Kamis, 01 Maret 2012

Cerpen : BOYFRIEND

BOYFRIEND

BOYFRIEND  #1
Windy berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia sedang memikirkan cara untuk keluar dari masalah yg sedang ia hadapi. Sebelum'a Windy mungkin takkan keberatan dengan kepopuleran'a diantara para siswa cowok di sekolah. Namun sekarang ia mulai merasa tidak nyaman dengan segala perhatian yg ia terima dari penggemarnya. Sebentar lagi ujian akhir, tidak kurang dari sebulan lagi, dan Windy takkan bisa berkonsentrasi jika disekelilingnya dipenuhi oleh cowok2 yg menginginkan perhatian'a. Cowok2 itu takkan pernah berhenti mengejarnya selama ia masih ''single''. Jadi satu2nya cara yg terpikir oleh Windy adalah seorang pacar. Tapi siapa yg bisa ia jadikan pacar sementara'a? Seorang cowok yg selain berwajah oke, pintar, memiliki tinggi tubuh ideal dan mengintimidasi, yg akan dengan senang hati membantu'a. Yg takkan menuntut apa2 dari kesepakatan yg bisa Windy ajukan. Dengan kata lain seorang cowok yg nyaris sempurna dan tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sehingga jika sebulan telah berlalu, cowok itu takkan komplain jika Windy mengakhiri hubungan mereka. Dan Windy takkan menuntut apapun pada cowok itu selain bisa membantu'a dalam hal pelajaran dan membuat penggemarnya mundur teratur.
Masalah'a adalah, apakah ada orang seperti itu? Pintar, berwajah oke, mengintimidasi dan memiliki aura yg akan membuat orang enggan untuk mendekat.
Oh! Tiba2 Windy mendapat sebuah pencerahan dalam otaknya. Windy tau harus mencari siapa. Windy mungkin hanya pernah mendengar desas-desus tentang orang itu, tapi Windy yakin hanya cowok itu yang memenuhi persyaratan Windy. Akan tetapi, ada sesuatu yg membuat Windy getir. Dari apa yang Windy dengar, orang yang akan dia pilih ini akan sangat sulit dijinakkan. Bisa jadi Windy akan mendapatkan ''Masalah'' dengan huruf ''M'' ekstra besar didepan'a. Artinya takkan mudah mendapatkan kerjasama cowok itu. Bahkan bisa jadi Windy akan gagal bahkan sebelum memulai. Tapi Windy tidak punya pilihan lain. Dia harus bisa membuat cowok itu bersedia membantunya. Dan Windy akan melakukan segala cara agar cowok itu setuju.
Berbekal tekad sekuat baja, sekokoh batu karang, Windy keluar dari kelas'a yg sudah kosong karena jam pelajaran terakhir tadi kosong. Ia menuju kelas cowok itu. Ini bisa jadi misi bunuh diri dan mempermalukan diri sendiri. Tapi Windy sudah bertekad, dan itulah yang akan dia lakukan!
***
Daniel membenahi semua buku dan alat tulisnya yg berserakan di mejanya. Ia sedang bersiap2 untuk pulang. Hari ini ia sudah cukup lelah dengan keseharian'a yg monoton. Ia belajar, belajar dan belajar untuk ujian akhir nanti. Ditambah lagi dengan tugasnya sebagai Wakil Ketua Osis yg juga membuat'a sibuk.
Danie menginginkan hal lain yg bisa menyegarkan pikiran'a. Apapun yg membuat otak'a yg penat segar kembali. Kalau bukan karena image yg tak sengaja diciptakan'a untuk menjauhkan orang2 yg hanya melihat wajah'a, mungkin saat ini dia sudah menantang orang untuk diajak ribut. Tapi sudah lebih dari 2tahun ia menjadi Daniel si penyendiri. Yang rajin dan berusaha jadi anak emas para guru.
Jika dibiarkan memilih, Daniel pasti akan memilih jadi orang yg biasa2 saja. Sayang sekali ia tidak bisa. Ia mewarisi gen kedua orangtuanya yg sama2 jenius dan memiliki ambisi yg tinggi akan kesuksesan. Sehingga mau tak mau orang2 akan berpikir dua kali sebelum mendekatinya. Ditambah lagi dengan tinggi badannya yg diatas rata2 itu, 182cm. Tinggi yg membuat siapapun yg berhadapan dengan'a merasa terintimidasi.
Daniel menyampirkan tas'a di punggung dan keluar dari kelas'a. Belum jauh ia melangkah, seorang cewek mengikutinya. Daniel melirik'a namun tetap tak berhenti benjalan. Dan ketika Daniel memutuskan untuk mengabaikan cewek yg menjajari langkah'a itu, cewek itu malah menghadang jalannya. Daniel pun berhenti. Ia menunduk dan menatap cewek mungil yg berdiri didepan'a. Cewek itu tampak sedikit berhati2. Daniel harus menahan diri agar tidak mendengus melihat tingkah sok berani cewek itu.
''Boleh minta waktunya sebentar?''tanya cewek itu
''Bicara aja,''kata Daniel. Ia ingin segera menjauh dari cewek ini.
Cewek itu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia mnggeleng. ''Nggak bisa disini,''sahut cewek itu berbisik. Ia tampak serius.
''Kalau nggak ya sudah, aku mau pulang,''kata Daniel cuek dan mulai berjalan lagi.
Cewek itu kelihatan jengkel tapi berusaha menahan diri. Ia kembali menghentikan Daniel dan tersenyum. Terpaksa, menurut Daniel.
Alis Daniel terangkat tinggi. Dalam hati ia bertanya2 apa mau cewek ini seandainya Daniel mau memberikan waktu beberapa saat.
''Please...''kata Cewek itu memohon.
Hmm.. Tampak'a cewek ini tidak main2. Ia memang perlu bicara dengan Daniel. Lagipula, ini sudah lewat jam pulang sekolah. Entah sudah berapa lama cewek itu menunggunya hanya untuk bicara. Kalau orang lain mungkin sudah pulang, tapi cewek ini justru tetap bertahan. Hmm, sepertinya menarik. Daniel jadi penasaran..


BOYFRIEND  #2
Windy sudah mengambil langkah nekat pertamanya. Ia menghadang cowok itu begitu keluar dari kelas'a. Ia menghadang cowok raksasa itu! Hoh, ia pasti sudah gila. Dan bukan perjuangan yg mudah mengingat ia harus menunggu dan bersembunyi di balik pot tanaman hampir selama setengah jam sebelum cowok itu muncul. Windy bahkan nyaris menerobos kelas cowok itu jika dalam waktu satu jam cowok itu belum keluar juga. Tapi cowok itu keluar, dan Windy langsung mengikuti'a. Astaga, cowok itu benar2 tinggi! Windy sampai harus mendongak agar bisa menatap matanya. Dan Windy merasa terintimidasi oleh cowok itu, padahal cowok itu cuma menatapnya dengan mata elang'a.
Tapi Windy menolak untuk menyerah. Ia dengan berani menatap mata cowok itu, meski lehernya harus pegal sekalipun! Bagaimanapun, tinggi badan Windy hanya 160cm, ia takkan pernah sejajar dengan cowok itu.
Setelah mengatakan ia ingin bicara dengan cowok itu, Windy harus langsung mendapatkan jawaban yg sangat pahit. Cowok itu tak mau jika Windy tak langsung bicara saat itu juga. Windy memutuskan untuk mencoba taktik rayuan. Ia tersenyum lalu menunjukkan wajah memelas.
''Aku gag bisa bicara disini,''kata Windy. ''Ikut sebentar denganku, ya? Gag lama kok! Sumpah!''bujuk Windy.
''Kalau nggak disini, ya udah,''kata cowok itu dan berjalan melewati Windy
''E.eehhh.eehh...''Windy langsung mengejar cowok itu. Ia kembali menghadang cowok itu. Kali ini sambil merentangkan tangan'a lebar2. Berharap bisa mengahalangi cowok itu. Namun cowok itu malah menerobos'a.
''Eehhh, tungguuuuuu,''kata Windy dan menarik tangan cowok itu dengan sekuat tenaga. Kebetulan mereka melewati ruang Lab yg Windy harap sedang kosong. Tanpa pikir panjang Windy langsung menarik cowok itu masuk ke dalam Lab. Windy langsung menutup pintu dan menguncinya. Kemudian berdiri menghalangi di pintu. Tak peduli dengan tatapan galak yg diberikan cowok itu.
Windy menari napas panjang. Haha, dia berhasil menyudutkan cowok gorila itu! Meski sekarang cowok itu tengah bersedekap, menunggu.
''Sebelumnya aku minta maaf udah mengganggu kamu,''kata Windy. ''Aku Windy, dari kelas XI 3. Aku butuh bantuan kamu, Daniel,''kata Windy lagi.
''Kenapa aku?''tanya cowok bernama Daniel itu skeptis.
''Karena cuma kamu yg bisa bantu aku!! Aku yakin, kalau kamu, mereka pasti nggak berani mendekat. Aku nggak bisa bikin mereka menjauh sehingga aku gag bisa konsentrasi belajar untuk ujian akhir,''kata Windy frustasi.
''Apa masalahmu? Aku gag mau terlibat dalam urusan yg gag penting!''sahut Daniel
Windy meraih tangan Daniel dan menatap'a lurus2. ''Aku mau kamu jadi pacarku!''kata Windy
Cowok bernama Daniel itu mengerjap beberapa kali. Seolah Windy baru saja memintanya jadi seorang spiderman dan merangkak di langit2. Jadi Windy langsung menambahkan dengan cepat. ''Pura2 aja. Cuma sampai UAS selesai! Please, Daniel.. Aku cuma bisa minta tolong kamuu,''pinta Windy
Cowok itu, Daniel, menarik tangan'a dengan kasar dan tentu saja menolak mentah2.
''Nggak! Cari orang lain aja! Enak aja minta tolong hal aneh begitu! Aku juga sibuk belajar. Lagian kita nggak saling kenal sama sekali,''sahut Daniel
Windy meringis. ''Justru karena kita nggak saling mengenal.. Aku memerlukan orang yg gag menyukaiku,''kata Windy mendesah. ''Dengar, aku janji nggak akan menyusahkan kamu, Dan! Kamu cuma perlu berlagak kita punya hubungan spesial. Minimal di sekolah kita harus terlihat bersama2 dan akrab. Supaya orang2 percaya kalau aku udah punya pacar. Kamu kan pintar, juara 1 umum, aku mungkin bisa belajar dari kamu,''kata Windy penuh kepasrahan. ''Aku bahkan rela melakukan apa aja sebagai imbalan'a,''kata Windy dramatis agar Daniel tersentuh. Tapi boro2 tersentuh. Wajah cowok itu masih saja tak terbaca. Windy jadi menebak2 apa kira2 jawaban cowok itu setelah ia mengajukan usul nekat itu. Windy sudah tidak punya amunisi untuk melawan Daniel. Kalau ini juga gagal, Windy mungkin akan menangis dan mengiba di kaki cowok itu!
''Oke,''
Jawaban yg tak terduga itu membuat Windy terbelalak. Windy terperangah. Dia baru saja hendak menghambur dan memeluk Daniel, bahkan mencium'a karena kesediaan cowok itu membantu'a. Tapi semua tindakan euforia itu batal ketika mendengar syarat yg mengikuti persetujuan Daniel tadi.
''Aku mau pura2 jadi pacarmu,''kata Daniel. ''Dengan syarat, kamu nggak boleh jatuh cinta padaku!''

BOYFRIEND  #3
Bukan hanya cewek didepan'a yg kaget. Daniel juga kaget mendengar dirinya berkata seperti itu. Dan cewek itu, Windy, terlihat sangat kaget. Daniel berhasil menyembunyikan kekagetan'a dengan baik dan menampilkan wajah datar'a.
''Kalau nggak setuju juga nggak apa,''kata Daniel
''Ehh, iya! Aku setuju!''sahut cewek itu cepat. Kemudian dengan ragu dan bingung ia menambahkan, ''Aku gag akan jatuh cinta sama kamu,''
Daniel menahan senyum gelinya. Menarik juga cewek ini. Jelas2 cewek itu punya banyak pertanyaan yg berseliweran dikepalanya. Tapi cewek itu, Windy, berusaha keras menahan lidah'a. Mungkin ini bisa menjadi selingan untuk rasa bosan'a, pikir Daniel.
''Selain itu, aku nggak mau berakting kalau kita cuma berdua. Aku cuma jadi 'pacar' kamu di muka umum. Dan kamu gag boleh mempertanyakan tindakanku. Kamu tinggal lihat dan ikuti,''kata Daniel tegas
''Tunggu, aku oke2 saja dengan syarat2 itu. Tapi aku juga punya syarat2ku. Antara lain'a kamu gag boleh ambil kesempatan atas diriku, ya? Kita pacaran cuma sebulan, hingga UAS selesai,''kata Windy
''Ya,''kata Daniel. ''Kalau udah selesai, aku mau pulang,''kata Daniel.
Kali ini langkahnya tidak dihalangi lagi. Cewek bernama Windy itu lngsung menyingkir dan membiarkan Daniel membuka pintu. Tapi Daniel berhenti ketika sudah ada di luar. Daniel melirik ke balik bahu'a.
''Kamu pulang sendirian?''tanya Daniel
''Eh, i..iya sih,''sahut Windy
''Ayo, kalau begitu,''kata Daniel dan kembali melanjutkan langkah'a. Kalau mau bermain peran, bukan'a lebih baik secara total? Jadi Daniel berpikir kalau memang ia akan bersama dengan cewek itu sebulanan ini, bukankah lebih baik membiasakan diri? Daniel bisa merasakan Windy dengan ragu mengikuti'a.
''Sekarang ceritakan apa masalahmu,''kata Daniel
''Aku pikir kalau aku punya pacar, mereka akan menyerah..''kata Windy
''Siapa yg kamu sebut dengan 'mereka' sejak tadi?''
Windy menarik napas panjang dan menghembuskan'a dengan lelah. ''Mereka itu adalah anak2 cowok di sekolah ini. Tiap hari ada saja yg menyatakan cinta sama aku. Aku merasa terganggu karena aku nggak bisa membalas perasaan mereka. Dan menolak orang itu sangat membebankan. Coba pikir, mereka itu makin ditolak makin menjadi! Mereka pikir aku belum siap atau apa. Aku sendiri heran dari mana mereka mendapatkan pemikiran seperti itu. Apa coba yg mereka lihat dariku?''oceh Windy panjang lebar. Daniel mendengarkan dengan tenang. Sementara ia memperhatikan tindak tanduk Windy yg tampak waswas ketika mereka melintasi lapangan basket untuk menuju lapangan parkir. Kmudian Daniel tau apa yg membuat gadis itu waspada.
Tiba2 entah darimana, muncul gerombolan cowok2 yg langsung mngerubungi Windy. Membuat Windy kelabakan menghadapinya. Semua'a berebut ingin mengantarkan Windy pulang.
Daniel pun maju dan menyeruak kerumunan itu. Kemudian ia melingkarkan tangan'a di pinggang Windy dan menatap satu per satu mata yg memandang'a.
''Ayo,''kata Daniel pada Windy, tapi tatapan membunuhnya masih tertuju pada cowok2 disekeliling Windy. Yg langsung saja bikin bulu kuduk merinding.
Daniel menuntun Windy ke mobil'a yg terparkir tak jauh disana.
''Thanks.. Kamu memang penyelamatku,''bisik Windy penuh terimakasih
Karena masih di lingkungan sekolah, Daniel membukakan pintu mobil untuk Windy dan menyuruh Windy masuk. Tak peduli apakah Windy ragu2 atau tidak. Kemudian Daniel melajukan mobil'a keluar dari lingkungan sekolah. Akan tetapi, begitu melewati tikungan pertama, Daniel menghentikan mobil'a di dekat halte bus.
''Turun,''perintah'a pada Windy
''Hah?!''gadis itu tampak shock. ''Disini?? Yang benar saja donk!''protes'a.
''Turun. Aku kan nggak bilang akan mengantar kamu pulang ke rumah? Jadi turun sekarang juga,''kata Daniel enteng
Sambil menggerutu Windy membuka pintu mobil Daniel dan keluar. Windy bahkan belum sempat mengeluarkan segala protes'a saat tanpa menunggu lagi, Daniel langsung tancap gas. Meninggalkan Windy yg mencak2 marah. Daniel bisa melihat cewek itu mengacungkan tinjunya ke udara dan memaki2 dirinya dari kaca spion. Daniel terbahak2. Permainan ini tampak lebih seru dari yg ia bayangkan..


BOYFRIEND  #4
Windy turun dari mobil dan langsung menuju gerbang sekolah. Ia masih sebal kalau mengingat apa yg sudah dilakukan Daniel kemarin. Tega2nya cowok itu menurunkan'a di halte! Gara2 itu Windy harus menunggu selama hampir setengah jam sampai sopir papa'a datang menjemput'a. Dasar cowok tidak berperasaan! Kalau bukan karena Windy memerlukan bantuan'a, Windy pasti ogah berurusan dengan'a.
Sudah jutek, sombong lagi! Gag salah kalau rumor menyebut'a Cowok Es. Selain punya tatapan menakutkan yg bikin siapapun membeku, cowok itu juga punya postur yg bikin nyali orang menciut. Tapi cowok itu punya tampang yg oke banget, Windy akui itu. Dan Windy juga akui kalau ia bahkan tidak sampai sepundak cowok itu. Dan jangan2, kalau Windy membuat'a tersinggung, malah bisa jadi Windy yg akan dikemplang! Hiiee, memikirkan'a saja sudah membuat Windy bergidik. Membayangkan kalau cowok itu mungkin saja sekejam itu...
''Siang banget kamu,''
''Wuuahhh,''seru Windy kaget. Dia terlompat ketika mendengar suara yg paling datar itu ditelinga'a. Padahal Windy sangat tidak mau melihat cowok itu.
''Gag usah sekaget itu deh,''kata Daniel
''Jangan menyelinap gitu, bisa gag siah?''desis Windy. Ia mengelus dada karena masih deg2an. ''Kupikir aku bakal jantungan..''
''Ini kan rencana kamu. Lagipula harus'a kamu berterima kasih sama aku,''kata Daniel
''Hah? Terima kasih? Maksudmu...''Windy tak menyelesaikan ucapan'a ketika matanya menyapu sekeliling. Windy akhir'a menyadari kalau saat itu ia dan Daniel tengah menjadi pusat perhatian. Mau tak mau Windy merona malu. Ia melirik pada Daniel yg tampak memasang wajah datar'a. Uhh, coba tuh cowok memberitau'a, ia kan bisa bersikap lebih akrab! Sebagai ganti rasa malu'a, Windy mulai melempar senyum kepada Daniel. Bersikap seolah2 mereka sedang membahas hal menarik.
''Oke, kali ini aku mengaku aku teledor. Tapi aku masih jengkel gara2 kemarin,''kata Windy jengkel, meski senyum tak sirna dari wajah'a.
''Yang mana?''tanya Daniel, dan seolah membalas Windy, ia juga melemparkan senyum tipis'a yg menggoda.
''Jangan pura2 lupa deh, dasar jahat,''desis Windy. Kemudian tersenyum pada beberapa cowok yg menatap patah hati ke arah'a ketika Windy lewat. Ia kembali menatap Daniel. ''Lupakan.''
Kedua'a kemudian harus bertahan selama lima menit penuh untuk sampai di kelas Windy. Lima menit penuh berpura2 menunjukkan wajah saling memuja satu sama lain. Huueekk, Windy nyaris mual. Nyaris, tapi. Dan begitu mereka telah melewati lorong yg ramai, kedua'a langsung berlagak tak kenal. Hanya saja, begitu sampai di depan kelas Windylah sikap pura2 mereka kembali lagi. Daniel mengantarkan Windy sampai betul2 tiba di depan kelas'a. Dan Daniel bersikap cukup manis dengan mengacak2 rambut Windy sambil melemparkan senyum tipis'a. Itu menurut pandangan orang yg melihat. Aslinya, Windy gondok abis karena Daniel sengaja mengusutkan rambut'a. Kemudian cowok itu pergi ke kelas'a. Windy yg baru saja masuk ke kelas, langsung dicegat oleh teman2 cewek2'a dan diintrogasi perihal hubungan'a dengan Daniel. Dan Windy sudah menyiapkan jawaban'a.
***
Windy Rania Kharisma. Cewek paling populer di SMA Plato. Diincar semua cowok berbagai tingkatan dengan berbagai suku bangsa, dan sudah menolak cinta nyaris puluhan kali. Manis, ramah, dan baik hati.
Daniel mencerna informasi mengenai yg di dapatkan'a dari Roki, sahabat'a.
Ternyata cewek itu sangat terkenal di kalangan cowok dan dibenci di kalangan cewek. Tapi menurut Daniel, cewek itu biasa saja. Kecuali keras kepala dan semangat bajanya yg pantang menyerah dan tak mau kalah itu.
Memang sejak pertengahan awal tahun pelajaran lalu Daniel sudah mendengar desas-desus tentang Windy. Bahkan pernah beberapa kali berpapasan dengan'a. Kenapa ia mau membantu cewek itu? Apakah alasan bosan bisa dijadikan acuan? Mungkin Daniel memang bosan dengan keseharian'a yg monoton dan nyaris tanpa gairah, tapi bermain2 dengan perasaan bukanlah cara mencari hiburan yg tepat. Sebosan2nya ia, Daniel tak pernah bermain2 dengan perasaan orang maupun dengan perasaan'a sendiri. Itu bukan cara Daniel. Jadi kenapa ia mau membantu? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Windy memang menarik Daniel mengakui hal itu. Tapi ia tidak berminat terlibat terlalu jauh dengan yg nama'a cewek. Ia sudah pernah dikecewakan berkali2 oleh yg nama'a cewek. Dimata Daniel, semua cewek itu sama. Mereka kalau tidak melihat tampang'a, maka pasti melihat hartanya. Atau lebih parah lagi, dua2nya. Sudah cukup ia mencari2 ketulusan. Ia yakin didunia ini tidak ada yg nama'a ketulusan. Dan Daniel tak mau terjerat dengan Windy.
Karena Daniel tidak yakin bisa bersikap baik. Sikap posesif dan melindungi apa yg ia miliki sudah mendarah daging dikeluarga'a. Bahkan sikap protektif mereka sudah sangat terkenal. Bahkan sampai saat ini Papanya masih sangat cemburuan jika melihat pria lain melirik mama'a. Dan Daniel tau ia pun akan begitu. Jadi lebih baik menjauh sebelum terjerat..


BOYFRIEND  #5
Sambil tersenyum puas, Windy menebarkan pandangan ke sekeliling'a. Memang reaksi'a terlalu heboh dan sedikit membuat kelabakan karena banyak pertanyaan yg datang. Tapi efek sesungguhnya dari beredar'a kabar ''jadian''nya dengan Daniel cukup untuk membuat cowok2 penggemar'a berpikir panjang sebelum mendekatinya lagi. Karena itulah Windy bisa sedikit bernapas lega. Meskipun tinggal tunggu waktu sampai kabar ini betul2 menyebar ke seluruh sudut sekolah. Maka masalah paling besar dan paling sulit disingkirkan akan muncul.
Windy tidak tau bagaimana reaksi yg akan muncul. Mungkin Daniel akan ditantang duel oleh makhluk idiot itu. Ada baik'a kalau Windy memperingatkan Daniel lebih dulu supaya cowok itu tidak marah karena kaget. Windy tidak mau membayangkan kalau sampai Daniel murka.
Karena itulah, saat jam istirahat tiba Windy langsung menuju kelas Daniel. Dan di perjalan singkat itu ia memarahi dirinya sendiri karena tidak meminta nomor ponsel Daniel. Jadinya kan tidak perlu repot begini.
Sampai didepan kelas Daniel, Windy melongokkan kepala'a sedikit ke dalam kelas. Melihat situasi kelas yg tidak terlalu ramai tapi cukup bising. Windy menemukan Daniel tengah duduk di bangku'a sembari membaca buku. Wiih, jam istirahat juga belajar??batin Windy takjub.
Windy ingin masuk ke dalam, tapi ragu2. Aneh nggak ya kalau ia menghampiri Daniel di kelas'a? Gimana kalau cowok itu marah? Ah, tapi kan perjanjian'a mereka jadi sepasang kekasih. Bukan hal aneh donk kalau Windy menemui 'pacar'nya? Duh, tapi kan Windy membuat skenario Daniel yg menyatakan cinta'a.
''Kamu mau berdiri disini berapa lama?''
Windy berjengit kaget dan mendongak. Ia meringis saat melihat Daniel berdiri menjulang di hadapan'a, bersandar santai di ambang pintu kelas.
''Ah, sebenar'a aku kesini cuma mau ngasih tau sesuatu sama kamu,''kata Windy. ''Aku pikir lebih baik kamu tau sebelum nanti betul2 udah kejadian,''tambah'a dan menunggu respon Daniel.
''Apa?''tanya Daniel
''Gosip tentang kita udah mulai tersebar. Nggak lama lagi seluruh sekolah akan tau soal kita. Dan ada seorang cowok, dia tuh keras kepala dan gag bisa dengerin omongan orang. Aku takut mungkin dia bakal bikin kekacauan. Mungkin dia bakal nantangin kamu tau apa, jadi lebih baik kamu siaga kalau seandai'a sewaktu2 dia...''perkataan Windy terputus oleh sebuah teriakan melengking yg sangat norak dan bikin malu. ''...muncul,''kata Windy lemah. Ia kemudian menoleh ke asal suara dan meringis ketika seorang cowok melesat ke arah'a dengan kecepatan setara bison Afrika. Cowok itu langsung meraih tangan Windy dan menggenggam'a erat2 didadanya.
''Windy, gosip itu bohong kan?? Aku yakin itu salah satu gosip murahan yg disebarin oleh orang2 yg gag bertanggung jawab kan?! Windyku gag akan selingkuh kan ya?!''berondong cowok itu, yg dilihat dari dasi'a, jelas2 berada satu tingkat dibawah Windy.
Windy meminta tolong pada Daniel lewat tatapan panik'a. Berharap cowok itu akan menyelamatkan'a dari situasi memusingkan ini. Ditambah lagi tangan'a sudah mulai mati rasa!
Daniel menatap pendatang baru itu dengan tatapan menilai. Kemudian ia maju dan menyeruak di tengah2 antara Windy dan cowok itu. Seperti'a tindakan'a itu membuat cowok itu menyadari keberadaan Daniel. Ia mendongak dan menatap Daniel kesal, lalu beralih pada tangan Daniel yg berada di pundak Windy. Tapi tatapan kesal itu kembali ditujukan pada Daniel. Hmm, berani juga, pikir Daniel
''Kamu bisa lepaskan cengkramanmu dari Windy,''kata Daniel tenang.
''Kamu siapa?! Kamu yg harus'a lepasin tanganmu dari Windy'ku!''sahut cowok itu
Windy menutup mata. Pusing! ''Gini ya, Erik..''kata Windy sabar
''Siapa aku?''Daniel mengulanginya, memotong ucapan Windy. ''Aku pikir kamu udah mendengar gosip tentang aku dan Windy,''kata Daniel
Mata cowok itu membelalak, kemudian ia menatap mara pada Daniel. Ia melepaskan tangan Windy, tapi sebagai ganti'a, ia mengepalkan tangan'a di kedua sisi tubuh'a.
Windy buru2 menyela, sebelum betul2 terjadi baku hantam. Ia tidak meminta Daniel bertarung demi menolong'a. ''Ng..Erik, ini Daniel. Dia..pacar aku,''kata Windy manis, meski dalam hati deg2an abis.
''Tapi.. itu kan gosip!''ujar Erik, tampak terluka. Mirip anjing yg ditelantarkan. Aiih, mengenaskan.
Windy jadi kasihan, tapi ia harus mengatakan'a pada Erik.
''Itu sungguhan. Aku dan Daniel memang jadian,''kata Windy lembut.
Erik menatap Daniel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menyadari ia kalah tinggi, tapi itu tetap tak membuat'a gentar. Kemudian tatapan'a kembali pada Windy yg tampak serba salah.
''Bohong!! Kalian bohong!!''tegas Erik.
Windy baru saja hendak meyakinkan Erik kembali ketika tangan Daniel melingkari bahunya dan menarik'a mundur. Merapat ke sisi cowok itu. Seketika jantung Windy serasa dihantam gelombang tsunami. Windy sampai tercekat dan menegang. Daniel pasti tidak sengaja melakukan'a. Itu pasti cuma tindakan spontan. Ini semata2 untuk memperkuat kesan seorang 'pacar' dimata Erik. Iya, Windy yakin itu.
''Terserah kamu mau bilang apa. Tapi fakta gag akan berubah,''kata Daniel. ''Aku dan Windy memang pacaran. Jadi lebih baik kamu mundur dan jangan ganggu kami,''lanjut'a dengan tenang yg mengancam.
Kemudian Daniel menarik Windy pergi dari hadapan Erik. Sengaja tidak melepaskan rangkulan tangan'a sampai mereka jauh dan tidak dilihat Erik lagi.
Dan Windy lagi2 hanya bisa tercekat. Ia mengikuti Daniel layak'a robot!!


BOYFRIEND  #6
Hari2 berlalu dengan tenang. Erik tidak pernah muncul di depan Windy. Belum, pikir Daniel. Erik pasti akan muncul lagi. Firasat Daniel mengatakan kalau Cowok itu termasuk tipe kulit badak alias bebal. Daniel yakin dia sedang merencanakan hal lain. Mungkin mencari informasi sebanyak2nya, kemudian baru menyerang.
Daniel kemudian memperhatikan Windy yang tampak sibuk berkutat dengan soal2 matematika di hadapan'a. Cewek itu mengaku dirinya sudah bisa bernapas lega karena kini cowok2 yg biasa mendekati'a sekarang telah mundur teratur begitu tau Daniel adalah pacar'a. Daniel tak mengira, ternyata Windy memang cewek aneh. Cewek itu membawa kue brownies sebagai imbalan dan tanda perayaan sukses'a rencana awal mereka.
''Ini brownies spesial buatan Mamaku. Aku kasih ke kamu sebagai tanda terima kasih,''kata Windy saat itu. Dan karena cewek itu memberikan'a di sekolah, dikantin pula, sesuai perjanjian, Daniel pun harus menerima'a. Karena kalau tidak, orang2 akan curiga. Saat itu, Daniel sempat memiliki keinginan untuk mencekik Windy.
Kemudian, Windy mengambil inisiatif menyuapi Daniel. Yg ini sempat membuat niat selentingan Daniel tadi hampir terealisasi. Tapi, selidik punya selidik, ternyata Windy melakukan'a karena Erik juga ada di kantin.
Daniel jadi menahan senyum. Ia pun mengikuti permainan yg sedang dilakoni Windy. Ia sengaja menyentuh pipi Windy dan membersihkan remahan brownies di sudut bibir Windy dengan tissue. Saat itu tubuh Windy langsung sekaku papan cucian dan mata'a membelalak menatap Daniel. Dan Daniel cuma melemparkan senyum tipis'a. Windy kelihatan jengkel, karena wajah'a memerah dan senyum'a dipaksakan.
''Kenapa lihatin'a begitu?''tanya Windy yg sadar sedang diperhatikan
Daniel memasang ekspresi datar. ''Asik aja lihat kamu ribet sendiri buat ngerjain soal semudah itu,''sahut'a. Jelas2 cuma alasan. Daniel tidak mau Windy besar kepala jika tau dirinya sedang memikirkan berbagai kejadian selama satu setengah minggu ini.
''Terus aja ngeledek! Dasar sombong! Mentang2 kamu pintar!''sungut Windy. Ia terpaksa menjaga suara'a sepelan mungkin karena saat itu perpustakaan sedang hening.
Daniel meraih kertas buram ditangan Windy. Ia berdecak dan mulai membuat rumus matematika sembari menjelaskan'a pada Windy. Windy buru2 bangkit dan memutari meja. Ia kemudian mengambil tempat duduk disebelah Daniel dan mendengarkan baik2 penjelasan Daniel. Rasa kesal cewek itu hilang seketika dan pikiran'a terpusat pada penjelasan Daniel. Ia juga langsung bertanya2 jika tak mengerti.
Daniel menahan senyum'a. Ia menyadari ternyata belajar jadi tidak membosankan jika ada Windy. Cewek itu begitu transparan. Ia mendengarkan dengan serius layak'a murid yg rajin. Dan ia juga mudah mengerti.
Hampir sejam mereka belajar setelah sekolah bubar. Sekarang kedua'a sedang meregangkan otot2 yg pegal dan berbincang ringan. Jika itu bisa disebut berbincang2.
''Kamu jenius, tapi kok gag kelihatan sih?''tanya Windy. ''Yang aku tau ya, orang jenius tuh biasa'a kutu buku, pakai kacamata, rambut belah tengah dan seragam ekstra rapi. Sedangkan kamu malah kebalikan'a.''
''Aku pakai kacamata, hanya saat aku membaca. Dan jenius itu memang bawaan lahir,''sahut Daniel enteng
''Waaahh, asik ya? Gag perlu belajar udah pintar,''
Daniel menatap tajam pada Windy, ia mendengar nada sindiran dalam pernyataan tadi. ''Tanpa belajar jenius itu gag berarti,''sahut Daniel
''Tapi tetap aja..''sungut Windy
''Percuma mengeluh. Kamu gag akan jadi pintar dengan mengeluh,''kata Daniel
''Ish, cowok kejam,''cibir Windy
''Terima kasih. Suatu kehormatan aku dibilang kejam oleh otak utang sepertimu,''balas Daniel
Windy mendelik. Daniel balas menatap dengan datar. Kedua'a saling tatap, kemudian memberekan buku. Gencatan senjata telah usai! Kedua'a keluar dari perpustakaan sambil membuang muka ke arah lain.
Tiba2 saja Erik muncul. Menghadang langkah Daniel dan Windy. Senyum mencemooh terukir di wajah'a.
''Wah, wah, berantem nih?''kata Erik
Baik Daniel maupun Windy tak ada yg menjawab. Erik pun melanjutkan, seolah memang mengharapkan tak ada jawaban dari Windy ataupun Daniel.
''Belum jadian lama kok udah ribut. Mana keromantisan yg disebut2 orang?''
''Erik,''Windy menyela. ''Kami nggak berantem. Kami cuma beda pendapat saat belajar tadi. Dan dimana aneh'a kalau aku ngambek saat Daniel bilang aku bodoh? Nggak kan?''kata Windy. ''Lagian Daniel tau aku nggak betul2 marah. Iya, kan, Dan?''kata Windy dan mendongak menatap Daniel. Mengancam.
''Apa yg membuatmu gag puas?''tanya Daniel langsung pada Erik. ''Kalau kamu memang gag terima, bilang aja,''kata Daniel lagi.
Erik maju dan berdiri menantang dihadapan Daniel. ''Jelas aku gag puas!''sahut Erik. ''Jadian'a kalian tuh gag normal! Bahkan gag ada yg tau kapan kalian mulai PDKT!''
''Memang'a kalau aku mau PDKT dengan Windy harus lapor sama kamu? Memang'a kamu siapa? Adik'a? Pacar'a? Atau suaminya??''cecar Daniel
''Aku yg lebih dulu kenal Windy!! Aku yg lebih dulu menyukai'a! Kamu yg gag jelas gag pantas buat dia!!''teriak Erik marah
''Lalu kenapa? Apa yg kamu dapatkan dengan mengenal'a lebih dulu? Kamu tau perasaan itu tak bisa dipaksakan?''Daniel mengucapkan kalimat terakhir itu dan diam2 merenungkan'a sendiri. Mungkin bukan hanya Erik yg harus diberitaukan soal itu. Dirinya sendiri juga sedang bermain2 dengan perasaan kan?
''Berhenti, kalian berdua!''teriak Windy dan memisahkan Erik dari Daniel. Seperti'a cewek itu mengantisipasi terjadi'a baku hantam. Hal yg wajar, karena apa yg sedang mereka perjuangkan saat itu adalah kepura2an.
''Tolong jangan membicarakan aku seolah2 aku nggak ada disini!''bentak Windy marah. ''Erik, aku udah bilang kan kalau aku dan Daniel udah jadian!. Dan sejak awal aku udah bilang aku gag bisa membalas perasaan kamu!''kata Windy terdengar putus asa.
Erik terdiam dan menatap marah pada Daniel. Kedua tangan'a terkepal kuat. Daniel juga dalam keadaan siap jika tiba2 Erik menyerang. Sementara Windy tampak sangat putus asa. Daniel memperhatikan kerut2 yg menghiasi kening Windy. Dasar, cewek itu betul2 tidak bisa menyembunyikan perasaan'a.
''Kalau begitu buktikan! Tunjukkan kalau kalian memang betul2 saling jatuh cinta!''kata Erik tiba2.
''Maksud kamu?''tanya Windy tak mengerti
Erik tersenyum sinis. ''Aku mau lihat kalian ciuman! Kalau kalian memang jadian, hal seperti itu gag aneh kan?''
Windy membelalak. Ck, dasar cewek itu, batin Daniel. Kemudian Windy menatap Daniel. Daniel bisa melihat kepanikan di mata Windy.
''Dan..''kata Windy, berharap Daniel punya cara untuk lepas dari masalah itu.
Daniel menghembuskan napas. ''Kalau kami ciuman, apa kamu gag bakal ganggu kami lagi?''tanya Daniel
''Daniel!''sergah Windy
Erik mengangguk. ''Ya,''kata Erik puas.
''Oke, fine,''desah Daniel. Kemudian tanpa aba2 dia meraih pinggang Windy. Dengan tangan kiri'a ia mendongakkan wajah Windy. Terakhir, ia menundukkan wajah'a ke wajah Windy.
Daniel melihat Erik mengepalkan tangan dan membelalak. Perasaan tak percaya'a betul2 jelas. Sehingga ia tidak memperhatikan lebih seksama dan langsung balik badan. Daniel memperhatikan Erik yg berlari pergi sambil berteriak marah.
Setelah yakin Erik telah jauh, Daniel menegakkan tubuh'a. Ia menatap ke arah Erik pergi.
''Dasar,''gerutu Daniel.
Windy masih kaku di pelukan Daniel. Jantung'a bertalu2 bahkan sampai ke telinga'a. Ia pikir ia akan mati jantungan!
Daniel kemudian mengalihkan perhatian'a pada Windy. Alisnya berkerut. ''Kenapa kamu?''tanya'a. Masih gag sadar kalau diri'a masih memeluk Windy
Wajah Windy memerah dan ia cuma bisa melotot pada Daniel.
Daniel menaikkan sebelah alisnya, ia tersenyum menggoda dan menundukkan wajah'a hingga ia bisa berbisik di telinga Windy.
''Apa kamu pikir aku beneran bakal mencium kamu?''bisik'a.
Blusshh.. Wajah Windy seketika memerah.
Daniel pura2 cuek. Jadi begitu sadar dia masih memeluk Windy, ia pun langsung melepaskan tangan'a. Dia menatap Windy yg tampak ingin sekali membunuh seseorang. Dugaan Daniel, dialah target pertama'a.
Daniel tidak mencium Windy. Ia hanya membuat seolah2 diri'a dan Windy memang berciuman jika dilihat dari belakang. Nyata'a, ia hanya menunduk , menelengkan kepala dan menggunakan tubuh Windy untuk menghalangi pandangan Erik. Siapa sangka cowok itu akan mudah terpedaya begitu? Daniel sendiri jelas2 takkan tertipu dengan trik itu.
Tapi tampak'a tindakan'a itu membuat Windy kaget setengah mati. Dasar cewek polos.
''Dasar cowok jahat! Kenapa kamu gag bilang kalau kamu bakal pura2 nyium aku?!''hardik Windy begitu ia menemukan suaranya.
''Cuma itu cara yg kupikir akan berhasil,''sahut Daniel masa bodoh
''Tapi gag perlu seekstrem itu donk!''sahut Windy.
''Bocah macam itu perlu cara2 ekstrem untul membuat'a kapok,''sahut Daniel tenang.
Windy tampak tak bisa mendebat. Daniel merasa puas bisa membuat cewek itu bungkam. Kekawatiran'a sungguh sangat tidak beralasan. Bukankah dulu dia sudah setuju menyerahkan semua'a pada Daniel? Tampak'a cewek itu lupa. Dan Daniel pikir perlu membuat cewek itu tak bisa mendebat'a.
''Dasar cowok kejam!''kecam Windy akhir'a. Ia berbalik pergi mendahului Daniel.
Daniel memutar bola mata'a. Sungguh balasan yg kreatif. Rupanya selain mudah ditebak, cewek itu juga miskin kosa kata untuk mencaci maki orang.


BOYFRIEND  #7
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Mungkin dulu Windy mengatakan ia takkan tertarik. Karena kali pertama mereka tak saling mengenal. Tapi bagaimana setelah waktu yg terlewati, mereka justru saling menyadari keberadaan masing2? Mampukah hati menolak getaran yg mulai timbul? Dan sanggupkah hati menolah memberikan respon?
Windy sulit tidur malam itu. Mengingat telah banyak waktu yg berlalu. Dan tanpa terasa 3hari lagi UAS akan berakhir. Berhari2 Windy menghabiskan waktu untuk belajar bersama Daniel. Baginya, Daniel adalah tutor yg hebat. Berkat penjelasan Daniel, semua soal yg Windy tak mengerti dulu, sekarang terlihat jauh lebih mudah. Akan tetapi, kenyataan juga tak bisa dipungkiri lagi. Semakin lama waktu kebersamaan itu jadi semakin sedikit. Perjanjian'a dengan Daniel pun akan segera berakhir. Windy tak bisa lagi bersama2 dengan Daniel. Gag bisa berdebat. Dan gag bisa berpura2 jadi sepasang kekasih lagi..
Kenapa Windy jadi sedih? Bukankah sejak awal memang itu rencana'a? Mereka kan cuma jadian selama sebulan. Eh, ralat, pura2 jadian selama sebulan.
Windy berguling diatas ranjang'a beberapa kali. Kemudian dengan kesal ia duduk dan menarik2 rambutnya yg panjang dengan frustasi.
''Duuh, aku kenapa sih?! Windy, sadar donk! Kamu itu nggak suka sama cowok angkuh, seenak'a dan kejam itu! Buat apa kamu sedih!?''
Tapi bukan'a merasa lebih lega, Windy malah makin teringat dengan Daniel. Kebersamaan mereka beberapa minggu belakangan ini sungguh menyenangkan. Saat Daniel dengan sabar mengajari'a belajar. Saat Daniel melindungi'a dari cowok2 yg belum mau menyerah, cara Daniel merangkulkan ketika berpapasan dengan Erik. Betapa alami rasanya sehingga Windy jadi terbuai. Genggaman hangat tangan Daniel ketika melingkupi tangan'a. Bahkan beberapa kali gerutuan Daniel tentang betapa menyusahkan'a Windy, tapi cowok itu tetap mengantar'a pulang.
Niat awal Windy yg tidak mau terlibat jauh dengan Daniel, tampak'a tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena selama beberapa minggu ini bersama Daniel, Windy jadi tau kalau Daniel sebenar'a baik, tidak seheboh gosip.dibalik sosok'a yg mengintimidasi, sebenar'a Daniel adalah orang yg cukup perhatian dan lembut. Memang kata2nya sering kali menyakitkan, namun tindakan'a selalu berlawanan dengan kata2nya.
Setiap kali mereka terpaksa berpegangan tangan atau saat Daniel merangkulnya, semua itu dilakukan Daniel dengan lembut. Windy merasa rapuh dan lemah jika Daniel melepaskan tangan'a. Ia ingin berlama2 dalam moment itu..
''Aku harus gimana... Nggak mungkin kan aku jadi suka dia.. Ingat Windy, Daniel mau membantumu dengan syarat kamu gag boleh jatuh cinta sama dia!''Windy bicara pada dirinya sendiri.
Menyebalkan! Kenapa mengajukan syarat itu kalau sikap'a justru sangat menjerumuskan?! Apa cowok itu memang sengaja?! Ia tau kalau Windy akan jatuh cinta padanya? Kalau benar begitu, berarti Windy telah terperosok ke dalam pesona Daniel, dan tidak ada jalan untuk keluar selain memilih maju atau lupakan saja.
Windy menghempaskan tubuh'a ke tempat tidur dan mendesah keras. Pikiran'a galau. Tidak sadar kalau airmata mulai menetes dipipinya.
''Cowok menyebalkan! Syarat sialan!''kata Windy di tengah isakan'a.
***
Daniel menguap kemudian meregangkan tubuh'a. Ia menatap jam di dinding yg sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia menutup buku yg sedari tadi dibaca'a dan mematikan lampu belajar'a.
Daniel berbaring dan menatap langit2 kamar'a. Kedua tangan'a terlipat dibawah kepala'a. Kemudian dengan tangan kiri'a ia mengambil ponsel'a, hendak mengaktifkan alarm, namun tatapan'a terpaku pada tanggal yg tertera di ponsel'a.
Tiga hari lagi.
Tidak terasa betapa cepat'a waktu berlalu. Berarti permainan pun akan segera berakhir.
Permainan?katanya pada diri sendiri. Tapi sejak kapan ia mulai menikmati kesepakatan itu seperti sebuah permainan? Bahkan sebagian besar tindakan'a merupakan tindakan spontan. Contoh'a saat menyingkirkan daun yg menempel di rambut Windy ketika mereka belajar di halaman. Alih2 membersihkan, Daniel malah tergoda untuk merasakan lembut rambut itu ditangan'a.
Bukan hanya itu, selama waktu yg mereka habiskan bersama, Daniel menyadari beberapa hal tentang Windy. Dibalik sikap keras kepala'a, Windy ternyata memiliki kemauan yg keras. Bahkan meski tubuh'a mungil, tenaga cewek itu cukup kuat. Bukti'a tangan Daniel sampai biru gara2 Windy mencubit'a karena keberatan dengan improvisasi spontan'a.
Daniel juga ingat kejadian ketika ia berpura2 hendak mencium cewek itu guna meyakinkan Erik. Mata cewek itu membelalak maksimal dan tubuh'a sekaku patuh. Entah bagaimana Daniel malah menyesal. Harusnya saat itu ia sungguhan mencium Windy. Toh itu improvisasi. Pasti menyenangkan melihat reaksi cewek itu. Mungkin ia akan pingsan, atau mungkin Daniel akan mendapatkan sebuah tamparan. Tapi Daniel tidak melakukan'a. Ia sudah janji takkan mengambil kesempatan. Lagipula ia tak ingin bermain2 dengan perasaan orang. Windy terlalu polos. Dan Daniel sudah berjanji. Sampai waktu'a nanti perjanjian mereka berakhir, Daniel takkan melanggar janji'a.
Lagipula ia juga mengajukan syarat sialan pada Windy. Syarat yg bahkan sampai saat ini selalu membuat'a emosi tiap mengingat kebodohan'a itu.
''Idiot,''Daniel memaki diri'a sendiri. Ia menutup wajah'a dengan lengan dan tidur dengan kekesalan dalam pikiran'a.


BOYFRIEND  #8
Akhir'a hari itu tiba. Windy menjejakkan kaki'a di sekolah dengan perasaan super galau. Ia sudah memikirkan perasaan'a pada Daniel. Yang semakin dipikir malah semakin membuat'a depresi. Tidak ada pelajaran yg nyangkut di kepalanya ketika ia belajar kemarin malam. Dan sekarang Windy setengah mengantuk gara2 begadang untuk belajar. Windy menahan kuap'a. Ini semua salah Daniel! Coba sifat asli cowok itu tak beda jauh dengan rumor, pastinya Windy takkan begini! Daniel jelek! Daniel cowok iblis!
Kenapa ketika sekarang Windy jatuh cinta, tapi malah jatuh cinta pada orang yg salah?! Kalau Daniel sampai tau, cowok itu pasti akan merendahkan'a. Pasti kata2nya sangat menyakitkan. Windy yakin cowok itu akan tertawa dan dengan sombong'a mengatakan Windy tak bisa menepati janji. Tapi mau bagaimana? Hati kan tidak bisa diatur2!
Hiks, memikirkan'a saja sudah membuat Windy ingin menangis. Ini salah'a karena memaksa Daniel pura2 jadi pacarnya. Windy tidak akan menyalahkan Daniel.
''Setidaknya cobalah datang pagi saat ujian,''kata Daniel yg tiba2 sudah menjajari langkan Windy.
Dengan cepat Windy mengusap matanya yg mulai berkaca2 dan menolak menatap Daniel.
''Aku kemarin..''Windy berdeham, membersihkan tenggorokan'a yg seolah tersekat tadi. Dan menjaga agar suaranya agar tidak bergetar. ''belajar sampai tengah malam,''lanjut'a.
''Jangan maksain diri. Belajar itu harus rileks,''kata Daniel.
Windy cuma mengangguk2 tapi tidak juga menyahut ataupun menatap Daniel.
''Kenapa? Nggak biasa'a sediam ini,''kata Daniel. ''Ada yg gag kamu ngerti untuk ujian nanti?''
Windy menggigit bibir'a ketika merasakan kekhawatiran Daniel. Uhh, sampai kapan Daniel mau menyiksa'a??
''Aku gag diam. Aku cuma lagi mengingat2 pelajaran'a tau,''sahut Windy ketus. Kemudian supaya lebih meyakinkan, Windy melotot pada Daniel. ''Orang pintar gag bakal ngerti sama masalah orang bego!''
Daniel tertawa, yg biasanya jarang terjadi selama sebulanan ini. Dan kali ini pun tawa Daniel membuat Windy jengkel karena membuat jantung'a jadi tidak karuan. Daniel kelihatan senang sekali. Tawanya begitu lepas. Tidak ada kesan mengejek atau sinis yg biasa ia keluarkan.
''Jangan ketawa! Nggak ada yg lucu juga!''omel Windy sambil melayangkan tangan'a, hendak mencubit Daniel.
Daniel mengelak tepat waktu dan menangkap tangan Windy.
''Hei, tanganku yg kanan masih biru karena cubitanmu tempo hari tau!''kata Daniel. ''Aku gag mau tangan kiriku mengalami hal yg sama!''
''Makanya jangan ketawa, Daniel!!''sahut Windy jengkel.
Akan tetapi Daniel malah terkekeh2. Windy menarik tangan'a. Ia menyadari betapa berbahaya'a terlalu lama bersentuhan dengan Daniel. Meskipun hanya sentuhan ringan.
''Ayo, bentar lagi bel'a bunyi!''kata Daniel dan lagi2 ia menggandeng tangan Windy. Membuat Windy kehilangan kata2.
***
Daniel merasa ada yg aneh dengan Windy. Saat ia melihat cewek itu memasuki gerbang sekolah, ia sudah menduga ada yg tidak beres. Cewek itu terus2an menunduk. Bahkan tidak menyadari kedatangannya. Dan yg lebih aneh, menolak memandang'a.
Daniel terpaksa harus memancing kekesalan Windy agar cewek itu mau merespon'a. Dan meski cewek itu berusaha kelihatan kesal saat menatap'a, Daniel menyadari mata Windy memerah. Pertanda cewek itu hendak atau sudah menangis. Dan Daniel jelas tidak mempercayai alasan yg diberikan Windy.
Apa mungkin ia terlalu gugup karena hari ini ujian Matematika? Memang Windy lemah dalam pelajaran itu. Tapi akhir2 ini kemampuan'a sudah meningkat. Tak ada alasan untuk khawatur. Atau.. mungkinkah cewek itu menyadari ini hari terakhir kesepakatan mereka? Mungkinkah cewek itu juga merasa belum ingin hari ini tiba? Ah, tidak mungkin, Daniel menepiskan pikiran itu. Windylah yg menginginkan perjanjian ini. Tak ada alasan bagi cewek itu untuk menyesalkan berakhir'a kesepakatan itu.
Tapi Daniel juga tidak bisa melihat Windy murung. Jadi ia tidak punya pilihan selain membuat cewek itu kesal dan melupakan apapun yg dipirkan oleh cewek itu. Karena ia tidak punya pilihan. Membuat Windy marah, atau kalah oleh godaan untuk memluk cewek itu. Daniel pilih jalan aman. Karena ia tidak mau mengakui apa yg tengah ia rasakan.
Sial, hanya dalam waktu sebulan permainan ini menjadi jauh berbahaya. Bahkan bisa dibilang ini pertama kalinya ia terusik dan tidak konsen belajar hanya gara2 seorang cewek bawel nan keras kepala.
Daniel mengantarkan Windy ke kelas'a seperti yg biasa ia lakukan. Kemudian pergi ke kelas'a. Windy juga langsung masuk ke dalam kelas. Betul2 tidak seperti diri cewek itu yg biasa'a.
''Habis dari kelas'a Windy?''tanya Roki begitu Daniel duduk di bangkunya.
Daniel menjawab dengan anggukan dan mengeluarkan buku biologi dari tas'a. Masih ada waktu sebelum ujian pertama dimulai.
''Aku kira cuma sekadar gosip, ternyata kalian betul2 jadian toh,''kata Roki. ''Sejal kapan kamu bisa dekat sama cewek?''
Daniel mendengus. ''Pertanyaanmu nggak mutu. Langsung to the point aja,''sahut Daniel
Roki meringis. ''Yah, aku cuma mau tau aja. Kamu betulan serius ya sama cewek itu? Gimana pun dia kan bukan tipemu,, aneh aja kalau kalian jadian. Pdkt'a kapan coba? Ngobrol aja gag pernah.''
''Kenapa baru komplain sekarang? Aku rasa itu gag perlu dibahas,''kata Daniel
''Dan,''
''Toh kamu gag mungkin cemburu kan? Kamu kan cowok normal. Dan aku juga cowok normal,''sahut Daniel asal
''Sialan!''sahut Roki sambil meninju lengan Daniel. ''Aku ini bukan makhluk sesat tau!''
''Ayo, belajar. Sebentar lagi bel,''kata Daniel mengabaikan perkataan Roki. Karena kalau dilanjutkan, bisa2 Daniel akan kelepasan bicara. Windy bukanlah topik yg ingin Daniel diskusikan dengan Roki. Dan takkan pernah menjadi bahan diskusi.
Biarlah dirinya saja yg mengurusi masalah itu sendirian..


BOYFRIEND  #9
Waktu terasa cepat sekali berlalu. Tau2 UAS sudah berakhir. Murid2 SMA Plato bersorak girang karena 'neraka' mereka telah berakhir. Namun tidak bagi Windy dan Daniel. Keduanya justru lebih banyak diam'a. Begitu Windy keluar dari kelas, setengah jam lebih lama. 10menitan karena sedikit kesulitan di akhir soal, dan 20menit untuk melamun. Namun akhir'a ia memutuskan untuk keluar, tak ada gunanya menghindari sesuatu yg sudah pasti. Dan ketika akhir'a ia betul2 keluar dari kelas, ia langsung disambut dengan pemandangan Daniel yg tengah menunggunya. Cowok itu bersandar di pilar dengan kedua tangan di dalam saku celana. Windy memaksakan sebuah senyum cerah ketika menghampiri cowok itu.
''Ini hari terakhir!''kata Windy. Daniel cuma mengangguk. Windy menarik napas panjang. ''Ayo senyum. Setelah ini kamu gag akan terbebani olehku lagi. Sebulan ini aku sangat terbantu berkat kamu,''kata Windy. Ia meringis. ''Maaf ya, udah banyak ngerepotin kamu. Sekarang kamu udah bebas dari aku,''katanya lagi
Daniel menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah Windy. Ia berhenti beberapa puluh senti didepan Windy. Sekarang mereka berdiri berhadap2an.
''Permainan berakhir,''kata Daniel
Windy mengangguk. ''Iya, game over,''sahut Windy menunjukkan raut sedih, tapi detik berikut'a ia sudah tersenyum cerah. Windy tertawa kecil. ''Harus siap2 dikerubutin lagi nih,''kata Windy
Daniel menatap Windy dengan seksama, lalu meraih tangan cewek itu.
''Ayo, hari ini masih belum berakhir,''kata Daniel. ''Aku antar kamu sampai rumah.''
Windy tertegun sesaat, kemudian berjalan disamping Daniel. Tanpa sadar ia meremas tangan Daniel. Tangan yg besar dan hangat yg kini tengah membungkus tangan'a. Tak ingin melupakan kehangatan itu.
''Tapi jangan turunin aku di halte lagi ya?''kata Windy, menggoda
''Boleh juga,''sahut Daniel, yg langsung disambut cubitan pelan oleh Windy.
Daniel mengantarkan Windy pulang sampai di depan rumah'a. Setelah melalui 20menit perjalanan yg didominasi oleh keheningan, karena kedua'a tampak sibuk dengan pikiran'a masing2.
Ketika mobil Daniel berhenti di depan rumah Windy, tak ada yg bergerak. Keduanya sama2 diam, menunggu. Akhirnya Windy yg memecah keheningan lebih dulu.
''Ng..makasih udah nganterin aku pulang. Dan ini,''kata Windy sambil menyerahkan sekotak brownies kukus pada Daniel. ''ucapan makasihku atas semuanya. Ini aku sendiri yg buat. Tapi aku jamin rasanya gag jauh beda kok sama buatan Mamaku! Sumpah, gag bikin orang tewas kok!''Windy mulai melantur.
''Yah,makasih,''kata Daniel, tak tau harus bilang apa. Agak geli juga melihat Windy salah tingkah.
''Ng..kalau gitu udah ya! Aku turun! Ng...setelah ini aku harap kita masih berteman. Gag lucu kan kalau kita musuhan? Lagian gag rugi kok. Malahan siapa tau aku bisa belajar dan jadi jenius kayak kamu!''kata Windy.
Daniel cuma mendengarkan semua ocehan Windy yg mulai ngawur itu. Hingga akhir'a Windy buru2 turun dari mobil Daniel, nyaris terjungkal karena tersandung kakinya sendiri. Ia melambai pada Daniel.
''Oke, aku pergi,''kata Daniel.
Windy mengangguk. ''Hati2 ya!!''kata Windy sambil melambai2 ketika mobil Daniel mulai melaju pergi.
Begitu mobil Daniel hilang dari pandangan'a, tangan Windy langsung terkulai. Ia memandang ke arah pergi'a Daniel.
Stelah 10menit mematung di depan pintu gerbang, Windy akhir'a masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu rumah'a dan tetap berdiri disana sampai Mama menyambutnya. Akan tetapi, Mama'a justru mendapati anaknya tengah menangis. Langsung saja dipeluk'a Windy dengan lembut.
''Ayo, kenapa kamu nangis? Cerita sama Mama,''kata Mama halus sembari menggiring Windy ke sofa.
Perlakuan lembut mama membuat Windy menumpahkan semua kesedihan'a. Ia menceritakan semua'a dari awal hingga akhir pada Mamanya. Tak ada yg dilewatkan'a sama sekali. Semua ia ceritakan.
''Windy.. Windy patah hati, Ma,''isak Windy. ''Pa..padahal..Windy belum..hiks..ngungkapin perasaan..Windy..hiks..''
Mama mengelus pipi anaknya dengan lembut. Menghapus air mata yg mengalir dimata Windy.
''Windy sayang, kamu kan belum tau dia suka atau nggak sama kamu,''kata Mama
''Tapi di awal dia bilang aku gag boleh jatuh cinta sama dia, Ma,''tukas Windy
''Itu kan sebelum kalian mengahabiskan waktu bersama2. Sebulan itu mungkin waktu yg singkat, sayang... Tapi ingat, cinta itu datangnya tiba2, tanpa pemberitahuan. Kamu gag akan tau sampai kamu merasakan'a,''kata Mama lembut.
''Ja..jadi menurut Mama aku masih punya kesempatan?''tanya Windy
''Iya, sayang. Kamu tidak akan tau sampai kamu mencoba mengungkapkan isi hati kamu sama Daniel,''kata Mama
''Kalau Windy ditolak??''
''Kalau kamu ditolak, maka dengan besar hati kamu harus menerimanya. Atau kamu mau berusaha membuat dia juga jatuh cinta sama kamu? Anak mama kan keras kepala,''kata Mama
Perlahan Windy tersenyum malu2. Benar kata Mama, sejak kapan ia jadi seorang pengecut? Diam2 Windy membulatkan tekad'a. Benar, ia harus mencoba mengatakan'a pada Daniel. Sebulan lalu Windy kan juga hanya bermodal nekat, lalu kenapa kali ini ia juga tidak nekat? Kalau perlu, Windy akan membuat Daniel juga merasakan apa yg Windy rasakan. Iya, Windy bersumpah! Apapun yg terjadi, ia akan mengatakan'a pada Daniel.
Akan tetapi...


BOYFRIEND  #10
Akan tetapi, berkata memang lebih mudah ketimbang melakukan'a.
Tiga hari kemudian, Windy menunggu Daniel di parkiran sekolah. Bodo amat dengan reaksi Daniel dan orang2. Biar saja semua tau kalau selama ini mereka cuma pura2. Siapa tau orang2 beranggapan mereka sedang bertengkar? Ah, apapun anggapan orang2, Windy tak peduli lagi.
Setelah menunggu beberapa lama, Windy mulai gelisah. Keberanian'a kian lama kian menyusut. Terlebih karena Daniel tidak muncul2.
Perasaan horor mulai menghantui'a. Jangan2 Daniel sudah pulang? Mobil'a juga nggak ada. Aduuh, gimana donk? Windy tidak mau kehilangan keberanian'a. Stop, Windy, jangan panik. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja ia merasa panik. Ia mulai mondar mandir dan menggigiti kukunya. Kenapa Daniel lama sekali? Masa sih dia sudah pulang? Windy tidak akan punya keberanian lagi selain hari ini. Windy takut memikirkan kemungkinan terburuk yg mungkin terjadi.
''Aduh, Aku nih mikir apa sih?! Ayo keluarkan semangatmu, Windy! Chayoo!!''gumam Windy
Ketika ia tak juga tenang, dengan kesal ia menepuk kedua pipi'a. Sayang'a ia menepuk terlalu keras. Windy meringis kesakitan. Ia berjongkok dan memegangi kedua pipi'a. Duh, kenapa sejak tadi tak ada satu pun yg berjalan baik? Mata Windy berkaca2 karena pipi'a perih.
''Kamu ngapain sih?''
Sebuah suara membuat Windy tertegun. Windy mendongak perlahan. Dan ia melihat Daniel berdiri menjulang dihadapan'a. Kening cowok itu berkerut. Seketika, Windy langsung kehilangan suaranya. Semua kata2 yg ia siapkan semalam langsung lenyap ketika melihat Daniel berdiri dihadapan'a. Alhasil, ia cuma menatap Daniel dengan wajah blo'onnya.
***
Daniel pulang terlambat siang itu lantaran harus membuat laporan di ruang OSIS. Sudah 3 hari berlalu dan Daniel tidak mendengar kabar apapun dari Windy. Yah, memang kenapa? Mereka sudah ''putus''. Jadi buat apa ia memikirkan apakah cewek itu baik2 saja. Tak ada yg perlu dirisaukan lagi.
Cewek itu pasti sudah kembali ke kehidupan lamanya. Daniel pun harus'a begitu. Lagipula sebentar lagi liburan sekolah dimulai. Dan Daniel takkan bertemu Windy lagi setidak'a selama dua bulan kedepan. Akan tetapi, Daniel tak bisa menepiskan bayangan Windy dari kepalanya. Malah semakin ia berusaha mengenyahkan'a, justru semakin kuat bayangan'a. Sial, ia rindu berdebat dengan cewek itu. Ia rindu dengan 'permainan' kecil mereka.
Dengan kepala yg terasa berdenyut karena pikiran2 tentang Windy, Daniel meninggalkan ruang OSIS.
Sial, ia harus menemukan kesibukan lain yg bisa membuat'a sibuk sehingga takkan punya waktu untuk memikirkan cewek itu. Baru saja ia hendak menuju parkiran, Daniel melihat seseorang yg mirip dengan Windy berdiri tak jauh dari mobil'a, mobil Papa'a lebih tepatnya.
Sial, bahkan sekarang ia membayangkan cewek itu. Tidak mungkin cewek itu masih di sekolah. Ini kan sudah lama lewat jam pulang sekolah.
Kemudian apa yg ia anggap bayangan Windy itu mulai mondar-mandir. Tiba2 saja cewek itu memukul pipi'a sendiri. Sepertinya cukup keras karena cewek itu lantas berjongkok dan memegangi pipinya.
Tiba2 saja Daniel tak bisa mencegah dirinya untuk bergegas. Dan dalam sekejap ia sudah berdiri di hadapan Windy. Astaga, ini memang cewek itu. Ia tak hanya membayangkan'a!
''Kamu ngapain sih?''pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa sempat Daniel proses. Ketika Windy perlahan mendongak, kelihatan'a hendak mengatakan sesuatu, namun tak jadi. Karena cewek itu tampak linglung. Seketika Daniel merasa perut'a seolah dipukuli oleh Mike Tyson. Ya, Tuhan, ia memang merindukan cewek ini...


BOYFRIEND  #11
Windy kaget bukan main ketika mendapati Daniel muncul di depan'a. Buru2 ia berdiri dan menurunkan tangan'a dari pipinya yg memerah. Bekas air mata masih bersisa disudut2 matanya.
''Ngapain kamu?''Daniel mengulangi pertanyaan'a.
Windy memutar otak untuk mencari jawaban yg masuk akal. Kata2 yg sudah dengan masak2 ia persiapkan malah hilang entah kemana, meninggalkan Windy dalam kepanikan'a. Ahh, bodo' deh! Nekat aja! Udah kepalang basah juga, ya sekalian mandi aja!
''Aku nungguin kamu,''kata Windy. ''Ng..ada yg mau aku omongin,''tambah'a grogi.
Haduh, haduh, jangan pasang wajah mengerutkan kening gitu donk, Dan, batin Windy.
''Dari tadi?? Kamu sadar gag ini jam berapa? Berapa lama kamu berdiri disini?!''
''Ng..itu..gag penting! Iya, pokok'a aku mau ngomong sama kamu! Ada hal penting yg harus aku omongin. Menyangkut hidup dan matiku nih!''sahut Windy
''Mau ngomongin apa sih sampai nungguin selama itu? Kamu bisa sms kan? Toh kamu tau nomor ponselku,''kata Daniel
''Iya sih... Tapi ini gag bisa diomongin lewat sms!''
Daniel bersedekap. ''Silakan, kamu mau ngomong apa?''tanya Daniel
Walah, Windy gag tau mau ngomong dari mana! Kalau ia langsung to the point, dia takut diri'a malah akan menangis. Kalau ngomong berbelit2, Daniel bisa jengkel, ujung2 Windy nangis juga! Windy takut malah jadi melantur. Tuhan, tolong aku, pinta Windy.
''A..aku mau minta pertanggung jawabanmu! Gara2 kamu aku jadi begini! Kamu pasti sengaja kan? Kamu tau kalau akhir'a akan jadi begini, makanya kamu setuju membantu aku!''kata Windy marah
''Tunggu, aku ngapain? Kok malah menyalahkanku?''sela Daniel tak mengerti
''Terus aku harus bilang apa?! Kamu mau dengar aku bilang kalau gara2 syarat sialan yg kamu ajukan dulu itu, gara2 sikap kamu ke aku itu, aku malah jadi suka sama kamu?! Jadi mikirin kamu setelah semua'a selesai, iya?!''sergah Windy emosi
Daniel tampak terperangah. ''Tunggu, apa tadi kamu bilang?''tanyanya
''Kamu dengar apa yg tadi aku bilang!!''sahut Windy kesal. Kemudian Windy berbalik pergi saking malu'a. Ia sudah mengatakan apa yg perlu dikatakan'a. Ia tidak akan sanggup berdiri lebih lama bahkan untuk sekedar menunggu tanggapan Daniel. Dianggap pengecut juga nggak apa2. Windy nggak peduli. Ia nggak mau Daniel melihatnya menangis.
***
Daniel terlalu terkejut mendengar pengakuan Windy yg super berantakan itu, sehingga untuk beberapa saat ia menjadi linglung. Ia tersadar ketika Windy mulai berbalik dan mengambil ancang2 untuk kabur. Tanpa sempat memproses tindakan apa yg akan ia lakukan, Daniel sudah mengejar Windy. Ia menangkap lengan Windy dan menarik'a agar berhenti.
Windy berusaha melepaskan diri ketika Daniel memaksanya untuk berbelik. Ketika mereka berdiri berhadapan, cewek itu memandang ke arah lain, menutup mata, dan tak mau menatap'a.
''Tadi kamu bilang kalau kamu jatuh cinta sama aku?''tanya Daniel
Windy diam seribu bahasa. Meski Daniel melihat jelas bahwa wajah Windy semerah tomat. Sebenarnya hal itu sangat lucu, namun Daniel menahan diri agar tidak tertawa.
''Sejak kapan?''tanya Daniel tenang, seolah sudah menduga'a. Dan rupanya ketenangan'a itu menarik perhatian Windy, yah mungkin kemarahan lebih tepat'a. Cewek itu mendongak dan menatap'a dengan sengit. Daniel jadi bertanya2 apa yg sedang dipikirkan oleh cewek itu.
''Sejak kapan?''ulang Daniel, kali ini lebih lembut.
''Gag tau!''ketus Windy. ''Aku gag tau sejak kapan aku mulai suka sama cowok idiot kayak kamu!''lanjut'a dengan sama ketusnya. Kemudian ia berkacak pinggang. ''Dengar ya, kamu bisa merasa besar kepala! Anggap aja aku lagi sial karena suka sama kamu! Udah sombong, judes, menyebalkan...''suara Windy memelan dan kini cewek itu menunduk menatap kakinya. ''...tapi aku malah gag bisa melupakan kamu,''bisik'a
Windy menggigit bibir'a yg bergetar sebagai usaha terakhirnya untuk menahan isakan'a. Tapi tetap saja ia tdak bisa mencegah airmata'a untuk menetes turun. Windy langsung menghapusnya dengan cepat.
Daniel menarik napas dan menatap takjub pada Windy. Kemudian ia menggelengkan kepala karena tetap tak bisa mengerti jalan pikiran cewek itu. Ia merasa dipermainkan. Seolah2 ia sedang dihadapkan dengan buah simalakama. Menggoda tapi terlarang. Ia pikir ia bisa melupakan cewek itu. Tapi lihat sekarang! Cewek itu tiba2 muncul di hadapan'a dan booomm! Marah2 padanya, lalu menyatakan cinta padanya.
Daniel tau dirinya takkan bisa menang dari Windy. Daniel menelan keinginan'a untuk menertawai dirinya sendiri. Ia menunduk dan menempelkan kening'a di kepala Windy. Kedua lengan'a bertenggaer santai di pundak Windy.
''Kalau kamu nyalahin aku, aku harus nyalahin siapa?''tanya Daniel lembut.
''Mana aku tau! Aku juga gag tau harus nyalahin siapa selain kamu!''sahut Windy ketus dan membuang muka ke arah lain.
Daniel tersenyum geli.
''Ngapain senyum2?! Senang ya bikin aku kayak gini?!''sentak Windy jengkel.
''Yah, aku cuma geli aja. Siapa sangka aku bakal ditembak kamu lagi,''kata Daniel. ''Meski aku gag tau yg ini serius atau nggak,''tambah'a hanya untuk memancing reaksi Windy.
Windy mendorong Daniel dan berkacak pinggang. ''Dengar ya! Aku gag pernah main2 sama perasaanku sendiri! Dan yg sebelum'a itu pengecualian! Aku juga gag nyangka bakal jatuh cinta sama kamu!''
''Jadi kamu menyesal?''goda Daniel
Windy melotot. ''Aku gag bilang kalau aku menyesal! Lagian aku cuma mau bilang itu! Terserah kamu mau nanggepin apa!''sahut Windy marah. Ia berbalik dan siap pergi.
Daniel kembali menahan dan membalikkan tubuh Windy hingga cewek itu melotot kesal.
''Apa lagi?! Aku gag minta jawaban kok! Aku tau kamu gag suka sama aku!''kata Windy sok kuat, padahal suaranya saja bergetar.
''Siapa bilang?''tanya Daniel. ''Memang'a aku ada bilang aku gag suka kamu?''
Windy mengerjap kaget. ''Ma..maksud kamu?''


BOYFRIEND  #12
Windy menatap Daniel yg terlihat tenang dihadapan'a. Ia tak bisa menebak apa yg dipikirkan cowok itu. Kalau cowok itu berniat mempermalukan'a, maka cowok itu sukses! Windy takkan bisa merasa lebih malu lagi setelah mengungkapkan perasaan'a lebih dulu pada cowok itu. Ditambah lagi ia tidak bisa segera kabur seperti rencana awal'a. Windy bisa aja melupakan sebulan kebersamaan'a denga Daniel dan menganggap tak pernah terjadi apapun. Tapi itu bukanlah sifat Windy. Jadi ia mengikuti kata hatinya, dan lihat, inilah balasannya!
Akan tetapi Windy terkejut oleh kata2 Daniel yg diluar dugaan. Ia menatap Daniel bingung. Apa barusan cowok itu menyiratkan kalau cowok itu mungkin merasakan hal yg sama seperti yg Windy rasakan? Tidak, Windy, berhenti berharap! Ingat, Daniel itu memang tak bisa ditebak.
''Kamu yakin suka sama aku?''
Pertanyaan Daniel membuat Windy mengernyit curiga. Apa cowok itu berniat membuat Windy mengatakan hal memalukan itu jutaan kali? Akan tetapi Windy mengangguk.
''Meskipun aku ini angkuh, egois, posesif, menyebalkan, dan kejam seperti katamu?''pancing Daniel. ''Aku bisa sangat posesif kalau menyangkut sesuatu yg aku miliki lho,''
Windy menahan kesal. Apa Daniel berharap ia akan berubah pikiran? Tega banget cowok itu merendahkan perasaan Windy. Padahal Windy sudah mengatakan tentang perasaan'a.
''Kenapa gag dijawab?''
Windy akhir'a masa bodoh. Ia akan mengingatkan dirinya untuk bunuh diri begitu sampai ruman nanti! Maka Windy pun menjawab.
''Iya! Aku cinta sama kamu! Gag peduli kamu sombong, jutek, nyebelin, atau bahkan posesif! Meski kamu mau bikin aku berubah pikiran, aku gag akan berubah pikiran!! Aku tetap cinta sama kamu! Cinta, cinta, cin...''
Kata2 Windy tak sempat terselesaikan. Tidak mungkin ketika Windy tercekat saat Daniel menundukkan wajah'a dan mengecup bibir'a. Mata Windy membelalak, napas'a tersangkut ditenggorokan, dan jantung'a seolah tewas sejenak. Perut'a serasa diaduk2 dan wajahnya memanas ketika Daniel menarik diri dan menatap ke arah'a. Oh Tuhan, cowok itu memang 'menyeramkan'!
Windy mengerjap. Setetes air mata menetes di pipinya, dan satu lagi, disusul oleh tetesan2 lainnya. Tak berapa lama, Windy sudah menangis.
Untung sekolah sudah sangat sepi murid, sehingga adegan Windy yg menangis keras itu takkan dilihat orang lain.
Daniel menatap Windy sembari tersenyum geli. Ia menghapus air mata di pipi Windy dengan ujung jarinya.
''Kenapa malah nangis?''tanya Daniel
''Aku gag ngerti sama pikiran kamu,''isak Windy
''Jangan mencoba hal yg sia2,''saran Daniel lembut
''Kalau gitu katakan gimana sebenarnya perasaan kamu ke aku! Jangan buat aku menebak2!''sahut Windy kesal
''Hmm, bagaimana ya..,''gumam Daniel, membuat Windy melotot. Kemudian cowok itu tertawa, membuat Windy tercengang. Bisa2nya cowok itu tertawa??? Kurang ajar!
Windy sudah akan mengeluarkan protesnya ketika mendengar kata2 Daniel.
''Aku gag mungkin mencium cewek yg gag aku sukai,''kata Daniel, tersenyum simpul.
''Jadi kamu suka sama aku juga?''tanya Windy penuh harap.
''Hmm.. Menurut kamu?''Daniel balas bertanya
Windy terhenyak seketika. Kemudian ia mendelik. Sedetik kemudian tangan Windy sudah menghujani sekujur tubuh Daniel dengan cubitan mautnya. Daniel mengelak dan tertawa2.
''Daniel!! Aku benci kamu!!''teriak Windy sambil mengejar Daniel yg sudah menghindar
''Bukannya tadi kamu bilang cinta???''goda Daniel.
''DANNIIIEEEELLLLLL!!!!''
Hemm, tetap tak terkatakan. Tapi setidaknya kedua anak itu kini sudah mengakui perasaan'a masing2. Ini adalah sebuah awal. Dulu mungkin mereka melihatnya sebagai sebuah kesepakatan, yg dalam proses'a telah mengubah perasaan mereka terhadap satu sama lain. Dari tidak memiliki ketertarikan--dan yakin gag akan tertarik-- hingga akhir'a mereka kena batunya. Mereka jadi seperti magnet yg memiliki dua kutub yg berbeda dan memiliki daya tarik menarik antara satu sama lain. Pada akhir'a mereka tetap akan bertemu.
Sungguh, Cinta itu tak bisa dimengerti... Tapi konon Cinta itu indah!

THE  END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar