Senin, 15 April 2013

HIGHSCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #5


Bendera perang telah dikibarkan, genderang telah ditabuh. Kedua kubu sudah siap di tempatnya masing-masing. Keisha dengan topeng ketenangannya yang menipu, sementara Jeremy masih dengan cara manis dan mengintimidasinya. Keduanya mengikuti alur yang telah terjalin.
            Jeremy tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh Keisha. Menilik dari perubahan sikapnya, Jeremy yakin cewek itu sedang mengganti taktik untuk menghadapinya. Hal itu membuat Jeremy makin tertarik dan bertekad untuk mengikuti sampai mana Keisha mampu mengelak sebelum akhirnya kalah.
            Sabtu siang itu, sepulang sekolah, Jeremy pergi ke ruang OSIS. Ia bertanya-tanya bagaimana reaksi Keisha jika melihatnya datang. Mungkin cewek itu akan memasang wajah membunuh. Atau mungkin akan tetap berpura-pura tidak ada yang terjadi. Sedangkan Samuel dan Rafhael menolak datang karena sudah ada urusan masing-masing.
            Jeremy tentu saja tidak mengharapkan kedua temannya akan datang lebih dari sekali, mengingat mereka cuma iseng-iseng mengikutinya. Maka jadilah Jeremy pergi sendiri. Pintu ruang OSIS tertutup. Jeremy melihatnya dari jauh dan sedikit bertanya-tanya, mungkinkah dia terlambat? Makin mendekati ruangan itu, makin dalam kernyitan di kening Jeremy. Kemudian, tinggal beberapa langkah sebelum ia sampai di depan pintu, pintu ruangan itu terbuka dan satu persatu anak-anak OSIS keluar.
            Nah, sekarang Jeremy sadar ada yang tidak beres. Ketika melihat Tristan keluar bersama Keisha, barulah Jeremy menyadari apa yang terjadi. Jeremy merasa dibodohi. Bagaimana ia bisa menelan bulat-bulat kata-kata Keisha? Bahkan ia tak berpikir untuk bertanya langsung pada Tristan! Jeremy tak tau bagaimana perasaannya saat itu. Geli, marah, merasa dikerjai? Sepertinya kali ini dia berhasil dikelabui oleh Keisha. Apalagi ketika melihat senyum di wajah cewek itu. Jeremy makin yakin kalau tebakannya pasti tepat.
            “Woi, gue kira lo nggak datang! Telat banget sih lo? Rapat udah selesai,” kata Tristan sambil berkacak pinggang.
            Jeremy menatap Keisha ketika menjawab. “Yah, sepertinya gue memang terlambat.”
            Keisha tampak menahan senyum kemenangannya, sebagai gantinya ia cuma tersenyum tipis. Membuat Jeremy menaikkan sebelah alis dan melemparkan senyum tanggungnya yang maut banget, membuat senyum di wajah Keisha seketika lenyap.
            “Jadi apa yang gue lewatkan?” tanya Jeremy.
            Ketika Tristan mulai menjelaskan, Jeremy memperhatikan Keisha yang mulai beringsut pergi. Oh, cewek itu tak akan lepas begitu saja. Jeremy berniat meminta kompensasi dari cewek itu begitu urusannya dengan Tristan selesai. Jadi Jeremy membiarkan Keisha pergi membawa kemenangannya. Yang akan Jeremy pastikan tidak akan berlangsung lama.
            “Beberapa hari lagi kita bakal mulai menggalang dana. Gue berniat membagi-bagi anggota OSIS masing-masing dua orang dalam satu kelompok. Dengan begitu bakal lebih efisien. Lo dan teman-teman lo gimana?” tanya Tristan.
            “Samuel dan Rafhael nggak ikut, tapi gue ikut. Dan lo harus memasangkan gue sama Keisha,” sahut Jeremy. Senyum misterius tersungging di bibirnya.
            “Keisha, heh?” sahut Tristan. “Jadi lo mengincar dia sekarang? Berarti lo punya saingan,” kata Tristan.
            “Kalau yang lo maksud adalah cowok yang sering bareng Kei itu, gue nggak nganggep dia saingan. Karena gue belum betul-betul mengincar siapapun. Gue cuma memenuhi rasa penasaran gue,” sahut Jeremy enteng.
            “Jadi sama Keisha? Gue nggak tau dia bakal setuju atau nggak,” Tristan angkat bahu.
            “Kalau lo tanya sama dia, gue yakin dia bakal bilang nggak setuju. Tapi,” Jeremy menekankan, “lo sebagai Ketua OSIS pasti bisa mengambil keputusan tanpa pertimbangan bawahan lo kan?” tantang Jeremy.
            “Sialan lo! Lo berhutang sama gue untuk hal ini,” sahut Tristan. “Oke, bisa gue atur.”
            “Gue cabut dulu. Masih ada urusan yang harus gue selesaikan,” kata Jeremy dan pergi.
            Tristan geleng-geleng kepala. Selama ia mengenal Jeremy, Tristan tau Jeremy akan melakukan apapun untuk memuaskan rasa ingin taunya. Tapi jika hal yang awalnya ia anggap penasaran lama-lama mulai membosankan, maka dapat dipastikan Jeremy akan mencari hal lain yang lebih menarik. Tapi Jeremy jarang tertarik pada cewek. Cewek-ceweklah yang tertarik padanya. Jadi ketika sekarang Jeremy menunjukkan rasa penasarannya terhadap Keisha, Tristan merasa ingin membantu. Lagipula tampaknya kedua orang itu akan saling melengkapi. Yah, berarti Tristan harus memikirkan cara untuk menjauhkan Renaldi dari Keisha.
                                                                        ***
           Keisha membereskan alat-alat tulisnya dengan perasaan puas. Biar saja Jeremy menyadari apa yang ia lakukan. Memangnya cuma cowok itu saja yang bisa mengerjainya? Keisha juga bisa. Mengganti waktu rapat cuma hal kecil dibandingkan dengan apa yang dilakukan Jeremy padanya. Keisha takkan melakukan hal itu jika Jeremy tidak memancing-mancing amarahnya.
            Bahkan mungkin Keisha tak akan melibatkan diri dengan cowok itu. Keisha hanya menginginkan kedamaiannya kembali. Nilai-nilainya mulai mengkhawatirkan dan Keisha ingin berkonsentrasi dalam mengalahkan Jeremy dalam hal prestasi, bukannya dalam konfrontasi langsung seperti yang dilakukan Jeremy. Keisha meraih tasnya dan berbalik, terkesiap ketika mendapati Jeremy sudah berdiri di depannya. Sejak kapan cowok itu ada di sana? Kenapa Keisha tak mendengar suara pintu dibuka dan ditutup? Keisha menekan kepanikannya. Ingat, lo bukan cewek yang labil lagi. Lo udah dididik untuk menjadi mandiri dan dewasa. Lo tidak seharusnya menunjukan kelemahan. Keisha mengingatkan dirinya.
            “Ngapain lo di sini? Bukannya lo sama Tristan?” kata Keisha tenang.
            “Urusan gue dan Tristan udah selesai. Dan sekarang gue mau menyelesaikan satu urusan lain yang belum selesai,” kata Jeremy.
            “Urusan apa? Gue harap nggak berhubungan sama gue. Gue juga sibuk!” sahut Keisha.
            Jeremy angkat bahu, “Kalau lo mau bekerja sama sih urusan itu bakal selesai,” kata Jeremy. Memancing tatapan tajam dari Keisha. Kemudian Jeremy tersenyum. “Gue akui gue kalah tadi. Tapi seperti yang lo tau, gue jarang kalah, jadi gue mau minta pertanggungjawaban lo. Bagaimana pun lo yang bikin gue nggak ikut rapat,” kata Jeremy lagi.
            Keisha mendengus. “Lo salah orang! Lo harusnya ngomong sama Tristan, karena dia yang ngubah jam seenaknya kemarin sore,” sahut Keisha.
            Jeremy terkekeh. “Dia nggak mungkin bisa kasih gue kompensasi,”
            “Kompensasi? Jangan bercanda deh! Buat apa coba? Lo kan bukan anggota OSIS!” ketus Keisha.
            “Tapi sebagian ide gue, jadi gue termasuk orang penting,” kata Jeremy. “Nah, gue pikir lo bakal belajar dari pengalaman bahwa nggak semua hal itu berjalan secara sistematis,” kata Jeremy lagi.
            “Gue nggak mau ngomong sama elo!” kata Keisha dan mendorong Jeremy yang menghalangi jalannya.
            “Kenapa lo nggak mau bicara sama gue? Padahal gue tertarik buat bicara sama lo,” kata Jeremy.
           Keisha berbalik dan menatap tajam pada Jeremy. “Karena gue benci orang macam elo yang mengalahkan gue! Gue kecewa, peringkat 1 ujian masuk malah bersikap acuh kayak elo, sementara gue harus berusaha supaya bisa sampai kayak sekarang!!”
            Jeremy maju selangkah. “Jadi lo juga merasa begitu? Gue pikir cuma gue yang merasa begitu,” kata Jeremy.
            “Apa maksud lo?”
            “Saat melihat papan ujian, gue sebenarnya udah tau gue di posisi atas. Gue nggak punya niat melihatnya, selalu begitu,” kata Jeremy, matanya memerangkap mata Keisha. “Tapi gue berubah pikiran ketika melihat nilai perbandingan di papan itu. Cuma beda satu point, tapi gue merasa senang. Belum ada yang pernah mendekati nilai gue sampai sedekat itu.”
            Jeremy maju lagi hingga jarak di antara mereka tinggal satu rentangan tangan. Jeremy mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Keisha. Keisha bergidik, entah ngeri atau takut. Namun menolak mundur. Jeremy memperpendek jarak di antara mereka lagi dan memainkan anak rambut Keisha yang lepas dari jepitannya.
            “Sejak itu, gue tertarik sama elo. Gue nggak bisa bilang gue tertarik buat jadi pacar lo. Tapi gue memang penasaran sama elo. Seorang cewek, dengan nilai yang hampir melampaui nilai gue. Dengan pribadi yang kompleks,” kata Jeremy lambat-lambat.
            “Lo bohong,” desis Keisha. Meski jelas tatapannya menunjukkan ketidakpercayaan yang sangat besar.
            Keisha sangat terkejut dengan pengakuan Jeremy. Karena bagaimana pun, Keisha pun merasa begitu sejak melihat nama yang menduduki peringkat 1. Sejak itu Keisha selalu mencari tau, siapa, dan bagaimana, orang itu bisa mengalahkannya. Tapi semakin ia mencari tau, semakin ia merasa kecewa setelah tau bagaimana orang yang ia anggap saingan selama ini. Orang itu ternyata tak lebih dari seorang cowok yang egois dan dikelilingi banyak cewek. Sejak itu Keisha bertekad takkan mau kalah lagi dari Jeremy.
            “Gue nggak pernah berbohong. Gue selalu mengatakan apa yang gue pikir benar,” kata Jeremy sambil mengangkat bahu. “Keisha, gue penasaran bagaimana lo bisa menganggap apa yang lo lakuin itu menyenangkan. Nggak ada semangat, nggak membuat jantung berpacu, apa enaknya hidup dalam cangkang?”
            “Ini hidup gue, bukan hidup elo,” kata Keisha.
            “Apa lo nggak penasaran dengan hidup gue? Gue pikir lo selalu mau tau apa yang saingan lo lakukan,” tanya Jeremy.
            “Nggak,” sahut Keisha pelan dan tau bahwa dirinya telah berbohong.
            Jeremy mengangkat wajah Keisha. “Kenapa nggak?” ia tampak penasaran.
            Keisha membalas tatapan Jeremy sejenak sebelum memalingkan wajahnya. “Gue nggak mau tau kehidupan orang yang bisa mencium orang yang nggak disukainya,” kata Keisha. Rahangnya mengeras karena marah.
            Hening sejenak sebelum Jeremy menyentuh pipi Keisha dan menengadahkan wajah gadis itu. “Gue udah bilang gue tertarik sama elo,” kata Jeremy.
            “Tertarik bukanlah alasan yang kuat,” sahut Keisha keras kepala.
            “Kalau begitu apa alasan yang kuat?” tanya Jeremy.
            Keisha terdiam. Menolak menjawab. Karena jujur, ia pun belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Di kepalanya hanya penuh dengan belajar dan mengalahkan Jeremy. Tidak pernah terlintas tentang cinta. Menyebutnya pun tidak pernah. Tapi kini setelah Jeremy mengungkit hal itu, Keisha mulai berpikir. Apa itu cinta? Kenapa orang jatuh cinta?
            “Kei, lo nggak tau kan? Lo nggak tau karena lo belum mengalaminya. Buang topeng kedewasaan lo itu. Lo sama lugunya dengan cewek-cewek lain,” bisik Jeremy.
            “Gue nggak mau lo samakan dengan cewek-cewek lain!!” sentak Keisha. “Gue nggak sama dengan mereka,” tambahnya dengan suara berbisik marah.
            “Nggak. Lo memang berbeda,” kata Jeremy setuju. “Lo nggak sama, karena itulah gue tertarik sama elo.”
            Keisha menggelengkan kepalanya. “Lo bohong,” sahut Keisha.
            “Lo mau bukti kalau gue nggak bohong?”
            Keisha tidak menjawab, hanya mundur selangkah. Namun Jeremy tak membiarkannya. Ia menarik Keisha ke dekatnya. “Gue nggak pernah berbohong,” kata Jeremy tegas sebelum ia mencium Keisha (lagi, seperti yang ia lakukan dalam konfrontasi mereka yang terdahulu).
            Keisha terkesiap dan terhuyung mundur, namun tangan Jeremy di pinggangnya membuat Keisha tak bisa bergerak. Lagi-lagi Keisha terpedaya. Kenapa ia selalu lemah jika berhadapan dengan Jeremy? Kenapa cowok itu mampu mengacaukan hidupnya yang sudah terencana dengan baik? Mengobrak-abriknya hingga Keisha tak mampu menyatukannya kembali? Kalah... Keisha tau ia kalah lagi. Ia kalah oleh rasa penasarannya. Ia kalah oleh pribadinya yang selama ini ia kekang kuat-kuat. Keisha memejamkan mata, membiarkan pikiran tak logisnya mengambil alih. Membiarkan ciuman lembut Jeremy menghancurkan pertahanannya sedikit demi sedikit…
                                                                        ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar