Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 1


Matahari sudah mengintip dari balik awan. Burung-burung bercicit ria di pepohonan di luar jendela kamar Lyla. Sayangnya, gadis bernama lengkap Alyla Anjani itu masih asik bergelung di balik selimutnya. Rambut panjangnya tergerai dan menutupi bantal bagai benang kusut. Ia melenguh pelan dan mencari posisi di balik selimut. Ia berguling ke kanan, dengan tangan terentang.
            Akan tetapi, kenyenyakannya terganggu. Ia mengernyit saat merasakan bulu-bulu halus di ujung-ujung jarinya. Alisnya berkerut, kelopak matanya bergetar saat ia mencoba membuka matanya. Kemudian, secara perlahan, ia membuka matany. Ia mengerjap. Tangannya meraba-raba dan merasakan sebuah gerakan. Lalu sebuah kepala penuh bulu mendongak ke arahnya.
            “KKYYAAAAAA!!!” teriaknya kaget. Ia melompat dari tempat tidurnya dan mendarat dengan tragis di lantai.
            Berkat jeritan Lyla itu, tak sampai satu menit, pintu kamarnya langsung terbuka. Tiga orang masuk ke dalam kamar Lyla dan mengajukan pertanyaan yang sama : “Ada apa?!” dengan nada khawatir.
            “Makhluk itu!!!” seru Lyla sambil menunjuk ke arah tempat tidurnya, di mana seekor anjing golden retriver tengah duduk sambil mengibaskan ekornya. Anjingnya masih kecil, mungkin baru berumur beberapa bulan, dan tampak lucu menggemaskan, dengan lidah terjulur dan ekor mengibas-ngibas. Akan tetapi, reaksi Lyla seolah-olah sedang berhadapan dengan seekor monster.
            “Ambil itu!! Lyla nggak mau dia di tempat tidur Lyla!!”
            Lyla memandang jijik ke arah anak anjing tak berdosa itu. Berkali-kali ia bergidik ketika membayangkan kalau dirinya tidur bersama makhluk itu di ranjangnya. Ia harus mengganti seprai dan membuang seprai itu. Ia takkan pernah mau tidur di atas seprai yang sudah disentuh, apalagi ditiduri oleh makhluk berbulu yang kini tengah menjulurkan lidahnya di dekapan Liliane.
Semakin lama Lyla melihatnya, semakin benci Lyla pada makhluk itu. Dan ia punya alasan yang tepat untuk membenci binatang satu itu. Sebenarnya ini sih cerita lama, akan tetapi sejak saat itu Lyla menjadi benci dengan yang namanya anjing.
            Dulu, waktu Lyla berusia 10 tahun, ia punya tetangga yang sangat gila anjing. Rumahnya sudah mirip kebun binatang dengan berbagai jenis anjing. Dan anjing yang paling disayangi oleh tetangga Lyla itu adalah Golden Retrivernya. Oh ya, tetangga Lyla itu punya anak lelaki yang sebaya Lyla yang bernama Glenn. Dan Glenn ini sangaaaat jahil sampai-sampai Lyla selalu menangis dibuatnya. Kadang Glenn akan membaik-baiki Lyla dulu, lalu setelahnya mengerjai Lyla. Dan dari semua kejahilan Glenn, satu yang membuat Lyla menjadi amat sangat membenci cowok itu. Yakni saat Glenn membiarkan salah satu anjingnya lepas dan mengejar Lyla hingga Lyla terpaksa naik ke atas pohon. Meski Lyla menangis meminta bantuan agar Glenn menolongnya, anak lelaki itu malah hanya berdiri diam. Akhirnya, mendengar keributan itu, Papa Glenn yang eksentrik langsung menolong Lyla dan mengandangkan anjingnya.
            Sejak itu Lyla menolak jika ia disuruh main ke rumah sebelah saat Mama dan Papanya tidak di rumah. Lyla lebih memilih di rumah sendirian ketimbang diteror sepanjang hari. Dan sampai saat ini, 10 tahun kemudian, Lyla masih belum bisa melupakan kejadian itu.
            “Buang makhluk itu! Lyla nggak mau lihat dia di kamar Lyla lagi!! Lagian kalian udah tau Lyla nggak suka! Kenapa masih aja bawa-bawa ITU ke rumah!!” seru Lyla melengking.
            “Anjing ini bukan punya kita,” sahut Liliane, sementara Papa dan Mama sudah keluar dari kamar Lyla sambil geleng-geleng kepala. Mereka pikir ada maling karena teriakan Lyla sampai menggetarkan dinding. Ehh, taunya cuma gara-gara anjing.
            “Lalu punya siapa?!” tuntut Lyla.
            “Punyaku,” sebuah suara menyahut dari ambang pintu.
            Baik Lyla maupun Liliane langsung menoleh ke arah pintu dan melihat seorang cowok berdiri bersandar di bingkai pintu. Cowok itu bertelanjang dada, rambutnya acak-acakan, dan jelas menunjukkan kalau ia baru saja bangun tidur. Lyla menganga parah. Kalau saja tidak ada otot yang menahannya, Lyla yakin rahangnya pasti sudah jatuh ke lantai saking shocknya ia melihat penampakan di depan pintunya.
            Si anjing langsung menyalak senang dan meronta di dekapan Liliane. Liliane melepaskan anjing itu sehingga Lyla langsung melompat ke atas tempat tidurnya. Tak peduli kalau tingkahnya itu tampak sangat memalukan di usianya yang sudah 20 tahun itu, terlebih di depan seorang cowok ganteng.
            Cowok itu membungkuk dan meraup anjing yang menyalak-nyalak itu. Membiarkan anjing itu menjilat pipinya sebelum ia beralih menatap Lyla. Tatapannya menelisik Lyla dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah menilai. Dan alis tebal cowok itu terangkat seiring pengamatan yang ia lakukan.
            Lyla memicingkan matanya. Kemudian sebuah kengerian menyambarnya dan ia membelelak. Ia menunduk dan melihat pakaian tidurnya yang hanya berupa celana pendek dan tanktop super ketat warna putih yang jelas-jelas memetakan dengan baik tiap lekukan di tubuhnya. Lyla langsung memekik dan menyambar selimutnya.
            “Apa yang kamu lihat?!” bentak Lyla ke arah cowok yang tengah menyeringai itu.
            “Apa yang ada di depanku pastinya,” sahut cowok itu dengan suara dalam yang mengirimkan getaran ke sekujur tulang Lyla.
            “Ly, biar kakak kenalin kalian. Dia ini...” Liliane menyela.
            “Keluar dari kamarku!! Dasar cowok mesum!! Dan bawa makhluk itu pergi!!” seru Lyla tajam, memotong apapun yang akan dikatakan Liliane.
            Alis cowok itu melengkung. “Kurasa bukan kamu yang berhak memutuskan aku berhak di sini atau nggak,” sahutnya.
            “Lalu siapa?! Ini rumahku dan kamu orang asing di sini!! Dan aku mau kamu keluar sekarang juga!!!” seru Lyla.
            “Jelas bukan kamu aja yang berhak memutuskannya,” kata cowok itu tersenyum lebar. Sekali lagi ia mengamati Lyla sehingga Lyla semakin mengetatkan selimutnya di sekeliling tubuhnya. Cowok itu terkekeh seraya menepuk-nepuk kepala anjingnya.
            “Yah, rupanya waktu 10 tahun membawa banyak perubahan ya,” kata cowok itu. “Terutama di bagian pinggul dan dada,” tambahnya.
            Wajah Lyla kontan memerah. “Dasar setan mesum!! Keluar!!” teriaknya seraya meraih bantal dan melemparkannya ke arah cowok itu.
            Melihat kekacauan yang akan terjadi, Liliane langsung menyela dan menghentikan Lyli. Ia menghampiri adiknya yang gampang emosi itu. Ia mengambil bantal dari tangan Lyla dan meletakkannya kembali ke tempat tidur. Ia memegang lembut lengan adiknya dan memaksa dengan halus agar Lyla mau duduk.
            “Ly, tenang dulu. Kasih kakak kesempatan buat mengenalkan kalian,” kata Liliane.
            “Aku nggak butuh kenal sama cowok mesum!!” sahut Lyla sambil menyipitkan mata penuh dendam ke arah cowok yang masih berdiri santai di ambang pintu.
            “Kamu mungkin lupa, tapi kalian udah saling kenal kok,” kata Liliane sabar. Ia tau kalau kemarahan bisa menumpulkan otak adiknya, apalagi kalau Lyla baru bangun tidur.
            Lyla menatap kakaknya. “Aku nggak punya kenalan cowok mesum!” sahutnya. Ia lalu memisingkan matanya ke arah cowok asing itu. “Siapa kamu!?”
            Perlahan cowok itu menyeringai, tangannya masih menggaruk pelan belakang telinga anjingnya. Mata Lyla makin memicing. Kenapa ia rasanya familier dengan cowok itu ya? Gerakan itu... Tunggu. Rasanya ia pernah melihat seringai mengejek itu, cara berdiri yang arogan itu, dan tatapan mata yang berkilat nakal. Napas Lyla tercekat ketika sebuah ingatan menyambarnya. Matanya melebar, selebar yang sanggup ia lakukan dengan mata sipitnya. Lalu ia mulai membuka mulutnya dan megap-megap. Mencoba mengatakan sesuatu sementara jarinya teracung gemetar.
            Cowok itu menyeringai lebih lebar lagi. Matanya berbinar nakal. “Lama nggak jumpa ya?” kata cowok itu lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Lyla.
            “G... G...” Lyla terbata. Napasnya semakin cepat. “Glenn?!?” serunya tercekat ketika berhasil menemukan suaranya.
            “Halo, Lyla. Senang kamu masih ingat sama aku,” kata cowok itu, yang ternyata adalah Glenn. Cowok tetangga Lyla dulu.
            “Nggak mungkin!!!” jerit Lyla tak percaya.
            Dan seringai Glenn makin melebar. Sementara Liliane hanya mengamati pertemuan kembali itu dengan alis terangkat.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar