Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #7


Samuel sedang ngumpul-ngumpul bareng Rafhael dan Jeremy di kelasnya yang terbilang cukup sepi ketika Keisha menyerbu masuk dengan ketenangan yang anggun dan terkesan berbahaya. Samuel langsung duduk tegak. Dia tau ada yang akan terjadi jika teman Linzie yang satu ini sampai menghampirinya. Terlihat Chika juga ikut di belakangnya.
            Berbeda dengan reaksi Samuel yang langsung waspada, kedua temannya justru tampak tertarik. Setidaknya Jeremy tampak cukup tertarik ketika memperhatikan Keisha berdiri tepat di depan Samuel, tatapannya cuma tertuju pada Samuel. Hmm, Jeremy bertanya-tanya apa yang akan dilakukan cewek itu pada Samuel jika dilihat dari ketenangan wajahnya yang palsu. Sementara Rafhael tampak setengah tertarik setengah mengerang ketika melihat Chika. Hal itu juga tak luput dari perhatian Jeremy.
            Samuel mengerling ke arah teman-temannya yang sama sekali tak membantu. Jeremy melipat kedua tangan di depan dada dan memperhatikan dengan intensitas berlebihan, pada Keisha kalau boleh Samuel tambahkan dengan pahit. Sementara Rafhael terdengar mengerang dan tampak mau pergi, yang setelah Samuel amati, penyebabnya tak lain tak bukan adalah Chika. Sepertinya ada yang membuat Rafhael sangat anti pada cewek itu. Tapi Samuel tidak punya waktu memikirkannya lebih jauh, karena ia harus memusatkan perhatiannya pada Keisha.
            “Ada apa lo ke sini, Kei?” tanya Samuel tenang.
            “Gue pikir lo tau kenapa gue datang ke sini,” sahut Keisha.
            Samuel mendesah. “Ya, kayaknya gue tau,” gumamnya pelan.
            Keisha menumpangkan tangan di atas meja dan memajukan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Samuel. “Linzie berubah,” kata Keisha tenang. “Dan sepertinya lo tau lebih banyak apa penyebabnya. Seorang cowok baru-baru ini mendekati dia, bersikap selayaknya benar-benar tulus dan membuat Linzie perlahan percaya sama cowok itu. Kemudian, suatu ketika cowok itu ‘nembak’ Linzie. Tapi jelas bukan itu maksud awal cowok itu, dan Linzie tau ada yang tidak pas. Akhirnya ketika Linzie menuntut kejujuran dan mengatakan dugaannya, cowok itu nggak menyangkal. Nah, menurut lo gimana?” papar Keisha panjang lebar.
            Kalau tidak sangat kaget, maksimal Samuel tercengang. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Keisha ucapkan padanya! Wow, berarti cewek itu betul-betul marah atas nama sahabatnya.
            “Tapi gue rasa lo pasti juga setuju sama gue,” kata Keisha lagi, tanpa menunggu tanggapan Samuel. Ia menegakkan tubuhnya. “Tuh cowok pasti sangat pengecut hingga mengakui kesalahannya aja dia nggak berani. Dan sekarang sahabat gue menderita karena kebohongan cowok itu,” kata Keisha. “Kalau bisa sih gue pingin minta bantuan lo buat menghajar cowok itu. Seenggaknya menurut gue, lo cukup peduli sama Linzie beberapa minggu belakangan ini,” kata Keisha. Samuel nyaris tak bisa menahan erangan dan sumpah serapahnya.
            Keisha mendesah dramatis. “Tapi sayang, kayaknya lo nggak bisa gue andalkan! Karena lo ternyata sama pengecutnya dengan cowok itu!”
            Chika menambahkan. “Sumpah, Chika pingin bikin cowok itu babak belur!” yang langsung disahuti oleh dengusan Rafhael.
            “Mau ngehajar pakai apa lo?” gerutunya
            “Pakai tangan,” sahut Chika lugas, seolah bumi memang bulat dan langit itu biru, yang membuat Rafhael kembali mendengus.
            Mengabaikan percakapan singkat Rafhael dan Chika, Samuel menatap Keisha. “Kei, gue nggak bermaksud nyakitin Linzie. Gue tau, gue salah, dan gue minta maaf untuk itu,”kata Samuel, menelan harga dirinya bulat-bulat ketika tidak punya pilihan lagi.
            “Oh! Lo nggak usah minta maaf sama gue! Lo buat salah apa sama gue? Lo kan nggak mainin perasaan gue?” sindir Keisha tanpa ampun.
            “Gue tetap harus...”
            “Bukan sama gue, brengsek!” potong Keisha sambil meraih kerah seragam Samuel, menunjukan emosinya yang sejak tadi ia sembunyikan. Membuat alis Jeremy terangkat. Rupanya cewek itu punya kosa kata yang menarik, selain bicara tanpa emosi tadi.
            “Dan kalau lo masih punya nyali, lebih baik lo berusaha minta maaf sama sahabat gue! Lalu enyah jauh-jauh! Atau gue nggak bakal tinggal diam,” kata Keisha sambil menyentakkan tangannya, kemudian ia berbalik dan meninggalkan kelas Samuel.
            Chika mengikutinya. “Pengecut!” cibir cewek mungil itu sebelum mengejar Keisha.
            Samuel langsung mengacak-acak rambutnya dan menelungkup di atas meja. Ia mengerang frustasi.
            “Lo punya kenalan yang menarik,” kata Jeremy merasa terhibur.
            “Lo tertarik? Sama yang mana? Gue harap bukan si kecil bawel itu!” kata Rafhael. “Dia nyaris bikin gue gila gara-gara ocehannya!” gerutu Rafhael. “Tapi yang satu lagi pun sama aja!” tambahnya.
          “Kalian berdua bisa diam nggak sih?! Gue lagi dalam masalah dan lo malah berdebat soal cewek-cewek itu?!” teriak Samuel frustasi. “Bisa gila gue lama-lama!” kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan Rafhael yang menggerutu dan Jeremy yang cuma, lagi-lagi, menaikkan alisnya.
                                                                        ***
            “Sumpah, Zizi, kalau lo nggak niat kerja, mending pulang deh! Kakak nggak mau cafe hancur!” hardik Daniel untuk yang kesekian kalinya siang itu.
            “Niat kok! Niat!” sahut Linzie tidak jelas.
            Setelah menghela napas panjang, Daniel berbalik, hendak menuju ruangannya ketika terdengar suara gelas pecah (lagi).
            “ZIZI!!!” suara Daniel menggelegar, membuat Linzie langsung angkat kaki dari cafe.
            Sambil menggerutu Linzie menuntun sepedanya di trotoar. Hari ini Linzie sudah memecahkan rekor cerobohnya, gelas terakhir tadi adalah gelas kelima yang Linzie pecahkan, tak heran kalau Daniel mengusirnya.
            “Linzie, lo nih kenapa sih?!” gumamnya. “Kenapa seorang cowok bisa bikin lo kacau sih? Dipikir sejuta kali juga nggak akan ada yang berubah! Cowok brengsek tetap cowok brengsek!!” lanjutnya kepada diri sendiri. Kemudian dia menghela napas. Ngomong sendirian, tampaknya dia mulai gila.
            Linzie merasa dirinya sudah diambang batas kewarasan. Entah sudah berapa orang yang ia buat kesal belakangan ini. Bahkan tempo hari dia sempat bikin ribut sama preman yang mau malakin dia dan Chika di halte. Syukur Chika jejeritan sehingga bala bantuan berdatangan, kalau tidak, Linzie nggak tau deh apa yang bakal terjadi. Mungkin aja dia udah terbaring di rumah sakit, atau bahkan dilecehkan! Hiieeyy… pikiran itu membuat Linzie bergidik. Kemudian Linzie ingat ia juga akan melewati halte. Ugh... Linzie cuma bisa berdoa agar nggak ketemu preman-preman yang kemarin!
            Semakin mendekati halte, semakin Linzie memelankan langkahnya. Linzie mengumpat ketika doanya ternyata tak terkabul. Setidaknya sekarang si preman cukup pintar karena nongkrong bersama temannya. Linzie nggak mungkin bisa lewat dengan selamat kalau preman itu masih ingat wajahnya. Sial, mana lagi sepi! Apa balik aja ya? Linzie berhenti dan menimbang-nimbang. Kayaknya kabur lebih aman deh! Linzie pun langsung balik arah ketika preman-preman itu menyadari keberadaannya.
            “Woi!! Tuh dia!” seru preman yang kepalanya botak.
            Linzie langsung naik ke sepedanya dan mulai mengayuh dengan sekuat tenaga! Dalam hati terus memanjatkan doa agar bisa sampai di cafe sebelum tertangkap. Tapi yang namanya sial, ya nggak bisa dianggap remeh, Linzie tertangkap sebelum mencapai cafe, padahal tinggal 200 meter!
            “Nah, kita ketemu lagi ya, Neng,” ujar si Botak menyeringai.
            “Oh, jadi lo nyariin gue? Belum kapok lo ya?! Gue bisa teriak lebih kencang dan orang-orang bakal datang!!” gertak Linzie.
            “Jelas nggak mungkin atuh, Neng!” sahut preman yang satunya, yang wajahnya brewok.
            Kemudian si Brewok melompat dan menangkap tangan Linzie. Linzie menjerit dan langsung melayangkan tasnya ke wajah si Brewok. Tapi preman yang satu lagi langsung mencekal lengan Linzie dan memelintirnya ke belakang.
            “Dasar pengecut!! Kalian beraninya sama cewek ya?! Keroyokan lagi!! Lepasin gue!! Preman jelek!” teriak Linzie.
            “Neng, mulutnya berisik ya?” sahut si preman kesal sambil membungkam mulut Linzie. Yang langsung saja membuat Linzie makin menjadi dan menendang ke sana kemari hingga mengenai selangkangan si preman. Si preman langsung berteriak dan melepaskan Linzie.
            “Toloooong!!!” teriak Linzie heboh.
            “Brengsek!!” maki si Brewok.
            “Woi!!!” sebuah seruan marah membuat Linzie dan para preman itu menoleh.
            Linzie langsung berbinar, kemudian agak kesal, tapi terpaksa bungkam karena harga dirinya yang terluka. Samuel, berdiri tak jauh dari tempat Linzie dan kini cowok itu tengah berlari ke arah Linzie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar