Lyla langsung mengganti pakaiannya. Ia nggak mau
diam di rumah kalau Glenn juga ada di rumah yang sama. Lyla menandai kata
'menghabiskan liburan' yang diucapkan Mamanya tadi, berarti untuk waktu yang
belum ditentukan. Dengan kata lain Glenn akan tinggal di rumahnya sementara
waktu! Tidak. Ini pasti mimpi buruk. Lyla nggak mau percaya kalau ia akan
tinggal di rumah yang sama dengan Glenn. Lyla sudah sangat bahagia karena
sekarang tinggal jauh dari rumah Glenn. Akan tetapi, jarak dua jam perjalanan
rupanya tidak menjadi halangan bagi para ibu mereka. Buktinya saja Tante Mira,
mamanya Glenn, tetap menyuruh Glenn datang untuk... Untuk apa? Astaga, Lyla
bahkan nggak ingat apa alasan Glenn datang ke rumahnya. Yang pasti apa pun
alasannya, Lyla nggak mau ada seatap bersama cowok itu.
Ketukan
di pintu kamarnya menyela kegiatan Lyla, yang saat itu sedang menguncir
rambutnya dengan kunciran ekor kuda yang tinggi. Ia menoleh ke balik bahunya
dan mengernyitkan alis. Kemudian, setelah mengikat rambutnya, ia pun menuju ke
pintu dan menariknya hingga terbuka.
Dan
langsung berhadapan dengan Glenn yang berdiri bersandar di ambang pintu.
Lyla
langsung memasang wajah permusuhan dan bersiap membanting pintu, sayangnya
ujung sepatu Glenn sudah menggagalkan rencana Lyla itu. Lyla pun langsung
mendelik ke arahnya.
“Mau
apa kamu?!” ketus Lyla.
Glenn
menelengkan kepalanya ke kiri, seolah berpikir mau apa dia datang mencari Lyla.
“Kamu mau ke mana?” tanya Glenn.
“Suka-suka
aku donk, mau ke mana! Itu bukan urusan kamu!” sahut Lyla ketus.
“Hmm...”
gumam Glenn sambil tetap mengamati Lyla dengan intensitas yang membuat Lyla
gelisah. “Bagus,” kata Glenn sejurus kemudian.
“Apa
yang...”
Sebelum
Lyla sempat menyelesaikan perkataannya, Glenn sudah menerobos masuk ke dalam
kamar Lyla. Cowok itu langsung menuju meja di samping tempat tidur Lyla, tak
memedulikan teriakan protes Lyla. Glenn menyambar dompet dan juga ponsel Lyla
lalu berbalik.
“Apa
yang kamu lakukan?! Balikin!!” teriak Lyla sambil berusaha merebut kembali
barang-barangnya.
“Ayo,”
sahut Glenn, nggak menggubris kemarahan Lyla. Ia menggamit lengan Lyla dan
menariknya keluar kamar.
Lyla
tentu saja nggak mau pasrah semudah itu. Ia meronta-ronta, menggeliat, bahkan
mencoba menyandung kaki Glenn agar tangannya dilepaskan. Akan tetapi Glenn
bergeming dan terus saja menyeret Lyla turun. Lyla terus berteriak-teriak
marah, bahkan saat menuruni tangga dan saat ia digiring layaknya binatang
peliharaan keluar dari pintu depan. Lyla hampir berhasil menarik lepas
tangannya dari genggaman Glenn, tapi Glenn keburu menariknya ke arah sebuah mobil
Nissan Juke yang terparkir tak jauh dari pintu depan. Lalu, sebelum Lyla sempat
menebak-nebak apa yang akan Glenn lakukan, cowok itu sudah membuka pintu meobil
dan mengangkat Lyla masuk ke dalamnya.
Lyla
memekik. “Mau kamu bawa ke mana aku?!” bentak Lyla marah. Ia sudah bersiap
untuk melompat turun, tapi Glenn menghalangi jalannya.
“Aku
akan membawa kamu ke tempat yang seharusnya,” sahut cowok itu tenang.
Lyla
mendelik. “Tempatku adalah di mana yang nggak ada kamunya!!” bentak Lyla marah.
“Aku akan bilang sama Mama kalau kamu menculik aku!!”
Glenn
tertawa, bahkan tawanya saja nyaris membuat Lyla tergelincir dari kemarahannya.
“Oh, tenang aja. Tante udah mengijinkan kok,” sahut Glenn enteng.
“Apa?!!?”
jerit Lyla. “Kamu bohong!! Pasti bohong!!!”
“Kalau
nggak percaya kamu boleh tanya sama Tante. Tapi setelahnya kamu harus ikut sama
aku,” sahut Glenn sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu.
“Itu
nggak adil!!” protes Lyla sepenuh hati. Matanya berkaca-kaca karena marah.
“Tentu
aja adil. Aku kan cuma mau ngajak kamu jalan-jalan, bukannya mau nyulik kamu,” kata
Glenn enteng.
Lyla
membuka mulutnya untuk membalas tapi sadar dirinya nggak punya balasan yang
tepat. Sebagai gantinya ia hanya mengepalkan tangannya dan menatap Glenn dengan
tatapan amat sangat marah. Kalau tatapan saja bisa membunuh, saat ini tubuh
Glenn pasti sudah tercabik-cabik menjadi beberapa potong.
“Oke,
akhirnya kamu paham juga,” sahut Glenn.
“Aku
nggak mau pergi!” sahut Lyla dengan sisa perlawanannya.
“Sayangnya
di sini aku yang memutuskan karena aku udah mendapatkan ijin. Kamu cukup
nikamti aja,” sahut Glenn.
“Aku
nggak akan bisa menikmati apa-apa selama masih ada kamu,” ketus Lyla dan duduk
dengan tangan terlipat di dada. Ia menatap lurus ke depan.
Glenn
terkekah. “Senang mendengarnya. Berarti pengaruhku memang belum pudar seperti
yang aku yakini,” kata Glenn.
Lyla
sudah hendak membalasnya dengan sahutan tajam lainnya, tapi Glenn sudah menutup
pintu dan berlari memutari bagian depan mobil lalu masuk ke belakang kursi
pengemudi.
“Jangan
besar kepala! Aku sama sekali nggak ingat sama kamu sampai pagi ini!” ketus
Lyla. Ia lalu mendengus dan membuang muka ke samping.
“Berarti
aku harus membuat kamu ingat lagi,” kata Glenn.
Mata
Lyla membulat kaget, ia langsung berbalik menatap Glenn, nyaris membuat
lehernya terkilir saat melakukannya. “Apa?!”
Glenn
melemparkan sebuah senyum pada Lyla, sementara tangannya memutar kunci mobil
dan menyalakan mesinnya. “Kita akan bersenang-senang,” kata Glenn, lalu
memasukkan perseneling dan mulai melaju.
Lyla
masih ingat untuk menjaga keselamatan dirinya, jadi ia segera memasang safe
belt dan duduk menghadap Glenn. “Aku akan mengadukan kamu!!” ancam Lyla.
“Silakan,
aku menunggu,” sahut Glenn santai.
“Kamu
menyebalkan!” sahut Lyla kesal.
“Bawaan
lahir,” sahut Glenn.
“Diktator!
Kejam!”
Glenn
tak membalas dan menyetir dengan tenang. Membuat Lyla semakin jengkel.
“Mesum!
Nggak berperasaan! Cacing! Kutil!!” hardik Lyla lagi dengan marah.
Glenn
meliriknya sekilas, sebelum kembali menatap jalanan dan menyalakan musik.
Kemudian mengacuhkan Lyla dengan amat sangat baik.
Lyla
duduk merengut di sebelah Glenn. Tidak sekalipun ia berusaha mengajak Glenn
bicara atau pun menyahut ketika Glenn bertanya. Ia terlalu kesal dengan cowok
sok itu. Seenaknya aja membawa dia keluar, padahal dia tau kalau Lyla sangat
membencinya. Da...n kalau sikap Lyla masih kurang menunjukkan perasaan
bencinya, maka kata-katanya yang gamblang pasti bisa kan? Sayangnya Glenn
tampak begitu bebal untuk menyadari kenyataan itu. Cowok itu malah sangat
santai, bahkan bersiul riang!
Lyla
gondok. Ingin sekali rasanya melempar wajah Glenn dengan sesuatu yang keras.
Mungkin ada sesuatu di dashboar mobil cowok itu yang bisa ia gunakan. Atau
kalau nggak ada, ia bisa memakai sepatunya. Sepatunya memiliki hak yang cukup
tebal dan pasti akan menimbulkan memar cantik di wajah Glenn. Lebih bagus lagi
kalau memarnya itu berbekas seumur hidup. Pembalasan itu tampaknya setimpal
atas semua penderitaan semasa kanak-kanak yang Lyla alami. Ya, ide melemparkan
sepatunya ke wajah Glenn tampak makin menggoda imannya. Tanpa sadar ia
tersenyum.
Glenn
melirik Lyla. Cewek itu sangat diam selama 30 menit terakhir ini. Perjalanan
mereka memang masih jauh, tapi sejak tadi Glenn sudah mengamati perubahan
ekspresi Lyla. Sehingga ketika Lyla mengulas senyum tipis mencurigakan, Glenn
melihatnya dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan cewek itu tiba-tiba
tersenyum. Sejak ia membawa Lyla pergi tadi, cewek itu hanya memberengut ke
luar jendela, tak selaipun menggubrisnya. Lalu tiba-tiba saja tersenyum. Pasti
ada sesuatu hal yang membuat perasaannya berubah. Bagaimana pun Lyla adalah
cewek yang gampang ditebak. Semua perasaan cewek itu tergambar di wajahnya. Dan
Glenn merasa sangat bersalah ketika melihat kebencian murni di mata Lyla saat
menatap Buddu, anak anjing yang ia bawa untuk Lyla itu.
Glenn
kembali mengamati Lyla. Mungkin ia memang sudah membuat kerusakan yang sangat
parah. Mungkin juga tak akan cukup dengan kata maaf untuk menghapus semua
dosanya semasa kecil. Bagaimana pun saat itu ia masih anak-anak. Ia tidak tau
bagaimana cara menunjukkan perasaannya dan malah selalu berbuat yang
sebaliknya. Yang pada akhirnya selalu mengantarkannya ke dalam mala petaka.
Diam-diam
Glenn mendesah. Sepertinya akan butuh usaha ekstra keras agar Lyla mau
memaafkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar