Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 3


Lyla langsung mengganti pakaiannya. Ia nggak mau diam di rumah kalau Glenn juga ada di rumah yang sama. Lyla menandai kata 'menghabiskan liburan' yang diucapkan Mamanya tadi, berarti untuk waktu yang belum ditentukan. Dengan kata lain Glenn akan tinggal di rumahnya sementara waktu! Tidak. Ini pasti mimpi buruk. Lyla nggak mau percaya kalau ia akan tinggal di rumah yang sama dengan Glenn. Lyla sudah sangat bahagia karena sekarang tinggal jauh dari rumah Glenn. Akan tetapi, jarak dua jam perjalanan rupanya tidak menjadi halangan bagi para ibu mereka. Buktinya saja Tante Mira, mamanya Glenn, tetap menyuruh Glenn datang untuk... Untuk apa? Astaga, Lyla bahkan nggak ingat apa alasan Glenn datang ke rumahnya. Yang pasti apa pun alasannya, Lyla nggak mau ada seatap bersama cowok itu.
            Ketukan di pintu kamarnya menyela kegiatan Lyla, yang saat itu sedang menguncir rambutnya dengan kunciran ekor kuda yang tinggi. Ia menoleh ke balik bahunya dan mengernyitkan alis. Kemudian, setelah mengikat rambutnya, ia pun menuju ke pintu dan menariknya hingga terbuka.
            Dan langsung berhadapan dengan Glenn yang berdiri bersandar di ambang pintu.
            Lyla langsung memasang wajah permusuhan dan bersiap membanting pintu, sayangnya ujung sepatu Glenn sudah menggagalkan rencana Lyla itu. Lyla pun langsung mendelik ke arahnya.
            “Mau apa kamu?!” ketus Lyla.
            Glenn menelengkan kepalanya ke kiri, seolah berpikir mau apa dia datang mencari Lyla. “Kamu mau ke mana?” tanya Glenn.
            “Suka-suka aku donk, mau ke mana! Itu bukan urusan kamu!” sahut Lyla ketus.
          “Hmm...” gumam Glenn sambil tetap mengamati Lyla dengan intensitas yang membuat Lyla gelisah. “Bagus,” kata Glenn sejurus kemudian.
            “Apa yang...”
            Sebelum Lyla sempat menyelesaikan perkataannya, Glenn sudah menerobos masuk ke dalam kamar Lyla. Cowok itu langsung menuju meja di samping tempat tidur Lyla, tak memedulikan teriakan protes Lyla. Glenn menyambar dompet dan juga ponsel Lyla lalu berbalik.
            “Apa yang kamu lakukan?! Balikin!!” teriak Lyla sambil berusaha merebut kembali barang-barangnya.
            “Ayo,” sahut Glenn, nggak menggubris kemarahan Lyla. Ia menggamit lengan Lyla dan menariknya keluar kamar.
            Lyla tentu saja nggak mau pasrah semudah itu. Ia meronta-ronta, menggeliat, bahkan mencoba menyandung kaki Glenn agar tangannya dilepaskan. Akan tetapi Glenn bergeming dan terus saja menyeret Lyla turun. Lyla terus berteriak-teriak marah, bahkan saat menuruni tangga dan saat ia digiring layaknya binatang peliharaan keluar dari pintu depan. Lyla hampir berhasil menarik lepas tangannya dari genggaman Glenn, tapi Glenn keburu menariknya ke arah sebuah mobil Nissan Juke yang terparkir tak jauh dari pintu depan. Lalu, sebelum Lyla sempat menebak-nebak apa yang akan Glenn lakukan, cowok itu sudah membuka pintu meobil dan mengangkat Lyla masuk ke dalamnya.
            Lyla memekik. “Mau kamu bawa ke mana aku?!” bentak Lyla marah. Ia sudah bersiap untuk melompat turun, tapi Glenn menghalangi jalannya.
            “Aku akan membawa kamu ke tempat yang seharusnya,” sahut cowok itu tenang.
            Lyla mendelik. “Tempatku adalah di mana yang nggak ada kamunya!!” bentak Lyla marah. “Aku akan bilang sama Mama kalau kamu menculik aku!!”
            Glenn tertawa, bahkan tawanya saja nyaris membuat Lyla tergelincir dari kemarahannya. “Oh, tenang aja. Tante udah mengijinkan kok,” sahut Glenn enteng.
            “Apa?!!?” jerit Lyla. “Kamu bohong!! Pasti bohong!!!”
            “Kalau nggak percaya kamu boleh tanya sama Tante. Tapi setelahnya kamu harus ikut sama aku,” sahut Glenn sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu.
            “Itu nggak adil!!” protes Lyla sepenuh hati. Matanya berkaca-kaca karena marah.
            “Tentu aja adil. Aku kan cuma mau ngajak kamu jalan-jalan, bukannya mau nyulik kamu,” kata Glenn enteng.
            Lyla membuka mulutnya untuk membalas tapi sadar dirinya nggak punya balasan yang tepat. Sebagai gantinya ia hanya mengepalkan tangannya dan menatap Glenn dengan tatapan amat sangat marah. Kalau tatapan saja bisa membunuh, saat ini tubuh Glenn pasti sudah tercabik-cabik menjadi beberapa potong.
            “Oke, akhirnya kamu paham juga,” sahut Glenn.
            “Aku nggak mau pergi!” sahut Lyla dengan sisa perlawanannya.
            “Sayangnya di sini aku yang memutuskan karena aku udah mendapatkan ijin. Kamu cukup nikamti aja,” sahut Glenn.
            “Aku nggak akan bisa menikmati apa-apa selama masih ada kamu,” ketus Lyla dan duduk dengan tangan terlipat di dada. Ia menatap lurus ke depan.
            Glenn terkekah. “Senang mendengarnya. Berarti pengaruhku memang belum pudar seperti yang aku yakini,” kata Glenn.
            Lyla sudah hendak membalasnya dengan sahutan tajam lainnya, tapi Glenn sudah menutup pintu dan berlari memutari bagian depan mobil lalu masuk ke belakang kursi pengemudi.
            “Jangan besar kepala! Aku sama sekali nggak ingat sama kamu sampai pagi ini!” ketus Lyla. Ia lalu mendengus dan membuang muka ke samping.
            “Berarti aku harus membuat kamu ingat lagi,” kata Glenn.
            Mata Lyla membulat kaget, ia langsung berbalik menatap Glenn, nyaris membuat lehernya terkilir saat melakukannya. “Apa?!”
            Glenn melemparkan sebuah senyum pada Lyla, sementara tangannya memutar kunci mobil dan menyalakan mesinnya. “Kita akan bersenang-senang,” kata Glenn, lalu memasukkan perseneling dan mulai melaju.
            Lyla masih ingat untuk menjaga keselamatan dirinya, jadi ia segera memasang safe belt dan duduk menghadap Glenn. “Aku akan mengadukan kamu!!” ancam Lyla.
            “Silakan, aku menunggu,” sahut Glenn santai.
            “Kamu menyebalkan!” sahut Lyla kesal.
            “Bawaan lahir,” sahut Glenn.
            “Diktator! Kejam!”
            Glenn tak membalas dan menyetir dengan tenang. Membuat Lyla semakin jengkel.
            “Mesum! Nggak berperasaan! Cacing! Kutil!!” hardik Lyla lagi dengan marah.
            Glenn meliriknya sekilas, sebelum kembali menatap jalanan dan menyalakan musik. Kemudian mengacuhkan Lyla dengan amat sangat baik.
            Lyla duduk merengut di sebelah Glenn. Tidak sekalipun ia berusaha mengajak Glenn bicara atau pun menyahut ketika Glenn bertanya. Ia terlalu kesal dengan cowok sok itu. Seenaknya aja membawa dia keluar, padahal dia tau kalau Lyla sangat membencinya. Da...n kalau sikap Lyla masih kurang menunjukkan perasaan bencinya, maka kata-katanya yang gamblang pasti bisa kan? Sayangnya Glenn tampak begitu bebal untuk menyadari kenyataan itu. Cowok itu malah sangat santai, bahkan bersiul riang!
            Lyla gondok. Ingin sekali rasanya melempar wajah Glenn dengan sesuatu yang keras. Mungkin ada sesuatu di dashboar mobil cowok itu yang bisa ia gunakan. Atau kalau nggak ada, ia bisa memakai sepatunya. Sepatunya memiliki hak yang cukup tebal dan pasti akan menimbulkan memar cantik di wajah Glenn. Lebih bagus lagi kalau memarnya itu berbekas seumur hidup. Pembalasan itu tampaknya setimpal atas semua penderitaan semasa kanak-kanak yang Lyla alami. Ya, ide melemparkan sepatunya ke wajah Glenn tampak makin menggoda imannya. Tanpa sadar ia tersenyum.
            Glenn melirik Lyla. Cewek itu sangat diam selama 30 menit terakhir ini. Perjalanan mereka memang masih jauh, tapi sejak tadi Glenn sudah mengamati perubahan ekspresi Lyla. Sehingga ketika Lyla mengulas senyum tipis mencurigakan, Glenn melihatnya dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan cewek itu tiba-tiba tersenyum. Sejak ia membawa Lyla pergi tadi, cewek itu hanya memberengut ke luar jendela, tak selaipun menggubrisnya. Lalu tiba-tiba saja tersenyum. Pasti ada sesuatu hal yang membuat perasaannya berubah. Bagaimana pun Lyla adalah cewek yang gampang ditebak. Semua perasaan cewek itu tergambar di wajahnya. Dan Glenn merasa sangat bersalah ketika melihat kebencian murni di mata Lyla saat menatap Buddu, anak anjing yang ia bawa untuk Lyla itu.
            Glenn kembali mengamati Lyla. Mungkin ia memang sudah membuat kerusakan yang sangat parah. Mungkin juga tak akan cukup dengan kata maaf untuk menghapus semua dosanya semasa kecil. Bagaimana pun saat itu ia masih anak-anak. Ia tidak tau bagaimana cara menunjukkan perasaannya dan malah selalu berbuat yang sebaliknya. Yang pada akhirnya selalu mengantarkannya ke dalam mala petaka.
            Diam-diam Glenn mendesah. Sepertinya akan butuh usaha ekstra keras agar Lyla mau memaafkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar