Bendera perang telah dikibarkan, genderang telah
ditabuh. Kedua kubu sudah siap di tempatnya masing-masing. Keisha dengan topeng
ketenangannya yang menipu, sementara Jeremy masih dengan cara manis dan
mengintimidasinya. Keduanya mengikuti alur yang telah terjalin.
Jeremy
tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh Keisha. Menilik dari perubahan
sikapnya, Jeremy yakin cewek itu sedang mengganti taktik untuk menghadapinya.
Hal itu membuat Jeremy makin tertarik dan bertekad untuk mengikuti sampai mana
Keisha mampu mengelak sebelum akhirnya kalah.
Sabtu
siang itu, sepulang sekolah, Jeremy pergi ke ruang OSIS. Ia bertanya-tanya
bagaimana reaksi Keisha jika melihatnya datang. Mungkin cewek itu akan memasang
wajah membunuh. Atau mungkin akan tetap berpura-pura tidak ada yang terjadi.
Sedangkan Samuel dan Rafhael menolak datang karena sudah ada urusan
masing-masing.
Jeremy tentu saja tidak mengharapkan
kedua temannya akan datang lebih dari sekali, mengingat mereka cuma iseng-iseng
mengikutinya. Maka jadilah Jeremy pergi sendiri. Pintu ruang OSIS tertutup.
Jeremy melihatnya dari jauh dan sedikit bertanya-tanya, mungkinkah dia
terlambat? Makin mendekati ruangan itu, makin dalam kernyitan di kening Jeremy.
Kemudian, tinggal beberapa langkah sebelum ia sampai di depan pintu, pintu
ruangan itu terbuka dan satu persatu anak-anak OSIS keluar.
Nah,
sekarang Jeremy sadar ada yang tidak beres. Ketika melihat Tristan keluar
bersama Keisha, barulah Jeremy menyadari apa yang terjadi. Jeremy merasa
dibodohi. Bagaimana ia bisa menelan bulat-bulat kata-kata Keisha? Bahkan ia tak
berpikir untuk bertanya langsung pada Tristan! Jeremy tak tau bagaimana
perasaannya saat itu. Geli, marah, merasa dikerjai? Sepertinya kali ini dia
berhasil dikelabui oleh Keisha. Apalagi ketika melihat senyum di wajah cewek
itu. Jeremy makin yakin kalau tebakannya pasti tepat.
“Woi,
gue kira lo nggak datang! Telat banget sih lo? Rapat udah selesai,” kata
Tristan sambil berkacak pinggang.
Jeremy
menatap Keisha ketika menjawab. “Yah, sepertinya gue memang terlambat.”
Keisha
tampak menahan senyum kemenangannya, sebagai gantinya ia cuma tersenyum tipis.
Membuat Jeremy menaikkan sebelah alis dan melemparkan senyum tanggungnya yang
maut banget, membuat senyum di wajah Keisha seketika lenyap.
“Jadi
apa yang gue lewatkan?” tanya Jeremy.
Ketika
Tristan mulai menjelaskan, Jeremy memperhatikan Keisha yang mulai beringsut
pergi. Oh, cewek itu tak akan lepas begitu saja. Jeremy berniat meminta
kompensasi dari cewek itu begitu urusannya dengan Tristan selesai. Jadi Jeremy
membiarkan Keisha pergi membawa kemenangannya. Yang akan Jeremy pastikan tidak
akan berlangsung lama.
“Beberapa
hari lagi kita bakal mulai menggalang dana. Gue berniat membagi-bagi anggota
OSIS masing-masing dua orang dalam satu kelompok. Dengan begitu bakal lebih
efisien. Lo dan teman-teman lo gimana?” tanya Tristan.
“Samuel
dan Rafhael nggak ikut, tapi gue ikut. Dan lo harus memasangkan gue sama
Keisha,” sahut Jeremy. Senyum misterius tersungging di bibirnya.
“Keisha,
heh?” sahut Tristan. “Jadi lo mengincar dia sekarang? Berarti lo punya
saingan,” kata Tristan.
“Kalau
yang lo maksud adalah cowok yang sering bareng Kei itu, gue nggak nganggep dia
saingan. Karena gue belum betul-betul mengincar siapapun. Gue cuma memenuhi
rasa penasaran gue,” sahut Jeremy enteng.
“Jadi
sama Keisha? Gue nggak tau dia bakal setuju atau nggak,” Tristan angkat bahu.
“Kalau
lo tanya sama dia, gue yakin dia bakal bilang nggak setuju. Tapi,” Jeremy
menekankan, “lo sebagai Ketua OSIS pasti bisa mengambil keputusan tanpa
pertimbangan bawahan lo kan?” tantang Jeremy.
“Sialan
lo! Lo berhutang sama gue untuk hal ini,” sahut Tristan. “Oke, bisa gue atur.”
“Gue
cabut dulu. Masih ada urusan yang harus gue selesaikan,” kata Jeremy dan pergi.
Tristan
geleng-geleng kepala. Selama ia mengenal Jeremy, Tristan tau Jeremy akan
melakukan apapun untuk memuaskan rasa ingin taunya. Tapi jika hal yang awalnya
ia anggap penasaran lama-lama mulai membosankan, maka dapat dipastikan Jeremy
akan mencari hal lain yang lebih menarik. Tapi Jeremy jarang tertarik pada
cewek. Cewek-ceweklah yang tertarik padanya. Jadi ketika sekarang Jeremy
menunjukkan rasa penasarannya terhadap Keisha, Tristan merasa ingin membantu.
Lagipula tampaknya kedua orang itu akan saling melengkapi. Yah, berarti Tristan
harus memikirkan cara untuk menjauhkan Renaldi dari Keisha.
***
Keisha
membereskan alat-alat tulisnya dengan perasaan puas. Biar saja Jeremy menyadari
apa yang ia lakukan. Memangnya cuma cowok itu saja yang bisa mengerjainya?
Keisha juga bisa. Mengganti waktu rapat cuma hal kecil dibandingkan dengan apa
yang dilakukan Jeremy padanya. Keisha takkan melakukan hal itu jika Jeremy
tidak memancing-mancing amarahnya.
Bahkan
mungkin Keisha tak akan melibatkan diri dengan cowok itu. Keisha hanya
menginginkan kedamaiannya kembali. Nilai-nilainya mulai mengkhawatirkan dan Keisha
ingin berkonsentrasi dalam mengalahkan Jeremy dalam hal prestasi, bukannya
dalam konfrontasi langsung seperti yang dilakukan Jeremy. Keisha meraih tasnya
dan berbalik, terkesiap ketika mendapati Jeremy sudah berdiri di depannya.
Sejak kapan cowok itu ada di sana? Kenapa Keisha tak mendengar suara pintu
dibuka dan ditutup? Keisha menekan kepanikannya. Ingat, lo bukan cewek yang
labil lagi. Lo udah dididik untuk menjadi mandiri dan dewasa. Lo tidak
seharusnya menunjukan kelemahan. Keisha mengingatkan dirinya.
“Ngapain
lo di sini? Bukannya lo sama Tristan?” kata Keisha tenang.
“Urusan
gue dan Tristan udah selesai. Dan sekarang gue mau menyelesaikan satu urusan
lain yang belum selesai,” kata Jeremy.
“Urusan
apa? Gue harap nggak berhubungan sama gue. Gue juga sibuk!” sahut Keisha.
Jeremy
angkat bahu, “Kalau lo mau bekerja sama sih urusan itu bakal selesai,” kata
Jeremy. Memancing tatapan tajam dari Keisha. Kemudian Jeremy tersenyum. “Gue
akui gue kalah tadi. Tapi seperti yang lo tau, gue jarang kalah, jadi gue mau
minta pertanggungjawaban lo. Bagaimana pun lo yang bikin gue nggak ikut rapat,”
kata Jeremy lagi.
Keisha
mendengus. “Lo salah orang! Lo harusnya ngomong sama Tristan, karena dia yang
ngubah jam seenaknya kemarin sore,” sahut Keisha.
Jeremy
terkekeh. “Dia nggak mungkin bisa kasih gue kompensasi,”
“Kompensasi?
Jangan bercanda deh! Buat apa coba? Lo kan bukan anggota OSIS!” ketus Keisha.
“Tapi
sebagian ide gue, jadi gue termasuk orang penting,” kata Jeremy. “Nah, gue
pikir lo bakal belajar dari pengalaman bahwa nggak semua hal itu berjalan
secara sistematis,” kata Jeremy lagi.
“Gue
nggak mau ngomong sama elo!” kata Keisha dan mendorong Jeremy yang menghalangi
jalannya.
“Kenapa
lo nggak mau bicara sama gue? Padahal gue tertarik buat bicara sama lo,” kata
Jeremy.
Keisha
berbalik dan menatap tajam pada Jeremy. “Karena gue benci orang macam elo yang
mengalahkan gue! Gue kecewa, peringkat 1 ujian masuk malah bersikap acuh kayak
elo, sementara gue harus berusaha supaya bisa sampai kayak sekarang!!”
Jeremy
maju selangkah. “Jadi lo juga merasa begitu? Gue pikir cuma gue yang merasa
begitu,” kata Jeremy.
“Apa
maksud lo?”
“Saat
melihat papan ujian, gue sebenarnya udah tau gue di posisi atas. Gue nggak
punya niat melihatnya, selalu begitu,” kata Jeremy, matanya memerangkap mata
Keisha. “Tapi gue berubah pikiran ketika melihat nilai perbandingan di papan
itu. Cuma beda satu point, tapi gue merasa senang. Belum ada yang pernah
mendekati nilai gue sampai sedekat itu.”
Jeremy
maju lagi hingga jarak di antara mereka tinggal satu rentangan tangan. Jeremy
mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Keisha. Keisha bergidik, entah ngeri atau
takut. Namun menolak mundur. Jeremy memperpendek jarak di antara mereka lagi
dan memainkan anak rambut Keisha yang lepas dari jepitannya.
“Sejak
itu, gue tertarik sama elo. Gue nggak bisa bilang gue tertarik buat jadi pacar
lo. Tapi gue memang penasaran sama elo. Seorang cewek, dengan nilai yang hampir
melampaui nilai gue. Dengan pribadi yang kompleks,” kata Jeremy lambat-lambat.
“Lo
bohong,” desis Keisha. Meski jelas tatapannya menunjukkan ketidakpercayaan yang
sangat besar.
Keisha
sangat terkejut dengan pengakuan Jeremy. Karena bagaimana pun, Keisha pun
merasa begitu sejak melihat nama yang menduduki peringkat 1. Sejak itu Keisha
selalu mencari tau, siapa, dan bagaimana, orang itu bisa mengalahkannya. Tapi
semakin ia mencari tau, semakin ia merasa kecewa setelah tau bagaimana orang
yang ia anggap saingan selama ini. Orang itu ternyata tak lebih dari seorang
cowok yang egois dan dikelilingi banyak cewek. Sejak itu Keisha bertekad takkan
mau kalah lagi dari Jeremy.
“Gue
nggak pernah berbohong. Gue selalu mengatakan apa yang gue pikir benar,” kata
Jeremy sambil mengangkat bahu. “Keisha, gue penasaran bagaimana lo bisa menganggap
apa yang lo lakuin itu menyenangkan. Nggak ada semangat, nggak membuat jantung
berpacu, apa enaknya hidup dalam cangkang?”
“Ini
hidup gue, bukan hidup elo,” kata Keisha.
“Apa
lo nggak penasaran dengan hidup gue? Gue pikir lo selalu mau tau apa yang saingan
lo lakukan,” tanya Jeremy.
“Nggak,”
sahut Keisha pelan dan tau bahwa dirinya telah berbohong.
Jeremy
mengangkat wajah Keisha. “Kenapa nggak?” ia tampak penasaran.
Keisha
membalas tatapan Jeremy sejenak sebelum memalingkan wajahnya. “Gue nggak mau
tau kehidupan orang yang bisa mencium orang yang nggak disukainya,” kata
Keisha. Rahangnya mengeras karena marah.
Hening
sejenak sebelum Jeremy menyentuh pipi Keisha dan menengadahkan wajah gadis itu.
“Gue udah bilang gue tertarik sama elo,” kata Jeremy.
“Tertarik
bukanlah alasan yang kuat,” sahut Keisha keras kepala.
“Kalau
begitu apa alasan yang kuat?” tanya Jeremy.
Keisha
terdiam. Menolak menjawab. Karena jujur, ia pun belum pernah memikirkan hal itu
sebelumnya. Di kepalanya hanya penuh dengan belajar dan mengalahkan Jeremy.
Tidak pernah terlintas tentang cinta. Menyebutnya pun tidak pernah. Tapi kini
setelah Jeremy mengungkit hal itu, Keisha mulai berpikir. Apa itu cinta? Kenapa
orang jatuh cinta?
“Kei,
lo nggak tau kan? Lo nggak tau karena lo belum mengalaminya. Buang topeng
kedewasaan lo itu. Lo sama lugunya dengan cewek-cewek lain,” bisik Jeremy.
“Gue
nggak mau lo samakan dengan cewek-cewek lain!!” sentak Keisha. “Gue nggak sama
dengan mereka,” tambahnya dengan suara berbisik marah.
“Nggak.
Lo memang berbeda,” kata Jeremy setuju. “Lo nggak sama, karena itulah gue
tertarik sama elo.”
Keisha
menggelengkan kepalanya. “Lo bohong,” sahut Keisha.
“Lo
mau bukti kalau gue nggak bohong?”
Keisha
tidak menjawab, hanya mundur selangkah. Namun Jeremy tak membiarkannya. Ia
menarik Keisha ke dekatnya. “Gue nggak pernah berbohong,” kata Jeremy tegas
sebelum ia mencium Keisha (lagi, seperti yang ia lakukan dalam konfrontasi
mereka yang terdahulu).
Keisha
terkesiap dan terhuyung mundur, namun tangan Jeremy di pinggangnya membuat
Keisha tak bisa bergerak. Lagi-lagi Keisha terpedaya. Kenapa ia selalu lemah
jika berhadapan dengan Jeremy? Kenapa cowok itu mampu mengacaukan hidupnya yang
sudah terencana dengan baik? Mengobrak-abriknya hingga Keisha tak mampu menyatukannya
kembali? Kalah... Keisha tau ia kalah lagi. Ia kalah oleh rasa penasarannya. Ia
kalah oleh pribadinya yang selama ini ia kekang kuat-kuat. Keisha memejamkan
mata, membiarkan pikiran tak logisnya mengambil alih. Membiarkan ciuman lembut
Jeremy menghancurkan pertahanannya sedikit demi sedikit…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar