Samuel sedang ngumpul-ngumpul bareng Rafhael dan
Jeremy di kelasnya yang terbilang cukup sepi ketika Keisha menyerbu masuk
dengan ketenangan yang anggun dan terkesan berbahaya. Samuel langsung duduk
tegak. Dia tau ada yang akan terjadi jika teman Linzie yang satu ini sampai
menghampirinya. Terlihat Chika juga ikut di belakangnya.
Berbeda
dengan reaksi Samuel yang langsung waspada, kedua temannya justru tampak
tertarik. Setidaknya Jeremy tampak cukup tertarik ketika memperhatikan Keisha
berdiri tepat di depan Samuel, tatapannya cuma tertuju pada Samuel. Hmm, Jeremy
bertanya-tanya apa yang akan dilakukan cewek itu pada Samuel jika dilihat dari
ketenangan wajahnya yang palsu. Sementara Rafhael tampak setengah tertarik
setengah mengerang ketika melihat Chika. Hal itu juga tak luput dari perhatian
Jeremy.
Samuel
mengerling ke arah teman-temannya yang sama sekali tak membantu. Jeremy melipat
kedua tangan di depan dada dan memperhatikan dengan intensitas berlebihan, pada
Keisha kalau boleh Samuel tambahkan dengan pahit. Sementara Rafhael terdengar
mengerang dan tampak mau pergi, yang setelah Samuel amati, penyebabnya tak lain
tak bukan adalah Chika. Sepertinya ada yang membuat Rafhael sangat anti pada
cewek itu. Tapi Samuel tidak punya waktu memikirkannya lebih jauh, karena ia
harus memusatkan perhatiannya pada Keisha.
“Ada
apa lo ke sini, Kei?” tanya Samuel tenang.
“Gue
pikir lo tau kenapa gue datang ke sini,” sahut Keisha.
Samuel
mendesah. “Ya, kayaknya gue tau,” gumamnya pelan.
Keisha
menumpangkan tangan di atas meja dan memajukan wajahnya hingga sejajar dengan
wajah Samuel. “Linzie berubah,” kata Keisha tenang. “Dan sepertinya lo tau
lebih banyak apa penyebabnya. Seorang cowok baru-baru ini mendekati dia,
bersikap selayaknya benar-benar tulus dan membuat Linzie perlahan percaya sama
cowok itu. Kemudian, suatu ketika cowok itu ‘nembak’ Linzie. Tapi jelas bukan
itu maksud awal cowok itu, dan Linzie tau ada yang tidak pas. Akhirnya ketika
Linzie menuntut kejujuran dan mengatakan dugaannya, cowok itu nggak menyangkal.
Nah, menurut lo gimana?” papar Keisha panjang lebar.
Kalau
tidak sangat kaget, maksimal Samuel tercengang. Itu adalah kalimat terpanjang
yang pernah Keisha ucapkan padanya! Wow, berarti cewek itu betul-betul marah
atas nama sahabatnya.
“Tapi
gue rasa lo pasti juga setuju sama gue,” kata Keisha lagi, tanpa menunggu
tanggapan Samuel. Ia menegakkan tubuhnya. “Tuh cowok pasti sangat pengecut
hingga mengakui kesalahannya aja dia nggak berani. Dan sekarang sahabat gue
menderita karena kebohongan cowok itu,” kata Keisha. “Kalau bisa sih gue pingin
minta bantuan lo buat menghajar cowok itu. Seenggaknya menurut gue, lo cukup
peduli sama Linzie beberapa minggu belakangan ini,” kata Keisha. Samuel nyaris
tak bisa menahan erangan dan sumpah serapahnya.
Keisha
mendesah dramatis. “Tapi sayang, kayaknya lo nggak bisa gue andalkan! Karena lo
ternyata sama pengecutnya dengan cowok itu!”
Chika
menambahkan. “Sumpah, Chika pingin bikin cowok itu babak belur!” yang langsung
disahuti oleh dengusan Rafhael.
“Mau
ngehajar pakai apa lo?” gerutunya
“Pakai
tangan,” sahut Chika lugas, seolah bumi memang bulat dan langit itu biru, yang
membuat Rafhael kembali mendengus.
Mengabaikan
percakapan singkat Rafhael dan Chika, Samuel menatap Keisha. “Kei, gue nggak bermaksud
nyakitin Linzie. Gue tau, gue salah, dan gue minta maaf untuk itu,”kata Samuel,
menelan harga dirinya bulat-bulat ketika tidak punya pilihan lagi.
“Oh!
Lo nggak usah minta maaf sama gue! Lo buat salah apa sama gue? Lo kan nggak
mainin perasaan gue?” sindir Keisha tanpa ampun.
“Gue
tetap harus...”
“Bukan
sama gue, brengsek!” potong Keisha sambil meraih kerah seragam Samuel,
menunjukan emosinya yang sejak tadi ia sembunyikan. Membuat alis Jeremy
terangkat. Rupanya cewek itu punya kosa kata yang menarik, selain bicara tanpa
emosi tadi.
“Dan
kalau lo masih punya nyali, lebih baik lo berusaha minta maaf sama sahabat gue!
Lalu enyah jauh-jauh! Atau gue nggak bakal tinggal diam,” kata Keisha sambil
menyentakkan tangannya, kemudian ia berbalik dan meninggalkan kelas Samuel.
Chika
mengikutinya. “Pengecut!” cibir cewek mungil itu sebelum mengejar Keisha.
Samuel
langsung mengacak-acak rambutnya dan menelungkup di atas meja. Ia mengerang
frustasi.
“Lo
punya kenalan yang menarik,” kata Jeremy merasa terhibur.
“Lo
tertarik? Sama yang mana? Gue harap bukan si kecil bawel itu!” kata Rafhael.
“Dia nyaris bikin gue gila gara-gara ocehannya!” gerutu Rafhael. “Tapi yang
satu lagi pun sama aja!” tambahnya.
“Kalian
berdua bisa diam nggak sih?! Gue lagi dalam masalah dan lo malah berdebat soal
cewek-cewek itu?!” teriak Samuel frustasi. “Bisa gila gue lama-lama!” kemudian
ia bangkit dan pergi meninggalkan Rafhael yang menggerutu dan Jeremy yang cuma,
lagi-lagi, menaikkan alisnya.
***
“Sumpah,
Zizi, kalau lo nggak niat kerja, mending pulang deh! Kakak nggak mau cafe
hancur!” hardik Daniel untuk yang kesekian kalinya siang itu.
“Niat
kok! Niat!” sahut Linzie tidak jelas.
Setelah
menghela napas panjang, Daniel berbalik, hendak menuju ruangannya ketika
terdengar suara gelas pecah (lagi).
“ZIZI!!!”
suara Daniel menggelegar, membuat Linzie langsung angkat kaki dari cafe.
Sambil
menggerutu Linzie menuntun sepedanya di trotoar. Hari ini Linzie sudah
memecahkan rekor cerobohnya, gelas terakhir tadi adalah gelas kelima yang
Linzie pecahkan, tak heran kalau Daniel mengusirnya.
“Linzie,
lo nih kenapa sih?!” gumamnya. “Kenapa seorang cowok bisa bikin lo kacau sih?
Dipikir sejuta kali juga nggak akan ada yang berubah! Cowok brengsek tetap
cowok brengsek!!” lanjutnya kepada diri sendiri. Kemudian dia menghela napas.
Ngomong sendirian, tampaknya dia mulai gila.
Linzie
merasa dirinya sudah diambang batas kewarasan. Entah sudah berapa orang yang ia
buat kesal belakangan ini. Bahkan tempo hari dia sempat bikin ribut sama preman
yang mau malakin dia dan Chika di halte. Syukur Chika jejeritan sehingga bala
bantuan berdatangan, kalau tidak, Linzie nggak tau deh apa yang bakal terjadi.
Mungkin aja dia udah terbaring di rumah sakit, atau bahkan dilecehkan! Hiieeyy…
pikiran itu membuat Linzie bergidik. Kemudian Linzie ingat ia juga akan
melewati halte. Ugh... Linzie cuma bisa berdoa agar nggak ketemu preman-preman
yang kemarin!
Semakin
mendekati halte, semakin Linzie memelankan langkahnya. Linzie mengumpat ketika
doanya ternyata tak terkabul. Setidaknya sekarang si preman cukup pintar karena
nongkrong bersama temannya. Linzie nggak mungkin bisa lewat dengan selamat
kalau preman itu masih ingat wajahnya. Sial, mana lagi sepi! Apa balik aja ya?
Linzie berhenti dan menimbang-nimbang. Kayaknya kabur lebih aman deh! Linzie
pun langsung balik arah ketika preman-preman itu menyadari keberadaannya.
“Woi!!
Tuh dia!” seru preman yang kepalanya botak.
Linzie
langsung naik ke sepedanya dan mulai mengayuh dengan sekuat tenaga! Dalam hati
terus memanjatkan doa agar bisa sampai di cafe sebelum tertangkap. Tapi yang
namanya sial, ya nggak bisa dianggap remeh, Linzie tertangkap sebelum mencapai cafe,
padahal tinggal 200 meter!
“Nah,
kita ketemu lagi ya, Neng,” ujar si Botak menyeringai.
“Oh,
jadi lo nyariin gue? Belum kapok lo ya?! Gue bisa teriak lebih kencang dan
orang-orang bakal datang!!” gertak Linzie.
“Jelas
nggak mungkin atuh, Neng!” sahut preman yang satunya, yang wajahnya brewok.
Kemudian
si Brewok melompat dan menangkap tangan Linzie. Linzie menjerit dan langsung melayangkan
tasnya ke wajah si Brewok. Tapi preman yang satu lagi langsung mencekal lengan
Linzie dan memelintirnya ke belakang.
“Dasar
pengecut!! Kalian beraninya sama cewek ya?! Keroyokan lagi!! Lepasin gue!!
Preman jelek!” teriak Linzie.
“Neng,
mulutnya berisik ya?” sahut si preman kesal sambil membungkam mulut Linzie.
Yang langsung saja membuat Linzie makin menjadi dan menendang ke sana kemari
hingga mengenai selangkangan si preman. Si preman langsung berteriak dan
melepaskan Linzie.
“Toloooong!!!”
teriak Linzie heboh.
“Brengsek!!”
maki si Brewok.
“Woi!!!”
sebuah seruan marah membuat Linzie dan para preman itu menoleh.
Linzie
langsung berbinar, kemudian agak kesal, tapi terpaksa bungkam karena harga
dirinya yang terluka. Samuel, berdiri tak jauh dari tempat Linzie dan kini
cowok itu tengah berlari ke arah Linzie.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar