Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 2


Lyla merasa paginya menjadi amat sangat buruk dalam sekejap. Ia bangun dan menemukan seekor makhluk yang paling dibencinya ada di tempat tidurnya, dan kemunculan seorang cowok separuh telanjang, dan cowok itu sangat mesum, dan cowok itu adalah orang yang paling tak ingin Lyla temui! Kalau Lyla mau mendaftar semua hal tak menyenangkan yang terjadi padanya pagi itu, ia mungkin akan membutuhkan berlembar-lembar kertas. Ini hari sabtu, demi Tuhan. Dan ia berharap bisa menikmati liburannya dengan tenang!
            Sayangnya, semua impian, rencana, dan yang terpenting kedamaian yang Lyla harapkan, langsung sirna saat melihat Glenn melenggang menuruni tangga dan bergabung bersama Lyla di meja makan. Papa sudah berangkat kerja 15 menit yang lalu, sementara Liliane sudah kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja. Tinggalah Lyla yang duduk sendiri dengan sepiring roti bakar dan telur, serta segelas susu di meja makan. Mamanya sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk Glenn saat melihat cowok itu turun tadi.
            Tak ada yang bersuara setelah Glenn duduk di kursi meja makan, meraih gelas dan menuangkan jus jeruk ke gelasnya. Cowok itu minum seteguk dengan santai, seolah-olah ini rumahnya, dan bukannya rumah Lyla. Dan Lyla yang melihatnya langsung merasa hilang nafsu makan. Yah, hampir. Tapi Lyla cukup bijaksana karena tetap memakan roti bakarnya sementara mengamati Glenn dari balik bulu matanya yang tebal.
            Cowok itu berubah banyak. Ia jadi lebih tinggi, kira-kira 30 senti lebih tinggi ketimbang Lyla yang tinggi badannya hanya mencapai 155 senti. Selain itu, rambutnya terlihat mengikal di bagian kuduknya, dengan poni yang selalu menutupi mata bila cowok itu sedikit menunduk atau menoleh. Wajahnya jadi lumayan oke, yah Lyla akui kata 'lumayan' tampaknya terlalu meremehkan. Bisa dibilang Glenn menjadi sangat ganteng di usianya yang... berapa? Kalau Lyla tak salah ingat, Glenn lebih tua beberapa tahun darinya. Yah, berapa pun usia cowok itu, ia tampak sangat memesona pada usianya itu dan itu sedikit mengesalkan Lyla. Bukan hanya itu, Glenn memiliki body yang sangat proporsional, dengan perut rata membentuk sixpack yang pasti akan membuat teman-teman cowok Lyla iri bila melihatnya. Huh, Lyla benci kalau cowok itu berubah menjadi begitu ganteng. Bagaimana ia bisa berkonsentrasi untuk membencinya kalau setiap melihat Glenn otak Lyla selalu seperti konslet?
            Lyla baru menyadari kelebihan-kelebihan Glenn setelah selesai mandi dan berkaca di depan cermin hanya dengan sehelai handuk melingkari tubuhnya. Dan wajahnya langsung merona ketika membayangkan 'bagaimana' reaksi Glenn tadi saat melihatnya dengan pakaian paling minim yang selelu ia gunakan saat tidur. Yah, kalau cowok itu cowok normal, ia mungkin akan merasakan reaksi yang sama dengan Lyla. Setelah sekarang ia segar sehabis mandi dan berpikiran jernih, Lyla baru menyadari reaksinya sendiri. Ia ingat ia tercekat saat melihat Glenn melangkah masuk ke kamarnya dengan tampang khas orang baru bangun tidur. Dan siapa yang akan menyalahkan Lyla kalau setelah otaknya jernih ia malah mulai mengingat-ingat tiap jengkal tubuh Glenn yang terpampang tadi? Bodoh! Lyla memarahi dirinya sendiri. Jangan terpesona pada cowok itu. Ingat, cowok itu kan mala petaka buatmu saat berusia 10 tahun!
            “Ada yang aneh di wajahku?”
            Suara yang maskulin dan agak serak itu menyentakkan Lyla dari lamunannya. Ia tidak sadar kalau ia sudah menatap Glenn secara terang-terangan. Dan sekarang wajahnya langsung merona tanpa sanggup ia tahan. Halooo, ini kan rumahnya! Mengapa ia harus malu di rumahnya sendiri? Tidak aneh kan kalau ia menatap cowok asing, yah, nggak sepenuhnya sing sih, yang tiba-tiba saja ada di rumahnya?
            “Kenapa kamu bisa ada di sini?!” tanya Lyla kesal. Menolak mangakui kalau ia telah kepergok memandangi Glenn, pemandangan paling menyehatkan mata kalau mau mendengarkan hati kecil Lyla yang usil.
            “Tentu aja bisa. Aku naik mobilku, mengetuk pintu, dan langsung disambut hangat sebagaimana seharusnya aku disambut,” sahut Glenn dengan menyebalkan. Ia menggigit rotinya, yang entah sejak kapan sudah dibawakan oleh Mama Lyla saat Lyla asik melamun tadi.
            “Kamu tau bukan itu maksud aku! Yang aku tanyakan adalah kenapa kamu ada di rumahku pagi-pagi buta begitu?!” sahut Lyla.
            Glenn mendongak sedikit dan membalas tatapan kesal Lyla. Lalu ia mengangkat bahunya sedikit. “Mama menyuruhku untuk berlibur ke tempat lain, dan kebetulan tempat ini terlintas di benaknya,” kata Glenn.
            “Nggak masuk akal rumahku yang dipilih!!” seru Lyla tak percaya. “Kita bahkan nggak pernah berkomunikasi!”
            Glenn menyeringai. “Yah, maaf membuat kecewa, tapi kayaknya mama kita berpikir berbeda. Kalau ini bisa bikin kamu lebih tenang, aku pun nggak tau kalau mereka tetap berkorespondensi selama 10 tahun terakhir ini,” kata Glenn.
            Lyla mendelik. “Bohong!! Aku nggak pernah dengar mama kirim-kirim surat atau telepon-teleponan sama Tante Mira!” sahut Lyla. “Kamu pasti bohong kan?! Dan kenapa juga kamu harus bawa-bawa makhluk itu?!”
            “Makhluk apa?” sahut Glenn santai.
            “Itu! Makhluk berbulu itu!!” tangan Lyla bergerak-gerak liar saking kesalnya. “Aku benci dia! Dan aku nggak mau melihat ada itu di rumahku!! Kenapa kamu malah bawa-bawa makhluk itu?!” seru Lyla lagi.
            “Lyla, kamu ini ngapain teriak-teriak sih?” tegur Mama saat beliau membereskan meja makan.
            “Lyla lagi mengajukan demo!” sahut Lyla dan menatap Glenn dengan tajam.
            Cowok itu malah tak memandang Lyla sama sekali dan melempar senyum ke arah Mama Lyla. “Mama titip salam buat Tante,” kata Glenn. “Glenn minta maaf karena semalam datang terlalu larut, jalanan macet banget,” tambahnya.
            Mama Lyla tertawa dan melambaikan tangan. “Nggak apa-apa, Glenn. Mira sudah cerita kalau kamu lagi sibuk kuliah. Tante sudah senang karena kamu mau liburan di sini. Bagaimana pun dulu kita kan tetanggaan,” kata Mama.
            “Iya. Mama kangen sama Tante katanya. Papa juga titip salam buat Om dan Tante. Katanya kalau udah nggak sibuk, mereka mau berkunjung ke sini,” sahut Glenn.
            Mama Lyla memekik pelan layaknya gadis remaja dan menangkupkan tangannya. “Itu bagus! Tante sudah nggak sabar lagi menunggu kunjungan itu! Kamu juga datang ya? Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. Jadi kamu jangan sungkan selama di sini,” kata Mama.
            Lyla memandang tak percaya pada interaksi di hadapannya itu. Mamanya memekik? Ya Tuhan... Mungkinkah Lyla masih tidur dan semua ini adalah mimpi buruk. Saat ia terbangun nanti, ia akan mendapati bahwa ia masih berbaring nyaman di ranjangnya. Tak ada makhluk berbulu itu, tidak ada Glenn, dan semuanya damai. Lyla nyaris terhanyut oleh khayalannya itu, kalau saja ia tak mendengar suara mengerikan yang langsung mengoyak keindahan mimpinya. Lyla langsung membuka mata dan menoleh ke asal suara 'Guk!' tadi. Ia memandang ngeri saat melihat anak anjing mungil sedang melompati anak tangga dan bergegas ke arah meja makan.
            Sebelum menyadari apa yang dilakukannya, Lyla sudah berteriak dan naik ke atas meja. Ia melemparkan roti-rotinya ke arah anak anjing tak berdosa itu dan berteriak-teriak agar seseorang mengenyahkannya jauh-jauh. Bahkan Lyla tak memerhatikan tatapan memelas si anak anjing, serta telinganya yang langsung turun ditambah dengkingan pelannya. Mama Lyla tampak shock melihat kelakuan Lyla, sementara Glenn hanya mengerjapkan matanya.
            “Jauhin dia!! Buruan!! Dia punya kamu kan?? Bawa dia pergi atau akan aku lempari dia dengan piring!!!” teriak Lyla pada Glenn.
            “Hei, dia cuma anjing,” kata Glenn kesal. Ia meraih anak anjing itu dan menatap Lyla dengan tatapan mencemooh. “Dia sama sekali nggak berbahaya. Usianya bahkan belum ada dua bulan,” tambah Glenn saat Lyla masih saja menatap benci ke arah anjingnya.
            “Memangnya aku peduli?! Aku benci makhluk itu!! Selamanya!!!” bentak Lyla. Ia melompat dari atas meja dan berlari ke kamarnya. Terdengar suara pintu dibanting keras di lantai atas, lalu disusul dengan keheningan canggung di ruang makan.
            Helaan napas Mama Lyla memecah keheningan itu. “Sepertinya Lyla masih trauma,” ujarnya.
            Glenn mengalihkan tatapannya kepada Mama Lyla. “Maaf?” tanyanya.
            Mama Lyla menatap Glenn. “Dia belum bisa melupakan kejadian tempo dulu itu. Apa kamu ingat kejadian saat Lyla diserang salah satu anjing peliharaan Papa kamu? Meski nggak luka parah, selain lecet-lecet gara-gara merangkak di atas beton, dia tetap trauma,” kata Mama Lyla. Beliau menggelengkan kepalanya. “Tante sudah menyerah untuk membujuk dia melupakan kejadian itu, tapi tampaknya ketakutan Lyla sudah tertanam dalam. Baginya semua anjing itu sama buasnya,” lanjutnya.
            Glenn ingat kejadian itu. Dan ia memang tidak pernah melupakannya sama sekali. Waktu itu ia sama kagetnya dengan Lyla saat anjing pitbul itu lepas dari kandangnya. Meski papanya datang tepat waktu untuk menangkap anjing itu sebelum betul-betul menerjang Lyla, tapi kerusakan sudah terjadi. Lyla terlanjut takut pada anjing. Walaupun Glenn sering mengerjai Lyla, tapi ia betul-betul terhenyak ketika melihat tatapan membelalak Lyla, wajah pucatnya, serta betapa gemetar tubuh gadis itu. Dan sejujurnya, bayangan itu masih belum bisa enyah dari benaknya walau 10 tahun telah berlalu.
            Glenn menatap ke arah tangga dengan tatapan menerawang. Lalu ia menunduk dan menatap anak anjing di dekapannya, yang mendongak menatapnya penuh harap. Glenn mengangkat anak anjing itu dan menggesekkan hidungnya di hidung anjing itu. Tertawa pelan saat anak anjing itu balas menjilatnya. Lalu ekspresi Glenn menjadi lebih serius.
            “Tenang aja, Buddy, aku akan membuat dia menyukai kamu,” bisik Glenn.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar