Menjauhi masalah. Tampaknya itu cukup mustahil
dilakukan oleh Chika yang punya rasa ingin tau yang besar. Bisa dibilang karena
nama tengahnya adalah ‘masalah’, sehingga dia selalu bisa melibatkan diri dalam
masalah yang sebenarnya bukan masalahnya. Seperti misalnya menjadi mak comblang
(Tuhan, berkati Chika) yang belum pernah ia coba sebelumnya. Tapi Chika tidak
bisa menolak permintaan tolong dari orang lain. Jadi ketika Inka meminta
bantuannya untuk mencomblangkannya dengan seorang cowok, Chika langsung
menyanggupi. Sekarang gantinya Chika yang bingung.
Ia
pun memutuskan untuk bertanya pada Linzie dan Keisha apa yang sebaiknya
dilakukannya.
“Kenapa
nggak lo tolak aja sih? Nyusahin diri aja,” kata Linzie ketika ditanya.
“Mending
lupain deh, Chi,” kata Keisha lembut.
Menyebalkan!
Kedua temannya yakin kalau Chika hanya akan mengacaukan semuanya ketimbang
membantu. Chika lalu beralih pada Samuel dan Jeremy. Dia yakin kedua cowok itu
lebih berpengalaman ketimbang dirinya. Jadi, begitu jam istirahat berbunyi,
Chika langsung mendatangi kelas kedua cowok itu. Syukur mereka semua sekelas.
Chika tak peduli meski harus memohon. Jadi ketika cowok-cowok itu keluar kelas,
Chika langsung menghadang mereka. Tanpa tedeng aling-aling langsung to the
point.
“Gimana
caranya mendekati cowok yang disuka?” tanya Chika. “Ah, bukan-bukan, salah,
maksud gue, menurut kalian, gimana cara PDKT yang baik?” ralat Chika.
Samuel
dan Jeremy saling pandang. Kemudian memandang Chika dengan aneh.
“Lo
mau PDKT sama cowok?” tanya Jeremy.
Chika
mengangguk-angguk, kemudian cepat-cepat menggeleng-geleng. “Bukan Chika...
Aduh, pokoknya kalian cukup kasih tau tips-tips buat PDKT ke Chika aja,” kata
Chika. “Ayolaaahh...” rayu Chika.
Kemudian
Rafhael muncul dari arah belakang kedua temannya. Ia mengernyit ketika melihat
Chika. “Ada masalah apa lagi nih?” tanyanya curiga.
“Bukan
masalah lagi kok,” tukas Chika cemberut.
Kemudian
Samuel mengusulkan agar mereka ke kantin dulu. Nanti bicara sambil makan. Chika
menolak, soalnya dia tau akan ketemu kedua temannya. Bisa-bisa ia malah kalah
suara nantinya. Jadi mending kabur duluan aja deh! Dan setelah bicara dengan
cepat soal ada janji dan lain hal, Chika langsung ngibrit pergi,
Dalam
perjalanan ke kantin, Rafhael bertanya mengenai sebab kedatangan Chika pada
kedua temannya.
“Dia
nanya gimana cara PDKT yang baik,” kata Samuel sambil angkat bahu. “Gue pikir
dia nggak usah susah-susah juga bisa dapat pacar deh. Dia kan cukup manis,
pergaulannya juga luas,” komentar Samuel lagi.
“Hah?
Dia PDKT? Yakin lo? Atau jangan-jangan malah dia lagi melibatkan diri dalam
masalah lagi!” kata Rafhael.
“Kok
lo yang sewot? Toh, yang bikin masalah dia,” kata Jeremy penasaran.
“Siapa
yang sewot?! Gue cuma belajar dari pengalaman tau! Dia tuh selalu bikin
masalah!” sahut Rafhael ketus.
“Nah,
sekarang lo mulai defensif kan? Jujur aja bilang lo peduli sama dia,” kata
Jeremy.
Rafhael
mendelik. “Gue bukan peduli!! Gue bahkan nggak mau tau apa lagi yang dia
perbuat,” sahut Rafhael jengkel. “Gara-gara dia gue dapat benjol segede telur
di kepala gue tau!” sungut Rafhael.
“Lha,
kok bisa?” tanya Samuel bingung.
“Jelas
aja bisa,” gerutu Rafhael. Kemudian dengan enggan menceritakan kejadian yang
menimpanya beberapa hari lalu itu.
Samuel
dan Jeremy tertawa terbahak-bahak mendengar kisah konyol itu. Keduanya bahkan
tak peduli betapa kecutnya ekspresi Rafhael. Tawa Jeremy reda lebih dulu
ketimbang Samuel.
“Sumpah,
gue belum pernah dengar kejadian yang begitu konyol kayak tadi. Lagian kenapa
harus pakai tangga segala? Pohon-pohon di taman belakang kebanyakan nggak
terlalu tinggi kan?” kata Jeremy. “Lo bisa aja suruh dia lompat dan lo nangkap
dia. Dengan gitu perkara beres.”
“Betul,
gue setuju. Toh, ujung-ujung dia tetap menimpa elo kan? Apa bedanya
mempersingkat prosesnya?” kata Samuel dan tertawa lagi.
Rafhael
cuma menggerutu. Dia takkan pernah cerita lagi pada teman-temannya kalau cuma
akan ditertawakan. Dan mengenai Chika, Rafhael akan bersikap masa bodoh! Mau
tuh cewek bikin kiamat juga, Rafhael takkan peduli!
***
Chika
terpaksa memutar otak sendiri. Inka betul-betul sudah ngebet banget sama cowok
bernama Arya ini. Chika bahkan nggak tau siapa yang namanya Arya. Kata Inka,
Arya itu salah satu anggota ekskul kendo. Selain ciri-ciri yang Inka berikan,
yang antara lain adalah tinggi, macho, berkulit kecokelatan, dan ramah, Chika
tidak tau apa-apa lagi soal cowok itu. Ia sudah memulai misinya.
Hal
pertama yang akan Chika lakukan adalah mencari tau semua hal tentang Arya. Ia
menanyai beberapa cowok kenalannya tentang ekskul kendo. Ia juga mulai menonton
latihan ekskul kendo sampai bosan. Dan akhirnya, di hari ketiga pengintaiannya,
ia berhasil mengetahui yang namanya Arya.
Wah,
kalau orangnya sebegitu ganteng sih, Chika nggak akan heran kenapa Inka sampai
tergila-gila banget sama cowok itu. Tapi menurut Chika, Arya itu nggak secakep
itu. Biasa-biasa aja, kecuali senyum ramahnya yang bikin silau itu. Rafhael
jauuuh lebih cakep. Tapi Chika tetap melakukan tugasnya dengan baik. Ia
menyampaikan laporan pada Inka, mulai membaca buku-buku yang berhubungan dengan
tips-tips PDKT yang sukses. Dan Chika telah membuat beberapa rencana.
Rencana
pertama adalah membuat Arya menyadari keberadaan Inka. Inka harus bisa membuat
Arya memperhatikannya. Namun tidak boleh dengan cara mencolok. Trik tak sengaja
menabrak merupakan alternatif pertama. Makanya siang itu Chika dan Inka sudah
menunggu kemunculan Arya.
Mereka sembunyi di tikungan koridor
sampai Arya muncul. Rencananya, begitu Arya muncul, Chika akan memberi tanda
pada Inka agar bergerak. Namun bukan Chika namanya kalau rencananya berjalan
sukses. Ketika mendorong Inka, kaki Chika terpeleset dan malah ia yang menubruk
Inka sebelum rencana mereka berjalan. Alhasil kedua cewek itu terjungkal di
lantai.
“Duh,
Chika, lo gimana sih?!” omel Inka, pantatnya sakit karena membentur lantai.
“Ma...
maaf...” sahut Chika menyesal.
“Kalian...
baik-baik aja?” tanya sebuah suara.
Kedua
cewek itu mendongak dan ternganga. Inka karena terlalu senang, sementara Chika
panik. Karena harusnya ia tidak masuk dalam skenario itu!
“E...
ehh… iya! Nggak apa-apa kok!” sahut Chika cepat dan menyikut Inka agar tidak
menatap Arya dengan memalukannya. Chika bangun dan membiarkan Arya membantu
Inka. Nah, setidaknya nggak semuanya gagal kan? batinnya.
“Sorry
ya, gue sama Inka nyaris menabrak elo,” kata Chika. Sengaja menyebutkan nama
Inka agar Arya bisa mengingatnya.
Kemudian
seperti rencana awal, mereka berbasa basi singkat dengan Arya. Termasuk
berkenalan secara resmi. Inka kelihatan hepi banget deh. Chika jadi
senyum-senyum. Walau rencananya agak sedikit semrawut, tapi hasil akhirnya nggak
melenceng dari rencana semula.
“Kalian
suka kendo?” tanya Arya.
“Oh,
Inka suka nonton tuh! Apalagi kalau sekolah kita yang tanding! Dia pasti
datang, iya nggak, In?!” sahut Chika.
Inka
mengangguk-angguk bersemangat. “Iya, iya, suka!” sahutnya cepat.
Arya
tersenyum. “Berarti kalian bakal nonton donk? Besok anak-anak bakal tanding di
gedung serbaguna sekolah.”
“Oh,
pasti!” sahut Inka setelah disikut oleh Chika.
Kemudian
mereka berpisah. Begitu yakin kalau Arya sudah hilang dari pandangan, Chika dan
Inka langsung bersorak girang. Mereka nggak menyangka bisa semudah itu.
Setelah
membuat janji untuk menjalankan rencana selanjutnya, Chika dan Inka lalu
berpisah. Chika melangkah riang karena strategi pertamanya berhasil. Berarti
tinggal menyusun langkah kedua, yakni kesempatan untuk saling mengenal. Itu
bisa ia atur. Mungkin saat pertandingan nanti Chika bisa mnghilang tiba-tiba
jika Inka dan Arya mengobrol. Hmm, bukan ide yang buruk.
Saking
seriusnya berpikir, Chika jadi tidak melihat ke depan dan langsung menabrak
patung berjalan. “Huwwaahh...!” seru Chika kaget dan nyaris terjungkal ke
belakang. Tapi sebuah tangan keburu menarik lengannya.
“Lo
tuh apa-apaan sih?!” hardik sebuah suara. Lho, kok Chika merasa nggak asing ya?
Chika pun mendongak.
“Rafha!”
serunya kaget. “Ehh, Chika nabrak elo ya? Sorry ya! Abis lagi mikir sih,” kata
Chika.
“Alasan
aja lo! Jalan tuh pakai mata! Syukur yang lo tabrak tuh gue, kalau lo malah
jatuh dari tangga gimana??” omel Rafhael.
“Ya
maaf...” gumam Chika. “Ng... gue udah bisa berdiri tegak kok,” tambahnya sambil
melirik tangan Rafhael yang masih di lengannya.
Rafhael
seketika itu melepaskan tangan Chika. Sebagai gantinya ia malah mendelik kesal.
Nah, apa lagi nih salah Chika? Kok rasanya Rafhael tuh benci banget sama Chika
ya?
“Lain
kali hati-hati!” tandas Rafhael dan langsung meninggalkan Chika.
Chika
memandang kepergian Rafhael dengan wajah merengut. Lagi-lagi kena marah. Kapan
ya, dia nggak akan kena bentak terus. Apalagi sama Rafhael. Chika mendesah
berat dan memerhatikan Rafhael yang berderap menjauh.
Rafhael
melangkah dengan tergesa-gesa. Sambil terus-terusan memaki dirinya sendiri.
Bego! Kenapa malah megangin dia kelamaan! Bisa-bisa tuh cewek salah paham kan?
Mana lagi-lagi gue ngasarin dia lagi! batin Rafhael keki. Dasar goblok, goblok,
harusnya lo cuekin aja. Bukannya malah marah-marah terus ujung-ujungnya lo
kasih peringatan. Nggak konsisten banget sih lo, Rafhael!
Rafhael
jengkel abis. Kenapa setiap ketemu Chika bawaannya emosi melulu ya? Apalagi
setelah tadi melihat trik kuno yang dilakukannya bersama temannya itu. Rafhael
malah tambah jengkel. Oh, what the hell?!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar