Minggu, 03 Februari 2013

SEAL WITH A KISS 1


SEAL WITH A KISS


Terjadinya begitu tiba-tiba...
Tak terduga...
Dan mengubah segalanya...

            Siang itu Resha tengah menuju ke perpustakaan kampusnya untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya tempo hari. Resha bergegas. Roknya yang sepanjang mata kaki tidak menghambat langkahnya. Buku-buku di tangannya juga tidak tampak membebaninya. Langkahnya tetap ringan, meski agak lambat. Ia masih terbilang cukup lincah saat menyusuri koridor. Naik ke lantai 3 di gedung E, menyusuri koridor pendek. Lewat satu tikungan lagi maka dia sampai di perpustakaan.
            Resha adalah mahasiswi semester 7, dan sedang menyusun skripsi. Ia memiliki ambisi untuk membangun usaha sendiri begitu lulus nanti. Usaha yang sudah mulai dirintisnya secara kecil-kecilan bersama temannya. Apa yang ia inginkan begitu jelas dan terarah sehingga beberapa hal dalam hidupnya menjadi terbengkalai. Salah satunya adalah aspek asmaranya. Saking seriusnya ia kuliah, ia jarang menyempatkan waktu untuk berkencan. Kalau hanya ngumpul-ngumpul bersama teman sih dia masih oke, tapi selain itu dia menolak.
            Resha melihat tikungan di depan sana dan tersenyum. Ia mempercepat langkahnya, berharap bisa segera mengembalikan buku-buku di tangannya, dan mungkin meminjam yang baru. Akan tetapi harapan tinggal harapan. Ketika ia berbelok, ia malah menabrak tembok. Yah, sesuatu yang sekeras tembok lebih tepatnya. Napas Resha seolah terenggut dari paru-parunya. Kerasnya tabrakan itu membuat Resha terdorong ke belakang, semua bukunya berjatuhan dan dia berusaha menggapai-gapai untuk menyeimbangkan dirinya.
            Sebuah lengan yang kuat dan kekar menyambar pinggangnya dan menariknya agar tak jatuh. Sebagai gantinya, Resha masuk ke dalam sebuah pelukan hangat. Resha membeku karena terlalu terkejut. Tanpa sadar ia mendongak, dan langsung bertatapan dengan mata sekelam langit tengah malam yang menatapnya dengan tatapan aneh. Entah kenapa jantung Resha langsung jumpalitan dibuatnya, dan napasnya terengah.
            “Ma... Maaf...” kata Resha, suaranya tercekat sementara kacamatanya melorot hingga ujung hidungnya.
            Cowok yang memeluk Resha itu tampak agak menunduk dan menatap Resha dengan lekat. Entah cuma perasaannya atau bukan, tapi rasanya tangan di punggung Resha bergerak semakin turun saja dan Resha seolah semakin mendekat ke arah cowok itu. Tanda peringatan langsung berbunyi keras di dalam benak Resha dan ia mulai menggeliat.
            “Diam,” suara rendah dan dalam itu membuat Resha kontan membeku patuh.
            Mata cowok itu menelisik wajah Resha hingga Resha merasa resah oleh tatapan intens itu. Jenis tatapan yang menusuk hingga seolah tatapan itu tengah menelanjanginya. Dan Resha gemetar. Ya Tuhan, cowok ini harusnya tidak boleh berkeliaran bebas. Pasti banyak hati yang jatuh bergelimpangan akibat tatapan cowok ini. Harusnya cowok ini dikurung dan dikunci dalam sebuah ruangan dengan kunci gembok berlapis-lapis. Harusnya...
            Pikiran Resha kontan blank saat cowok di hadapannya itu tiba-tiba mengangkat dagu Resha dan memiringkan wajah ke arahnya. Jantung Resha langsung menggila, menghentak dengan sengit hingga membuat dadanya terasa sesak karena tak mendapatkan asupan oksigen. Matanya membelalak saat menyadari kalau cowok itu akan menciumnya.
            Akan tetapi, tepat saat bibir cowok itu hanya berjarak beberapa senti lagi dari bibir Resha, pintu perpustakaan terbuka dan suara beberapa mahasiswa terdengar. Kejadiannya begitu tiba-tiba. Satu saat Resha masih dalam pelukan cowok itu, lalu detik berikutnya ia sudah dilepaskan. Lututnya yang lemas langsung saja membuatnya jatuh terduduk dengan wajah shock.
            Cowok penyebab lutut Resha lumer itu kini berlutut di hadapan Resha dan mulai memunguti buku-buku Resha, seolah ia tidak pernah hendak mencium Resha. Beberapa mahasiswa, penyelamat Resha tanpa sengaja, menyapa cowok di hadapan Resha dengan ramah. Dari balik keterpakuannya, Resha mendengar cowok itu dipanggil Max.
            “Duluan aja. Gue masih ada urusan,” terdengar cowok itu, Max, berkata dengan santai.
Resha mengerjap. Seolah suara Max telah membangunkannya dari tidur yang panjang. Ketika ia sudah sadar sepenuhnya, ia langsung berdiri, nyaris menginjak roknya sendiri dan hampir jatuh. Tapi setelahnya Resha langsung berlari pergi. Ia bahkan tidak melupakan semua bukunya. Hal yang paling ia inginkan saat itu adalah kabur menjauh dari cowok bernama Max itu.
            Sepeninggal Resha, Max menatapi buku-buku yang baru saja dipungutnya. Dahinya berkerut menyeramkan, akan tetapi tak berapa lama justru sebuah senyum terulas di bibirnya. Dia berdiri dengan tumpukan buku di tangannya. Max berjalan kembali ke perpustakaan seraya memikirkan cewek yang menabraknya tadi. Max terkekeh saat teringat mata membelalak yang menatapnya. Ia meletakkan buku-buku di tangannya ke atas meja pengembalian.
            “Atas nama siapa?” tanya petugas perpustakaan.
            “Cewek. Pakai kacamata dan rok panjang. Yang pasti hari pengembaliannya sekarang,” sahut Max tak acuh.
            Si petugas menatap Max dengan kening berkerut, lalu mulai menelusuri daftar pengembalian buku. Petugas itu mengecek buku-buku yang dibawa Max. Dan setelah menemukan satu orang yang meminjam buku dengan judul-judul buku yang ada di atas meja, petugas itu mengangguk.
            “Siapa namanya?” tanya Max.
            Si penjaga melirik dari balik kacamatanya dengan curiga.
            Max langsung mengacungkan kacamata yang ia cewek tadi. “Biar gue bisa mengembalikannya,” dalihnya.
            Si petugas menatap Max sejenak sebelum mengecek daftar peminjaman. “Resha Adinda,” sahutnya.
            Max mengangguk dan berbalik pergi. Ia keluar dari perpustakaan dengan langkah santai. Resha Adinda. Hmm... Sepertinya bakalan seru nih, pikir Max.
***
            Selama berhari-hari Resha dilanda rasa gelisah luar biasa. Ia masih kepikiran cowok bernama Max itu, juga cara cowok itu menatapnya. Dan entah kenapa Resha memiliki firasat buruk mengenainya. Sejak insiden nyaris dicium itu, Resha jadi paranoid jika ada yang mendekatinya dari belakang. Ia jadi mudah terkejut dan terkadang membuat teman-temannya jengkel sekaligus penasaran dengan tingkahnya itu. Tapi apa daya, Resha tak bisa bercerita dan firasatnya semakin buruk saja.
            “Duuh, Sha, lo itu udah mirip kayak sapi yang mau lahiran tau nggak?!” ujar Chacha jengkel. Chacha ini sahabat baik Resha sejak SMA, dan mereka sekelas saat ini.
            Resha mondar-mandir dengan gelisah. “Gue bad feeling, Cha,” kata Resha.
            “Bad feeling gimana? Memangnya ada apa?” tanya Chacha sambil membuka-buka novel yang sedang dibacanya.
            Ketika itu Resha dan Chacha sedang duduk di salah satu bangku yang ada di halaman kampus mereka yang luas. Dan sejak tadi Resha tak henti-hentinya bergerak gelisah. Resha meremas-remas kedua tangannya, lalu duduk di sebelah Chacha. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Resha memutuskan untuk membagi kegelisahannya dengan Chacha. Ia pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Max, minus insiden nyaris ciumannya.
            “Max?? Maximilien Pranatha???” tanya Chacha shock.
            “Gue nggak tau nama lengkapnya,” kata Resha seraya menggeleng. Lalu dia menatap Chacha bingung. “Lo kenal dia?” tanyanya.
            “Bukannya kenal lagi! Dia tuh udah jadi bahan gosip tahunan tau! Lo benar-benar nggak tau apa-apa soal dia?”
            Resha menggelengkan kepalanya.
            “Maximilien, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Max, adalah cowok playboy paling berbahaya di kampus ini! Dia pindah kira-kira satu setengah tahun yang lalu dan langsung jadi buah bibir. Sekarang dia ada di semester 5,” kata Chacha.
            “Lebih muda dari kita???” tanya Resha tak percaya, sebab bukan kesan itu yang dia dapatkan saat berhadapan dengan Max.
           “Dia memang junior kita di kampus ini, tapi menurut gosip yang gue dengar dia jauh lebih tua ketimbang kita. Menurut Mona, yang temannya pernah jalan sama Max, katanya usia Max sekarang hampir 25 tahun! Mungkin dia telat kuliah atau keasikan main sehingga lupa kuliah, gue nggak tau pasti,” kata Chacha sambil mengangkat bahu. Lalu mimiknya berubah serius. “Yang jelas, lo harus hati-hati sama dia. Udah banyak cewek yang patah hati lantaran dicampakin dia. Dia nggak pernah serius sama cewek. Baginya cewek itu cuma sekedar selingan. Dan dia nggak pernah peduli bagaimana keadaan cewek yang udah dia campakin. Dia move on begitu aja!”
            Resha tampak speechless dengan penjelasan Chacha. Separah itukah? Memang sih, ketika berhadapan dengan Max, Resha merasa sangat terintimidasi oleh cowok itu. Bukan hanya karena tubuhnya yang tinggi dan tegap, tapi juga karena matanya. Tatapan yang sekelam langit tengah malam itu memang bisa membuat cewek hilang akal. Resha takkan ragu sama sekali.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar