Max uring-uringan.
Keputusannya untuk menjauhi Resha ternyata berbuah kekesalan. Meski sudah dua
minggu berlalu, tapi Max belum bisa mengenyahkan bayangan Resha dari kepalanya.
Ia sudah mengencani banyak cewek untuk melupakan Resha. Tapi bukannya menikmati
kencan-kencan itu seperti biasanya, Max malah makin muak. Bayangan cewek
berkacamata itu terus saja bercokol di dalam kepalanya, tidak mau pergi. Hanya
satu ciuman! Max memarahi dirinya karena bertingkah seperti anak SMA yang
sedang kasmaran.
Gara-gara moodnya yang semakin memburuk itulah
cewek-cewek jadi waspada saat mendekatinya. Setelah kejadian Max 'membantai'
Monica karena terus saja merengek ingin pergi dinner, cewek lainnya langsung
menjaga jarak karena takut mengalami hal yang sama.
“Max, lo mau ikutan nggak?” tanya Rey, menyela lamunan
suram Max.
“Ke mana?!” sahut Max ketus.
Rey mengangkat alisnya mendengar nada ketus Max. Memang
belakangan ini cowok itu tampak aneh. Bahkan saat Rey menanyakan di mana cewek
yang dicium Max di perpustakaan itu, Max langsung menghadiahkan Rey tatapan
membunuh. Rey jadi menerka-nerka, mungkin saja buruknya sikap Max ini ada
hubungannya dengan cewek itu. Tapi Rey cukup bijak untuk tidak membahasnya
lebih jauh.
“Tempat biasa. Anak-anak lagi pada suntuk dan ngajak have
fun. Mario yang traktir,” kata Rey. Sebenarnya tidak perlu mengatakan siapa
yang akan membayar. Bagaimana pun, Max sanggup membayarnya sendirian kalau dia
mau.
“Oke,” sahut Max. Berpikir untuk menenggelamkan dirinya
pada minuman dan hingar bingar kehidupan malam. Lebih baik menumpulkan otaknnya
dengan alkohol daripada mencoba mengenyahkan Resha dari benaknya.
Max lalu bangkit dari duduknya, Rey mengikuti. Mereka
berjalan menyusuri koridor, menuju parkiran. Kedua tangan Max dimasukkan ke
dalam saku jeansnya, dan wajahnya cemberut. Rey memperhatikan dengan penuh
ketertarikan saat Max mengabaikan semua sapaan cewek yang ditujukan padanya.
Mereka sudah berteman sejak Max pindah satu setengah tahun yang lalu. Sama
seperti Max, Rey terlambat kuliah. Bedanya, Max tidak kuliah karena malas,
sementara Rey karena harus bekerja. Umur mereka sama, dan sepertinya kesukaan
mereka akan kebebasan membuat mereka langsung cocok satu sama lain.
Rey baru saja hendak bertanya mengenai apa yang membuat
Max memasang tampang 'jangan mendekati gue' ketika langkah Max tiba-tiba berhenti.
Rey ikut berhenti dan mengikuti arah pandangan Max. Rey melihat Max sedang
menatap ke arah seorang cewek yang berjalan ke arah mereka. Cewek itu tengah
mencari sesuatu di tasnya. Hmm, cewek biasa, berkacamata dan memakai rok
selutut yang berlipit di bagian ujungnya. Karena penasaran, Rey pun mengamati
saat cewek itu akhirnya mendongak. Rey mengerutkan kening. Apa ia melihat cewek
itu tersentak pelan? Tapi ketenangan di wajah cewek itu membuatnya ragu.
Tunggu, rasanya Rey pernah melihat cewek itu... Ah ya. Cewek itu...
Resha berusaha menenangkan dirinya. Dia berusaha menjaga
ketenangan di wajahnya sementara kakinya terus melangkah, membawanya makin
dekat ke arah Max. Ia sadar Max sudah menatapnya sejak tadi, bahkan temannya
itu juga. Hal itu membuat jantung Resha berdebar kencang. Tapi syukurlah wajah
Resha tak menunjukkan apa yang tengah ia rasakan. Resha melangkah mantap,
menatap lurus ke depan. Ia semakin dekat, semakin dekat... Dan ia berhasil
melewati Max tanpa gentar sedikit pun. Tanpa sadar ia kembali bernapas.
Dilihatnya Chacha melambai dari jauh dan Resha memanfaatkannya untuk berlari
kecil menjauhi Max.
“Duh, lama amat sih lo? Mereka udah nungguin kita nih!”
omel Chacha.
“Maaf, maaf, tadi gue merapikan penampilan gue dulu. Ada
berapa orang hari ini?” tanya Resha, suaranya ceria, berlawanan dengan apa yang
tengah ia rasakan.
“Ada Rendi, Aldo, sama Tony. Mereka cakep-cakep deh. Gue
bahkan terpaksa nyari satu teman lagi biar jumlahnya lengkap!” sahut Chacha.
Tubuh Max menegang saat mengerti arti percakapan singkat
itu. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal dan wajahnya semakin dingin.
“Itu cewek yang di perpustakaan itu kan ya?” kata Rey,
mengamati Resha yang menjauh. Karena Max tidak menjawab, Rey pun menoleh. Ia
nyaris menyeringai lebar saat melihat tatapan Max.
“Hem, menarik. Lo nggak pernah jalan sama dia kan?
Kecuali adegan kissing yang gue
pergokin waktu itu,” kata Rey. “Terus kenapa tampang lo kayak orang yang mau
bunuh orang begitu?”
“Bukan urusan lo!!” bentak Max.
“Tenang, Max, bukan gue yang mau dating sama dia,” kata Rey.
Max menatap Rey dengan mata memicing marah, lalu
berbalik. Ia melangkah dengan cepat dan marah ke arah yang diambil Resha dan
temannya tadi, meninggalkan Rey yang menyeringai puas.
“Bisa aja lo menyangkal, tapi reaksi dan tindakan lo
menunjukkan semuanya,” ujar Rey geli.
Resha baru saja sampai di cafetaria kampus bersama
Chacha. Ia tengah tersenyum ke arah cowok yang duduk di seberangnya dan hendak
duduk ketika sebuah lengan merenggutnya. Resha terkesiap kaget saat melihat Max
berdiri menjulang di hadapannya. Dan lebih kaget lagi saat Max langsung
menyeretnya pergi tanpa memedulikan mulut-mulut yang ternganga di hadapannya.
Saking terpananya Resha, ia tidak mengajukan protes apapun sebab pikirannya
masih memproses apa yang sedang terjadi. Ia tersadar saat mereka keluar dari
gedung dan langsung menuju parkiran. Resha mulai memberontak.
“Tunggu! Lo mau bawa gue ke mana?!” Resha berusaha
melepaskan tangannya dari cengkeraman Max dan menolak melangkah.
Max langsung menyentakkan tangan Resha hingga cewek itu
kembali berjalan. Ia menolak menjawab pertanyaan Resha dan terus melangkah ke
arah mobil Jaguarnya yang terparkir di bawah kerindangan pohon. Max menyentak
pintu hingga membuka dan memerintahkan agar Resha masuk.
“Gue nggak mau!! Ini pemaksaan! Dan gue bisa menuntut
elo!!” ujar Resha marah, menolak masuk ke dalam mobil.
“Masuk!” perintah Max, matanya menatap tajam.
“Nggak mau!! Lo nggak punya hak buat memerintah gue!! Lo
bukan siapa-siapa gue!!”
Max merenggut Resha hingga cewek itu menabrak dadanya.
Lalu dengan tiba-tiba diraihnya tengkuk cewek itu, dan menciumnya dengan keras.
“Sekarang kita resmi jadian!”
Resha terperangah hingga tak sanggup bicara. Wajahnya
memerah dan napasnya memburu. Sebelum ia sempat menyadari apa yang ia lakukan,
Resha sudah melayangkan tangannya ke pipi Max. Tatapannya membakar dengan penuh
amarah. Selapis cairan bening tampak di kedua matanya, bergetar di pelupuk mata
Resha saat ia menatap Max.
“Kalau lo pikir bisa bersikap sesuka hati lo sama gue,
lebih baik lo pikir dua kali! Gue bukan cewek yang rela menyembah-nyembah untuk
mendapatkan cinta elo! Gue punya harga diri, Max... Gue bukan cewek murahan
yang bisa seenaknya lo permainkan! Jangan pernah berpikir untuk memasukkan gue
ke dalam jajaran cewek-cewek taklukan lo!” kata Resha dengan amarah tertahan.
Ditatapnya Max dengan tajam. Ia menarik napas dengan
gemetar. “Jangan pernah muncul di depan gue lagi, kalau lo belum mengerti cara
menghargai perasaan orang lain!” Resha berbalik dan langsung berlari pergi.
Air mata mengalir deras di pipinya dan mengaburkan
pandangannya. Akan tetapi ia tetap berlari. Hatinya sangat sakit terhadap
perlakuan Max. Sikap menggampangkan yang dijunjung oleh cowok itu. Cowok itu
adalah cowok paling brengsek yang pernah Resha temui.
Max memandangi kepergian Resha dengan kemarahan yang
membuncah. Hanya saja ia tidak marah pada Resha walaupun cewek itu menamparnya,
melainkan pada dirinya sendiri. Ia jijik pada apa yang dia lakukan. Kedua tangannya
terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aarrgghhh!!! Sialan! Sialan! Sialaaan!!!” teriak Max
sambil menendang ban mobilnya dengan geram.
***
Resha berlari meninggalkan kampus dan menyetop taksi
pertama yang ditemuinya. Setelah menyebutkan alamat kosnya, Resha pun
menumpahkan tangisnya. Tak peduli kalau tindakannya itu mungkin akan membuat si
sopir taksi kebingungan. Ketika sopir taksi itu menyodorkan sekotak tissue,
Resha menerimanya dengan penuh syukur dan mengucapkan terima kasih dengan susah
payah. Ia membersit hidungnya dan kembali meraih beberapa lembar tissue.
“Udah, Mbak, ndak usah menangisi apa yang sudah terjadi,”
kata si sopir taksi dengan bijak.
“Susah, Pak... Saya terlanjur sakit hati,” sahut Resha
ketika ia sudah lebih tenang.
“Bertengkar sama pacar ya, Mbak? Sudah, masih banyak
cowok baik lainnya kok,” kata si sopir taksi.
“Dia bukan pacar saya, Pak... Tapi sikapnya seolah-olah
saya itu pacarnya!”
“Yah, mungkin itu karena dia sayang sama Mbaknya,” kata
si sopir taksi lagi.
“Seandainya memang begitu...” lirih Resha.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar