Perjalanan itu akhirnya berakhir ketika mereka
memasuki kawasan perkebunan teh. Glenn memperlambat mobilnya dan memarkirnya di
pinggir jalan, di mana mereka bisa menikmati pemandangan kebun teh secara
keseluruhan. Glenn lalu mematikan mesin mobilnya dan mengisyaratkan agar Lyla
turun. Tapi, seperti yang sudah Glenn duga, Lyla menolak.
“Ayo,
turun. Percuma juga diam di mobil. Kamu nggak bakal bisa menikmati sejuknya
udara kalau cuma duduk di dalam sini,” kata Glenn. Ia berdiri di sebelah pintu
penumpang.
“Bodo
amat!” ketus Lyla.
“Ayo,
turun!” kata Glenn dan menarik tangan Lyla, tidak memedulikan protes keras
gadis itu.
Setelah
berhasil menurunkan Lyla dari mobil, Glenn langsung membanting pintu mobil
hingga tertutup. Setelah itu dia menyeret Lyla bersamanya. Mereka menyusuri
setapak kecil menuju ke sebuah pondokan di tengah-tengah kebun teh itu. Dan
sepanjang jarak yang singkat itu, Lyla tak henti-hentinya memprotes. Ia
menarik-narik tangannya dari genggaman Glenn, tapi usahanya berakhir tragis
karena bukannya dilepaskan, tangannya malah makin digenggam erat oleh Glenn.
Usaha keduanya jauh lebih kreatif, ia mencoba menjegal kaki Glenn, berharap
Glenn akan nyungsep dan melepaskannya sebelum jatuh. Akan tetapi, yang terjadi
malah sebaliknya. Glenn berhenti dan berbalik dengan tiba-tiba hingga Lyla
menabrak dadamya.
“Sebaiknya
kamu nggak melakukan hal itu lagi, atau aku terpaksa menggendong kamu,” ancam
Glenn.
Lyla
membelalakkan matanya, lalu mendengus kesal. “Kamu yang narik aku kayak narik
sapi!! Aku bisa jalan sendiri tau!!” ketusnya.
“Kalau
aku nggak megangin tanganmu, kamu akan lari detik ini juga!” balas Glenn.
Lyla
kembali melotot marah pada Glenn, tapi memilih nggak menghiraukan kata-kata
cowok itu. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Lyla menatap Glenn
dengan marah, sementara Glenn menatap Lyla dengan tatapan menyipit.
Akhirnya
setelah aksi tatap-tatapan diam itu, Lyla menghambuskan napas jengkel dan
mendorong Glenn ke samping, lalu ia mendahului Glenn berjalan ke pondokan
terbuka di tengah kebun teh itu. Glenn mengamati Lyla selama beberapa saat,
sebelum ia sendiri menyusulnya ketika yakin Lyla takkan kabur. Bukan berarti ia
takkan bisa mengejar Lyla kalau cewek itu kabur, malah akan kelihatan oke juga
kalau mereka kejar-kejaran di tengah hamparan kebun teh ini. Akan tetapi, ia
malas dengan rasa capeknya. Lari Lyla begitu cepat. Glenn sendiri heran bagaimana
cara kaki-kaki mungil itu melesat seperti panah ketika mereka dulu main petak
umpet. Lyla selalu berhasil melarikan diri setiap Glenn nyaris menemukannya.
Glenn
menggelengkan kepalanya. Lyla belum banyak berubah. Lyla yang sekarang nggak
jauh beda dengan Lyla yang dulu, hanya saja sekarang ia menjadi jauh lebih
cantik.
Duduk
bersama dalam diam seperti itu membuat Lyla gelisah. Suasana kebun teh yang
tenang dan hanya diselingi kicauan burung membuat Lyla yang biasanya overaktif
jadi mengantuk. Mana hari belum beranjak siang lagi. Udara segar sepoi-sepoi
plus diiringi melodi alam membuai Lyla. Lyla hampir-hampir melupakan keberadaan
cowok usil di sebelahnya, hampir, karena tepat ketika Lyla merasa sangat damai,
cowok itu membuka mulutnya.
“Kamu
nggak berubah ya,” kata Glenn pelan.
Lyla
melirik Glenn, dan ternyata cowok itu sedang menengadah ke langit dengan mata
terpejam.
“Maksudnya?”
tanya Lyla jengkel.
“Ya,
nggak berubah. Masih sama judesnya, masih sama manjanya, masih sama cengengnya,
dan...”
Lyla
memukul bahu Glenn. “Kamu tuh niatnya ngajak berantem ya!?” seru Lyla jengkel.
Ia berdiri dan berkacak pinggang di depan Glenn, mendelik dengan gemas.
Glenn
tertawa pelan. “Aku kan belum selesai ngomong,” kata Glenn.
“Memang
apa lagi yang mau ditambahin?! Masih judes, masih cengeng, masih apa lagi yang
belum disebutin?! Masih jelek?! Kamu tuh...” sahut Lyla.
“Masih
sama cantiknya,” sela Glenn.
Mulut
Lyla terbuka, siap menyemburkan balasan tajam yang sudah ada di ujung lidahnya.
Akan tetapi semua kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya ketika mendengar
kata-kata Glenn.
Glenn
tersenyum, lalu menyentuh dagu Lyla dan menutup mulut Lyla agar tidak
ternganga. “Jangan kaget gitu donk,” kata Glenn. “Yah, memang sih, kamu yang
sekarang lebih cantik ketimbang saat kamu masih ingusan,” tambah Glenn.
Lyla
mengerjap dan menyentakkan dagunya dari sentuhan Glenn. Sentuhan Glenn membuat
jantung Lyla berdegup dua kali lebih cepat dan wajahnya merona. “Aku nggak
butuh basa-basi kayak gitu!” ketusnya.
Tangan
Glenn kembali ke pahanya dan kesepuluh jarinya kembali bertaut. “Orang bicara
jujur dibilang bohong. Jangan-jangan saat nanti aku bohong malah dikira jujur,”
sahutnya sambil kembali menatap hamparan kebun teh.
“Ka...
Kamu sebenarnya ngapain sih ngajak aku ke sini?!” kata Lyla, menolak
melanjutkan pertengkaran sebelumnya.
Glenn
melirik Lyla. “Duduk deh.”
Dengan
ragu Lyla kembali duduk di pondokan terbuka itu. “Cepet jawab!” tuntutnya.
“Memangnya
harus ada alasan gitu, kalau mau ngajak kamu jalan-jalan?” tanya Glenn. “Takut
pacar cemburu?”
Wajah
Lyla memerah. “Aku nggak punya pacar!” sergah Lyla.
Alis
Glenn terangkat tak percaya, membuat Lyla menyadari kesalahannya karena
mengungkapkan fakta itu. Sebagai ganti menutupi rasa malunya, Lyla bersedekap
dan membuang muka ke arah lain.
“Silahkan
ejek aku sesuak hati kamu! Aku memang nggak punya cowok kok! Dan itu bukannya
urusan kamu!”
“Apa
salahnya nggak punya pacar? Nanti juga punya,” sahut Glenn enteng.
“Ngomong
sih gampang,” sungut Lyla.
Sejenak
ketenangan kembali dan kekesalan Lyla berangsur-angsur menghilang. Kini kedua
tangannya terkulai di pangkuannya. Tatapan Lyla berkelana ke arah perbukitan
dikejauhan, kabut mulai terangkat ketika hari beranjak makin siang. Tampak
beberapa pemetik daun teh di kejauhan, menunduk dengan keranjang di
punggungnya.
“Dengar
nggak?” tanya Glenn tiba-tiba.
“Apa?”
tanya Lyla tak mengerti.
Glenn
tiba-tiba berdiri dan menarik Lyla bersamanya. Cowok itu menyusuri setapak di
antara kebun-kebun teh dan menyeret Lyla bersamanya, seperti caranya tadi.
“Aduh,
Glenn, kita mau ke mana lagi sih?! Aku capek tau ditarik-tarik begini!”
protesnya.
“Udah,
ikut aja!”
Beberapa
menit mereka terus menyusuri lembah itu hingga akhirnya Glenn berhenti dan
dengan riang menyuruh Lyla melihat ke depan. Lyla maju dan berdiri di samping
Glenn, siap menghardik cowok seenaknya itu, tapi kata-kata tajamnya lenyap saat
melihat pemandangan di hadapannya. Tak jauh di bawah mereka, terdapat sebuah
aliran sungai kecil yang jernih. Ada banyak bebatuan di tepiannya sehingga
memungkinkan seseorang untuk duduk dan mencelupkan kakinya. Suara riaknya
begitu jernih dan menggoda. Lyla langsung terpesona.
“Wahh...”
bisiknya tanpa sadar.
“Gimana?
Oke kan?” tanya Glenn.
“Ehm...”
Glenn
melangkah ke tepian sungai dan melompat ke salah satu batu besar. Ia lalu
mengulurkan tangannya kepada Lyla. “Ayo,” katanya.
Lyla
ragu dan menatap tangan yang terulur di depannya itu. Ia menggigit bibirnya dan
mengulurkan tangannya perlahan. Glenn langsung meraih dan menggenggamnya dengan
pasti. Cowok itu menyuruh agar Lyla melompat. Lyla pun melompat, nyaris
tergelincir dalam prosesnya karena sandalnya yang berhak 5cm terasa licin.
Untunglah Glenn dengan sigap menahan tubuh Lyla, lalu menariknya ke arahnya.
Lyla
jatuh ke pelukan Glenn.
Jantung
Lyla berdebar, ia tidak tau karena kaget akan jatuh ataukah karena sekarang ini
ia begitu menyadari keberadaan Glenn. Bahu bidang cowok itu, pelukan erat
lengannya yang menenangkan, juga aromanya yang maskulin. Ini pasti pengaruh keadaan
alam, pikir Lyla. Entah bagaimana Glenn terlihat dewasa, berbeda dengan Glenn
yang dulu selalu menjahatinya.
“Nggak
apa-apa?” tanya Glenn.
Lyla
tersadar dan buru-buru melepaskan diri dari Glenn. “Nggak, nggak apa,”
sahutnya.
“Awas
jatuh lagi! Sandal kamu licin, mending dilepas aja deh,”kata Glenn.
Lyla
mengikuti saran itu tanpa perlu berpikir dua kali. Ia lalu menenteng sandalnya
dan membiarkan Glenn menuntunnya ke tepian air. Lyla meletakkan sandalnya di
atas sebuah batu pipih dan berjongkok, mencelupkan tangannya ke dalam air.
Airnya dingin tapi sejuk.
Suara
ceburan air membuat Lyla menoleh. Dilihatnya Glenn sudah melepaskan sepatu dan
melipat celananya hingga sebatas lutut. Lyla tak percaya Glenn langsung
menceburkan diri begitu. Asli, cowok itu memang gila.
“La,
ayo ikutan! Airnya adem lho!” seru Glenn.
“Nggak
mau!!” tolak Lyla serta merta.
“Yee,
enakan langsung nyebur daripada cuma celup-celup tangan! Apa kamu takut sama
air dingin?” tantang Glenn.
Lyla
mendelik galak. “Aku nggak takut!” sahutnya kesal.
“Kalau
gitu berani donk turun ke sini,” balas Glenn, sukses memancing Lyla.
Lyla
langsung mendekati tepian sungai, berhati-hati saat melangkah di atas batu yang
tidak beraturan. Lalu setelah melemparkan tatapan sombong ke arah Glenn, Lyla
mencelupkan kakinya. Berniat mencoba suhu airnya sebelum betul-betul
menceburkan kakinya. Tapi tiba-tiba saja sebuah tangan, tangan siapa lagi kalau
bukan Glenn?, menariknya sehingga ia betul-betul melompat ke air. Separuh
pakaiannya basah karena terciprat air. Meski memakai celana pendek, baju
terusan Lyla ikutan basah.
Glenn
terbahak-bahak.
Lyla
langsung melemparkan tatapan dendam ke arah Glenn. Ia lalu menangkupkan kedua
tangannya di dalam air dan menyiramkannya ke arah Glenn.
“Hei!!”
seru Glenn seraya menghindar. Sayangnya kakinya menginjak batu licin di dasar
sungai dan ia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Glenn basah kuyup
hingga bahunya. Dan wajahnya yang melongo tak percaya itu membuat tawa Lyla
pecah.
Gadis
itu tertawa sambil memegangi perutnya. Benar-benar tertawa, bukannya tawa
sinis, tapi tawa lepas pertama yang ia tunjukkan sejak pertemuan pertama mereka
setelah 10 tahun tak bertemu.
Glenn
tersenyum tipis. Ia lalu menyiramkan air ke arah Lyla hingga cewek itu memekik
menghindar, tapi bukannya marah seperti biasanya, kali ini Lyla hanya tertawa
dan balas menyirami Glenn. Keduanya pun larut dalam permainan air itu hingga
melupakan perseteruan mereka selama ini...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar