
“Hei,
lo ngomong apa sih?!” hardik Renaldi.
“Heh!
Gitu ya, cara lo setelah gue bantuin elo?!” seru Lexa.
“Tunggu,
nih cewek bukan pacar elo?” tanya Rafhael pura-pura bingung.
“Bukan!
Gue bahkan nggak kenal sama dia!!” bentak Renaldi.
Suasana
makin memanas. Lexa mulai membongkar semua yang ia lakukan demi Renaldi di
depan Keisha dan bahkan Renaldi pun tak bisa mengelak setelah terpojokkan
begitu.
Keisha
sebenarnya terperangah luar biasa. Ia bahkan tak tau harus berkomentar apa di
tengah-tengah adu mulut yang berlangsung di depannya itu. Hanya saja, ada suatu
kelegaan yang membanjiri hatinya ketika menyadari bahwa Jeremy tidak berbohong.
Bahwa ia salah mengenai cowok itu. Bahwa ia ingin minta maaf pada cowok itu!
Keisha bahkan tak peduli lagi dengan semua kebohongan yang ia ciptakan dalam
dirinya.
“Nah,
sekarang semua udah terbongkar! Mau apa lagi lo?” tanya Rafhael.
“Iya!
Dasar pembohong!! Lo beraninya main keroyokan ya? Pakai ngelukain Jemy
segala!!” sahut Chika sengit.
Renaldi
geram bukan main. Ia langsung melayangkan tinjunya ke arah Rafhael, yang nyaris
saja mengenai Chika jika Rafhael tidak menarik cewek itu ke pelukannya dan
menendang Renaldi hingga jatuh tersungkur. Keributan itu tampaknya menarik
perhatian banyak orang karena kini sudah mulai muncul kerumunan di sekeliling
mereka.
“Jangan
coba-coba lo sentuh nih cewek!” ancam Rafhael.
Lexa
yang berdiri tak jauh di sana, menonton dengan tenang. Tatapannya teralih pada
Keisha yang menatap tanpa emosi pada kejadian di depannya.
“Hei,
gue minta maaf soal tempo hari. Cowok lo itu cowok baik-baik. Gue bahkan nggak
tau apa-apa soal dia, selain dia nyeremin saat marah,” kata Lexa, menambahkan
sambil bersungut-sungut. “Dan dia memang mengancam akan menghabisi Renald
ketika tau semua tipu daya cowok menjijikan ini.”
Keisha
hanya menatap sekilas pada Lexa sebelum menatap Renaldi kembali. Kemudian ia
melangkah mendekati Renaldi yang terkapar di tanah.
“Lo
yang ngelakuin semua hal itu?” tanya Keisha tenang.
Renaldi
bahkan tak bisa membalas tatapan Keisha saking malunya dengan semua yang
terjadi. Keisha lalu berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan Renaldi.
“Gue
nggak akan segan-segan matahin tangan lo jika lo menyentuh milik gue lagi. Lo
bisa camkan itu baik-baik,” kata Keisha dingin. Ia lalu berdiri tegak.
“Kenapa
Kei?” tanya Renaldi tak terima. “Kenapa lo peduli sama tuh bajingan?!”
Tatapan
Keisha pasti sangat dingin karena Renaldi langsung diam. “Karena gue nggak suka
berbagi!” tegas Keisha. “Dan, yang bajingan itu adalah elo,” tambahnya dan
berlalu.
Rafhael
bersiul, lupa kalau masih memeluk Chika. Lexa harus berdeham untuk
mengingatkannya. Sehingga Rafhael langsung melepaskan Chika dengan tiba-tiba,
membuat cewek itu kaget dan nyaris terjengkang jatuh, dan pada akhirnya harus
ia tarik lagi agar tak jatuh.
“Kita
bereskan ini dulu. Gue mau telepon Samuel,” kata Rafhael, kali ini melepaskan
Chika dengan hati-hati.
“Gue
telepon Zizi!” sahut Chika bersemangat.
“Gue
mau pulang,” kata Lexa lelah.
Dan
semua pun selesai tanpa ada banyak pertumpahan darah lagi. Rafhael dan Samuel
langsung mengamankan Renaldi untuk diinterogasi. Sementara Chika menceritakan
dengan heboh apa yang terjadi pada Linzie. Dan mereka semua bahkan tidak ada
yang menyadari ketidakhadiran Jeremy dan Keisha.
Keisha
berlari kencang. Ia menyusuri seluruh tempat untuk mencari cowok itu. Ia bahkan
mencari ke kelas cowok itu meski tau takkan menemukannya di sana. Dengan semua
yang sudah terjadi, Keisha tau ia harus segera menemukan cowok itu. Ia harus
mengatakan yang sebenarnya pada cowok itu. Bahwa ia salah. Bahwa ia ingin minta
maaf. Keisha tak peduli apa yang akan cowok itu pikirkan. Ia takkan membiarkan
cowok itu lepas begitu saja. Tidak setelah semua hal yang cowok itu lakukan
padanya.
Cowok
itu sudah menjungkir-balikkan hidupnya dalam waktu singkat. Membuatnya dilanda
emosi yang asing baginya. Dan terlebih, membuatnya menyadari sesuatu. Ia
merindukan cowok itu. Ia bahkan merindukan saat-saat perdebatan mereka!
Sekalipun ia hanya dianggap sebagai kelinci eksperimen, Keisha tak peduli. Ia
akan membuat cowok itu mengubah pandangannya.
Keisha
terengah-engah ketika bel berbunyi. Ia sudah menelusuri seluruh penjuru sekolah
untuk mencari cowok itu. Tapi ia tak ada di mana pun.
Kemudian,
terlintas di pikirannya sebuah tempat. Sebuah tempat yang mungkin didatangi
cowok itu! Dengan sisa tenaganya Keisha kembali berlari. Kali ini dengan
keyakinan akan menemukan cowok itu
Keisha
sampai di perpustakaan yang sepi dan langsung menuju pojok tersembunyi itu.
Ada! Dia ada di sana! Keisha menenangkan debaran jantungnya yang menggila.
Jeremy ada di sana. Dengan punggung tertelungkup dan tangan terlipat di atas
meja sebagai pengganti bantal. Pose yang sudah sangat Keisha kenali. Karena
Keisha kerap kali mencuri-curi lihat ketika cowok itu tertidur di sana.
“Gue
tau lo udah bangun,” kata Keisha. “Dan berhenti pura-pura tidur, Jeremy,” katanya
lagi. Ia menunggu reaksi Jeremy namun cowok itu tetap bergeming.
“Bangun
lo, brengsek!! Banyak hal yang harus lo jelasin ke gue!! Lo berhutang
penjelasan sama gue!!” teriak Keisha.
Keisha
langsung mendekati Jeremy dan berteriak di depannya. “Lo harus bangun saat gue
bicara sama lo!! Karena nggak ada yang namanya pengulangan Jeremy Aprillio!!”
Perlahan mata
Jeremy terbuka dan Keisha merasa seolah terhisap ke kedalaman mata itu. Keisha
tanpa sadar mundur selangkah. Menenangkan debar jantungnya yang kembali
menggila. Ia merasa sulit bernapas ketika Jeremy menatapnya langsung seperti
itu. Keisha harus menahan napas ketika Jeremy duduk tegak dan menghadap ke
arahnya.
Astaga,
kenapa selama ini Keisha bisa tidak menyadari betapa gantengnya Jeremy? Apakah
ia buta? Atau ia gila? Keisha tak percaya dirinya sangat dekat dengan cowok di
hadapannya ini. Keisha harus menelan ludah saat berbicara.
“Kenapa
lo nggak menceritakan semuanya sama gue? Kenapa lo menunggu supaya semuanya
semakin kacau??” tuntut Keisha. “Apa lo senang mempermainkan gue? Apa sebegitu
menyenangkannya bagi lo melihat gue menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran
lo?!” Keisha bertanya. “Apa lo tau seberapa sering gue bertanya-tanya ke diri
gue tentang lo? Apa lo mainin gue? Apa lo serius sama gue? Apa posisi gue di
mata lo? Pernah lo berpikir begitu???”
Keisha
menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan menatap Jeremy. “Apa lo cuma
bisa diam?” tanyanya lirih.
“Apa
kalau gue jelaskan lo bakal percaya sama gue? Tanpa adanya bukti, gue hanya
akan lo anggap sebagai pembohong. Seperti anggapan lo selama ini,” kata Jeremy.
“Tapi
lo nggak pernah bohong! Lo sendiri yang bilang sama gue!” potong Keisha.
“Dan
mana mungkin gue tau lo percaya sama gue di saat lo menjauhi gue?” sahut
Jeremy. “Gue harus mencari bukti agar lo percaya sama gue, Kei. Bukti yang pada
akhirnya akan membuka mata lo dari kebusukan Renaldi! Sekarang setelah lo tau
gimana dia yang sebenarnya, apa lo masih tertarik sama dia?” tanya Jeremy.
“Gue
nggak pernah tertarik sama dia!!! Lo yang bikin gue terpaksa berbohong!!
Seandainya lo tau gimana perasaan gue ketika mendengar seorang cewek
mengaku-ngaku jadi cewek lo sekalipun itu semua bohong, apa lo pikir gue bisa
mengakui kalau gue cemburu!? Kecewa?!” sentak Keisha.“Gue nggak akan bisa
mengakui itu. Lo terlalu tau sifat gue bahwa gue nggak suka merasa lemah, dan
gue selalu merasa lemah di depan lo! Kenapa lo membuat gue menyadari kalau gue
nggak bisa apa-apa tanpa elo? Kenapa lo jadi begitu penting dalam hidup gue?!” teriak
Keisha.
Keisha
tak bisa menahan air matanya, jadi ia membuang muka ke arah lain agar Jeremy
tak bisa melihatnya menangis. Menangis karena cowok itu! Keisha mendengar suara
kursi digeser dan sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Keisha
bergeming.
“Gue
nggak pernah berniat bikin lo bingung. Gue hanya melakukan apa yang gue anggap
benar. Dan kalaupun itu justru menyakiti elo, gue minta maaf. Sama seperti elo,
gue nggak biasa terjebak dalam emosi-emosi yang nggak gue kenali,” kata Jeremy.
“Apa
kali ini lo jujur? Setelah kejadian tadi, gue nggak tau harus memercayai
siapa,” kata Keisha lemah. “Lo udah menghancurkan semua tameng yang gue bangun
selama ini.”
“Gue
nggak pernah bohong mengenai perasaan gue. Bahkan meskipun butuh waktu lama
untuk bikin lo yakin sama gue, gue nggak keberatan unruk membuktikannya.”
Keisha
berbalik dan mendongak ke arah Jeremy. “Lo nggak perlu melakukan hal itu,” bisik
Keisha.
“Gue
harus!” tegas Jeremy. “Jika itu satu-satunya cara supaya lo bisa percaya lagi
sama gue!”
Keisha
menggeleng dan tersenyum. Ia takkan kuat jika Jeremy bersikap begitu manis
padanya. “Gue yakinkan lo nggak perlu melakukannya, Jeremy. Gue udah kalah dari
lo,” kata Keisha.
“Oh
ya?” tanya Jeremy tak percaya.
“Ya,
gue kalah sama kegilaan lo! Gue kalah sama perhatian lo, dan gue kalah sama
perasaan gue sendiri. Gue udah... jatuh cinta sama lo,” bisik Keisha.
Jeremy
tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia harus meyakinkan dirinya
kalau ini bukan mimpi. Ia tak mau terbangun dan ternyata semua bukanlah
kenyataan.
“Gue
mungkin harus membuktikannya,” gumam Jeremy.
Ia
mengangkat dagu Keisha dan mulai menundukkan kepalanya. Keisha terkesiap ketika
menyadari apa yang akan Jeremy lakukan. Ia lantas mendorong wajah cowok itu.
“Tunggu,
tunggu!!” serunya panik.
“Apa
lagi? Ini bukan waktunya untuk mundur Kei,” geram Jeremy.
Keisha
tertawa di sela air matanya. “Gue nggak bermaksud mundur. Hanya saja gue harus
mendengar sesuatu dari lo,” kata Keisha.
“Oh
ya? Apa itu kalau gue boleh tau?” tanya Jeremy.
Keisha
mendelik. “Lo nggak akan pura-pura nggak tau sekarang, Jeremy!! Lo tau banget
apa yang gue maksud!!” tuntut Keisha.
Jeremy
memutar bola matanya. Kemudian tatapannya berubah serius. “Gue cinta sama elo.
Sekarang, besok, dan seterusnya,” kata Jeremy.
Keisha
kembali berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan merasa sebahagia ini ketika
mendengarnya langsung dari Jeremy. Hatinya terasa begitu hangat ketika Jeremy
menatapnya. Keisha tau Jeremy tulus. Dan itu membuatnya jauh lebih bahagia dari
apapun. Ia takkan melepaskan Jeremy. Apapun yang terjadi!
“Sekarang,
boleh gue tunjukkan seberapa seriusnya gue?” tanya Jeremy.
“Oh,
tunggu!” kata Keisha lagi.
“Nggak
ada kata penundaan lagi, Kei! Semua udah terlalu lama berlarut-larut,” kata
Jeremy tanpa kompromi lagi. Ia sudah sangat ingin mengklaim Keisha. Ia takkan
membiarkan Keisha berubah pikiran. Tidak sekarang ketika seluruh otaknya
dipenuhi oleh Keisha.
“Dalam
hitungan ketiga, Kei,” kata Jeremy.
“Apa?!”
seru Keisha ketika Jeremy mulai menghitung. Kemudian memutar bola mata. “Dasar
cowok,” gerutunya.
“Tiga,”
kata Jeremy, sampai pada hitungan terkhirnya. Bersamaan dengan Keisha yang
berjinjit dan mencium Jeremy setelah sebelumnya mengatakan, “Gue cinta sama
elo,” dalam bisikan yang pelan.
Dan
tak perlu pancingan lagi, Jeremy membalas ciuman itu.
Ketika
cinta hadir, takkan ada yang menyadarinya. Ketika cinta itu mengendap, barulah
terasa ada yang berubah. Ciuman pertama membangkitkan emosi yang
terkungkung... Ciuman kedua hanya
menyemai apa yang pasti akan timbul... Dan pada ciuman ketiga, cinta pun
dimulai.
- SELESAI -
aduh kakak ceritanya keren banget, suka banget sama cerita yang kakak buat,
BalasHapuspokoknya the best deh :D
oke kakak, buat cerita yang lainnya ya? :D hehe