Minggu, 03 Februari 2013

PLEASE, LOVE ME...


Please, Love Me...

        Rena berjalan tak tentu arah malam itu. ia tak membawa pakaian, hanya pakaian yang melekat di tubuhnya saja. Ia kabur dari rumahnya karena tidak tahan dengan kekejaman ibu tirinya yang seorang pemabuk berat. Sejak kepergian ayahnya, rumah tak lagi sama bagi Rena. Dan malam ini, saat Mario nyaris memperkosanya, menjadi pemicu keputusan Rena untuk kabur.
Rena merasa jijik akan dirinya sendiri. Semua temannya menjauh karena sikap ibu dan kakak tirinya. Rena tak punya tempat mengadu. Ia sendirian dan terlunta-lunta. Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia tidak berani. Oleh karena itulah Rena berjalan tak tentu arah semalaman, berharap akan menemukan emperan toko tempat ia bisa merebahkan dirinya sejenak.
          Malam semakin larut dan jalanan telah menjadi sepi. Rena ketakutan, dan juga kedinginan. Kakinya lelah dan tak sanggup lagi melangkah. Akhirnya dia berhenti di sebuah kursi yang ada di pinggiran taman yang ia lewati. Ia duduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menangis. Ia tak mengerti mengapa semua itu terjadi padanya. Ia hanya ingin hidup bahagia. Ia ingin dicintai dan disayangi. Tapi mengapa yang terjadi justru hal yang sebaliknya?
          “Hei, kamu baik-baik aja?” sebuah suara menegur Rena.
          Rena tersentak dan mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang lelaki berdiri tak jauh di depannya. Lelaki itu tampak tak jauh lebih tua dari usia Rena, akan tetapi pengalaman membuat Rena langsung merasa waspada. Ia berdiri dan perlahan beringsut menjauh.
          “A… aku ga apa-apa…” bisik Rena gemetar. Napasnya mulai cepat dan ketakutan menyergapnya. Bagaimana kalau lelaki di depannya itu bukan lelaki baik-baik? Bagaimana jika ia menyerangnya seperti Mario tadi? Rena terus saja beringsut mundur menjauh.
          Lelaki itu menatap Rena dengan kening berkerut. “Apa kamu mengira aku akan berbuat jahat sama kamu?” tanya lelaki itu. “Jangan salah. Aku juga punya adik perempuan yang masih kecil, dan aku pasti akan sangat malu kalau sampai berbuat hal buruk sama kamu!”
          Lalu lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya adalah Saga, dia bekerja di sebuah bar sebagai seorang bartender. Dan saat itu dia baru pulang dari bekerja. Saga pun menawarkan diri untuk mengantarkan Rena pulang, tapi Rena menolak mati-matian. Akhirnya saat tak tahan memendam semuanya sendirian, Rena pun menceritakan semua beban hatinya. Meski Rena bercerita sambil menangis terisak-isak, Saga tetap mendengarkan dengan tenang. Lalu, setelah Rena sudah lebih tenang dan berhenti menangis, Saga pun menawarkan bantuan pada Rena. Lelaki itu menawarkan kamar kosong di lantai atas rumahnya untuk ditinggali oleh Rena. Berhubung saga juga yatim piatu dan hanya tinggal dengan adiknya yang berusia 11 tahun, ia merasa tak ada salahnya meminjamkan kamar itu pada Rena.
          Awalnya Rena menolak tawaran itu dengan mati-matian, akan tetapi kondisinya sangat tidak memungkinkan, sehingga saat Saga terus mendesaknya, ia pun setuju. Akan tetapi Rena tidak mau tinggal dengan gratis. Ia ingin membayar biaya tempat tinggal itu dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah di rumah Saga. Saga pun setuju dengan pengaturan itu dan mengajak Rena pulang bersamanya. Saga juga menjanjikan satu hal pada Rena, yaitu lelaki itu takkan menyentuh Rena sedikit pun. Saga akan menghormati Rena seperti menjaga adiknya sendiri.
          Sejak saat itu, Rena tinggal bersama Saga. Ia membersihkan rumah itu, menyiapkan makanan, dan juga mengurus adik Saga yang lumpuh setelah mengalami kecelakaan beberapa tahun silam. Berada bersama Saga dan Amara, adik Saga, membuat Rena merasa hidupnya kembali berada pada porosnya. Amara pun sangat ramah, bahkan sangat lengket padanya sejak pertemuan pertama mereka. Dan mau tak mau, Rena pun semakin memperhatikan Saga.
         Hari demi hari berlalu, tanpa Rena sadari dirinya telah mulai jatuh cinta pada Saga. Akan tetapi, masa lalunya yang kelam membuatnya tak berani mengungkapkan perasaannya pada Saga. Walaupun terkadang Rena jadi bertanya-tanya bagaimana perasaan Saga padanya. Lelaki itu baik dan sopan, tapi ia juga sangat perhatian kepada Rena.
          “Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau lelah, kamu boleh istirahat. Kamu juga bisa bersantai sedikit, kan kamu bukan pembantu di rumahku!” kata Saga pada suatu waktu. “Hidup itu singkat, harus dijalani dengan sebaik mungkin.”
          Rena pun memutuskan untuk menyimpan perasaannya pada Saga. Ia tidak mau merusak hubungan baik yang sudah tercipta di antara mereka.
          Suatu sore, Rena pergi ke minimarket untuk membeli bahan makan malam untuk ia masak. Tanpa diduga, ia melihat Mario juga berada di tempat yang sama. Tanpa pikir panjang ia langsung kabur. Ketakutan lamanya kembali dan ia berlari pontang-panting. Yang tidak ia ketahui adalah bahwa Mario melihatnya. Dan lelaki itu memutuskan untuk mengikuti Rena.
          Ketika malam menjelang dan Saga bersiap berangkat kerja, Rena merasa semakin khawatir. Ia bahkan membuat Saga cemas dengan tingkahnya. Rena terpaksa meyakinkan Saga kalau dirinya baik-baik saja sehingga Saga bisa bekerja dengan tenang. sepeninggal Saga, Rena mondar-mandir di ruang tamu. Amara sudah ia antar ke kamar tidur, sehingga sekarang Rena tidak ada kerjaan. Bel pintu tiba-tiba berbunyi dan membuat Rena terlonjak kaget. Sambil memarahi diri sendiri karena khawatir, Rena pun berjalan ke depan untuk membuka pintu. Dan terpaku saat melihat Mario berdiri di hadapannya.
          Rena menjerit dan berusaha menutup pintu, akan tetapi Mario lebih kuat sehingga lelaki itu berhasil memaksa masuk. Senyum bejat tampak di wajahnya saat ia mengamati Rena dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan berhenti cukup lama pada tempat-tempat yang tidak senonoh.
          “Akhirnya aku menemukan kamu. Sekarang, kamu ga akan bisa kabur lagi,” kata Mario sebelum ia menyergap Rena.
          Rena mnejerit dan meronta saat Mario menciuminya dengan rakus. Menyentuh sekujur tubuhnya dan juga mengoyak pakaiannya. Rena tak kuasa menahan air matanya dan dia terisak di balik bekapan tangan Mario. Di sana, tepat di ruang tamu rumah Saga, Mario berusaha menodainya. Rena merasa amat benci pada dirinya sendiri. Kenapa ia masih saja tidak lepas dari keburukan hidupnya. Semakin banyak air mata yang berderai ketika pakaiannya telah koyak dan Mario menggerayanginya dengan semena-mena. Saat itu Rena pasrah. Ia tak bisa melawan, ia terlalu lemah dan mungkin tak pantah bahagia.
          Ketika Rena berpikir hidupnya telah berakhir, pintu depan menjeblak terbuka dan sebuah teriaka menggelegar menyusul. Mario pun kontan berpaling ke belakang. Di balik tirai air matanya, Rena melihat bayangan Saga yang berdiri marah di ambang pintu. Kemudian, Mario direnggut dari atas tubuhnya. Saga memukul wajah Mario, memukulinya habis-habisan dan tak member Mario kesempatan untuk melawan. Lalu, lelali itu melemparkan tubuh Mario ke lantai.
          “Pergi dari rumahku! Dan kalau sekali lagi aku melihatmu datang mengganggu Rena, maka saat itu aku sendiri yang akan membunuhmu!!”
          “Perempuan jalang itu milikku! Aku berhak melakukan apapun padanya!!” balas Mario.
          Saga kembali merenggut Mario, kali ini ia sengaja menarik dengan keras sehingga menghalangi oksigen dari paru-paru Mario. Ia mendesis marah. “Dia bukan perempuan jalang. Dia adalah perempuan yang aku cintai, yang kelak akan aku bahagiakan karena dia pantas mendapatkannya!” Saga lalu melemparkan Mario keluar dari rumahnya. “Pergi, atau aku betul-betul akan membunuhmu!”
          Pintu dibanting hingga menutup oleh Saga. Kemudian ia menghampiri Rena. Rena menghambur ke dalam pelukan Saga dan menangis terisak. Ia memeluk saga dengan erat, menjadikan lelaki itu sebagai jangkar penyelamatnya. Dan entah bagaimana, lelaki itu membuatnya merasa berani mengharapkan kebahagiaan.
          “Sshhs… semua udah berakhir. Dia ga akan datang lagi. Aku akan menjaga kamu dan ga akan kubiarkan siapapun menyakiti kamu,” kata Saga.
          “Tapi aku ini kotor, Ga… aku ga pantas buatmu…”
          “Kamu adalah perempuan paling suci yang aku kenal, Ren… dan aku ga peduli dengan masa lalu kamu. Kita akan membangun sebuah masa depan yang bahagia untuk kamu. Dan kamu pantas mendapatkannya,” kata Saga. “Aku jatuh cinta sama ketegaran kamu sejak kali pertama kita ketemu, Ren…”
          Rena kembali menangis. Kali ini ia menangis karena bahagia. Dan ia memeluk Saga semakin erat untuk mengungkapkan perasaannya. Rena berharap, jika ia hanya bermimpi, semoga ia takkan terbangun. Akan tetapi, kehangatan lengan yang memeluknya telah membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Dan Rena bersyukur karenanya.


SELESAI



Cerpen by: Ariska

Tidak ada komentar:

Posting Komentar