Sekarang Chika punya hoby baru. Hoby yang nggak akan
membuatnya berada dalam masalah. Yang nggak akan membuat dia terjatuh atau
menabrak sesuatu. Pokoknya hoby yang 100% aman! Yapz, melamun. Sekarang Chika
hoby melamun. Nggak peduli jam istirahat atau jam pelajaran, dia pasti
sempat-sempatnya melamun. Bahkan saat berkumpul dengan teman-temannya di cafe
Daniel, ia juga masih saja melamun. Membuat Linzie dan Keisha bertanya-tanya
apa yang terjadi padanya.
“Chi,
lo lagi ada masalah?” tanya Linzie khawatir.
Chika
tak menyahut. Masih saja asik melamun sambil sesekali mendesah pelan. Akhirnya
Linzie harus berteriak menyadarkan Chika. Membuat Chika gelagapan dan mengoceh
tidak jelas hingga Keisha harus membekap mulutnya.
“Diam,
ok?” kata Keisha. Yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Chika. Keisha pun
melepaskan mulut Chika.
“Nah,
sekarang coba lo cerita. Kenapa akhir-akhir ini lo sering ngelamun?” tanya
Keisha.
Chika
terdiam sebentar. Kemudian ia tersenyum lebar. “Gue nggak tau. Belakangan gue
ngerasa hepiiiiii banget! Gue nggak tau apa sebabnya,” kata Chika.
“Ada
sesuatu yang terjadi?” pancing Linzie.
Chika
mengerutkan keningnya. Sesuatu yang terjadi? Langsung saja kepala Chika
dipenuhi oleh segala hal yang terjadi belakangan ini. Yang pada akhirnya malah
bikin dia pusing sendiri. Mengingat urutan kejadiannya saja ia tak bisa, apa
lagi menceritakan kepada teman-temannya. Akhirnya ia hanya mengangkat bahu.
“Nggak
tau. Banyak yang udah terjadi!” sahut Chika.
“Yah,
kalau gitu gimana kami bisa tau lo kenapa. Lo aja nggak tau apa yang bikin lo
senang,” sahut Linzie.
Chika
merengut. Habis mau bagaimana lagi? Chika kan nggak mengerti kejadian mana yang
membuatnya merasa sesenang itu. Tapi kalau mau dirunut lagi, Chika mulai merasa
hepi setiap mikirin Rafhael kan? Terus pas dekat sama Rafhael, Chika juga
ngerasa deg-degan kan? Itu artinya kenapa? Chika bertanya-tanya dalam hati.
“Ng...”
Chika ragu-ragu. “Kalau misalnya kita ngerasa senang saat mikirin seseorang dan
deg-degan tiap dekat-dekat seseorang, artinya apa ya? Chika takut ada yang
salah sama jantung Chika,” kata Chika setengah menggumam.
Linzie
tercengang. Sementara gelas di tangan Keisha bahkan nyaris tergelincir. Lalu
keduanya saling pandang, tampaknya mempunyai pikiran yang sama.
“Lo
lagi naksir seseorang??” tanya Linzie kaget.
“Siapa?”
tanya Keisha berbarengan dengan pertanyaan Linzie. Keduanya saling pandang dan
berdecak.
“Naksir?
Maksudnya?” tanya Chika.
“Ya
ampuuunnn, susah deh ngomong sama orang lemot!” seru Linzie frustasi. “Lo tuh
lagi kasmaran tau!”
“Tanda-tanda
yang lo tanya tadi itu tanda-tanda orang lagi jatuh cinta, Chi,” terang Keisha
sabar
Chika
terdiam, seolah berusaha mencerna informasi itu lebih seksama. Ia jatuh cinta?
Sama siapa?
“Tapi...
sama siapa?” tanyanya bingung.
Linzie
menepuk dahi. “Ampun deh,” gerutunya.
Chika
mesih terus mendesak Linzie dan Keisha menjelaskan lebih lanjut tentang
perasaan aneh yang Chika rasakan ketika para cowok bergabung dengan mereka.
Untung ruang pojok di cafe Daniel itu cukup luas. Sehingga kehadiran para cowok
itu nggak terlalu memakan banyak ruang gerak.
“Zizi,
jelasiiin....!” rengek Chika sambil menarik-narik baju Linzie.
“Duh,
mana gue bisa, Chi! Yang ngerasain kan elo,” sahut Linzie.
“Ada
apaan sih?” tanya Samuel tertarik. Yang langsung dijawab pandangan memelas
Chika. Membuatnya mundur selangkah.
“Sammyyyy...
orang jatuh cinta itu gimana siiih???” rengek Chika.
“Siapa
yang jatuh cinta?” tanya Jeremy penasaran.
Kemudian
Keisha menjabarkan semua yang dilewatkan kedua cowok itu. Samuel terbahak-bahak
saat mengetahui Chika sepolos itu. Bahkan anak SD aja lebih pintar dalam urusan
cinta-cintaan ketimbang Chika! Chika langsung ngambek, menggembungkan pipinya
mirip ikan kembung. Setelah itu dia mengambil tas dan angkat kaki dari sana.
Tapi baru saja berbalik, ia langsung menabrak sebuah dinding kokoh yang
menghalangi pintu.
“Aduduuuuhhh,”
ringis Chika sambil memegangi hidungnya lalu mendongak.
Kemudian
ia membelalak karena ternyata yang ditabraknya adalah Rafhael. Nah, penyakit
aneh Chika langsung kumat. Jantungnya langsung lompat-lompat, tangannya jadi
dingin dan dia jadi susah napas. Bahkan Rafhael juga ikut cemas melihat tingkah
Chika.
“Lo
mau pingsan?” tanya Rafhael.
Hiiihhh…
Chika langsung merasa merinding. Ia langsung menjauh dari Rafhael.
“Gu...gue
nggak apa-apa... ng… Gu… gue mau… cabut dulu! Ya... gue mau pulang! Inka
ngajakin nonton latihan kendonya Arya! Dagh!!” gagap Chika dan langsung ngibrit
pergi.
“Ehh,
woii!!” panggil Rafhael bingung.
Kemudian
ia bergabung dengan teman-temannya tanpa menyadari tatapan aneh yang diarahkan
kepadanya.
“Tuh
cewek kenapa sih? Memang gue hantu apa,” gerutunya. Kemudian menyadari semua
mata mengarah padanya. “Kalian kenapa ngelihatin gue kayak gitu?” tanyanya dengan
kening berkerut.
Serempak
mereka saling pandang, kemudian tawa mereka meledak. Rafhael makin bingung
dibuatnya. Ia tidak tau di mana letak kelucuan situasi ini. Kenapa
teman-temannya malah ketawa?
“Astaga,
gue nggak nyangka,” kata Samuel di tengah-tengah tawanya
“Gu...
gue pikir siapa... haha,” Linzie terpingkal-pingkal.
Jeremy
geleng-geleng kepala setelah tawanya reda, tapi jelas dia masih merasa geli.
“Gue udah menduga sejak awal bakal kayak gini,” komentarnya.
“Tapi
gue nggak percaya mereka sendiri malah nggak nyadar,” kata Keisha sembari menatap
Rafhael.
“Apa?!”
sergah Rafhael.
“Nggak
apa-apa sih,” sahut Keisha sambil tersenyum-senyum geli
“Sumpah,
lama-lama kalian bakal bikin gue jadi gila!” kata Rafhael jengkel. “Ada apa sih
sama orang yang lagi jatuh cinta?! Apa otaknya pada nggak benar semua??” gerutu
Rafhael jengkel.
“Oh,
apa lo mau coba ngerasain jatuh cinta?” goda Samuel.
Rafhael
mendengus. “Jadi gila kayak kalian? Makasih deh! Gue cukup senang dengan hidup
gue yang sekarang,” ketus Rafhael.
“Hmm...
nyesel nanti lo,” kata Linzie.
Rafhael
mencibir. Kemudian teringat dengan sikap aneh Chika. “Kalau kalian sih gue bisa
mengerti,” kata Rafhael. “Tapi si Chika kenapa? Kok panik nggak jelas gitu?” tanya
Rafhael benar-benar tak mengerti. Bukannya menjawab, Samuel malah kembali
tertawa-tawa bahagia. Rafhael langsung memutar bola mata. “Yah, suka-suka lo
deh,” gumamnya keki.
Tampaknya
Keisha tak tega membuat Rafhael penasaran. Jadi ia memutuskan untuk memberitau
Rafhael. Dengan sedikit bumbu di sana-sini sehingga mengaburkan faktanya.
“Menurut
gue, Chika lagi jatuh cinta,” kata Keisha sambil tersenyum penuh misteri.
Rafhael
menatap Keisha seolah di lehernya tumbuh satu kepala lagi. Ia mencari-cari
tanda-tanda dirinya sedang dikerjai. Tapi ia malah menerima tatapan penasaran
dari teman-temannya.
“Ah,
ngaco lo,” kata Rafhael akhirnya.
“Kalau
gue serius gimana? Hm?” tantang Keisha sambil menaikkan sebelah alisnya.
Rafhael
terdiam. Kalau Keisha tidak bohong dan Chika benar-benar sedang jatuh cinta
gimana? Memangnya apa hubungannya antara Chika yang jatuh cinta dengan dirinya?
Tapi… kok Rafhael agak merasa tidak enak ya?
“Gimana
apanya?” tanya Rafhael waswas.
“Lo
bakal gimana kalau Chika jatuh cinta sama seseorang?” kata Jeremy membantu.
Gimana dengan gue? batin Rafhael.
Membayangkan Chika jatuh cinta dengan seorang cowok... Rafhael tak bisa
membayangkannya sama sekali. Otaknya tidak bisa memproses informasi itu bahkan
hanya untuk memperlihatkan beberapa imajinasi. Ia tak bisa membayangkannya sama
sekali. Tak bisa... atau... tidak mau..? Tiba-tiba pertanyaan itu berkelebat di
kepala Rafhael. Ia menatap keempat pasang mata yang tengah menatapnya dengan
penuh spekulasi itu. perasaan Rafhael malah jadi makin nggak karuan sehingga
pada akhirnya ia memutuskan untuk undur diri dari pertemuan itu.
“Gue
mau jalan dulu,” katanya dan pergi, tanpa menoleh ke belakang sehingga ia tak
melihat seringaian teman-temannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar