Senin, 16 April 2012

THE CURSED HOUSE last part


_04:55_

Runa mengikuti pendar cahaya yg ia lihat tadi hingga tanpa ia sadari, ia sudah sampai ke ruang depan. Runa berhenti dengan napas terengah2. Ia melihat kesana kemari, mencari2 apa yg ia pikir adalah cahaya tadi. Di luar, badai telah reda namun hujan masih belum berhenti.
Runa kebingungan, dan ia sadar ia sudah meninggalkan teman2nya. Runa baru hendak berbalik kembali ketika Hagane muncul dan langsung memeluknya.
''Runa! Apa yg kau lakukan?! Ini bahaya sekali tau!!''kata Hagane marah bercampur lega.
''Ma..maaf.. Aku juga tidak tau..''kata Runa. ''Tapi lihat! Kita sampai di ruang depan! Kita akan selamat!!''kata Runa sambil menunjuk2 pintu.
Hagane menyadarinya juga. ''Kau benar! Kita bisa keluar! Tapi kita harus menyelamatkan Minato dan Makoto dulu!''kata Hagane
''Kita harus membakar rumah ini! Kau punya pemantik api?!''tanya Runa
''Tunggu, kurasa aku punya. Tapi kita harus menolong Minato dan Makoto!''kata Hagane
Runa mulai mengumpulkan barangt yg bisa terbakar dengan mudah. Ia juga menumpahkan beberapa lampu minyak yg ada di ruang depan ke lantai dan dinding rumah.
''Aku tau. Tapi kita tetap harus mempersiapkan semuanya. Begitu mereka menyusul, kita akan langsung menyulut api!''kata Runa
''Tak bisa begitu! Mereka tak tau jalan kemari!''kata Hagane
Runa menatap Hagane. ''Minato pasti tau. Aku tak tau kenapa aku yakin, tapi aku yakin makoto juga akan dituntun kemari!''kata Runa bersikeras.
''Tapi...''
''Berhentilah membantah Runa, Hagane...''
Runa dan Hagane menoleh ke arah suara dan melihat Minato berjalan terhuyung2 ke arah mereka.
Hagane langsung membantu Minato.
''Kita harus melakukan seperti apa yg Runa katakan,''kata Minato. ''Hanya kita yg tersisa, tak ada gunanya kita berlama2 disini.''
Hagane mengangguk dan melakukan apa yg Runa katakan tadi.
Dalam sekejap ruangan itu mulai dilalap api.
''Ayo kita keluar!!''kata Hagane
Hagane dan Makoto mendobrak pintu hingga terbuka. Ketika mereka mulai berlari keluar, Runa menjerit dan terjengkang. Kemudian ia ditarik ke dalam api entah oleh apa. Runa berusaha bertahan sampai Hagane menolongnya.
Runa akhirnya bisa melepaskan diri atas belitan tak terlihat itu. Hagane menggendongnya dan berusaha menghindari api yg mulai berkobar.
''Sial,''kata Hagane. Ia menurunkan Runa dan mencari2 celah dalam kobaran api. Kemudian ketika ia melihatnya, ia berteriak pada Minato agar bersiap di pintu keluar.
Runa tidak tau apa yg akan Hagane lakukan sampai ketika Hagane menggenggam tangannya, kemudian mengayunkan dan mendorongnya melewati celah kecil di antara kobaran api. Runa berteriak ketika ia merasakan hawa panas. Kemudian, air hujan sudah mengguyurnya. Ia ada dalam dekapan Minato.
''Hagane!!''kata Runa tersadar. Ia melepaskan diri dan membelalak melihat Hagane yg masih terperangkap dalam rumah. ''Tidak! Hagane!!''teriak Runa.
Ia berusaha kembali ke dalam rumah, namun Minato menghalanginya.
''Larilah bersama Minato!! Jangan pedulikan aku!!''teriak Hagane, sambil menutupi hidungnya untuk menghalau asap yg membuatnya tersedak.
''Tidak mau!! Kau sudah janji akan menjagaku seumur hidup kan?!''teriak Runa, ia menagis dan terus meronta di pelukan Minato.
''Maafkan aku!!''teriak Hagane. Wajahnya tampak sedih.
''Tidak...kumohon cobalah keluar...''tangis Runa.
Minato yg melihat Runa terus2an menangisi Hagane akhirnya tak bisa diam saja. Ia merenggut Runa dan menciumnya sekilas sebelum melompat ke dalam api.
''Aku akan menyelamatkannya,''begitu kata Minato tadi.
Runa hanya bisa terperangah dan menyaksikan Minato lenyap di balik kobaran api.
''TIDAAKK!! MINATO!! HAGANE!!!''teriaknya

_04:55_

Runa mengikuti pendar cahaya yg ia lihat tadi hingga tanpa ia sadari, ia sudah sampai ke ruang depan. Runa berhenti dengan napas terengah2. Ia melihat kesana kemari, mencari2 apa yg ia pikir adalah cahaya tadi. Di luar, badai telah reda namun hujan masih belum berhenti.
Runa kebingungan, dan ia sadar ia sudah meninggalkan teman2nya. Runa baru hendak berbalik kembali ketika Hagane muncul dan langsung memeluknya.
''Runa! Apa yg kau lakukan?! Ini bahaya sekali tau!!''kata Hagane marah bercampur lega.
''Ma..maaf.. Aku juga tidak tau..''kata Runa. ''Tapi lihat! Kita sampai di ruang depan! Kita akan selamat!!''kata Runa sambil menunjuk2 pintu.
Hagane menyadarinya juga. ''Kau benar! Kita bisa keluar! Tapi kita harus menyelamatkan Minato dan Makoto dulu!''kata Hagane
''Kita harus membakar rumah ini! Kau punya pemantik api?!''tanya Runa
''Tunggu, kurasa aku punya. Tapi kita harus menolong Minato dan Makoto!''kata Hagane
Runa mulai mengumpulkan barangt yg bisa terbakar dengan mudah. Ia juga menumpahkan beberapa lampu minyak yg ada di ruang depan ke lantai dan dinding rumah.
''Aku tau. Tapi kita tetap harus mempersiapkan semuanya. Begitu mereka menyusul, kita akan langsung menyulut api!''kata Runa
''Tak bisa begitu! Mereka tak tau jalan kemari!''kata Hagane
Runa menatap Hagane. ''Minato pasti tau. Aku tak tau kenapa aku yakin, tapi aku yakin makoto juga akan dituntun kemari!''kata Runa bersikeras.
''Tapi...''
''Berhentilah membantah Runa, Hagane...''
Runa dan Hagane menoleh ke arah suara dan melihat Minato berjalan terhuyung2 ke arah mereka.
Hagane langsung membantu Minato.
''Kita harus melakukan seperti apa yg Runa katakan,''kata Minato. ''Hanya kita yg tersisa, tak ada gunanya kita berlama2 disini.''
Hagane mengangguk dan melakukan apa yg Runa katakan tadi.
Dalam sekejap ruangan itu mulai dilalap api.
''Ayo kita keluar!!''kata Hagane
Hagane dan Makoto mendobrak pintu hingga terbuka. Ketika mereka mulai berlari keluar, Runa menjerit dan terjengkang. Kemudian ia ditarik ke dalam api entah oleh apa. Runa berusaha bertahan sampai Hagane menolongnya.
Runa akhirnya bisa melepaskan diri atas belitan tak terlihat itu. Hagane menggendongnya dan berusaha menghindari api yg mulai berkobar.
''Sial,''kata Hagane. Ia menurunkan Runa dan mencari2 celah dalam kobaran api. Kemudian ketika ia melihatnya, ia berteriak pada Minato agar bersiap di pintu keluar.
Runa tidak tau apa yg akan Hagane lakukan sampai ketika Hagane menggenggam tangannya, kemudian mengayunkan dan mendorongnya melewati celah kecil di antara kobaran api. Runa berteriak ketika ia merasakan hawa panas. Kemudian, air hujan sudah mengguyurnya. Ia ada dalam dekapan Minato.
''Hagane!!''kata Runa tersadar. Ia melepaskan diri dan membelalak melihat Hagane yg masih terperangkap dalam rumah. ''Tidak! Hagane!!''teriak Runa.
Ia berusaha kembali ke dalam rumah, namun Minato menghalanginya.
''Larilah bersama Minato!! Jangan pedulikan aku!!''teriak Hagane, sambil menutupi hidungnya untuk menghalau asap yg membuatnya tersedak.
''Tidak mau!! Kau sudah janji akan menjagaku seumur hidup kan?!''teriak Runa, ia menagis dan terus meronta di pelukan Minato.
''Maafkan aku!!''teriak Hagane. Wajahnya tampak sedih.
''Tidak...kumohon cobalah keluar...''tangis Runa.
Minato yg melihat Runa terus2an menangisi Hagane akhirnya tak bisa diam saja. Ia merenggut Runa dan menciumnya sekilas sebelum melompat ke dalam api.
''Aku akan menyelamatkannya,''begitu kata Minato tadi.
Runa hanya bisa terperangah dan menyaksikan Minato lenyap di balik kobaran api.
''TIDAAKK!! MINATO!! HAGANE!!!''teriaknya
#11
Runa memanggil2 nama Hagane dan Minato. Ia tak dapat melihat jelas ke dalam kobaran api yg melalap ambang pintu dan asap yg membumbung tinggi. Hujan masih turun cukup deras dan itu membuat pandangan Runa makin terbatas. Ia berdoa semoga keduanya selamat. Ia takkan bisa jika kehilangan salah satu dari mereka.
Sementara itu, Minato berhasil menerobos masuk. Kondisinya yg basah kuyub membuatnya sedikit terhindar dari hawa panas. Ia akhirnya menmukan Hagane yg membungkuk dan terbatuk2. Ia menghampiri Hagane.
''Kau baik2 saja, Hagane?''tanya Minato
''Mi..Minato? Kenapa kau...''
''Jangan banyak bicara! Aku akan mengeluarkanmu dari sini! Runa menunggumu di luar sana!''kata Minato, memotong ucapan Hagane.
Minato melihat ke sekelilingnya untuk mencari apapun yg bisa ia gunakan untuk membuka jalan di tengah2 kobaran api. Matanya terpaku pada sekelebat bayangan yg berdiri diatas tangga. Minato mengumpat. Dengan cepat ia menyortir semua barang yg ada di dekatnya dan menemukan bagian atas meja yg sudah patah. Potongan itu cukup panjang untuk dijadikan pijakan untuk membuka jalan.
Ia mengabaikan Hagane dan mengambil potongan meja itu, kemudian melemparkannya ke atas kobaran api yg menghalangi pintu masuk.Menciptakan sebuah jalur kecil.
''Cepat lari!!''teriak Minato sembari mendorong Hagane
''Apa?!''tanya Hagane tak jelas. Ia nyaris tak bisa bernapas.
''Sialan, lari Hagane!! Lewati papan itu! Cepat!!''teriak Minato
Hagane menatap jalur yg dibuat Minato dan langsung mengerti.
''Kau akan mengikuti kan?''tanya Hagane
Minato hanya mengangguk. Dan itu cukup untuk membuat Hagane mulai berlari. Menghindari sambaran2 api di sekelilingnya.
Minato hanya menatap kepergian Hagane. Kemudian ia menatap bayangan diatas tangga.
''Kita akan mati bersama,''kata Minato pada bayangan itu.
Terdengar suara raungan marah yg menggetarkan rumah sebagai jawabannya.
Hagane berhasil mencapai dunia luar. Ia langsung tersungkur. Namun ia ingin memastikan Minato juga selamat. Dia menoleh ke belakang dan melihat Minato masih di dalam.
''Minato!?''panggil Hagane
Runa mendekati Hagane dan berlutut di sampingnya. Ia menangis. Ia sudah mengerti niat Minato sejak awal.
''Cepat! Sebelum jalurnya hilang!!''teriak Hagane
Minato hanya tersenyum. Hagane terus berteriak2 menyuruh agar Minato keluar, tapi Minato bahkan tak bergerak dari tempatnya.
Kemudian terdengar suara gemuruh. Minato menatap ke atas. Dan beberapa detik kemudian, rumah itu mulai runtuh.
''MINATOOO!!!''teriak Hagane
Api makin melalap rumah dan menjadi raksasa panas yg menyilaukan dalam badai. Hagane terduduk lemas. Ia menatap puing2 yg tadinya berdiri Minato.
Runa memeluknya dan menangis. Bersama hujan yg turun serta cahaya pagi yg mulai muncul di cakrawala, rumah itu berubah menjadi puing2 yg terlalap api.
**
Runa dan Hagane menghadiri pemakaman teman2nya. Suasana duka menyelimuti mereka semua, namun jelas bahwa Runa dan Haganelah yg paling merasa kehilangan. Runa bersandar di bahu Hagane, air matanya tak henti2nya mengalir.
Begitu pemakaman selesai, satu persatu orang yg hadir di pemakaman itu pulang. Semuanya menepuk pundak Hagane dan memberi semangat pada Runa.
Rumah itu telah rata dengan tanah. Butuh waktu berhari2 untuk menemukan semua mayat teman2nya yg meninggal dengan cara mengenaskan. Dan mengikuti apa yg ditulis dalam buku harian, Runa juga meminta agar polisi menyelidiki sekeliling rumah itu. Mencari mayat2 lain yg konon dikubur disana. Runa berharap, dengan dimakamkan secara layak, arwah orang2 yg mati disana akan tenang.
''Kita pulang?''tanya Hagane
Runa memandang makam Minato untuk terakhir kalinya kemudian ia mengangguk pelan.
Hagane merangkul pundak Runa. ''Kita takkan melupakan pengorbanan Minato,''ucap Hagane. ''Aku telah berjanji padanya akan menjagamu. Dan aku berniat menepatinya. Bahkan tanpa ia minta sekalipun,''kata Haganr
Runa mendongak dan tersenyum tipis. Ia bersandar kepada Hagane.
''Iya, aku tau..''sahutnya.
Berdua, mereka meninggalkan pemakaman itu. Angin berhembus pelan. Menerbangkan dedaunan kering yg jatuh di jalan. Sehelai daun terhempas angin dan membumbung tinggi ke langit. Langit yg berwarna kelabu, dengan sinar matahari yg mulai menerobos celah2 awan kelabu...


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar