Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 7


Lyla duduk di ujung selimut yang ditebarkan oleh Glenn. Dia sengaja duduk agak jauh dari Gleen karena ia mempertahankan harga dirinya, tak peduli bahwa ia kelaparan. Diliriknya Glenn diam-diam, dan merengut. Apa sih maksud cowok itu membawanya ke pantai? Lyla bertanya-tanya dalam hati.
            “Kalau ada Buddy, biasanya dia bakal langsung lari ke air,” kata Glenn. “Aku s...ering ngajak dia jalan ke pantai, cuma supaya dia bisa main dengan bebas. Dia paling suka lari-larian,” lanjut Glenn seolah-olah ia tidak memerlukan respon dari Lyla.
            Tapi bukan Lyla namanya kalau dia diam saja. “Aku nggak peduli sama anjing itu,” kata Lyla, tanpa sadar menyebut binatang yang ditakutinya itu.
            Glenn menyunggingkan senyum sekilas, senyum tipis kemenangan. “Oh ya? Dia kan baru beberapa bulan, masih lucu-lucunya,” kata Glenn.
            Lyla bergidik. “Aku nggak peduli. Aku nggak mau mereka ada di dekatku!”
            Glenn berdecak. “Lyla, Lyla, mereka itu nggak sebuas yang kamu pikir. Ada juga jenis anjing yang jinak dan bagus untuk dipelihara. Golden retriver salah satunya. Mereka itu jenis anjing keluarga, jadi nggak akan menggigit majikannya,” kata Glenn.
            Lyla menatap Glenn dengan jengkel. “Bisa nggak sih, kita nggak usah ngomongin soal anjing?! Aku nggak suka sama mereka!”
            “Terus mau ngomongin apa?” tanya Glenn.
          Lyla membuka mulut, tapi nggak satupun balasan yang bisa ia temukan. Mau ngomongin apa dia sama Glenn? Kenapa cowok itu pulang secepat itu? Nggak! Nggak mungkin Lyla menanyakan hal itu. Meski marah dan penasaran, tapi Lyla masih punya harga diri untuk nggak menunjukkannya dengan jelas di hadapan cowok menyebalkan itu. Jadi, dia kembali mengatupkan bibirnya dan menatap ke arah laut dengan wajah merengut.
            “Duduk begini aja nggak ada asiknya,” kata Glenn. Lalu tanpa di duga dia berdiri dan membuka kemejanya.
            Lyla melotot ke arahnya. “Kamu mau ngapain??” serunya shock.
            “Mainlah. Memangnya kalau ke pantai cuma buat duduk-duduk aja?” sahut Glenn enteng.
            “Ta... Tapi... kamu nggak perlu buka baju di depanku gitu donk!!” seru Lyla dengan wajah memerah.
            Glenn hanya mengangkat bahu dan mulai berjalan menuju tepi pantai. Lyla mau tak mau memandangi punggung Glenn dan mengingat postur tegap cowok itu. Dan tadi, Lyla bahkan nyaris ternganga melihat dada bidang Glenn yang cukup proporsional untuk bikin cewek ngiler jika melihatnya. Sekarang Lyla dengan enggan mengakui bahwa bukan hanya tampangnya jadi keren, body cowok itu juga oke. Sementara Glenn berdiri menantang ombak, Lyla diam-diam mengamati cowok itu. Dia bertopang dagu di atas lututnya dan menghela napas.
            Kenapa cowok itu datang ke kehidupannya? Apa tujuannya muncul begitu saja seolah-olah nggak ada jarak bertahun-tahun yang memisahkan mereka? Lyla nggak mengerti sama sekali dengan tujuan cowok itu, tapi keberadaan Glenn betul-betul mengusiknya. Lyla merengek pelan. Kenapa dia merasa begini sih? Itu kan Glenn, cowok yang paling dia benci! Kenapa dia malah selalu berdebar-debar di dekat cowok itu???
            Lyla menggelengkan kepalanya, dan tanpa sengaja melihat Glenn tengah berjalan ke arahnya. Celana cowok itu setengah basah, begitu juga dengan dadanya yang terciprat air, dan sekarang cowok itu menuju ke arahnya dengan seringai mencurigakan di wajahnya. Lyla langsung was-was. Ditatapnya Glenn yang semakin mendekat.
            “Ngapain kamu balik? Katanya mau main air?! Sana gih, main air kayak anak kecil! Nggak usah ke sini segala!” kata Lyla ketus.
            Seringai Glenn semakin lebar dan dia berjalan makin cepat ke arah Lyla.
            Lyla langsung merasakan firasat jelek, khususnya setelah melihat seringai nakal di wajah Glenn. Dengan buru-buru Lyla berdiri, tapi nggak cukup cepat sehingga bisa menghindar saat Glenn meraupnya ke dalam pelukannya, dan berjalan kembali ke arah pantai.
            “Glenn!! Turunin aku!! Kamu apa-apaan sih?!” seru Lyla sambil memberontak.
            “Apa asiknya sih main sendirian? Harus ada temannya donk!” sahut Glenn.
            Lyla membelalak dan meronta makin keras. “Glenn!! Awas kalau kamu berani! Aku nggak akan memaafkan kamu!! Turunin aku!! Gleeeenn!!” teriak Lyla panik.
            Glenn tertawa, ia sudah sampai di air. “Oke, aku turunin sekarang,” kata cowok itu. Lalu tanpa aba-aba dia melepaskan Lyla begitu saja hingga tercebur ke air dengan sebuah pekikan kaget bercampur marah.
            Glenn menyeringai saat Lyla berusaha duduk dan meludahkan air asin dari mulutnya. Cewek itu basah kuyup hingga ujung kepalanya, dan kini tengah mendelik ke arahnya.
            “Kamu yang nantangin ya!” kata Lyla marah. Lalu tanpa sempat memberi Glenn waktu untuk menebak apa yang akan dia lakukan, Lyla menjegal kaki Glenn hingga cowok itu hilang keseimbangan dan ikut tercebur. Kini giliran Lyla yang tertawa.
            Glenn menggoyangkan kepalanya seperti anjing kebasahan dan menatap Lyla dengan kening berkerut. “Oke. Aku terima isyarat perang itu,” kata Glenn, dan langsung meraup air dan menyiramkannya ke arah Lyla.
            Lyla memekik kaget, tapi anehnya ia malah menikmati saat-saat itu.
***
            Malamnya, Lyla berbaring termenungu di tempat tidurnya. Ia mengenang waktu yang seharian ini dihabiskannya bersama Glenn di pantai. Kenapa semakin lama bersama Glenn Lyla malah semakin memikirkan cowok itu? Ke mana rasa benci yang sejak dulu dipupuknya? Kenapa sekarang malah tidak ada sama sekali? Lyla tak mengerti kenapa dia berubah seperti ini. Pikirannya dipenuhi oleh Glenn, dan sekarang ia malah merasa dibohongi oleh Glenn karena cowok itu akan segera pulang tanpa memberitaunya.
            Lyla berbaring menyamping dan memandangi dinding kamarnya. Lyla merasa tidak seperti dirinya sendiri. Belakangan ini ia jadi sering memperhatikan Glenn secara diam-diam, dan akan langsung buang muka kalau Glenn kebetulan memergokinya. Tapi dibalik itu, jantung Lyla selalu berdetak lebih kencang saat bertatapan dengan Glenn.
            Aah, Lyla tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa memiliki perasaan serumit ini pada Glenn??? Kenapa cowok itu tidak menghilang saja dari hidup Lyla dan tidak pernah muncul? Sekarang cowok itu sudah berhasil menyusup masuk ke dalam hidup Lyla dan memporakporandakan hidup Lyla yang tenang. Pasti sekarang Glenn sedang menertawainya. Cowok itu pasti senang karena berhasil mempermainkan Lyla sedemikian rupa. Lyla memjamkan matanya saat air mata mengancam akan turun ke pipinya. Dipeluknya bantalnya dengan erat.
            “Glenn jahat... Cowok jahat!” bisik Lyla.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar