Bel pulang baru saja berdering. Keisha sudah
bersiap-siap untuk pergi ke ruang OSIS. Di jalan dia berpapasan dengan Renaldi,
jadi mereka pun bersama-sama menuju ruang OSIS. Keisha masuk lebih dulu,
langsung menuju tempat duduk yang masih kosong dan meletakkan tasnya. Kemudian
barulah ia melihat ke sekelilingnya. Matanya terpaku dan langsung melebar ke
satu titik. Tidak mungkin!
Keisha
menutup mata dan memijit dahinya. Dia pasti berhalusinasi. Kemudian ia membuka
mata dan cowok itu masih di sana. Kemarahan langsung membakarnya. Membuat
Keisha menatap dingin pada cowok yang sedang bersandar santai di dinding tepat
di seberang tempt Keisha duduk.
Tristan
duduk di ujung meja dan memulai rapatnya. Kemudian menjelaskan tentang
keberadan tiga orang tambahan yang ada di sana. Keisha baru menyadari keberadan
Samuel dan Rafhael ketika Tristan menyinggung hal itu. Tristan menjelaskan
kalau Jeremy itu dulu adalah calon terkuat sebagai Ketua OSIS tapi ia mundur.
Sekarang ia ada di sana untuk ikut menggalang dana yang nanti akan disumbangkan
pada anak yatim piatu dan juga sebagai sponsor dalam melengkapi
kekurangan-kekurangan yang mungkin akan ada dalam rencana mereka.
Keisha
hampir-hampir tidak mendengar penjelasan dari Tristan. Matanya terpaku pada
Jeremy dan tidak pernah lepas. Menentang tatapan cowok itu dengan penuh
kemarahan. Panggilan Tristan menginterupsi Keisha. Ia kemudian berdiri dan
membacakan hasil risetnya mengenai tempat-tempat yang bisa mereka datangi dan
apa yang bisa mereka lakukan guna menggalang dana amal. Setelah itu Keisha
kembali duduk. Kali ini ia menolak memandang Jeremy dan menyibukkan dirinya
mengikuti rapat.
Sejam
kemudian rapat selesai dan akan dilanjutkan di lain waktu. Keisha segera
membereskan berkas-berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia juga segera
melesat keluar dari ruang OSIS secepat yang ia bisa. Sayangnya ia tetap tak
bisa mengalahkan kecepatan Jeremy. Cowok itu sudah menunggunya di luar dan
langsung menarik tangannya sehingga ia berdiri di sebelah cowok itu.
Jeremy
membuat semuanya senormal mungkin dengan melemparkan senyum kepada setiap
anggota OSIS yang melewati mereka. Kepada kedua temannya ia mengatakan agar
pulang duluan karena ia ingin membicarakan mengenai cara-cara yang bisa
dilakukan untuk penggalangan dana dengan Keisha. Rafhael dan Samuel tidak
curiga sedikit pun dan pulang lebih dulu. Dua orang terakhir yang keluar dari
ruang OSIS adalah Tristan dan Renaldi.
“Lho,
Kei, belum pulang? Mau bareng?” tawar Renaldi, setelah mengangguk singkat pada
Jeremy.
“Gue...”
“Keisha
pulang bareng gue,” potong Jeremy. Ia tak menjelaskan lebih lanjut dan hanya
melemparkan senyuman ke arah Renaldi.
“Oh,
ya udah, gue duluan ya,” kata Renaldi mengangguk dan pergi. Keisha hendak
menyusul pergi, tapi genggaman tangan Jeremy membuatnya tak bisa ke mana-mana.
Kemudian
Tristan menyusul keluar dari dalam ruangan. Reaksinya tak jauh beda dengan
Renaldi, tapi mengingat bahwa ia berurusan dengan Jeremy, Tristan mengerti
lebih cepat. Ia menyeringai dan melambaikan tangan ketika pergi. Tanpa bertanya
apa-apa.
Keisha
berusaha menyentakkan tangannya lagi, namun pegangan Jeremy tidak juga
mengendur.
“Mau
lo apa sih?! Buat apa lo ganggu hidup gue?!” kata Keisha kesal.
“Kan
di awal udah gue bilang, gue penasaran dengan cara hidup lo. Dan gue akan
mengajarkan apa itu hidup sama lo,” kata Jeremy dengan tak berdosa.
“Kalau
lo begitu penasaran, kenapa nggak lo coba aja sendiri?! Jangan libatkan gue!!”
“Sebuah
eksperimen nggak akan berhasil kalau nggak ada kelinci percobaannya,” kata
Jeremy.
Keisha
membelalak. “Jadi lo mau jadiin gue kelinci percobaan??!” amarah Keisha
meledak. Ia menyentak lepas tangannya dari genggaman Jeremy. Kemudian
menudingkan jarinya tepat di depan wajah Jeremy.
“Dengar,
gue sama sekali nggak mau berurusan sama orang macam elo!! Orang yang
menggampangkan hidup karena lo punya segalanya! Perlu lo tau, di luar sana
masih banyak orang yang jauh lebih baik dari elo!!” bentak Keisha.
Jeremy
tak terpengaruh. “Maksud lo cowok bernama Renaldi tadi? Apa itu yang lo maksud
lebih baik ketimbang gue?”
“Ya,
dia jauh lebih baik ketimbang elo!” sahut Keisha marah, meski dia tak tau apa
hubungan Renaldi dengan alasan Jeremy muncul di ruang OSIS siang itu.
“Kalau
begitu, apa lo mau bertaruh sama gue? Menurut lo, apa gue bisa bikin lo berubah
pikiran dan jatuh cinta sama gue?” tanya Jeremy dengan senyum tanggungnya.
Keisha
memicingkan mata. “Gue nggak akan jatuh cinta sama elo!” tegas Keisha.
Jeremy
menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar santai di dinding. “Kalau gitu
lo setuju? Kita taruhan seberapa lama lo bisa tahan buat membohongi diri lo
sendiri,” tantang Jeremy.
“Gue
nggak akan menyetujui apapun!” tukas Keisha dan berbalik pergi. Tapi Jeremy
menangkap pinggang cewek itu dan menariknya ke dalam pelukan. Ini seperti
sebuah deja vu buat Keisha. Tubuhnya seketika kaku dan ia menatap marah pada
Jeremy.
Jeremy
menunduk dan berbisik di telinga Keisha. “Lo punya waktu sebulan buat lari dari
gue. Tapi gue pastikan di hari terakhir lo akan berubah pikiran sama sekali,” kata
Jeremy. Kemudian ia mengecup pipi Keisha dan kembali menegakkan tubuhnya.
Melihat reaksi apa yang baru saja ia timbulkan dan tersenyum tipis ketika
melihat kilat kemarahan bercampur kaget di mata Keisha.
“See you,” ucapnya lembut dan
meninggalkan Keisha.
Keisha
masih tak percaya pada apa yang barusan terjadi. Lagi-lagi ia terpedaya! Betapa
mudahnya ia masuk ke dalam perangkap cowok itu. Meski sudah berusaha menjauh
dan menghindar, cowok itu tetap mendatanginya seperti parasit. Dalam
kemarahannya Keisha mengambil keputusan nekat. Kalau memang Jeremy mau
bermain-main, maka ok, dia akan turut ambil bagian. Keisha akan buktikan kalau
cowok itu salah!
Akan
tetapi kenyataan seolah tak mau sejalan dengan harapan Keisha. Di saat ia telah
membulatkan tekad untuk melawan Jeremy dalam permainan yang dibuat oleh cowok
itu, ia malah mendapati masalah lain di depan matanya.
Keisha
menatap muram nilai-nilai di tangannya. Sungguh sial, nilainya turun lagi.
Barusan pak guru menegurnya karena Keisha tak seperti biasanya. Keisha pun
beralasan kalau ia sedang tidak enak badan. Untung pak guru percaya. Keisha
lalu meninggalkan ruang guru dan bergabung bersama Linzie dan Chika di kantin.
Kedua temannya sedang terlibat percakapan seru ketika Keisha menghempaskan diri
di salah satu kursi yang masih kosong. Percakapan itu langsung terhenti.
“Kenapa
lo?” tanya Linzie ingin tau.
“Nilai
gue turun,” sahut Keisha sambil mendesah.
“Ah,
lo ini... nilai turun aja kayak dunia bakal kiamat,” sahut Linzie.
“Iya,
Kei. Nilai kan bisa dinaikkan lagi. Chika aja sampai sekarang masih dapat nilai
pas-pasan,” sahut Chika juga.
“Gue
nggak biasa aja. Lo berdua kan tau, pelajaran adalah salah satu keahlian gue.
Gue nggak suka kalah dalam hal yang gue sukai,” kata Keisha.
“Kalah
dari apa? Memangnya ada yang bisa ngalahin lo dalam hal pelajaran?” tanya
Linzie.
“Sayangnya
ada, Zi. Dan lo mungkin nggak bakal percaya kalau gue kasih tau,” kata Keisha
datar.
Ketika
Linzie akan bertanya lebih lanjut, Samuel muncul. Dan cowok itu langsung
menempel pada Linzie. Linzie sampai terpaksa harus mendelik ke arah cowoknya
itu agar menjaga sikap. Kemudian kembali beralih pada Keisha.
“Lo
serius? Siapa?” tanya Linzie tak percaya.
“Lo
tanya aja cowok lo,” kata Keisha datar.
Linzie
menoleh ke arah Samuel. “Lo yang ngalahin Keisha?” tanyanya tak percaya.
Membuat
Keisha memutar bola matanya. “Bukan dia, Zi,” kata Keisha dongkol.
“Kalian
lagi ngomongin apa sih?” tanya Samuel.
“Kita
lagi ngomongin soal nilai Keisha yang turun. Gue nggak percaya kalau ada yang
bisa mengalahkan Keisha dalam hal pelajaran!” jelas Linzie nggak sabar.
“Ohh...”
Samuel mengangguk-angguk mengerti. Kemudian ia tersenyum. “Zizi sayang, kalau
lo lagi ngomongin orang yang paling pintar di Plaga, lo sebenarnya lagi
ngomongin sahabat gue,” kata Samuel manis.
“Yang
mana?” tanya Chika. “Rafha atau Jemy?”
“Jeremylah!
Begitu-begitu dia juara 1 umum lho! Terus nggak pernah turun peringkat,
meskipun gue belum pernah lihat dia megang buku selain majalah otomotif sih,” kata
Samuel.
“Hah???
Jeremy?? Serius donk lo!” seru Linzie nggak percaya.
“Gue
serius, Cinta. Ngapain juga gue bohong coba?” kata Samuel. Kemudian Samuel
menangkap tatapan dingin Keisha dan menelan ludah gugup. “Ya... yah, pernah sih
sekali dua kali dia kelihatan serius,” kata Samuel. Namun dia tidak bilang
serius dalam hal apa. Dia nggak mau dimutilasi oleh tatapan Keisha yang tampak
mau bunuh orang itu.
“Oh
iya! Ngomong-ngomong apa hubungan lo sama Jeremy? Lo pacaran sama dia?” kata
Samuel.
Berniat
mengalihkan topik pembicaraan, namun sayang dia malah mengambil topik yang
lebih berbahaya. Dan seolah kurang buruk saja, si objek pembicaraan muncul
dengan Rafhael di belakangnya. Samuel mengerang dan membenturkan kepalanya di
atas meja. Mati gue! batinnya. Ia tak
berani mengangkat kepala karena takut melihat percikan-percikan api yang mungkin
saja sedang tercipta akibat ulahnya.
“Lagi
ngumpul nih,” suara Jeremy memecah keheningan yang tak menyenangkan itu.
“Gue
malah merasa bakal ada yang dimakamin,” komentar Rafhael.
Samuel
mengerang lagi, membuat Linzie menendang kakinya dari bawah meja.
“Lo
mau gabung juga?”
Kelima
pasang mata yang ada di sana langsung menoleh ke arah yang sama. Samuel
langsung tegak, Linzie menganga, Rafhael merasa salah dengar, sedangkan Chika
mengerjap-ngerjap kaget. Cuma Jeremy yang menaikkan alisnya. Jelas saja mereka
kaget. Ajakan itu datang dari orang yang paling tidak mungkin mengajukannya!
Keisha
balas menaikkan sebelah alisnya, menunggu tanggapan. Kemudian Jeremy angkat
bahu dan menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Keisha. Rafhael
mengambil tempat yang tersisa yakni di samping Chika.
Keheningan
kembali merebak dan lagi-lagi kalimat pemecah keheningan itu datang dari
Keisha. “Gue rasa ide yang disampaikan Tristan itu sepenuhnya datang dari lo
kan?” kata Keisha.
“Ya,
gitu deh. Dia diskusi sama gue, jadi gue kasih solusi,” sahut Jeremy. Ia
mengambil sekaleng pepsi dari atas meja dan membukanya.
Keisha
menahan keinginannya untuk mendengus, sebaliknya ia malah tersenyum. Senyum
yang bikin Samuel, bahkan Rafhael juga, merasa merinding. Aneh rasanya kalau
Jeremy justru sangat santai.
“Not bad, ide yang bagus. Lebih bagus
lagi kalau lo juga mau turun ke lapangan,” sahut Keisha.
“Yah,
gue pikir-pikir dulu. Tapi gue memang ada rencana begitu,” kata Jeremy,
mengembalikan senyum Keisha dengan sebuah senyum tanggungnya yang sudah
melegenda.
Jeremy
tidak tau permainan apa yang sedang dilakoni Keisha, namun ia bertekad untuk
mengikutinya. Karena tampaknya cukup menarik. Ia bisa kembali ke jalur awal
jika ternyata permainan yang sedang dirajut Keisha ini melenceng dari
tujuannya.
Keisha
bangkit dari duduknya. “Kalau gitu mungkin lo mau tau kapan rapat OSIS diadakan
lagi. Itu kalau lo mau ikut,” kata Keisha sembari mengulas senyum penuh
tantangan. “Sabtu siang, pulang sekolah,” tambahnya. Kemudian dia meninggalkan
meja itu. Meninggalkan beberapa orang yang langsung menarik napas lega.
Jeremy
menatap geli ke arah dua temannya. “Lo semua kenapa sih? Kayak bakal digantung
aja,” kata Jeremy.
“Gue
nyaris dimutilasi, lo tau!!” seru Samuel. “Gila, lo datang disaat yang sangat
TEPAT! Gue kira bakal pecah perang,” kata Samuel bersungut-sungut.
“Perang?
Kok kedengarannya gawat sih?” sahut Chika tak mengerti. “Memang siapa yang mau
perang??” lanjutnya.
Rafhael
memijat pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut. “Eh, Lemot, lo nggak bisa
ngerasain, apa? Betapa aneh dan dipaksainnya pembicaraan tadi??” sahutnya.
“Chika
nggak lemot!!” seru Chika. “Chika memang nggak lihat ada bendera perang yang
dikibarkan, nggak ada yang nabuh genderang juga!” sahut Chika.
“Oh,
ya, lo nggak lemot, tapi tulalit! Teman lo tuh pingin ngebunuh tau!”sahut
Rafhael keki.
“Keisha
tuh baik hati tau!! Lo jangan ngarang gitu donk!!” seru Chika nggak terima.
Maka
dimulailah perang mulut antara Chika Vs Rafhael yang membuat Jeremy makin geli.
Sementara Linzie dan Samuel sudah tutup telinga karena tak mau jadi tuli.
Perhatian seisi kantin jadi terpusat pada mereka akibat perdebatan ala anak TK
yang dilakukan oleh Raafhael dan Chika. Jeremy yang tak mau ambil bagian jadi
pusat perhatian pun undur diri secara diam-diam. Ada hal yang harus dia
lakukan. Beberapa rencana harus direvisi dan dia juga harus menelaah sikap
konfrontasi tak langsung yang di ajukan Keisha tadi. Hmm... Banyak hal yang
harus dipikirkan.
Sementara
itu, Keisha setengah mati menahan keinginan untuk mencekik Jeremy saat cowok
itu muncul di depannya tadi. Suatu mukjizat dia bisa menampilkan sisi tenangnya
di saat dia sangat ingin mencekik leher Jeremy sehingga senyum angkuh itu
lenyap. Namun Keisha mengingatkan dirinya. Tenang, Keisha. Permainan baru
dimulai. Belum saatnya membuka semua kartu di tangan. Biar saja cowok itu
menebak-nebak rencananya. Supaya dia tau bagaimana rasanya sulit tidur karena
penasaran!!
***
Merit Casino: Play at the best online casino in CA - California
BalasHapusIn the online casino world, it's septcasino like a Vegas-style gambling destination. With many different games, each player will 메리트카지노 be able 카지노사이트 to decide