Minggu, 08 April 2012

LOVE IS STRANGE


LOVE IS STRANGE

            Beberapa hari ini Davi terus-terusan berkeluh kesah. Baik masalah pribadi ataupun masalah yang umum. Akan tetapi, yang lebih sering dikeluhkan Davi adalah cewek-cewek yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi. Khususnya Lola and the gank. Trio cewek centil yang selalu berkeliaran disekitar Davi. Bukannya melarang, Davi hanya merasa rikuh kalau terus-terusan ditempeli begitu. Viro, sahabat baiknya, selalu mengatakan kalau itu hanya karena Davi terlalu paranoid.
“Itu karena kamu memenuhi syarat tipe cowok idaman,”begitu kata Viro saat Davi mengeluhkan tingkah Lola dan cewek-cewek lainnya.
            Memang Davi ganteng, pintar, kaya, kapten Tim Basket pula. Tapi sayangnya Davi tak pernah menyadari kelebihannya itu. Ia tidak tau kalau banyak cowok yang rela membayar berapapun agar bisa seperti dirinya. Mungkin cangkok otak atau operasi plastik.
            Sore itu Davi latihan sendirian karena Viro sudah pulang lebih dulu. Davi mencoba melatih teknik lemparannya yang belakangan ini ia rasa makin lemah. Ia mencoba beberapa macam teknik lemparan sebelum akhirnya berhenti karena lelah. Ia cukup puas. Ia duduk di pinggir lapangan basket dan menenggak habis air mineralnya. Ketika ia hendak mengambil tasnya dan bersiap pulang, tak sengaja ekor matanya menangkap sekelebat bayangan. Davi reflek menoleh dan mendapati seorang cewek tengah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
“Wah, aku mengagetkanmu ya?”kata cewek itu, terselip nada bersalah dalam nada suaranya.
“Siapa kamu?”tanya Davi.
“Kayla,”jawab cewek itu. “Lagi main basket atau udah mau pulang?”Tanya cewek itu sok akrab.
            Davi mengernyit heran. Siapa cewek sok akrab ini? Davi dan Kayla tak saling mengenal, tapi Kayla bicara seolah-olah mereka itu sudah kenal akrab. Insting tak suka Davi pun kumat. Ia memilih tak menggubris Kayla. Davi bangkit dengan membawa tasnya dan dengan cuek meninggalkan Kayla. Bahkan ia tak menoleh untuk melihat bagaimana reaksi cewek itu. Toh, tujuannya memang untuk menjauhkan cewek-cewek darinya.


            Esoknya, Davi bertemu lagi dengan cewek bernama Kayla itu. Persis seperti pertemuan pertama mereka kemarin. Seperti biasa, Davi berlatih lebih lama ketimbang teman-teman satu timnya yang lain. Davi sedang melempar bola ke dalam ring, akan tetapi tembakannya gagal dan bola pun memental. Bola itu menggelinding ke luar lapangan. Tepat ke kaki Kayla. Kayla mengambil bola itu dan tersenyum, lalu mengembalikannya kepada Davi.
Davi mengambil bola itu dan melanjutkan latihannya. Davi mengira Kayla akan langsung pergi setelah menerima perlakuan tak ramahnya barusan. Akan tetapi, ketika Davi melirik ke pinggir lapangan, ia mendapati Kayla masih menontonnya. Bahkan cewek itu sudah berjongkok dan bertopang dagu. Davi hanya menghela napas pasrah. Kemudian ia melakukan latihannya lagi. Toh, Kayla tak mengganggu latihannya, kecuali membuat Davi merasa tak nyaman akibat tatapan penuh minatnya itu.
“Waaahhh…. Hebat! Aku nggak pernah melihat orang yang main basket sebagus itu!!”komentar Kayla sambil bertepuk tangan.
Davi mengabaikannya sejenak dan menenggak air mineralnya. Kemudian ia melirik Kayla. “Memangnya kamu nggak pernah melihat orang main basket?”tanyanya heran. Dimana-mana permainan basket, ya, hanya segitu-segitu saja. Hanya berbeda pada kemampuan tiap-tiap pemainnya saja.
“Begitu deh… soalnya kan lapangan selalu penuh sama penonton, apalagi kalau pas pulang sekolah. Mana bisa aku nonton kalau penontonnya aja berjubelan begitu,”sahut Kayla enteng. Kayla memelintir sejumput rambut di jarinya dan merengut.
“Ngomong-ngomong kamu kelas berapa? Aku belum pernah melihat kamu di sekolah ini,”tanya Davi.
Kayla Nampak terdiam sejenak dan berhati-hati saat menjawab. Ia tak menatap Davi ketika menjawab, malahan ia melihat ke sekelilingnya.
“Davi kan popular, jadi mana mungkinlah kamu mengenalku. Dan lagi, aku kan masih kelas X,”kata Kayla.
            Davi hanya manggut-manggut mengerti. Iya juga sih, memangnya Davi siapa sehingga mengenal semua anak di sekolahnya? Jelas-jelas selama ini ia selalu menghindari makhluk yang bergender perempuan. Jelas saja ia tak mungkin mengenal Kayla. Ditambah lagi, Kayla kan kelas X, berarti cewek itu setingkat dibawahnya.


            Sejak saat itu, setiap sore setiap Davi berlatih sendiri, Kayla pasti muncul dan menemani Davi latihan. Kayla menonton dan kadang memberikan semangat layaknya seorang supporter. Ia akan berteriak-teriak layaknya seorang pelatih, atau melompat-lompat, menyerukan yel-yel, layaknya  seorang Cheerleaders. Bukannya semangat latihan, Davi malah lebih banyak tertawa terpingkal-pingkal. Bukannya berhenti atau merasa malu, Kayla malah akan berteriak makin keras.
            Selain itu, Kayla kerap kali membantu Davi dalam menyelesaikan masalah-masalahnya. Entah itu memberikan masukan-masukan yang bagus atau hanya sekedar mendengarkan ketika Davi ingin berkeluh kesah. Sehingga mau tak mau Davi pun merasa nyaman ketika bersama Kayla. Kayla berbeda dengan cewek kebanyakan yang ia kenal. Kayla bersikap apa adanya dan bicara dengan gaya santai yang membuatnya enak untuk diajak mengobrol. Kata-kata yang Kayla ucapkan pun jujur dan terkesan polos. Entah bagaimana, keberadaan Kayla membuat semangat Davi kembali. Davi jadi makin giat berlatih, bahkan Viro pun menjadi heran karena Kapten timnya yang akhir-akhir ini sering berkeluh-kesah itu menjadi lebih ceria.
“Kamu kenapa sih, Dav?”tanya Viro suatu ketika saat mereka latihan bersama. Viro tampak benar-benar heran melihat perubahan Davi yang drastis dalam waktu seminggu itu.
“Aku kenapa bagaimana?”Davi balik bertanya dengan bingung.
“Seingatku ya, seminggu yang lalu kamu masih berkeluh kesah tentang ini-itu. Tapi, kalau aku perhatikan, sekarang kamu malah kelihatan ceria banget,”jelas Viro.
“Masa sih?”tanya Davi.
Viro memutar bola matanya. Davi ditanya bukannya menjawab malah balik Tanya. Viro jadi jengkel sendiri karenannya. Melihat tampang merengut Viro membuat Davi tertawa.
“Hmm… kenapa ya? Mungkin karena beban yang aku rasakan selama ini sudah berkurang,”sahut Davi sambil menerawang. Ia lalu mengedikkan bahunya. “Aku nggak tau sejak kapan, tapi ada yang bilang padaku kalau sebuah masalah itu jangan dianggap sebagai beban, anggap saja itu sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan,”tutur Davi.
“Oh ya? Siapa tuh yang memberikan nasehat sebijak itu sama kamu?”tanya Viro ingin tau. “Lola? Desy? Ratna?”tebak Viro ngasal.
“Heh, yang kamu sebutkan itu sih nggak mungkin punya pikiran sewaras itu!”sahut Davi geli. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang, semua nama yang tadi Viro sebut itu tak mungkin punya tempat di otaknya untuk nasehat bijak, karena sudah penuh dengan hal-hal berbau fashion.
“Lha? Terus siapa? Yang aku tau hanya mereka yang selalu mengikuti kamu kemana pun kamu pergi!”kata Viro makin bingung.
“Ada, anak kelas X yang sering aku temui sepulang latihan dengan kalian,”sahut Davi sambil lalu. Entah kenapa dia merasa aneh setiap kali mengingat tentang Kayla. Kayla penuh misteri dan membangkitkan rasa ingin tau Davi. Akan tetapi, Davi juga merasakan suatu perasaan lain yang selalu membuatnya ingin tersenyum terus. Kenapa ya?
“Masa? Siapa tuh? Nggak takut dilibas sama Lola?”Tanya Viro.
            Davi hanya bisa mengangkat bahu, jujur ia juga tak tau banyak tentang Kayla. Bahkan Davi tidak tau Kayla ada dikelas X berapa. Karena disekolah itu terdapat tujuh kelas X. Davi juga tidak tau apa-apa soal Kayla selain nama dan tingkatannya.
Ketika Davi mengatakan hal itu pada Viro, Viro merasa hal itu aneh sekali. Meskipun kelas X ada tujuh kelas, tak mungkin mereka tak sekalipun pernah melihatnya. Minimal berpapasan di koridor atau di kantin.
            Viro menyarankan agar Davi mencari tau hal lainnya soal Kayla. Minimal mereka tau Kayla ada di kelas X yang mana. Davi sebenarnya bisa saja bertanya langsung pada Kayla, tapi sebagai Kapten tim Davi diwajibkan mempersiapkan diri dan juga timnya untuk menghadapi pertandingan persahabatan yang akan diadakan minggu depan. Sehingga ia terpaksa menyerahkan tugas itu kepada Viro. Karena pergaulan Viro jauh lebih luas daripada pergaulannya sendiri.
“Siippp… serahkan semuanya padaku! Kamu nanti tinggal terima beresnya saja deh!”janji Viro.
            Davi tidak punya alasan untuk meragukan Viro, jadi ia mengangguk dan mempercayakan perihal mencari tau hal-hal tentang Kayla kepada Viro. Viro memiliki sumber informasi dimana-mana karena cowok itu mempunyai gebetan dimana-mana. Jadi soal informasi bisa dibilang Virolah ahlinya.


            Ternyata Davi betul-betul sibuk! Sampai-sampai tiap habis latihan ia langsung pulang bersama teman-temannya. Sudah beberapa hari Davi tidak bertemu Kayla yang biasanya selalu menemaninya berlatih tambahan. Davi jadi mengenal perasaan yang bernama kangen. Ia kangen dengan slogan-slogan aneh yang sering diteriakkan Kayla ketika mendukungnya. Teriakan yel-yel yang dimaksudkan untuk memberikan semangat yang malah membuat Davi tertawa terbahak-bahak. Dan Davi juga kangen dengan senyuman manis Kayla. Senyuman yang selalu menampakkan lesung pipit ketika Kayla tertawa. Lama kelamaan Davi malah jadi gelisah. Setiap waktu Davi selalu memikirkan Kayla. Apa yang membuat bayangan Kayla begitu melekat dalam benaknya? Selama ini Davi tak pernah memikirkan cewek manapun seperti ia memikirkan Kayla. Akan tetapi, Kayla begitu memiliki kesan tersendiri dalam benak Davi sehingga cewek itu selalu berkeliaran di dalam kepalanya. Dan Kayla mampu membuat Davi mengenang kembali tiap saat yang mereka habiskan bersama.
            Pernah Davi mengatakan kalau dia bosan dikelilingi oleh Lola and the gank pada Kayla, karena mereka selalu bersikap sok manja dan suka bicara seakan-akan Davi itu adalah miliknya. Kayla tertawa saat mendengar hal itu, sehingga Davi menatapnya dengan jengkel. Kemudian Kayla memberinya sebuah saran.
“Mereka bersikap begitu seenaknya karena kamu nggak bersikap tegas sama mereka! Coba deh, kamu utarakan keberatan kamu akan sikap mereka disaat kamu merasa betul-betul terganggu. Jangan takut membuat mereka sakit hati dengan kata-kata kamu. Toh, kamu hanya menyampaikan apa yang kamu rasakan kan? Jadi, cukup main gertak sedikit aja, nggak usah main kasar atau membentak-bentak mereka. Tapi lakukan dengan setegas mungkin!”
            Saat itu Davi merasa saran Kayla terlalu berlebihan untuk dilakukan. Karena selama ini Davi selalu menghadapi Lola and the gank dengan tatapan jengkelnya saja. Akan tetapi, Davi tetap mengikuti saran Kayla itu. Rupanya saran itu berhasil. Di luar dugaan, Lola dan kroni-kroninya langsung memucat ketika Davi mengatakan secara blak-blakan kalau mereka itu sangat mengganggunya. Hingga detik ini, Lola cs memang masih menguntitnya, akan tetapi dengan jarak yang sangat memuaskan.
            Akan tetapi, hal itu belum memuaskan Davi. Ia tetap merindukan canda tawa Kayla. Lalu terbersit ide yang lumayan bagus di kepala Davi. Sabtu ini tim basketnya akan bertanding dan dia ingin Kayla datang untuk menontonnya. Saking bersemangatnya dengan idenya itu, Davi jadi tidak sabar dan langsung menghubungi Viro yang masih sibuk dengan penyelidikannya.
“Sorry nih, Dav.. aku belum mendapatkan info apapun soal Kayla. Agen-agenku sedang mencari tau tentang dia. Tapi secepatnya akan aku kabari deh!”janji Viro saat itu.
            Viro berjanji akan segera mencari tau soal cewek yang membuat sahabatnya itu tidak tenang. Viro sudah menduga sejak awal, sejak melihat ekspresi hidup di wajah Davi, kalau temannya itu akan jatuh hati pada cewek bernama Kayla ini. Karena jarang-jarang Davi peduli pada cewek seperti yang saat ini temannya itu lakukan. Apalagi waktu Viro iseng bertanya tentang seberapa besar rasa suka Davi pada Kayla, denganpolos Davi menjawab ‘Nggak kehitung’. Membuat Viro ternganga sehingga dengan sukarela membantunya.
            Akan tetapi kenyataan tak berjalan sesuai dengan kehendak Davi. Kayla tak pernah datang menonton latihannya lagi, meski Davi sudah menunggu selama apapun. Kayla seolah lenyap ditelan bumi. Davi mulai gelisah, apalagi saat Viro mengatakan kalau di sekolah mereka tidak ada cewek yang bernama Kayla. Davi tak percaya dan memastikan hal itu sendiri. Ia mendatangi seluruh kelas X dan terpaksa menelan kekecewaannya. Tak ada yang bernama Kayla. Davi cukup terpukul mendapati Kayla telah berbohong padanya. Lantas siapakah Kayla? Kenapa ia harus berbohong pada Davi? Davi bertanya-tanya akan tetapi tak ada satu pun jawaban yang bisa ia temukan.


            Hari pertandingan akhirnya tiba. Davi masih mengharapkan kedatangan Kayla, meski tidak seantusias sebelumnya. Dan tepat sebelum pertandingan dimulai, Davi melihat Kayla. Meski hanya sekilas, Davi yakin itu adalah Kayla. Tanpa pikir panjang Davi minta ijin untuk pergi sebentar. Davi mencari-cari Kayla diantara kerumunan penonton yang sangat padat.
Akan tetapi akhirnya Davi berhasil menemukan Kayla sedang bersama dengan anggota cheerleaders SMA lawan. Davi hendak memanggil Kayla ketika ia mendengar pembicaraan Kayla dan para cheerleaders itu.
“Heh, apa saja kerjamu disana?! Apa yang berhasil kamu dapatkan?!”bentak seorang cewek. Davi menduga ia adalah ketuanya. Davi spontan menyembunyikan diri.
“A…aku…”sahut Kayla. “Aku nggak bisa…”katanya pelan.
Kayla langsung mendapatkan sebuah tamparan keras di pipinya. “Dasar nggak berguna!! Aku suruh kamu mendekati kapten tim lawan supaya kita tau apa kelemahan mereka!! Kamu mau berkhianat?!”bentak si ketua cheers.
            Davi bukan hanya kaget karena Kayla disakiti, tapi ia jauh lebih kaget ketika mendengarkan fakta yang terpampang jelas di depannya. Ternyata selama ini Kayla mendekatinya agar mengetahui kelemahan tim basketnya. Cewek itu telah berhasil menyusup masuk ke dalam kehidupan David dan langsung memporak-porandakan semuanya.
            Davi keluar dari tempat persembunyiannya dan mengagetkan semua yang ada disana. Kayla memucat dan menatap Davi dengan mata membelalak maksimal.
Kayla mendekati Davi dan  berusaha menjelaskan semuanya. Akan tetapi Davi menepiskan tangan Kayla dan menatap benci ke arahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi Davi berbalik dan pergi.
            Konsentrasi Davi terpecah belah dan permainan basketnya jadi menurun. Setelah mati-matian berusaha, tim basket Davi akhirnya berhasil menang. Begitu pertandingan selesai, Davi langsung pulang. Ia tak  mau berlama-lama di sekolah itu. Ia sempat melihat Kayla. Berdiri jauh dan menatap pilu ke arahnya. Davi bisa melihat kilau air mata di pipi gadis itu, tapi Davi bertekad untuk mengabaikannya. Ia kecewa pada Kayla. Hatinya tergerak untuk menghampiri Kayla, akan tetapi amarah masih menguasainya. Jadi Davi langsung pulang, tanpa menoleh ke arah Kayla lagi.



            Esoknya, Davi terlihat lesu dan juga kacau. Dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan menyendiri di halaman sekolah dan tak mau diganggu oleh siapapun. Hanya Viro yang punya nyali untuk mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Viro mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan memberikannya pada Davi. Viro mengatakan kalau itu dari Kayla. Viro juga menjelaskan kalau kemarin Kayla meminta maaf kepada Tim basket mereka karena hampir berbuat curang dengan mematai-matai mereka. Kayla menjelaskan kalau ia terpaksa karena takut akan hukuman yang diberikan Melanie, ketua tim cheerleaders sekolah lawan. Akan tetapi, di detik-detik terkahir Kayla memutuskan untuk melawan dan tak mengatakan apapun.
            Davi membentak Viro, tak mau mendengar soal Kayla lagi. Tapi Viro tak gentar, dia malah mencecar Davi dengan bermacam sindiran. Davi pengecut, lari dari kenyataan, tak mau menghadapi masalah dan malah menjadikannya sebagai beban. Akibatnya , Davi terdiam. Davi teringat kalau dulu Kayla mengatakan hal itu padanya untuk memberinya semangat.
            Kenangan akan Kayla kembali teringat di benaknya. Sejak pertama bertemu, Davi sudah curiga kalau ada yang aneh dengan Kayla. Tapi pada akhirnya, Davi tetap jatuh hati pada Kayla, tak peduli bahwa cewek itu telah membohonginya. Kayla juga sudah minta maaf. Apakah Davi sebegitu dinginnya sehingga tak mau memaafkan cewek itu? Hati kecilnya menyangkal, rasa itu akan tetap ada. Tak peduli Kayla berbohong atau tidak.
Davi kembali teringat dengan kata-kata Viro di sekolah tadi sebelum sahabatnya itu pergi meninggalkannya.
“Kayla nunggu kamu di lapangan basket jam lima sore! Kamu nggak perlu banyak berpikir, cinta itu aneh dan kadang nggak perlu pakai logika, Dav!”
            Davi bingung. Ia tak tau harus berbuat apa. Sampai akhirnya Davi menyerah pada hatinya. Dan ia sadar hanya ada satu jawaban. Temui Kayla dan selesaikan semua masalah yang ada diantara mereka. Bergegas, Davi meraih jaket dan kunci motornya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang dan Davi hanya bisa berharap Kayla masih menunggunya.
            Sampai di sekolah, Davi memarkir motornya secara sembarangan. Sekolah sudah sepi sehingga Davi segera berlari ke lapangan basket. Ia terus-terusan berharap semoga ia belum terlambat.
            Davi berhenti dengan napas tak teratur. Dia ada disana. Kayla berdiri di tempat yang biasa cewek itu tempati ketika menonton Davi latihan. Jantung Davi serasa diremas ketika melihat cewek itu berdiri disana dengan kepala tertunduk. Akan tetapi cewek itu langsung mendongak ketika mendengar suara langkah Davi. Matanya melebar penuh harap. Dan tak memerdulikan jarak mereka yang hanya terpaut beberapa langkah lebar, Kayla langsungmeminta maaf pada Davi.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf! Aku tau apa yang sudah aku lakukan itu nggak bisa dimaafkan, tapi aku betul-betul menyesal karena telah membohongi kamu. Aku sama sekali nggak punya maksud untuk berbohong,  kalau bukan karena aku nggak punya pilihan lain. Sekali lagi aku minta maaf! Aku janji, setelah ini aku nggak akan menunjukkan wajahku didepan kamu lagi!”kata Kayla menyesal. Kemudian karena tak ada tanggapan dari Davi, Kayla pun beranjak pergi.
            Alangkah kagetnya Kayla ketika Davi merengkuhnya ke dalam pelukannya ketika Kayla berniat melewatinya. Kayla merasa napasnya tercekat ketika menyadari betapa eratnya pelukan Davi. Kayla menelan ludah dengan susah payah, kesulitan menelan gumpalan yang menyumbat tenggorokannya.
“Aku nggak akan memaafkan kamu kalau kamu berani pergi meninggalkan aku!”kata Davi tanpa melepaskan pelukannya pada Kayla. “Mungkin kamu sudah menipu aku, tapi semua yang kamu lakukan untuk menyemangatiku bukanlah sebuah kebohongan! Aku juga salah karena nggak mau mendengarkan penjelasan kamu kemarin. Tapi aku nggak mau menipu diri sendiri,”ungkap Davi.
“Davi…”
“Kamu pernah bilang, jangan jadikan masalah sebagai beban pikiran, tapi hadapi dan anggap itu sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukkan. Dan itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Aku nggak mau memendam perasaanku sama kamu dan mengubahnya menjadi beban,”kata Davi lagi.
Davi kemudian menguraikan pelukannya pada Kayla dan menatap mata Kayla dalam-dalam.
“Aku cinta sama kamu! Nggak peduli siapa kamu dan apa yang telah kamu lakukan kepadaku. Aku tetap cinta kamu,”kata Davi dengan tegas dan lugas, tanpa keraguan sedikitpun.
            Kayla tertegun tak percaya dan air matanya meleleh tak terbendung lagi. Davi mengulas senyum lembut dan kembali menarik Kayla ke dalam dekapannya. Baru kali ini Davi memeluk seseorang dan tak ingin melepaskannya. Terlebih jika orang itu telah mencuri hatinya lebih banyak dari yang sanggup ia berikan.
“Aku…aku benar-benar minta maaf…”isak Kayla dalam pelukan Davi.
“Ssshhtt… aku nggak mau mendengar permintaan maaf kamu, tapi aku mau mendengar jawaban atas pernyataanku tadi,”kata Davi lembut. “Kamu mau jadi pacarkukan?”tanya Davi sama lembutnya.
            Kali ini tak butuh waktu lama bagi Kayla untuk menjawab. Masih dalam pelukan Davi, Kayla pun mengangguk antusias. Davi terkekeh pelan mengetahui antusiasme Kayla. Benar kata Viro, Cinta itu aneh dan kadang tak bisa dipikirkan dengan logika, cukup diresapi dan dinikmati saja.
            Akan ada waktunya dimana kita akan mengerti arti cinta sesungguhnya. Karena cinta itu universal dan fleksibel. Penuh kejutan yang takkan bisa kita duga, namun juga bisa membuat kita kehilangan akal. Cinta itu datang dan pergi seperti angin, muncul tanpa direncanakan dan pergi sebelum kita menyadarinya. Dan ia takkan mau menunggu lama. Sehingga lebih baik kalau kita mengenggam Cinta itu sebelum ia terlepas dan kita akan menyesal…


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar