_21:00_
Sudah hampir 2jam Rio dan yg lainnya mengelilingi rumah, mencari apapun yg dapat dipakai senjata dan juga sumber cahaya. Tapi mereka hanya menemukan beberapa batang lilin dan senter. Ditambah lagi mereka tak menemukan jalan keluar lain yg membuat mereka nyaris putus asa.
''Rio! Bagaimana ini?! Kita sudah berkeliling tapi tak menemukan jalan keluar! Kurasa lebih baik kita kembali!''kata Suzu yg sudah putus asa.
''Diamlah!! Kalau kau memang mau mati silahkan kembali!! Aku tak peduli!''bentak Rio
Suzu langsung bungkam. Mereka terus menelusuri tiap sudut rumah. Yang lainnya hanya mengikuti Rio. Kini setelah lelah, mereka beristirahat di salah satu ruangan yg ada.
''Midori, kau tak apa2 kan?''tanya Hoshi pada Midori
''Sa...sangat takut... Aku tak mau mati... Hanako dan Yui...kasihan mereka,''kata Midor tercekat tangis.
''Cukup istirahatnya! Kita tak bisa diam terlalu lama di tempat ini!''kata Rio
''Kau tak bisa seenaknya! Pikirkan betapa lelahnya mereka!''balas Shino, merujuk pada para perempuan.
''Kita sudah cukup lama beristirahat. Atau kau mau mati disini? Kalau aku, jelas aku tak mau!''sahut Rio
Shiina menyentuh lengan Shino dan menggeleng. ''Kami sudah tidak lelah,''kata Shiina.
Akhirnya tak ada yg mendebat lagi. Satu persatu bangkit dan mengikuti Rio yg sudah keluar lebih dulu. Namun pintu tertutup dan Izumi yg keluar paling belakang terkunci. Izumi mulai berteriak dan menggedor2 pintu.
''Hei!! Buka pintunya!!''teriak Izumi
''Izumi!! Kau baik2 saja?? Izumi!!''panggil Suzu panik
Kemudian Rio dan Shino mencoba mendobrak pintu, namun pintunya tetap bergeming. Mereka semua tersentak keras ketika mendengar suara Izumi yg makin panik dan berujung pada jeritan kerasnya.
''A..apa yg terjadi?!''kata Suzu ketika keheningan yg janggal mengikuti jeritan Izumi. ''A..ayo tolong Izumi!''pintanya
Suzu langsung mencoba membuka pintunya. Bunyi klik keras membuat mereka saling pandang. Setelah melihat anggukan Rio dan Shino, Suzu memutar kenop pintu. Ketika pintu terbuka, sebuah bayangan jatuh menimpa Suzu. Suzu memekik ngeri ketika tubuh Izumi menimpanya. Darah mengalir deras dari luka sayatan di lehernya.
Hoshi dan Shino langsung menarik tubuh Suzu dari tindihan mayat Izumi.
Belum selesai kekagetan mereka, sebuah siluet terlihat membayang di dalam ruangan. Ada sesuatu yg berkilat tertimpa cahaya. Ya, itu pisau. Seketika semua yg ada disana berlarian sambil menjerit ketakutan. Bahkan mereka tak tau dirinya lari ke arah mana.
**
_23:13_
''Aku lapar,''keluh Makoto. ''Bagaimana kalau kita buat sesuatu untuk dimakan? Diam pun takkan berguna kan?''
Hagane setuju. ''Makoto benar. Teror ini membuat perutku lapar,''katanya
Kemudian keempat orang itu pergi ke dapur. Runa hanya menemukan sisa sup dan daging sapi yg tadi ditumis Suzu. Ia pun menghangatkan semua yg bisa ia temukan. Tak berapa lama, semuanya sudah makan dalam diam.
Hagane yg memecahkan keheningan itu. Tampaknya laki2 itu tak bisa terus2an berada dalam situasi tegang itu. Jadi ia pikir tak ada salahnya membuat suasana lebih cerah.
''Sup yg Runa selalu enak ya,''komentar Hagane
''Terima kasih,''kata Runa
Makoto mendengus. ''Kau itu, bisa2nya merayu disaat begini ya?''sindir Makoto.
''Apa? Memangnya salah?''sahut Hagane. ''Aku hanya mengatakan kenyataan! Kau sendiri habis berapa mangkuk tuh??''balasnya
''Berisik! Ini karena aku lapar tau!''kilah Makoto. ''Beda denganmu!''
Akhirnya Makoto dan Hagane malah meributkan perihal makanan. Sementara Minato menyelesaikan makannya dengan tenang.
''Baiklah, aku punya ide,''kata Minato sambil menyeruput teh dari mugnya.
Runa teralih dari kegiatannya menonton perang mulut antara Hagane dan Makoto. Ia lalu menatap Minato ingin tau.
''Apa disini ada ruangan dimana kita bisa menemukan catatan silsilah atau buku2 dokumen lama? Mungkin kita akan menemukan satu dua petunjuk disana mengenai keanehan di rumah ini,''kata Minato.
Runa berpikir sejenak. ''Ah, ya, kurasa memang ada ruangan semacam itu. Aku tak terlalu tau karena aku baru sekali masuk ke sana. Tapi kupikir itu seperti ruang perpustakaan.''
''Dimana?''tanya Minato
''Lantai dasar...eh, maksudku ruang bawah tanah,''kata Runa.
''Apanya yg ruang bawah tanah?''tanya Hagane tertarik
Runa lalu mengulangi ide Minato.
''Wah, itu ide yg bagus! Kita bisa mencoba mencari petunjuk! Itu jauh lebih baik daripada hanya menunggu,''sahut Hagane
''Kita harus membawa lilin dan senter. Ruangan itu pencahayaannya kurang,''kata Runa.
''Kalian dengar yg dikatakan Runa kan? Cepat cari benda2 itu di rak2 di dapur,''perintah Minato
''Tunggu, aku juga mau ikut mencari!''kata Runa dan bergabung dengan Hagane dan Makoto yg mulai memeriksa tiap rak dan laci di ruangan itu.
Kemudian, setelah menemukan cukup lilin dan juga baterai senter, keempatnya langsung menuju ruang perpustakaan bawah tanah. Runa berjalan di tengah2. Ia diapit kanan kiri oleh Makoto dan Hagane, sementara Minato berjalan paling depan dengan senter di tangannya. Dengan arahan Runa, yg juga mengingat2 kira2 dimana ruangan yg mereka cari itu, mereka mulai menelusuri rumah itu..
Sudah hampir 2jam Rio dan yg lainnya mengelilingi rumah, mencari apapun yg dapat dipakai senjata dan juga sumber cahaya. Tapi mereka hanya menemukan beberapa batang lilin dan senter. Ditambah lagi mereka tak menemukan jalan keluar lain yg membuat mereka nyaris putus asa.
''Rio! Bagaimana ini?! Kita sudah berkeliling tapi tak menemukan jalan keluar! Kurasa lebih baik kita kembali!''kata Suzu yg sudah putus asa.
''Diamlah!! Kalau kau memang mau mati silahkan kembali!! Aku tak peduli!''bentak Rio
Suzu langsung bungkam. Mereka terus menelusuri tiap sudut rumah. Yang lainnya hanya mengikuti Rio. Kini setelah lelah, mereka beristirahat di salah satu ruangan yg ada.
''Midori, kau tak apa2 kan?''tanya Hoshi pada Midori
''Sa...sangat takut... Aku tak mau mati... Hanako dan Yui...kasihan mereka,''kata Midor tercekat tangis.
''Cukup istirahatnya! Kita tak bisa diam terlalu lama di tempat ini!''kata Rio
''Kau tak bisa seenaknya! Pikirkan betapa lelahnya mereka!''balas Shino, merujuk pada para perempuan.
''Kita sudah cukup lama beristirahat. Atau kau mau mati disini? Kalau aku, jelas aku tak mau!''sahut Rio
Shiina menyentuh lengan Shino dan menggeleng. ''Kami sudah tidak lelah,''kata Shiina.
Akhirnya tak ada yg mendebat lagi. Satu persatu bangkit dan mengikuti Rio yg sudah keluar lebih dulu. Namun pintu tertutup dan Izumi yg keluar paling belakang terkunci. Izumi mulai berteriak dan menggedor2 pintu.
''Hei!! Buka pintunya!!''teriak Izumi
''Izumi!! Kau baik2 saja?? Izumi!!''panggil Suzu panik
Kemudian Rio dan Shino mencoba mendobrak pintu, namun pintunya tetap bergeming. Mereka semua tersentak keras ketika mendengar suara Izumi yg makin panik dan berujung pada jeritan kerasnya.
''A..apa yg terjadi?!''kata Suzu ketika keheningan yg janggal mengikuti jeritan Izumi. ''A..ayo tolong Izumi!''pintanya
Suzu langsung mencoba membuka pintunya. Bunyi klik keras membuat mereka saling pandang. Setelah melihat anggukan Rio dan Shino, Suzu memutar kenop pintu. Ketika pintu terbuka, sebuah bayangan jatuh menimpa Suzu. Suzu memekik ngeri ketika tubuh Izumi menimpanya. Darah mengalir deras dari luka sayatan di lehernya.
Hoshi dan Shino langsung menarik tubuh Suzu dari tindihan mayat Izumi.
Belum selesai kekagetan mereka, sebuah siluet terlihat membayang di dalam ruangan. Ada sesuatu yg berkilat tertimpa cahaya. Ya, itu pisau. Seketika semua yg ada disana berlarian sambil menjerit ketakutan. Bahkan mereka tak tau dirinya lari ke arah mana.
**
_23:13_
''Aku lapar,''keluh Makoto. ''Bagaimana kalau kita buat sesuatu untuk dimakan? Diam pun takkan berguna kan?''
Hagane setuju. ''Makoto benar. Teror ini membuat perutku lapar,''katanya
Kemudian keempat orang itu pergi ke dapur. Runa hanya menemukan sisa sup dan daging sapi yg tadi ditumis Suzu. Ia pun menghangatkan semua yg bisa ia temukan. Tak berapa lama, semuanya sudah makan dalam diam.
Hagane yg memecahkan keheningan itu. Tampaknya laki2 itu tak bisa terus2an berada dalam situasi tegang itu. Jadi ia pikir tak ada salahnya membuat suasana lebih cerah.
''Sup yg Runa selalu enak ya,''komentar Hagane
''Terima kasih,''kata Runa
Makoto mendengus. ''Kau itu, bisa2nya merayu disaat begini ya?''sindir Makoto.
''Apa? Memangnya salah?''sahut Hagane. ''Aku hanya mengatakan kenyataan! Kau sendiri habis berapa mangkuk tuh??''balasnya
''Berisik! Ini karena aku lapar tau!''kilah Makoto. ''Beda denganmu!''
Akhirnya Makoto dan Hagane malah meributkan perihal makanan. Sementara Minato menyelesaikan makannya dengan tenang.
''Baiklah, aku punya ide,''kata Minato sambil menyeruput teh dari mugnya.
Runa teralih dari kegiatannya menonton perang mulut antara Hagane dan Makoto. Ia lalu menatap Minato ingin tau.
''Apa disini ada ruangan dimana kita bisa menemukan catatan silsilah atau buku2 dokumen lama? Mungkin kita akan menemukan satu dua petunjuk disana mengenai keanehan di rumah ini,''kata Minato.
Runa berpikir sejenak. ''Ah, ya, kurasa memang ada ruangan semacam itu. Aku tak terlalu tau karena aku baru sekali masuk ke sana. Tapi kupikir itu seperti ruang perpustakaan.''
''Dimana?''tanya Minato
''Lantai dasar...eh, maksudku ruang bawah tanah,''kata Runa.
''Apanya yg ruang bawah tanah?''tanya Hagane tertarik
Runa lalu mengulangi ide Minato.
''Wah, itu ide yg bagus! Kita bisa mencoba mencari petunjuk! Itu jauh lebih baik daripada hanya menunggu,''sahut Hagane
''Kita harus membawa lilin dan senter. Ruangan itu pencahayaannya kurang,''kata Runa.
''Kalian dengar yg dikatakan Runa kan? Cepat cari benda2 itu di rak2 di dapur,''perintah Minato
''Tunggu, aku juga mau ikut mencari!''kata Runa dan bergabung dengan Hagane dan Makoto yg mulai memeriksa tiap rak dan laci di ruangan itu.
Kemudian, setelah menemukan cukup lilin dan juga baterai senter, keempatnya langsung menuju ruang perpustakaan bawah tanah. Runa berjalan di tengah2. Ia diapit kanan kiri oleh Makoto dan Hagane, sementara Minato berjalan paling depan dengan senter di tangannya. Dengan arahan Runa, yg juga mengingat2 kira2 dimana ruangan yg mereka cari itu, mereka mulai menelusuri rumah itu..
_00:16_
''Shino~! Suzu~! Kalian dimana?''isak Shiina yg terpisah dari teman2nya. Ia berjalan perlahan sembari menyorotkan senternya ke segala arah.
''Kalian dimana?? Jawab aku! Shino, aku takut~!''
Shiina terus menyusuri lorong panjang dan gelap itu sambil terus memanggil2 nama kakaknya. Tak ada yg menjawab. Ketakutan merasuki dirinya, semua yg menimpa teman2nya kembali terbayang di benaknya dan ia gemetaran. Dia takut apapun yg telah menyebabkan teman2nya mati mengenaskan akan terjadi juga padanya. Entah kapan, tapi ia takut hal itu akan terjadi.
Kemudian terdengar suara dentingan. Shiina menajamkan pendengarannya. Samar2 ia mendengarkan suara logam diseret. Jantung Shiina berpacu cepat.
Apakah itu Shino?? Tapi.. Shino tak membawa sesuatu yg mirip logam..
Suara itu makin lama makin mendekat. Shiina sadar itu bukan Shino. Shiia kemudian berbalik dan berlari kencang. Ia menaiki tangga yg ada di depannya dengan kalut. Ia tak pernah mencoba melihat ke belakang karena takut akan melihat sesuatu yg tak ingin dilihatnya. Napasnya sesak karena kurang oksigen. Ia baru saja menginjak anak tangga teratas ketika sebuah cengkraman menarik kakinya hingga ia melayang ke belakang.
''TIDAAKKKKKK!!!''jeritnya
Tubuh Shiina melayang jatuh dan menimpa sebuah guci besar hingga guci itu pecah berkeping2. Sebuah pecahan yg berukuran besar menancap di dadanya. Kepalanya terkulai dengan posisi aneh. Dan darahnya menggenang di sekeliling tubuhnya..
**
''Sial, makin lama disini aku bisa ikut mati terbunuh!''gerutu Rio yg berhasil lari dari apapun yg telah membunuh Izumi. Sambil tetap waspada, Rio menelusuri koridor lantai 2. Dia terus menatap waspada ke sudut2 gelap yg ia lewati. Kematian Yui membuatnya tertekan. Bagaimana tidak? Ia dan Yui sudah berjanji akan menikah begitu mereka lulus nanti. Tapi sekarang Yui sudah tiada. Hal itu menghancurkannya.
Sekelebat gerakan di ujung koridor menghentikan langkah Rio.
''Siapa disana?!''teriak Rio. ''Keluar kau! Aku akan membunuhmu!! Akan kubunuh kau seperti caramu membunuh Yui'ku!!''bentak Rio
Seperti kehilangan kendali, Rio menerjang maju sambil mengayunkan pisau yg ia temukan di salah satu ruangan tadi.
''MATI KAUU!!''teriak Rio penuh kemenangan ketika merasakan pisau di tangannya menusuk sesuatu.
Rio kemudian menyorotkan senternya ke arah onggokan di kakinya dan seketika terperanjat.
''Yu...Yui???''ujarnya tak percaya.
Ia jatuh berlutut dan memeluk tubuh Yui. Ia menangis keras, hingga tak menyadari suara sesuatu seperti logam diseret dari arah belakang. Sampai ketika ia merasakan hembusan angin yg aneh di belakangnya. Rio menoleh. Hanya saja tak ada yg bisa ia lakukan. Sesuatu telah menembus perutnya. Mengoyak dagingnya hingga darahnya berceceran. Rio menatap tak percaya ke tubuhnya yg bersimbah darah. Kemudian ia roboh ke dalam genangan darahnya sendiri..
''Shino~! Suzu~! Kalian dimana?''isak Shiina yg terpisah dari teman2nya. Ia berjalan perlahan sembari menyorotkan senternya ke segala arah.
''Kalian dimana?? Jawab aku! Shino, aku takut~!''
Shiina terus menyusuri lorong panjang dan gelap itu sambil terus memanggil2 nama kakaknya. Tak ada yg menjawab. Ketakutan merasuki dirinya, semua yg menimpa teman2nya kembali terbayang di benaknya dan ia gemetaran. Dia takut apapun yg telah menyebabkan teman2nya mati mengenaskan akan terjadi juga padanya. Entah kapan, tapi ia takut hal itu akan terjadi.
Kemudian terdengar suara dentingan. Shiina menajamkan pendengarannya. Samar2 ia mendengarkan suara logam diseret. Jantung Shiina berpacu cepat.
Apakah itu Shino?? Tapi.. Shino tak membawa sesuatu yg mirip logam..
Suara itu makin lama makin mendekat. Shiina sadar itu bukan Shino. Shiia kemudian berbalik dan berlari kencang. Ia menaiki tangga yg ada di depannya dengan kalut. Ia tak pernah mencoba melihat ke belakang karena takut akan melihat sesuatu yg tak ingin dilihatnya. Napasnya sesak karena kurang oksigen. Ia baru saja menginjak anak tangga teratas ketika sebuah cengkraman menarik kakinya hingga ia melayang ke belakang.
''TIDAAKKKKKK!!!''jeritnya
Tubuh Shiina melayang jatuh dan menimpa sebuah guci besar hingga guci itu pecah berkeping2. Sebuah pecahan yg berukuran besar menancap di dadanya. Kepalanya terkulai dengan posisi aneh. Dan darahnya menggenang di sekeliling tubuhnya..
**
''Sial, makin lama disini aku bisa ikut mati terbunuh!''gerutu Rio yg berhasil lari dari apapun yg telah membunuh Izumi. Sambil tetap waspada, Rio menelusuri koridor lantai 2. Dia terus menatap waspada ke sudut2 gelap yg ia lewati. Kematian Yui membuatnya tertekan. Bagaimana tidak? Ia dan Yui sudah berjanji akan menikah begitu mereka lulus nanti. Tapi sekarang Yui sudah tiada. Hal itu menghancurkannya.
Sekelebat gerakan di ujung koridor menghentikan langkah Rio.
''Siapa disana?!''teriak Rio. ''Keluar kau! Aku akan membunuhmu!! Akan kubunuh kau seperti caramu membunuh Yui'ku!!''bentak Rio
Seperti kehilangan kendali, Rio menerjang maju sambil mengayunkan pisau yg ia temukan di salah satu ruangan tadi.
''MATI KAUU!!''teriak Rio penuh kemenangan ketika merasakan pisau di tangannya menusuk sesuatu.
Rio kemudian menyorotkan senternya ke arah onggokan di kakinya dan seketika terperanjat.
''Yu...Yui???''ujarnya tak percaya.
Ia jatuh berlutut dan memeluk tubuh Yui. Ia menangis keras, hingga tak menyadari suara sesuatu seperti logam diseret dari arah belakang. Sampai ketika ia merasakan hembusan angin yg aneh di belakangnya. Rio menoleh. Hanya saja tak ada yg bisa ia lakukan. Sesuatu telah menembus perutnya. Mengoyak dagingnya hingga darahnya berceceran. Rio menatap tak percaya ke tubuhnya yg bersimbah darah. Kemudian ia roboh ke dalam genangan darahnya sendiri..
_01:00_
Runa, Hagane, Minato dan Makoto, berjalan menyusuri tangga yg akan membawa mereka turun ke ruang bawah tanah. Keempatnya berjalan dengan tangan meraba dinding karena kurangnya cahaya sehingga bahkan untuk melihat langkah mereka sendiri saja sulit.
Runa harus melawan ingatan terakhirnya di tempat itu demi memaksa kakinya melangkah. Hagane yg berjalan di belakangnya sejak tadi berbisik agar Runa memperhatikan langkahnya.
''Astaga, aku bahkan tak bisa melihat anak tangga yg kupijak. Disini gelap sekali!''keluh Makoto
''Sejak tadi kau hanya mengeluh saja,''balas Hagane. ''Awas langkahmu,''tambahnya pada Runa
Makoto mendengus. ''Dan kau terus2an memperingatkan hal yg sama pada Runa,''balasnya lagi
''Sudah, kita ini mau mencari petunjuk, bukannya berdebat soal anak tangga atau kegelapan,''sela Minato
''Aku tau, aku tau,''sungut Makoto. ''Runa, apa kau yakin ada ruang perpustakaan di bawah sana? Orang waras mana yg akan membangun perpustakaan di tempat segelap ini???''tanya Makoto
''Ya, aku yakin,''sahut Runa pelan. ''Aku takkan pernah bisa melupakan tempat itu,''imbuhnya, bergidik ketika mengingat sebuah kejadian.
Dan tampaknya Hagane menyadari kalau Runa gemetaran. ''Kau kedinginan?''tanyanya
Runa menggeleng, meski mungkin saja Hagane tak dapat melihatnya. Tapi ternyata Hagane melihatnya.
''Apa yg terjadi di bawah sana?''tanya Hagane
''Delapan tahun lalu...kakakku ditemukan dalam keadaan meninggal disana,''kata Runa pelan. ''Ia ditemukan dengan pergelangan tangan tersayat. Polisi mengatakan kalau itu murni bunuh diri karena tidak ditemukan tanda2 penganiayaan.. Tapi aku tau kakakku. Dia takkan pernah melakukan hal seperti itu! Dia tidak mungkin bunuh diri setelah mengatakan akan mengenalkan seseorang padaku!''
Hagane langsung memeluk Runa untuk menenangkan gadis itu.
''Maafkan aku. Aku telah membuatmu mengingatnya lagi,''kata Hagane.
''Ayo kita lanjutkan. Siapa tau kita juga akan menemukan sesuatu mengenai kematian Kak Airi,''kata Minato. Ia sudah mendengar berita itu, bahkan dialah yg menghibur Runa saat itu.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dan sampai di ruang bawah tanah.
Minato menyalakan beberapa batang lilin dan meletakkannya di beberapa tempat agar ruangan itu lebih terang. Kemudian membagi mereka menjadi dua kelompok. Runa dan Hagane mencari di bagian rak sebelah kiri, sementara Minato dan Makoto mencari di bagian yg berlawanan.
Makoto menelusuri buku2 yg tampak tua dan mirip seperti dokumen, sementara Minato berkutat memeriksa buku2 yg ditemukan Makoto.
Sembari mencari, Makoto bertanya apakah teman2 mereka sudah terbunuh. Karena mereka tak muncul lagi. Bahkan suaranya saja tidak terdengar.
''Aku takkan menyangkal kemungkinan itu. Menurut perkiraanku, selama kita ada disini, korban akan terus berjatuhan. Dan mungkin baru besok pagi kita akan bisa keluar, mengingat badai di luar sana,''kata Minato.
Makoto mendesah dan kembali mengeluh. Dan Minato mengabaikannya.
''Minato! Minato! Kemarilah!! Aku menemukan sesuatu!!''teriak Runa.
Minato bangkit dari kursinya namun Runa sudah muncul lebih dulu dengan Hagane yg mengekor dibelakangnya.
''Ada apa?''tanya Minato.
''Aku menemukan sesuatu!!''kata Runa bersemangat sambil melambai2kan sebuah buku di tangannya.
Minato mengambil buku itu dari tangan Runa dan memeriksa sampul luarnya.
''Lihat bagian dalamnya!''kata Hagane
Minato mulai membuka2 halaman demi halaman buku yg ditemukan Runa itu. Buku itu tampak sama tuanya dengan rumah itu. Warna kertasnya sudah menguning dan ada bercak hitam di ujung2nya.
''Ini...''kata Minato setelah membaca beberapa halaman.
Hagane mengangguk mantap.
''Ya, itu buku harian tua. Catatan pertamanya tanggal 11 bulan 8 tahun 193O,''kata Hagane
**
_02:30_
''Teman2! Siapapun! Runa, Hagane?! Kalian dimana???''bisik Suzu
''Suzu?! Kaukah itu?!''
''Si..siapa???''tanya Suzu
''Ini aku, Shino! Dimana kau?!''teriak Shino
''Disini! Aku disini!''balas Suzu sembari keluar dari tempat persembunyiannya.
Shino dan Suzu bertemu. Bersama, keduanya menyusuri koridor dan mencari teman2nya. Suzu merapat pada Shino dan melihat ke sekeliling dengan ketakutan.
Shino bertanya apakah mungkin Suzu bertemu atau ingat Shiina berlari ke arah mana. Tapi tentu saja Suzu tidak ingat. Ia terlalu panik dan berlari menyelamatkan diri.
Shino mendesah. Ia pun melakukan hal yg sama. Padahal seharusnya ia menjaga Shiina. Hanya Shiina satu2nya yg dimilikinya. Orangtuanya selalu sibuk dan tak sempat memperhatikan mereka. Sehingga Shino dan Shiina selalu bersama. Mereka mempunyai ikatan batin yg kuat, dan sejak tadi, Shino merasa tidak tenang. Ia tau Shiina dalam bahaya.
Shino menuntun Suzu untuk menuju tangga ke lantai dua. Saat itu mereka ada dilantai 3 dan jika ingin kembali ke ruang utama, mereka harus turun.
Suzu memekik kaget ketika senter yg dibawa ino menyorot sesuatu di dasar tangga. Shino membeku. Kemudian seperti kehilangan akal, ia berlari turun dan menghampiri apa yg ia lihat tadi.
Ia jatuh berlutut. ''Tidak...TIDAK!!!''teriaknya sedih
Ia mengangkat tubuh adik kembarnya dan menangis pilu.
''Shiina! Kumohon jangan lakukan ini padaku!!''raung Shino
Suzu menangis di belakangnya. Ia menyorotkan senter dan menangis dalam diam. Lalu matanya menangkap bayangan hitam bergerak pelan dibelakang Shino.
''S...shino...''ujar Suzu ketakutan, namun Shino tak menggubrisnya
''Shino! Dibelakangmu!!''teriak Suzu panik.
Shino hanya sempat mendongat sebelum ia merasa lehernya dijerat dari belakang. Seketika Shino meronta2, berusaha membebaskan diri.
''Su..zu.. Lar...rii!!''perintah Shino tercekik.
Suzu seketika berlari pontang panting. Ia tak melihat ke mana ia berlari, dan ia juga menolak melihat ke belakang.
''Runa!! Hagane!! Minato!! Tolooonggg!!!?''teriak Suzu
Brukk! Suzu jatuh terjerembab. Ia langsung menyeret dirinya untuk bergegas. Namun kakinya terlalu lemah sehingga ia tak bisa berdiri. Dia menangis sembari memohon2.
''Jangan! Jangan bunuh aku!! Kumohon! Aku belum mau matiii~!''isak Suzu
'SEMUANYA~ HARUUSSS...MAATIII~~ KHU..KHU..KHU...'desis sebuah suara
''Ti..TIIIDAAAAKKKKKKK!!!''jerit Suzu..
Runa, Hagane, Minato dan Makoto, berjalan menyusuri tangga yg akan membawa mereka turun ke ruang bawah tanah. Keempatnya berjalan dengan tangan meraba dinding karena kurangnya cahaya sehingga bahkan untuk melihat langkah mereka sendiri saja sulit.
Runa harus melawan ingatan terakhirnya di tempat itu demi memaksa kakinya melangkah. Hagane yg berjalan di belakangnya sejak tadi berbisik agar Runa memperhatikan langkahnya.
''Astaga, aku bahkan tak bisa melihat anak tangga yg kupijak. Disini gelap sekali!''keluh Makoto
''Sejak tadi kau hanya mengeluh saja,''balas Hagane. ''Awas langkahmu,''tambahnya pada Runa
Makoto mendengus. ''Dan kau terus2an memperingatkan hal yg sama pada Runa,''balasnya lagi
''Sudah, kita ini mau mencari petunjuk, bukannya berdebat soal anak tangga atau kegelapan,''sela Minato
''Aku tau, aku tau,''sungut Makoto. ''Runa, apa kau yakin ada ruang perpustakaan di bawah sana? Orang waras mana yg akan membangun perpustakaan di tempat segelap ini???''tanya Makoto
''Ya, aku yakin,''sahut Runa pelan. ''Aku takkan pernah bisa melupakan tempat itu,''imbuhnya, bergidik ketika mengingat sebuah kejadian.
Dan tampaknya Hagane menyadari kalau Runa gemetaran. ''Kau kedinginan?''tanyanya
Runa menggeleng, meski mungkin saja Hagane tak dapat melihatnya. Tapi ternyata Hagane melihatnya.
''Apa yg terjadi di bawah sana?''tanya Hagane
''Delapan tahun lalu...kakakku ditemukan dalam keadaan meninggal disana,''kata Runa pelan. ''Ia ditemukan dengan pergelangan tangan tersayat. Polisi mengatakan kalau itu murni bunuh diri karena tidak ditemukan tanda2 penganiayaan.. Tapi aku tau kakakku. Dia takkan pernah melakukan hal seperti itu! Dia tidak mungkin bunuh diri setelah mengatakan akan mengenalkan seseorang padaku!''
Hagane langsung memeluk Runa untuk menenangkan gadis itu.
''Maafkan aku. Aku telah membuatmu mengingatnya lagi,''kata Hagane.
''Ayo kita lanjutkan. Siapa tau kita juga akan menemukan sesuatu mengenai kematian Kak Airi,''kata Minato. Ia sudah mendengar berita itu, bahkan dialah yg menghibur Runa saat itu.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dan sampai di ruang bawah tanah.
Minato menyalakan beberapa batang lilin dan meletakkannya di beberapa tempat agar ruangan itu lebih terang. Kemudian membagi mereka menjadi dua kelompok. Runa dan Hagane mencari di bagian rak sebelah kiri, sementara Minato dan Makoto mencari di bagian yg berlawanan.
Makoto menelusuri buku2 yg tampak tua dan mirip seperti dokumen, sementara Minato berkutat memeriksa buku2 yg ditemukan Makoto.
Sembari mencari, Makoto bertanya apakah teman2 mereka sudah terbunuh. Karena mereka tak muncul lagi. Bahkan suaranya saja tidak terdengar.
''Aku takkan menyangkal kemungkinan itu. Menurut perkiraanku, selama kita ada disini, korban akan terus berjatuhan. Dan mungkin baru besok pagi kita akan bisa keluar, mengingat badai di luar sana,''kata Minato.
Makoto mendesah dan kembali mengeluh. Dan Minato mengabaikannya.
''Minato! Minato! Kemarilah!! Aku menemukan sesuatu!!''teriak Runa.
Minato bangkit dari kursinya namun Runa sudah muncul lebih dulu dengan Hagane yg mengekor dibelakangnya.
''Ada apa?''tanya Minato.
''Aku menemukan sesuatu!!''kata Runa bersemangat sambil melambai2kan sebuah buku di tangannya.
Minato mengambil buku itu dari tangan Runa dan memeriksa sampul luarnya.
''Lihat bagian dalamnya!''kata Hagane
Minato mulai membuka2 halaman demi halaman buku yg ditemukan Runa itu. Buku itu tampak sama tuanya dengan rumah itu. Warna kertasnya sudah menguning dan ada bercak hitam di ujung2nya.
''Ini...''kata Minato setelah membaca beberapa halaman.
Hagane mengangguk mantap.
''Ya, itu buku harian tua. Catatan pertamanya tanggal 11 bulan 8 tahun 193O,''kata Hagane
**
_02:30_
''Teman2! Siapapun! Runa, Hagane?! Kalian dimana???''bisik Suzu
''Suzu?! Kaukah itu?!''
''Si..siapa???''tanya Suzu
''Ini aku, Shino! Dimana kau?!''teriak Shino
''Disini! Aku disini!''balas Suzu sembari keluar dari tempat persembunyiannya.
Shino dan Suzu bertemu. Bersama, keduanya menyusuri koridor dan mencari teman2nya. Suzu merapat pada Shino dan melihat ke sekeliling dengan ketakutan.
Shino bertanya apakah mungkin Suzu bertemu atau ingat Shiina berlari ke arah mana. Tapi tentu saja Suzu tidak ingat. Ia terlalu panik dan berlari menyelamatkan diri.
Shino mendesah. Ia pun melakukan hal yg sama. Padahal seharusnya ia menjaga Shiina. Hanya Shiina satu2nya yg dimilikinya. Orangtuanya selalu sibuk dan tak sempat memperhatikan mereka. Sehingga Shino dan Shiina selalu bersama. Mereka mempunyai ikatan batin yg kuat, dan sejak tadi, Shino merasa tidak tenang. Ia tau Shiina dalam bahaya.
Shino menuntun Suzu untuk menuju tangga ke lantai dua. Saat itu mereka ada dilantai 3 dan jika ingin kembali ke ruang utama, mereka harus turun.
Suzu memekik kaget ketika senter yg dibawa ino menyorot sesuatu di dasar tangga. Shino membeku. Kemudian seperti kehilangan akal, ia berlari turun dan menghampiri apa yg ia lihat tadi.
Ia jatuh berlutut. ''Tidak...TIDAK!!!''teriaknya sedih
Ia mengangkat tubuh adik kembarnya dan menangis pilu.
''Shiina! Kumohon jangan lakukan ini padaku!!''raung Shino
Suzu menangis di belakangnya. Ia menyorotkan senter dan menangis dalam diam. Lalu matanya menangkap bayangan hitam bergerak pelan dibelakang Shino.
''S...shino...''ujar Suzu ketakutan, namun Shino tak menggubrisnya
''Shino! Dibelakangmu!!''teriak Suzu panik.
Shino hanya sempat mendongat sebelum ia merasa lehernya dijerat dari belakang. Seketika Shino meronta2, berusaha membebaskan diri.
''Su..zu.. Lar...rii!!''perintah Shino tercekik.
Suzu seketika berlari pontang panting. Ia tak melihat ke mana ia berlari, dan ia juga menolak melihat ke belakang.
''Runa!! Hagane!! Minato!! Tolooonggg!!!?''teriak Suzu
Brukk! Suzu jatuh terjerembab. Ia langsung menyeret dirinya untuk bergegas. Namun kakinya terlalu lemah sehingga ia tak bisa berdiri. Dia menangis sembari memohon2.
''Jangan! Jangan bunuh aku!! Kumohon! Aku belum mau matiii~!''isak Suzu
'SEMUANYA~ HARUUSSS...MAATIII~~ KHU..KHU..KHU...'desis sebuah suara
''Ti..TIIIDAAAAKKKKKKK!!!''jerit Suzu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar