Resha berjalan menuju
halaman kampus bersama Chacha yang masih saja menyatakan ketidakpercayaannya
mengenai Resha yang dengan sukses mengubah playboy paling wahid menjadi semanis
anak anjing, padahal sudah sebulan berlalu. Chacha mengomel panjang lebar
ketika menceritakan apa yang terjadi, tapi secara keseluruhan dia turut bahagia
untuk Resha. Dan sama seperti Chacha, Resha pun tidak percaya bahwa dirinya
kini berpacaran dengan cowok paling diminati di kampus. Yang sekarang menjadi
pacar paling manis di dunia.
Max bersikap begitu manis dan perhatian, mengimbangi
sikap posesif dan over protectifnya yang kadang menyebalkan. Tapi Resha
mengerti semua itu dilakukan Max tanpa sadar. Hal ini, perasaan sayang yang
mereka rasakan ini, masih baru bagi mereka. Dan mereka berusaha untuk
membiasakan diri.
“Nah, ini dia si Playboy Kasmaran,” gumaman Chacha
menarik Resha kembali ke realitas.
Resha menatap ke depan, melihat Max tengah berjalan cepat
ke arahnya dengan Rey yang menyusul di belakangnya. Seringaian Rey menunjukkan
betapa gelinya cowok itu melihat kelakuan Max.
“Sorry, gue telat. Tuh dosen kalau udah ngoceh bisa lupa
waktu,” kata Max saat ia tiba di hadapan Resha. Cowok itu mencium pipi Resha
dan menyapa Chacha, yang dibalas dengan sebuah cibiran.
“Gue juga baru keluar kok,” kata Resha.
“Hari ini mau ke mana? Perpustakaan buat cari data? Atau
ke toko buku? Skripsi lo nggak ada masalah kan?” berondong Max sambil mengambil
alih bawaan Resha.
Resha tersenyum, melirik Rey yang memutar bola matanya ke
atas, lalu ke arah Chacha yang kembali mencibir. “Semua baik-baik aja kok,”
sahutnya.
“Ingatkan gue untuk nggak berurusan sama playboy tobat,”
gumam Chacha keras, ketika ia menyusul Max dan Resha.
Rey mengalungkan tangannya di bahu Chacha. “Kalau sama
gue juga nggak mau?” godanya.
Chacha menatap Rey dengan tatapan seolah cowok itu sudah
gila, lalu menepiskan tangan Rey. Rey terkekeh dan berjalan menyusul Chacha.
Terpikir olehnya kehidupan Max sekarang mungkin tidak terlalu buruk. Godaan
untuk mengubah gaya hidup menggelitiknya. Pasti akan sangat menyenangkan
mencari cewek yang tahan menghadapinya tanpa mengeluh sedikit pun. Rey tanpa
sadar menatap punggung Chacha yang berjalan di depannya. Sebuah senyum geli
tampak di wajahnya. Ngapain mencari jauh-jauh? Targetnya mungkin ada di hadapan
matanya, baik secara kiasan ataupun secara harfiah.
Menyadari tantangan apa yang ada di hadapannya membuat
Rey tertawa kecil. Dan rupanya Chacha mendengar tawa itu. Cewek itu menoleh ke
balik bahu dan menatap Rey dengan kening berkerut. Rey mengedipkan sebelah
matanya ke arah Chacha dengan menggoda, membuat cewek itu mendengus dan
melanjutkan langkahnya sambil bersungut-sungut.
Ya, pasti menarik, batin Rey. Ia menyusul sambil bersiul
riang.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar