Keisha memandangi buku-buku yang bertumpuk di meja
pengembalian di perpustakaan. Baru saja ia datang untuk mengembalikan buku,
namun Bu Yovi yang bertugas menjaga perpustakaan justru minta tolong padanya
untuk mengembalikan buku-buku itu ke raknya masing-masing. Mau tak mau Keisha
pun melakukannya. Ia sudah terlalu dikenal oleh guru itu, sehingga Keisha tidak
sampai hati untuk menolak. Akhirnya ia mulai membereskan buku-buku itu. Ia
membawa lima tumpuk buku sekaligus supaya cepat selesai. Ia terlalu sibuk untuk
menyadari keberadan orang lain di tempat itu.
“Gue
bertanya-tanya kapan lo bakal datang,” kata sebuah suara mengagetkan Keisha
hingga buku-buku yang ia pegang berjatuhan.
Kemudian
Keisha memandangi Jeremy dengan tatapan datar dan memungut buku-bukunya kembali.
“Kenapa lo bertanya-tanya?” sahut Keisha tak acuh.
Jeremy
menggedikkan bahunya yang tidak bersandar di rak. “Entahlah. Mungkin karena gue
terbiasa melihat lo di sini,” sahut Jeremy.
“Terus?
Sekarang setelah lo melihat gue lo mau apa?” tanya Keisha sembari meletakkan
buku sesuai urutan alphabetnya. Ia sama sekali tak menatap ke arah Jeremy
ketika mengatakan hal itu.
“Hmm...
ini dan itu sebenarnya. Tapi gue rasa lo pasti nggak mau tau,” komentar ini
berhasil menarik perhatian Keisha. Cewek itu kini menatap Jeremy dengan mata
memicing. Membuat Jeremy tersenyum.
“Gue
rasa gue memang nggak mau tau,” gumam Keisha. Ia berlalu ketika semua buku
sudah berada di tempatnya semula. Namun tangan Jeremy menghentikan langkahnya.
Sebenarnya
Jeremy cuma memegang pergelangan tangannya, kalau Keisha mau, ia bisa langsung
menyentakkan tangannya hingga lepas. Tapi ia tidak punya waktu karena Jeremy
telah menariknya dan tau-tau ia sudah ada di dada cowok itu. Keisha jelas
terkejut, tapi bisa mengendalikan dirinya. Dia berusaha menarik diri, agar bisa
menatap Jeremy dengan tajam.
“Apa
mau lo?” ketus Keisha.
Jeremy menghela napas pelan, kemudian tersenyum.
“Keisha Valeriana, peringkat kedua dalam ujian masuk. Gue pikir seperti apa
orangnya... Ternyata cuma cewek yang gila belajar,” kata Jeremy.
“Lalu?
Apa urusannya sama elo? Peringkat satu ujian masuk?” sinis Keisha. Keisha baru
mngetahui bahwa orang yang tidak bisa ia kalahkan selama ini adalah Jeremy.
Siapa sangka cowok itu menduduki peringkat satu di setiap ujian? Penampilan
luarnya jelas tidak menunjukkan hal itu.
“Apa
lo benci gue?” tanya Jeremy.
“Buat
apa gue membenci elo? Gue masih bisa mengganti ketinggalan gue di lain waktu,” sahut
Keisha tenang.
“Apa
lo nggak pernah menikmati hidup? Nggak bosan belajar melulu?”
“Bukan
urusan lo!” sahut Keisha dan melepaskan diri dari Jeremy.
Keisha
menolak terpancing oleh kata-kata cowok itu. Memang benar, Keisha menikmati
kesehariannya yang biasa. Yang lebih banyak ia habiskan dengan membaca buku dan
berkumpul bersama Linzie dan juga Chika. Dan Keisha sama sekali tidak keberatan
dengan hidup yang seperti itu.
Sejak
kecil ia sudah diajarkan untuk tidak pernah mengeluh. Sebagai anak bungsu dari
tiga bersaudara, Keisha tidak boleh bersikap manja. Karena di keluarganya tidak
mengenal kata manja. Semua kakak-kakaknya sudah hidup mapan sekarang. Mereka
bisa sukses karena berjuang mati-matian. Memang Keisha akui kesuksesan adalah
yang terpenting di keluarganya. Karena itulah Keisha juga mengedepankan
belajarnya dan mengesampingkan hal-hal lain yang ia anggap remeh seperti
kelewat bersenang-senang dan juga soal asmara.
Baginya
hal seperti itu bisa menunggu. Namun, ia tidak terima ketika tau dirinya kalah
oleh orang macam Jeremy. Keisha tak pernah mendengar cowok itu bersusah payah
belajar. Menurut gosip, cowok itu terlahir jenius. Ayahnya seorang dokter
spesialis yang terkenal, sementara ibunya adalah Dekan di sebuah universitas
bergengsi.
“Gue
menjalani hidup gue dengan nyaman,” sahut Keisha dingin.
“Hmm…”
Jeremy memandangi Keisha, seolah sedang menafsirkan sesuatu. Tangan cowok itu
masih belum melepaskan Keisha, hanya membiarkan jarak sejauh 30cm memisahkan
mereka. “Mungkin lo perlu dibuat mengerti apa arti hidup sehingga lo bisa
menikmatinya. Bukannya menganggap hidup sebagai sesuatu yang sistematis,” kata
Jeremy.
Kening
Keisha berkerut. “Apa? Lo pikir gue nggak bisa menikmati hidup? Perlu lo tau,
hidup gue berbeda dengan hidup lo!!” tegas Keisha.
“Karena
itulah lo perlu mencicipi cara hidup gue,” kata Jeremy. Tangan kanannya
mengelus pipi Keisha dengan ringan. “Dan jangan terlalu banyak berpikir,” bisik
cowok itu.
Kemudian
tanpa Keisha menyadari maksud cowok itu, bibir Jeremy telah mmbungkam apapun
yang hendak ia katakan. Keisha hanya mempu membelalakkan matanya sebelum
otaknya tiba-tiba blank dan kehilangan kemampuan berpikir. Kemudian, secepat
dimulainya , scepat itu pula Jeremy mengakhiri ciumannya. Memandangi Keisha
yang masih tampak linglung dan hanya mengerjap-ngerjapkan mata. Kemudian cowok itu tersenyum,
melepaskan pegangannya pada pinggang Keisha dan meninggalkan cewek itu dan
keterkejutannya.
Butuh
waktu beberapa saat bagi Keisha untuk pulih dari rasa kagetnya. Namun begitu ia
menyadari apa yang dilakukan Jeremy, Keisha langsung membanting sebuah buku
yang ada di rak. Suara buku berdebam jatuh memenuhi ruangan yang kosong itu
sebelum sumpah serapah Keisha mengikuti. Samar-samar terdengar suara tawa
Jeremy.
“Cowok
brengsek!”maki Keisha sembari mengelap bibirnya dengan punggung tangannya
berkali-kali. Seolah-olah hal itu dapat menghapuskan jejak ciuman Jeremy.
Pada
akhirnya Keisha meninggalkan perpustakaan dengan langkah menghentak marah.
Jeremy, cowok brengsek itu akan menerima balasan yang setimpal!! Lihat saja
nanti. Keisha akan membuat hidup cowok itu menderita! Keisha berjanji dalam
hatinya.
Setelah
kembali ke kelasnya, Jeremy terus-terusan tersenyum tipis, terkadang terkekeh
geli sendiri ketika mengingat reaksi Keisha saat ia mencium gadis itu. Yah,
Jeremy sih lebih memilih menyebut itu sebagai kecupan ketimbang ciuman, tapi
reaksi Keisha membuatnya geli. Jelas kalau cewek itu belum pernah dicium
sebelumnya. Dari matanya yang membelalak dan tubuhnya yang seketika menjadi
kaku, jelas sekali kalau Jeremy yang menjadi first kissnya.
Helaan
napas Rafhael yang begitu keras membuat Jeremy kembali ke dunia fana. Ia
memandang sahabatnya itu, yang ternyata sedang merengut ke arahnya.
“Kenapa
lo?” tanya Jeremy.
“Kayaknya
cuma gue deh yang masih waras. Lo kelihatannya udah menemukan mainan baru ya?
Tingkah lo mendekati tingkah Sammy,” kata Rafhael.
“Sammy?
Jadi sekarang panggilannya berubah?” goda Jeremy, memancing umpatan dari
Rafhael mengenai terpengaruh Chika dan sebagainya.
“Nggak
penting siapa panggilannya sekarang! Yang jelas lo udah mendekati kegilaan dia
soal nyengir!” ketus Rafhael.
“Gue
bisa bilang gue jauh lebih baik ketimbang dia,” kata Jeremy sambil mengangguk
ke arah Samuel yang baru kembali ke kelas. “Dan gue juga nggak menemukan mainan
baru,”tambahnya. Agak tidak setuju dengan sebutan yang Rafhael pakai. Dia
mungkin lebih senang jika disebut eksperimen baru.
Rafhael
mendengus tepat saat Samuel menjatuhkan tubuhnya di kursi depan mereka. “Hallo everybody!! Ada apa nih? Ada yang
gue lewatkan??” ujar Samuel riang.
“Jeremy
lagi kasmaran,” sahut Rafhael ngasal, yang langsung mendapat hadiah keplakan di
kepala oleh Jeremy.
“Oh
ya?? Sama siapa?? Gue kenal nggak??” seru Samuel tertarik.
Jeremy
langsung memutar bola mata. Sementara Rafhael lagi-lagi mendengus muak. Samuel
bertanya-tanya dengan penasaran ketika Jeremy tetap bungkam. Pada akhirnya ia
terpaksa menyerah dan mengganti topik pembicaraan mengenai keluhannya terhadap
teman-teman Linzie. Terutama Si Ratu Es yang kini tampak lebih dingin dari
biasanya.
“Sumpah,
gue cuma nggak sengaja nanya dia lagi baca apa tapi gue langsung dipelototin
dengan bengis. Memang salah gue apa coba??” kata Samuel curhat.
“Siapa
yang lo omongin?” tanya Rafhael tanpa benar-benar ingin tau.
“Keishalah!
Masa Chika? Sejak kapan si Chika doyan baca buku? Kecuali ngemut permen setiap
saat??” seru Samuel dramatis.
Rafhael
mencibir, seolah-olah dia perlu diberitau saja soal bocah satu itu. Dia sudah
mengoleksi lebih dari setengah lusin permen sejak bertemu cewek bawel satu itu.
“Dia
lebih sensi?” kata Jeremy, sambil membuka-buka majalah yang baru dipinjamnya
dari perpustakaan.
“Hah?”
sahut Samuel.
“Keisha,”
Jeremy mengingatkan.
“Oh!
Keisha! Iya! Tapi itu sih cocok disebut senewen sama sesuatu ketimbang sensi,” sahut
Samuel.
Jeremy
tersenyum dalam hati. Tampaknya usahanya untuk meruntuhkan tembok keteraturan
dari diri Keisha mulai menampakkan hasil. Jika ia gagal, maka sudah bisa
dipastikan cewek itu akan tetap tenang seperti biasanya. Sudah sepantasnya
cewek itu keluar dari semua aturan yang dibuatnya untuk dirinya sendiri. Jeremy
tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dalam sebuah rutinitas yang sudah di
atur secara sistematis dan terarah hanya pada satu tujuan. Yang jelas satu hal
yang Jeremy tau pasti. Pasti hidup itu akan terasa membosankan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar