Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 8


Esok paginya, Glenn diantar sampai ke depan rumah oleh Mama, Papa, dan Liliane. Semua persiapan sudah selesai dan sekarang Glenn akan pulang. Buddy pun sudah masuk ke dalam kandang kecil yang disediakan Glenn. Ia masih menunggu-nunggu kemunculan Lyla. Ia hendak memberikan sesuatu pada cewek itu saat dia muncul nanti. Akan tetapi meski ditunggu-tunggu, cewek itu tak juga muncul. Glenn pun jadi bertanya-tanya kenapa cewek itu tidak mengantarnya pulang. Padahal jelas-jelas kemarin mereka sudah melakukan gencatan senjata.
            “Lyla mana, Tante?” tanya Glenn.
            “Aduuh, anak itu kalau hari libur susah dibangunkan, Glenn. Tadi saja saat Tante ketuk pintunya, dia nggak menyahut,” kata Mama Lyla.
            “Oh, padahal Glenn mau mengucapkan selamat tinggal,” kata Glenn. Ia mendongak menatap jendela kamar Lyla yang tertutup.
            “Iya, nanti Tante yang sampaikan sama Lyla ya. Tante senang karena kalian akhirnya bisa baikan,” kata Mama Lyla.
            “Glenn, nanti main ke sini lagi ya!” kata Liliane.
            “Tenang aja, Kak, aku akan sering main ke sini nantinya,” kata Glenn.
            “Ayo, nanti jalanan bertambah macet,” kata Papa Lyla.
            “Pa, jalanan kota memang selalu macet!” sahut Mama Lyla.
            Glenn tertawa. “Om, Tante, Kak Lili, aku pamit dulu ya,” kata Glenn seraya naik ke dalam mobilnya.
            “Hati-hati di jalan ya! Jangan mengebut! Sampaikan salam Tante buat Papa dan Mama kamu ya!”
            “Ya, Tante, pasti,” kata Glenn.
            Glenn memundurkan mobilnya, lalu melaju ke jalanan. Ia masih menatap ke arah jendela kamar Lyla yang tertutup. Sekilas ia membayangkan melihat gerakan pada tirai kamar Lyla, akan tetapi ia tidak yakin. Sepertinya masih belum. Lyla masih belum sadar. Terpaksa Glenn mengambil jalan terakhir yang dimilikinya. Diambilnya ponselnya dan ditekannya keypad pada ponselnya. Ia mengirimkan sebuah SMS ke sebuah nomor, dengan harapan akan mendapatkan respon.
            Di dalam kamarnya, Lyla mengintip dari balik tirai kamarnya. Ia merasa sangat kesal karena Glenn bahkan tidak berusaha mencarinya untuk mengucapkan selamat tinggal. Cowok itu benar-benar keterlaluan! Apa begitu cara cowok itu membalasnya? Masuk dengan tiba-tiba ke dalam hidup Lyla, membuat Lyla merasa tidak karuan, dan sekarang pergi tanpa pamit?! Lyla kesal... Sangat kesal. Sampai-sampai air matanya mengalir tanpa sanggup ia cegah.
            “Glenn bodoh... Cowok bodoh...!” isak Lyla.
            Lyla tersentak saat mendengar dering ponselnya. Sejenak hanya ditatapnya ponselnya berkedip-kedip di atas tempat tidur. Entah kenapa jantungnya berdegup cepat mendengar dering ponselnya. Perlahan Lyla meninggalkan jendela, tempatnya sedari tadi mengamati kepergian Glenn. Lalu diambilnya ponsel dan dilihatnya ada satu pesan masuk. Dengan jantung berdebar Lyla membuka fitur pesan di ponselnya. Dan jantungnya mencelos saat membaca nama Glenn tertera di layar ponselnya. Lyla bertanya-tanya kapan cowok itu menyimpan nomor ponselnya di kontak ponselnya. Mungkinkah saat mereka menghabiskan waktu berdua?
            Dengan tangan gemetar Lyla membuka pesan itu dan mulai membaca. Dan seiring tulisan yang dibacanya, semakin berdebar pula jantungnya.

            “Aku coba untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. Semua cara aku pakai agar kamu memaafkan aku. Akan tetapi sepertinya kamu memang nggak bisa maafin aku. Aku tau aku salah. Aku kekanakan, baik dulu maupun sekarang. Akan tetapi semuanya aku lakukan karena aku mau menarik perhatian kamu. Karena aku sayang sama kamu, Lyla. Dulu dan sekarang, rasa sayangku sama kamu nggak berubah, malah semakin bertambah seiring jalannya waktu. Aku sayang kamu, Lyla. Maafin semua kesalahanku”

            Air mata Lyla mengaliri pipinya saat pesan itu habis terbaca. Hatinya dipenuhi berbagai emosi yang tak ia pahami. Ada rasa kaget, tak percaya, sedih, dan juga bingung. Namun, diantara semua rasa itu, hanya satu yang ia pahami. Satu rasa yang coba disangkalnya selama ini karena takut.
            Lyla duduk terisak dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Kenapa Glenn harus mengatakan semuanya dengan cara ini? Kenapa cowok itu tidak mengatakannya sedari awal? Kenapa cowok itu harus membuatnya marah dulu? Semua pertanyaan berseliweran di kepala Lyla saat air mata tak hentinya berderai di pipinya.
            Lyla mengusap air matanya dengan punggung tangan dan berlari keluar kamarnya. Belum, ia masih belum mengatakan perasaannya pada Glenn. Cowok itu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini padanya. Lyla takkan membiarkan cowok itu pergi tanpa tau betapa marahnya Lyla padanya.
            Dan juga betapa sayangnya Lyla padanya...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar