Senin, 16 April 2012

THE CURSED HOUSE part 1

THE CURSED HOUSE part 1
Thursday_08:30

Pagi yg cerah, Runa dan teman2nya berencana pergi berlibur ke Villa Runa yg letaknya di tengah pegunungan. Villa itu merupakan Villa yg sudah lama dimiliki oleh keluarga Runa. Mungkin umurnya sudah hampir satu abad lamanya. Rencana itu sebenarnya diajukan Runa secara dadakan karena mendengar keluh kesah teman2nya yg bosan dengan liburan sekolah mereka. Sekolah baru akan dimulai musim semi nanti. Dan mereka masih punya waktu cukup banyak untuk dipakai berlibur ke luar kota. Sehingga Runa langsung mengajukan ide itu, yg langsung disambut baik oleh teman2nya.
Teman2nya itu antara lain adalah : Hagane, anak laki2 ini merupakan teman terdekat Runa. Kadang Runa berpikir Hagane bersikap sangat baik pada Runa hingga Runa berpikir kalau Hagane menyukainya. Tapi tentu saja itu hanya dugaan iseng Runa. Karena bagaimanapun, Hagane sangat populer di sekolah. Selain Hagane, ada Yui dan Rio. Yui dan Rio adalah teman sekelas Runa dan keduanya adalah sepasang kekasih. Kemudian ada Hanako, Shiina, Hoshi dan pacarnya Midori, Suzu dan pacarnya Izumi, Shino, Makoto, dan juga Minato. Minato adalah teman masa kecil Runa yg sudah seperti saudara sendiri bagi Runa. Total jumlah mereka ada 13 orang termasuk Runa. Dengan perbandingan laki2 ada 7orang dan perempuan ada 6orang.
Begitu semuanya sudah berkumpul di tempat yg sudah ditentukan, mereka segera berangkat. Karena akan butuh waktu berjam2 sampai Villa nanti.
Mereka dibagi ke dalam 3 kelompok. Mobil pertama, dikemudikan Hagane yg sudah mendapat SIMnya beberapa bulan lalu saat ulangtahun ke-18nya. Runa duduk di kursi sampingnya. Lalu dikursi belakang ada Hoshi dan Midori yg sejak tadi tak henti2nya bermesraan di dalam mobil. Karena sudah terbiasa, Runa dan Hagane cuek2 saja dan asik mengobrol.
Mobil kedua yg dikemudikan Makoto berisi Shino dan Shiina yg menghuni kursi belakang yg sama2 sibuk sendiri. Shino dengan tidur paginya, sementara Shiina dengan ipodnya. Disebelah Makoto duduk Hanako yg sejak tadi tak henti2nya mengabadikan gambar2 pemandangan yg mereka lewati dan yg lainnya.
Mobil ketiga dikemudikan Minato. Dikursi tengah diisi oleh Yui dan Rio, kemudian kursi paling belakang dihuni oleh Suzu beserta Izumi. Mobil Minato yg paling luas, jadi mengangkut lebih banyak orang.
Setelah semua pengaturan beres, mereka semua langsung menuju villa Runa.
*
_11:00_
Mereka semua akhirnya sampai di villa Runa setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Semuanya keluar dari mobil dan meregangkan badannya. Ada beberapa pelayan yg menyambut dan membantu mereka mengangkut barang2 ke dalam rumah. Hanako sibuk mengabadikan pemandangan sekitarnya.
Sementara yg lain masih terkagum2 melihat rumah besar di hadapan mereka. Rumah itu begitu besar dan tampak kuno. Yah wajar saja, usianya sudah mencapai hitungan abad.
''Wah, villa tua ya?''komentar Hagane ketika membantu Runa membawa barang2nya.
''Villa ini sudah ada sejak sebelum aku lahir. Ayahku mengatakan kalau villa ini sudah sangat tua,''sahut Runa. ''Ini kedua kalinya aku kesini. Tapi tenang saja, meski jarang digunakan, villa ini cukup terawat kok,''kata Runa
Hagane tertawa. ''Aku tak meragukannya. Hanya saja yg kulihat, rumah sebesar ini kenapa pelayannya sedikit?''tanya Hagane
''Para pelayan disini tidak tinggal disini. Mereka tinggal di desa tak jauh dari sini. Kurasa jaraknya hanya beberapa mil. Mereka datang tiap pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah, kemudian meninggalkan rumah dan kembali esok paginya,''sahut Runa sembari menyeret kopernya. Hagane menawarkan bantuan, namun Runa menolaknya karena melihat Hagane sudah membawa barang cukup banyak.
Runa lalu masuk ke dalam kamar yg akan ia tempati. Kamar Hagane letaknya di seberang kamar Runa. Disebelah kamar Runa ada kamar Hanako lalu Shiina. Sementara di sebelah kanan kamar Hagane ada kamar Minato. Di sebelah kiri kamar Hagane ada kamar yg ditempati Makoto dan Shino. Sisanya menempati lantai 3. Seperti itulah kira2 pengaturan kamarnya. Karena menurut mereka ada baiknya jika kelompok mereka dicampur sehingga para anak laki2 akan lebih mudah menjaga para perempuan jika terjadi sesuatu.
''Hei, aku lapar!''kata Hanako ketika ia masuk ke kamar Runa lewat pintu penghubung. Tampaknya ia sudah selesai membereskan barang2nya.
Runa mengecek jam tangannya, memang sudah hampir waktunya makan siang.
''Siapa yg akan memasak? Bahan makanan di dapur sudah lengkap,''kata Runa sembari meletakkan pakaian terakhirnya ke dalam lemari dan menutup kopernya.
''Kita bisa memasaknya bersama2,''usul Hanako.
Akhirnya para perempuan yg memasak makan siang. Sedangkan anak laki2 yg tidak punya kerjaan selain merecoki mereka ditugaskan untuk menyiapkan alat makan. Begitu masakan siap di hidangkan, semuanya sudah duduk di kursinya masing2.
Cuaca yg tadinya cerah tampak berubah dalam sekejap. Petir terdengar menggelegar di luar sana. Langit yg mendung tampak sangat gelap seperti seolah2 malam telah turun lebih cepat.
''Sepertinya akan hujan,''gerutu Yui. ''Padahal kan tadi cerah.''
''Cuaca di pegunungan memang gampang berubah. Wajar saja kalau sekarang tiba2 hujan. Yg terpenting kita sudah aman di dalam rumah,''sahut Shino
Hanako menguap. ''Aku mengantuk. Bangunkan aku sebelum makan malam. Dan jangan berani2nya kalian menggangguku sebelum makan malam!''kata Hanako. Ia mengancam dan langsung pergi ke kamarnya.
Tampaknya yg lain juga merasa lelah. Jadi setelah membereskan meja makan, mereka semua kembali ke kamar masing2. Kecuali Runa yg lebih memilih duduk2 di ruang tamu sambil minum teh. Dari jendela besar di ruang tamu itulah Runa menyaksikan hujan deras yg mulai turun di luar sana.
Runa tersentak kaget ketika mendengar bisikan di telinganya. Ia berbalik dan langsung mendelik kesal ke arah Hagane yg sudah tertawa.
''Apa2an sih kau ini?''sungut Runa. ''Kukira hantu sungguhan. Ng? Buat apa selimut2 itu?''tanya Runa ketika melihat Hagane membawa beberapa selimut tebal.
Hagane duduk di sebelah Runa dan mengangsurkan sebuah selimut. ''Untukmu. Kau bisa sakit jika hanya memakai pakaian tipis itu,''kata Hagane
''Huh, sok perhatian!''kata Runa, tapi tetap melingkarkan selimut itu disekeliling bahunya. ''Lalu kenapa kau masih disini? Bukankah tadi juga mau tidur siang?''
''Aku ingin berduaan dengan Runa. Mana mungkin aku membiarkanmu melamun sendirian disini sedangkan aku tidur siang?''kata Hagane sambil mengedipkan sebelah matanya.
Runa mendengus, tapi detik berikutnya ia tertawa geli melihat gaya sok perhatian Hagane.
Diantara mereka semua, hubungan Hagane dan Runa yg paling tidak jelas. Yui dan Rio, Hoshi dan Midori, Suzu dan Izumi, mereka semua jelas2 adalah pasangan. Sedangkan Shino dan Shiina, mereka adalah saudara kembar. Makoto sedang mencoba mendekati Hanako. Sedangkan Minato...dia yg paling tidak bisa ditebak. Dia cuek dan tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Tapi ia kadang sangat perhatian pada Runa. Sehingga teman2nya sering mengira ia memiliki perasaan pada Runa. Akan tetapi, karena dugaan itu tak terbukti, Shiina pun mencoba mengincarnya.
Runa dan Hagane, mereka bisa tampak seperti kekasih, kakak-adik, atau bahkan sahabat disaat yg bersamaan. Tidak ada yg tau bagaimana kelanjutan hunbungan mereaka..

_15:30_

Hanako tidur sangat nyenyak. Teman2nya juga tak mengganggunya. Akan tetapi, tidurnya terganggu oleh suara tetesan air di kamar mandi. Hanako bangun dan mengucek2 matanya. Ia tidak ingat membuka keran air, tapi kenapa ada suara air yg mengalir? Hanako bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Ketika ia mengecek kamar mandi, ternyata tidak ada keran yg bocor. Keran air masih tertutup seperti terakhir kali ia melihatnya.
''Mungkin hanya perasaanku...''gumam Hanako dan kembali ke kamar untuk tidur.
Belum ada 10 menit, Hanako kembali mendengar suara air. Dengan kesal ia kembali mengecek ke kamar mandi. Ia mendengar suara air menetes dari arah bak mandi. Dengan kesal disingkapnya tirai bak mandi. Hanako terbelalak. Di hadapannya terhampar bak mandi penuh darah, dengan seorang gadis yg pergelangan tangannya tersayat.
''KKYYYAAAAAAAAA!!!!!''Hanako berteriak histeris dan menutup wajahnya dengan tangan.
Hanako berbalik dan berlari panik. Ia ingin keluar sesegera mungkin. Akan tetapi, Hanako merasakan sebuah cengkeraman di pergelangan kakinya. Hanako limbung dan tubuhnya langsung tertarik ke arah bak mandi penuh darah itu. Ia meronta dan kembali menjerit2. Akan tetapi, tak seorang pun menolongnya..
**
Yui bersenandung kecil. Ia menikmati mandi berendamnya. Segala kelelahan yg ia rasakan selama perjalanan panjang tadi sirna seketika. Setelah cukup tidur siang, ia memutuskan untuk mandi air panas. Hujan masih sangat deras di luar sana. Bahkan suaranya sangat keras.
''Kenapa harus hujan?! Coba saja tidak hujan, mungkin saja saat ini aku dan Rio sedang berjalan2 di sekitar sini, kemudian menghabiskan waktu berduaan,''gerutu Yui. Setelah menenggak segelas susu, ia beranjak ke lemari. Ia memilih2 baju mana yg akan dipakainya ketika tiba2 sesuatu menimpa wajahnya.
''Ihh, apa ini? Baju siapa? Kotor sekali!''ujar Yui dan langsung melemparkan baju kotor itu jauh2. Yui kembali melanjutkan memilih pakaian.
Keningnya berkerut ketika menemukan sebuah gaun yg bukan miliknya. Gaun merah yg sewarna darah. Ia mengambilnya. Warnanya cocok dengan kulitnya yg putih, ia pikir pasti itu punya Runa, jadi ia memakainya.
Belum beberapa menit ia memakainya, ia merasakan sisi perutnya sakit sekali. Seolah2 ditusuk sesuatu. Ketika ia memeriksanya, tangannya berisi darah. Lalu ada lagi rasa sakit di dadanya. Ia menyentuhnya dan mendapati tangannya berdarah. Ia mulai panik ketika satu persatu rasa tusukan menghujam dirinya. Ia memekik ketika merasa tubuhnya ditusuk ribuan jarum.
Dan tanpa ia sadari, ia jatuh berlutut. Dengan tubuh lemah dan kesadaran yg berkurang. Hal terakhir yg ia sadari adalah dirinya berlumuran darah..
**
_17:00_
Sebentar lagi waktunya makan malam, Runa merasa sudah saatnya membangunkan teman2nya untuk menyiapkan makanan. Jadi ia pergi ke kamar Hanako. Yg lain sudah menunggu di ruang makan. Runa mengetuk pintu kamar Hanako sebelum melongok ke dalam. Sekali lihat ia tau Hanako sudah bangun. Jadi Runa masuk dan mencoba ke kamar mandi, mungkin Hanako sedang mandi atau cuci muka, karena terdengar gemericik air di kamar mandi.
''Hanako??''panggil Runa sembari membuka pintu kamar mandi. Ia langsung disambut kegelapan. Runa meraba dinding dan mencari tombol lampu. Ketika ruangan terang benderang, Runa menuju bak mandi dan sedikit menyibakkannya. Seketika ia menjerit.
Jeritan Runa membuat semua teman2nya berlarian ke kamar Hanako. Hagane menyerbu paling pertama dan berlari ke kamar mandi mendengar jeritan2 Runa. Hagane menemukan Runa meringkuk dan menangis histeris. Ia langsung meraih dan memeluknya. Hagane bertanya ada apa tapi Runa hanya menunjuk ke arah tirai. Hagane memberi isyarat pada Minato dan Makoto yg ada di barisan paling depan untuk memeriksa bak mandi.
Betapa terkejutnya mereka semua ketika melihat apa yg ada di dalam bak mandi. Shino langsung meraih saudarinya yg mulai menjerit. Midori menangis di pelukan Hoshi. Dan ekspresi yg lainnya pun tak kalah shocknya.
Tidak ada yg bicara satupun, semuanya masih melihat tubuh kaku Hanako yg terbenam dalam bak mandi, dengan pergelangan tangan penuh sayatan.
Makoto Dan Minato yg memindahkan tubuh Hanako. Makoto melakukannya dengan rahang kaku. Ia sangat terpukul karena gadis yg ia cintai meninggal.
Kemudian para perempuan membersihkan tubuh Hanako dan memberinya pakaian.
''Sebaiknya kita tunggu di bawah dan hubungi polisi,''kata Minato
Hagane menyetujui usul Minato dan mulai menuntun Runa. Yang lain mengikuti. Beberapa mencoba menghubungi polisi namun tak mendapatkan sinyal dan mendapati sambungan telpon telah terputus.
''Dimana Yui?''tanya Rio tiba2. ''Ia tak ada sejak tadi,''tambahnya gelisah.
''Ki...kita harus mencarinya,''kata Runa.''Kumohon, aku merasa ada yang salah disini,''kata Runa lagi.
Hagane mengangguk dan menuntun Runa. Rio yg tidak sabar langsung mendahului. Akan tetapi, mereka tak bisa masuk terlalu jauh ke kamar Yui karena Rio berdiri terpaku di ambnag pintu. Hagane mengumpat dan langsung merengkuh Runa agar tak melihat apa yg ia lihat.
Rio berteriak pilu. Suaranya menggema di ruangan itu dan ia langsung meraih tubuh Yui yg berlumur darah. Rio histeris dan nyaris mengamuk jika saja Shino tidak memeganginya. Bahkan Makoto tak segan2 memukul Rio agar sadar.
Hagane menjauhkan Runa dari kekacauan itu. Ia memeluk erat tubuh gemetar Runa.
''Ke...kenapa? Si..siapa yg..tega...melakukan hal sekejam..itu??''tanya Runa terbata2. Ia ketakutan.
''Tenanglah. Semua akan baik2 saja,''kata Hagane. Namun ia sendiri tau bahwa nada suaranya menyiratkan keraguan.
Dengan segala sisa ketenangan yg dimilikinya, Hagane meminta agar teman2nya yg lain segera berkumpul di ruang utama. Dan ia meyakinkan agar tidak ada yg berkeliaran sendirian sampai mereka tau apa yg sedang terjadi..

_19:05_

Dua jam berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Sekarang semuanya berkumpul di ruang utama. Hagane memberikan peringatan tegas agar tidak seorangpun memisahkan diri demi mengantisipasi yg terjadi. Tidak ada yg bicara. Semuanya menunduk dengan postur tegang dan wajah pucat.
Runa memecahkan keheningan tak mengenakkan itu dengan meminta maaf dengan suara lirih. Ia merasa itu semua salahnya karena ia yg mengajukan saran datang ke villa.
''Ini semua bukan salah Runa. Kami juga yg memaksa agar menghabiskan liburan disini, kau tak perlu minta maaf,''hibur Suzu
''Apa kita betul2 terisolasi di dalam rumah ini?''tanya Hoshi
Minato menggeleng. ''Akses keluar dan masuk ke sini saat ini tak bisa dipakai karena badai. Saluran telpon juga mati. Yg bisa kita lakukan hanya menunggu hingga badai reda dan tetap waspada,''kata Minato.
''Benar kata Minato. Saat ini kita harus tetap bersama. Kita tidak tau apa yg tengah terjadi. Akan sangat berbahaya jika kita terpecah2,''kata Hagane menimpali
Suasana kembali hening setelah penegasan keadaan mereka. Sampai ketika Rio bangkit dengan marah.
''Aku tidak mau mati disini!! Aku akan cari jalan keluar sendirian! Terserah kalian mau ikut denganku atau menunggu kematian kalian disini!!''teriak Rio dan pergi hanya dengan membawa senter.
''Rio, tunggu!!''panggil Izumi dan mengejar Rio.
Beberapa yg lainnya dengan ragu juga bangkit berdiri.
''Maaf, Minato, Hagane, kami juga tidak bisa diam menunggu kematian kami. Ayo Midori,''kata Hoshi dan mengajak Midori bersamanya. Midori menatap pasrah ke arah Runa sebelum mengikuti Hoshi.
Kemudian Suzu, Shiina dan juga Shino pun pergi mengikuti Rio dan Izumi.
Keempat orang yg tersisa : Runa, Hagane, Minato dan Makoto, hanya bisa menatap kepergian teman2nya.
Runa hanya bisa menangis dan bersandar di bahu Hagane.
Menit demi menit berlalu, namun Rio dan yg lainnya tidak juga kembali. Runa mulai gelisah. Sementara Minato berdiri di samping jendela. Menatap badai yg mengamuk di luar sana. Dahan2 pohon menghantam kaca jendela dan menimbulkan suara2 yg mengerikan. Angin menderu2 dan petir masih menggelegar.
''Sampai kapan kita akan diam menunggu?''tanya Hagane. ''Rio dan yg lainnya takkan kembali kemari.''
''Entahlah. Saat ini aku tak punya ide sama sekali. Kupikir kalau kita terus bersama, kita mungkin akan menghindari jatuhnya korban lagi,''kata Minato, ia menghela napas.
''Tapi sekarang kita justru terpecah belah,''kata Hagane menimpali
''Dan aku tak bisa menjamin keselamatan mereka,''tambah Minato
Hagane mengangguk2. Makoto hanya terduduk lemas. Sementara Runa sebaliknya. Ia tak bisa membiarkan teman2nya dalam bahaya.
''Bagaimanapun kita harus kembali bersama2!!''seru Runa tegas.
Hagane menghampiri Runa dan menepuk2 punggungnya lembut. ''Ya, ya, kita semua akan pulang bersama2,''Hagane memilih mengalah. Meskipun ia mengerling ke arah Minato ketika mengatakannya.
Minato pun sama tidak yakinnya dengan Hagane, jadi ia hanya mengangguk.
Desahan Makoto menyela perbedaan pendapat itu.
''Aku lapar,''katanya lelah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar