Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #4


Sekarang Chika punya hoby baru. Hoby yang nggak akan membuatnya berada dalam masalah. Yang nggak akan membuat dia terjatuh atau menabrak sesuatu. Pokoknya hoby yang 100% aman! Yapz, melamun. Sekarang Chika hoby melamun. Nggak peduli jam istirahat atau jam pelajaran, dia pasti sempat-sempatnya melamun. Bahkan saat berkumpul dengan teman-temannya di cafe Daniel, ia juga masih saja melamun. Membuat Linzie dan Keisha bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.
            “Chi, lo lagi ada masalah?” tanya Linzie khawatir.
            Chika tak menyahut. Masih saja asik melamun sambil sesekali mendesah pelan. Akhirnya Linzie harus berteriak menyadarkan Chika. Membuat Chika gelagapan dan mengoceh tidak jelas hingga Keisha harus membekap mulutnya.
            “Diam, ok?” kata Keisha. Yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Chika. Keisha pun melepaskan mulut Chika.
            “Nah, sekarang coba lo cerita. Kenapa akhir-akhir ini lo sering ngelamun?” tanya Keisha.
            Chika terdiam sebentar. Kemudian ia tersenyum lebar. “Gue nggak tau. Belakangan gue ngerasa hepiiiiii banget! Gue nggak tau apa sebabnya,” kata Chika.
            “Ada sesuatu yang terjadi?” pancing Linzie.
            Chika mengerutkan keningnya. Sesuatu yang terjadi? Langsung saja kepala Chika dipenuhi oleh segala hal yang terjadi belakangan ini. Yang pada akhirnya malah bikin dia pusing sendiri. Mengingat urutan kejadiannya saja ia tak bisa, apa lagi menceritakan kepada teman-temannya. Akhirnya ia hanya mengangkat bahu.
            “Nggak tau. Banyak yang udah terjadi!” sahut Chika.
            “Yah, kalau gitu gimana kami bisa tau lo kenapa. Lo aja nggak tau apa yang bikin lo senang,” sahut Linzie.
            Chika merengut. Habis mau bagaimana lagi? Chika kan nggak mengerti kejadian mana yang membuatnya merasa sesenang itu. Tapi kalau mau dirunut lagi, Chika mulai merasa hepi setiap mikirin Rafhael kan? Terus pas dekat sama Rafhael, Chika juga ngerasa deg-degan kan? Itu artinya kenapa? Chika bertanya-tanya dalam hati.
            “Ng...” Chika ragu-ragu. “Kalau misalnya kita ngerasa senang saat mikirin seseorang dan deg-degan tiap dekat-dekat seseorang, artinya apa ya? Chika takut ada yang salah sama jantung Chika,” kata Chika setengah menggumam.
           Linzie tercengang. Sementara gelas di tangan Keisha bahkan nyaris tergelincir. Lalu keduanya saling pandang, tampaknya mempunyai pikiran yang sama.
            “Lo lagi naksir seseorang??” tanya Linzie kaget.
            “Siapa?” tanya Keisha berbarengan dengan pertanyaan Linzie. Keduanya saling pandang dan berdecak.
            “Naksir? Maksudnya?” tanya Chika.
            “Ya ampuuunnn, susah deh ngomong sama orang lemot!” seru Linzie frustasi. “Lo tuh lagi kasmaran tau!”
            “Tanda-tanda yang lo tanya tadi itu tanda-tanda orang lagi jatuh cinta, Chi,” terang Keisha sabar
            Chika terdiam, seolah berusaha mencerna informasi itu lebih seksama. Ia jatuh cinta? Sama siapa?
            “Tapi... sama siapa?” tanyanya bingung.
            Linzie menepuk dahi. “Ampun deh,” gerutunya.
            Chika mesih terus mendesak Linzie dan Keisha menjelaskan lebih lanjut tentang perasaan aneh yang Chika rasakan ketika para cowok bergabung dengan mereka. Untung ruang pojok di cafe Daniel itu cukup luas. Sehingga kehadiran para cowok itu nggak terlalu memakan banyak ruang gerak.
            “Zizi, jelasiiin....!” rengek Chika sambil menarik-narik baju Linzie.
            “Duh, mana gue bisa, Chi! Yang ngerasain kan elo,” sahut Linzie.
            “Ada apaan sih?” tanya Samuel tertarik. Yang langsung dijawab pandangan memelas Chika. Membuatnya mundur selangkah.
            “Sammyyyy... orang jatuh cinta itu gimana siiih???” rengek Chika.
            “Siapa yang jatuh cinta?” tanya Jeremy penasaran.
            Kemudian Keisha menjabarkan semua yang dilewatkan kedua cowok itu. Samuel terbahak-bahak saat mengetahui Chika sepolos itu. Bahkan anak SD aja lebih pintar dalam urusan cinta-cintaan ketimbang Chika! Chika langsung ngambek, menggembungkan pipinya mirip ikan kembung. Setelah itu dia mengambil tas dan angkat kaki dari sana. Tapi baru saja berbalik, ia langsung menabrak sebuah dinding kokoh yang menghalangi pintu.
            “Aduduuuuhhh,” ringis Chika sambil memegangi hidungnya lalu mendongak.
            Kemudian ia membelalak karena ternyata yang ditabraknya adalah Rafhael. Nah, penyakit aneh Chika langsung kumat. Jantungnya langsung lompat-lompat, tangannya jadi dingin dan dia jadi susah napas. Bahkan Rafhael juga ikut cemas melihat tingkah Chika.
            “Lo mau pingsan?” tanya Rafhael.
            Hiiihhh… Chika langsung merasa merinding. Ia langsung menjauh dari Rafhael.
            “Gu...gue nggak apa-apa... ng… Gu… gue mau… cabut dulu! Ya... gue mau pulang! Inka ngajakin nonton latihan kendonya Arya! Dagh!!” gagap Chika dan langsung ngibrit pergi.
            “Ehh, woii!!” panggil Rafhael bingung.
            Kemudian ia bergabung dengan teman-temannya tanpa menyadari tatapan aneh yang diarahkan kepadanya.
            “Tuh cewek kenapa sih? Memang gue hantu apa,” gerutunya. Kemudian menyadari semua mata mengarah padanya. “Kalian kenapa ngelihatin gue kayak gitu?” tanyanya dengan kening berkerut.
            Serempak mereka saling pandang, kemudian tawa mereka meledak. Rafhael makin bingung dibuatnya. Ia tidak tau di mana letak kelucuan situasi ini. Kenapa teman-temannya malah ketawa?
            “Astaga, gue nggak nyangka,” kata Samuel di tengah-tengah tawanya
            “Gu... gue pikir siapa... haha,” Linzie terpingkal-pingkal.
            Jeremy geleng-geleng kepala setelah tawanya reda, tapi jelas dia masih merasa geli. “Gue udah menduga sejak awal bakal kayak gini,” komentarnya.
            “Tapi gue nggak percaya mereka sendiri malah nggak nyadar,” kata Keisha sembari menatap Rafhael.
            “Apa?!” sergah Rafhael.
            “Nggak apa-apa sih,” sahut Keisha sambil tersenyum-senyum geli
            “Sumpah, lama-lama kalian bakal bikin gue jadi gila!” kata Rafhael jengkel. “Ada apa sih sama orang yang lagi jatuh cinta?! Apa otaknya pada nggak benar semua??” gerutu Rafhael jengkel.
            “Oh, apa lo mau coba ngerasain jatuh cinta?” goda Samuel.
            Rafhael mendengus. “Jadi gila kayak kalian? Makasih deh! Gue cukup senang dengan hidup gue yang sekarang,” ketus Rafhael.
            “Hmm... nyesel nanti lo,” kata Linzie.
            Rafhael mencibir. Kemudian teringat dengan sikap aneh Chika. “Kalau kalian sih gue bisa mengerti,” kata Rafhael. “Tapi si Chika kenapa? Kok panik nggak jelas gitu?” tanya Rafhael benar-benar tak mengerti. Bukannya menjawab, Samuel malah kembali tertawa-tawa bahagia. Rafhael langsung memutar bola mata. “Yah, suka-suka lo deh,” gumamnya keki.
            Tampaknya Keisha tak tega membuat Rafhael penasaran. Jadi ia memutuskan untuk memberitau Rafhael. Dengan sedikit bumbu di sana-sini sehingga mengaburkan faktanya.
            “Menurut gue, Chika lagi jatuh cinta,” kata Keisha sambil tersenyum penuh misteri.
            Rafhael menatap Keisha seolah di lehernya tumbuh satu kepala lagi. Ia mencari-cari tanda-tanda dirinya sedang dikerjai. Tapi ia malah menerima tatapan penasaran dari teman-temannya.
            “Ah, ngaco lo,” kata Rafhael akhirnya.
            “Kalau gue serius gimana? Hm?” tantang Keisha sambil menaikkan sebelah alisnya.
            Rafhael terdiam. Kalau Keisha tidak bohong dan Chika benar-benar sedang jatuh cinta gimana? Memangnya apa hubungannya antara Chika yang jatuh cinta dengan dirinya? Tapi… kok Rafhael agak merasa tidak enak ya?
            “Gimana apanya?” tanya Rafhael waswas.
            “Lo bakal gimana kalau Chika jatuh cinta sama seseorang?” kata Jeremy membantu.
            Gimana dengan gue? batin Rafhael. Membayangkan Chika jatuh cinta dengan seorang cowok... Rafhael tak bisa membayangkannya sama sekali. Otaknya tidak bisa memproses informasi itu bahkan hanya untuk memperlihatkan beberapa imajinasi. Ia tak bisa membayangkannya sama sekali. Tak bisa... atau... tidak mau..? Tiba-tiba pertanyaan itu berkelebat di kepala Rafhael. Ia menatap keempat pasang mata yang tengah menatapnya dengan penuh spekulasi itu. perasaan Rafhael malah jadi makin nggak karuan sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk undur diri dari pertemuan itu.
            “Gue mau jalan dulu,” katanya dan pergi, tanpa menoleh ke belakang sehingga ia tak melihat seringaian teman-temannya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar