Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #2


Menjauhi masalah. Tampaknya itu cukup mustahil dilakukan oleh Chika yang punya rasa ingin tau yang besar. Bisa dibilang karena nama tengahnya adalah ‘masalah’, sehingga dia selalu bisa melibatkan diri dalam masalah yang sebenarnya bukan masalahnya. Seperti misalnya menjadi mak comblang (Tuhan, berkati Chika) yang belum pernah ia coba sebelumnya. Tapi Chika tidak bisa menolak permintaan tolong dari orang lain. Jadi ketika Inka meminta bantuannya untuk mencomblangkannya dengan seorang cowok, Chika langsung menyanggupi. Sekarang gantinya Chika yang bingung.
            Ia pun memutuskan untuk bertanya pada Linzie dan Keisha apa yang sebaiknya dilakukannya.
            “Kenapa nggak lo tolak aja sih? Nyusahin diri aja,” kata Linzie ketika ditanya.
            “Mending lupain deh, Chi,” kata Keisha lembut.
           Menyebalkan! Kedua temannya yakin kalau Chika hanya akan mengacaukan semuanya ketimbang membantu. Chika lalu beralih pada Samuel dan Jeremy. Dia yakin kedua cowok itu lebih berpengalaman ketimbang dirinya. Jadi, begitu jam istirahat berbunyi, Chika langsung mendatangi kelas kedua cowok itu. Syukur mereka semua sekelas. Chika tak peduli meski harus memohon. Jadi ketika cowok-cowok itu keluar kelas, Chika langsung menghadang mereka. Tanpa tedeng aling-aling langsung to the point.
            “Gimana caranya mendekati cowok yang disuka?” tanya Chika. “Ah, bukan-bukan, salah, maksud gue, menurut kalian, gimana cara PDKT yang baik?” ralat Chika.
            Samuel dan Jeremy saling pandang. Kemudian memandang Chika dengan aneh.
            “Lo mau PDKT sama cowok?” tanya Jeremy.
            Chika mengangguk-angguk, kemudian cepat-cepat menggeleng-geleng. “Bukan Chika... Aduh, pokoknya kalian cukup kasih tau tips-tips buat PDKT ke Chika aja,” kata Chika. “Ayolaaahh...” rayu Chika.
            Kemudian Rafhael muncul dari arah belakang kedua temannya. Ia mengernyit ketika melihat Chika. “Ada masalah apa lagi nih?” tanyanya curiga.
            “Bukan masalah lagi kok,” tukas Chika cemberut.
            Kemudian Samuel mengusulkan agar mereka ke kantin dulu. Nanti bicara sambil makan. Chika menolak, soalnya dia tau akan ketemu kedua temannya. Bisa-bisa ia malah kalah suara nantinya. Jadi mending kabur duluan aja deh! Dan setelah bicara dengan cepat soal ada janji dan lain hal, Chika langsung ngibrit pergi,
            Dalam perjalanan ke kantin, Rafhael bertanya mengenai sebab kedatangan Chika pada kedua temannya.
            “Dia nanya gimana cara PDKT yang baik,” kata Samuel sambil angkat bahu. “Gue pikir dia nggak usah susah-susah juga bisa dapat pacar deh. Dia kan cukup manis, pergaulannya juga luas,” komentar Samuel lagi.
            “Hah? Dia PDKT? Yakin lo? Atau jangan-jangan malah dia lagi melibatkan diri dalam masalah lagi!” kata Rafhael.
            “Kok lo yang sewot? Toh, yang bikin masalah dia,” kata Jeremy penasaran.
            “Siapa yang sewot?! Gue cuma belajar dari pengalaman tau! Dia tuh selalu bikin masalah!” sahut Rafhael ketus.
            “Nah, sekarang lo mulai defensif kan? Jujur aja bilang lo peduli sama dia,” kata Jeremy.
            Rafhael mendelik. “Gue bukan peduli!! Gue bahkan nggak mau tau apa lagi yang dia perbuat,” sahut Rafhael jengkel. “Gara-gara dia gue dapat benjol segede telur di kepala gue tau!” sungut Rafhael.
            “Lha, kok bisa?” tanya Samuel bingung.
            “Jelas aja bisa,” gerutu Rafhael. Kemudian dengan enggan menceritakan kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu itu.
            Samuel dan Jeremy tertawa terbahak-bahak mendengar kisah konyol itu. Keduanya bahkan tak peduli betapa kecutnya ekspresi Rafhael. Tawa Jeremy reda lebih dulu ketimbang Samuel.
            “Sumpah, gue belum pernah dengar kejadian yang begitu konyol kayak tadi. Lagian kenapa harus pakai tangga segala? Pohon-pohon di taman belakang kebanyakan nggak terlalu tinggi kan?” kata Jeremy. “Lo bisa aja suruh dia lompat dan lo nangkap dia. Dengan gitu perkara beres.”
            “Betul, gue setuju. Toh, ujung-ujung dia tetap menimpa elo kan? Apa bedanya mempersingkat prosesnya?” kata Samuel dan tertawa lagi.
            Rafhael cuma menggerutu. Dia takkan pernah cerita lagi pada teman-temannya kalau cuma akan ditertawakan. Dan mengenai Chika, Rafhael akan bersikap masa bodoh! Mau tuh cewek bikin kiamat juga, Rafhael takkan peduli!
                                                                        ***
            Chika terpaksa memutar otak sendiri. Inka betul-betul sudah ngebet banget sama cowok bernama Arya ini. Chika bahkan nggak tau siapa yang namanya Arya. Kata Inka, Arya itu salah satu anggota ekskul kendo. Selain ciri-ciri yang Inka berikan, yang antara lain adalah tinggi, macho, berkulit kecokelatan, dan ramah, Chika tidak tau apa-apa lagi soal cowok itu. Ia sudah memulai misinya.
            Hal pertama yang akan Chika lakukan adalah mencari tau semua hal tentang Arya. Ia menanyai beberapa cowok kenalannya tentang ekskul kendo. Ia juga mulai menonton latihan ekskul kendo sampai bosan. Dan akhirnya, di hari ketiga pengintaiannya, ia berhasil mengetahui yang namanya Arya.
            Wah, kalau orangnya sebegitu ganteng sih, Chika nggak akan heran kenapa Inka sampai tergila-gila banget sama cowok itu. Tapi menurut Chika, Arya itu nggak secakep itu. Biasa-biasa aja, kecuali senyum ramahnya yang bikin silau itu. Rafhael jauuuh lebih cakep. Tapi Chika tetap melakukan tugasnya dengan baik. Ia menyampaikan laporan pada Inka, mulai membaca buku-buku yang berhubungan dengan tips-tips PDKT yang sukses. Dan Chika telah membuat beberapa rencana.
            Rencana pertama adalah membuat Arya menyadari keberadaan Inka. Inka harus bisa membuat Arya memperhatikannya. Namun tidak boleh dengan cara mencolok. Trik tak sengaja menabrak merupakan alternatif pertama. Makanya siang itu Chika dan Inka sudah menunggu kemunculan Arya.
            Mereka sembunyi di tikungan koridor sampai Arya muncul. Rencananya, begitu Arya muncul, Chika akan memberi tanda pada Inka agar bergerak. Namun bukan Chika namanya kalau rencananya berjalan sukses. Ketika mendorong Inka, kaki Chika terpeleset dan malah ia yang menubruk Inka sebelum rencana mereka berjalan. Alhasil kedua cewek itu terjungkal di lantai.
            “Duh, Chika, lo gimana sih?!” omel Inka, pantatnya sakit karena membentur lantai.
            “Ma... maaf...” sahut Chika menyesal.
            “Kalian... baik-baik aja?” tanya sebuah suara.
            Kedua cewek itu mendongak dan ternganga. Inka karena terlalu senang, sementara Chika panik. Karena harusnya ia tidak masuk dalam skenario itu!
            “E... ehh… iya! Nggak apa-apa kok!” sahut Chika cepat dan menyikut Inka agar tidak menatap Arya dengan memalukannya. Chika bangun dan membiarkan Arya membantu Inka. Nah, setidaknya nggak semuanya gagal kan? batinnya.
            “Sorry ya, gue sama Inka nyaris menabrak elo,” kata Chika. Sengaja menyebutkan nama Inka agar Arya bisa mengingatnya.
            Kemudian seperti rencana awal, mereka berbasa basi singkat dengan Arya. Termasuk berkenalan secara resmi. Inka kelihatan hepi banget deh. Chika jadi senyum-senyum. Walau rencananya agak sedikit semrawut, tapi hasil akhirnya nggak melenceng dari rencana semula.
            “Kalian suka kendo?” tanya Arya.
            “Oh, Inka suka nonton tuh! Apalagi kalau sekolah kita yang tanding! Dia pasti datang, iya nggak, In?!” sahut Chika.
            Inka mengangguk-angguk bersemangat. “Iya, iya, suka!” sahutnya cepat.
            Arya tersenyum. “Berarti kalian bakal nonton donk? Besok anak-anak bakal tanding di gedung serbaguna sekolah.”
            “Oh, pasti!” sahut Inka setelah disikut oleh Chika.
            Kemudian mereka berpisah. Begitu yakin kalau Arya sudah hilang dari pandangan, Chika dan Inka langsung bersorak girang. Mereka nggak menyangka bisa semudah itu.
            Setelah membuat janji untuk menjalankan rencana selanjutnya, Chika dan Inka lalu berpisah. Chika melangkah riang karena strategi pertamanya berhasil. Berarti tinggal menyusun langkah kedua, yakni kesempatan untuk saling mengenal. Itu bisa ia atur. Mungkin saat pertandingan nanti Chika bisa mnghilang tiba-tiba jika Inka dan Arya mengobrol. Hmm, bukan ide yang buruk.
            Saking seriusnya berpikir, Chika jadi tidak melihat ke depan dan langsung menabrak patung berjalan. “Huwwaahh...!” seru Chika kaget dan nyaris terjungkal ke belakang. Tapi sebuah tangan keburu menarik lengannya.
           “Lo tuh apa-apaan sih?!” hardik sebuah suara. Lho, kok Chika merasa nggak asing ya? Chika pun mendongak.
            “Rafha!” serunya kaget. “Ehh, Chika nabrak elo ya? Sorry ya! Abis lagi mikir sih,” kata Chika.
            “Alasan aja lo! Jalan tuh pakai mata! Syukur yang lo tabrak tuh gue, kalau lo malah jatuh dari tangga gimana??” omel Rafhael.
            “Ya maaf...” gumam Chika. “Ng... gue udah bisa berdiri tegak kok,” tambahnya sambil melirik tangan Rafhael yang masih di lengannya.
            Rafhael seketika itu melepaskan tangan Chika. Sebagai gantinya ia malah mendelik kesal. Nah, apa lagi nih salah Chika? Kok rasanya Rafhael tuh benci banget sama Chika ya?
            “Lain kali hati-hati!” tandas Rafhael dan langsung meninggalkan Chika.
            Chika memandang kepergian Rafhael dengan wajah merengut. Lagi-lagi kena marah. Kapan ya, dia nggak akan kena bentak terus. Apalagi sama Rafhael. Chika mendesah berat dan memerhatikan Rafhael yang berderap menjauh.
            Rafhael melangkah dengan tergesa-gesa. Sambil terus-terusan memaki dirinya sendiri. Bego! Kenapa malah megangin dia kelamaan! Bisa-bisa tuh cewek salah paham kan? Mana lagi-lagi gue ngasarin dia lagi! batin Rafhael keki. Dasar goblok, goblok, harusnya lo cuekin aja. Bukannya malah marah-marah terus ujung-ujungnya lo kasih peringatan. Nggak konsisten banget sih lo, Rafhael!
            Rafhael jengkel abis. Kenapa setiap ketemu Chika bawaannya emosi melulu ya? Apalagi setelah tadi melihat trik kuno yang dilakukannya bersama temannya itu. Rafhael malah tambah jengkel. Oh, what the hell?!
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar