Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #11 END


Keisha sedang membaca di kelasnya ketika Chika menyerbu masuk dan mengagetkannya. Seperti biasa, Chika tampak bersinar-sinar dengan keriangannya. Andai ia juga bisa seperti itu. Beberapa hari ini ia bahkan tidak tau apa saja yang sudah ia lakukan untuk menyingkirkan Jeremy dari kepalanya. Namun sama seperti usaha-usahanya yang lain, usahanya yang terakhir pun berbuah kegagalan. Ia justru tidak bisa melupakan Jeremy.
            “Kenapa, Chi?” tanya Keisha.
            “Kantin yuk! Zizi sama Sammy terus, nggak bisa dipisahin!!” kata Chika.
            “Ya udah, ayo,” kata Keisha.
            Keduanya pun berjalan beriringan ke kantin. Selama perjalanan singkat itu, Chika tak henti-hentinya mengoceh. Ia melompat dari satu topik ke topik yang lain. Pokoknya ada saja topik yang ia bicarakan. Mulai dari salah satu temannya yang nabrak tembok saat naik skateboard, sampai soal kucing liar yang ia pelihara diam-diam di rumahnya.
            “Ngomong-ngomong, Chika kok nggak pernah lihat Jemy ya?? Kei nggak pernah sama-sama dia lagi?” tanya Chika.
            “Jemy…? Oh… Nggak. Gue nggak sama-sama dia,” sahut Keisha tenang.
            “Kok nggak? Jemy sayang banget sama Kei, lho,” kata Chika. “Oh iya, Chika juga dengar soal penyerangan Jemy! Huh, pengecut banget deh orang yang ngirim preman kayak gitu! Kalau ketemu ya, bakal Chika tamparin!” oceh Chika. “Menurut lo itu disengaja juga kan?” tanyanya.
            “Gue nggak tau, Chi! Jangan ngomongin soal dia deh!” ketus Keisha.
            “Yah, Chika kan cuma mau menghibur… Abis lo tuh belakangan jadi tambah pendiam tau! Gue nggak suka lihatnya!” kata Chika.
            Keisha menghela napas dan tersenyum. “Gue cuma lagi banyak pikiran, Chi. Gue harus meningkatkan nilai-nilai gue lagi,” kata Keisha.
            “Bukan karena kepikiran Jemy?”
            Keisha terdiam sesaat. “Bukan,” sahutnya.
            Keisha pikir Chika sudah puas dengan semua pertanyaannya, tapi siapa sangka ternyata perhatian cewek itu sudah teralihkan ke tempat lain?
            “Kei, Itu Renaldi kan ya? Teman lo di OSIS itu loh! Iya kan?” kata Chika sambil menunjuk-nunjuk ke arah Renaldi. Dan sebelum Keisha bisa menebak apa yang akan Chika lakukan, Chika sudah berteriak heboh memanggil Renaldi. Ditambah dengan lambaian penuh semangat. Chika langsung menarik Keisha ke tempat Renaldi.
            “Chi, katanya mau ke kantin?” kata Keisha bingung.
            “Nanti aja!” kata Chika enteng. “Hai!!” kata Chika pada Renaldi.
            “Hai, Chika kan?” sahut Renaldi ramah.
            Chika mengangguk-angguk bersemangat. Sementara Keisha memilih duduk di bawah pohon yang rindang. Saat itu mereka lagi ada di halaman sekolah. Keisha memperhatikan saja Chika bicara dengan Renaldi. Pikirannya sudah terbang entah ke mana dan kalau Renaldi tak memanggilnya, mungkin Keisha masih akan terus melamun. Keisha ikut bergabung dalam obrolan mereka. Namun tak terlalu memperhatikan sampai ketika Chika mengatakan sesuatu yang menarik.
            “Oh iya, lo nggak bareng sama cewek lo?” tanya Chika.
            “Hah? Lo ngomong apa sih? Gue nggak punya cewek lagi!” kata Renaldi sambil tertawa.
            Chika mengerutkan kening. “Masa? Jadi yang tempo hari bukan cewek elo ya? Yang sama lo di taman belakang! Gue kira cewek lo,” kata Chika polos.
            Renaldi seketika menegang, namun dapat menyembunyikan ketegangannya dengan baik saat mengelak dan mengatakan Chika mungkin salah lihat. Tapi Chika berkeras kalau itu memang Renaldi. Bahkan ia menjelaskan dengan detail tentang cewek yang bersama Renaldi.
            “Tuggu, kok kayak gue pernah ketemu ya,” kata Keisha.
            “Ah, nggak mungkin. Gue aja nggak tau siapa yang Chika bicarain,” kata Renaldi. Kemudian beralih pada Chika. “Lo salah lihat, Chi. Gue nggak mungkinlah ketemu diam-diam sama cewek, di taman belakang pula. Lo pasti salah ngira orang,” kata Renaldi.
            Chika menggeleng tegas. “Gue yakin itu elo! Gue nggak bisa semudah itu melupakan orang! Lagian kan gue sempat papasan sama cewek itu,” kata Chika tegas. “Malah tadi gue juga lihat dia kok!”
            “Nggak mungkin dia di sini!” tukas Renaldi jengkel. Kemudian sadar kalau dia salah bicara. “Eh, maksud gue...” dia gelagapan.
            “Ada apa sih? Lo memang kenal cewek itu? Kalaupun iya, elo nggak usah malu lagi,” kata Keisha. “Lagian gue juga belum elo kenalin kan sama cewek lo?” kata Keisha lagi. Tanpa sadar sudah ikut memojokkan Renaldi.
           Keadaan makin rusuh saat Rafhael muncul bersama Lexa. Mata Keisha membulat ketika mengenali cewek itu. Sementara Renaldi pucat dan ternganga.
            “Woi, lo dicariin nih!” kata Rafhael santai. “Gue ketemu nih cewek di depan sekolah, katanya dia nyari elo,” kata Rafhael tanpa rasa bersalah sama sekali.
            “Gue nggak kenal sama cewek itu,” kata Renaldi kaku.
            “Oh, sekarang lo pura-pura nggak kenal sama gue?!” sahut Lexa. “Tega lo ya?!”
            “Hei, lo ngomong apa sih?!” hardik Renaldi.
            “Heh! Gitu ya, cara lo setelah gue bantuin elo?!” seru Lexa.
            “Tunggu, nih cewek bukan pacar elo?” tanya Rafhael pura-pura bingung.
            “Bukan! Gue bahkan nggak kenal sama dia!!” bentak Renaldi.
            Suasana makin memanas. Lexa mulai membongkar semua yang ia lakukan demi Renaldi di depan Keisha dan bahkan Renaldi pun tak bisa mengelak setelah terpojokkan begitu.
            Keisha sebenarnya terperangah luar biasa. Ia bahkan tak tau harus berkomentar apa di tengah-tengah adu mulut yang berlangsung di depannya itu. Hanya saja, ada suatu kelegaan yang membanjiri hatinya ketika menyadari bahwa Jeremy tidak berbohong. Bahwa ia salah mengenai cowok itu. Bahwa ia ingin minta maaf pada cowok itu! Keisha bahkan tak peduli lagi dengan semua kebohongan yang ia ciptakan dalam dirinya.
            “Nah, sekarang semua udah terbongkar! Mau apa lagi lo?” tanya Rafhael.
            “Iya! Dasar pembohong!! Lo beraninya main keroyokan ya? Pakai ngelukain Jemy segala!!” sahut Chika sengit.
            Renaldi geram bukan main. Ia langsung melayangkan tinjunya ke arah Rafhael, yang nyaris saja mengenai Chika jika Rafhael tidak menarik cewek itu ke pelukannya dan menendang Renaldi hingga jatuh tersungkur. Keributan itu tampaknya menarik perhatian banyak orang karena kini sudah mulai muncul kerumunan di sekeliling mereka.
            “Jangan coba-coba lo sentuh nih cewek!” ancam Rafhael.
            Lexa yang berdiri tak jauh di sana, menonton dengan tenang. Tatapannya teralih pada Keisha yang menatap tanpa emosi pada kejadian di depannya.
           “Hei, gue minta maaf soal tempo hari. Cowok lo itu cowok baik-baik. Gue bahkan nggak tau apa-apa soal dia, selain dia nyeremin saat marah,” kata Lexa, menambahkan sambil bersungut-sungut. “Dan dia memang mengancam akan menghabisi Renald ketika tau semua tipu daya cowok menjijikan ini.”
            Keisha hanya menatap sekilas pada Lexa sebelum menatap Renaldi kembali. Kemudian ia melangkah mendekati Renaldi yang terkapar di tanah.
            “Lo yang ngelakuin semua hal itu?” tanya Keisha tenang.
            Renaldi bahkan tak bisa membalas tatapan Keisha saking malunya dengan semua yang terjadi. Keisha lalu berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan Renaldi.
            “Gue nggak akan segan-segan matahin tangan lo jika lo menyentuh milik gue lagi. Lo bisa camkan itu baik-baik,” kata Keisha dingin. Ia lalu berdiri tegak.
            “Kenapa Kei?” tanya Renaldi tak terima. “Kenapa lo peduli sama tuh bajingan?!”
            Tatapan Keisha pasti sangat dingin karena Renaldi langsung diam. “Karena gue nggak suka berbagi!” tegas Keisha. “Dan, yang bajingan itu adalah elo,” tambahnya dan berlalu.
            Rafhael bersiul, lupa kalau masih memeluk Chika. Lexa harus berdeham untuk mengingatkannya. Sehingga Rafhael langsung melepaskan Chika dengan tiba-tiba, membuat cewek itu kaget dan nyaris terjengkang jatuh, dan pada akhirnya harus ia tarik lagi agar tak jatuh.
            “Kita bereskan ini dulu. Gue mau telepon Samuel,” kata Rafhael, kali ini melepaskan Chika dengan hati-hati.
            “Gue telepon Zizi!” sahut Chika bersemangat.
            “Gue mau pulang,” kata Lexa lelah.
            Dan semua pun selesai tanpa ada banyak pertumpahan darah lagi. Rafhael dan Samuel langsung mengamankan Renaldi untuk diinterogasi. Sementara Chika menceritakan dengan heboh apa yang terjadi pada Linzie. Dan mereka semua bahkan tidak ada yang menyadari ketidakhadiran Jeremy dan Keisha.
            Keisha berlari kencang. Ia menyusuri seluruh tempat untuk mencari cowok itu. Ia bahkan mencari ke kelas cowok itu meski tau takkan menemukannya di sana. Dengan semua yang sudah terjadi, Keisha tau ia harus segera menemukan cowok itu. Ia harus mengatakan yang sebenarnya pada cowok itu. Bahwa ia salah. Bahwa ia ingin minta maaf. Keisha tak peduli apa yang akan cowok itu pikirkan. Ia takkan membiarkan cowok itu lepas begitu saja. Tidak setelah semua hal yang cowok itu lakukan padanya.
            Cowok itu sudah menjungkir-balikkan hidupnya dalam waktu singkat. Membuatnya dilanda emosi yang asing baginya. Dan terlebih, membuatnya menyadari sesuatu. Ia merindukan cowok itu. Ia bahkan merindukan saat-saat perdebatan mereka! Sekalipun ia hanya dianggap sebagai kelinci eksperimen, Keisha tak peduli. Ia akan membuat cowok itu mengubah pandangannya.
            Keisha terengah-engah ketika bel berbunyi. Ia sudah menelusuri seluruh penjuru sekolah untuk mencari cowok itu. Tapi ia tak ada di mana pun.
            Kemudian, terlintas di pikirannya sebuah tempat. Sebuah tempat yang mungkin didatangi cowok itu! Dengan sisa tenaganya Keisha kembali berlari. Kali ini dengan keyakinan akan menemukan cowok itu
            Keisha sampai di perpustakaan yang sepi dan langsung menuju pojok tersembunyi itu. Ada! Dia ada di sana! Keisha menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Jeremy ada di sana. Dengan punggung tertelungkup dan tangan terlipat di atas meja sebagai pengganti bantal. Pose yang sudah sangat Keisha kenali. Karena Keisha kerap kali mencuri-curi lihat ketika cowok itu tertidur di sana.
            “Gue tau lo udah bangun,” kata Keisha. “Dan berhenti pura-pura tidur, Jeremy,” katanya lagi. Ia menunggu reaksi Jeremy namun cowok itu tetap bergeming.
            “Bangun lo, brengsek!! Banyak hal yang harus lo jelasin ke gue!! Lo berhutang penjelasan sama gue!!” teriak Keisha.
            Keisha langsung mendekati Jeremy dan berteriak di depannya. “Lo harus bangun saat gue bicara sama lo!! Karena nggak ada yang namanya pengulangan Jeremy Aprillio!!”
            Perlahan mata Jeremy terbuka dan Keisha merasa seolah terhisap ke kedalaman mata itu. Keisha tanpa sadar mundur selangkah. Menenangkan debar jantungnya yang kembali menggila. Ia merasa sulit bernapas ketika Jeremy menatapnya langsung seperti itu. Keisha harus menahan napas ketika Jeremy duduk tegak dan menghadap ke arahnya.
            Astaga, kenapa selama ini Keisha bisa tidak menyadari betapa gantengnya Jeremy? Apakah ia buta? Atau ia gila? Keisha tak percaya dirinya sangat dekat dengan cowok di hadapannya ini. Keisha harus menelan ludah saat berbicara.
            “Kenapa lo nggak menceritakan semuanya sama gue? Kenapa lo menunggu supaya semuanya semakin kacau??” tuntut Keisha. “Apa lo senang mempermainkan gue? Apa sebegitu menyenangkannya bagi lo melihat gue menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran lo?!” Keisha bertanya. “Apa lo tau seberapa sering gue bertanya-tanya ke diri gue tentang lo? Apa lo mainin gue? Apa lo serius sama gue? Apa posisi gue di mata lo? Pernah lo berpikir begitu???”
            Keisha menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan menatap Jeremy. “Apa lo cuma bisa diam?” tanyanya lirih.
            “Apa kalau gue jelaskan lo bakal percaya sama gue? Tanpa adanya bukti, gue hanya akan lo anggap sebagai pembohong. Seperti anggapan lo selama ini,” kata Jeremy.
            “Tapi lo nggak pernah bohong! Lo sendiri yang bilang sama gue!” potong Keisha.
            “Dan mana mungkin gue tau lo percaya sama gue di saat lo menjauhi gue?” sahut Jeremy. “Gue harus mencari bukti agar lo percaya sama gue, Kei. Bukti yang pada akhirnya akan membuka mata lo dari kebusukan Renaldi! Sekarang setelah lo tau gimana dia yang sebenarnya, apa lo masih tertarik sama dia?” tanya Jeremy.
            “Gue nggak pernah tertarik sama dia!!! Lo yang bikin gue terpaksa berbohong!! Seandainya lo tau gimana perasaan gue ketika mendengar seorang cewek mengaku-ngaku jadi cewek lo sekalipun itu semua bohong, apa lo pikir gue bisa mengakui kalau gue cemburu!? Kecewa?!” sentak Keisha.“Gue nggak akan bisa mengakui itu. Lo terlalu tau sifat gue bahwa gue nggak suka merasa lemah, dan gue selalu merasa lemah di depan lo! Kenapa lo membuat gue menyadari kalau gue nggak bisa apa-apa tanpa elo? Kenapa lo jadi begitu penting dalam hidup gue?!” teriak Keisha.
            Keisha tak bisa menahan air matanya, jadi ia membuang muka ke arah lain agar Jeremy tak bisa melihatnya menangis. Menangis karena cowok itu! Keisha mendengar suara kursi digeser dan sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Keisha bergeming.
            “Gue nggak pernah berniat bikin lo bingung. Gue hanya melakukan apa yang gue anggap benar. Dan kalaupun itu justru menyakiti elo, gue minta maaf. Sama seperti elo, gue nggak biasa terjebak dalam emosi-emosi yang nggak gue kenali,” kata Jeremy.
            “Apa kali ini lo jujur? Setelah kejadian tadi, gue nggak tau harus memercayai siapa,” kata Keisha lemah. “Lo udah menghancurkan semua tameng yang gue bangun selama ini.”
            “Gue nggak pernah bohong mengenai perasaan gue. Bahkan meskipun butuh waktu lama untuk bikin lo yakin sama gue, gue nggak keberatan unruk membuktikannya.”
            Keisha berbalik dan mendongak ke arah Jeremy. “Lo nggak perlu melakukan hal itu,” bisik Keisha.
            “Gue harus!” tegas Jeremy. “Jika itu satu-satunya cara supaya lo bisa percaya lagi sama gue!”
            Keisha menggeleng dan tersenyum. Ia takkan kuat jika Jeremy bersikap begitu manis padanya. “Gue yakinkan lo nggak perlu melakukannya, Jeremy. Gue udah kalah dari lo,” kata Keisha.
            “Oh ya?” tanya Jeremy tak percaya.
            “Ya, gue kalah sama kegilaan lo! Gue kalah sama perhatian lo, dan gue kalah sama perasaan gue sendiri. Gue udah... jatuh cinta sama lo,” bisik Keisha.
            Jeremy tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia harus meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi. Ia tak mau terbangun dan ternyata semua bukanlah kenyataan.
            “Gue mungkin harus membuktikannya,” gumam Jeremy.
            Ia mengangkat dagu Keisha dan mulai menundukkan kepalanya. Keisha terkesiap ketika menyadari apa yang akan Jeremy lakukan. Ia lantas mendorong wajah cowok itu.
            “Tunggu, tunggu!!” serunya panik.
            “Apa lagi? Ini bukan waktunya untuk mundur Kei,” geram Jeremy.
            Keisha tertawa di sela air matanya. “Gue nggak bermaksud mundur. Hanya saja gue harus mendengar sesuatu dari lo,” kata Keisha.
            “Oh ya? Apa itu kalau gue boleh tau?” tanya Jeremy.
            Keisha mendelik. “Lo nggak akan pura-pura nggak tau sekarang, Jeremy!! Lo tau banget apa yang gue maksud!!” tuntut Keisha.
            Jeremy memutar bola matanya. Kemudian tatapannya berubah serius. “Gue cinta sama elo. Sekarang, besok, dan seterusnya,” kata Jeremy.
            Keisha kembali berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan merasa sebahagia ini ketika mendengarnya langsung dari Jeremy. Hatinya terasa begitu hangat ketika Jeremy menatapnya. Keisha tau Jeremy tulus. Dan itu membuatnya jauh lebih bahagia dari apapun. Ia takkan melepaskan Jeremy. Apapun yang terjadi!
            “Sekarang, boleh gue tunjukkan seberapa seriusnya gue?” tanya Jeremy.
            “Oh, tunggu!” kata Keisha lagi.
            “Nggak ada kata penundaan lagi, Kei! Semua udah terlalu lama berlarut-larut,” kata Jeremy tanpa kompromi lagi. Ia sudah sangat ingin mengklaim Keisha. Ia takkan membiarkan Keisha berubah pikiran. Tidak sekarang ketika seluruh otaknya dipenuhi oleh Keisha.
            “Dalam hitungan ketiga, Kei,” kata Jeremy.
            “Apa?!” seru Keisha ketika Jeremy mulai menghitung. Kemudian memutar bola mata. “Dasar cowok,” gerutunya.
            “Tiga,” kata Jeremy, sampai pada hitungan terkhirnya. Bersamaan dengan Keisha yang berjinjit dan mencium Jeremy setelah sebelumnya mengatakan, “Gue cinta sama elo,” dalam bisikan yang pelan.
            Dan tak perlu pancingan lagi, Jeremy membalas ciuman itu.
            Ketika cinta hadir, takkan ada yang menyadarinya. Ketika cinta itu mengendap, barulah terasa ada yang berubah. Ciuman pertama membangkitkan emosi yang terkungkung...  Ciuman kedua hanya menyemai apa yang pasti akan timbul... Dan pada ciuman ketiga, cinta pun dimulai.



- SELESAI -

1 komentar:

  1. aduh kakak ceritanya keren banget, suka banget sama cerita yang kakak buat,
    pokoknya the best deh :D
    oke kakak, buat cerita yang lainnya ya? :D hehe

    BalasHapus