Lyla duduk di ujung selimut yang ditebarkan oleh
Glenn. Dia sengaja duduk agak jauh dari Gleen karena ia mempertahankan harga
dirinya, tak peduli bahwa ia kelaparan. Diliriknya Glenn diam-diam, dan
merengut. Apa sih maksud cowok itu membawanya ke pantai? Lyla bertanya-tanya
dalam hati.
“Kalau
ada Buddy, biasanya dia bakal langsung lari ke air,” kata Glenn. “Aku s...ering
ngajak dia jalan ke pantai, cuma supaya dia bisa main dengan bebas. Dia paling
suka lari-larian,” lanjut Glenn seolah-olah ia tidak memerlukan respon dari
Lyla.
Tapi
bukan Lyla namanya kalau dia diam saja. “Aku nggak peduli sama anjing itu,”
kata Lyla, tanpa sadar menyebut binatang yang ditakutinya itu.
Glenn
menyunggingkan senyum sekilas, senyum tipis kemenangan. “Oh ya? Dia kan baru
beberapa bulan, masih lucu-lucunya,” kata Glenn.
Lyla
bergidik. “Aku nggak peduli. Aku nggak mau mereka ada di dekatku!”
Glenn
berdecak. “Lyla, Lyla, mereka itu nggak sebuas yang kamu pikir. Ada juga jenis
anjing yang jinak dan bagus untuk dipelihara. Golden retriver salah satunya.
Mereka itu jenis anjing keluarga, jadi nggak akan menggigit majikannya,” kata
Glenn.
Lyla
menatap Glenn dengan jengkel. “Bisa nggak sih, kita nggak usah ngomongin soal
anjing?! Aku nggak suka sama mereka!”
“Terus
mau ngomongin apa?” tanya Glenn.
Lyla
membuka mulut, tapi nggak satupun balasan yang bisa ia temukan. Mau ngomongin
apa dia sama Glenn? Kenapa cowok itu pulang secepat itu? Nggak! Nggak mungkin
Lyla menanyakan hal itu. Meski marah dan penasaran, tapi Lyla masih punya harga
diri untuk nggak menunjukkannya dengan jelas di hadapan cowok menyebalkan itu.
Jadi, dia kembali mengatupkan bibirnya dan menatap ke arah laut dengan wajah
merengut.
“Duduk
begini aja nggak ada asiknya,” kata Glenn. Lalu tanpa di duga dia berdiri dan
membuka kemejanya.
Lyla
melotot ke arahnya. “Kamu mau ngapain??” serunya shock.
“Mainlah.
Memangnya kalau ke pantai cuma buat duduk-duduk aja?” sahut Glenn enteng.
“Ta...
Tapi... kamu nggak perlu buka baju di depanku gitu donk!!” seru Lyla dengan
wajah memerah.
Glenn
hanya mengangkat bahu dan mulai berjalan menuju tepi pantai. Lyla mau tak mau
memandangi punggung Glenn dan mengingat postur tegap cowok itu. Dan tadi, Lyla
bahkan nyaris ternganga melihat dada bidang Glenn yang cukup proporsional untuk
bikin cewek ngiler jika melihatnya. Sekarang Lyla dengan enggan mengakui bahwa
bukan hanya tampangnya jadi keren, body cowok itu juga oke. Sementara Glenn
berdiri menantang ombak, Lyla diam-diam mengamati cowok itu. Dia bertopang dagu
di atas lututnya dan menghela napas.
Kenapa
cowok itu datang ke kehidupannya? Apa tujuannya muncul begitu saja seolah-olah
nggak ada jarak bertahun-tahun yang memisahkan mereka? Lyla nggak mengerti sama
sekali dengan tujuan cowok itu, tapi keberadaan Glenn betul-betul mengusiknya.
Lyla merengek pelan. Kenapa dia merasa begini sih? Itu kan Glenn, cowok yang
paling dia benci! Kenapa dia malah selalu berdebar-debar di dekat cowok itu???
Lyla
menggelengkan kepalanya, dan tanpa sengaja melihat Glenn tengah berjalan ke
arahnya. Celana cowok itu setengah basah, begitu juga dengan dadanya yang
terciprat air, dan sekarang cowok itu menuju ke arahnya dengan seringai
mencurigakan di wajahnya. Lyla langsung was-was. Ditatapnya Glenn yang semakin
mendekat.
“Ngapain
kamu balik? Katanya mau main air?! Sana gih, main air kayak anak kecil! Nggak
usah ke sini segala!” kata Lyla ketus.
Seringai
Glenn semakin lebar dan dia berjalan makin cepat ke arah Lyla.
Lyla
langsung merasakan firasat jelek, khususnya setelah melihat seringai nakal di
wajah Glenn. Dengan buru-buru Lyla berdiri, tapi nggak cukup cepat sehingga
bisa menghindar saat Glenn meraupnya ke dalam pelukannya, dan berjalan kembali
ke arah pantai.
“Glenn!!
Turunin aku!! Kamu apa-apaan sih?!” seru Lyla sambil memberontak.
“Apa
asiknya sih main sendirian? Harus ada temannya donk!” sahut Glenn.
Lyla
membelalak dan meronta makin keras. “Glenn!! Awas kalau kamu berani! Aku nggak
akan memaafkan kamu!! Turunin aku!! Gleeeenn!!” teriak Lyla panik.
Glenn
tertawa, ia sudah sampai di air. “Oke, aku turunin sekarang,” kata cowok itu.
Lalu tanpa aba-aba dia melepaskan Lyla begitu saja hingga tercebur ke air
dengan sebuah pekikan kaget bercampur marah.
Glenn
menyeringai saat Lyla berusaha duduk dan meludahkan air asin dari mulutnya.
Cewek itu basah kuyup hingga ujung kepalanya, dan kini tengah mendelik ke
arahnya.
“Kamu
yang nantangin ya!” kata Lyla marah. Lalu tanpa sempat memberi Glenn waktu
untuk menebak apa yang akan dia lakukan, Lyla menjegal kaki Glenn hingga cowok
itu hilang keseimbangan dan ikut tercebur. Kini giliran Lyla yang tertawa.
Glenn
menggoyangkan kepalanya seperti anjing kebasahan dan menatap Lyla dengan kening
berkerut. “Oke. Aku terima isyarat perang itu,” kata Glenn, dan langsung meraup
air dan menyiramkannya ke arah Lyla.
Lyla
memekik kaget, tapi anehnya ia malah menikmati saat-saat itu.
***
Malamnya,
Lyla berbaring termenungu di tempat tidurnya. Ia mengenang waktu yang seharian
ini dihabiskannya bersama Glenn di pantai. Kenapa semakin lama bersama Glenn
Lyla malah semakin memikirkan cowok itu? Ke mana rasa benci yang sejak dulu
dipupuknya? Kenapa sekarang malah tidak ada sama sekali? Lyla tak mengerti
kenapa dia berubah seperti ini. Pikirannya dipenuhi oleh Glenn, dan sekarang ia
malah merasa dibohongi oleh Glenn karena cowok itu akan segera pulang tanpa
memberitaunya.
Lyla
berbaring menyamping dan memandangi dinding kamarnya. Lyla merasa tidak seperti
dirinya sendiri. Belakangan ini ia jadi sering memperhatikan Glenn secara
diam-diam, dan akan langsung buang muka kalau Glenn kebetulan memergokinya.
Tapi dibalik itu, jantung Lyla selalu berdetak lebih kencang saat bertatapan
dengan Glenn.
Aah,
Lyla tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa memiliki
perasaan serumit ini pada Glenn??? Kenapa cowok itu tidak menghilang saja dari
hidup Lyla dan tidak pernah muncul? Sekarang cowok itu sudah berhasil menyusup
masuk ke dalam hidup Lyla dan memporakporandakan hidup Lyla yang tenang. Pasti
sekarang Glenn sedang menertawainya. Cowok itu pasti senang karena berhasil
mempermainkan Lyla sedemikian rupa. Lyla memjamkan matanya saat air mata
mengancam akan turun ke pipinya. Dipeluknya bantalnya dengan erat.
“Glenn
jahat... Cowok jahat!” bisik Lyla.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar