Perlahan, Lyla mulai bisa menerima keberadaan Glenn.
Ke cuali jika cowok itu sedang bersama dengan anjingnya. Di sebagian besar
waktunya, Glenn selalu mengajak anak anjingnya. Lyla heran sekaligus kesal
melihat betapa lekatnya Glenn dengan anak anjing yang diberi nama Buddy itu.
Bagaimana tidak? Ke mana-mana Buddy diajak, dimandikan, diajak joging, bahkan
diajak tidur! Lyla sering kali langsung ngacir jauh-jauh kalau Glenn
memperlihatkan gelagat akan mendekat bersama Buddy.
Lyla
belum melupakan bagaimana dulu Glenn selalu mengumpankannya pada
anjing-anjingnya. Dan Glen akan menolong layaknya pahlawan, tapi semua usaha
soknya itu gagal lantaran dia selalu tertawa tiap melihat Lyla mencak-mencak.
Lyla sendiri heran, kenapa cowok itu begitu suka mengganggunya? Lyla nggak
ingat apakah ia pernah berbuat salah hingga Glenn begitu senang menyiksanya.
Dan Lyla juga nggak percaya alasan Glenn dulu saat cowok itu mengatakan bahwa
alasannya adalah karena Lyla enak untuk digoda.
Lyla
sedang asik melamun di teras depan rumah petang itu. Ia melamunkan kejadian
beberapa hari belakangan ini, semenjak kedatangan Glenn. Kalau dihitung-hitung,
sudah hampir seminggu Glenn tinggal di rumahnya dan dianggap anak sendiri oleh
Mama Lyla. Tidak ada yang tampak keberatan dengan keberadaan cowok itu sehingga
perlawanan Lyla makin hari makin melemah. Bahkan Liliane pernah mengatakan
bahwa ia serasa memiliki adik laki-laki, membuat Lyla terperangah luar biasa.
Akhirnya, sadar ia hanya membuang-buang tenaga untuk melancarkan protes, Lyla pun
pasrah dan membiarkannya saja.
Saking
asiknya melamun, Lyla tidak sadar kalau Glenn sedang berdiri mengamatinya dari
ambang pintu. Cowok itu bersandar miring dengan kedua tangan terlipat di depan
dada. Diamatinya Lyla lekat-lekat. Tampak Lyla menyatukan kedua lutut dan
menumpangkan pipi di atas lututnya. Desahan pelannya terdengar samar-samar, dan
Glenn bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh cewek itu.
“Haah,”
Lyla mendesah.
Glenn
memutuskan untuk memberitahukan keberadaannya, jadi dia membuat langkah suara
berisik. Dan benar saja, Lyla langsung menoleh kaget. Kaning cewek itu berkerut
saat menatap Glenn.
“Sejak
kapan kamu di sana?!” tanyanya.
Glenn
berjalan dan duduk di sebelah Lyla. “Baru aja. Lihatin apa sih? Asik bener
sampai nggak dengar kedatanganku,” sahut Glenn.
Lyla
tak menjawab, dan malah bergesera agak jauh, menyisakan jarak 30 senti di
antara dirinya dan Glenn. Glenn pun menahan senyum geli melihat tingkah Lyla
itu. Sebagai gantinya, ia menatap ke langit dan mencoba menghitung bintang yang
mulai bermunculan.
“Kamu
liburan sampai kapan sih?” tanya Lyla tiba-tiba.
“Kenapa?
Udah muak melihatku?” tanya Glenn.
Lyla
langsung manyun. “Kalau udah tau nggak usah nanya lagi!”
Glenn
terkekeh. “Kenapa kamu masih benci sama aku?” tanya Glenn.
“Aku
nggak benci sama kamu!” sahut Lyla cepat.
“Bukannya
waktu pertama itu kamu bilang benci dan ngusir aku?”
Lyla
gelagapan. “Eh, yah, waktu itu aku kaget! Makanya aku langsung bilang apa yang
ada di pikiranku!”
“Sekarang
aku udah dewasa, La. Aku nggak sama dengan aku waktu kecil,” kata Glenn sambil
menghela napas.
“Aku
tau...” gumam Lyla pelan.
“Terus
kenapa kamu menghindari aku?”
Kening
Lyla berkerut. “Aku nggak menghindari kamu. Aku cuma nggak...”
Tepat
sebelum Lyla menyelesaikan kata-katanya, sebuah gonggongan terdengar dari arah
dalam rumah. Lyla langsung menoleh ke belakang dan membelalak ngeri ketika
melihat Buddy sedang berlari menuruni tangga menuju ke teras. Tanpa sadar akan
apa yang ia lakukan, Lyla langsung menjerit dan memeluk Glenn.
“Usir
dia!! Suruh dia jauh-jauh dariku!!” teriak Lyla sambil memeluk leher Glenn
erat-erat. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Glenn dan menolak melihat bahkan
mengintip sedikit pun. Ia hanya memeluk Glenn dan berteriak-teriak agar Glenn
menjauhkan Buddy darinya.
Terdengar
Glenn memberikan perintah agar Buddy kembali ke dalam, tapi Lyla terlalu takut
sehingga nggak sadar kalau Buddy sudah masuk ke dalam rumah dengan ekor
terselip di antara kakinya. Dengkingannya terdengar memilukan.
“La,
Buddy udah pergi,” kata Glenn sambil menepuk-nepuk punggung Lyla.
“Beneran?”
sahut Lyla nggak percaya.
“Iya,
apa kamu masih dengar suaranya? Buddy itu biar kecil tapi gonggongannya keras
lho,” kata Glenn.
Perlahan,
Lyla mengangkat kepalanya dan mengintip ke balik bahu Glenn. Benar, Buddy sudah
nggak terlihat di mana pun. Lyla langsung menghembuskan napas lega dan kembali
bersandar di bahu Glenn. Ia masih belum sadar kalau dirinya masih memeluk
Glenn. Lalu kesadaran itu perlahan merasuki Lyla. Dimulai dari rasa hangat aneh
yang menyelubunginya, lalu lengan kuat yang memeluknya, diakhiri oleh hembusan
napas hangat di dekat telinganya. Mata Lyla membesar karena terkejut dan dia
langsung menarik diri.
Dan
langsung berhadapan dengan mata Glenn yang menatapnya dengan sorot tak terbaca.
Keheningan janggal menyelimuti sekeliling Lyla dan Glenn. Menatap mata Glenn
yang gelap membuat jantung Lyla berdetak dua kali lebih cepat. Ia sadar betapa
dekat dirinya dengan Glenn, tapi dia tak bisa bergerak walau hanya untuk menjauh.
Tatapan di mata Glenn membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sedang
dipikirkan oleh cowok itu.
Suara
Liliane yang m...emanggil Lyla-lah yang memutus mantra aneh di antara kedua
orang itu. Lyla langsung menjauh dan melompat berdiri. Wajahnya memerah dan
susah rasanya membalas tatapan Glenn. Untungnya Liliane muncul dan Lyla
langsung menyambar kesempatan itu untuk melarikan diri.
“Kenapa
kak?!” tanya Lyla buru-buru.
“Makan
malam udah siap, kalian ayo masuk! Ngapain sih di luar begini? Kan banyak
nyamuk,” kata Liliane.
“Nggak
ada nyamuk kok!” kata Lyla.
Liliane
mengamati wajah Lyla dengan seksama sampai Lyla merasa risih dan merasakan rona
panas mulai merambati wajahnya. Kalau tidak buru-buru mengalihkan pembicaraan,
bisa-bisa Liliane menebak yang tidak-tidak nih.
“Eh,
katanya mau makan malam? Yuk, buruan, Lyla udah lapar nih!” kata Lyla seraya
meraih tangan LiLiane dan menyeret kakaknya masuk ke dalam. Lyla tidak berani
menoleh ke arah Glenn. Bahkan, tanpa menoleh pun Lyla bisa merasakan tatapan
menusuk dari mata Glenn. Tatapan yang membuat Lyla bergidik. Buru-buru Lyla
kabur sebelum mempermalukan dirinya lebih banyak. Memeluk Glenn karena takut
pada anjing itu satu hal, tapi kalau tidak melepaskannya sampai lama sesudahnya
itu berarti bencana!
Mereka
makan malam dalam suasana hangat seperti kemarin-kemarin. Hanya saja Lyla jadi
lebih pendiam. Dan dia menolak sama sekali untuk menatap Glenn. Dalam
keputusasaannya, dia terus saja membuat Liliane berbicara. Pada akhir makan
malam, Lyla berencana langsung kabur ke kamarnya. Akan tetapi rencananya
terpaksa gagal lantaran Mamanya mengeluarkan puding pelangi kesukaannya sebagai
makanan pencuci mulut. Lyla pun terpaksa duduk lebih lama di meja makan.
“Glenn,
Lusa kamu jadi pulang?” tanya Papa Lyla.
Lyla
langsung mengalihkan perhatiannya dari puding kesukaannya dan menajamkan
pendengarannya. Tapi dia tetap menunduk karena tidak mau terlalu kantara kalau
dia penasaran. Glenn akan pulang lusa?
“Iya,
Om. Mama udah nelepon minta supaya Glenn cepat pulang. Lagian liburan udah
hampir usai,” lanjutnya. Ia melirik Lyla, tapi nampaknya cewek itu asik dengan
pudingnya dan tidak memedulikannya sama sekali.
“Sayang
sekali, padahal Om sudah senang karena merasa punya anak lelaki,” desah Papa
Lyla.
Glenn
tertawa. “Nanti Glenn main lagi, Om. Atau kalau Om sekeluarga nggak sibuk,
main-main aja ke rumah. Papa pasti senang bertemu lawan tanggung dalam
permainan caturnya,” kata Glenn.
“Pasti
itu. Om akan cari waktu luang untuk berkunjung ke sana,” kata Papa Lyla.
Lyla
yang mendengar percakapan itu langsung kehilangan nafsu makannya terhadap
pudingnya. Makanan manis kesukaannya itu terasa hambar di mulutnya dan meski ia
memaksa untuk makan, ia malah membuat dirinya mual. Tampaknya berita kepulangan
Glenn membuatnya kaget. Akhirnya, karena takut berbuat bodoh, Lyla pun berdiri
dari kursinya.
“Lyla
udah kenyang, ke kamar dulu ya,” kata Lyla dan langsung meninggalkan meja
makan.
Liliane
menatap kepergian adiknya dengan heran. “Aneh, padahal dessertnya kan puding
kesukaannya,” kata Liliane.
“Apa
dia sakit ya? Belakangan sikapnya memang aneh,” sahut Mama khawatir.
Glenn
hanya mendengarkan, tapi matanya tidak lepas dari sosok Lyla yang menghilang di
ujung tangga.
Sesampainya
di kamarnya, Lyla langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Ia
berbaring telungkup dengan wajah menghadap ke samping. Glenn akan pulang.
Bukannya itu bagus? Berarti makhluk berbulu itu juga akan pergi. Harusnya Lyla
senang dan melonjak kegirangan kan? Tapi kenapa yang ada malah perasaan hampa yang
aneh? Lyla berguling telentang dan menatap kosong langit-langit kamarnya.
“Aku
kenapa sih...” bisiknya pada kegelapan kamarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar