Esok paginya, Glenn diantar sampai ke depan rumah
oleh Mama, Papa, dan Liliane. Semua persiapan sudah selesai dan sekarang Glenn
akan pulang. Buddy pun sudah masuk ke dalam kandang kecil yang disediakan
Glenn. Ia masih menunggu-nunggu kemunculan Lyla. Ia hendak memberikan sesuatu
pada cewek itu saat dia muncul nanti. Akan tetapi meski ditunggu-tunggu, cewek
itu tak juga muncul. Glenn pun jadi bertanya-tanya kenapa cewek itu tidak
mengantarnya pulang. Padahal jelas-jelas kemarin mereka sudah melakukan
gencatan senjata.
“Lyla
mana, Tante?” tanya Glenn.
“Aduuh,
anak itu kalau hari libur susah dibangunkan, Glenn. Tadi saja saat Tante ketuk
pintunya, dia nggak menyahut,” kata Mama Lyla.
“Oh,
padahal Glenn mau mengucapkan selamat tinggal,” kata Glenn. Ia mendongak
menatap jendela kamar Lyla yang tertutup.
“Iya,
nanti Tante yang sampaikan sama Lyla ya. Tante senang karena kalian akhirnya
bisa baikan,” kata Mama Lyla.
“Glenn,
nanti main ke sini lagi ya!” kata Liliane.
“Tenang
aja, Kak, aku akan sering main ke sini nantinya,” kata Glenn.
“Ayo,
nanti jalanan bertambah macet,” kata Papa Lyla.
“Pa,
jalanan kota memang selalu macet!” sahut Mama Lyla.
Glenn
tertawa. “Om, Tante, Kak Lili, aku pamit dulu ya,” kata Glenn seraya naik ke
dalam mobilnya.
“Hati-hati
di jalan ya! Jangan mengebut! Sampaikan salam Tante buat Papa dan Mama kamu ya!”
“Ya,
Tante, pasti,” kata Glenn.
Glenn
memundurkan mobilnya, lalu melaju ke jalanan. Ia masih menatap ke arah jendela
kamar Lyla yang tertutup. Sekilas ia membayangkan melihat gerakan pada tirai
kamar Lyla, akan tetapi ia tidak yakin. Sepertinya masih belum. Lyla masih
belum sadar. Terpaksa Glenn mengambil jalan terakhir yang dimilikinya.
Diambilnya ponselnya dan ditekannya keypad pada ponselnya. Ia mengirimkan
sebuah SMS ke sebuah nomor, dengan harapan akan mendapatkan respon.
Di
dalam kamarnya, Lyla mengintip dari balik tirai kamarnya. Ia merasa sangat
kesal karena Glenn bahkan tidak berusaha mencarinya untuk mengucapkan selamat
tinggal. Cowok itu benar-benar keterlaluan! Apa begitu cara cowok itu
membalasnya? Masuk dengan tiba-tiba ke dalam hidup Lyla, membuat Lyla merasa
tidak karuan, dan sekarang pergi tanpa pamit?! Lyla kesal... Sangat kesal.
Sampai-sampai air matanya mengalir tanpa sanggup ia cegah.
“Glenn
bodoh... Cowok bodoh...!” isak Lyla.
Lyla
tersentak saat mendengar dering ponselnya. Sejenak hanya ditatapnya ponselnya
berkedip-kedip di atas tempat tidur. Entah kenapa jantungnya berdegup cepat
mendengar dering ponselnya. Perlahan Lyla meninggalkan jendela, tempatnya
sedari tadi mengamati kepergian Glenn. Lalu diambilnya ponsel dan dilihatnya
ada satu pesan masuk. Dengan jantung berdebar Lyla membuka fitur pesan di
ponselnya. Dan jantungnya mencelos saat membaca nama Glenn tertera di layar
ponselnya. Lyla bertanya-tanya kapan cowok itu menyimpan nomor ponselnya di
kontak ponselnya. Mungkinkah saat mereka menghabiskan waktu berdua?
Dengan
tangan gemetar Lyla membuka pesan itu dan mulai membaca. Dan seiring tulisan
yang dibacanya, semakin berdebar pula jantungnya.
“Aku coba untuk memperbaiki kerusakan yang
terjadi. Semua cara aku pakai agar kamu memaafkan aku. Akan tetapi sepertinya
kamu memang nggak bisa maafin aku. Aku tau aku salah. Aku kekanakan, baik dulu
maupun sekarang. Akan tetapi semuanya aku lakukan karena aku mau menarik
perhatian kamu. Karena aku sayang sama kamu, Lyla. Dulu dan sekarang, rasa
sayangku sama kamu nggak berubah, malah semakin bertambah seiring jalannya
waktu. Aku sayang kamu, Lyla. Maafin semua kesalahanku”
Air
mata Lyla mengaliri pipinya saat pesan itu habis terbaca. Hatinya dipenuhi
berbagai emosi yang tak ia pahami. Ada rasa kaget, tak percaya, sedih, dan juga
bingung. Namun, diantara semua rasa itu, hanya satu yang ia pahami. Satu rasa
yang coba disangkalnya selama ini karena takut.
Lyla
duduk terisak dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Kenapa Glenn harus
mengatakan semuanya dengan cara ini? Kenapa cowok itu tidak mengatakannya
sedari awal? Kenapa cowok itu harus membuatnya marah dulu? Semua pertanyaan
berseliweran di kepala Lyla saat air mata tak hentinya berderai di pipinya.
Lyla
mengusap air matanya dengan punggung tangan dan berlari keluar kamarnya. Belum,
ia masih belum mengatakan perasaannya pada Glenn. Cowok itu tidak bisa berbuat
seenaknya seperti ini padanya. Lyla takkan membiarkan cowok itu pergi tanpa tau
betapa marahnya Lyla padanya.
Dan
juga betapa sayangnya Lyla padanya...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar