Please, Love Me...
Rena berjalan tak tentu
arah malam itu. ia tak membawa pakaian, hanya pakaian yang melekat di tubuhnya
saja. Ia kabur dari rumahnya karena tidak tahan dengan kekejaman ibu tirinya
yang seorang pemabuk berat. Sejak kepergian ayahnya, rumah tak lagi sama bagi
Rena. Dan malam ini, saat Mario nyaris memperkosanya, menjadi pemicu keputusan
Rena untuk kabur.
Rena merasa jijik akan dirinya sendiri. Semua temannya
menjauh karena sikap ibu dan kakak tirinya. Rena tak punya tempat mengadu. Ia
sendirian dan terlunta-lunta. Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri
hidupnya, tapi ia tidak berani. Oleh karena itulah Rena berjalan tak tentu arah
semalaman, berharap akan menemukan emperan toko tempat ia bisa merebahkan
dirinya sejenak.
Malam semakin
larut dan jalanan telah menjadi sepi. Rena ketakutan, dan juga kedinginan.
Kakinya lelah dan tak sanggup lagi melangkah. Akhirnya dia berhenti di sebuah
kursi yang ada di pinggiran taman yang ia lewati. Ia duduk dan menutupi
wajahnya dengan kedua tangannya, menangis. Ia tak mengerti mengapa semua itu
terjadi padanya. Ia hanya ingin hidup bahagia. Ia ingin dicintai dan disayangi.
Tapi mengapa yang terjadi justru hal yang sebaliknya?
“Hei, kamu
baik-baik aja?” sebuah suara menegur Rena.
Rena
tersentak dan mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang lelaki berdiri tak jauh
di depannya. Lelaki itu tampak tak jauh lebih tua dari usia Rena, akan tetapi
pengalaman membuat Rena langsung merasa waspada. Ia berdiri dan perlahan
beringsut menjauh.
“A… aku ga
apa-apa…” bisik Rena gemetar. Napasnya mulai cepat dan ketakutan menyergapnya.
Bagaimana kalau lelaki di depannya itu bukan lelaki baik-baik? Bagaimana jika
ia menyerangnya seperti Mario tadi? Rena terus saja beringsut mundur menjauh.
Lelaki itu
menatap Rena dengan kening berkerut. “Apa kamu mengira aku akan berbuat jahat
sama kamu?” tanya lelaki itu. “Jangan salah. Aku juga punya adik perempuan yang
masih kecil, dan aku pasti akan sangat malu kalau sampai berbuat hal buruk sama
kamu!”
Lalu lelaki
itu memperkenalkan dirinya. Namanya adalah Saga, dia bekerja di sebuah bar
sebagai seorang bartender. Dan saat itu dia baru pulang dari bekerja. Saga pun
menawarkan diri untuk mengantarkan Rena pulang, tapi Rena menolak mati-matian.
Akhirnya saat tak tahan memendam semuanya sendirian, Rena pun menceritakan
semua beban hatinya. Meski Rena bercerita sambil menangis terisak-isak, Saga
tetap mendengarkan dengan tenang. Lalu, setelah Rena sudah lebih tenang dan
berhenti menangis, Saga pun menawarkan bantuan pada Rena. Lelaki itu menawarkan
kamar kosong di lantai atas rumahnya untuk ditinggali oleh Rena. Berhubung saga
juga yatim piatu dan hanya tinggal dengan adiknya yang berusia 11 tahun, ia
merasa tak ada salahnya meminjamkan kamar itu pada Rena.
Awalnya Rena
menolak tawaran itu dengan mati-matian, akan tetapi kondisinya sangat tidak
memungkinkan, sehingga saat Saga terus mendesaknya, ia pun setuju. Akan tetapi
Rena tidak mau tinggal dengan gratis. Ia ingin membayar biaya tempat tinggal
itu dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah di rumah Saga. Saga pun setuju
dengan pengaturan itu dan mengajak Rena pulang bersamanya. Saga juga
menjanjikan satu hal pada Rena, yaitu lelaki itu takkan menyentuh Rena sedikit
pun. Saga akan menghormati Rena seperti menjaga adiknya sendiri.
Sejak saat
itu, Rena tinggal bersama Saga. Ia membersihkan rumah itu, menyiapkan makanan,
dan juga mengurus adik Saga yang lumpuh setelah mengalami kecelakaan beberapa
tahun silam. Berada bersama Saga dan Amara, adik Saga, membuat Rena merasa
hidupnya kembali berada pada porosnya. Amara pun sangat ramah, bahkan sangat
lengket padanya sejak pertemuan pertama mereka. Dan mau tak mau, Rena pun
semakin memperhatikan Saga.
Hari demi hari
berlalu, tanpa Rena sadari dirinya telah mulai jatuh cinta pada Saga. Akan
tetapi, masa lalunya yang kelam membuatnya tak berani mengungkapkan perasaannya
pada Saga. Walaupun terkadang Rena jadi bertanya-tanya bagaimana perasaan Saga
padanya. Lelaki itu baik dan sopan, tapi ia juga sangat perhatian kepada Rena.
“Jangan
terlalu keras sama diri sendiri. Kalau lelah, kamu boleh istirahat. Kamu juga
bisa bersantai sedikit, kan kamu bukan pembantu di rumahku!” kata Saga pada
suatu waktu. “Hidup itu singkat, harus dijalani dengan sebaik mungkin.”
Rena pun
memutuskan untuk menyimpan perasaannya pada Saga. Ia tidak mau merusak hubungan
baik yang sudah tercipta di antara mereka.
Suatu sore,
Rena pergi ke minimarket untuk membeli bahan makan malam untuk ia masak. Tanpa
diduga, ia melihat Mario juga berada di tempat yang sama. Tanpa pikir panjang
ia langsung kabur. Ketakutan lamanya kembali dan ia berlari pontang-panting.
Yang tidak ia ketahui adalah bahwa Mario melihatnya. Dan lelaki itu memutuskan
untuk mengikuti Rena.
Ketika malam
menjelang dan Saga bersiap berangkat kerja, Rena merasa semakin khawatir. Ia
bahkan membuat Saga cemas dengan tingkahnya. Rena terpaksa meyakinkan Saga
kalau dirinya baik-baik saja sehingga Saga bisa bekerja dengan tenang.
sepeninggal Saga, Rena mondar-mandir di ruang tamu. Amara sudah ia antar ke
kamar tidur, sehingga sekarang Rena tidak ada kerjaan. Bel pintu tiba-tiba
berbunyi dan membuat Rena terlonjak kaget. Sambil memarahi diri sendiri karena
khawatir, Rena pun berjalan ke depan untuk membuka pintu. Dan terpaku saat
melihat Mario berdiri di hadapannya.
Rena menjerit
dan berusaha menutup pintu, akan tetapi Mario lebih kuat sehingga lelaki itu
berhasil memaksa masuk. Senyum bejat tampak di wajahnya saat ia mengamati Rena
dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan berhenti cukup lama pada tempat-tempat
yang tidak senonoh.
“Akhirnya aku
menemukan kamu. Sekarang, kamu ga akan bisa kabur lagi,” kata Mario sebelum ia
menyergap Rena.
Rena mnejerit
dan meronta saat Mario menciuminya dengan rakus. Menyentuh sekujur tubuhnya dan
juga mengoyak pakaiannya. Rena tak kuasa menahan air matanya dan dia terisak di
balik bekapan tangan Mario. Di sana, tepat di ruang tamu rumah Saga, Mario
berusaha menodainya. Rena merasa amat benci pada dirinya sendiri. Kenapa ia
masih saja tidak lepas dari keburukan hidupnya. Semakin banyak air mata yang
berderai ketika pakaiannya telah koyak dan Mario menggerayanginya dengan
semena-mena. Saat itu Rena pasrah. Ia tak bisa melawan, ia terlalu lemah dan
mungkin tak pantah bahagia.
Ketika Rena
berpikir hidupnya telah berakhir, pintu depan menjeblak terbuka dan sebuah
teriaka menggelegar menyusul. Mario pun kontan berpaling ke belakang. Di balik
tirai air matanya, Rena melihat bayangan Saga yang berdiri marah di ambang
pintu. Kemudian, Mario direnggut dari atas tubuhnya. Saga memukul wajah Mario,
memukulinya habis-habisan dan tak member Mario kesempatan untuk melawan. Lalu,
lelali itu melemparkan tubuh Mario ke lantai.
“Pergi dari
rumahku! Dan kalau sekali lagi aku melihatmu datang mengganggu Rena, maka saat
itu aku sendiri yang akan membunuhmu!!”
“Perempuan
jalang itu milikku! Aku berhak melakukan apapun padanya!!” balas Mario.
Saga kembali
merenggut Mario, kali ini ia sengaja menarik dengan keras sehingga menghalangi
oksigen dari paru-paru Mario. Ia mendesis marah. “Dia bukan perempuan jalang.
Dia adalah perempuan yang aku cintai, yang kelak akan aku bahagiakan karena dia
pantas mendapatkannya!” Saga lalu melemparkan Mario keluar dari rumahnya.
“Pergi, atau aku betul-betul akan membunuhmu!”
Pintu
dibanting hingga menutup oleh Saga. Kemudian ia menghampiri Rena. Rena
menghambur ke dalam pelukan Saga dan menangis terisak. Ia memeluk saga dengan
erat, menjadikan lelaki itu sebagai jangkar penyelamatnya. Dan entah bagaimana,
lelaki itu membuatnya merasa berani mengharapkan kebahagiaan.
“Sshhs… semua
udah berakhir. Dia ga akan datang lagi. Aku akan menjaga kamu dan ga akan
kubiarkan siapapun menyakiti kamu,” kata Saga.
“Tapi aku ini
kotor, Ga… aku ga pantas buatmu…”
“Kamu adalah
perempuan paling suci yang aku kenal, Ren… dan aku ga peduli dengan masa lalu
kamu. Kita akan membangun sebuah masa depan yang bahagia untuk kamu. Dan kamu
pantas mendapatkannya,” kata Saga. “Aku jatuh cinta sama ketegaran kamu sejak
kali pertama kita ketemu, Ren…”
Rena kembali
menangis. Kali ini ia menangis karena bahagia. Dan ia memeluk Saga semakin erat
untuk mengungkapkan perasaannya. Rena berharap, jika ia hanya bermimpi, semoga
ia takkan terbangun. Akan tetapi, kehangatan lengan yang memeluknya telah
membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Dan Rena bersyukur karenanya.
SELESAI
Cerpen
by: Ariska
Tidak ada komentar:
Posting Komentar