Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 4


Perjalanan itu akhirnya berakhir ketika mereka memasuki kawasan perkebunan teh. Glenn memperlambat mobilnya dan memarkirnya di pinggir jalan, di mana mereka bisa menikmati pemandangan kebun teh secara keseluruhan. Glenn lalu mematikan mesin mobilnya dan mengisyaratkan agar Lyla turun. Tapi, seperti yang sudah Glenn duga, Lyla menolak.
            “Ayo, turun. Percuma juga diam di mobil. Kamu nggak bakal bisa menikmati sejuknya udara kalau cuma duduk di dalam sini,” kata Glenn. Ia berdiri di sebelah pintu penumpang.
            “Bodo amat!” ketus Lyla.
            “Ayo, turun!” kata Glenn dan menarik tangan Lyla, tidak memedulikan protes keras gadis itu.
            Setelah berhasil menurunkan Lyla dari mobil, Glenn langsung membanting pintu mobil hingga tertutup. Setelah itu dia menyeret Lyla bersamanya. Mereka menyusuri setapak kecil menuju ke sebuah pondokan di tengah-tengah kebun teh itu. Dan sepanjang jarak yang singkat itu, Lyla tak henti-hentinya memprotes. Ia menarik-narik tangannya dari genggaman Glenn, tapi usahanya berakhir tragis karena bukannya dilepaskan, tangannya malah makin digenggam erat oleh Glenn. Usaha keduanya jauh lebih kreatif, ia mencoba menjegal kaki Glenn, berharap Glenn akan nyungsep dan melepaskannya sebelum jatuh. Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Glenn berhenti dan berbalik dengan tiba-tiba hingga Lyla menabrak dadamya.
            “Sebaiknya kamu nggak melakukan hal itu lagi, atau aku terpaksa menggendong kamu,” ancam Glenn.
            Lyla membelalakkan matanya, lalu mendengus kesal. “Kamu yang narik aku kayak narik sapi!! Aku bisa jalan sendiri tau!!” ketusnya.
            “Kalau aku nggak megangin tanganmu, kamu akan lari detik ini juga!” balas Glenn.
            Lyla kembali melotot marah pada Glenn, tapi memilih nggak menghiraukan kata-kata cowok itu. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Lyla menatap Glenn dengan marah, sementara Glenn menatap Lyla dengan tatapan menyipit.
            Akhirnya setelah aksi tatap-tatapan diam itu, Lyla menghambuskan napas jengkel dan mendorong Glenn ke samping, lalu ia mendahului Glenn berjalan ke pondokan terbuka di tengah kebun teh itu. Glenn mengamati Lyla selama beberapa saat, sebelum ia sendiri menyusulnya ketika yakin Lyla takkan kabur. Bukan berarti ia takkan bisa mengejar Lyla kalau cewek itu kabur, malah akan kelihatan oke juga kalau mereka kejar-kejaran di tengah hamparan kebun teh ini. Akan tetapi, ia malas dengan rasa capeknya. Lari Lyla begitu cepat. Glenn sendiri heran bagaimana cara kaki-kaki mungil itu melesat seperti panah ketika mereka dulu main petak umpet. Lyla selalu berhasil melarikan diri setiap Glenn nyaris menemukannya.
            Glenn menggelengkan kepalanya. Lyla belum banyak berubah. Lyla yang sekarang nggak jauh beda dengan Lyla yang dulu, hanya saja sekarang ia menjadi jauh lebih cantik.
            Duduk bersama dalam diam seperti itu membuat Lyla gelisah. Suasana kebun teh yang tenang dan hanya diselingi kicauan burung membuat Lyla yang biasanya overaktif jadi mengantuk. Mana hari belum beranjak siang lagi. Udara segar sepoi-sepoi plus diiringi melodi alam membuai Lyla. Lyla hampir-hampir melupakan keberadaan cowok usil di sebelahnya, hampir, karena tepat ketika Lyla merasa sangat damai, cowok itu membuka mulutnya.
            “Kamu nggak berubah ya,” kata Glenn pelan.
            Lyla melirik Glenn, dan ternyata cowok itu sedang menengadah ke langit dengan mata terpejam.
            “Maksudnya?” tanya Lyla jengkel.
            “Ya, nggak berubah. Masih sama judesnya, masih sama manjanya, masih sama cengengnya, dan...”
            Lyla memukul bahu Glenn. “Kamu tuh niatnya ngajak berantem ya!?” seru Lyla jengkel. Ia berdiri dan berkacak pinggang di depan Glenn, mendelik dengan gemas.
            Glenn tertawa pelan. “Aku kan belum selesai ngomong,” kata Glenn.
           “Memang apa lagi yang mau ditambahin?! Masih judes, masih cengeng, masih apa lagi yang belum disebutin?! Masih jelek?! Kamu tuh...” sahut Lyla.
            “Masih sama cantiknya,” sela Glenn.
            Mulut Lyla terbuka, siap menyemburkan balasan tajam yang sudah ada di ujung lidahnya. Akan tetapi semua kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya ketika mendengar kata-kata Glenn.
            Glenn tersenyum, lalu menyentuh dagu Lyla dan menutup mulut Lyla agar tidak ternganga. “Jangan kaget gitu donk,” kata Glenn. “Yah, memang sih, kamu yang sekarang lebih cantik ketimbang saat kamu masih ingusan,” tambah Glenn.
            Lyla mengerjap dan menyentakkan dagunya dari sentuhan Glenn. Sentuhan Glenn membuat jantung Lyla berdegup dua kali lebih cepat dan wajahnya merona. “Aku nggak butuh basa-basi kayak gitu!” ketusnya.
            Tangan Glenn kembali ke pahanya dan kesepuluh jarinya kembali bertaut. “Orang bicara jujur dibilang bohong. Jangan-jangan saat nanti aku bohong malah dikira jujur,” sahutnya sambil kembali menatap hamparan kebun teh.
            “Ka... Kamu sebenarnya ngapain sih ngajak aku ke sini?!” kata Lyla, menolak melanjutkan pertengkaran sebelumnya.
            Glenn melirik Lyla. “Duduk deh.”
            Dengan ragu Lyla kembali duduk di pondokan terbuka itu. “Cepet jawab!” tuntutnya.
            “Memangnya harus ada alasan gitu, kalau mau ngajak kamu jalan-jalan?” tanya Glenn. “Takut pacar cemburu?”
            Wajah Lyla memerah. “Aku nggak punya pacar!” sergah Lyla.
            Alis Glenn terangkat tak percaya, membuat Lyla menyadari kesalahannya karena mengungkapkan fakta itu. Sebagai ganti menutupi rasa malunya, Lyla bersedekap dan membuang muka ke arah lain.
            “Silahkan ejek aku sesuak hati kamu! Aku memang nggak punya cowok kok! Dan itu bukannya urusan kamu!”
            “Apa salahnya nggak punya pacar? Nanti juga punya,” sahut Glenn enteng.
            “Ngomong sih gampang,” sungut Lyla.
            Sejenak ketenangan kembali dan kekesalan Lyla berangsur-angsur menghilang. Kini kedua tangannya terkulai di pangkuannya. Tatapan Lyla berkelana ke arah perbukitan dikejauhan, kabut mulai terangkat ketika hari beranjak makin siang. Tampak beberapa pemetik daun teh di kejauhan, menunduk dengan keranjang di punggungnya.
            “Dengar nggak?” tanya Glenn tiba-tiba.
            “Apa?” tanya Lyla tak mengerti.
            Glenn tiba-tiba berdiri dan menarik Lyla bersamanya. Cowok itu menyusuri setapak di antara kebun-kebun teh dan menyeret Lyla bersamanya, seperti caranya tadi.
            “Aduh, Glenn, kita mau ke mana lagi sih?! Aku capek tau ditarik-tarik begini!” protesnya.
            “Udah, ikut aja!”
            Beberapa menit mereka terus menyusuri lembah itu hingga akhirnya Glenn berhenti dan dengan riang menyuruh Lyla melihat ke depan. Lyla maju dan berdiri di samping Glenn, siap menghardik cowok seenaknya itu, tapi kata-kata tajamnya lenyap saat melihat pemandangan di hadapannya. Tak jauh di bawah mereka, terdapat sebuah aliran sungai kecil yang jernih. Ada banyak bebatuan di tepiannya sehingga memungkinkan seseorang untuk duduk dan mencelupkan kakinya. Suara riaknya begitu jernih dan menggoda. Lyla langsung terpesona.
            “Wahh...” bisiknya tanpa sadar.
            “Gimana? Oke kan?” tanya Glenn.
            “Ehm...”
            Glenn melangkah ke tepian sungai dan melompat ke salah satu batu besar. Ia lalu mengulurkan tangannya kepada Lyla. “Ayo,” katanya.
            Lyla ragu dan menatap tangan yang terulur di depannya itu. Ia menggigit bibirnya dan mengulurkan tangannya perlahan. Glenn langsung meraih dan menggenggamnya dengan pasti. Cowok itu menyuruh agar Lyla melompat. Lyla pun melompat, nyaris tergelincir dalam prosesnya karena sandalnya yang berhak 5cm terasa licin. Untunglah Glenn dengan sigap menahan tubuh Lyla, lalu menariknya ke arahnya.
            Lyla jatuh ke pelukan Glenn.
            Jantung Lyla berdebar, ia tidak tau karena kaget akan jatuh ataukah karena sekarang ini ia begitu menyadari keberadaan Glenn. Bahu bidang cowok itu, pelukan erat lengannya yang menenangkan, juga aromanya yang maskulin. Ini pasti pengaruh keadaan alam, pikir Lyla. Entah bagaimana Glenn terlihat dewasa, berbeda dengan Glenn yang dulu selalu menjahatinya.
            “Nggak apa-apa?” tanya Glenn.
            Lyla tersadar dan buru-buru melepaskan diri dari Glenn. “Nggak, nggak apa,” sahutnya.
            “Awas jatuh lagi! Sandal kamu licin, mending dilepas aja deh,”kata Glenn.
            Lyla mengikuti saran itu tanpa perlu berpikir dua kali. Ia lalu menenteng sandalnya dan membiarkan Glenn menuntunnya ke tepian air. Lyla meletakkan sandalnya di atas sebuah batu pipih dan berjongkok, mencelupkan tangannya ke dalam air. Airnya dingin tapi sejuk.
            Suara ceburan air membuat Lyla menoleh. Dilihatnya Glenn sudah melepaskan sepatu dan melipat celananya hingga sebatas lutut. Lyla tak percaya Glenn langsung menceburkan diri begitu. Asli, cowok itu memang gila.
            “La, ayo ikutan! Airnya adem lho!” seru Glenn.
            “Nggak mau!!” tolak Lyla serta merta.
            “Yee, enakan langsung nyebur daripada cuma celup-celup tangan! Apa kamu takut sama air dingin?” tantang Glenn.
            Lyla mendelik galak. “Aku nggak takut!” sahutnya kesal.
            “Kalau gitu berani donk turun ke sini,” balas Glenn, sukses memancing Lyla.
            Lyla langsung mendekati tepian sungai, berhati-hati saat melangkah di atas batu yang tidak beraturan. Lalu setelah melemparkan tatapan sombong ke arah Glenn, Lyla mencelupkan kakinya. Berniat mencoba suhu airnya sebelum betul-betul menceburkan kakinya. Tapi tiba-tiba saja sebuah tangan, tangan siapa lagi kalau bukan Glenn?, menariknya sehingga ia betul-betul melompat ke air. Separuh pakaiannya basah karena terciprat air. Meski memakai celana pendek, baju terusan Lyla ikutan basah.
            Glenn terbahak-bahak.
            Lyla langsung melemparkan tatapan dendam ke arah Glenn. Ia lalu menangkupkan kedua tangannya di dalam air dan menyiramkannya ke arah Glenn.
            “Hei!!” seru Glenn seraya menghindar. Sayangnya kakinya menginjak batu licin di dasar sungai dan ia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Glenn basah kuyup hingga bahunya. Dan wajahnya yang melongo tak percaya itu membuat tawa Lyla pecah.
            Gadis itu tertawa sambil memegangi perutnya. Benar-benar tertawa, bukannya tawa sinis, tapi tawa lepas pertama yang ia tunjukkan sejak pertemuan pertama mereka setelah 10 tahun tak bertemu.
            Glenn tersenyum tipis. Ia lalu menyiramkan air ke arah Lyla hingga cewek itu memekik menghindar, tapi bukannya marah seperti biasanya, kali ini Lyla hanya tertawa dan balas menyirami Glenn. Keduanya pun larut dalam permainan air itu hingga melupakan perseteruan mereka selama ini...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar