LOVE IS STRANGE
Beberapa hari ini Davi terus-terusan
berkeluh kesah. Baik masalah pribadi ataupun masalah yang umum. Akan tetapi,
yang lebih sering dikeluhkan Davi adalah cewek-cewek yang selalu mengikutinya
kemana pun ia pergi. Khususnya Lola and the gank. Trio cewek centil yang selalu
berkeliaran disekitar Davi. Bukannya melarang, Davi hanya merasa rikuh kalau
terus-terusan ditempeli begitu. Viro, sahabat baiknya, selalu mengatakan kalau
itu hanya karena Davi terlalu paranoid.
“Itu
karena kamu memenuhi syarat tipe cowok idaman,”begitu kata Viro saat Davi
mengeluhkan tingkah Lola dan cewek-cewek lainnya.
Memang Davi ganteng, pintar, kaya,
kapten Tim Basket pula. Tapi sayangnya Davi tak pernah menyadari kelebihannya
itu. Ia tidak tau kalau banyak cowok yang rela membayar berapapun agar bisa
seperti dirinya. Mungkin cangkok otak atau operasi plastik.
Sore itu Davi latihan sendirian
karena Viro sudah pulang lebih dulu. Davi mencoba melatih teknik lemparannya
yang belakangan ini ia rasa makin lemah. Ia mencoba beberapa macam teknik
lemparan sebelum akhirnya berhenti karena lelah. Ia cukup puas. Ia duduk di
pinggir lapangan basket dan menenggak habis air mineralnya. Ketika ia hendak
mengambil tasnya dan bersiap pulang, tak sengaja ekor matanya menangkap sekelebat
bayangan. Davi reflek menoleh dan mendapati seorang cewek tengah berdiri tak
jauh dari tempatnya duduk.
“Wah,
aku mengagetkanmu ya?”kata cewek itu, terselip nada bersalah dalam nada
suaranya.
“Siapa
kamu?”tanya Davi.
“Kayla,”jawab
cewek itu. “Lagi main basket atau udah mau pulang?”Tanya cewek itu sok akrab.
Davi mengernyit heran. Siapa cewek
sok akrab ini? Davi dan Kayla tak saling mengenal, tapi Kayla bicara
seolah-olah mereka itu sudah kenal akrab. Insting tak suka Davi pun kumat. Ia
memilih tak menggubris Kayla. Davi bangkit dengan membawa tasnya dan dengan
cuek meninggalkan Kayla. Bahkan ia tak menoleh untuk melihat bagaimana reaksi
cewek itu. Toh, tujuannya memang untuk menjauhkan cewek-cewek darinya.
Esoknya, Davi bertemu lagi dengan
cewek bernama Kayla itu. Persis seperti pertemuan pertama mereka kemarin.
Seperti biasa, Davi berlatih lebih lama ketimbang teman-teman satu timnya yang
lain. Davi sedang melempar bola ke dalam ring, akan tetapi tembakannya gagal
dan bola pun memental. Bola itu menggelinding ke luar lapangan. Tepat ke kaki
Kayla. Kayla mengambil bola itu dan tersenyum, lalu mengembalikannya kepada
Davi.
Davi
mengambil bola itu dan melanjutkan latihannya. Davi mengira Kayla akan langsung
pergi setelah menerima perlakuan tak ramahnya barusan. Akan tetapi, ketika Davi
melirik ke pinggir lapangan, ia mendapati Kayla masih menontonnya. Bahkan cewek
itu sudah berjongkok dan bertopang dagu. Davi hanya menghela napas pasrah.
Kemudian ia melakukan latihannya lagi. Toh, Kayla tak mengganggu latihannya,
kecuali membuat Davi merasa tak nyaman akibat tatapan penuh minatnya itu.
“Waaahhh….
Hebat! Aku nggak pernah melihat orang yang main basket sebagus itu!!”komentar
Kayla sambil bertepuk tangan.
Davi
mengabaikannya sejenak dan menenggak air mineralnya. Kemudian ia melirik Kayla.
“Memangnya kamu nggak pernah melihat orang main basket?”tanyanya heran.
Dimana-mana permainan basket, ya, hanya segitu-segitu saja. Hanya berbeda pada
kemampuan tiap-tiap pemainnya saja.
“Begitu
deh… soalnya kan lapangan selalu penuh sama penonton, apalagi kalau pas pulang
sekolah. Mana bisa aku nonton kalau penontonnya aja berjubelan begitu,”sahut
Kayla enteng. Kayla memelintir sejumput rambut di jarinya dan merengut.
“Ngomong-ngomong
kamu kelas berapa? Aku belum pernah melihat kamu di sekolah ini,”tanya Davi.
Kayla
Nampak terdiam sejenak dan berhati-hati saat menjawab. Ia tak menatap Davi
ketika menjawab, malahan ia melihat ke sekelilingnya.
“Davi
kan popular, jadi mana mungkinlah kamu mengenalku. Dan lagi, aku kan masih kelas
X,”kata Kayla.
Davi hanya manggut-manggut mengerti.
Iya juga sih, memangnya Davi siapa sehingga mengenal semua anak di sekolahnya?
Jelas-jelas selama ini ia selalu menghindari makhluk yang bergender perempuan.
Jelas saja ia tak mungkin mengenal Kayla. Ditambah lagi, Kayla kan kelas X,
berarti cewek itu setingkat dibawahnya.
Sejak saat itu, setiap sore setiap
Davi berlatih sendiri, Kayla pasti muncul dan menemani Davi latihan. Kayla
menonton dan kadang memberikan semangat layaknya seorang supporter. Ia akan
berteriak-teriak layaknya seorang pelatih, atau melompat-lompat, menyerukan
yel-yel, layaknya seorang Cheerleaders.
Bukannya semangat latihan, Davi malah lebih banyak tertawa terpingkal-pingkal.
Bukannya berhenti atau merasa malu, Kayla malah akan berteriak makin keras.
Selain itu, Kayla kerap kali
membantu Davi dalam menyelesaikan masalah-masalahnya. Entah itu memberikan
masukan-masukan yang bagus atau hanya sekedar mendengarkan ketika Davi ingin
berkeluh kesah. Sehingga mau tak mau Davi pun merasa nyaman ketika bersama
Kayla. Kayla berbeda dengan cewek kebanyakan yang ia kenal. Kayla bersikap apa
adanya dan bicara dengan gaya santai yang membuatnya enak untuk diajak
mengobrol. Kata-kata yang Kayla ucapkan pun jujur dan terkesan polos. Entah bagaimana,
keberadaan Kayla membuat semangat Davi kembali. Davi jadi makin giat berlatih,
bahkan Viro pun menjadi heran karena Kapten timnya yang akhir-akhir ini sering
berkeluh-kesah itu menjadi lebih ceria.
“Kamu
kenapa sih, Dav?”tanya Viro suatu ketika saat mereka latihan bersama. Viro
tampak benar-benar heran melihat perubahan Davi yang drastis dalam waktu
seminggu itu.
“Aku
kenapa bagaimana?”Davi balik bertanya dengan bingung.
“Seingatku
ya, seminggu yang lalu kamu masih berkeluh kesah tentang ini-itu. Tapi, kalau
aku perhatikan, sekarang kamu malah kelihatan ceria banget,”jelas Viro.
“Masa
sih?”tanya Davi.
Viro
memutar bola matanya. Davi ditanya bukannya menjawab malah balik Tanya. Viro
jadi jengkel sendiri karenannya. Melihat tampang merengut Viro membuat Davi
tertawa.
“Hmm…
kenapa ya? Mungkin karena beban yang aku rasakan selama ini sudah
berkurang,”sahut Davi sambil menerawang. Ia lalu mengedikkan bahunya. “Aku
nggak tau sejak kapan, tapi ada yang bilang padaku kalau sebuah masalah itu
jangan dianggap sebagai beban, anggap saja itu sebagai sebuah tantangan yang
harus ditaklukkan,”tutur Davi.
“Oh
ya? Siapa tuh yang memberikan nasehat sebijak itu sama kamu?”tanya Viro ingin
tau. “Lola? Desy? Ratna?”tebak Viro ngasal.
“Heh,
yang kamu sebutkan itu sih nggak mungkin punya pikiran sewaras itu!”sahut Davi
geli. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang, semua nama yang tadi Viro
sebut itu tak mungkin punya tempat di otaknya untuk nasehat bijak, karena sudah
penuh dengan hal-hal berbau fashion.
“Lha?
Terus siapa? Yang aku tau hanya mereka yang selalu mengikuti kamu kemana pun
kamu pergi!”kata Viro makin bingung.
“Ada,
anak kelas X yang sering aku temui sepulang latihan dengan kalian,”sahut Davi
sambil lalu. Entah kenapa dia merasa aneh setiap kali mengingat tentang Kayla.
Kayla penuh misteri dan membangkitkan rasa ingin tau Davi. Akan tetapi, Davi
juga merasakan suatu perasaan lain yang selalu membuatnya ingin tersenyum
terus. Kenapa ya?
“Masa?
Siapa tuh? Nggak takut dilibas sama Lola?”Tanya Viro.
Davi hanya bisa mengangkat bahu,
jujur ia juga tak tau banyak tentang Kayla. Bahkan Davi tidak tau Kayla ada
dikelas X berapa. Karena disekolah itu terdapat tujuh kelas X. Davi juga tidak
tau apa-apa soal Kayla selain nama dan tingkatannya.
Ketika
Davi mengatakan hal itu pada Viro, Viro merasa hal itu aneh sekali. Meskipun
kelas X ada tujuh kelas, tak mungkin mereka tak sekalipun pernah melihatnya.
Minimal berpapasan di koridor atau di kantin.
Viro menyarankan agar Davi mencari
tau hal lainnya soal Kayla. Minimal mereka tau Kayla ada di kelas X yang mana.
Davi sebenarnya bisa saja bertanya langsung pada Kayla, tapi sebagai Kapten tim
Davi diwajibkan mempersiapkan diri dan juga timnya untuk menghadapi
pertandingan persahabatan yang akan diadakan minggu depan. Sehingga ia terpaksa
menyerahkan tugas itu kepada Viro. Karena pergaulan Viro jauh lebih luas
daripada pergaulannya sendiri.
“Siippp…
serahkan semuanya padaku! Kamu nanti tinggal terima beresnya saja deh!”janji
Viro.
Davi tidak punya alasan untuk
meragukan Viro, jadi ia mengangguk dan mempercayakan perihal mencari tau
hal-hal tentang Kayla kepada Viro. Viro memiliki sumber informasi dimana-mana
karena cowok itu mempunyai gebetan dimana-mana. Jadi soal informasi bisa
dibilang Virolah ahlinya.
Ternyata Davi betul-betul sibuk!
Sampai-sampai tiap habis latihan ia langsung pulang bersama teman-temannya.
Sudah beberapa hari Davi tidak bertemu Kayla yang biasanya selalu menemaninya
berlatih tambahan. Davi jadi mengenal perasaan yang bernama kangen. Ia kangen
dengan slogan-slogan aneh yang sering diteriakkan Kayla ketika mendukungnya.
Teriakan yel-yel yang dimaksudkan untuk memberikan semangat yang malah membuat
Davi tertawa terbahak-bahak. Dan Davi juga kangen dengan senyuman manis Kayla.
Senyuman yang selalu menampakkan lesung pipit ketika Kayla tertawa. Lama
kelamaan Davi malah jadi gelisah. Setiap waktu Davi selalu memikirkan Kayla.
Apa yang membuat bayangan Kayla begitu melekat dalam benaknya? Selama ini Davi
tak pernah memikirkan cewek manapun seperti ia memikirkan Kayla. Akan tetapi,
Kayla begitu memiliki kesan tersendiri dalam benak Davi sehingga cewek itu
selalu berkeliaran di dalam kepalanya. Dan Kayla mampu membuat Davi mengenang
kembali tiap saat yang mereka habiskan bersama.
Pernah Davi mengatakan kalau dia
bosan dikelilingi oleh Lola and the gank pada Kayla, karena mereka selalu
bersikap sok manja dan suka bicara seakan-akan Davi itu adalah miliknya. Kayla
tertawa saat mendengar hal itu, sehingga Davi menatapnya dengan jengkel.
Kemudian Kayla memberinya sebuah saran.
“Mereka
bersikap begitu seenaknya karena kamu nggak bersikap tegas sama mereka! Coba
deh, kamu utarakan keberatan kamu akan sikap mereka disaat kamu merasa
betul-betul terganggu. Jangan takut membuat mereka sakit hati dengan kata-kata
kamu. Toh, kamu hanya menyampaikan apa yang kamu rasakan kan? Jadi, cukup main
gertak sedikit aja, nggak usah main kasar atau membentak-bentak mereka. Tapi
lakukan dengan setegas mungkin!”
Saat itu Davi merasa saran Kayla
terlalu berlebihan untuk dilakukan. Karena selama ini Davi selalu menghadapi
Lola and the gank dengan tatapan jengkelnya saja. Akan tetapi, Davi tetap
mengikuti saran Kayla itu. Rupanya saran itu berhasil. Di luar dugaan, Lola dan
kroni-kroninya langsung memucat ketika Davi mengatakan secara blak-blakan kalau
mereka itu sangat mengganggunya. Hingga detik ini, Lola cs memang masih
menguntitnya, akan tetapi dengan jarak yang sangat memuaskan.
Akan tetapi, hal itu belum memuaskan
Davi. Ia tetap merindukan canda tawa Kayla. Lalu terbersit ide yang lumayan bagus
di kepala Davi. Sabtu ini tim basketnya akan bertanding dan dia ingin Kayla
datang untuk menontonnya. Saking bersemangatnya dengan idenya itu, Davi jadi
tidak sabar dan langsung menghubungi Viro yang masih sibuk dengan
penyelidikannya.
“Sorry
nih, Dav.. aku belum mendapatkan info apapun soal Kayla. Agen-agenku sedang
mencari tau tentang dia. Tapi secepatnya akan aku kabari deh!”janji Viro saat
itu.
Viro berjanji akan segera mencari
tau soal cewek yang membuat sahabatnya itu tidak tenang. Viro sudah menduga
sejak awal, sejak melihat ekspresi hidup di wajah Davi, kalau temannya itu akan
jatuh hati pada cewek bernama Kayla ini. Karena jarang-jarang Davi peduli pada
cewek seperti yang saat ini temannya itu lakukan. Apalagi waktu Viro iseng
bertanya tentang seberapa besar rasa suka Davi pada Kayla, denganpolos Davi
menjawab ‘Nggak kehitung’. Membuat Viro ternganga sehingga dengan sukarela
membantunya.
Akan tetapi kenyataan tak berjalan
sesuai dengan kehendak Davi. Kayla tak pernah datang menonton latihannya lagi,
meski Davi sudah menunggu selama apapun. Kayla seolah lenyap ditelan bumi. Davi
mulai gelisah, apalagi saat Viro mengatakan kalau di sekolah mereka tidak ada
cewek yang bernama Kayla. Davi tak percaya dan memastikan hal itu sendiri. Ia
mendatangi seluruh kelas X dan terpaksa menelan kekecewaannya. Tak ada yang
bernama Kayla. Davi cukup terpukul mendapati Kayla telah berbohong padanya.
Lantas siapakah Kayla? Kenapa ia harus berbohong pada Davi? Davi bertanya-tanya
akan tetapi tak ada satu pun jawaban yang bisa ia temukan.
Hari pertandingan akhirnya tiba.
Davi masih mengharapkan kedatangan Kayla, meski tidak seantusias sebelumnya.
Dan tepat sebelum pertandingan dimulai, Davi melihat Kayla. Meski hanya
sekilas, Davi yakin itu adalah Kayla. Tanpa pikir panjang Davi minta ijin untuk
pergi sebentar. Davi mencari-cari Kayla diantara kerumunan penonton yang sangat
padat.
Akan
tetapi akhirnya Davi berhasil menemukan Kayla sedang bersama dengan anggota
cheerleaders SMA lawan. Davi hendak memanggil Kayla ketika ia mendengar
pembicaraan Kayla dan para cheerleaders itu.
“Heh,
apa saja kerjamu disana?! Apa yang berhasil kamu dapatkan?!”bentak seorang
cewek. Davi menduga ia adalah ketuanya. Davi spontan menyembunyikan diri.
“A…aku…”sahut
Kayla. “Aku nggak bisa…”katanya pelan.
Kayla
langsung mendapatkan sebuah tamparan keras di pipinya. “Dasar nggak berguna!!
Aku suruh kamu mendekati kapten tim lawan supaya kita tau apa kelemahan
mereka!! Kamu mau berkhianat?!”bentak si ketua cheers.
Davi bukan hanya kaget karena Kayla
disakiti, tapi ia jauh lebih kaget ketika mendengarkan fakta yang terpampang
jelas di depannya. Ternyata selama ini Kayla mendekatinya agar mengetahui
kelemahan tim basketnya. Cewek itu telah berhasil menyusup masuk ke dalam
kehidupan David dan langsung memporak-porandakan semuanya.
Davi keluar dari tempat
persembunyiannya dan mengagetkan semua yang ada disana. Kayla memucat dan
menatap Davi dengan mata membelalak maksimal.
Kayla
mendekati Davi dan berusaha menjelaskan
semuanya. Akan tetapi Davi menepiskan tangan Kayla dan menatap benci ke
arahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi Davi berbalik dan pergi.
Konsentrasi Davi terpecah belah dan
permainan basketnya jadi menurun. Setelah mati-matian berusaha, tim basket Davi
akhirnya berhasil menang. Begitu pertandingan selesai, Davi langsung pulang. Ia
tak mau berlama-lama di sekolah itu. Ia
sempat melihat Kayla. Berdiri jauh dan menatap pilu ke arahnya. Davi bisa
melihat kilau air mata di pipi gadis itu, tapi Davi bertekad untuk
mengabaikannya. Ia kecewa pada Kayla. Hatinya tergerak untuk menghampiri Kayla,
akan tetapi amarah masih menguasainya. Jadi Davi langsung pulang, tanpa menoleh
ke arah Kayla lagi.
Esoknya, Davi terlihat lesu dan juga
kacau. Dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan menyendiri di halaman sekolah
dan tak mau diganggu oleh siapapun. Hanya Viro yang punya nyali untuk
mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Viro mengeluarkan secarik kertas dari
sakunya dan memberikannya pada Davi. Viro mengatakan kalau itu dari Kayla. Viro
juga menjelaskan kalau kemarin Kayla meminta maaf kepada Tim basket mereka
karena hampir berbuat curang dengan mematai-matai mereka. Kayla menjelaskan
kalau ia terpaksa karena takut akan hukuman yang diberikan Melanie, ketua tim
cheerleaders sekolah lawan. Akan tetapi, di detik-detik terkahir Kayla
memutuskan untuk melawan dan tak mengatakan apapun.
Davi membentak Viro, tak mau
mendengar soal Kayla lagi. Tapi Viro tak gentar, dia malah mencecar Davi dengan
bermacam sindiran. Davi pengecut, lari dari kenyataan, tak mau menghadapi
masalah dan malah menjadikannya sebagai beban. Akibatnya , Davi terdiam. Davi
teringat kalau dulu Kayla mengatakan hal itu padanya untuk memberinya semangat.
Kenangan akan Kayla kembali teringat
di benaknya. Sejak pertama bertemu, Davi sudah curiga kalau ada yang aneh
dengan Kayla. Tapi pada akhirnya, Davi tetap jatuh hati pada Kayla, tak peduli
bahwa cewek itu telah membohonginya. Kayla juga sudah minta maaf. Apakah Davi
sebegitu dinginnya sehingga tak mau memaafkan cewek itu? Hati kecilnya
menyangkal, rasa itu akan tetap ada. Tak peduli Kayla berbohong atau tidak.
Davi
kembali teringat dengan kata-kata Viro di sekolah tadi sebelum sahabatnya itu
pergi meninggalkannya.
“Kayla nunggu kamu di lapangan
basket jam lima sore! Kamu nggak perlu banyak berpikir, cinta itu aneh dan
kadang nggak perlu pakai logika, Dav!”
Davi bingung. Ia tak tau harus
berbuat apa. Sampai akhirnya Davi menyerah pada hatinya. Dan ia sadar hanya ada
satu jawaban. Temui Kayla dan selesaikan semua masalah yang ada diantara
mereka. Bergegas, Davi meraih jaket dan kunci motornya. Waktu sudah menunjukkan
pukul enam kurang dan Davi hanya bisa berharap Kayla masih menunggunya.
Sampai di sekolah, Davi memarkir
motornya secara sembarangan. Sekolah sudah sepi sehingga Davi segera berlari ke
lapangan basket. Ia terus-terusan berharap semoga ia belum terlambat.
Davi berhenti dengan napas tak
teratur. Dia ada disana. Kayla berdiri di tempat yang biasa cewek itu tempati
ketika menonton Davi latihan. Jantung Davi serasa diremas ketika melihat cewek
itu berdiri disana dengan kepala tertunduk. Akan tetapi cewek itu langsung
mendongak ketika mendengar suara langkah Davi. Matanya melebar penuh harap. Dan
tak memerdulikan jarak mereka yang hanya terpaut beberapa langkah lebar, Kayla
langsungmeminta maaf pada Davi.
“Aku
sungguh-sungguh minta maaf! Aku tau apa yang sudah aku lakukan itu nggak bisa
dimaafkan, tapi aku betul-betul menyesal karena telah membohongi kamu. Aku sama
sekali nggak punya maksud untuk berbohong,
kalau bukan karena aku nggak punya pilihan lain. Sekali lagi aku minta
maaf! Aku janji, setelah ini aku nggak akan menunjukkan wajahku didepan kamu
lagi!”kata Kayla menyesal. Kemudian karena tak ada tanggapan dari Davi, Kayla
pun beranjak pergi.
Alangkah kagetnya Kayla ketika Davi
merengkuhnya ke dalam pelukannya ketika Kayla berniat melewatinya. Kayla merasa
napasnya tercekat ketika menyadari betapa eratnya pelukan Davi. Kayla menelan
ludah dengan susah payah, kesulitan menelan gumpalan yang menyumbat
tenggorokannya.
“Aku
nggak akan memaafkan kamu kalau kamu berani pergi meninggalkan aku!”kata Davi
tanpa melepaskan pelukannya pada Kayla. “Mungkin kamu sudah menipu aku, tapi
semua yang kamu lakukan untuk menyemangatiku bukanlah sebuah kebohongan! Aku
juga salah karena nggak mau mendengarkan penjelasan kamu kemarin. Tapi aku
nggak mau menipu diri sendiri,”ungkap Davi.
“Davi…”
“Kamu
pernah bilang, jangan jadikan masalah sebagai beban pikiran, tapi hadapi dan
anggap itu sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukkan. Dan itulah yang sedang
aku lakukan saat ini. Aku nggak mau memendam perasaanku sama kamu dan
mengubahnya menjadi beban,”kata Davi lagi.
Davi
kemudian menguraikan pelukannya pada Kayla dan menatap mata Kayla dalam-dalam.
“Aku
cinta sama kamu! Nggak peduli siapa kamu dan apa yang telah kamu lakukan
kepadaku. Aku tetap cinta kamu,”kata Davi dengan tegas dan lugas, tanpa
keraguan sedikitpun.
Kayla tertegun tak percaya dan air
matanya meleleh tak terbendung lagi. Davi mengulas senyum lembut dan kembali
menarik Kayla ke dalam dekapannya. Baru kali ini Davi memeluk seseorang dan tak
ingin melepaskannya. Terlebih jika orang itu telah mencuri hatinya lebih banyak
dari yang sanggup ia berikan.
“Aku…aku
benar-benar minta maaf…”isak Kayla dalam pelukan Davi.
“Ssshhtt…
aku nggak mau mendengar permintaan maaf kamu, tapi aku mau mendengar jawaban
atas pernyataanku tadi,”kata Davi lembut. “Kamu mau jadi pacarkukan?”tanya Davi
sama lembutnya.
Kali ini tak butuh waktu lama bagi
Kayla untuk menjawab. Masih dalam pelukan Davi, Kayla pun mengangguk antusias.
Davi terkekeh pelan mengetahui antusiasme Kayla. Benar kata Viro, Cinta itu
aneh dan kadang tak bisa dipikirkan dengan logika, cukup diresapi dan dinikmati
saja.
Akan ada waktunya dimana kita akan
mengerti arti cinta sesungguhnya. Karena cinta itu universal dan fleksibel.
Penuh kejutan yang takkan bisa kita duga, namun juga bisa membuat kita
kehilangan akal. Cinta itu datang dan pergi seperti angin, muncul tanpa
direncanakan dan pergi sebelum kita menyadarinya. Dan ia takkan mau menunggu lama.
Sehingga lebih baik kalau kita mengenggam Cinta itu sebelum ia terlepas dan
kita akan menyesal…
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar