Senin, 15 April 2013

HIGHSCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #4


Bel pulang baru saja berdering. Keisha sudah bersiap-siap untuk pergi ke ruang OSIS. Di jalan dia berpapasan dengan Renaldi, jadi mereka pun bersama-sama menuju ruang OSIS. Keisha masuk lebih dulu, langsung menuju tempat duduk yang masih kosong dan meletakkan tasnya. Kemudian barulah ia melihat ke sekelilingnya. Matanya terpaku dan langsung melebar ke satu titik. Tidak mungkin!
            Keisha menutup mata dan memijit dahinya. Dia pasti berhalusinasi. Kemudian ia membuka mata dan cowok itu masih di sana. Kemarahan langsung membakarnya. Membuat Keisha menatap dingin pada cowok yang sedang bersandar santai di dinding tepat di seberang tempt Keisha duduk.
            Tristan duduk di ujung meja dan memulai rapatnya. Kemudian menjelaskan tentang keberadan tiga orang tambahan yang ada di sana. Keisha baru menyadari keberadan Samuel dan Rafhael ketika Tristan menyinggung hal itu. Tristan menjelaskan kalau Jeremy itu dulu adalah calon terkuat sebagai Ketua OSIS tapi ia mundur. Sekarang ia ada di sana untuk ikut menggalang dana yang nanti akan disumbangkan pada anak yatim piatu dan juga sebagai sponsor dalam melengkapi kekurangan-kekurangan yang mungkin akan ada dalam rencana mereka.
            Keisha hampir-hampir tidak mendengar penjelasan dari Tristan. Matanya terpaku pada Jeremy dan tidak pernah lepas. Menentang tatapan cowok itu dengan penuh kemarahan. Panggilan Tristan menginterupsi Keisha. Ia kemudian berdiri dan membacakan hasil risetnya mengenai tempat-tempat yang bisa mereka datangi dan apa yang bisa mereka lakukan guna menggalang dana amal. Setelah itu Keisha kembali duduk. Kali ini ia menolak memandang Jeremy dan menyibukkan dirinya mengikuti rapat.
            Sejam kemudian rapat selesai dan akan dilanjutkan di lain waktu. Keisha segera membereskan berkas-berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia juga segera melesat keluar dari ruang OSIS secepat yang ia bisa. Sayangnya ia tetap tak bisa mengalahkan kecepatan Jeremy. Cowok itu sudah menunggunya di luar dan langsung menarik tangannya sehingga ia berdiri di sebelah cowok itu.
            Jeremy membuat semuanya senormal mungkin dengan melemparkan senyum kepada setiap anggota OSIS yang melewati mereka. Kepada kedua temannya ia mengatakan agar pulang duluan karena ia ingin membicarakan mengenai cara-cara yang bisa dilakukan untuk penggalangan dana dengan Keisha. Rafhael dan Samuel tidak curiga sedikit pun dan pulang lebih dulu. Dua orang terakhir yang keluar dari ruang OSIS adalah Tristan dan Renaldi.
            “Lho, Kei, belum pulang? Mau bareng?” tawar Renaldi, setelah mengangguk singkat pada Jeremy.
            “Gue...”
            “Keisha pulang bareng gue,” potong Jeremy. Ia tak menjelaskan lebih lanjut dan hanya melemparkan senyuman ke arah Renaldi.
            “Oh, ya udah, gue duluan ya,” kata Renaldi mengangguk dan pergi. Keisha hendak menyusul pergi, tapi genggaman tangan Jeremy membuatnya tak bisa ke mana-mana.
            Kemudian Tristan menyusul keluar dari dalam ruangan. Reaksinya tak jauh beda dengan Renaldi, tapi mengingat bahwa ia berurusan dengan Jeremy, Tristan mengerti lebih cepat. Ia menyeringai dan melambaikan tangan ketika pergi. Tanpa bertanya apa-apa.
            Keisha berusaha menyentakkan tangannya lagi, namun pegangan Jeremy tidak juga mengendur.
            “Mau lo apa sih?! Buat apa lo ganggu hidup gue?!” kata Keisha kesal.
            “Kan di awal udah gue bilang, gue penasaran dengan cara hidup lo. Dan gue akan mengajarkan apa itu hidup sama lo,” kata Jeremy dengan tak berdosa.
            “Kalau lo begitu penasaran, kenapa nggak lo coba aja sendiri?! Jangan libatkan gue!!”
            “Sebuah eksperimen nggak akan berhasil kalau nggak ada kelinci percobaannya,” kata Jeremy.
            Keisha membelalak. “Jadi lo mau jadiin gue kelinci percobaan??!” amarah Keisha meledak. Ia menyentak lepas tangannya dari genggaman Jeremy. Kemudian menudingkan jarinya tepat di depan wajah Jeremy.
            “Dengar, gue sama sekali nggak mau berurusan sama orang macam elo!! Orang yang menggampangkan hidup karena lo punya segalanya! Perlu lo tau, di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih baik dari elo!!” bentak Keisha.
            Jeremy tak terpengaruh. “Maksud lo cowok bernama Renaldi tadi? Apa itu yang lo maksud lebih baik ketimbang gue?”
            “Ya, dia jauh lebih baik ketimbang elo!” sahut Keisha marah, meski dia tak tau apa hubungan Renaldi dengan alasan Jeremy muncul di ruang OSIS siang itu.
            “Kalau begitu, apa lo mau bertaruh sama gue? Menurut lo, apa gue bisa bikin lo berubah pikiran dan jatuh cinta sama gue?” tanya Jeremy dengan senyum tanggungnya.
            Keisha memicingkan mata. “Gue nggak akan jatuh cinta sama elo!” tegas Keisha.
            Jeremy menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar santai di dinding. “Kalau gitu lo setuju? Kita taruhan seberapa lama lo bisa tahan buat membohongi diri lo sendiri,” tantang Jeremy.
            “Gue nggak akan menyetujui apapun!” tukas Keisha dan berbalik pergi. Tapi Jeremy menangkap pinggang cewek itu dan menariknya ke dalam pelukan. Ini seperti sebuah deja vu buat Keisha. Tubuhnya seketika kaku dan ia menatap marah pada Jeremy.
            Jeremy menunduk dan berbisik di telinga Keisha. “Lo punya waktu sebulan buat lari dari gue. Tapi gue pastikan di hari terakhir lo akan berubah pikiran sama sekali,” kata Jeremy. Kemudian ia mengecup pipi Keisha dan kembali menegakkan tubuhnya. Melihat reaksi apa yang baru saja ia timbulkan dan tersenyum tipis ketika melihat kilat kemarahan bercampur kaget di mata Keisha.
            See you,” ucapnya lembut dan meninggalkan Keisha.
            Keisha masih tak percaya pada apa yang barusan terjadi. Lagi-lagi ia terpedaya! Betapa mudahnya ia masuk ke dalam perangkap cowok itu. Meski sudah berusaha menjauh dan menghindar, cowok itu tetap mendatanginya seperti parasit. Dalam kemarahannya Keisha mengambil keputusan nekat. Kalau memang Jeremy mau bermain-main, maka ok, dia akan turut ambil bagian. Keisha akan buktikan kalau cowok itu salah!
            Akan tetapi kenyataan seolah tak mau sejalan dengan harapan Keisha. Di saat ia telah membulatkan tekad untuk melawan Jeremy dalam permainan yang dibuat oleh cowok itu, ia malah mendapati masalah lain di depan matanya.
            Keisha menatap muram nilai-nilai di tangannya. Sungguh sial, nilainya turun lagi. Barusan pak guru menegurnya karena Keisha tak seperti biasanya. Keisha pun beralasan kalau ia sedang tidak enak badan. Untung pak guru percaya. Keisha lalu meninggalkan ruang guru dan bergabung bersama Linzie dan Chika di kantin. Kedua temannya sedang terlibat percakapan seru ketika Keisha menghempaskan diri di salah satu kursi yang masih kosong. Percakapan itu langsung terhenti.
            “Kenapa lo?” tanya Linzie ingin tau.
            “Nilai gue turun,” sahut Keisha sambil mendesah.
            “Ah, lo ini... nilai turun aja kayak dunia bakal kiamat,” sahut Linzie.
            “Iya, Kei. Nilai kan bisa dinaikkan lagi. Chika aja sampai sekarang masih dapat nilai pas-pasan,” sahut Chika juga.
            “Gue nggak biasa aja. Lo berdua kan tau, pelajaran adalah salah satu keahlian gue. Gue nggak suka kalah dalam hal yang gue sukai,” kata Keisha.
            “Kalah dari apa? Memangnya ada yang bisa ngalahin lo dalam hal pelajaran?” tanya Linzie.
            “Sayangnya ada, Zi. Dan lo mungkin nggak bakal percaya kalau gue kasih tau,” kata Keisha datar.
            Ketika Linzie akan bertanya lebih lanjut, Samuel muncul. Dan cowok itu langsung menempel pada Linzie. Linzie sampai terpaksa harus mendelik ke arah cowoknya itu agar menjaga sikap. Kemudian kembali beralih pada Keisha.
            “Lo serius? Siapa?” tanya Linzie tak percaya.
            “Lo tanya aja cowok lo,” kata Keisha datar.
            Linzie menoleh ke arah Samuel. “Lo yang ngalahin Keisha?” tanyanya tak percaya.
            Membuat Keisha memutar bola matanya. “Bukan dia, Zi,” kata Keisha dongkol.
            “Kalian lagi ngomongin apa sih?” tanya Samuel.
            “Kita lagi ngomongin soal nilai Keisha yang turun. Gue nggak percaya kalau ada yang bisa mengalahkan Keisha dalam hal pelajaran!” jelas Linzie nggak sabar.
            “Ohh...” Samuel mengangguk-angguk mengerti. Kemudian ia tersenyum. “Zizi sayang, kalau lo lagi ngomongin orang yang paling pintar di Plaga, lo sebenarnya lagi ngomongin sahabat gue,” kata Samuel manis.
            “Yang mana?” tanya Chika. “Rafha atau Jemy?”
            “Jeremylah! Begitu-begitu dia juara 1 umum lho! Terus nggak pernah turun peringkat, meskipun gue belum pernah lihat dia megang buku selain majalah otomotif sih,” kata Samuel.
            “Hah??? Jeremy?? Serius donk lo!” seru Linzie nggak percaya.
            “Gue serius, Cinta. Ngapain juga gue bohong coba?” kata Samuel. Kemudian Samuel menangkap tatapan dingin Keisha dan menelan ludah gugup. “Ya... yah, pernah sih sekali dua kali dia kelihatan serius,” kata Samuel. Namun dia tidak bilang serius dalam hal apa. Dia nggak mau dimutilasi oleh tatapan Keisha yang tampak mau bunuh orang itu.
            “Oh iya! Ngomong-ngomong apa hubungan lo sama Jeremy? Lo pacaran sama dia?” kata Samuel.
            Berniat mengalihkan topik pembicaraan, namun sayang dia malah mengambil topik yang lebih berbahaya. Dan seolah kurang buruk saja, si objek pembicaraan muncul dengan Rafhael di belakangnya. Samuel mengerang dan membenturkan kepalanya di atas meja. Mati gue! batinnya. Ia tak berani mengangkat kepala karena takut melihat percikan-percikan api yang mungkin saja sedang tercipta akibat ulahnya.
            “Lagi ngumpul nih,” suara Jeremy memecah keheningan yang tak menyenangkan itu.
            “Gue malah merasa bakal ada yang dimakamin,” komentar Rafhael.
            Samuel mengerang lagi, membuat Linzie menendang kakinya dari bawah meja.
            “Lo mau gabung juga?”
            Kelima pasang mata yang ada di sana langsung menoleh ke arah yang sama. Samuel langsung tegak, Linzie menganga, Rafhael merasa salah dengar, sedangkan Chika mengerjap-ngerjap kaget. Cuma Jeremy yang menaikkan alisnya. Jelas saja mereka kaget. Ajakan itu datang dari orang yang paling tidak mungkin mengajukannya!
            Keisha balas menaikkan sebelah alisnya, menunggu tanggapan. Kemudian Jeremy angkat bahu dan menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Keisha. Rafhael mengambil tempat yang tersisa yakni di samping Chika.
            Keheningan kembali merebak dan lagi-lagi kalimat pemecah keheningan itu datang dari Keisha. “Gue rasa ide yang disampaikan Tristan itu sepenuhnya datang dari lo kan?” kata Keisha.
            “Ya, gitu deh. Dia diskusi sama gue, jadi gue kasih solusi,” sahut Jeremy. Ia mengambil sekaleng pepsi dari atas meja dan membukanya.
            Keisha menahan keinginannya untuk mendengus, sebaliknya ia malah tersenyum. Senyum yang bikin Samuel, bahkan Rafhael juga, merasa merinding. Aneh rasanya kalau Jeremy justru sangat santai.
            Not bad, ide yang bagus. Lebih bagus lagi kalau lo juga mau turun ke lapangan,” sahut Keisha.
            “Yah, gue pikir-pikir dulu. Tapi gue memang ada rencana begitu,” kata Jeremy, mengembalikan senyum Keisha dengan sebuah senyum tanggungnya yang sudah melegenda.
            Jeremy tidak tau permainan apa yang sedang dilakoni Keisha, namun ia bertekad untuk mengikutinya. Karena tampaknya cukup menarik. Ia bisa kembali ke jalur awal jika ternyata permainan yang sedang dirajut Keisha ini melenceng dari tujuannya.
            Keisha bangkit dari duduknya. “Kalau gitu mungkin lo mau tau kapan rapat OSIS diadakan lagi. Itu kalau lo mau ikut,” kata Keisha sembari mengulas senyum penuh tantangan. “Sabtu siang, pulang sekolah,” tambahnya. Kemudian dia meninggalkan meja itu. Meninggalkan beberapa orang yang langsung menarik napas lega.
            Jeremy menatap geli ke arah dua temannya. “Lo semua kenapa sih? Kayak bakal digantung aja,” kata Jeremy.
            “Gue nyaris dimutilasi, lo tau!!” seru Samuel. “Gila, lo datang disaat yang sangat TEPAT! Gue kira bakal pecah perang,” kata Samuel bersungut-sungut.
            “Perang? Kok kedengarannya gawat sih?” sahut Chika tak mengerti. “Memang siapa yang mau perang??” lanjutnya.
            Rafhael memijat pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut. “Eh, Lemot, lo nggak bisa ngerasain, apa? Betapa aneh dan dipaksainnya pembicaraan tadi??” sahutnya.
            “Chika nggak lemot!!” seru Chika. “Chika memang nggak lihat ada bendera perang yang dikibarkan, nggak ada yang nabuh genderang juga!” sahut Chika.
            “Oh, ya, lo nggak lemot, tapi tulalit! Teman lo tuh pingin ngebunuh tau!”sahut Rafhael keki.
            “Keisha tuh baik hati tau!! Lo jangan ngarang gitu donk!!” seru Chika nggak terima.
            Maka dimulailah perang mulut antara Chika Vs Rafhael yang membuat Jeremy makin geli. Sementara Linzie dan Samuel sudah tutup telinga karena tak mau jadi tuli. Perhatian seisi kantin jadi terpusat pada mereka akibat perdebatan ala anak TK yang dilakukan oleh Raafhael dan Chika. Jeremy yang tak mau ambil bagian jadi pusat perhatian pun undur diri secara diam-diam. Ada hal yang harus dia lakukan. Beberapa rencana harus direvisi dan dia juga harus menelaah sikap konfrontasi tak langsung yang di ajukan Keisha tadi. Hmm... Banyak hal yang harus dipikirkan.
            Sementara itu, Keisha setengah mati menahan keinginan untuk mencekik Jeremy saat cowok itu muncul di depannya tadi. Suatu mukjizat dia bisa menampilkan sisi tenangnya di saat dia sangat ingin mencekik leher Jeremy sehingga senyum angkuh itu lenyap. Namun Keisha mengingatkan dirinya. Tenang, Keisha. Permainan baru dimulai. Belum saatnya membuka semua kartu di tangan. Biar saja cowok itu menebak-nebak rencananya. Supaya dia tau bagaimana rasanya sulit tidur karena penasaran!!
***

1 komentar:

  1. Merit Casino: Play at the best online casino in CA - California
    In the online casino world, it's septcasino like a Vegas-style gambling destination. With many different games, each player will 메리트카지노 be able 카지노사이트 to decide

    BalasHapus