Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 2 : THE LOVE BEGIN IN THE 3rd KISS #2


Keisha memandangi buku-buku yang bertumpuk di meja pengembalian di perpustakaan. Baru saja ia datang untuk mengembalikan buku, namun Bu Yovi yang bertugas menjaga perpustakaan justru minta tolong padanya untuk mengembalikan buku-buku itu ke raknya masing-masing. Mau tak mau Keisha pun melakukannya. Ia sudah terlalu dikenal oleh guru itu, sehingga Keisha tidak sampai hati untuk menolak. Akhirnya ia mulai membereskan buku-buku itu. Ia membawa lima tumpuk buku sekaligus supaya cepat selesai. Ia terlalu sibuk untuk menyadari keberadan orang lain di tempat itu.
            “Gue bertanya-tanya kapan lo bakal datang,” kata sebuah suara mengagetkan Keisha hingga buku-buku yang ia pegang berjatuhan.
            Kemudian Keisha memandangi Jeremy dengan tatapan datar dan memungut buku-bukunya kembali. “Kenapa lo bertanya-tanya?” sahut Keisha tak acuh.
            Jeremy menggedikkan bahunya yang tidak bersandar di rak. “Entahlah. Mungkin karena gue terbiasa melihat lo di sini,” sahut Jeremy.
            “Terus? Sekarang setelah lo melihat gue lo mau apa?” tanya Keisha sembari meletakkan buku sesuai urutan alphabetnya. Ia sama sekali tak menatap ke arah Jeremy ketika mengatakan hal itu.
            “Hmm... ini dan itu sebenarnya. Tapi gue rasa lo pasti nggak mau tau,” komentar ini berhasil menarik perhatian Keisha. Cewek itu kini menatap Jeremy dengan mata memicing. Membuat Jeremy tersenyum.
            “Gue rasa gue memang nggak mau tau,” gumam Keisha. Ia berlalu ketika semua buku sudah berada di tempatnya semula. Namun tangan Jeremy menghentikan langkahnya.
            Sebenarnya Jeremy cuma memegang pergelangan tangannya, kalau Keisha mau, ia bisa langsung menyentakkan tangannya hingga lepas. Tapi ia tidak punya waktu karena Jeremy telah menariknya dan tau-tau ia sudah ada di dada cowok itu. Keisha jelas terkejut, tapi bisa mengendalikan dirinya. Dia berusaha menarik diri, agar bisa menatap Jeremy dengan tajam.
            “Apa mau lo?” ketus Keisha.
Jeremy menghela napas pelan, kemudian tersenyum. “Keisha Valeriana, peringkat kedua dalam ujian masuk. Gue pikir seperti apa orangnya... Ternyata cuma cewek yang gila belajar,” kata Jeremy.
            “Lalu? Apa urusannya sama elo? Peringkat satu ujian masuk?” sinis Keisha. Keisha baru mngetahui bahwa orang yang tidak bisa ia kalahkan selama ini adalah Jeremy. Siapa sangka cowok itu menduduki peringkat satu di setiap ujian? Penampilan luarnya jelas tidak menunjukkan hal itu.
            “Apa lo benci gue?” tanya Jeremy.
           “Buat apa gue membenci elo? Gue masih bisa mengganti ketinggalan gue di lain waktu,” sahut Keisha tenang.
            “Apa lo nggak pernah menikmati hidup? Nggak bosan belajar melulu?”
            “Bukan urusan lo!” sahut Keisha dan melepaskan diri dari Jeremy.
                        Keisha menolak terpancing oleh kata-kata cowok itu. Memang benar, Keisha menikmati kesehariannya yang biasa. Yang lebih banyak ia habiskan dengan membaca buku dan berkumpul bersama Linzie dan juga Chika. Dan Keisha sama sekali tidak keberatan dengan hidup yang seperti itu.
            Sejak kecil ia sudah diajarkan untuk tidak pernah mengeluh. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Keisha tidak boleh bersikap manja. Karena di keluarganya tidak mengenal kata manja. Semua kakak-kakaknya sudah hidup mapan sekarang. Mereka bisa sukses karena berjuang mati-matian. Memang Keisha akui kesuksesan adalah yang terpenting di keluarganya. Karena itulah Keisha juga mengedepankan belajarnya dan mengesampingkan hal-hal lain yang ia anggap remeh seperti kelewat bersenang-senang dan juga soal asmara.
            Baginya hal seperti itu bisa menunggu. Namun, ia tidak terima ketika tau dirinya kalah oleh orang macam Jeremy. Keisha tak pernah mendengar cowok itu bersusah payah belajar. Menurut gosip, cowok itu terlahir jenius. Ayahnya seorang dokter spesialis yang terkenal, sementara ibunya adalah Dekan di sebuah universitas bergengsi.
            “Gue menjalani hidup gue dengan nyaman,” sahut Keisha dingin.
            “Hmm…” Jeremy memandangi Keisha, seolah sedang menafsirkan sesuatu. Tangan cowok itu masih belum melepaskan Keisha, hanya membiarkan jarak sejauh 30cm memisahkan mereka. “Mungkin lo perlu dibuat mengerti apa arti hidup sehingga lo bisa menikmatinya. Bukannya menganggap hidup sebagai sesuatu yang sistematis,” kata Jeremy.
            Kening Keisha berkerut. “Apa? Lo pikir gue nggak bisa menikmati hidup? Perlu lo tau, hidup gue berbeda dengan hidup lo!!” tegas Keisha.
            “Karena itulah lo perlu mencicipi cara hidup gue,” kata Jeremy. Tangan kanannya mengelus pipi Keisha dengan ringan. “Dan jangan terlalu banyak berpikir,” bisik cowok itu.
            Kemudian tanpa Keisha menyadari maksud cowok itu, bibir Jeremy telah mmbungkam apapun yang hendak ia katakan. Keisha hanya mempu membelalakkan matanya sebelum otaknya tiba-tiba blank dan kehilangan kemampuan berpikir. Kemudian, secepat dimulainya , scepat itu pula Jeremy mengakhiri ciumannya. Memandangi Keisha yang masih tampak linglung dan hanya mengerjap-ngerjapkan mata.            Kemudian cowok itu tersenyum, melepaskan pegangannya pada pinggang Keisha dan meninggalkan cewek itu dan keterkejutannya.
            Butuh waktu beberapa saat bagi Keisha untuk pulih dari rasa kagetnya. Namun begitu ia menyadari apa yang dilakukan Jeremy, Keisha langsung membanting sebuah buku yang ada di rak. Suara buku berdebam jatuh memenuhi ruangan yang kosong itu sebelum sumpah serapah Keisha mengikuti. Samar-samar terdengar suara tawa Jeremy.
            “Cowok brengsek!”maki Keisha sembari mengelap bibirnya dengan punggung tangannya berkali-kali. Seolah-olah hal itu dapat menghapuskan jejak ciuman Jeremy.
            Pada akhirnya Keisha meninggalkan perpustakaan dengan langkah menghentak marah. Jeremy, cowok brengsek itu akan menerima balasan yang setimpal!! Lihat saja nanti. Keisha akan membuat hidup cowok itu menderita! Keisha berjanji dalam hatinya.
            Setelah kembali ke kelasnya, Jeremy terus-terusan tersenyum tipis, terkadang terkekeh geli sendiri ketika mengingat reaksi Keisha saat ia mencium gadis itu. Yah, Jeremy sih lebih memilih menyebut itu sebagai kecupan ketimbang ciuman, tapi reaksi Keisha membuatnya geli. Jelas kalau cewek itu belum pernah dicium sebelumnya. Dari matanya yang membelalak dan tubuhnya yang seketika menjadi kaku, jelas sekali kalau Jeremy yang menjadi first kissnya.
            Helaan napas Rafhael yang begitu keras membuat Jeremy kembali ke dunia fana. Ia memandang sahabatnya itu, yang ternyata sedang merengut ke arahnya.
            “Kenapa lo?” tanya Jeremy.
            “Kayaknya cuma gue deh yang masih waras. Lo kelihatannya udah menemukan mainan baru ya? Tingkah lo mendekati tingkah Sammy,” kata Rafhael.
            “Sammy? Jadi sekarang panggilannya berubah?” goda Jeremy, memancing umpatan dari Rafhael mengenai terpengaruh Chika dan sebagainya.
            “Nggak penting siapa panggilannya sekarang! Yang jelas lo udah mendekati kegilaan dia soal nyengir!” ketus Rafhael.
            “Gue bisa bilang gue jauh lebih baik ketimbang dia,” kata Jeremy sambil mengangguk ke arah Samuel yang baru kembali ke kelas. “Dan gue juga nggak menemukan mainan baru,”tambahnya. Agak tidak setuju dengan sebutan yang Rafhael pakai. Dia mungkin lebih senang jika disebut eksperimen baru.
            Rafhael mendengus tepat saat Samuel menjatuhkan tubuhnya di kursi depan mereka. “Hallo everybody!! Ada apa nih? Ada yang gue lewatkan??” ujar Samuel riang.
            “Jeremy lagi kasmaran,” sahut Rafhael ngasal, yang langsung mendapat hadiah keplakan di kepala oleh Jeremy.
            “Oh ya?? Sama siapa?? Gue kenal nggak??” seru Samuel tertarik.
            Jeremy langsung memutar bola mata. Sementara Rafhael lagi-lagi mendengus muak. Samuel bertanya-tanya dengan penasaran ketika Jeremy tetap bungkam. Pada akhirnya ia terpaksa menyerah dan mengganti topik pembicaraan mengenai keluhannya terhadap teman-teman Linzie. Terutama Si Ratu Es yang kini tampak lebih dingin dari biasanya.
            “Sumpah, gue cuma nggak sengaja nanya dia lagi baca apa tapi gue langsung dipelototin dengan bengis. Memang salah gue apa coba??” kata Samuel curhat.
            “Siapa yang lo omongin?” tanya Rafhael tanpa benar-benar ingin tau.
            “Keishalah! Masa Chika? Sejak kapan si Chika doyan baca buku? Kecuali ngemut permen setiap saat??” seru Samuel dramatis.
            Rafhael mencibir, seolah-olah dia perlu diberitau saja soal bocah satu itu. Dia sudah mengoleksi lebih dari setengah lusin permen sejak bertemu cewek bawel satu itu.
            “Dia lebih sensi?” kata Jeremy, sambil membuka-buka majalah yang baru dipinjamnya dari perpustakaan.
            “Hah?” sahut Samuel.
            “Keisha,” Jeremy mengingatkan.
            “Oh! Keisha! Iya! Tapi itu sih cocok disebut senewen sama sesuatu ketimbang sensi,” sahut Samuel.
            Jeremy tersenyum dalam hati. Tampaknya usahanya untuk meruntuhkan tembok keteraturan dari diri Keisha mulai menampakkan hasil. Jika ia gagal, maka sudah bisa dipastikan cewek itu akan tetap tenang seperti biasanya. Sudah sepantasnya cewek itu keluar dari semua aturan yang dibuatnya untuk dirinya sendiri. Jeremy tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dalam sebuah rutinitas yang sudah di atur secara sistematis dan terarah hanya pada satu tujuan. Yang jelas satu hal yang Jeremy tau pasti. Pasti hidup itu akan terasa membosankan.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar