Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 5


Perlahan, Lyla mulai bisa menerima keberadaan Glenn. Ke cuali jika cowok itu sedang bersama dengan anjingnya. Di sebagian besar waktunya, Glenn selalu mengajak anak anjingnya. Lyla heran sekaligus kesal melihat betapa lekatnya Glenn dengan anak anjing yang diberi nama Buddy itu. Bagaimana tidak? Ke mana-mana Buddy diajak, dimandikan, diajak joging, bahkan diajak tidur! Lyla sering kali langsung ngacir jauh-jauh kalau Glenn memperlihatkan gelagat akan mendekat bersama Buddy.
            Lyla belum melupakan bagaimana dulu Glenn selalu mengumpankannya pada anjing-anjingnya. Dan Glen akan menolong layaknya pahlawan, tapi semua usaha soknya itu gagal lantaran dia selalu tertawa tiap melihat Lyla mencak-mencak. Lyla sendiri heran, kenapa cowok itu begitu suka mengganggunya? Lyla nggak ingat apakah ia pernah berbuat salah hingga Glenn begitu senang menyiksanya. Dan Lyla juga nggak percaya alasan Glenn dulu saat cowok itu mengatakan bahwa alasannya adalah karena Lyla enak untuk digoda.
            Lyla sedang asik melamun di teras depan rumah petang itu. Ia melamunkan kejadian beberapa hari belakangan ini, semenjak kedatangan Glenn. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir seminggu Glenn tinggal di rumahnya dan dianggap anak sendiri oleh Mama Lyla. Tidak ada yang tampak keberatan dengan keberadaan cowok itu sehingga perlawanan Lyla makin hari makin melemah. Bahkan Liliane pernah mengatakan bahwa ia serasa memiliki adik laki-laki, membuat Lyla terperangah luar biasa. Akhirnya, sadar ia hanya membuang-buang tenaga untuk melancarkan protes, Lyla pun pasrah dan membiarkannya saja.
            Saking asiknya melamun, Lyla tidak sadar kalau Glenn sedang berdiri mengamatinya dari ambang pintu. Cowok itu bersandar miring dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Diamatinya Lyla lekat-lekat. Tampak Lyla menyatukan kedua lutut dan menumpangkan pipi di atas lututnya. Desahan pelannya terdengar samar-samar, dan Glenn bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh cewek itu.
            “Haah,” Lyla mendesah.
            Glenn memutuskan untuk memberitahukan keberadaannya, jadi dia membuat langkah suara berisik. Dan benar saja, Lyla langsung menoleh kaget. Kaning cewek itu berkerut saat menatap Glenn.
            “Sejak kapan kamu di sana?!” tanyanya.
            Glenn berjalan dan duduk di sebelah Lyla. “Baru aja. Lihatin apa sih? Asik bener sampai nggak dengar kedatanganku,” sahut Glenn.
            Lyla tak menjawab, dan malah bergesera agak jauh, menyisakan jarak 30 senti di antara dirinya dan Glenn. Glenn pun menahan senyum geli melihat tingkah Lyla itu. Sebagai gantinya, ia menatap ke langit dan mencoba menghitung bintang yang mulai bermunculan.
            “Kamu liburan sampai kapan sih?” tanya Lyla tiba-tiba.
            “Kenapa? Udah muak melihatku?” tanya Glenn.
            Lyla langsung manyun. “Kalau udah tau nggak usah nanya lagi!”
            Glenn terkekeh. “Kenapa kamu masih benci sama aku?” tanya Glenn.
            “Aku nggak benci sama kamu!” sahut Lyla cepat.
            “Bukannya waktu pertama itu kamu bilang benci dan ngusir aku?”
            Lyla gelagapan. “Eh, yah, waktu itu aku kaget! Makanya aku langsung bilang apa yang ada di pikiranku!”
            “Sekarang aku udah dewasa, La. Aku nggak sama dengan aku waktu kecil,” kata Glenn sambil menghela napas.
            “Aku tau...” gumam Lyla pelan.
            “Terus kenapa kamu menghindari aku?”
            Kening Lyla berkerut. “Aku nggak menghindari kamu. Aku cuma nggak...”
            Tepat sebelum Lyla menyelesaikan kata-katanya, sebuah gonggongan terdengar dari arah dalam rumah. Lyla langsung menoleh ke belakang dan membelalak ngeri ketika melihat Buddy sedang berlari menuruni tangga menuju ke teras. Tanpa sadar akan apa yang ia lakukan, Lyla langsung menjerit dan memeluk Glenn.
            “Usir dia!! Suruh dia jauh-jauh dariku!!” teriak Lyla sambil memeluk leher Glenn erat-erat. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Glenn dan menolak melihat bahkan mengintip sedikit pun. Ia hanya memeluk Glenn dan berteriak-teriak agar Glenn menjauhkan Buddy darinya.
            Terdengar Glenn memberikan perintah agar Buddy kembali ke dalam, tapi Lyla terlalu takut sehingga nggak sadar kalau Buddy sudah masuk ke dalam rumah dengan ekor terselip di antara kakinya. Dengkingannya terdengar memilukan.
            “La, Buddy udah pergi,” kata Glenn sambil menepuk-nepuk punggung Lyla.
            “Beneran?” sahut Lyla nggak percaya.
            “Iya, apa kamu masih dengar suaranya? Buddy itu biar kecil tapi gonggongannya keras lho,” kata Glenn.
            Perlahan, Lyla mengangkat kepalanya dan mengintip ke balik bahu Glenn. Benar, Buddy sudah nggak terlihat di mana pun. Lyla langsung menghembuskan napas lega dan kembali bersandar di bahu Glenn. Ia masih belum sadar kalau dirinya masih memeluk Glenn. Lalu kesadaran itu perlahan merasuki Lyla. Dimulai dari rasa hangat aneh yang menyelubunginya, lalu lengan kuat yang memeluknya, diakhiri oleh hembusan napas hangat di dekat telinganya. Mata Lyla membesar karena terkejut dan dia langsung menarik diri.
            Dan langsung berhadapan dengan mata Glenn yang menatapnya dengan sorot tak terbaca. Keheningan janggal menyelimuti sekeliling Lyla dan Glenn. Menatap mata Glenn yang gelap membuat jantung Lyla berdetak dua kali lebih cepat. Ia sadar betapa dekat dirinya dengan Glenn, tapi dia tak bisa bergerak walau hanya untuk menjauh. Tatapan di mata Glenn membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sedang dipikirkan oleh cowok itu.
            Suara Liliane yang m...emanggil Lyla-lah yang memutus mantra aneh di antara kedua orang itu. Lyla langsung menjauh dan melompat berdiri. Wajahnya memerah dan susah rasanya membalas tatapan Glenn. Untungnya Liliane muncul dan Lyla langsung menyambar kesempatan itu untuk melarikan diri.
            “Kenapa kak?!” tanya Lyla buru-buru.
            “Makan malam udah siap, kalian ayo masuk! Ngapain sih di luar begini? Kan banyak nyamuk,” kata Liliane.
            “Nggak ada nyamuk kok!” kata Lyla.
            Liliane mengamati wajah Lyla dengan seksama sampai Lyla merasa risih dan merasakan rona panas mulai merambati wajahnya. Kalau tidak buru-buru mengalihkan pembicaraan, bisa-bisa Liliane menebak yang tidak-tidak nih.
            “Eh, katanya mau makan malam? Yuk, buruan, Lyla udah lapar nih!” kata Lyla seraya meraih tangan LiLiane dan menyeret kakaknya masuk ke dalam. Lyla tidak berani menoleh ke arah Glenn. Bahkan, tanpa menoleh pun Lyla bisa merasakan tatapan menusuk dari mata Glenn. Tatapan yang membuat Lyla bergidik. Buru-buru Lyla kabur sebelum mempermalukan dirinya lebih banyak. Memeluk Glenn karena takut pada anjing itu satu hal, tapi kalau tidak melepaskannya sampai lama sesudahnya itu berarti bencana!
            Mereka makan malam dalam suasana hangat seperti kemarin-kemarin. Hanya saja Lyla jadi lebih pendiam. Dan dia menolak sama sekali untuk menatap Glenn. Dalam keputusasaannya, dia terus saja membuat Liliane berbicara. Pada akhir makan malam, Lyla berencana langsung kabur ke kamarnya. Akan tetapi rencananya terpaksa gagal lantaran Mamanya mengeluarkan puding pelangi kesukaannya sebagai makanan pencuci mulut. Lyla pun terpaksa duduk lebih lama di meja makan.
            “Glenn, Lusa kamu jadi pulang?” tanya Papa Lyla.
            Lyla langsung mengalihkan perhatiannya dari puding kesukaannya dan menajamkan pendengarannya. Tapi dia tetap menunduk karena tidak mau terlalu kantara kalau dia penasaran. Glenn akan pulang lusa?
            “Iya, Om. Mama udah nelepon minta supaya Glenn cepat pulang. Lagian liburan udah hampir usai,” lanjutnya. Ia melirik Lyla, tapi nampaknya cewek itu asik dengan pudingnya dan tidak memedulikannya sama sekali.
            “Sayang sekali, padahal Om sudah senang karena merasa punya anak lelaki,” desah Papa Lyla.
           Glenn tertawa. “Nanti Glenn main lagi, Om. Atau kalau Om sekeluarga nggak sibuk, main-main aja ke rumah. Papa pasti senang bertemu lawan tanggung dalam permainan caturnya,” kata Glenn.
            “Pasti itu. Om akan cari waktu luang untuk berkunjung ke sana,” kata Papa Lyla.
            Lyla yang mendengar percakapan itu langsung kehilangan nafsu makannya terhadap pudingnya. Makanan manis kesukaannya itu terasa hambar di mulutnya dan meski ia memaksa untuk makan, ia malah membuat dirinya mual. Tampaknya berita kepulangan Glenn membuatnya kaget. Akhirnya, karena takut berbuat bodoh, Lyla pun berdiri dari kursinya.
            “Lyla udah kenyang, ke kamar dulu ya,” kata Lyla dan langsung meninggalkan meja makan.
            Liliane menatap kepergian adiknya dengan heran. “Aneh, padahal dessertnya kan puding kesukaannya,” kata Liliane.
            “Apa dia sakit ya? Belakangan sikapnya memang aneh,” sahut Mama khawatir.
            Glenn hanya mendengarkan, tapi matanya tidak lepas dari sosok Lyla yang menghilang di ujung tangga.
            Sesampainya di kamarnya, Lyla langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Ia berbaring telungkup dengan wajah menghadap ke samping. Glenn akan pulang. Bukannya itu bagus? Berarti makhluk berbulu itu juga akan pergi. Harusnya Lyla senang dan melonjak kegirangan kan? Tapi kenapa yang ada malah perasaan hampa yang aneh? Lyla berguling telentang dan menatap kosong langit-langit kamarnya.
            “Aku kenapa sih...” bisiknya pada kegelapan kamarnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar