Minggu, 03 Februari 2013

SEAL WITH A KISS 4


Resha duduk bersandar di tempat tidurnya sambil memeluk boneka panda raksasa. Kamarnya remang-remang, hanya cahaya bulan dari jendela yang menerangi kamar itu. Matanya masih sedikit sembab, sisa-sisa tangisnya semalam. Hari ini pun dia sengaja tidak pergi ke kampus lantaran tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Kejadian kemarin masih terbayang-bayang dalam benaknya, dan rasa sakitnya pun tidak berkurang sedikit pun. Ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya, Resha menyahut pelan tapi tidak mengalihkan tatapannya dari jendela. Pintu terbuka dan Chacha menerobos masuk.
            “Sha, lo hutang penjelasan soal... Ya ampun! Lo kenapa?!” seru Chacha dan bergegas menghampiri Resha. “Sha, lo nggak dimacem-macemin sama Max kan? Dia nggak...” kata-kata Chacha terputus tatkala Resha memeluknya dan kembali menangis.
            Chacha menepuk-nepuk punggung Resha sementara Resha menceritakan semuanya pada Chacha tentang pertemuan pertamanya dengan Max, dan apa yang terjadi selanjutnya. Semuanya Resha ceritakan tanpa ada yang ditutupi. Ketika selesai, Chacha hanya bisa ternganga tak percaya.
            “Dia begitu?! Dia mempermainkan elo seperti itu?!?” seru Chacha. “Kenapa???”
            “Gue nggak tau, Cha... Gue sendiri bertanya-tanya kenapa harus gue,” sahut Resha lemah.
            “Tapi lo beda dengan cewek-cewek yang biasa dia dekati! Dan lagi... dia nggak akan sampai melakukan pemaksaan seperti itu! Cewek akan bertekuk lutut tanpa harus dikasari begitu!!” kata Chacha tak mengerti.
            Resha memeluk lututnya. “Gue benci dia,” bisik Resha dan air mata kembali menggenang di matanya.
            Chacha mengamati Resha dan langsung mengerti. “Ya Tuhan... Lo jatuh cinta sama dia kan??” tanya Chacha dan ia menyentuh lengan Resha. Sumpah, Chacha speechless.
            “Gue nggak mau jatuh cinta sama dia, Cha...” bisik Resha.
            Chacha meraih dan memeluk Resha. “Kenapa harus dia sih, Sha...” desahnya.
            Resha membiarkan air matanya mengalir kembali. “Tuhan nggak adil, Cha...”
            “Sshhs... Tuhan pasti punya rencana sendiri, Sha,” kata Chacha.
            Dering ponsel Resha memecah keheningan yang menyusul setelah kata-kata Chacha. Melihat Resha tampak tidak berniat untuk mengangkatnya, Chacha mengambil inisiatif untuk menjawabnya.
            “Hallo?”
            “Apa gue bicara sama Resha?” tanya suara berat di seberang sana.
            “Bukan. Ini Chacha. Resha lagi nggak bisa menerima telepon. Ini siapa?” tanya Chacha sambil mengerling ke arah Resha.
            “Gue Rey. Bisa lo kasih teleponnya ke Resha?”
            “Rey?” ulang Chacha. Ketika melihat Resha menoleh ke arahnya, Chacha langsung menyimpulkan bahwa Rey ini pasti teman Max yang diceritakan Resha. Nada suara Resha langsung berubah tajam. “Apa lo teman si brengsek itu?!”
            “Wah, kayaknya Max udah sangat dibenci ya? Gue pikir dia itu dipuja-puja,” Rey terdengar geli. “Tolong, kasih teleponnya ke Resha. Gue perlu bicara sama dia,” kata Rey lagi.
            “Apa? Biar lo bisa semakin menyakiti dia lagi?! Resha nggak mau berurusan sama Max lagi!” hardik Chacha.
            “Cha, siniin,” kata Resha pelan.
            “Nggak, Sha! Lo nggak usah bicara sama mereka lagi!” sahut Chacha kesal.
            “Sini,” kata Resha.
            “Ya, Chacha, kami perlu bicara,” kata Rey menimpali.
            “Awas kalau lo menyakiti Resha!” ancam Chacha sebelum dia menyerahkan ponsel kepada Resha dengan enggan.
            Resha menempelkan ponsel di telinganya. “Ada apa?” tanyanya langsung.
            “Hai, Resha, gue Rey. Kita pernah ketemu tapi belum kenalan,” kata Rey.
            “Ya,” hanya itu sahutan Resha.
            “Oke, gue to the point aja. Apa lo tau seberapa besar pengaruh lo pada Max?”
            “Itu bukan urusan gue, dan gue yakin itu juga bukan urusan elo,” sahut Resha.
            “Ck, ck, gue rasa ini sangat berhubungan sama elo. Lo tau nggak gue saat ini di mana? Gue lagi di Beast, lo tau Beast kan? Gue mengawasi Max supaya nggak berbuat bodoh lebih dari minum-minum hingga teler!” kata Rey.
            Resha agak kaget saat mendengar Max menenggelamkan diri dalam minuman, tapi ia berhasil menutupi kekagetannya dengan baik. “Kenapa lo sepertinya menyalahkan gue?”
            “Dia begini karena marah...”
            “Dia nggak berhak marah! Guelah korban di sini!!” potong Resha.
           “Dia marah pada dirinya sendiri,” lanjut Rey. “Dia belum pernah hilang kendali saat berurusan dengan cewek. Baru setelah bertemu elo dia jadi nggak seperti dirinya sendiri.”
            “Teman lo itu yang seenaknya memorakporandakan hidup gue! Bersikap seolah setiap orang akan dengan senang heti memenuhi keinginannya! Nggak pernah sekalipun dia peduli sama perasaan gue! Bagi dia, gue ini cuma selingan! Sama kayak cewek lainnya, Rey!” suara Resha meninggi karena amarah.
            “Itu karena dia nggak sadar dirinya jatuh cinta sama elo, Resha,” kata Rey.
            Resha sudah siap membantah jika Rey membela Max. Akan tetapi dia tidak siap mendengar kata-kata Rey. Semua pembelaan dirinya lenyap seketika.
            “Apa?” sahut Resha pelan.
            “Max jatuh cinta sama elo, tapi anak itu sendiri nggak sadar kalau dirinya jatuh cinta. Dia belum pernah jatuh cinta, makanya dia bersikap sangat menyebalkan sama elo. Dia nggak tau harus bagaimana menanggapi perasaannya, dan tanpa sadar dia menunjukkan sikapnya yang paling brengsek!”
            “Dia nggak jatuh cinta sama gue!!” tukas Resha. “Dia cuma merasa tertantang karena gue nggak terpesona sama dia!”
            “Kalau lo nggak percaya lo boleh datang ke sini,” kata Rey.
            “Nggak! Gue nggak mau ketemu dia lagi!” tolak Resha serta merta.
            “Lo nggak usah ketemu dia. Lo cukup lihat dari jauh. Lagian dia udah lumayan teler, nggak mungkinlah dia sadar lo ada di sini,” kata Rey enteng.
            “Gue nggak...”
            “Lihat dulu, baru lo putuskan. Kalau lo berubah pikiran, kami ada di Beast, sampai subuh!”
            Resha duduk terdiam setelah sambungan telepon dengan Rey terputus. Chacha yang sejak tadi berjalan mondar-mandir menghampiri Resha dan duduk di sebelahnya. Disentuhnya tangan Resha dengan lembut.
            “Apa yang bakal lo lakukan sekarang?”
            “Gue nggak tau, Cha...”
            “Mungkin sebaiknya lo mengikuti kata hati lo,” kata Chacha.
            “Gimana kalau ternyata gue salah? Gue akan terperosok makin jauh!”
            Chacha menyentuh bahu Resha. “Setiap hal punya resikonya masing-masing, Sha. Kalau lo nggak mengambil resiko itu, lo nggak akan pernah menemukan jawaban yang lo inginkan,” kata Chacha.
            Resha diam, jadi Chacha melanjutkan. Ia bangkit berdiri dan meraih tasnya. “Ini tentang perasaan lo sendiri, Sha. Jawabannya ada di dalam hati lo,” kata Chacha sebelum dia meninggalkan Resha sendirian untuk berpikir.
            Resha tetap diam dan memeluk kedua lututnya. Jika ia mendengarakan kata hatinya, ia ingin melihat Max. Ia ingin membuktikan semua perkataan Rey tadi. Ia ingin bertanya apa sebenarnya yang Max inginkan. Tapi ia takut kalau jawabannya melenceng jauh dari yang ia harapkan. Ia takut kalau perisai yang ia bangun, yang kini telah retak di sana-sini, akan hancur berkeping-keping oleh hantaman kekecewaan. Dan ia pun akan hancur sepenuhnya. Jatuh cinta pada Max sudah merupakan kesalahan. Mencoba berharap Max akan mencintainya juga adalah kesalahan lainnya. Dan Resha tau, jauh di dalam hatinya yang terdalam, ia akan mengambil resiko itu...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar