Lyla merasa paginya menjadi amat sangat buruk dalam
sekejap. Ia bangun dan menemukan seekor makhluk yang paling dibencinya ada di
tempat tidurnya, dan kemunculan seorang cowok separuh telanjang, dan cowok itu
sangat mesum, dan cowok itu adalah orang yang paling tak ingin Lyla temui!
Kalau Lyla mau mendaftar semua hal tak menyenangkan yang terjadi padanya pagi
itu, ia mungkin akan membutuhkan berlembar-lembar kertas. Ini hari sabtu, demi
Tuhan. Dan ia berharap bisa menikmati liburannya dengan tenang!
Sayangnya,
semua impian, rencana, dan yang terpenting kedamaian yang Lyla harapkan,
langsung sirna saat melihat Glenn melenggang menuruni tangga dan bergabung
bersama Lyla di meja makan. Papa sudah berangkat kerja 15 menit yang lalu,
sementara Liliane sudah kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Tinggalah Lyla yang duduk sendiri dengan sepiring roti bakar dan telur, serta
segelas susu di meja makan. Mamanya sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk
Glenn saat melihat cowok itu turun tadi.
Tak
ada yang bersuara setelah Glenn duduk di kursi meja makan, meraih gelas dan
menuangkan jus jeruk ke gelasnya. Cowok itu minum seteguk dengan santai,
seolah-olah ini rumahnya, dan bukannya rumah Lyla. Dan Lyla yang melihatnya
langsung merasa hilang nafsu makan. Yah, hampir. Tapi Lyla cukup bijaksana
karena tetap memakan roti bakarnya sementara mengamati Glenn dari balik bulu
matanya yang tebal.
Cowok
itu berubah banyak. Ia jadi lebih tinggi, kira-kira 30 senti lebih tinggi
ketimbang Lyla yang tinggi badannya hanya mencapai 155 senti. Selain itu,
rambutnya terlihat mengikal di bagian kuduknya, dengan poni yang selalu
menutupi mata bila cowok itu sedikit menunduk atau menoleh. Wajahnya jadi
lumayan oke, yah Lyla akui kata 'lumayan' tampaknya terlalu meremehkan. Bisa
dibilang Glenn menjadi sangat ganteng di usianya yang... berapa? Kalau Lyla tak
salah ingat, Glenn lebih tua beberapa tahun darinya. Yah, berapa pun usia cowok
itu, ia tampak sangat memesona pada usianya itu dan itu sedikit mengesalkan
Lyla. Bukan hanya itu, Glenn memiliki body yang sangat proporsional, dengan
perut rata membentuk sixpack yang pasti akan membuat teman-teman cowok Lyla iri
bila melihatnya. Huh, Lyla benci kalau cowok itu berubah menjadi begitu
ganteng. Bagaimana ia bisa berkonsentrasi untuk membencinya kalau setiap
melihat Glenn otak Lyla selalu seperti konslet?
Lyla
baru menyadari kelebihan-kelebihan Glenn setelah selesai mandi dan berkaca di
depan cermin hanya dengan sehelai handuk melingkari tubuhnya. Dan wajahnya
langsung merona ketika membayangkan 'bagaimana' reaksi Glenn tadi saat
melihatnya dengan pakaian paling minim yang selelu ia gunakan saat tidur. Yah,
kalau cowok itu cowok normal, ia mungkin akan merasakan reaksi yang sama dengan
Lyla. Setelah sekarang ia segar sehabis mandi dan berpikiran jernih, Lyla baru
menyadari reaksinya sendiri. Ia ingat ia tercekat saat melihat Glenn melangkah
masuk ke kamarnya dengan tampang khas orang baru bangun tidur. Dan siapa yang
akan menyalahkan Lyla kalau setelah otaknya jernih ia malah mulai
mengingat-ingat tiap jengkal tubuh Glenn yang terpampang tadi? Bodoh! Lyla
memarahi dirinya sendiri. Jangan terpesona pada cowok itu. Ingat, cowok itu kan
mala petaka buatmu saat berusia 10 tahun!
“Ada
yang aneh di wajahku?”
Suara
yang maskulin dan agak serak itu menyentakkan Lyla dari lamunannya. Ia tidak
sadar kalau ia sudah menatap Glenn secara terang-terangan. Dan sekarang wajahnya
langsung merona tanpa sanggup ia tahan. Halooo, ini kan rumahnya! Mengapa ia
harus malu di rumahnya sendiri? Tidak aneh kan kalau ia menatap cowok asing,
yah, nggak sepenuhnya sing sih, yang tiba-tiba saja ada di rumahnya?
“Kenapa
kamu bisa ada di sini?!” tanya Lyla kesal. Menolak mangakui kalau ia telah
kepergok memandangi Glenn, pemandangan paling menyehatkan mata kalau mau
mendengarkan hati kecil Lyla yang usil.
“Tentu
aja bisa. Aku naik mobilku, mengetuk pintu, dan langsung disambut hangat sebagaimana
seharusnya aku disambut,” sahut Glenn dengan menyebalkan. Ia menggigit rotinya,
yang entah sejak kapan sudah dibawakan oleh Mama Lyla saat Lyla asik melamun
tadi.
“Kamu
tau bukan itu maksud aku! Yang aku tanyakan adalah kenapa kamu ada di rumahku pagi-pagi
buta begitu?!” sahut Lyla.
Glenn
mendongak sedikit dan membalas tatapan kesal Lyla. Lalu ia mengangkat bahunya
sedikit. “Mama menyuruhku untuk berlibur ke tempat lain, dan kebetulan tempat
ini terlintas di benaknya,” kata Glenn.
“Nggak
masuk akal rumahku yang dipilih!!” seru Lyla tak percaya. “Kita bahkan nggak
pernah berkomunikasi!”
Glenn
menyeringai. “Yah, maaf membuat kecewa, tapi kayaknya mama kita berpikir
berbeda. Kalau ini bisa bikin kamu lebih tenang, aku pun nggak tau kalau mereka
tetap berkorespondensi selama 10 tahun terakhir ini,” kata Glenn.
Lyla
mendelik. “Bohong!! Aku nggak pernah dengar mama kirim-kirim surat atau
telepon-teleponan sama Tante Mira!” sahut Lyla. “Kamu pasti bohong kan?! Dan
kenapa juga kamu harus bawa-bawa makhluk itu?!”
“Makhluk
apa?” sahut Glenn santai.
“Itu!
Makhluk berbulu itu!!” tangan Lyla bergerak-gerak liar saking kesalnya. “Aku
benci dia! Dan aku nggak mau melihat ada itu di rumahku!! Kenapa kamu malah
bawa-bawa makhluk itu?!” seru Lyla lagi.
“Lyla,
kamu ini ngapain teriak-teriak sih?” tegur Mama saat beliau membereskan meja
makan.
“Lyla
lagi mengajukan demo!” sahut Lyla dan menatap Glenn dengan tajam.
Cowok
itu malah tak memandang Lyla sama sekali dan melempar senyum ke arah Mama Lyla.
“Mama titip salam buat Tante,” kata Glenn. “Glenn minta maaf karena semalam
datang terlalu larut, jalanan macet banget,” tambahnya.
Mama
Lyla tertawa dan melambaikan tangan. “Nggak apa-apa, Glenn. Mira sudah cerita
kalau kamu lagi sibuk kuliah. Tante sudah senang karena kamu mau liburan di
sini. Bagaimana pun dulu kita kan tetanggaan,” kata Mama.
“Iya.
Mama kangen sama Tante katanya. Papa juga titip salam buat Om dan Tante.
Katanya kalau udah nggak sibuk, mereka mau berkunjung ke sini,” sahut Glenn.
Mama
Lyla memekik pelan layaknya gadis remaja dan menangkupkan tangannya. “Itu
bagus! Tante sudah nggak sabar lagi menunggu kunjungan itu! Kamu juga datang
ya? Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. Jadi kamu jangan sungkan selama di
sini,” kata Mama.
Lyla
memandang tak percaya pada interaksi di hadapannya itu. Mamanya memekik? Ya
Tuhan... Mungkinkah Lyla masih tidur dan semua ini adalah mimpi buruk. Saat ia
terbangun nanti, ia akan mendapati bahwa ia masih berbaring nyaman di
ranjangnya. Tak ada makhluk berbulu itu, tidak ada Glenn, dan semuanya damai.
Lyla nyaris terhanyut oleh khayalannya itu, kalau saja ia tak mendengar suara
mengerikan yang langsung mengoyak keindahan mimpinya. Lyla langsung membuka
mata dan menoleh ke asal suara 'Guk!' tadi. Ia memandang ngeri saat melihat
anak anjing mungil sedang melompati anak tangga dan bergegas ke arah meja
makan.
Sebelum
menyadari apa yang dilakukannya, Lyla sudah berteriak dan naik ke atas meja. Ia
melemparkan roti-rotinya ke arah anak anjing tak berdosa itu dan berteriak-teriak
agar seseorang mengenyahkannya jauh-jauh. Bahkan Lyla tak memerhatikan tatapan
memelas si anak anjing, serta telinganya yang langsung turun ditambah
dengkingan pelannya. Mama Lyla tampak shock melihat kelakuan Lyla, sementara
Glenn hanya mengerjapkan matanya.
“Jauhin
dia!! Buruan!! Dia punya kamu kan?? Bawa dia pergi atau akan aku lempari dia
dengan piring!!!” teriak Lyla pada Glenn.
“Hei,
dia cuma anjing,” kata Glenn kesal. Ia meraih anak anjing itu dan menatap Lyla
dengan tatapan mencemooh. “Dia sama sekali nggak berbahaya. Usianya bahkan
belum ada dua bulan,” tambah Glenn saat Lyla masih saja menatap benci ke arah
anjingnya.
“Memangnya
aku peduli?! Aku benci makhluk itu!! Selamanya!!!” bentak Lyla. Ia melompat
dari atas meja dan berlari ke kamarnya. Terdengar suara pintu dibanting keras
di lantai atas, lalu disusul dengan keheningan canggung di ruang makan.
Helaan
napas Mama Lyla memecah keheningan itu. “Sepertinya Lyla masih trauma,” ujarnya.
Glenn
mengalihkan tatapannya kepada Mama Lyla. “Maaf?” tanyanya.
Mama
Lyla menatap Glenn. “Dia belum bisa melupakan kejadian tempo dulu itu. Apa kamu
ingat kejadian saat Lyla diserang salah satu anjing peliharaan Papa kamu? Meski
nggak luka parah, selain lecet-lecet gara-gara merangkak di atas beton, dia
tetap trauma,” kata Mama Lyla. Beliau menggelengkan kepalanya. “Tante sudah
menyerah untuk membujuk dia melupakan kejadian itu, tapi tampaknya ketakutan
Lyla sudah tertanam dalam. Baginya semua anjing itu sama buasnya,” lanjutnya.
Glenn
ingat kejadian itu. Dan ia memang tidak pernah melupakannya sama sekali. Waktu
itu ia sama kagetnya dengan Lyla saat anjing pitbul itu lepas dari kandangnya.
Meski papanya datang tepat waktu untuk menangkap anjing itu sebelum betul-betul
menerjang Lyla, tapi kerusakan sudah terjadi. Lyla terlanjut takut pada anjing.
Walaupun Glenn sering mengerjai Lyla, tapi ia betul-betul terhenyak ketika
melihat tatapan membelalak Lyla, wajah pucatnya, serta betapa gemetar tubuh
gadis itu. Dan sejujurnya, bayangan itu masih belum bisa enyah dari benaknya
walau 10 tahun telah berlalu.
Glenn
menatap ke arah tangga dengan tatapan menerawang. Lalu ia menunduk dan menatap
anak anjing di dekapannya, yang mendongak menatapnya penuh harap. Glenn
mengangkat anak anjing itu dan menggesekkan hidungnya di hidung anjing itu.
Tertawa pelan saat anak anjing itu balas menjilatnya. Lalu ekspresi Glenn
menjadi lebih serius.
“Tenang
aja, Buddy, aku akan membuat dia menyukai kamu,” bisik Glenn.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar