Minggu, 03 Februari 2013

SEAL WITH A KISS 3


Max uring-uringan. Keputusannya untuk menjauhi Resha ternyata berbuah kekesalan. Meski sudah dua minggu berlalu, tapi Max belum bisa mengenyahkan bayangan Resha dari kepalanya. Ia sudah mengencani banyak cewek untuk melupakan Resha. Tapi bukannya menikmati kencan-kencan itu seperti biasanya, Max malah makin muak. Bayangan cewek berkacamata itu terus saja bercokol di dalam kepalanya, tidak mau pergi. Hanya satu ciuman! Max memarahi dirinya karena bertingkah seperti anak SMA yang sedang kasmaran.
            Gara-gara moodnya yang semakin memburuk itulah cewek-cewek jadi waspada saat mendekatinya. Setelah kejadian Max 'membantai' Monica karena terus saja merengek ingin pergi dinner, cewek lainnya langsung menjaga jarak karena takut mengalami hal yang sama.
            “Max, lo mau ikutan nggak?” tanya Rey, menyela lamunan suram Max.
            “Ke mana?!” sahut Max ketus.
            Rey mengangkat alisnya mendengar nada ketus Max. Memang belakangan ini cowok itu tampak aneh. Bahkan saat Rey menanyakan di mana cewek yang dicium Max di perpustakaan itu, Max langsung menghadiahkan Rey tatapan membunuh. Rey jadi menerka-nerka, mungkin saja buruknya sikap Max ini ada hubungannya dengan cewek itu. Tapi Rey cukup bijak untuk tidak membahasnya lebih jauh.
            “Tempat biasa. Anak-anak lagi pada suntuk dan ngajak have fun. Mario yang traktir,” kata Rey. Sebenarnya tidak perlu mengatakan siapa yang akan membayar. Bagaimana pun, Max sanggup membayarnya sendirian kalau dia mau.
            “Oke,” sahut Max. Berpikir untuk menenggelamkan dirinya pada minuman dan hingar bingar kehidupan malam. Lebih baik menumpulkan otaknnya dengan alkohol daripada mencoba mengenyahkan Resha dari benaknya.
            Max lalu bangkit dari duduknya, Rey mengikuti. Mereka berjalan menyusuri koridor, menuju parkiran. Kedua tangan Max dimasukkan ke dalam saku jeansnya, dan wajahnya cemberut. Rey memperhatikan dengan penuh ketertarikan saat Max mengabaikan semua sapaan cewek yang ditujukan padanya. Mereka sudah berteman sejak Max pindah satu setengah tahun yang lalu. Sama seperti Max, Rey terlambat kuliah. Bedanya, Max tidak kuliah karena malas, sementara Rey karena harus bekerja. Umur mereka sama, dan sepertinya kesukaan mereka akan kebebasan membuat mereka langsung cocok satu sama lain.
            Rey baru saja hendak bertanya mengenai apa yang membuat Max memasang tampang 'jangan mendekati gue' ketika langkah Max tiba-tiba berhenti. Rey ikut berhenti dan mengikuti arah pandangan Max. Rey melihat Max sedang menatap ke arah seorang cewek yang berjalan ke arah mereka. Cewek itu tengah mencari sesuatu di tasnya. Hmm, cewek biasa, berkacamata dan memakai rok selutut yang berlipit di bagian ujungnya. Karena penasaran, Rey pun mengamati saat cewek itu akhirnya mendongak. Rey mengerutkan kening. Apa ia melihat cewek itu tersentak pelan? Tapi ketenangan di wajah cewek itu membuatnya ragu. Tunggu, rasanya Rey pernah melihat cewek itu... Ah ya. Cewek itu...
            Resha berusaha menenangkan dirinya. Dia berusaha menjaga ketenangan di wajahnya sementara kakinya terus melangkah, membawanya makin dekat ke arah Max. Ia sadar Max sudah menatapnya sejak tadi, bahkan temannya itu juga. Hal itu membuat jantung Resha berdebar kencang. Tapi syukurlah wajah Resha tak menunjukkan apa yang tengah ia rasakan. Resha melangkah mantap, menatap lurus ke depan. Ia semakin dekat, semakin dekat... Dan ia berhasil melewati Max tanpa gentar sedikit pun. Tanpa sadar ia kembali bernapas. Dilihatnya Chacha melambai dari jauh dan Resha memanfaatkannya untuk berlari kecil menjauhi Max.
            “Duh, lama amat sih lo? Mereka udah nungguin kita nih!” omel Chacha.
            “Maaf, maaf, tadi gue merapikan penampilan gue dulu. Ada berapa orang hari ini?” tanya Resha, suaranya ceria, berlawanan dengan apa yang tengah ia rasakan.
            “Ada Rendi, Aldo, sama Tony. Mereka cakep-cakep deh. Gue bahkan terpaksa nyari satu teman lagi biar jumlahnya lengkap!” sahut Chacha.
            Tubuh Max menegang saat mengerti arti percakapan singkat itu. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal dan wajahnya semakin dingin.
            “Itu cewek yang di perpustakaan itu kan ya?” kata Rey, mengamati Resha yang menjauh. Karena Max tidak menjawab, Rey pun menoleh. Ia nyaris menyeringai lebar saat melihat tatapan Max.
            “Hem, menarik. Lo nggak pernah jalan sama dia kan? Kecuali adegan kissing yang gue pergokin waktu itu,” kata Rey. “Terus kenapa tampang lo kayak orang yang mau bunuh orang begitu?”
            “Bukan urusan lo!!” bentak Max.
            “Tenang, Max, bukan gue yang mau dating sama dia,” kata Rey.
            Max menatap Rey dengan mata memicing marah, lalu berbalik. Ia melangkah dengan cepat dan marah ke arah yang diambil Resha dan temannya tadi, meninggalkan Rey yang menyeringai puas.
            “Bisa aja lo menyangkal, tapi reaksi dan tindakan lo menunjukkan semuanya,” ujar Rey geli.
            Resha baru saja sampai di cafetaria kampus bersama Chacha. Ia tengah tersenyum ke arah cowok yang duduk di seberangnya dan hendak duduk ketika sebuah lengan merenggutnya. Resha terkesiap kaget saat melihat Max berdiri menjulang di hadapannya. Dan lebih kaget lagi saat Max langsung menyeretnya pergi tanpa memedulikan mulut-mulut yang ternganga di hadapannya. Saking terpananya Resha, ia tidak mengajukan protes apapun sebab pikirannya masih memproses apa yang sedang terjadi. Ia tersadar saat mereka keluar dari gedung dan langsung menuju parkiran. Resha mulai memberontak.
            “Tunggu! Lo mau bawa gue ke mana?!” Resha berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Max dan menolak melangkah.
            Max langsung menyentakkan tangan Resha hingga cewek itu kembali berjalan. Ia menolak menjawab pertanyaan Resha dan terus melangkah ke arah mobil Jaguarnya yang terparkir di bawah kerindangan pohon. Max menyentak pintu hingga membuka dan memerintahkan agar Resha masuk.
            “Gue nggak mau!! Ini pemaksaan! Dan gue bisa menuntut elo!!” ujar Resha marah, menolak masuk ke dalam mobil.
            “Masuk!” perintah Max, matanya menatap tajam.
            “Nggak mau!! Lo nggak punya hak buat memerintah gue!! Lo bukan siapa-siapa gue!!”
            Max merenggut Resha hingga cewek itu menabrak dadanya. Lalu dengan tiba-tiba diraihnya tengkuk cewek itu, dan menciumnya dengan keras. “Sekarang kita resmi jadian!”
            Resha terperangah hingga tak sanggup bicara. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Sebelum ia sempat menyadari apa yang ia lakukan, Resha sudah melayangkan tangannya ke pipi Max. Tatapannya membakar dengan penuh amarah. Selapis cairan bening tampak di kedua matanya, bergetar di pelupuk mata Resha saat ia menatap Max.
            “Kalau lo pikir bisa bersikap sesuka hati lo sama gue, lebih baik lo pikir dua kali! Gue bukan cewek yang rela menyembah-nyembah untuk mendapatkan cinta elo! Gue punya harga diri, Max... Gue bukan cewek murahan yang bisa seenaknya lo permainkan! Jangan pernah berpikir untuk memasukkan gue ke dalam jajaran cewek-cewek taklukan lo!” kata Resha dengan amarah tertahan.
            Ditatapnya Max dengan tajam. Ia menarik napas dengan gemetar. “Jangan pernah muncul di depan gue lagi, kalau lo belum mengerti cara menghargai perasaan orang lain!” Resha berbalik dan langsung berlari pergi.
            Air mata mengalir deras di pipinya dan mengaburkan pandangannya. Akan tetapi ia tetap berlari. Hatinya sangat sakit terhadap perlakuan Max. Sikap menggampangkan yang dijunjung oleh cowok itu. Cowok itu adalah cowok paling brengsek yang pernah Resha temui.
            Max memandangi kepergian Resha dengan kemarahan yang membuncah. Hanya saja ia tidak marah pada Resha walaupun cewek itu menamparnya, melainkan pada dirinya sendiri. Ia jijik pada apa yang dia lakukan. Kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
            “Aarrgghhh!!! Sialan! Sialan! Sialaaan!!!” teriak Max sambil menendang ban mobilnya dengan geram.
***
            Resha berlari meninggalkan kampus dan menyetop taksi pertama yang ditemuinya. Setelah menyebutkan alamat kosnya, Resha pun menumpahkan tangisnya. Tak peduli kalau tindakannya itu mungkin akan membuat si sopir taksi kebingungan. Ketika sopir taksi itu menyodorkan sekotak tissue, Resha menerimanya dengan penuh syukur dan mengucapkan terima kasih dengan susah payah. Ia membersit hidungnya dan kembali meraih beberapa lembar tissue.
            “Udah, Mbak, ndak usah menangisi apa yang sudah terjadi,” kata si sopir taksi dengan bijak.
            “Susah, Pak... Saya terlanjur sakit hati,” sahut Resha ketika ia sudah lebih tenang.
            “Bertengkar sama pacar ya, Mbak? Sudah, masih banyak cowok baik lainnya kok,” kata si sopir taksi.
            “Dia bukan pacar saya, Pak... Tapi sikapnya seolah-olah saya itu pacarnya!”
            “Yah, mungkin itu karena dia sayang sama Mbaknya,” kata si sopir taksi lagi.
            “Seandainya memang begitu...” lirih Resha.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar