Linzie adalah tipe cewek yang membenci cowok
playboy. Ia telah belajar dari pengalamannya sewaktu di kelas XI dulu ketika ia
diselingkuhi oleh pacarnya. Dan bukan hanya dengan satu cewek, melainkan tiga
cewek sekaligus!! Betapa marah dan sakit hatinya Linzie saat semua itu
terungkap. Marah, kecewa dan sakit hati membuat Linzie menangis semalaman.
Untungnya ada Keisha dan Chika, dua sahabatnya yang selalu setia menemani.
Berkat mereka Linzie bisa bangkit dari keterpurukannya.
Begitu
naik ke kelas XII, Linzie sudah menutup hatinya pada semua cowok. Ia tak bisa
percaya pada kata-kata cowok lagi. Ia lebih memilih menjomblo ketimbang sakit
hati lagi. Ia selalu jutek jika bicara dengan cowok, nggak peduli cowok itu
memang jahat atau cowok baik-baik. Baginya cowok itu semuanya sama saja.
Siang
itu, Linzie tengah membawakan buku tugas teman-teman sekelasnya ke ruang guru
ketika ia nyaris terjungkal gara-gara ditabrak oleh seseorang. Untung saja si
penabrak itu punya reflek yang bagus sehingga Linzie tidak jadi terjungkal,
melainkan jatuh ke dalam pelukan cowok itu.
“I’m sorry. Gue nggak sengaja. Gue lagi
buru-buru kabur soalnya,” kata si penabrak itu, yang ternyata seorang cowok.
Tubuh
Linzie seketika menegang. “Lepasin gue,” desisnya.
“Lo
nggak apa-apa kan?” tanya cowok itu, belum mau melepaskan Linzie.
“Gue
bilang lepasin gue!” sentak Linzie dan langsung menjauhkan diri dari cowok itu.
Linzie mendongak, bersiap mendamprat
siapapun yang menabraknya dan juga seenaknya memeluknya itu. Namun, napas
Linzie seketika tersangkut di tenggorokannya ketika melihat wajah cowok di
depannya.
Cowok
itu bukan hanya tinggi dan atletis, melainkan juga cakep, bukan, cakep saja
nggak bisa mewakili wajah cowok itu. Oh ya, super duper cakep! Cowok itu punya
lesung pipit di pipi kanannya. Matanya berwarna cokelat terang, dan ada kesan
oriental di wajahnya. Astaga, bgaimana bisa cowok itu terlihat “cute” dan juga maskulin
di saat yang sama? Dan Linzie yang anti cowok terbengong-bengong dibuatnya.
Cowok
itu melambai-lambaikan tangannya, meminta perhatian Linzie. Linzie tersentak
dan wajahnya langsung memerah karena malu dan kesal pada dirinya sendiri.
Ngapain coba dia melihat cowok itu sampai sebegitunya??
“Lo
baik-baik aja? Sumpah gue nggak sengaja. Maafin gue ya? Cewek manis kayak lo
nggak cocok pasang wajah marah,” kata cowok itu sambil tersenyum manis.
Insting
Linzie langsung awas, menyadari cowok di depannya itu mungkin adalah tipe cowok
yang paling dibencinya. “Gue nggak apa! Dan lain kali, jalan tuh pakai mata!
Ini bukan jalan nenek moyang lo!” ketus Linzie dan langsung pergi. Meninggalkan
si cowok ‘cute’ berdiri terbengong-bengong. Mungkin shock karena nggak
menyangka reaksi Linzie akan sejutek itu.
***
Samuel
Tan, cowok berwajah Asia Oriental itu baru saja mendapatkan hadiah tak terduga.
Ketika itu, ia sedang kabur dari kejaran para fansnya. Ia tak sengaja menabrak
seorang cewek yang lumayan manis. Siapa sangka ketika ia lari dari kumpulan
serangga pemangsa, seorang malaikat malah jatuh ke pelukannya? Samuel pun
mengamati cewek yang ada di pelukannya itu dengan cermat. Hmm, mungil. Cuma itu
yang bisa Samuel pastikan. Cewek itu bahkan tidak sampai sepundaknya. Cewek itu
juga menguarkan aroma lembut seperti bayi. Samuel jadi tidak sadar sudah berapa
lama dia memeluk cewek itu, sampai cewek itu tiba-tiba menarik diri. Samuel
menyadari keterkejutan cewek itu. Matanya membelalak dan tidak berkedip.
Kemudian ekspresinya berubah jengkel.
“Lo
nggak apa-apa? Sumpah gue nggak sengaja. Maafin gue ya? Cewek manis kayak elo
nggak pantas pasang wajah marah,” kata Samuel sambil memamerkan senyum 1000 wattnya
yang selalu sukses bikin banyak cewek lumer.
Namun
siapa sangka cewek di depannya justru malah menyipitkan mata dan masih memasang
aura permusuhan, bahkan lebih kentara dari sebelumnya. Dan bukannya luluh,
cewek itu malah menegur Samuel dengan galaknya. Kemudian tanpa bilang apa-apa
lagi, cewek itu bergegas pergi. Meninggalkan Samuel yang masih berdiri tak
percaya dengan reaksi cewek itu. Samuel berbalik dan menatap kepergian cewek
itu. Masih tak percaya kalau dibalik tubuh yang mungil itu tersimpan pribadi
yang bertolak belakang. Jelas cewek itu punya imunitas yang tinggi karena tidak
terpengaruh pesonanya. Sudah sejak SMP Samuel selalu berhasil menjadi penakluk
hati cewek. Tak sekalipun gagal. Dan kejadian tadi membuat egonya sedikit
terusik. Ia penasaran dengan cewek yang imun terhadap pesonanya itu. Ia harap
masih berkesempatan bertemu cewek itu. Toh, mereka ada di sekolah yang sama
kan? Dan dalam kesempatan lain itu, Samuel akan pastikan cewek itu takluk
padanya.
***
Linzie
baru saja meletakkan satu kerat minuman ringan di bawah meja bar ketika kakaknya
muncul. Kakak Linzie, Daniel, memiliki sebuah cafe yang cukup terkenal di
kalangan anak remaja, khususnya yang bersekolah di Plaga. Dan Linzie
sekali-sekali membantu di sana. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang
berkekurangan, mereka hidup nyaman, hanya saja Linzie termasuk gadis yang aktif
dan tidak bisa diam. Jadi dia mengajukan diri untuk membantu di cafe kakaknya.
“Hai,
Kak! Kok tumben jam segini ke sini? Biasanya juga sorean baru muncul,” kata
Linzie menyapa kakaknya.
Daniel
mengacak rambut adiknya dengan sayang. Usia mereka terpaut cukup jauh, sekitar
6 tahun, tapi mereka sangat dekat. “Kakak mau ambil uang buat disetor ke bank.
Sepi ya? Kenapa kamu nggak pulang aja?”
Linzie
merengut. “Bosen di rumah! Lagian di sini lebih asik,” kata Linzie lalu
menyengir.
Daniel
geleng-geleng kepala dan masuk ke ruangannya. Tak lama kemudian Linzie sudah
ditinggal lagi. Linzie angkat bahu dan memutuskan untuk mengelap meja bar
hingga mengkilap. Bel kecil di pintu berdenting. Linzie langsung menyambut para tamu itu dengan senyuman
bisnisnya yang paling manis. Namun, kata-kata selamat datangnya tersangkut di
tenggorokannya ketika melihat siapa yang datang.
“Lo
bisa aja dihajar sama pacar cewek tadi,” kata seorang cowok berambut pirang
yang tampak cool kepada temannya yang menyeringai. Kedua cowok itu sama
tampannya. Dan juga tinggi.
“Gue
rasa Rafhael nggak berpikir sepanjang itu, Jer,” kata cowok ketiga. Cowok yang
berwajah ‘cute’ oriental sambil terkekeh. Yang tak lain adalah Samuel.
Cowok
yang dipanggil Rafhael itu cuma menyeringai. “Lo pasti bakal tetap memihak gue
kan?” katanya.
Mereka
bertiga masuk ke dalam cafe dan mencari-cari tempat duduk yang dirasa tepat.
Dan saat itulah pandangan Samuel terarah ke arah bar. Matanya pasti tidak beda
jauh seperti cewek yang tengah menatapnya dengan shock itu.
“Lo...”
kata Samuel, ia berjalan menuju meja bar untuk memastikan ia tak salah lihat.
“Ah, ternyata gue memang nggak salah lihat,” katanya. Ia kemudian tersenyum
manis. “Gue nggak tau lo kerja di sini.”
“Siapa?”
tanya si pirang ingin tau.
“Seseorang
yang nggak sengaja gue kenal,” sahut Samuel.
“Gue
nggak pernah berkenalan sama elo,” kata Linzie datar, meski emosinya bergolak.
“Nah,”
kata Samuel. “apa sekarang bukan saat yang tepat buat kenalan secara resmi?”
Linzie
mendengus pelan. Kemudian menambahkan dengan menggerutu. “Gue udah tau siapa
elo.”
“Oh
ya? Wah, berarti cuma gue yang belum tau siapa nama lo,” kata Samuel.
Mata
Linzie memicing. “Kalau lo masih mau memesan, silahkan cari tempat duduk,” kata
Linzie. Kemudian dia berbalik pergi dan memanggil Rosa untuk melayani para
pengunjung itu.
Rafhael
tergelak melihat tampang kecut Samuel. Ketiganya mengambil tempat duduk di
dekat meja bar atas pilihan Samuel. Kedua sahabatnya menggoda Samuel karena
gagal merayu cewek. Samuel berdalih kalau belum saatnya. Sekarang giliran
Rafhael yang mencibir pada Samuel karena pesonanya sudah hilang.
Si
pirang Jeremy justru memperhatikan Linzie secara cermat. Bertanya-tanya di mana
kelebihan cewek itu sehingga Samuel tidak bisa menaklukkannya. Cewek itu
terbilang mungil, jutek, dan tidak sopan. Apanya yang menarik? Malah sangat
biasa.
“Lo
lihat aja nanti, gue bakal taklukin tuh cewek!” kata Samuel jengkel. “Lagian
tuh cewek juga paling jual mahal doank!”
“Oh
ya?” tantang Jeremy. “Gimana kalau justru elo yang takluk sama tuh cewek?”
“Haha,
becanda lo!” kata Rafhael. “Mana mungkin Sam ditaklukin cewek! Mana cewek yang
so ordinary kayak gitu lagi,” lanjut Rafhael merendahkan.
Samuel
nyaris mengatakan kalau cewek itu seperti malaikat. Tapi ia dengan cepat
menggigit lidahnya agar jangan sampai mempermalukan diri di depan teman-temannya.
Ditolak saat pdkt tadi sudah cukup memalukan bagi Samuel, tidak perlu ditambah
dengan membela cewek itu.
Seorang
waitress menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka. Kemudian waitress itu
memberikan pesanan minuman ke bar.
“Mocachino
dan coffe latte dua,” kata Rosa pada Linzie.
Linzie
mengangguk dan mulai menyiapkan pesanan minuman ketiga cowok itu. Linzie
bukannya tidak menyadari terjadi kasak kusuk di dalam cafenya sejak cowok-cowok
itu datang. Sebagian abg cewek yang ada di dalam cafe kini sedang memperhatikan
ketiga cowok itu. Hah, betapa tergodanya Linzie untuk menambahkan garam ke
dalam minuman-minuman itu.
“Zizi,
ada telepon di ruang bos,” teriak Rosa cukup keras dari arah dapur.
“Ya
ampun, jangan bilang Kak Daniel melupakan sesuatu,” gerutu Linzie. Ia
meninggalkan meja bar setelah sebelumnya menyerahkan tegas membuat minuman
kepada Indra.
“Oh,
namanya Zizi toh,” gumam Samuel.
“Lo
nggak tau namanya?” tanya Rafhael.
“Gue
kan tadi udah bilang gue nggak tau apa-apa soal dia,” gerutu Samuel.
Rosa
kembali membawakan sandwich ke meja mereka. Samuel langsung bertanya tentang
Linzie.
“Oh,
namanya Linzie, tapi biasa dipanggil Zizi. Dia adik yang punya cafe ini,” kata
Rosa.
Samuel
mendapatkan beberapa informasi kecil tentang Linzie dari Rosa. Setelah itu ia
memberikan senyum maut plus tip yang cukup. Setelah Rosa pergi, barulah Samuel
bersandar dengan wajah puas.
“Nah,
sekarang gue punya beberapa hal yang bisa gue pakai buat menjerat cewek itu
kan?” kata Samuel.
“Oh
ya? Terus kapan lo mau mulai misi aneh lo ini?” tanya Jeremy sarkastik.
“Hmm,
secepatnya,” sahut Samuel, mengabaikan nada sarkastik Jeremy.
“Kalau
gitu lo harus cepat, karena gue lihat target lo mau pergi,” kata Rafhael
sembari mengangguk ke arah bar.
Tampak
Linzie yang sudah memakai jaket dan membawa tasnya. Kelihatannya akan pergi.
Dari percakapan singkat Linzie dengan si bartender, Samuel bisa menyimpulkan
kalau cewek itu harus menyusul kakaknya ke bank karena ada yang harus
diserahkan.
Samuel
bangkit perlahan ia menghadang Linzie ketika cewek itu hendak keluar. “Ijinin
gue minta maaf atas kejadian tempo hari. Gue harap lo nggak marah lagi sama
gue. Karena jujur gue ingin berteman sama lo,” kata Samuel.
“Gue
udah nggak mempermasalahkan hal itu,” kata Linzie waspada. “Dan permisi, gue
masih ada urusan penting!” tambah Linzie.
“Oh
ya? Jadi lo mau pergi? Gimana kalau gue antar?” tawar Samuel.
Linzie
menatap Samuel dengan mata curiga. Ia yakin cowok itu pasti merencanakan
sesuatu. Kemudian ketika Linzie mengerling ke arah teman-teman Samuel, Linzie
disambut oleh seringai geli kedua teman Samuel. Hal itu menguatkan kecurigaan
Linzie, sehingga ia semakin berani menolak Samuel. Dia tidak mau cowok itu
merasa menang karena berhasil menaklukkannya. Oh, Linzie tau sekarang. Pasti cowok
itu sedang melakukan taruhan konyol dengan dirinya sebagai target. Linzie makin
muak dengan Samuel.
“Nggak,
makasih! Dan kalau boleh gue kasih usul, lebih baik lo cari target yang lain!”
Setelah
berkata begitu, Linzie langsung meninggalkan Samuel tanpa menunggu respon cowok
itu. Ekspresi Samuel yang penuh keterkejutan itu layak diabadikan. Linzie jadi
berharap dirinya sedang membawa kamera!
Rafhael
dan Jeremy tertawa terbahak-bahak ketika Linzie sudah pergi. Mereka tak bisa
menahan tawa lebih lama lagi melihat tampang tercengang Samuel. Akhirnya ada
juga yang menolak rayuan maut sang Lucifer.
Samuel
menatap bengis ke arah teman-temannya. Yang bukannya membuat mereka bungkam,
tapi justru malah membuat tawa Rafhael dan Jeremy makin mnjadi-jadi. Samuel
menggeram marah. Ia tidak terima telah dipermalukan seorang cewek. Di hadapan
teman-temannya yang laknat dan juga dua kali penolakan!!
Ini
sudah melewati batas toleransi Samuel. Kini dia sudah bertekad dan tak akan
setengah-setengah lagi. Linzie, cepat atau lambat cewek itu akan bertekuk lutut
padanya! Dan Samuel akan pastikan hal itu akan terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar